Jurnal Pendiidkan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi ISSN (Onlin. : 2807-3878 DOI: 10. 59818/jpi. Vol. No. November 2025 PENGARUH POLA ASUH DAN LINGKUNGAN KELUARGA TERHADAP PERILAKU BULLYING PADA SISWA MTSN 2 SIMEULUE TAHUN 2025 Septimi Hartati Natalia1. Ainal Mardhiah2. Nurjanah Ismail3. Mujiburrahman4 1,2,3,4 UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Indonesia Email: mimilubis77@gmail. com1, ainal. abdurrahman@ar. id2, nurjannah. ismail@ar-raniry. amin@ar-raniry. RIWAYAT ARTIKEL Received : 2025-11-01 Revised : 2025-11-28 Accepted : 2025-11-28 KEYWORDS Parenting Pattern. Family Environment. Bullying Behavior KATA KUNCI Pola Asuh. Lingkungan Keluarga. Perilaku Bullying ABSTRACT This study aims to analyze the improvement of parenting patterns carried out concerning bullying behavior at MTsN 2 Simeulue. This research uses a qualitative method. The results conclude that among the various types of bullying behaviors committed by perpetrators, most come from children who essentially come from disharmonious or broken families, families where education at home is full of violence or authoritarianism, siblings who often tease each other, and sometimes children are overly spoiled by their parents. The parenting patterns originating from such family environments make the child a perpetrator of bullying at school because they are already accustomed to violence and therefore also commit violence towards others. Bullying behavior has a significant impact on the victims, sometimes causing psychological disturbances, and even suicidal Therefore, various parenting patterns are implemented to reduce bullying behavior among students at MTsN 2 Simeulue, including planning the recruitment of guidance counselors (BK teacher. , providing BK rooms, cooperation between BK teachers and homeroom teachers, class-to-class socialization, and collaborative efforts between parents and teachers. This study also benefits MTsN 2 Simeulue students by reducing bullying incidents. Students can express their frustrations that previously had no outlet to share their problems at home or in their play environment. now BK teachers become their Socialization delivery becomes more directed and focused on students, and the approach between parents and teachers in educating students is strengthened. ABSTRAK Penelitian ini berfungsi untuk menganalisa tentang peningkatan pola asuh yang di lakukan pada perilaku bulying di MTsN 2 Simeulue. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa dari berbagai macam perilaku bullying yang di lakukan oleh pelaku bullying kebanyakan berasal dari anak -anak yang pada hakekatnya berasal dari keluarga yang tidak harmonis/ broken, keluarga yang pendidikan di rumahnya penuh kekerasan/otoriter, saudara sekandung saling mengejek dan juga kadang terlalu dimanja oleh orang tuanya, perilaku pola asuh yang berasal dari pola asuh keluarga tersebut menjadikan anak sebagai dalang pelaku bullying di sekolah, karena mereka sudah terbiasa dengan kekerasan sehingga melakukan kekerasan pula kepada orang lain. Perilaku bullying ini sangat berdampak terhadap korbannya terkadang mereka menjadi terganggu psikisnya dan bahkan tidak menutup kemungkinan melakukan bunuh diri, oleh karena itu, berbagai macam 188 | JPI. Vol. No. November 2025 pola asuh yang dilakukan untuk mengurangi perilaku bullying pada siswa MTsN 2 Simeulue, diantaramya: perencanaan perekrutan guru BK, pengadaan ruang BK, kerjasama guru BK dan wali kelas, sosialisasi class to class, dan kerjasama orang tua dan guru. Dalam penelitian ini terdapat manfaat yang di rasakan oleh siswa pada MTsN 2 Simeulue yaitu berkurangnya perlakuan bullying, siswa dapat melepaskan unek-uneknya yang selama ini tidak ada tempat bercerita permasalahannya di rumah atau lingkungan bermainnya, kini guru BK menjadi tempat curhatnya, penyampaian sosialisasi lebih terarah dan terfokus pada siswa dan terjalinnya pendekatan orang tua dan guru dalam memberikan didikan pada Pendahuluan Bullying adalah fenomena sosial yang sering terjadi terutama di kalangan anak dan remaja. Meskipun sering dikaitkan dengan lingkungan sekolah atau pergaulan di luar rumah, banyak penelitian menunjukkan bahwa akar perilaku bullying sebenarnya berawal dari lingkungan Pola asuh yang