Jurnal Keperawatan Florence Nightingale (JKFN) Vol. No. Juni 2025, pp. ISSN: 2657-0548. DOI: 10. 52774/jkfn. Published by Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Stella Maris Makassar Review article https://doi. org/10. 52774/jkfn. Effectiveness of Relaxing Breathing Exercise on Sleep Quality and Control of Blood Sugar Levels in Chronic Diabetes Mellitus Patients: A Literature Review Efektivitas Relaxing Breathing Exercise Terhadap Kualitas Tidur dan Kontrol Kadar Gula Darah Pada Pasien Diabetes Melitus Kronik: Tinjauan Literatur Dionencia Nahak De Jesus1*. Dewi Prabawati2 Mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Keperawatan Medikal Bedah. STIK Sint Carolus. Jakarta. Indonesia Dosen Prodi Magister Keperawatan. STIK Sint Carolus. Jakarta. Indonesia *Email : dionjesus30@gmail. Received: 24-04-2025. Revised: 13-06-2025. Accepted: 19-06-2025 ABSTRAK Fenomena insomnia pada pasien penderita diabetes melitus yang semakin serius dari waktu ke waktu dan berdampak pada kualitas tidur diperlukan teknik relaksasi yakni relaxing breathing exercise yang dapat mempengaruhi kualitas tidur dapat menyebabkan gangguan endokrin dan metabolisme seperti kelainan toleransi glukosa, resistensi insulin serta berkurangnya respon terhadap insulin. Tujuan penelitian ini untuk melihat efektifitas relaxing breathing exercise terhadap kualitas tidur penderita diabetes melitus. Kajian literatur dilakukan terhadap tujuh artikel yang diperoleh dari sejumlah tiga database. Proquest. Google Scholar dan Pubmed. Kata kunci untuk pencarian artikel adalah Audiabetes melitusAy. AuexerciseAy. Aukualitas tidurAy. Augula darahAy. AupasienAy dan Aurumah sakitAy dengan AuANDAy dan AuORAy sebagai Boolean operator. Dari kajian literatur ini didapatkan bahwa relaxing breathing exercise memiliki efek atau dampak terhadap kualitas tidur pada pasien diabetes melitus. Hasil artikel review berupa: . perbaikan kualitas tidur, . Peningkatan skor kinerja dan pengurangan tingkat stres, . perbaikan relaksasi internal selama atau setelah sesi simulasi, dan . Peningkatan kualitas tidur dan pola hidup yang sehat. Hasil kajian literatur tersebut membuktikan adanya efektifitas perbaikan kualitas tidur pada pasien diabetes melitus. Relaxing breathing exercise efektif dilakukan pada pasien penderita diabetes melitus. Rekomendasi kajian literatur ini dapat menjadikan relaxing breathing exercise sebagai terapi alternatif yang digunakan pada pasien penderita diabetes melitus. Kata Kunci: Diabetes melitus. Relaxing Breathing Exercise. kualitas tidur. gula darah ABSTRACT Background: This literature review study is motivated by the phenomenon of insomnia in patients with diabetes mellitus which is getting more serious over time and has an impact on sleep quality. Relaxation techniques are needed, namely relaxing breathing exercises, which can affect sleep quality and can cause endocrine and metabolic disorders such as glucose tolerance disorders, insulin resistance and reduced response to insulin. Objective: to see the effectiveness of relaxing breathing exercises on sleep quality in patients with diabetes mellitus. Method: A literature review was conducted on seven articles obtained from three databases. Proquest. Google Scholar and Pubmed. The keywords for searching articles are "diabetes mellitus", "exercise", "sleep quality", "blood sugar", "patients" and "hospitals" with "AND" and "OR" as Boolean operators. Results: From this literature review, it was found that relaxing breathing exercises have an effect or impact on sleep quality in patients with diabetes mellitus. The results of the review article are: . improved sleep quality, . increased performance scores and reduced stress levels, . improved internal relaxation during or after simulation sessions, and . improved sleep quality and healthy lifestyles. The results of the literature