OBJEKTIVITAS SEMIOTIKA (ILMU TANDA) MENYINGKAP FIRMAN (TANDA-TANDA KEBESARAN) TUHAN Iwan Marwan STAIN Kediri nucaseftea@gmail. Abstract The fact of life is a collection of puzzles, questions or enigmas, which demanded a search of answers, which is called truth . Truth belongs to God and man just looking for clues, evidence, and signs of truth in logic. The review was directed at the thought of how objectivity as the science of semiotics sign looked and positioning and unveil the word . he signs of the greatness o. God. View of semiotics towards God's signs include signs qauliyah and signs Mark qauliyah is speech, sounds, fonts or text, while the sign of kauniyah is a natural phenomenon, social events, unusual in nature. The second verse is a sign containing a variety of usage marks, codes and meanings in it, though it did not close the possibility to look at the relationships the metaphysical, theological, philosophical and scientific in it. Reading this semiotic, can be considered as a reading open, plural and comprehensive, which can spread out almost all of the realities of life. Keywords: Semiotics. GodAos Creation. Qauliyah. Kauniyah Pendahuluan Realitas hidup adalah rangkaian teka-teki, pertanyaan, atau enigma, yang menuntut pencarian jawaban, yang disebut kebenaran . Untuk sampai pada kebenaran itu diperlukan penyelidikan . ederhana maupun komplek. , yaitu sebuah kegiatan mencari petunjuk, bukti, tanda-tanda . , serta melihat logika, relasi dan kausalitas di antara semuanya, sehingga sampai pada sebuah kesimpulan akhir . Inilah kegiatan yang dilakukan oleh para peneliti, penyidik, detektif, hakim, ahli pemasaran, bahkan orang yang sedang mencari pasangan hidup sekalipun. Adakalanya petunjuk, bukti dan tanda-tanda yang ada dapat membentuk sebuah rangkaian berpola atau tatanan beraturan . , yang unsur-unsurnya saling berkaitan satu sama lainnya sebagai sebuah kesatuan konsep, tema atau peristiwa, yang terbentuk berdasarkan sebuah rencana atau desain tertentu, sehingga makna atau logika di baliknya dapat dengan mudah dipahami. Artinya, ada tingkat keterdugaan atau redudance yang tinggi, yang dapat mengarahkan pembacaan . menjadi lebih jelas, terang, transparan dan eksplisit. Akan tetapi, adakalanya petunjuk, bukti dan tanda-tanda yang ada merupakan sebuah rangkaian yang tidak berpola, terputus . dan tidak beraturan, yang unsur-unsurnya tidak saling berkaitan satu sama lainnya, dan yang tidak terbentuk berdasarkan sebuah desain atau rencana tertentu, yang di dalamnya hanya ada ketidakberaturan, turbulensi . , dan chaos . , sehingga proses pembacannya dipenuhi oleh kekaburan, kegelapan, ambiguitas, keraguan, tanda tanya dan enigma . Leahy mengatakan tanda segala realitas inderawi yang mengandung Sebuah papan kayu misalnya yang bertuliskan AuparkingAy atau keseluruhan suara-suara yang harus diucapkan dan dikemukakan untuk mengatakan Audi sini ada tempat untuk parkirAy. Tanda adalah material serta unsur yang metamaterial, yaitu signifikasi yang bersatu padu dengan material, tetapi yang memberi ketentuan terhadapnya dan melebihinya. Signifikasi atau arti adalah sifat yang dimiliki oleh suatu realitas material untuk dapat mengarahkan kita kepada suatu realitas lain dari dirinya sendiri. Jadi tanda itu dalam struktur internnya terdiri dari suatu unsur yang material dan suatu signifikasi (Leahy. Tanda-tanda atau firman Tuhan merupakan serangkaian atau sistem manifestasi kekuasaan dan kebesaran Tuhan di dunia dan semesta alam. Keagungan Tuhan tanda-tanda kebesaran-Nya mengandung makna, pesan, hikmah yang sangat dalam dan misterius. Tandatanda Tuhan terbalut dalam asma-Nya yang senantiasa melekat dan