ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 Peran Guru dalam Menciptakan Lingkungan Belajar Inklusif di SMK 2 Bulukumba Marwan Fachruddin1. Arkam Ramadhani2. Asdar3. Hasbar4. St. Wahidah Z5. Andi Alfina Listya Ningrum6. Halijah7. Zul Fadhli Al Alim8. Kaharuddin9 Universitas Muhammadiyah Bulukumba. STAI AL Azhary Mamuju2 marwanfachruddin@gmail. com1, arkamidris83@gmail. asdarnurilahi5@gmail. com3, hasbaralazhary@gmail. com4, stwahidah304@gmail. andialfina100@gmail. com6, halijaija43@gmail. com7, fadhlizul@gmail. kaharuddin@umbulukumba. Abstrak Pendidikan inklusif merupakan upaya untuk memberikan kesempatan belajar yang setara bagi seluruh peserta didik tanpa memandang perbedaan kemampuan, latar belakang, maupun karakteristik individu. Keberhasilan implementasi pendidikan inklusif sangat dipengaruhi oleh peran guru dalam menciptakan lingkungan belajar yang mendukung keberagaman peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran guru dalam menciptakan lingkungan belajar inklusif di SMK Negeri 2 Bulukumba, mengidentifikasi hambatan yang dihadapi guru, serta menganalisis upaya yang dilakukan untuk mengatasi hambatan tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Informan penelitian terdiri atas kepala sekolah, guru mata pelajaran, guru bimbingan dan konseling, serta peserta didik. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles. Huberman, dan Saldaya melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru berperan sebagai fasilitator, motivator, mediator, dan pengelola pembelajaran dalam menciptakan lingkungan belajar inklusif. Guru melakukan adaptasi pembelajaran, memberikan dukungan akademik dan emosional, serta membangun interaksi sosial yang positif di lingkungan sekolah. Hambatan yang dihadapi meliputi keterbatasan sarana pendukung, minimnya pelatihan pendidikan inklusif, dan keberagaman kebutuhan belajar peserta didik. Untuk mengatasi hambatan tersebut, guru melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak, meningkatkan kompetensi profesional, dan mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih adaptif. Penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan inklusif memerlukan sinergi antara guru, sekolah, orang tua, dan seluruh warga sekolah. Kata kunci: Pendidikan inklusif, peran guru, lingkungan belajar inklusif, sekolah menengah Abstract Inclusive education is an effort to provide equal learning opportunities for all students regardless of their abilities, backgrounds, or individual characteristics. The successful implementation of inclusive education is strongly influenced by the role of teachers in creating a learning environment that supports student diversity. This study aims to describe the role of teachers in creating an inclusive learning environment at SMK Negeri 2 Bulukumba, identify the challenges faced by teachers, and analyze the strategies used to overcome those challenges. This research employed a qualitative approach with a case study design. The research participants consisted of the principal, subject teachers, counseling teachers, and students. Data were collected through observation, interviews, and documentation and analyzed using the Miles. Huberman, and Saldaya model, including data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that teachers play significant roles as facilitators, motivators, mediators, and classroom managers in creating an inclusive learning environment. Teachers adapt learning activities, provide academic and emotional support, and promote positive social interactions within the school community. The challenges encountered include limited supporting facilities, insufficient ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 training on inclusive education, and the diverse learning needs of students. To address these challenges, teachers collaborate with various stakeholders, improve their professional competencies, and develop adaptive learning strategies. This study highlights that the success of inclusive education requires synergy among teachers, schools, parents, and the entire school Keywords: Inclusive education, teacher role, inclusive learning environment, vocational high PENDAHULUAN Pendidikan inklusif merupakan sistem pendidikan yang memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh peserta didik untuk memperoleh layanan pendidikan yang bermutu tanpa memandang perbedaan kondisi fisik, intelektual, sosial, emosional, budaya, maupun latar belakang ekonomi. Implementasi pendidikan inklusif bertujuan menciptakan lingkungan belajar yang menghargai keberagaman serta menjamin hak setiap peserta didik untuk berkembang secara optimal. Dalam konteks pendidikan nasional, pendidikan inklusif menjadi salah satu upaya strategis untuk mewujudkan pendidikan yang berkeadilan dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik (Tulak et al. Pada jenjang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), penerapan pendidikan inklusif memiliki tantangan yang lebih kompleks dibandingkan jenjang pendidikan lainnya. Karakteristik pembelajaran di SMK tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga keterampilan vokasional yang memerlukan pendekatan pembelajaran adaptif sesuai kemampuan dan kebutuhan peserta didik. Keberagaman karakteristik peserta didik menuntut sekolah untuk menciptakan lingkungan belajar yang mampu mengakomodasi seluruh peserta didik secara setara (Tangkearung et al. , 2026. Tulak et al. , 2. Keberhasilan pendidikan inklusif sangat dipengaruhi oleh peran guru sebagai aktor utama dalam proses pembelajaran. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga berperan sebagai fasilitator, motivator, mediator, dan pengelola kelas yang mampu menciptakan suasana belajar yang aman, nyaman, dan menghargai keberagaman. Guru dituntut memiliki kemampuan dalam melakukan adaptasi kurikulum, pemilihan strategi pembelajaran, penggunaan media pembelajaran, serta pengelolaan interaksi sosial di dalam kelas. Berdasarkan hasil observasi awal di SMK Negeri 2 Bulukumba, ditemukan bahwa implementasi lingkungan belajar inklusif masih menghadapi beberapa tantangan. Guru dihadapkan pada keberagaman karakteristik peserta didik dengan kebutuhan belajar yang berbeda-beda. Selain itu, keterbatasan fasilitas pendukung, minimnya pelatihan pendidikan inklusif, serta kebutuhan akan strategi pembelajaran yang lebih adaptif menjadi tantangan dalam menciptakan pembelajaran yang benar-benar inklusif. Berbagai penelitian sebelumnya telah mengkaji implementasi pendidikan inklusif pada jenjang sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Namun, penelitian yang secara khusus membahas peran guru dalam menciptakan lingkungan belajar inklusif pada jenjang Sekolah Menengah Kejuruan masih relatif terbatas. Padahal, karakteristik pembelajaran vokasional di SMK memiliki tantangan tersendiri yang berbeda dengan jenjang pendidikan lainnya. Oleh karena itu, penelitian ini memiliki kebaruan dalam ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 mengkaji secara mendalam peran guru dalam menciptakan lingkungan belajar inklusif pada konteks pendidikan vokasional di SMK Negeri 2 Bulukumba. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran guru dalam menciptakan lingkungan belajar inklusif di SMK Negeri 2 Bulukumba, mengidentifikasi hambatan yang dihadapi guru dalam implementasi pendidikan inklusif, serta menganalisis berbagai upaya yang dilakukan guru untuk menciptakan pembelajaran yang ramah terhadap keberagaman peserta didik. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi Pendekatan studi kasus dipilih karena penelitian berfokus pada pengkajian secara mendalam mengenai peran guru dalam menciptakan lingkungan belajar inklusif pada satu lokasi penelitian, yaitu SMK Negeri 2 Bulukumba. Pendekatan ini memungkinkan peneliti memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai fenomena yang terjadi dalam konteks nyata. Informan penelitian terdiri atas kepala sekolah, guru mata pelajaran, guru bimbingan dan konseling, serta peserta didik yang terlibat dalam proses pembelajaran Pemilihan informan dilakukan menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan keterlibatan mereka dalam pelaksanaan pendidikan inklusif di sekolah. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan Observasi digunakan untuk mengamati proses pembelajaran, interaksi antara guru dan peserta didik, serta kondisi lingkungan belajar di sekolah. Wawancara dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai pengalaman guru dalam mengelola pembelajaran inklusif, hambatan yang dihadapi, serta strategi yang digunakan untuk mengakomodasi keberagaman peserta didik. Dokumentasi digunakan untuk melengkapi data penelitian berupa perangkat pembelajaran, foto kegiatan, dan dokumen pendukung Analisis data menggunakan model Miles. Huberman, dan Saldaya yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber, triangulasi teknik, dan member checking sehingga data yang diperoleh memiliki tingkat kredibilitas yang tinggi. HASIL DAN PEMBAHASAN Peran Guru sebagai Fasilitator dalam Pembelajaran Inklusif Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memiliki peran penting sebagai fasilitator dalam menciptakan lingkungan belajar inklusif di SMK Negeri 2 Bulukumba. Guru berupaya menyesuaikan metode pembelajaran, media pembelajaran, serta bentuk tugas sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik. Adaptasi pembelajaran dilakukan agar seluruh peserta didik memperoleh kesempatan yang sama untuk memahami materi pembelajaran dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan belajar. Strategi tersebut terbukti membantu peserta didik merasa lebih nyaman dalam mengikuti