kurang tepat, seperti pengabaian, kekerasan dalam rumah tangga, kurangnya kasih sayang, serta lingkungan keluarga yang tidak harmonis, menjadi faktor utama yang memicu munculnya perilaku bulliying pada anak. Terlalu dimanja, mengikuti segala permintaan anak juga bisa menjadi pemicu bagi anak untuk selalu menjadi raja dalam lingkungannya. Para orang tua tidak menyadari perilaku yang di tanamkan selama ini di dalam rumahnya, jika ada permasalahan anak terkadang tak segan-segan yang di salahkan lingkungan sekolah, orang tua tidak merasa bersalah atas pendidikan yang di ajarkan kepada anak yang seharusnya berawal dari rumah, lalu lingkungan bermain, selanjutnya lingkungan Orang tua adalah guru pertama anak saat ia mengenal lingkungannya, jika pola asuh yang diajarkan orang tua penuh dengan kasih sayang, lemah lembut, maka anak akan membawa dirinya pula penuh dengan kelembutan kepada temannya, tetapi sebaliknya jika pola asuh orang tua penuh kata-kata membanding-bandingkan, maka anak pun akan terbawa ke lingkungan bermainnya hingga terbawa Selain itu, pola asuh yang bersifat otoriter atau terlalu keras juga dapat menyebabkan anak menjadi agresif dan kurang empati terhadap orang lain, meningkatkan risiko mereka menjadi pelaku Kasus-kasus di mana anak mengalami bullying dari saudara kandung pun sering kali menyebabkan perilaku serupa kepada orang lain demi mencari rasa kuasa dan kontrol. Dalam konteks ini, keluarga bukan hanya sebagai tempat lahirnya perilaku bullying, tetapi juga sebagai lingkungan penting yang berperan dalam pembentukan karakter dan sikap sosial anak. Perilaku bullying sering terjadi pada anak-anak mulai dari SD/MI. SMP/MTs dan SMA/MA, tak terkecuali juga pada siswa MTsN 2 Simeulue, bullying adalah fenomena yang kerap terjadi, meskipun pada MTsN 2 Simeulue banyak mempelajari pendidikan Agama. perilaku ini kerap terjadi pada siswa mulai dari kelas VII sampai dengan Kelas IX, dari banyaknya perilaku bullying yang terjadi di MTsN 2 Simeulue, setelah dilakukan konseling dari anak-anak yang sering membuly teman sebaya dan adik kelasnya kebanyakan pelakunya adalah anak- anak yang berasal dari keluarga Broken Home, anak-anak yang sering di didik keras oleh orang tuanya dirumah. Anak-anak yang biasa didik dengan kekerasan pada lingkungan keluarganya kebanyakan akan menjadi orang yang merasa terkuat diantara teman-temannya, kebiasaan di didik keras menjadikan anak tahan akan kekerasan di luar rumahnya atau di lingkungan bermainnya. MTsN 2 Simeulue memiliki 11 rombel kelas dengan Jumlah siswa sebanyak 383 orang. MTsN 2 Simeulue merupakan Satu-satunya Madrasah Negeri yang ada di Ibu Kota Kabupaten Simeulue. Tata letaknya yang strategis membuat pandangan masyarakat di sekitar tertuju pada Madrasah ini, sehingga segala problema yang terjadi pada siswa sangat cepat terdeteksi oleh masyarakat di sekitar. Upaya yang dilakukan oleh kepala madrasah dalam mengurangi perilaku bullying pada MTsN 2 Simeulue adalah Pertama merencanakan perekrutan guru Bimbingan Konseling (BK), kedua pengadaan ruang BK. Ketiga bekerja sama dengan wali kelas agar memberi peluang curhat bagi siswa di ruang BK. Keempat melaksanakan sosialisasi tentang Bullying secara Class to Class. Kelima bekerja sama dengan orang tua. Penelitian Tentang bullying dapat dilihat dari hasil penelitian Slamet menunjukkan Siswa dan siswi madrasah Tsanawiyah Darul Karomah Singosari Kabupaten Malang secara keseluruhan mendapatkan pola asuh yang otoriter, pola asuh Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. November 2025 | 189 dalam kategori kedua yaitu pola asuh yang demokratis dan hampir tidak ada yang mendapatkan pola asuh orang tua permisif, artinya siswa dan siswi pada Madrasah Tsanawiyah Darul Karomah Singosari Kabupaten Malang hamper semua anak mendapatkan pola asuh orang tua yang otoriter, pola asuh otoriter cenderung orang tua keras kepada anak dan anak harus melakukan semua yang di perintahkan oleh orang tuanya, jika perintah orang tua tidak di ikuti maka anak akan mendapatkan hukuman, sedangkan pada pola asuh demokratis orang tua cenderung mengajak anak berdiskusi dan memberikan masukan pada anak, pada siswa dan siswi madrasah Tsanawiyah Darul Karomah Singosari Kabupaten Malang hamper tidak mendapatkan pola asuh permisif. Dimana