mengikat di dalamnya. Teks al-QurAoan merupakan sekumpulan tanda-tanda yang bersistem yang mengandung pesan-pesan dari Tuhan untuk disampaikan kepada manusia. Untuk melihat dan membaca bahasa atau tanda-tanda Tuhan diperlukan pendekatan dan persamuhan perspektif diantaranya kompetensi linguistik dan kompetensi agama. Disiplin ilmu linguistik yang mengkaji tanda adalah Semiotika sebagai ancangan digunakan untuk mengkaji, menguak, serta merepresentasi hakikat firman Tuhan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain penelitian Penelitian ini hanya mendiskripsikan telaah kontribusi semiotika dalam mengungkap tanda-tanda atau firman Tuhan dan pertandaan sebagai ciptaan Tuhan yang bersifat alamiah dan hakiki. Penelitian dilakukan secara intensif, terinci, dan mendalam terhadap sejumlah teori dan hasil penelitian relevan. Pembahasan Hakikat Tanda-Tanda (Firma. Tuhan Alquran telah memberikan banyak penjelasan tentang hakikat. Allah swt tidak menampilkan wujud Dzatnya Yang Maha Kuasa di hadapan mahluk-mahluknya secara langsung dan dapat dilihat seperti kita melihat sesama mahluk. Maka segala sesuatu yang tampak dan dapat dilihat dengan mata kepala kita, pasti itu bukan tuhan. Allah menganjurkan kepada manusia untuk mengikuti nabi saw supayaberpikir tetang mahluk-mahluk Allah. jangan sekali-kali berpikir tentang dzat Allah. mahluk-mahluk yang menjadi tanda kebesaran dan keagungan Allah inilah yang disarankan di dalam banyak ayat Alquran agar menjadi bahan berpikir tentang kebesaran Allah. Ada dua wujud tanda Tuhan, yaitu Ayat Qauliyah Ayat Qauliyah . anda teruca. adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt di dalam Al Quran yang terdiri 114 surat 6666 ayat. Ayat-ayat ini menyentuh berbagai aspek kehidupan, termasuk tentang cara mengenal Allah. Sebagaimana Allah telah mengisyarakat pada ayat pertama Alquran surah Al Alaq . yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw saat beliau berkhalwat di Gua Hira, yaitu Bacalah dengan . nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar . dengan perantaran kalam, (Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis bac. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Ayat di atas menjelaskan agar manusia membaca tanda-tanda kebesaran Allah dan ciptaan-Nya atas nama Allah . auliyah dan kauniya. Manusia diciptakan dari segumpal darah dan Allah mengejar manusia dengan perantaraan qalam . ulis-bac. apa-apa yang tidak diketahui manusia. Sebenarnya tujuan membaca ayat-ayat Allah adalah untuk mengenal Allah . aAorifatulla. secara lebih mendalam. Ketika sudah mengenal Allah dengan baik dan mendalam maka semakin bertambah keimanan serta meningkatkan ketaqwaan. Dengan demikian membaca Alquran adalah wujud membaca ayat-ayat qauliyah . anda-tanda teruca. yang telah difirmankan dalam kitab-kitab Nya. Pada surat At Tin dijelaskan AuDemi . Tin dan . Zaitun, (Yang dimaksud dengan Tin oleh sebagian ahli Tafsir ialah tempat tinggal Nabi Nuh, yaitu Damaskus yang banyak pohon Tin. dan Zaitun ialah Baitul Maqdis yang banyak tumbuh Zaitu. dan demi bukit Sinai (Bukit Sinai yaitu tempat Nabi Musa menerima wahyu dari Tuhanny. , dan demi kota (Meka. ini yang aman, sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaikbaiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya . Ayat qauliyah di atas menjelaskan bahwa Allah bersumpah demi buah Tin yakni tempat tinggal nabi Nuh dimana terdapat banyak buah Tin, dan buah Zaitun (Baitul Maqdi. , demi buah Sinai . empat nabi Mus. Pada ayat ini tanda-tanda ciptaan Tuhan terwujud dalam buah Tin, buah Zaitun, dan buah Sinai. Ketiga buah tersebut merupakan hipernim dari nama buah-buahan yang berfungsi