AGREGAT Vol. No. NOVEMBER 2025 ISSN : 2541 - 0318 [Onlin. ISSN : 2541 - 2884 [Prin. Penanggulangan Longsor Dengan Dinding Penahan Tanah Atau Retaining Wall (Ruas Muara Teweh-Benangin STA 50 . * Stephanus Alexsander1. Fatma Sarie2. Okta Meilawaty3. Yuan Hunter4 *Jurusan Teknik Sipil. Fakultas Teknik. Universitas Palangka Raya. Palangka Raya *)stephanus@eng. Abstract Landslides are the movement of slope-forming materials caused by slope instability, which is influenced by morphological factors, soil and rock physicalAemechanical properties, and hydrological conditions. The landslide incident on the Muara TewehAeBenangin Road Section STA 50 800 highlights the importance of infrastructure planning that considers soil characteristics to ensure safety. This study aims to calculate the initial safety factor (SF) of the slope, analyze the modeling of a retaining wall, and evaluate changes in the safety factor after reinforcement. The research was conducted as a case study using secondary data obtained from field and laboratory tests, which were analyzed using the finite element method (FEM) with the aid of PLAXIS 2D software. The analysis results show that the initial slope safety factor (SF) was 2. however, a back analysis yielded an SF of 1. 057, indicating an unstable condition with a high risk of landslide. Therefore, a cantilevertype retaining wall was designed with a height of 4 m, thickness of 0. 2 m, heel length of 1. 5 m, toe length of 1 m, base wall thickness of 0. 4 m. Stability analysis after reinforcement demonstrated an increase in the safety factor (SF) to 1. 690, indicating that the slope condition is safe from further landslide risks. Keywords: Landslide. Slope Stability. Finite Element Method (FEM). Retaining Wall. Safety Factor (SF) Abstrak Longsor merupakan peristiwa bergeraknya material penyusun lereng akibat terganggunya kestabilan lereng, yang dipengaruhi oleh faktor morfologi, sifat fisik dan mekanik tanah, serta kondisi hidrologi. Kasus longsor yang terjadi pada Ruas Jalan Muara TewehAeBenangin STA 50 800 menunjukkan pentingnya perencanaan infrastruktur yang memperhatikan karakteristik tanah agar tidak membahayakan pengguna. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung nilai safety factor (SF) awal lereng, menganalisis pemodelan dinding penahan tanah . etaining wal. , serta mengevaluasi perubahan nilai safety factor setelah diberi Penelitian dilakukan dengan pendekatan studi kasus menggunakan data sekunder hasil pengujian lapangan dan laboratorium yang dianalisis melalui metode elemen hingga (FEM) dengan bantuan program PLAXIS 2D. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai safety factor (SF) awal lereng sebesar 2,169, namun melalui back analysis diperoleh nilai SF sebesar 1,057 yang mengindikasikan kondisi tidak stabil dan berisiko tinggi longsor. Untuk itu direncanakan dinding penahan tanah tipe kantilever dengan spesifikasi tinggi 4 m, lebar 0,2 m, panjang heel 1,5 m, panjang toe 1 m, tebal dinding batang bawah 0,4 Analisis stabilitas lereng setelah diberi perkuatan menunjukkan peningkatan nilai safety factor (SF) menjadi 1,690, yang menandakan lereng telah berada dalam kondisi aman dari risiko kelongsoran. Kata Kunci: Longsor. Kestabilan Lereng. Metode Elemen Hingga (FEM). Dinding Penahan Tanah/Retaining Wall. Faktor Keamanan (SF) PENDAHULUAN