pola asuh ini cenderung membiarkan anak tanpa memberi batasan-batasan tertentu. Hal yang berkaitan juga yang di teliti oleh Syawitri yang menerangkan bahwa Keluarga memegang peranan penting dalam menentukan keterlibatan anak baik sebagai pelaku ataupun korban bullying. Keluarga yang memahami tentang bullying, mengajarkan nilai-nilai, menerapkan pola asuh yang positif, memberikan keteladanan yang baik dan menciptakan lingkungan yang kondusif dapat mencegah anak untuk menjadi korban maupun pelaku bullying. Maka dari itu, untuk mendukung peran keluarga dalam upaya mencegah munculnya perilaku bullying pada anak, strategi kolaborasi antara sekolah, pemerintah dan orang tua dirasa perlu untuk dilakukan. Keluarga memegang peranan penting dalam menentukan keterlibatan anak baik sebagai pelaku ataupun korban bullying Meskipun sudah banyak yang meneliti tentang penelitian bullying berdasar paparan kutipan penulisan diatas, akan tetapi penulis merasa masih belum ada yang menulis pola asuh yang dilakukan oleh kepala sekolah, oleh karena itu peneliti ingin meneliti lebih dalam dan mengangkat judul Pengaruh Pola Asuh Dan Lingkungan Keluarga Terhadap Perilaku Bullying Pada Siswa Mtsn 2 Simeulue. Landasan Teori Pengertian Bullying Dan Pola Asuh Orang Tua . Bulliying Buliyying berasal dari bahasa Inggris, yaitu bull yang artinya banteng. Secara etimologi kata bully artinya AypenggertakAy, orang yang mengganggu yang lemah, sedangkan berdasarkan arti etimologi berarti sebuah keinginan/hasrat (Ishlah, 2. Bullying dalam bahasa Indonesia disebut "menyakat" yang artinya mengganggu, mengusik, dan merintangi orang (Lutfiana, 2. Bullying adalah suatu tindakan atau perilaku yang dilakukan dengan cara melukai secara fisik. Verbal atau emosional/ psikologis oleh seseorang atau kelompok yang merasa lebih kuat kepada korban yang secara fisik atau mental berulang kali tanpa perlawanan untuk membuat korban (Cristofora, 2. Didalam Kamus KBBI bullying disebut juga dengan perilaku perundungan, dimana tindakan ini merupakan perbuatan negatif yang di lakukan oleh seseorang atau kelompok Pengertian Bulliying (Kekerasa. menurut pasal 1 angka 16 UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak (UU 35/2. Bullying (Kekerasa. adalah perbuatan terhadap anak yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik. Psikis. Seksual dan/atau penelantaran, termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan paksaan atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum. Sedangkan menurut Victorian Department of education and Early Childhood Development yaitu Bullying terjadi jika seseorang atau sekelompok orang mengganggu atau mengancam keselamatan dan kesehatan seseorang baik secara fisik maupun psikologis, mengancam properti, reputasi atau penerimaan sosial seseorang serta dilakukan secara berulang dan terus menerus. Pola Asuh Orang Tua Pola asuh orang tua adalah cara yang diterapkan oleh orang tua dalam membimbing, merawat, dan mendidik anak agar tumbuh menjadi individu yang berkarakter dan bermanfaat bagi Pola asuh mencakup interaksi sosial antara orang tua dan anak yang berpengaruh dalam keterampilan sosial anak. Pola asuh adalah proses orang tua dalam mendisiplinkan anaknya serta melindungi anak dalam mencapai proses kedewasaan sampai dengan membentuk perilaku anak sesuai dengan aturan atau norma serta etika nilai yang baik sesuai dengan kehidupan dalam Macam-Macam Bullying Bullying tidak hanya sekadar tindakan fisik, tetapi mencakup berbagai bentuk perilaku negatif yang dilakukan secara berulang. Berikut adalah beberapa jenis bullying yang umum terjadi, terutama di lingkungan sekolah: Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 190 | JPI. Vol. No. November 2025 . Bullying Fisik Tindakan ini meliputi kekerasan secara langsung, seperti memukul, menendang, menjambak, mendorong, atau merusak barang milik korban. Bentuk bullying fisik mudah dikenali karena dampaknya terlihat secara nyata pada korban. Bullying Verbal Bullying jenis ini berupa penggunaan kata-kata kasar atau penghinaan, seperti mengejek, mengancam, menyebarkan gosip, atau mempermalukan seseorang di depan umum. Bullying verbal seringkali dianggap remeh, padahal dampaknya bisa sangat merugikan psikologis korban. Bullying Sosial Jenis bullying sosial