sebagai tanda simbolis. Pada suatu kisah nabi Musa diajak bicara oleh Allah, ayat yang mengisahkan ini menjelaskan bahwa kalam Allah swt adalah suara dan huruf, yang sesuai dengan kemuliaan dan kesempurnaan Allah, bukan makna dan pikiran yang ada dalam diri Allah swt. Sebab kalau kalam Allah swt niscaya nabi Musa tidak dapat mendengarnya dan tidak akan digelari Kalimur Rahman. Ayat Kauniyah Ayat Kauniyah . anda terwuju. adalah ayat atau tanda yang wujud di sekeliling yang diciptakan oleh Allah. Ayat-ayat ini adalah dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan sebagainya yang ada di dalam alam ini. Oleh karena alam ini hanya mampu dilaksanakan oleh Allah dengan segala sistem dan peraturanNya, maka ia menjadi tanda kehebatan dan keagungan Allah. Ayat-ayat kauniyah adalah jagat raya ini berikut isi-isinya termasuk manusia beserta isi hatinya. Para ulama menegaskan bahwa Alquran dapat dipahami sebagaimana dari keseluruhan firman Allah, namun juga dapat bermakna sepenggal dari ayat-ayat-Nya. Sebagaimana dalam surah Fushilat ayat 53 dijelaskan: Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda . Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? Ayat di atas menjelaskan dengan tegas bahwa Allah menampilkan atau mempresentasikan tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran-Nya di setiap penjuru bumi sehingga manusia mengakui bahwa Al Quran itu adalah benar, dan Tuhan adalah saksi atas segala sesuatu. Dalam ayat lain Allah swt menyuruh hamba-hamba-Nya untuk merenungi ayat-ayat kauniyah untuk berpikir dan memperhatikan bukti-bukti kekuasaan dan kemahabesaran Allah swt, seperti terdapat pada surah Adz Dzariyat ayat 20 -21 dan Al Ghasyiyah 17-20: Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda . ekuasaan Alla. bagi orang-orang yang yakin dan . pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (QS. Adz Dzariyat, 20-. Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan. Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. (QS. Ghasyiyah 17-. Kedua ayat di atas menyampaikan agar manusia menggali, berpikir atas semua ciptaan Allah beserta isinya, seperti unta-unta . , gunung-gunung . , serta bumi dan lain sebagainya. Intinya adalah Allah menyuruh manusia untuk membaca ayat-ayat kauniyah. Allah menunjukkan tanda-tanda Kemahabesaran dan Kemahakuasaan dalam bentuk unta, gunung, dan bumi dan manusia itu sendiri. Hal tersebut di atas ditegaskan oleh Poespoprodjo bahwa manusia harus . embuat menempatkan diri dalam konteks yang terus berubah. Menafsirkan merupakan hakikat transendensi manusia menghadapi dan menghindari bahaya imanensi . etenggelaman, kebekua. eksistensinya (Poespoprodjo, 1. Membaca tanda-tanda Tuhan baik qauliyah maupun kauniyah adalah menafsirkan, menggali, mengungkap tabir kebesaran dan keagungan Tuhan melalui pikiran, idea yang rasional, logis dan metodologis. Melalui objektivitas ilmu yang sistematis, rahasia dan pesan Tuhan yang multimakna dapat diterapkan dan diterjemahkan dalam kehidupan. Disiplin ilmu yang mengkaji tanda dinamakan semiotika . Hubungan antara Ayat Qauliyah dan Ayat Kauniyah Antara ayat-ayat qauliyah dan ayat-ayat kauniyah terdapat hubungan yang sangat erat karena keduanya berasal dari Allah. Kalau kita memperhatikan ayat qauliyah, yakni Al-QurAoan, kita akan mendapati sekian banyak perintah dan anjuran untuk memperhatikan ayat-ayat kauniyah. Salah satu diantara sekian banyak perintah tersebut adalah firman Allah dalam QS Adz-Dzariyat ayat 20-21: AuDan di bumi terdapat ayat-ayat . ekuasaan Alla. bagi orang-orang yang yakin. Dan . pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?Ay Ayat di atas dengan jelas Allah menggunakan