Longsor merupakan peristiwa pergerakan material penyusun lereng, seperti batuan, tanah, bahan rombakan, atau campuran material, yang bergerak ke bawah atau keluar dari lereng akibat terganggunya kestabilan Faktor-faktor yang memengaruhi kestabilan lereng meliputi kondisi morfologi . hususnya kemiringan leren. , keadaan fisik dan mekanik tanah maupun batuan, serta tata air atau kondisi hidrologi di sekitar lereng. Secara umum, longsor disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu faktor pendorong dan faktor pemicu, yang dapat menurunkan kuat geser tanah sehingga lereng menjadi tidak stabil (Faizana et , 2. Kuat geser tanah . hear strengt. merupakan salah satu parameter penting dalam bidang geoteknik yang menunjukkan kemampuan internal tanah per satuan luas untuk menahan gaya geser sebelum mengalami keruntuhan atau deformasi. Faktor-faktor yang memengaruhi kuat geser tanah di antaranya adalah komposisi tanah, tekstur, tingkat kelembaban, kepadatan, serta struktur internal tanah. Pemahaman mengenai karakteristik kuat geser tanah ini menjadi sangat penting dalam merencanakan dan ALEXSANDER/PENANGGULANGAN A. /1345 - 1350 membangun infrastruktur di atas tanah, termasuk bangunan jalan, yang memerlukan tingkat keamanan memadai agar tidak membahayakan pengguna jalan (Hakam et al. , 2. Kejadian longsor pada ruas jalan Muara TewehAe Benangin STA 50 800 dengan kedalaman sekitar 15 meter dan panjang 30 meter menunjukkan dampak negatif yang Longsor tersebut tidak hanya mengancam keselamatan pengguna jalan, tetapi juga menyebabkan kerusakan infrastruktur yang berpotensi mengganggu aksesibilitas dan transportasi di wilayah tersebut. Oleh karena itu, diperlukan upaya penanggulangan yang tepat, salah satunya dengan membangun dinding penahan tanah . etaining wal. yang dianalisis menggunakan metode elemen hingga (Finite Element Method/FEM). Struktur ini dirancang untuk menahan tekanan lateral tanah di belakangnya sehingga mampu meningkatkan kestabilan lereng dan mengurangi risiko longsor di lokasi tersebut. METODE Penelitian ini berfokus pada analisis stabilitas lereng dengan pendekatan studi kasus, bertujuan untuk memahami kondisi lereng dan mengidentifikasi solusi AGREGAT Vol. No. NOVEMBER 2025 untuk mencegah potensi longsor di masa depan. Data yang digunakan diperoleh dari pengujian lapangan dan hasil laboratorium, yang kemudian akan dianalisis menggunakan metode elemen hingga melalui program PLAXIS. Kegiatan penelitian dilaksanakan di lereng jalan di jalan Muara Teweh Ae Benangin Sta 50 800 Desa Benangin. Kecamatan Teweh Timur. Kabupaten Barito Utara. Provinsi Kalimantan Tengah. Adapun rangkaian analisis yang dilakukan adalah sebagai berikut : Analisis kelongsoran pada daerah penelitian guna memperoleh nilai safety factor (SF) awal Melakukan tanah/retaining wall pada lereng yang mengalami Analisis dinding penahan tanah/retaining wall pada lereng yang mengalami kelongsoran guna memperoleh nilai safety factor (SF) yang memenuhi. Dalam analisis stabilitas perkuatan lereng menggunakan PLAXIS 2D, perkuatan cerucuk . iang kay. yang mungkin telah digunakan sebagai penahan sementara . tau perkuatan awa. diabaikan atau dibongkar setelah konstruksi dinding penahan tanah tipe kantilever selesai. Analisis dan perhitungan Faktor Keamanan (SF) akhir hanya mewakili kontribusi dari dinding