mencakup tindakan mengucilkan seseorang dari kelompok, mengabaikan secara sengaja, menyebarkan rumor, atau memanipulasi hubungan sosial terisolasi dan kesepian. Cyberbullying Perundungan ini terjadi melalui media elektronik atau media sosial. Pelaku menggunakan platform digital untuk mengirim pesan mengancam, menyebarkan konten negatif, atau mengejek korban secara daring. Cyberbullying seringkali sulit dideteksi dan dapat terjadi kapan saja tanpa batasan ruang dan waktu. Bullying Seksual Meliputi tindakan pelecehan atau eksploitasi seksual yang dilakukan secara verbal atau fisik, seperti komentar atau lelucon tidak senonoh, sentuhan yang tidak dinginkan, hingga pelecehan fisik. Bullying Finansial Pelaku memaksa korban untuk menyerahkan uang atau barang berharga dengan ancaman kekerasan fisik atau psikologis. Jenis bullying ini sering terjadi sebagai bentuk pemerasan di antara anak-anak atau remaja. Beragam jenis bullying ini menimbulkan berbagai dampak negatif bagi korban, baik secara fisik maupun psikologis, yang dapat berlanjut hingga dewasa jika tidak segera ditangani. Oleh karena itu, pemahaman yang lebih baik tentang jenis-jenis bullying ini penting sebagai langkah awal dalam pencegahan dan penanggulangan. Bahaya Bullying Bullying merupakan tindakan agresif berulang yang di lakukan oleh seseorang terhadap orang lain yang dianggapnya lebih lemah, pelaku bullying biasanya agresif baik secara verbal maupun fisikal, ingin populer, sering berbuat onar, mencari-cari kesalahan orang lain, pendendam, iri hati, hidup berkelompok dan menguasai kehidupan sosial di orang seperti ini biasanya dapat dilihat dari tingkahnya yang di tandai dengan berjalan di depan, sengaja menabrak, berkata kasar dan menyepelekan/melecehkan. Perilaku Bullying perundungan yang memiliki dampak sangat berbahaya bagi semua pihak yang terlibat, terutama korban dan pelaku. Bagi korban, bullying dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan mental seperti rasa takut, kecemasan, dan depresi. Anak yang menjadi korban bullying sering merasa ketakutan untuk pergi ke sekolah, bahkan takut melakukan aktivitas sederhana seperti menggunakan kamar mandi atau berjalan di lorong sekolah. Selain itu, bullying menyebabkan korban kehilangan kepercayaan diri dan merasa dirinya tidak berharga, yang dapat berujung pada isolasi sosial dan kesulitan membentuk hubungan interpersonal. Dalam jangka panjang, korban bullying berisiko mengalami gangguan mental berat seperti post-traumatic stress disorder (PTSD), gangguan makan, gangguan tidur, hingga pikiran bunuh diri dalam kasus-kasus https://hellosehat. com/parenting/remaja/kesehatanmental-remaja/dampak-bullying/, bahwa ada 7 dampak bulying di sekolah bagi korban dan pelaku yakni : 1. Mengalami ketakutan dan kecemasan, 2. Kehilangan kepercayaan diri, 3. mengisolasi diri,4. sulit membentuk hubungan, 5. memicu gangguan mental, 6. masalah kesehatan fisik, 7. penurunan prestasi akademik Dari beberapa penjelasan diatas menerangkan bahwa efek dari perilaku bullying sangat berdampak bagi si korban. Dampak negatif juga dialami oleh pelaku Mereka cenderung menunjukkan perilaku antisosial dan agresif yang berlanjut hingga dewasa, mengalami penurunan prestasi akademik, serta berisiko menyalahgunakan zat seperti alkohol dan Pelaku bullying juga memiliki kesulitan dalam membangun hubungan sosial yang sehat dan mungkin menunjukkan perilaku kasar terhadap orang di sekitarnya. Lingkungan sekolah yang memiliki budaya bullying menjadi tidak nyaman dan kurang kondusif untuk belajar. Suasana ketakutan yang tercipta dapat Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. November 2025 | 191 menurunkan motivasi belajar siswa secara keseluruhan dan merusak reputasi sekolah. Pencegahan bullying memerlukan peran aktif dari berbagai pihak, termasuk sekolah, guru, orang tua, dan siswa itu sendiri. Sekolah perlu membangun kesadaran melalui edukasi dan seminar, menerapkan aturan anti-bullying yang tegas dan transparan, meningkatkan pengawasan di area rawan bullying, menyediakan mekanisme pelaporan yang aman, psikologis dan bimbingan konseling. Peran orang tua juga sangat penting untuk mendeteksi tanda-tanda bullying dan memberikan dukungan yang tepat. Dengan memahami bahaya bullying dan mengimplementasikan upaya