sebuah kalimat retoris: AuMaka apakah kamu tidak memperhatikan?Ay Kalimat yang bernada bertanya ini tidak lain adalah perintah agar kita memperhatikan ayat-ayat-Nya yang berupa segala yang ada di bumi dan juga yang ada pada diri kita masing-masing. Inilah ayat-ayat Allah dalam bentuk alam semesta. Dalam QS Yusuf ayat 109. Allah AuMaka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka?Ay Ini juga perintah dari Allah agar kita memperhatikan jenis lain dari ayatayat kauniyah, yaitu sejarah dan ihwal manusia . t-tarikh wal-basyariya. Kalimat retoris ini tidak membutuhkan jawaban dengan lisan, tetapi tindakan yang patut dilaksanakan, karena sesungguhnya kalimat ini adalah perintah. Selain itu, sebagian diantara ayat-ayat kauniyah juga tidak jarang disebutkan secara eksplisit dalam ayat qauliyah, yakni Al-QurAoan. Tidak jarang dalam Al-QurAoan Allah memaparkan proses penciptaan manusia, proses penciptaan alam semesta, keadaan langit, bumi, gunung-gunung, laut, manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan sebagainya. Bahkan ketika para ilmuwan menyelidiki dengan seksama paparan dalam ayat-ayat tersebut, mereka terkesima dan takjub bukan kepalang karena menemukan keajaiban ilmiah pada ayat-ayat tersebut, sementara Al-QurAoan diturunkan beberapa ratus tahun yang lalu, dimana belum pernah ada penelitian-penelitian ilmiah. Jadi itu, tidak hanya ayat-ayat qauliyah yang menguatkan ayat-ayat Sebaliknya, ayat-ayat kauniyah juga senantiasa menguatkan ayat-ayat Adanya penemuan-penemuan ilmiah yang menegaskan kemukjizatan ilmiah pada Al-QurAoan tidak diragukan lagi merupakan bentuk penguatan ayatayat kauniyah terhadap kebenaran ayat-ayat qauliyah Konsep Ilmu Tanda (Semiotik. Ferdinand de Saussure yang berperan besar dalam pencetusan Strukturalisme memperkenalkan konsep semiologi. Ia bertolak dari pendapatnya tentang langue yang merupakan sistem tanda yang mengungkapkan gagasan. Namun, ia pun menyadari bahwa di samping itu, ada sistem tanda alfabet bagi tuna-rungu dan tunawicara, simbol-simbol dalam upacara ritual, tanda dalam bidang militer, dan Saussure berpendapat bahwa langue adalah sistem yang terpenting. Oleh karena itu, dapat dibentuk sebuah ilmu lain yang mengkaji tanda-tanda dalam kehidupan sosial yang menjadi bagian dari psikologi sosial. menamakannya symiologie. Kata tersebut berasal dari akar kata seme, semeyon . ahasa Yunan. yang bermakna AutandaA (Saussure, 1. Semiotika adalah ilmu yang mengkaji tanda. Istilah semiotika merupakan cetusan Pierce, sedang Saussure menggunakan istilah semiologi. Dalam semiotika Peirce, tanda terkait dengan tiga unsur, yaitu referent, interpretant, dan objek. Menurut Peirce referent adalah objek baik konkret maupun abstrak, sedangkan interpretant adalah hasil penyimpulan terhadap kaitan antara tanda dan referennya (Chandler, 2. Menurut Peirce semiotika bersinonim dengan logika sebab pemahaman mengenai tanda-tandalah yang justru memungkinkan manusia untuk berpikir dan Dalam perkembangannya, semiotika didefinisikan sebagai studi sistematis yang melibatkan produksi dan interpretasi tanda dalam proses pemaknaan (Ratna, 2. Peirce dikenal dengan konsep triadik dan trikotominya. Prinsip dasar dari tanda triadik tersebut bersifat representatif. Berdasarkan prinsip ini, tanda menjadi wakil yang menjelaskan sesuatu. Rumusan ini mengimplikasikan bahwa makna sebuah tanda dapat berlaku secara pribadi, sosial atau bergantung pada konteks Representamen berfungsi sebagai tanda (Saussure menamakannya Perlu dicatat bahwa secara teoritis. Peirce menggunakan istilah representamen dengan merujuk pada triadik secara keseluruhan. Namun secara terminologis, ia kadang-kadang