review prove that there is an effectiveness in improving sleep quality in patients with diabetes mellitus. Conclusion: Relaxing breathing exercise is effective in patients with diabetes mellitus. The recommendation of this literature review can make relaxing breathing exercise an alternative therapy used in patients with diabetes melitus Keywords: Diabetes melitus. Relaxing Breathing Exercise. Sleep quality. blood sugar. This is an open access article under the CC BY-SA license. Jesus et al Jurnal Keperawatan Florence Nightingale. Vol. No. Juni . : pp. PENDAHULUAN Diabetes adalah suatu penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan terjadinya peningkatan kadar glukosa dalam darah. Diabetes dapat diklasifikasikan menjadi beberapa tipe yaitu, diabetes tipe 1 yang bergantung pada insulin karena berkurangnya produksi insulin dalam tubuh dan diabetes tipe 2 atau disebut juga non insulin (WHO,2. Diabetes merupakan penyakit yang memerlukan perhatian serta pengobatan yang serius karena merupakan penyakit komplikasi dan dapat menjadi penyebab terjadinya sebagian besar penyakit lainnya (Rezki et al,2. Meningkatnya prevalensi kejadian diabetes tipe 2 diantaranya disebabkan oleh manajemen glukosa darah yang tidak teratur yang menyebabkan komplikasi pada sistem vaskuler dan sistem saraf dan berdampak pada gangguan fungsi tubuh. Hal ini disebabkan karena ketidakpedulian seseorang terhadap gaya hidup dan mengabaikan pentingnya diet yang sehat dan tidak menjaga kesehatan tubuh (Dinkes Bondowoso,2. Glukosa darah yang tinggi merupakan ciri utama diabetes melitus dan dapat mengakibatkan berbagai komplikasi serius jika tidak dikelola dengan baik. Gula darah yang tinggi secara kronis dapat merusak berbagai organ dan sistem dalam tubuh, termasuk jantung, mata, ginjal, dan saraf (Basri et al. ,2. Salah satu terapi komplementer yang dapat dilakukan pasien diabetes mellitus adalah dengan latihan relaxing breathing exercise yang dapat mengurangi stres, kecemasan penurunan tekanan darah, meningkatkan fungsi paru-paru dan saturasi oksigen yang adekuat serta membantu dalam menurunkan kadar gula darah (Tarwoto,2. Relaxing breathing exercise membuat tubuh kita mendapatkan input oksigen yang adekuat, dimana oksigen memegang peran penting dalam sistem respirasi dan sirkulasi tubuh. Saat seseorang melakukan relaxing breathing exercise, oksigen mengalir ke dalam pembuluh darah dan seluruh jaringan tubuh, membuang racun dan sisa metabolisme dalam tubuh yang sudah tidak terpakai, meningkatkan proses metabolime dan produksi energi. Penatalaksanaan pada pasien diabetes melitus dapat berupa terapi farmakologi . bat-obata. dan Salah satu terapi nonfarmakologi . yang dapat dilakukan yaitu Latihan nafas Sebagian besar perawatan diabetes melitus di rumah sakit masih berfokus pada pengobatan nutrisi sedangkan aktivitas fisik kurang diperhatikan. Berdasarkan beberpa studi penelitian mengenai efek relaksasi nafas dalam dapat menurunkan kadar gula darah pada penderita diabetes karena relaksasi nafas dalam menurunkan tingkat stress pada pasien. Aktivitas fisik dapat meningkatkan fungsi metabolisme tubuh dan pengendalian kadar gula darah, oleh karena itu, perlu diperhatikan pengobatan yang komprehensif (Juniarti et ,2. Penderita DM tipe 2 juga mengalami gejala klinis dan psikis yang mengakibatkan gangguan tidur (Fitriyanti,2. Terjadinya gangguan tidur akan berdampak pada terjadinya peningkatan insomnia. Ketidakpuasan tidur ini yang akhirnya mengakibatkan terjadinya penurunan kualitas tidur (Prasetya,2. Penurunan kualitas tidur dapat menyebabkan gangguan endokrin dan metabolisme seperti kelainan toleransi glukosa, resistensi insulin serta berkurangnya respon terhadap insulin (Demur,2. Terjadinya gangguan tidur akan mengganggu metabolisme dan memicu mencari makanan berlebihan serta bisa mengacaukan kinerja insulin dan pengendalian gula