POLINOMIAL Jurnal Pendidikan Matematika Volume 5 Issue 1 . , pp. Online: https://ejournal. org/index. php/jp e-ISSN: 2830-0378 Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Kelas X Ditinjau dari Self-Regulated Learning pada Model Creative Problem Solving Berbantuan Aplikasi Cymath Nurul Fajriyah Rizqi Aulia 1*. Virgania Sari 2 Universitas Negeri Semarang. Indonesia *Corresponding Author: nurulrizqi114@gmail. Submitted: 30 January 2026 | Revised: 21 February 2026 | Accepted: 25 February 2026 Abstrak Kemampuan pemecahan masalah matematis merupakan kemampuan penting dalam pembelajaran matematika, namun pada siswa kelas X SMK Negeri 3 Semarang kemampuan tersebut belum berkembang secara optimal. Salah satu faktor yang diduga berperan adalah Self-Regulated Learning. Selain itu, diperlukan penerapan model pembelajaran dan media yang tepat, salah satunya melalui model Creative Problem Solving berbantuan aplikasi Cymath. Penelitian ini bertujuan untuk: . mengetahui perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematis antara siswa yang mengikuti pembelajaran Creative Problem Solving berbantuan aplikasi Cymath dan pembelajaran langsung. mengetahui pengaruh Self-Regulated Learning terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa pada pembelajaran Creative Problem Solving berbantuan aplikasi Cymath. mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa ditinjau dari Self-Regulated Learning. Metode penelitian yang digunakan adalah mixed method dengan desain sequential Populasi penelitian adalah peserta didik kelas X SMK Negeri 3 Semarang tahun ajaran 2025/2026 dengan pemilihan subjek menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data meliputi uji kevalidan perangkat dan instrumen penelitian, analisis data kuantitatif berupa uji normalitas, homogenitas, perbedaan dua rata-rata, dan uji regresi linear sederhana, serta analisis data kualitatif yang mencakup keabsahan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematis antara siswa yang mengikuti pembelajaran Creative Problem Solving berbantuan aplikasi Cymath dan siswa yang mengikuti pembelajaran langsung. Selain itu. Self-Regulated Learning berpengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Siswa dengan Self-Regulated Learning tinggi mampu memenuhi seluruh indikator pemecahan masalah, siswa dengan Self-Regulated Learning sedang belum mampu memeriksa kembali hasil, sedangkan siswa dengan Self-Regulated Learning rendah belum mampu merencanakan, melaksanakan, dan memeriksa kembali penyelesaian masalah. Kata Kunci: Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis. Creative Problem Solving. Cymath. SelfRegulated Learning Abstract Mathematical problem-solving skills are important in mathematics learning, but these skills have not been optimally developed in 10th grade students at SMK Negeri 3 Semarang. One factor that is thought to play a role is Self-Regulated Learning. In addition, the application of appropriate learning models and media is needed, one of which is through the Creative Problem Solving model assisted by the Cymath This study aims to: . determine the difference in mathematical problem-solving skills between students who participate in Creative Problem Solving learning assisted by the Cymath application and direct learning. to determine the effect of Self-Regulated Learning on students' mathematical problem-solving skills in Creative Problem Solving learning assisted by the Cymath and . to describe students' mathematical problem-solving skills in terms of Self-Regulated Learning. The research method used is a mixed method with a sequential explanatory design. The research population consisted of 10th grade students at SMK Negeri 3 Semarang in the 2025/2026 This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright A 2026 by Author | 445 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 445-456, Nurul Fajriyah Rizqi Aulia. Virgania Sari academic year, with subjects selected using purposive sampling techniques. Data analysis included testing the validity of research tools and instruments, quantitative data analysis in the form of normality tests, homogeneity tests, two-mean difference tests, and simple linear regression tests, as well as qualitative data analysis covering data validity, data reduction, data presentation, and conclusion The results showed that there was a difference in mathematical problem-solving abilities between students who participated in Creative Problem Solving learning assisted by the Cymath application and students who participated in direct learning. In addition. Self-Regulated Learning had an effect on students' mathematical