menggunakan istilah sign alih-alih representamen. Object adalah sesuatu yang diwakili oleh representamen yang berkaitan dengan Object dapat berupa representasi mental . da dalam pikira. , dapat juga berupa sesuatu yang nyata di luar tanda. Interpretant merupakan makna dari tanda. Pada beberapa kesempatan, ia menggunakan istilah significance, signification, atau interpretation. Tanda sendiri tidak dapat mengungkapkan sesuatu. Tanda hanya menunjukkan dan tugas penafsir memberi makna berdasarkan pengalamannya (Noth, 1. Peirce melihat tanda tidak sebagai suatu struktur, tetapi sebagai suatu proses pemaknaan tanda yang disebutnya semiosis. Semiosis merupakan proses tiga tahap dan dapat terus berlanjut. Artinya, interpretant, pada gilirannya dapat menjadi representamen, dan seterusnya. Peirce menyatakan bahwa proses semiosis tidak terbatas, bergantung pada pengalaman. Sementara Morris mengatakan semiotika mencakup teori umum tentang tanda dalam semua bentuk manifestasinya, baik pada binatang maupun manusia, apakah itu normal ataupun patologis, linguistik atau nonlinguistik, personal ataupun Jadi, semiotik adalah bidang interdisipliner (Noth, 1. Dalam semiologi Saussure menegaskan bahwa tanda memiliki tiga aspek, yaitu tanda itu sendiri . , aspek material . aik berupa suara, huruf, bentuk, gambar, maupun gera. yang dijadikan penunjuk . ignifier/penand. , dan aspek mental atau konseptual yang ditunjuk oleh aspek material . ignified/petand. (Sunardi, 2. Hubungan antara penanda dan petanda, menurut Saussure, adalah bersifat arbitrer . emena/beba. Dengan kata lain, penanda tidak memiliki hubungan alamiah petanda (Berger, 2. Sebuah tanda akan memiliki nilai . menurut Saussure, jika disandingkan . atau dihubungkan . dengan tanda-tanda lain dalam sebuah sistem . , yang ia sebut dengan difference . (Chandler, 2. Jadi. Saussure mengembangkan teori semiotik dari sudut bahasa. Menurutnya, tanda mengekspresikan gagasan sebagai kejadian mental yang berhubungan dengan pikiran manusia (Zoest, 1. Dalam konteks ini, bahasa merupakan sistem tanda yang terpenting karena dengan bahasa dapat terungkap hal-hal lain yang tersimpan di luar bahasa, dalam kenyataan para penerima bahasa itu (Teuw. Sebenarnya, pandangan antara kedua teori tersebut di atas terdapat kesamaan, yaitu keduanya sepakat memandang semiologi atau semiotik sebagai studi tanda, berdasarkan segala yang berhubungan dengannya. cara berfungsinya, hubungan dengan tanda-tanda lain, pengirimannya dan juga penerimaannya oleh mereka yang mempergunakannya (Zoest, 1. Objektivitas Semiotika (Ilmu Tand. dalam Menyingkap Firman (Tanda-Tanda Kebesara. Tuhan. Objektivitas semiotika memandang firman Tuhan sebagai serangkaian tandatanda kebesaran dan kekuasaan Allah yang sistematis dan sarat dengan makna dan Tanda-tanda kebesaran Tuhan dapat berkedudukan sebagai simbol, indeks, maupun ikon. Tidak semua tanda dapat diubah dengan cara sewenangwenang, khususnya tanda-tanda yang berkaitan dengan rantai komunikasi manusia-Tuhan. Komunikasi manusia-Tuhan, khususnya dalam kerangka ibadah muamalah, memiliki bentuk atau gerakan ritual dan rukun tertentu, yang secara semiotika dapat dianggap sebagai seperangkat tanda berdasarkan konvensi. Beberapa peneliti terkait perspektif semiotika terhadap ayat-ayat Quran dan Hadits diantaranya Taufiq . menggali ideologi di balik simbol-simbol surga dan kenikmatannya dalam ayat-ayat Quran1. Afwadzi . menyoal teori semiotika komunikasi hadis ala Umberto Eco 2, dan Akrom . menganalisis ketampanan Nabi Yusuf dengan perspektif semiotika Al-QurAoan 3. Ketiga penelitian di atas meggunakan semiotika dalam menganalisis ayat-ayat Al Quran dan Hadis. Hasil