pencegahan yang serius, diharapkan lingkungan sekolah dapat menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi setiap siswa untuk belajar dan berkembang secara optimal. Bentuk-Bentuk Pola Asuh Pola asuh orang tua merupakan salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap terbentuknya perilaku bullying pada anak. Pola asuh yang diterapkan di rumah membentuk karakter, sikap, dan cara anak dalam berinteraksi dengan lingkungan Setiap jenis pola asuh memiliki konsekuensi yang berbeda terhadap kemungkinan anak menjadi pelaku atau korban bullying. Ada tiga pola asuh yang akan mempengaruhi kepribadian dan karakter anak dimasa yang akan datang, sehingga orang tua berhak memilih pola asuh apa yang akan di terapkan kepada anak (Hurlock, 2. , pola asuh tersebut diantaranya: Pola asuh otoriter Pola asuh otoriter adalah pola asuh anak yang cenderung kepada kekerasan, intimidasi, dan kontrol ketat seringkali membuat anak meniru perilaku agresif tersebut dalam hubungan Anak yang dibesarkan dengan pola asuh ini lebih berpotensi untuk melakukan bullying sebagai bentuk pelampiasan atas ketegangan emosional yang dialami di rumah. Anak juga dapat menganggap bahwa kekerasan adalah cara efektif untuk mengendalikan orang lain dan pola asuh ini cenderung memicu anak menjadi nakal saat mulai memasuki bangku (Priyatna, 2. Pola asuh permisif Pola asuh permisif adalah pola asuh yang memberikan kebebasan tanpa batas dan kontrol yang kurang memadai, ini juga dapat menyebabkan anak menjadi pelaku bullying. Anak yang tidak dibatasi dalam berperilaku cenderung kurang memiliki kesadaran moral dan kontrol diri sehingga mudah menunjukkan perilaku agresif tanpa memperhitungkan . Pola asuh demokratis Pola asuh demokratis merupakan pola asuh yang mengedepankan komunikasi terbuka, kasih sayang, dan penanaman nilai-nilai empati sangat efektif dalam mencegah perilaku Anak-anak yang diasuh dengan pola seperti ini lebih mampu mengelola emosinya, menghargai perbedaan, dan menghindari sikap mendominasi atau merugikan orang lain. Dengan demikian, peran orang tua dalam menerapkan pola asuh yang tepat sangat penting untuk mencegah terjadinya bullying. Orang tua perlu memberikan perhatian penuh, mengajarkan nilai positif, dan menjadi teladan yang baik sehingga anak dapat tumbuh menjadi individu yang bertanggung jawab dan memiliki sikap sosial yang sehat Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif korelatif dan desain penelitian cross-sectional. Desain ini dipilih untuk mengukur dan menganalisis hubungan antara variabel pola asuh orang tua dan lingkungan keluarga terhadap perilaku bullying yang terjadi pada siswa MTsN 2 Simeulue pada satu waktu Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa MTsN 2 Simeulue dengan jumlah yang disesuaikan pada tahun pelaksanaan penelitian. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling atau purposive sampling, tergantung jumlah populasi dan kriteria inklusi peserta, misalnya siswa kelas tertentu yang memenuhi syarat mengikuti penelitian. Instrumen pengumpulan data menggunakan kuesioner tertutup yang terdiri dari beberapa bagian, yaitu: Kuesioner pola asuh orang tua yang diadaptasi dari Parental Authority Questionnaire (PAQ) yang valid dan reliabel, mengukur tipe pola asuh seperti otoriter, permisif, dan demokratis. Kuesioner lingkungan keluarga yang berisi indikator komunikasi keluarga, kehangatan keluarga, dan konflik keluarga. Kuesioner perilaku bullying yang Olweus Bully/Victim Questionnaire (OBVQ) atau skala perilaku bullying yang disesuaikan dengan konteks Data yang diperoleh dianalisis menggunakan karakteristik sampel dan variabel penelitian. Analisis Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 192 | JPI. Vol. No. November 2025 inferensial dilakukan dengan uji korelasi . isalnya Spearman Rank atau Pearso. dan uji chi-square untuk mengetahui hubungan antar variabel pola asuh, lingkungan keluarga, dan perilaku bullying Keabsahan instrumen dijamin melalui uji validitas dan reliabilitas sebelum digunakan, serta etika penelitian dijaga melalui izin dari pihak sekolah dan persetujuan orang tua serta siswa sebagai responden. Dengan ini, penelitian menggambarkan secara komprehensif bagaimana pola asuh dan lingkungan keluarga berkontribusi terhadap perilaku bullying di