problem-solving abilities. Students with high Self-Regulated Learning were able to meet all problem-solving indicators, students with moderate Self-Regulated Learning were not yet able to recheck the results, while students with low Self-Regulated Learning were not yet able to plan, implement, and recheck problem solving. Keywords: Mathematical Problem Solving Skills. Creative Problem Solving. Cymath. Self-Regulated Learning PENDAHULUAN Pendidikan bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar memiliki kemampuan berpikir dan bertindak secara bertanggung jawab. Dalam pendidikan formal, matematika berperan penting dalam melatih kemampuan berpikir logis, analitis, dan sistematis. Salah satu kemampuan utama yang menjadi tujuan pembelajaran matematika adalah kemampuan pemecahan masalah matematis. NCTM . dalam Tanjung . menegaskan bahwa kemampuan pemecahan masalah merupakan salah satu dari lima kompetensi utama dalam pembelajaran matematika, bersama dengan komunikasi, koneksi, penalaran, dan Dengan demikian, kemampuan pemecahan masalah tidak hanya menjadi tujuan akhir, tetapi juga bagian penting dalam proses pembelajaran matematika. Kemampuan pemecahan masalah matematis merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki siswa karena menjadi inti dari pembelajaran matematika. Kemampuan ini penting karena membantu siswa memahami konsep secara mendalam serta menerapkan pengetahuan pada berbagai situasi baru dan kontekstual. Branca . dalam Reski et al. 2019 menyatakan bahwa pemecahan masalah merupakan tujuan umum pengajaran matematika, proses utama dalam kurikulum matematika, serta kemampuan dasar dalam belajar matematika. Sejalan dengan hal tersebut, kemampuan pemecahan masalah mencakup kemampuan memahami masalah, menyusun rencana penyelesaian, melaksanakan rencana, dan memeriksa kembali hasil penyelesaian. Melalui kemampuan ini, siswa diharapkan mampu berpikir sistematis dan bernalar dalam menyelesaikan berbagai permasalahan matematika. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematis siswa masih belum berkembang secara optimal. Kondisi ini juga ditemukan pada siswa kelas X SMK Negeri 3 Semarang. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru matematika, siswa mengalami kesulitan dalam memahami maksud soal, khususnya soal berbentuk cerita yang menuntut penalaran. Siswa belum terbiasa mengidentifikasi informasi yang diketahui dan ditanyakan, serta cenderung langsung menggunakan rumus tanpa menyusun langkah penyelesaian secara sistematis. Akibatnya, siswa sering melakukan kesalahan prosedural dan konseptual, serta jarang memeriksa kembali hasil penyelesaian yang diperoleh. Kondisi tersebut sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematis siswa SMK masih berada pada kategori rendah hingga sedang. Penelitian Anggriyani dan Zulkarnaen . menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas X SMK masih tergolong sedang. Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 446 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 445-456, Nurul Fajriyah Rizqi Aulia. Virgania Sari ditandai dengan kesalahan dalam memahami masalah dan menyusun strategi penyelesaian. Temuan serupa juga diungkapkan oleh Putri dan Musdi . serta Sari et al. yang menyatakan bahwa siswa sering mengalami kesalahan konseptual dan prosedural dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah matematis. Permasalahan tersebut menunjukkan perlunya penerapan pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat aktif dalam proses berpikir dan membiasakan siswa menyelesaikan masalah secara sistematis. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan adalah Creative Problem Solving (CPS). Model CPS mengarahkan siswa melalui tahapan memahami masalah, merancang strategi penyelesaian, melaksanakan solusi, dan mengevaluasi hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model CPS mampu membantu siswa mencapai kemampuan pemecahan masalah matematis yang lebih baik dibandingkan pembelajaran langsung (Nainggolan et al. , 2023. Jannah et al. , 2. Tahapan dalam CPS juga sejalan dengan indikator kemampuan pemecahan masalah matematis. Selain model pembelajaran, penggunaan media pembelajaran berbasis teknologi diperlukan untuk mendukung proses pemecahan masalah matematis. Salah satu media yang dapat dimanfaatkan adalah aplikasi Cymath, yaitu aplikasi pembelajaran matematika yang mampu menyajikan langkah-langkah penyelesaian soal secara sistematis. Aplikasi ini dapat membantu siswa memahami prosedur penyelesaian, memverifikasi strategi yang digunakan, serta memeriksa kembali jawaban secara mandiri. Penelitian Luthfia dan Hashina . menunjukkan bahwa penggunaan aplikasi Cymath mampu membantu siswa dalam mengevaluasi proses penyelesaian masalah matematika secara lebih terarah. Di samping model dan media pembelajaran, kemampuan pemecahan masalah matematis juga berkaitan dengan aspek afektif siswa, salah satunya Self-Regulated Learning. Self-Regulated Learning merupakan kemampuan siswa dalam mengatur, memantau, dan mengevaluasi proses belajarnya secara mandiri (Pintrich, 1990. Woolfolk, 2. Siswa dengan Self-Regulated Learning yang baik cenderung memiliki kemampuan pemecahan masalah matematis yang lebih baik karena mampu merencanakan dan mengontrol langkah penyelesaian masalah secara sistematis. Hal ini sejalan dengan temuan Istiqomah. Waluya, dan Isnarto . yang menunjukkan adanya keterkaitan antara Self-Regulated Learning dan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Berdasarkan uraian tersebut, perlu dilakukan penelitian mengenai kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas X ditinjau dari Self-Regulated Learning pada pembelajaran dengan model Creative Problem Solving berbantuan aplikasi Cymath. Tujuan Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa, pengaruh Self-Regulated Learning, serta karakteristik kemampuan pemecahan masalah matematis siswa berdasarkan kategori Self-Regulated Learning. METODE Penelitian ini menggunakan metode campuran . ixed metho. dengan desain explanatory sequential, yaitu pengumpulan dan analisis data kuantitatif yang dilanjutkan dengan pengumpulan dan analisis data kualitatif. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk mengetahui perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematis antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model Creative Problem Solving berbantuan aplikasi Cymath Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 447 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 445-456, Nurul Fajriyah Rizqi Aulia. Virgania Sari dan siswa yang mengikuti pembelajaran langsung, serta untuk mengetahui pengaruh SelfRegulated Learning terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Pendekatan kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa ditinjau dari Self-Regulated Learning pada pembelajaran Creative Problem Solving berbantuan aplikasi Cymath. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan quasi experimental design berbentuk pretestAeposttest control group design. Subjek penelitian terdiri atas kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas eksperimen diberikan pembelajaran dengan model Creative Problem Solving berbantuan aplikasi Cymath, sedangkan kelas kontrol diberikan pembelajaran langsung. Kedua kelas diberikan pretest sebelum perlakuan dan posttest setelah perlakuan untuk mengukur kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Sampel penelitian dipilih menggunakan teknik cluster random sampling, dengan kelas X Teknik Elektro 2 sebagai kelas eksperimen dan kelas X Teknik Elektro 1 sebagai kelas kontrol. Subjek penelitian kualitatif dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan tingkat Self-Regulated Learning siswa pada kategori tinggi, sedang, dan rendah. Prosedur penelitian meliputi tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap akhir. Tahap persiapan meliputi observasi awal, penyusunan perangkat pembelajaran dan instrumen penelitian, serta uji coba instrumen. Tahap pelaksanaan diawali dengan pemberian pretest, dilanjutkan dengan pelaksanaan pembelajaran sesuai perlakuan masing-masing kelas, dan diakhiri dengan pemberian posttest serta angket Self-Regulated Learning. Tahap akhir meliputi pengumpulan data, analisis data, dan penarikan kesimpulan. Data penelitian berupa data kuantitatif dan kualitatif yang diperoleh melalui tes, angket, dan wawancara. Tes berbentuk soal uraian pada materi Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel, angket menggunakan skala Likert empat pilihan, dan wawancara dilakukan secara semi terstruktur. Analisis data kuantitatif diawali dengan analisis data awal yang meliputi uji normalitas, uji homogenitas, dan uji kesamaan rata-rata untuk memastikan bahwa kemampuan awal kedua kelas berada pada kondisi yang setara. Analisis data akhir meliputi uji normalitas dan uji homogenitas sebagai prasyarat pengujian hipotesis. Pengujian hipotesis pertama dilakukan untuk mengetahui ketuntasan rata-rata kemampuan pemecahan masalah matematis siswa menggunakan uji satu pihak dengan batas ketuntasan minimum (BTA). Pengujian hipotesis kedua dilakukan untuk mengetahui ketuntasan klasikal kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Pengujian hipotesis ketiga dilakukan untuk mengetahui perbedaan rata-rata