penelitian Taufiq . menjelaskan AuideologiAy yang terkandung di balik simbol-simbol surga serta kenikmatannya dalam Quran adalah ideologi materialism-spiritualistik. Artinya. Quran menggambarkan surga serta kenikmatannya dengan meminjam simbol-simbol materialisme . yang digunakan masyarakat Arab pra-Islam atau sesuatu tidak ada pada mereka tetapi sangat mereka inginkan . asilitas raja dan sungai yang mengali. Namun demikian, kemudian Quran menyisipkan nilai-nilai religius . terhadap simbol-simbol tersebut, seperti perintah beriman, beramal saleh, dan bertaubat. Hal inilah yang menjadi tujuan utama dari penggambaran surga dan kenikmatannya secara konkret tersebut. Sementara itu, penelitian Akrom . menemukan kisah ketampanan Nabi Yusuf ini telah melahirkan presuposisi . yang dimaksudkan oleh pengirim pesan. Melalui jalinan peristiwa yang dituturkan atau diceritakan dengan bahasa yang terstruktur, pengirim pesan telah mengantisipasi pemahaman pembaca terhadap isi pesan tersebut. Secara naratif, penggalan kisah mengandung pesan-pesan dan makna tertentu yang berhubungan dengan perintah-perintah agama, seperti perintah untuk menjaga diri dari perbuatan zina. Penelitian Afwadzi . menghasilkan pertama, teori semiotika komunikasi hadis mencakup adanya sembilan komponen dalam proses komunikasi hadis, yaitu source (Nab. , message I . edaksi otentik Nab. , transmitter . ara periwayat Wildan Taufiq. Ideologi di balik Simbol-Simbol Surga dan Kenikmatannya dalam Ayat-Ayat Alquran, (Kajian Linguistik dan Sastra. Vol. No. Desember 2. , h. Benny Afwadzi. Teori Semiotika Komunikasi Hadis Ala Umberto Eco (Mutawytir: Jurnal Keilmuan Tafsir Hadis Volume 4. Nomor 2. Desember 2. , h. Muhammad Akrom. Analisis Ketampanan Nabi Yusuf Dalam Perspektif Semiotika Al-QurAoan (Arabiyat Jurnal Pendidikan Bahasa Arab dan Kebahasaaraban. Vol. No. Desember 2. , h. , signal I . erbagai redaksi hadis secara verba. , channel . erbagai kitab hadi. , signal II . erbagai redaksi hadis secara tertuli. , receiver . alar riwayah hadi. , message II . edaksi tunggal hadi. , dan destination . alar semioti. Metode pemahaman hadis terdapat dalam komponen destination yang melaksanakan metode unlimited semiosis untuk menemukan final logical Konsep yang dibangun di sini adalah, bahwa dalam channel tersimpan noise . dalam komunikasi berupa transformasi dari bahasa lisan ke dalam bahasa tulis, yang bisa berakibat pada adanya distorsi makna. Kedua, aplikasi teori tersebut pada hadis mengenai syirik. Hadis dengan bentuk redaksi al-shirk bi allyh menghasilkan final logical interpretant berupa Aumenuhankan materiAy. Berdasarkan penelitian di atas bahwa dengan perspektif semiotika, tanda-tanda Allah . mampu diungkap melalui unsur-unsur yang terdapat dalam ilmu tanda . Unsur-unsur tersebut diantaranya signifier-signified, denotasi-konotasi Barthes, referent, interpretant, dan objek Peirce, source, message I, transmitter, signal I, channel, signal II, receiver, message II, dan destination . nlimited semioti. Ayat qauliyah dapat dikatakan teks-teks agama yang bersifat historis. Dengan perkataan lain makna yang ditimbulkan bergantung pada sistem budaya dan sosial dimana ia lahir. Karena itu . eperti yang diungkap Barthe. dalam teks-teks bahasa agama mengenal istilah makna tingkat pertama . dan juga makna tingkat kedua . Makna denotatif adalah makna secara leksikal, sementara makna konotatif adalah makna yang melibatkan unsur kesejarahan teks . sbab al-nuzu. dan latar sosio-kultural pembaca teks itu sendiri. Ayat-ayat Tuhan merupakan serangkaian tanda-tanda terstruktur, terencana dan sempurna . yang menyimpan makna . Komponenkomponen yang terikat dapat digali