MTsN 2 Simeulue, sekaligus memberikan rekomendasi strategi pencegahan berbasis keluarga dan sekolah. Hasil Penelitian Gambaran Tempat Penelitian MTsN 2 Simeulu adalah satu-satunya Madrasah Negeri yang Ada di sekitar pusat kota Sinabang Kabupaten Simeulue yang Berdomisili di Jalan Tgk. Di Ujung Desa Air Dingin Kecamatan Simeulue Timur Kabupaten Simeulue. MTsN 2 Simeulue Memiliki 40 Orang guru Pegawai yang terdiri dari 7 orang Guru Laki-laki dan 30 orang guru Perempuan, 1 orang TU Laki-laki Orang, 1 Orang Satpam dan 1 Orang petugas Kebersihan, dari sekian banyaknya tenaga pengajar MTsN 2 hanya memiliki 2 Orang Sarjana BK 1 PNS dan Jumlah siswa 387 Orang yang terdiri dari 160 Orang Laki-laki 218 Orang Perempuan BENTUK-BENTUK POLA ASUH PADA SISWA MtsN 2 SIMEULUE Perilaku Bullying pada MTsN 2 Simeulue Adalah perilaku yang selalu terjadi, hampir setiap hari ada korban bullying dari temannya. Setiap terjadi bullying maka kepala sekolah dan guru wali kelas langsung mengatasinya, dengan memanggil siswa dan langsung mengintrogasi siswa pelaku dan korban bullying. Dan hasilnya guru dan kepala sekolah langsung memarahi siswa pelaku bullying Hampir setiap hari berbagai macam permasalahan siswa diatasi oleh guru dan kepala MTsN 2 Simeulue awalnya sudah memilki satu Orang guru BK yang berstatus PNS, guru BK tersebut adalah satu-satunya guru yang menangani 387 orang siswa, dari beban tugas yang ada kepala sekolah memberikan tugas tambahan karena ada yang sangat urgen, sehingga dengan adanya tugas tambahan ditambah lagi dengan banyaknya siswa yang ada maka guru BK tersebut tidak dapat maksimal dalam penanganan kasus -kasus yang terjadi pada siswa. Dari banyaknya permasalahan yang terjadi terutama kasus bullying, maka kepala sekolah melakukan beberapa upaya untuk mengurangi perilaku bullying pada MTsN 2 Simeulue, diantara upaya tersebut adalah: Perencanaan Perekrutan Guru Bimbingan Konseling (B. Kepala sekolah mengambil inisiatif dalam melakukan perekrutan guru BK, dalam melaksanakan perekrutan sebelumnya kepala sekolah mengundang dewan guru beserta komite untuk melakukan rapat bersama dalam merencanakan perekrutan guru Bimbingan Konseling (BK) tersebut, berdasarkan hasil rapat bersama dalam perekrutan guru BK di lakukan penyebaran informasi melalui orang ke orang, perekrutan di batasi agar tidak banyak pendaftar, dan akhirnya MTsN 2 memiliki guru BK yang berstatus Honorer. Guru BK yang ada pada MTsN 2 sudah menjadi 2 orang. Gambar 1. Foto Kegiatan Rapat Perencanaan Perekrutan Guru BK . Pengadaan Ruang Bimbingan Konseling (BK) Setelah Perekrutan dilakukan maka di berikan ruang Khusus BK agar guru dan siswa lebih leluasa dalam penyelesaian masalah yang terjadi, pada MTsN 2 Simeulue Ruang yang ada sangat minim sekali hanya terdiri dari 11 Ruang kelas, 1 Kantor include dengan ruang Kepala sekolah dan ruang TU, 1 Lab komputer, 1 Pustaka mini, 1 Ruang UKS. Dengan minimnya ruang ada maka ruang BK di gabung dengan ruang UKS. Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. November 2025 | 193 Gambar 2. FOTO RUANG BK banyaknya siswa yang ada pada MTsN 2 Simeulue, sebelumnya Guru BK dan kepala sekolah juga sudah melakukan sosialisasi secara umum di lapangan setelah melakukan rutinitas pagi yaitu Asmaul Husna dan Hadits di halaman sekolah, akan tetapi sosialisasi ini dianggap tidak efektif, maka kepala sekolah mengambil tindakan agar sosialisasi di lakukan dengan cara class to class. Gambar 4. Foto Sosialisasi Class to Class . Kerjasama Antara Wali kelas Dan Guru Bk Beberapa tahun sebelumnya disaat ada siswa yang mengalami sikap malas belajar, sering menyendiri, wajah merenggut di dalam kelas, melawan guru, dan melakukan bullying kepada temannya maka guru dan kepala sekolah mengambil tindakan memarahi anak-anak tersebut tanpa melihat latar belakang permasalahan yang di hadapinya. Dengan adanya guru BK sejak tahun 2024 sampai saat ini kepala sekolah memberikan saran bahwa agar guru wali kelas melihat situasi belajar anak di dalam kelas, jika menemukan siswa dihadapi dengan sikap yang di jelaskan di atas maka agar memberikan ijin kepada siswa keluar dari ruang kelas untuk menghadap ke guru BK. sesampai diruang BK siswa di berikan kesempatan oleh guru untuk curhat atas perilakunya di dalam kelas dan ditanyakan tentang latar