darah menjadi buruk. Ketidakpuasan tidur yang pada akhirnya mengakibatkan penurunan kualitas tidur (Simanjuntak et al, 2. Perubahan hormonal yang terjadi terkait gangguan tidur dapat disebabkan adanya aktivitas Hipotalamus Pituitary Adrenal (HPA) dan sistem saraf simpatis. Dapat merangsang pengeluaran hormon seperti katekolamin dan kortisol yang menyebabkan gangguan toleransi glukosa dan resistensi insulin yang akhirnya menyebabkan diabetes melitus. Pasien dengan diabetes melitus mengalami gangguan tidur dapat beresiko terjadi peningkatan gula darah (Taub & Redeker,2. Kualitas tidur dievaluasi oleh Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) yang merupakan skala penilaian mandiri yang menilai status tidur pasien selama bulan sebelumnya. Ada 19 item penilaian mandiri dan skala tersebut dibagi menjadi tujuh subskala termasuk kualitas tidur subjektif, latensi tidur, durasi tidur, efisiensi tidur, gangguan tidur, penggunaan obat tidur dan disfungsi siang hari. Atas dasar fenomena tersebut maka literature review ini dilakukan untuk suatu tujuan mengidentifikasi efektifitas relaxing breathing exercise terhadap kualitas tidur dan kontrol kadar gula darah pada penderita diabetes melitus kronik. Adapun tujuan studi literatur review adalah untuk mendapatkan hasil dari pengaruh relaxing breathing exercise terhadap kualitas tidur dan kontrol darah gula darah akibat peningkatan kadar gula darah. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan literature review sistematis yang bertujuan untuk mengevaluasi dan mensintesis hasil-hasil penelitian sebelumnya mengenai pengaruh relaxing breathing exercise terhadap kualitas Jesus et al Jurnal Keperawatan Florence Nightingale. Vol. No. Juni . : pp. Included Eligibility Screening Identification tidur dan kadar gula darah pada pasien dengan diabetes melitus. Kajian ini disusun secara sistematis untuk membangun kerangka konseptual yang kuat serta mengidentifikasi perkembangan ilmu pengetahuan dalam bidang tersebut. Proses pencarian artikel dilakukan melalui tiga database utama, yaitu ProQuest. PubMed, dan Google Scholar. Selain itu, peneliti juga memanfaatkan akses e-library dan e-resources yang tersedia melalui Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Pencarian literatur menggunakan kata kunci spesifik yang disusun berdasarkan topik penelitian, antara lain AuDiabetes melitusAy. AuRelaxing Breathing ExerciseAy. Aukualitas tidurAy. Augula darahAy. AupasienAy, dan Aurumah sakitAy. Untuk mengombinasikan kata kunci tersebut secara sistematis dan mempersempit hasil pencarian agar lebih relevan, peneliti menggunakan operator Boolean AuANDAy dan AuORAy. Hasil pencarian awal menghasilkan total 6. 592 artikel, yang terdiri dari 6. 146 artikel dari ProQuest, 196 artikel dari PubMed, dan 250 artikel dari Google Scholar. Seluruh artikel tersebut kemudian disaring berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Kriteria inklusi dalam penelitian ini mencakup artikel yang merupakan hasil penelitian asli . riginal researc. dengan format lengkap . bstrak, pendahuluan, metode, hasil, dan diskus. , membahas pasien dengan diabetes melitus, serta fokus pada salah satu atau lebih variabel seperti relaxing breathing exercise, kualitas tidur, atau kadar gula darah. Artikel harus dipublikasikan dalam rentang waktu 2015 hingga 2024, tersedia dalam bahasa Indonesia atau Inggris, serta dapat diakses dalam bentuk full-text. Sementara itu, kriteria eksklusi meliputi artikel yang merupakan jenis review, editorial, atau opini. artikel yang tidak tersedia dalam teks lengkap. artikel yang tidak relevan dengan fokus kajian. serta artikel yang melibatkan studi pada hewan atau kultur sel. Proses seleksi artikel dilakukan mengikuti tahapan PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyse. Tahapan ini meliputi empat proses, yaitu: . identifikasi, di mana peneliti