pembelajaran. Berdasarkan hasil wawancara, peserta didik mengungkapkan bahwa pendekatan guru yang fleksibel membuat mereka lebih mudah memahami materi ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 dan tidak merasa tertekan selama proses belajar. Temuan ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang adaptif mampu meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam kegiatan belajar. Peran Guru sebagai Motivator Selain sebagai fasilitator, guru juga berperan sebagai motivator yang memberikan dukungan akademik dan emosional kepada peserta didik. Guru secara aktif memberikan penguatan positif, apresiasi terhadap pencapaian peserta didik, serta dorongan untuk terus berpartisipasi dalam pembelajaran. Bentuk motivasi tersebut membantu peserta didik membangun rasa percaya diri dan meningkatkan semangat belajar. Hasil observasi menunjukkan bahwa peserta didik menjadi lebih aktif dalam diskusi kelas, berani mengemukakan pendapat, serta menunjukkan antusiasme yang lebih tinggi selama pembelajaran berlangsung. Kondisi ini menunjukkan bahwa dukungan guru berkontribusi terhadap terciptanya suasana belajar yang positif dan inklusif. Peran Guru sebagai Mediator dalam Interaksi Sosial Guru juga berperan sebagai mediator dalam membangun hubungan sosial yang harmonis antar peserta didik. Berbagai aktivitas pembelajaran kelompok diterapkan untuk mendorong kerja sama, saling menghargai, dan toleransi terhadap perbedaan. Guru secara aktif mengarahkan peserta didik agar mampu berinteraksi secara positif tanpa membedakan latar belakang maupun kemampuan masing-masing. Keberadaan lingkungan sosial yang suportif memberikan dampak positif terhadap proses pembelajaran. Peserta didik merasa lebih diterima dalam lingkungan sekolah dan memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan akademik maupun nonakademik. Hambatan dalam Menciptakan Lingkungan Belajar Inklusif Meskipun berbagai upaya telah dilakukan, guru masih menghadapi beberapa hambatan dalam menciptakan lingkungan belajar inklusif. Hambatan tersebut meliputi keterbatasan fasilitas pendukung, minimnya pelatihan terkait pendidikan inklusif, serta keberagaman kebutuhan belajar peserta didik yang memerlukan pendekatan berbeda. Selain itu, keterbatasan waktu pembelajaran juga menjadi kendala dalam memberikan layanan yang optimal kepada seluruh peserta didik. Upaya Guru Mengatasi Hambatan Pendidikan Inklusif Untuk mengatasi berbagai hambatan tersebut, guru melakukan berbagai strategi, seperti mengikuti kegiatan pengembangan profesional, melakukan kolaborasi dengan guru lain, serta memanfaatkan sumber belajar yang tersedia secara kreatif. Guru juga berupaya membangun komunikasi yang baik dengan orang tua peserta didik untuk mendukung proses pembelajaran di sekolah. Temuan penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan lingkungan belajar inklusif tidak hanya ditentukan oleh kompetensi guru, tetapi juga oleh dukungan sekolah, orang tua, dan seluruh warga sekolah. Sinergi yang baik antara berbagai pihak menjadi faktor penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang ramah terhadap keberagaman peserta didik. ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa guru memiliki peran yang sangat penting dalam menciptakan lingkungan belajar inklusif di SMK Negeri 2 Bulukumba. Peran tersebut diwujudkan melalui fungsi guru sebagai fasilitator, motivator, mediator, dan pengelola pembelajaran yang mampu mengakomodasi keberagaman karakteristik peserta didik. Guru berupaya menciptakan pembelajaran yang adaptif melalui penyesuaian metode, media, dan strategi pembelajaran sehingga seluruh peserta didik memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang secara optimal. Meskipun demikian, implementasi pendidikan inklusif masih menghadapi berbagai hambatan, seperti keterbatasan sarana pendukung, minimnya pelatihan terkait pendidikan inklusif, serta keberagaman kebutuhan belajar peserta didik yang memerlukan penanganan berbeda. Untuk mengatasi hambatan tersebut, guru melakukan berbagai upaya melalui peningkatan kompetensi profesional, kolaborasi dengan pihak sekolah dan orang tua, serta pengembangan strategi pembelajaran yang lebih fleksibel dan responsif terhadap kebutuhan peserta didik. Saran Sekolah perlu meningkatkan dukungan terhadap implementasi pendidikan inklusif melalui penyediaan fasilitas pembelajaran yang memadai dan program pelatihan bagi Selain itu, pemerintah dan pemangku kepentingan pendidikan perlu memperkuat kebijakan serta pendampingan bagi sekolah dalam mengembangkan layanan pendidikan Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengkaji efektivitas berbagai model pembelajaran inklusif pada jenjang SMK dengan cakupan lokasi penelitian yang lebih luas sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai praktik pendidikan inklusif di Indonesia. DAFTAR PUSTAKA