belakang siswa dan latar belakang permasalahannya, lalu guru BK menyampaikan kepada wali kelas dan kepada kepala sekolah atas perilakunya dan memberikan pemahaman atas masalah yang terjadi. Gambar 3. Foto Kegiatan Saling Curhat . Kerja Sama Antara Orang Tua Dan Guru Kepala sekolah melakukan Hubungan kerja sama yang sangat erat dengan orang tua siswa, setiap Tahun kepala sekolah mengundang Orang tua sebanyak 2 kali bahkan lebih dalam rangka pertemuan pengambilan lapor 2 Semester dan pertemuan yang dianggap perlu dan urgen dalam memajukan madrasah. Usaha ini membawa respon positif sehingga orang tua dan wali kelas serta guru bidang study saling Setiap menyampaikan kepada orang tua jika ada permasalahan siswa dengan sikap yang tidak mood saat pergi kesekolah, atau mungkin ada perubahan sikap yang dari selama ini ada perubahan saat di rumah maka orang tua di beri ruang curhat kepada guru wali kelas baik melalui via Whatshap maupun langsung bert6emu dengan wali kelas tersebut untuk menceritakan tentang perubahan perilaku Gambar 5. Foto Rapat Bersama Orang Tua dan Guru . Pelaksanaan Sosialisasi Bullying Melalui Class To Class Pada MTsN 2 Simeulue. Kegiatan sosialisasi anti Bullying dilakukan dengan metode Class to Class agar materi tentang bullying lebih efektif di terima oleh siswa, sosialisasi di lakukan karena Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 194 | JPI. Vol. No. November 2025 BENTUK-BENTUK BULLYING PADA MtsN 2 SIMEULUE Bullying merupakan fenomena yang sering di hadapi pada setiap sekolah baik sekolah umum maupun Madrasah bahkan termasuk juga pondok pesantren, hal ini tidak dapat di pungkiri karena perilaku ini bersumber dari rumah dan lingkungan bermain sehingga terbawa kedalam lingkungan sekolah. MTsN 2 Simeulue Adalah salah satu sekolah/Madrasah yang memiliki siswa terbanyak sekabupaten Simeulue pada tingkat SMP/MTs dengan jumlah siswa 387 Orang, dari banyaknya siswa yang ada, memilki bermacam ragam yang di hadapi dilingkungan Madrasah, dari banyaknya permasalahan tersebut diantaranya Adalah perilaku bullying. Ada beberapa macam perilaku bullying yang terjadi pada MTsN 2 Simeulue baik pada murid lakilaki maupun murid Perempuan, diantaranya adalah: Bullying Fisik. Bullying fisik sering terjadi pada siswa laki- laki maupun perempuan terkadang pertengkaran di awali dari candaan sehingga berakhir dengan adu jotos dan Perempuan saling menarik jilbab hingga tarik menarik rambut . Bullying Verbal. Perilaku bullying verbal merupakan perilaku yang hampir sering di lakukan siswa contohnya memanggil panggilan buruk kepada temannya, memanggil dengan nama orang tuanya, mengejek statusnya serta memberi ancaman karena kesal terhadap . Bullying Sosial. Pada MTsN 2 Simeulue perilaku bullying social banyak terjadi pada siswa baru kelas VII terutama siswa Perempuan, biasanya mereka membentuk kelompok -kelompok kecil yang terdiri dari 3 sampai 4 orang. Kelompok- kelompok tersebut melakukan pembulian kepada siswa yang dianggap lemah dan mengucilkan temannya yang suka usil dengan perilaku mereka. Cyber bullying, perilaku ini biasanya terjadi jika pertengkaran di sekolah tidak selesai, perebutan seseorang lawan jenis yang di sukai, setiap kelompok atau kelas membentuk group WhatsApp dan saling bertukar informasi melalui group-groupnya, . Bullying Seksual, bullying ini terjadi pada siswa dengan mengirim stiker-stiker dan video Perilaku ini hampir di lakukan baik laki-laki maupun Perempuan dari kelas VII sampai kelas IX, pada MTsN 2 Simeulue selama 2 Tahun terakhir perilaku bullying ini banyak tejadi pada siswa kelas VII. Bullying Finansial, ini kerap terjadi pada teman sebaya dan kakak kelas terhadap adik kelasnya, mengambil uang yang bukan miliknya. PENGARUH POLA ASUH TERHADAP BULLYING DI Mts Perilaku bullying pada MTsN 2 Simeulue Perencanaan Perekrutan Guru Bimbingan Konseling (B. Pengadaan Ruang Bimbingan Konseling (BK). Kerjasama Antara Wali kelas Dan Guru Bk. Pelaksanaan Sosialisasi Bullying Melalui Class To Class, serta Kerja Sama Antara Orang Tua Dan Guru. Dari Upaya tersebut di temukan hasil yang signifikan dalam meminimalisir perilaku bullying yang terjadi pada MTsN 2 Simeulue. Adapun hasilnya Adalah: Dari Upaya yang telah dilakukan melalui penanganan perekrutan guru BK maka MTsN 2 dengan