mengumpulkan semua artikel dari database sesuai dengan kata kunci yang telah ditentukan. penyaringan awal berdasarkan judul dan abstrak untuk mengeliminasi artikel yang tidak relevan. evaluasi kelayakan dengan membaca secara penuh artikel yang lolos tahap sebelumnya untuk menilai kesesuaian isi dan dan . inklusi, yakni tahap akhir di mana artikel yang memenuhi seluruh kriteria dimasukkan ke dalam analisis utama. Seluruh artikel yang terpilih kemudian dianalisis secara naratif untuk mengidentifikasi temuan utama dari masing-masing studi, kesamaan dan perbedaan metodologi, serta kontribusinya terhadap pengetahuan ilmiah dan praktik klinis. Hasil analisis juga digunakan untuk mengidentifikasi kesenjangan penelitian yang masih perlu ditindaklanjuti dalam studi lanjutan. Proquest: 6,146 Google Scholar: 250 Pubmed : 196 n: 6,592 Artikel duplikat dihapus n: 4,596 Artikel yang dianalisis berdasarkan judul dan abstrak . Artikel teks lengkap yang dinilai untuk kelayakan . Full text : 0 Artikel yang sesuai . Gambar 1. Prisma Jesus et al Jurnal Keperawatan Florence Nightingale. Vol. No. Juni . : pp. Tabel 1. Hasil Ekstraksi Artikel Judul Effect of Sitting Breathing Exercises on Blood Glucose Level among Patients with Type 2 Diabetes Mellitus Evaluation of Sleep Quality Among People Living With Type 2 Diabetes Mellitus in Taif. Saudi Arabia: A Cross-Sectional Study Population 60 pasien dengan diabetes melitus tipe 2 Intervention Latihan Comparison Perbedaan kadar gula darah sebelum dan sesudah Outcome Adanya perbedaan kadar gula darah sebelum dan sesudah latihan Time 547 pasien DM Menggunakan kuesioner untuk kualitas tidur Adanya kualitas tidur pada pasien DM tipe 2 dan non DM tipe 1 Desember April 2024 Sleep Quality and Its Determinants Among Type 2 Diabetes Patients with Comorbid Metabolic Syndrome Efects of relaxing breathing paired with cardiac on performance and relaxation during critical a prospective controlled trial Deteriorated sleep quality and associate factors in patients with type 2 diabetes complicated with Effect Of Sleep Hygiene And Deep Breathing Exercise With Spiritual Care On Sleep Quality And Quality Of Life Of Hemodialysis Pasien DM tipe 2 dengan komorbid usia 18-75 tahun Evaluasi kualitas PSQI Kriteria inklusi:pasien diagnosa DM tipe 2, usia diatas 18 tahun Kriteria esklusi : Pasien diagnosa tipe 1, diabetes diabetes insipidus, pasien DM tipe 2 dibawah 18 tahun Dibagi menjadi grup kontrol dan Adanya kualitas tidur pada kelompok kontrol dan perlakuan Semua residen medis yang terlibat dalam simulasi situasi Teknik Kelompok kontrol yang tidak menerima intervensi Peningkatan skor Tingkat stres dan relaksasi internal selama atu setelah sesi simulasi Pasien yang dirawat di ruang RS Afilisia Wawancara dan Kualitas tidur yang baik pada pasien Peningkatan kualitas tidur dengan pola hidup yang sehat Pasien responden yang dibagi menjadi 19 kelompok control dan 19 Sleep hygiene dan breathing exercise yang diterapkan setiap hari selama 30 hari . menit sebelum tidu. Kelompok kontrol dan kelompok Adanya kualitas tidur pada intervensi dan kelopok kontrol. Kelompok Jesus et al Jurnal Keperawatan Florence Nightingale. Vol. No. Juni . : pp. Patient In Ahmad Yani Islamic Hospital Surabaya Sleep Quality Assessment and Its Predictors Among Saudi Adults with Type 1 and Type 2 Diabetes: A Cross-Sectional Study kualitas tidur yang baik Populasi dewasa dengan diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2 di Saudi Arabia Penilaian kualitas tidur Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) Tidak ada intervensi khusus, tetapi dapat dengan kelompok tidur baik dan tidur Kualitas tidur yang diukur dengan skor PSQI serta factor terkait Tidak HASIL Tinjauan pustaka ini mencakup tujuh artikel ilmiah yang membahas hubungan antara diabetes melitus tipe 2 dan pengaruh relaxing breathing exercise terhadap