dengan tiga unsur yang dikemukakan Peirce mencakup referent, interpretant, dan objek. Sebagaimana perspektif pandang Audifax, tidak ada sesuatu yang namanya "kebetulan" di dunia ini. Semua kejadian, pertemuan, perpisahan, orang-orang yang saling bertemu, bahkan mimpi pun, mengusung pesan yang bisa dihubungkan satu sama lain akan membawa kita kepada kesempatan yang kita inginkan. Dan, itu adalah tanda yang harus kita baca sebagai pesan yang ingin disampaikan-Nya (Audifax, 2. Ayat kauniyah tidak lepas dari pesan ayat qauliyah. Sebagai contoh dari proses pertandaan yang saling mengisi ini adalah pada pelaksanaan ibadah haji. Kata Haji menurut bahasa artimya AuMenyengajaAy. Menurut istilah Haji berarti mengunjungi Baitullah di Mekkah dengan niat melakukan Ibadah semata-mata karena Allah SWT, dengan memakai pakaian ihram dan syarat-syarat dan waktu yang sudah ditentukan. Ihram secara denotasi adalah pakaian putih, unik dan tidak berjahit. Konotasi ihram adalah dilarang berkata dan beramal dengan hal-hal tertentu, seperti jimaAo, menikah, melontarkan ucapan kotor, dan lain-sebagainya. Selain itu juga ihram sebagai simbol kesucian, persamaan, persaudaraan mahluk di depan Tuhan. Thawaf adalah mengelilingi KaAobah tujuh kali putaran dimulai dari hajar Aswad dengan posisi KaAobah selalu berada di sebelah kiri yang berthawaf. Konotasi maknanya adalah mengelilingi kehidupan ini, berputar dari tiada kemudian kembali ke asalnya yaitu tiada, dari tanah kembali ke tanah Kemudian datangnya ramadhan, muslim harus mengetahui tanda datangnya bulan suci itu dengan melihat hilal . ulan sabit atau menengok ke atas. Selanjutnya muslim berkomitmen untuk ber-shiyam: menahan diri, membunuh egoisitas, dan mengoptimalkan kecerdasan emosi dan spiritual. Dalam prosesnya ditandai malam istimewa nuzulul quran dan lailatul qadr dan akhirnya puasa disempurnakan dengan "tanda kesalehan sosial" berupa zakat fitrah. Jadi objektivitas semiotika sebagai ilmu yang mengkaji tanda berpijak pada landasan ilmiah dan juga bersifat alamiah . dalam memandang firman Tuhan. Perpaduan intelektualitas dan spiritual manusia untuk menyerap pengetahuan dan singkapan-Nya yang berserakan dalam realitas dan peristiwa yang terjadi. Manusia seharusnya bisa melihat realitas secara transparan melalui kepekaannya sehingga mampu membaca fenomena yang Dia kehendaki, gar terjwujud keseimbangan mikrokosmos dan makrokosmos. Kesimpulan Antara ayat-ayat atau tanda-tanda qauliyah dan kauniyah yang terdapat dalam firman Tuhan memiliki hubungan yang sangat erat karena keduanya sama-sama berasal dari Allah. Kedua ayat tersebut saling menguatkan dan melengkapi. Adanya penemuan-penemuan ilmiah menegaskan kemukjizatan ilmiah pada Alquran sebagai bentuk penguatan kebenaran ayat-ayat kauniyah terhadap kebenaran ayat-ayat qauliyah. Keilmuan yang mempelajari tentang penggunaan tanda . di dalam masyarakat sejatinya diterima secara luas, namun masih saja diperdebatkan tentang intervensi semiotika terhadap cabang keilmuan. Pandangan semiotika terhadap tanda-tanda Tuhan meliputi tanda qauliyah dan tanda qauniyah. Tanda qauliyah adalah ucapan, bunyi, huruf atau teks, sedangkan tanda kauniyah adalah fenomena alam, peristiwa sosial, kejadian luar biasa yang ada di dalam alam ini. Kedua ayat tersebut adalah tanda yang mengandung berbagai penggunaan tanda, kode dan makna-makna di dalamnya, meskipun tidak menutup kemungkinan untuk melihat relasi-relasi teologis, metafisis, filosofis dan saintifik di dalamnya. Pembacaan semiotik ini, dapat dianggap sebagai sebuah pembacaan yang terbuka, plural dan komprehensif, yang dapat membentangkan hampir semua realitas kehidupan. Daftar Pustaka