penahan tanah kantilever yang dirancang secara permanen. Pengabaian ini bertujuan untuk mendapatkan penilaian konservatif . terhadap kinerja struktur utama tanpa mengandalkan kontribusi dari elemen perkuatan yang sifatnya kurang HASIL DAN PEMBAHASAN Untuk mengetahui penyebab terjadinya longsor pada ruas jalan Muara TewehAeBenangin STA 50 800 di Desa Benangin. Kecamatan Teweh Timur. Kabupaten Barito Utara. Provinsi Kalimantan Tengah, perlu dilakukan analisis terhadap peta topografi lereng yang diamati. Analisis peta topografi ini bertujuan untuk memudahkan dalam mengidentifikasi lereng yang mengalami longsoran seperti pada Gambar 1. ISSN : 2541 - 0318 [Onlin. ISSN : 2541 - 2884 [Prin. Analisis Bentuk Bidang Longsor dan Penentuan Nilai (SF) Awal dengan PLAXIS 2D Pemodelan lereng yang terdampak longsor pada ruas jalan Muara Teweh Benangin STA 50 800 . ini didasarkan pada bentuk geometri potongan JAeJAo Gambar Gambar 2. Potongan Melintang J-JAo Sumber: P2JN Provinsi Kalimantan Tengah . Gambar 3. Pemodelan Lereng Sumber: Hasil Analisis . Pemodelan lereng diatas menggunakan parameter tanah pada Tabel 1. Tabel 1. Hasil Korelasi Parameter Tanah Kedalaman N-SPT Konsistensi A . Eoed E50 Eur A (A) . N/m. N/m. N/m. N/m. 0,0 - 2,0 8 Medium Soft 0,25 7245 7245 21735 28 A (A) Asat Aunsat N/m. N/m. 20,00 17,00 2,0 - 4,0 Very Hard 0,25 22,00 21,00 4,0 - 6,0 Very Hard 0,25 22,00 21,00 6,0 - 8,0 Very Hard 0,25 22,00 21,00 8,0 - 10,0 Very Hard 0,25 22,00 21,00 10,0 -12,0 93 Very Hard 0,25 22,00 21,00 Sumber: Hasil Analisis . Setelah pemodelan selesai, maka program akan mengkalkulasi pemodelan yang telah dibuat sebelumnya untuk mengetahui bentuk bidang longsor dan memperoleh nilai safety factor (SF) pada lokasi longsoran. Gambar 1. Peta Topografi Ruas Jalan Muara Teweh Benangin STA 50 800 (Kana. Sumber: P2JN Provinsi Kalimantan Tengah . ALEXSANDER/PENANGGULANGAN A. /1345 - 1350 Gambar 4. Bidang Gelincir Awal Sumber: Hasil Analisis . AGREGAT Vol. No. NOVEMBER 2025 ISSN : 2541 - 0318 [Onlin. ISSN : 2541 - 2884 [Prin. bidang longsor dengan nilai faktor keamanan paling kecil. Dalam penelitian ini, bidang gelincir dibagi menjadi 8 irisan dengan lebar yang sama, yaitu 1 m pada arah horizontal. Gambar 5. Nilai Safety Factor (SF) Awal Sumber: Hasil Analisis . Berdasarkan Gambar 4, dapat dilihat bahwa pada lereng yang telah mengalami longsor dan dilakukan analisis kembali diperoleh pada lereng masih terbentuk bidang gelincir pada tubuh lereng. Namun lereng masih dalam kondisi aman, ditunjukkan dengan nilai SF sebesar 2,169 pada Gambar 5, tetapi kenyataan yang terjadi di lapangan mengalami longsoran. Maka dilakukan back analysis guna mendapatkan pemodelan yang paling mendekati kondisi di lapangan. Gambar 8. Analisis Nilai Safety Factor (SF) Dengan Metode Bishop Sumber: Hasil Analisis . Adapun data properti tanah yang digunakan dalam metode Bishop dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Data Properti Tanah Dalam Metode Bishop Parameter Simbol Nilai Satuan Berat volume jenuh tanah kN/m3 Berat volume air kN/m3 water Berat volume efektif kN/m3 Sudut geser dalam Kohesi kN/m2 Sumber: Hasil Analisis . Gambar 6. Bidang Gelincir Back Analysis Akhir Sumber: Hasil Analisis . Gambar 7. Nilai Safety Factor (SF) Back Analysis Akhir Sumber: Hasil Analisis . Hasil akhir dari back analysis akhir menunjukkan bahwa jenis longsoran tersebut yaitu longsoran rotasi berbentuk melengkung . ircular slip surfac. pada kedalaman 3,62 m dengan nilai safety factor 1,057. Nilai ini menunjukkan bahwa lereng berada dalam kondisi tidak stabil dan berisiko tinggi mengalami longsor. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa hasil pemodelan lereng sudah cukup mendekati kondisi sebenarnya di Sebagai perbandingan dalam menentukan nilai safety factor (SF) pada analisis stabilitas lereng, digunakan perhitungan manual dengan metode Bishop. Metode ini menghitung kestabilan lereng dengan cara membagi bidang gelincir menjadi beberapa irisan vertikal, kemudian dilakukan perhitungan menggunakan pendekatan trial and Proses trial and error diperlukan untuk memperoleh ALEXSANDER/PENANGGULANGAN A. /1345 - 1350 Tabel 3. Perhitungan Metode Bishop No. W1 W2 Irisan m Abh1 Abh1 N) . N) Sumber: Hasil Analisis . Wtotal W1 W2 N) Sin A Tabel 4. Perhitungan Metode Bishop No. Irisan b Uw Wtot SinA hw Aw Wtot - (Wtot - b. B . Sumber: Hasil Analisis . AGREGAT Vol. No. NOVEMBER 2025 ISSN : 2541 - 0318 [Onlin. ISSN : 2541 - 2884 [Prin. Tabel 5. Perhitungan Safety Factor Metode Bishop No. Irisan D . Sumber: Hasil Analisis . Safety Factor 19. Dari Pehitungan nilai safety factor diatas dengan metode Bishop didapat nilai percobaan awal dengan faktor aman F = 1,00 diperoleh F1 = 1,0000 dan percobaan kedua dengan faktor aman F = 1,05 diperoleh F2 = 1,0391. Jadi SFBishop dari lereng tersebut adalah SF = 1,00. Gambar 9. Lereng Setelah Dilakukan Pemotongan Dan Pemasangan Cerucuk Sumber : Hasil Analisis . SF = 1,549 Analisis Faktor Keamanan Pemotongan Lereng Sebelum dilakukannya pemasangan dinding penahan tanah dilakukan terlebih dahulu pemotongan dan pemasangan cerucuk ukuran 8y8 cm dengan panjang 4 m pada lereng agar dinding penahan tanah . etaining wal. dapat dipasang dengan baik dan sesuai perencanaan. Pemasangan cerucuk ini bertujuan untuk meningkatkan kestabilan lereng sementara serta membantu menahan tekanan lateral tanah sebelum dinding penahan tanah Cerucuk berfungsi sebagai elemen perkuatan tanah yang mampu meningkatkan daya dukung dan tahanan geser tanah dengan cara memotong bidang gelincir serta menyalurkan gaya dorong ke lapisan tanah yang lebih stabil di bawahnya. Sistem cerucuk bekerja berdasarkan prinsip interaksi antara tanah dan elemen tiang yang ditanam secara vertikal di dalamnya, di mana cerucuk berperan sebagai elemen pasif yang menahan gaya lateral akibat tekanan tanah dan gaya geser lereng. Menurut Mochtar . dan Rusdiansyah . , kemampuan cerucuk dalam menahan gaya geser bergantung pada kekakuan material, kedalaman tancapan, serta jarak antar cerucuk yang menentukan distribusi tegangan tanah di sekitarnya. Cerucuk yang menembus lapisan tanah stabil akan menambah gaya tahan horizontal sehingga mampu meningkatkan faktor keamanan lereng (Safety Factor. SF). Berdasarkan Pedoman Stabilisasi Dangkal Tanah Lunak untuk Konstruksi Timbunan Jalan (Kementerian PUPR, 2. dan SNI 8460:2017, pemasangan cerucuk harus direncanakan agar ujungnya menembus lapisan stabil di bawah bidang gelincir dengan jarak antar cerucuk yang memadai untuk mendistribusikan beban tanah secara merata. Dengan demikian, pemasangan cerucuk kayu berukuran 8y8 cm dan panjang 4 m pada penelitian ini diharapkan mampu memperkuat kestabilan lereng serta