kualitas tidur serta kontrol glukosa darah. Seluruh artikel umumnya melibatkan populasi pasien yang telah didiagnosis dengan diabetes melitus tipe 2 dan sebagian besar merupakan pasien rawat inap di fasilitas pelayanan kesehatan. Salah satu studi yang melibatkan 60 pasien diabetes melitus tipe 2 menunjukkan bahwa latihan pernapasan dalam posisi duduk mampu menurunkan kadar glukosa darah secara signifikan setelah intervensi dibandingkan dengan sebelum intervensi. Hasil ini mengindikasikan bahwa teknik pernapasan sederhana berpotensi sebagai terapi non-farmakologis tambahan dalam pengelolaan kadar glukosa darah Selanjutnya, penelitian yang berjudul "Evaluation of Sleep Quality Among People Living With Type 2 Diabetes Mellitus in Taif. Saudi Arabia" menggunakan pendekatan studi potong lintang terhadap 547 pasien dan menemukan bahwa kualitas tidur pasien DM tipe 2 cenderung lebih rendah dibandingkan dengan individu non-diabetes, sebagaimana dinilai melalui penggunaan kuesioner standar. Penelitian lain berjudul "Sleep Quality and Its Determinants Among Type 2 Diabetes Patients with Comorbid Metabolic Syndrome" melibatkan pasien DM tipe 2 dengan sindrom metabolik berusia 18Ae75 tahun, dan menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) untuk mengevaluasi kualitas tidur. Studi ini menemukan perbedaan signifikan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol, yang menunjukkan bahwa komorbiditas metabolik turut memengaruhi gangguan tidur pada pasien diabetes. Dalam konteks stres akut, artikel "Effects of Relaxing Breathing Paired with Cardiac Biofeedback on Performance and Relaxation During Critical Simulated Situations" menunjukkan bahwa intervensi berupa latihan pernapasan relaksasi yang dipadukan dengan cardiac biofeedback secara signifikan meningkatkan performa, mengurangi tingkat stres, dan memperbaiki relaksasi subjektif pada residen medis yang terlibat dalam simulasi kritis, dibandingkan dengan kelompok kontrol. Diabetes Mellitus Complicated with Diabetic Peripheral Neuropathy", mengidentifikasi bahwa pasien DM tipe 2 dengan komplikasi neuropati perifer mengalami penurunan kualitas tidur yang signifikan. Melalui wawancara dan kuesioner, diketahui bahwa perubahan gaya hidup sehat berpotensi membantu meningkatkan kualitas tidur, meskipun penelitian ini tidak melibatkan intervensi secara langsung. Studi lainnya, "Deteriorated Sleep Quality and Associated Factors in Patients with Type 2 Adapun penelitian berjudul "Effect of Sleep Hygiene and Deep Breathing Exercise with Spiritual Care on Sleep Quality and Quality of Life of Hemodialysis Patients" menunjukkan bahwa penerapan sleep hygiene, latihan pernapasan, dan perawatan spiritual selama 30 hari pada pasien hemodialisis dapat meningkatkan kualitas tidur secara signifikan pada kelompok intervensi dibandingkan dengan kelompok kontrol. Hasil ini menunjukkan efektivitas pendekatan integratif dalam peningkatan kesejahteraan pasien. Terakhir, studi "Sleep Quality Assessment and Its Predictors Among Saudi Adults with Type 1 and Type 2 Diabetes" menemukan bahwa terdapat hubungan antara berbagai faktor klinis dan kualitas tidur, meskipun tidak ada intervensi spesifik yang diterapkan dalam penelitian tersebut. Evaluasi menggunakan PSQI menunjukkan bahwa gangguan tidur merupakan masalah umum yang relevan pada pasien diabetes tipe 1 maupun tipe 2. DISKUSI Dalam jurnal dikatakan diabetes merupakan penyakit tidak menular yang paling umum dan serius di Prevalensi diabetes di dunia diperkirakan telah meningkat dari 108 juta jiwa pada tahun 1980 menjadi 422 dengan jumlah kematian 1,5 juta jiwa pada tahun 2019 akibat gula darah atau diabetes (WHO,2. Diabetes melitus adalah sekelompok penyakit endokrin dan metabolik yang terutama ditandai dengan hiperglikemia, yang lebih dari 90% adalah diabetes tipe 2 (T2DM) (Artasensi A,2. Glukosa darah yang