jumlah siswa sebanyak 387 orang maka telah memenuhi syarat bahwa setiap guru BK wajib menangani siswa minimal 150 Orang, sedangkan guru BK yang ada sejumlah 3 orang, dua guru aktif dalam penanganan permasalahan siswa sedangkan satu guru di berikan tugas tambahan yang oleh kepala sekolah Pengadaan ruang BK sangat membantu dalam penyelesaian perilaku bullying, karena ruang yang terasing dari kantor membuat anak lebih leluasa menceritakan akar permasalahan penyebab terjadinya bullying maupun perilaku lainnya, meskipun ruang BK di gabung dengan ruang UKS dikarenakan terbatasnya ruang yang ada pada MTsN 2 Simeulue. Hubungan kerja sama antara wali kelas dan guru BK sangat membantu dalam pemecahan masalah bullying dan perilaku lainnya karena kesempatan anak bermain dalam lingkungan sekolah hanya 20 Menit berdasarkan ketentuan yang telah di tetapkan Bersama, berkat diberikannya kesempatan curhatan kepada siswa, maka di temukan bahwa anak-anak perilaku bullying mau perilaku lainnya. Adalah anak-anak yang berasal dari Korban Broken Home, anak yang di didik keras oleh orang tuanya anak-anak yatim piatu yang didik oleh walinya jauh dari kata kasih sayang, anak-anak yang sering di keraskan oleh orang tuanya. Dengan hasil curhatan siswa dewan guru dapat memahami hal yang terjadi pada siswa dan mendidik siswa penuh dengan kasih sayang, sehingga membuat anak betah berlama-lama di sekolah. Pelaksanaan sosialisasi Class to class dianggap paling efektif dalam penanganan bullying. Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. November 2025 | 195 kegiatan di lakukan pada saat jam pembelajaran berlangsung , kepala sekolah meminta ijin kepada dewan guru agar di berikan kesempatan untuk melaksanakan sosialisasi. Adapun materimateri dari sosialisasi tersebut Adalah menjelaskan tentang pengertian bullying, jenis, jenis Bullying, undang-undang tentang Bullying, , tempat pengaduan korban bullying serta ayat Al-quran dan Hadis tentang saling berkasih sayang antar sema Kerja sama orang tua dan guru merupakan hal yang paling baik dalam menangani perilaku peserta didik menuju sikap saling sayang antar sesama teman, dan proses dalam melaksanakan Orang tua dapat menanyakan kegiatan keseharian siswa kepada dewan guru dengan lebih kekeluargaan. Sehingga orang tau keseharian siswa pada saat di sekolah. Dari Upaya yang telah di lakukan dalam meminimalkan perilaku bullying melalui pola asuh diatas maka di temukan hasil yang signifikan atas berkurangnya perilaku bullying dari sebelum di laksanakan penanganan pola asuh dan sesudah di laksanakannya pola asuh di atas pada MTsN 2 Simeulue. Kesimpulan Bulying adalah perilaku seseorang atau kelompok kepada orang lain yang dianggap lemah dan biasanya di lakukan secara berulang, bulying bukan hanya kekerasan fisik akan tetapi berupa kata kotor, menyebut nama temannya dengan nama orang tua dan perilaku ini sering kali tidak di sadari oleh siswa karena menganggap sepele, tetapi orang yang di bullying tersebut sudah merasa sakit hati. Fenomena bullying ini sering terjadi pada siswa baik SD. SMP dan SMA, baik sekolah umum. Madrasah, bahkan Pesantren. Atas perilaku ini orang tua dan guru harus berperan aktif dalam memberikan pemahaman bahwa perilaku bullying bukanlah perilaku baik yang patut di contoh karena bisa berakibat fatal bagi pelaku maupun yang di bullying. Orang tua adalah pendidikan pertama dalam memberikan pendidikan anti bullying kepada anak, karena orang tua adalah guru pertama yang ditiru oleh anak, orang tua yang pendidikannya di rumah otoriter, penuh kekerasan maka biasanya akan menjadikan anak memperlakukan orang lain juga Tapi memperlakukan anak dengan penuh kasih sayang maka anak pun akan menyayangi teman-teman Guru dan kepala sekolah juga harus saling bersinergi dalam penyelesaian bullying di sekolah, berbagai upaya yang di lakukan diantaranya: perencanaan Perekrutan guru BK, pengangkatan guru BK, pengadaan ruang BK, memberikan peluang curhat bagi anak perilaku bullying, kegiatan Sosialisasi class to Class, dan kerja sama orang tua dan guru Dari upaya diatas maka hendaknya pada setiap sekolah atau madrasah dapat menjadikan sebagai referensi untuk mengurangi perilaku bullying sebagai mana yang di harapkan oleh orang tua dan guru serta masyarakat di sekitarnya Daftar Pustaka