memberikan dukungan yang cukup bagi konstruksi dinding penahan tanah. ALEXSANDER/PENANGGULANGAN A. /1345 - 1350 Gambar 10. Bidang Gelincir Setelah Dipasang Penahan Sementara/Cerucuk Sumber : Hasil Analisis . Gambar 11. Nilai Safety Factor (SF) Setelah Dilakukan Pemotongan Sumber : Hasil Analisis . Pemodelan dan Perhitungan Dinding Penahan Tanah Setelah dilakukan pemotongan pada lereng maka dinding penahan tanah dimodelkan dengan bantuan program PLAXIS 2D. Posisi dinding penahan tanah tipe kantilever ini direncanakan berada di tengah bidang gelincir dengan tujuan untuk memotong bidang gelincir tersebut. Pemotongan bidang gelincir ini akan memberikan tambahan gaya geser yang dapat meningkatkan stabilitas lereng secara Parameter dinding penahan tanah/retaining wall dapat dilihat pada Tabel 6. Setelah itu dilakukan permodelan dan penginputan pada program PLAXIS 2D. AGREGAT Vol. No. NOVEMBER 2025 Tabel 6. Parameter Dinding Penahan Tanah Parameter Tinggi Dinding (H) . Rata-Rata Tebal Dinding . Heel . Toe . Modulus Elastisitas (E) kN/m2 Berat Jenis Beton kN/m3 Poisson ratio . Sumber: Hasil Analisis . ISSN : 2541 - 0318 [Onlin. ISSN : 2541 - 2884 [Prin. Nilai 24,00 0,25 Gambar 14. Nilai Safety Factor (SF) Setelah Dipasang Perkuatan Dinding Penahan Tanah/Retaining Wall Sumber: Hasil Analisis, 2025 Desain dinding penahan tanah tipe kantilever harus memenuhi tiga kriteria stabilitas utama, yaitu stabilitas terhadap guling . , geser . , dan daya dukung tanah. Kontrol ini dilakukan berdasarkan standar SNI/ASTM/AASHTO dengan Faktor Keamanan Izin SF minimum 1,5 KESIMPULAN Gambar 12. Desain Dinding Penahan Tanah/Retaining Wall Tipe Kantilever Sumber: Hasil Analisis . Dari permodelan dinding penahan tanah/retaining wall yang telah direncanakan menghasilkan bentuk bidang gelincir yang mengecil dapat dilihat pada Gambar 13 dan meningkatkan nilai safety factor (SF) lereng tersebut dari 1,057 menjadi 1,690 dapat dilihat pada Gambar 14. Nilai safety factor (SF) yang diperoleh memenuhi syarat SFOu1,25, artinya penanggulangan longsor dengan dinding penahan tanah/retaining wall efektif untuk memperkuat lereng tersebut. SF = 1,690 Gambar 13. Bentuk Bidang Gelincir Dengan Perkuatan Dinding Penahan Tanah/Retaining Wall Sumber: Hasil Analisis 2025 ALEXSANDER/PENANGGULANGAN A. /1345 - 1350 Berdasarkan hasil analisis, diperoleh bidang gelincir pada tubuh lereng dengan nilai safety factor (SF) awal sebesar 2,169 yang menunjukkan kondisi lereng aman, namun pada kenyataannya di lapangan terjadi longsoran. Oleh karena itu dilakukan back analysis yang menunjukkan bahwa jenis longsoran tersebut adalah longsoran rotasi berbentuk melengkung . ircular slip surfac. pada kedalaman 3,62 m dengan nilai safety factor sebesar 1,057, sehingga kondisi lereng tergolong kritis. Berdasarkan hasil analisis lebih lanjut, lereng yang mengalami longsoran memerlukan perkuatan berupa dinding penahan tanah . etaining wal. dengan dimensi tinggi 4 m, lebar 0,2 m, panjang heel 1,5 m, panjang toe 1 m, serta tebal dinding batang bawah 0,4 m. Setelah dilakukan perkuatan dengan dinding penahan tanah tersebut, nilai safety factor meningkat dari kondisi kritis 1,057 menjadi 1,690. Hal ini menunjukkan bahwa nilai safety factor telah memenuhi kriteria keamanan dan lereng dinyatakan stabil serta aman dari risiko longsoran lanjutan. DAFTAR PUSTAKA