tinggi merupakan ciri utama diabetes melitus dan dapat mengakibatkan berbagai komplikasi serius jika tidak dikelolah dengan baik. Gula darah yang tinggi secara kronis dapat merusak berbagai organ dan sistem dalam tubuh, termasuk jantung, mata, ginjal, dan saraf (Basri etal. ,2. Jesus et al Jurnal Keperawatan Florence Nightingale. Vol. No. Juni . : pp. Pengendalian gula darah dapat dilakukan dengan mempertahankan diet. Latihan dan pengobatan yang tepat (Keogh,2. Tidur merupakan proses fisiologis penting untuk mengatur dan menjaga kesehatan tubuh, yang diatur oleh sistem saraf pusat (Surani S. Brito,2. Tidur yang baik akan dapat membantu memulihkan kekuatan fisik, meningkatkan metabolisme dan menunda penurunan kognitif (Ohayon,2. Menurut laporan National Sleep Foundation kualitas tidur yang baik mencakup karakteristik berikut: waktu tidur efektif yang lebih lama . fisiensi tidur 85%), tertidur dalam waktu kurang dari 30 menit , terbangun kurang dari sekali dalam semalam dan membutuhkan waktu kurang dari 20 menit untuk tertidur kembali setelah bangun dimalam hari. Gangguan tidur dimanifestasikan sebagai kesulitan untuk tertidur, tidur ringan dan durasi tidur pendek (Pavlova,2. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa prevalensi kurang tidur pada pasien DM adalah 37-50%. Kurang tidur jangka Panjang atau kualitas tidur yang buruk sering dikaitkan dengan toleransi glukosa yang tidak normal. Anthaisintawee,et. al, 2016 menemukan bahwa durasi tidur pendek (<5 ja. dan kualitas tidur yang buruk dikaitkan dengan perkembangan T2DM. Latihan pernafasan dalam akan membantu dalam memperbaiki kesehatan, bernafas pelan adalah bentuk paling sehat dari pernafasan dalam. Latihan nafas dalam akan membuat tubuh menjadi rileks karena saat bernafas dalam-dalam otak akan menerima pesan untuk tenang. Otak kemudian akan mentransfer pesan yang sama ke seluruh tubuh. Latihan pernafasan juga akan membantu membersihkan pikiran karena sirkulasi tubuh akan membaik dan akan semakin banyak oksigen mengalir ke otak. Saat melakukan latihan nafas dalam dapat melatih tubuh dengan mengatur irama pernafasan secara baik dan benar sehingga pemusatan pikiran dan penghayatan bisa mempercepat penyembuhan. Manajemen mandiri diabetes adalah serangkaian aktivitas dan perilaku tertentu yang dilakukan pasien untuk mengontrol diabetes dalam kehidupan sehari-hari. International Diabetes Federation (IDF) menerbitkan enam kategori aplikasi seluler yang digunakan dalam manajemen diabetes. Hal ini mencakup pelacakan parameter medis . isalnya tekanan darah, glukosa darah, berat badan,dl. , nutrisi . ilihan makanan seha. dan data kebugaran . ktivitas fisi. untuk mendukung penigkatan manajemen diri dan gaya hidup sehat (Kabeza et ,2. Dengan melakukan teknik relaksasi nafas dalam dapat menurunkan kadar gula darah dan dapat merilekskan otot-otot yang tegang sehingga pasien merasa nyaman dan dapat mengontrol apa yang dirasakan. Dari jurnal yang temukan dikatakan bahwa ada pengaruh nafas dalam terhadap kualitas tidur dan penurunan kadar gula darah pada pasien diabetes melitus, sehingga latihan nafas dalam ini dapat mejadi salah satu terapi non farmakologi yang dapat diterapkan pada pasien diabetes melitus KESIMPULAN Berdasarkan hasil literature review dari tujuh artikel tersebut menyatakan bahwa adanya relaxing breathing exercise dapat berpengaruh terhadap kualitas tidur dan kontrol gula darah pada pasien diabetes Relaxing breathing exercise dapat membuat tubuh menjadi rileks dan pikiran menjadi tenang serta membuat sirkulasi menjadi baik sehingga oksigen dapat dengan lancer mengalir ke otak. Berdasarkan literature riview ini disarankan agar tenaga medis bisa memberikan terapi non farmakologi ini kepada pasien seiring dengan pemberian terapi farmakologi dan juga dapat diajarkan kepada pasien agar dapat dilakukan secara mandiri oleh pasien. REFERENSI