kemampuan pemecahan masalah matematis antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pengujian hipotesis keempat dilakukan menggunakan analisis regresi linear sederhana untuk mengetahui pengaruh Self-Regulated Learning terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Data kualitatif dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa berdasarkan tingkat Self-Regulated Learning, kemudian hasil analisis kuantitatif dan kualitatif diintegrasikan untuk memperoleh kesimpulan penelitian Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 448 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 445-456, Nurul Fajriyah Rizqi Aulia. Virgania Sari HASIL PENELITIAN Perbedaan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Pembahasan pada subbab ini penelitian ini didasarkan pada hasil analisis data tes kemampuan pemecahan masalah matematis siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Data tes tersebut diperoleh pada tahap awal dan akhir pembelajaran, kemudian diananlisis untuk mengetahui perbedaan keamampuan pemecahana masalah matematis antara kedua Uraian hasil analisis data disajikan sebagai berikut. Anlisis Data Awal Tabel 1. Uji Normalitas Data Awal Kolmogorov-Smirnova Kelompok Pretest Eksperimen Kontrol Sig. This is a lower bound of the true significance. Lilliefors Significance Correction Berdasarkan hasil uji KolmogorovAeSmirnov pada kelas eksperimen diperoleh nilai ycycnyci = 0,096 > 0,05 dan kelas control diperoleh nilai ycycnyci = 0,200>0,05 sehingga data kemampuan pemecahan masalah matematis awal . pada kelas eksperimen dan kelas kontrol memiliki nilai signifikansi lebih dari 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa data pretest pada kedua kelas berdistribusi normal. Tabel 2. Uji Homogenitas Data Awal Pretest Based on Mean Based on Median Based on Median and with adjusted df Based on trimmed mean Levene Statistic Sig. Berdasarkan hasil uji homogenitas, diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,162 > 0,05, sehingga data kemampuan pemecahan masalah matematis awal . pada kelas eksperimen dan kelas kontrol memiliki varians yang homogen. Tabel 3. Uji Independent Samples Test t-test for Equality of Means Posttest Equal variances Equal variances not Sig. -taile. Mean Difference Std. Error Difference Hasil uji kesamaan rata-rata menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,604 > 0,05, sehingga rata-rata kemampuan pemecahan masalah matematis awal . pada kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah sama. Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 449 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 445-456, Nurul Fajriyah Rizqi Aulia. Virgania Sari Analisis Data Akhir Tabel 4. Uji Normalitas Kelompok Posttest Kolmogorov-Smirnov Eksperimen Kontrol Sig. This is a lower bound of the true significance. Lilliefors Significance Correction Berdasarkan hasil uji KolmogorovAeSmirnov pada kelas eksperimen diperoleh nilai ycycnyci = 0,200 > 0,05 dan kelas control diperoleh nilai ycycnyci = 0,200>0,05 sehingga data kemampuan pemecahan masalah matematis awal . pada kelas eksperimen dan kelas kontrol memiliki nilai signifikansi lebih dari 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa data pretest pada kedua kelas berdistribusi normal Tabel 5. Uji Homogenitas Posttest Levene Statistic Based on Mean Based on Median Based on Median and with adjusted df Based on trimmed mean Sig. Berdasarkan hasil uji homogenitas, diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,741 > 0,05, sehingga data kemampuan pemecahan masalah matematis awal . pada kelas eksperimen dan kelas kontrol memiliki varians yang homogen Tabel 6. Uji Independent Sample T-Test t-test for Equality of Means Posttest Equal Equal variances not Sig. -taile. Mean Difference Std. Error Difference Hasil uji perbedaan rata-rata menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,015 < 0,05, sehingga terdapat perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematis antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Analisis data akhir menunjukkan adanya perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematis antara siswa yang mengikuti pembelajaran Creative Problem Solving berbantuan aplikasi Cymath dan siswa yang mengikuti pembelajaran langsung. Siswa pada kelas eksperimen menunjukkan kemampuan yang lebih baik dalam memahami masalah, menyusun langkah penyelesaian, melaksanakan penyelesaian secara sistematis, serta memeriksa kembali hasil yang diperoleh dibandingkan siswa pada kelas kontrol. Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 450 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 445-456, Nurul Fajriyah Rizqi Aulia. Virgania Sari Pengaruh Self-Regulated Learning terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Uji regresi linear sederhana digunakan untuk mengetahui pengaruh Self-Regulated Learning terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa pada pembelajaran Creative Problem Solving berbantuan Cymath. Analisis ini dilakukan karena data posttest kelas eksperimen berdistribusi normal dan homogen. Tabel 7. Uji Kelinearan ANOVAa Model Regression Residual Total Sum Squares Mean Square Sig. Dependent Variable: Posttest_Eksperimen Predictors: (Constan. Self_Regulated_Learning Hasil uji regresi menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05, sehingga terdapat pengaruh Self-Regulated Learning terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa pada pembelajaran Creative Problem Solving berbantuan Cymath. Tabel 8. Uji Keberartian Koefisien Regresi Coefficientsa Modal (Constan. Self_Regulated_Learning Unstandardized Coefficients Std. Error Standardized Coefficients Beta Sig. Hasil analisis regresi menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05, sehingga koefisien regresi dinyatakan signifikan. Persamaan regresi yang diperoleh adalah = 40,647 0,454ycU, yang menunjukkan bahwa Self-Regulated Learning berpengaruh positif terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Tabel 9. Output UjiKoefisien Determinasi Model Summary Model R Square Adjusted Square Std. Error of the Estimate Predictors: (Constan. Self_Regulated_Learning berdasarkan hasil di atas, diperoleh nilai ycI ycIycycycaycyce sebesar 0,505 = 50,5%. Artinya bahwa 50,5% bahwa variabel kemampuan pemecahan masalah matematika peserta didik kelas eksperimen . dapat dipengaruhi oleh variabel Self-Regulated Learning . sebesar 50,5%, dan sisanya 49,5% dipengaruhi oleh variabel lain di luar variabel yang digunakan. Dengan demikian, pengaruh Self-Regulated Learning terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa termasuk kategori sedang. Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 451 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 445-456, Nurul Fajriyah Rizqi Aulia. Virgania Sari Deskripsi Kemampuan Pemecahan Masalah Ditinjau dari Self-Regulated Learning Deskripsi kemampuan pemecahan masalah matematis ditinjau dari Self-Regulated Learning diperoleh melalui analisis hasil tes kemampuan pemecahan masalah matematis, angket Self-Regulated Learning, serta didukung oleh data wawancara. Pengelompokan SelfRegulated Learning dilakukan menggunakan angket yang terdiri atas 30 butir pernyataan dengan empat pilihan respons yaitu Sangat sesuai (SS). Sesuai (S). Tidak Sesuai (TS). Sangat Tidak Sesuai (STS). Pemberian angket bertujuan untuk mengelompokkan peserta didik berdasarkan tingkat Self-Regulated Learning rendah, sedang, atau tinggi. Hasil pengelompokkan peserta didik berdasarkan Self-Regulated Learning disajikan berikut. Tabel 10. Hasil Pengelompokkan Peserta Didik Berdasarkan Self-Regulated Learning Kategori Self-Regulated Learning Tinggi Sedang Rendah Jumlah Banyak Siswa Presentase Hasil pengelompokan menunjukkan bahwa sebagian besar peserta didik berada pada kategori Self-Regulated Learning sedang, sementara sebagian kecil berada pada kategori tinggi dan rendah. Pengelompokan ini digunakan sebagai dasar pemilihan subjek wawancara, yang melibatkan masing-masing satu peserta didik dari kategori Self-Regulated Learning tinggi, sedang, dan rendah untuk memperoleh gambaran mendalam mengenai kemampuan pemecahan masalah matematis. Setelah dilakukan keabsahan data, reduksi data, dan penyajian data kualitatif, maka selanjutnya dilakukan penarikan kesimpulan kemampuan pemecahan masalah matematika peserta didik ditinjau dari Self-Regulated Learning tinggi, sedang, dan rendah. Berikut merupakan deskripsi kemampuan pemecahan masalah matematika peserta didik ditinjau dari Self-Regulated Learning. Peserta didik dengan Self-Regulated Learning tinggi mampu menuliskan informasi yang diketahui dan permasalahan yang ditanyakan pada soal dengan benar, tepat, dan Peserta didik dengan Self-Regulated Learning tinggi juga mampu menyusun rencana penyelesaian dengan benar sesuai permasalahan serta mampu menyelesaikan proses perhitungan dengan runtut sehingga diperoleh hasil penyelesaian yang tepat. Peserta didik dengan Self-Regulated Learning tinggi mampu menuliskan kesimpulan atas jawaban yang diperolehnya dan melakukan proses pengecekan ulang atas jawaban yang diperolehnya. Peserta didik dengan Self-Regulated Learning sedang mampu menuliskan informasi yang diketahui dan permasalahan yang ditanyakan pada soal dengan benar dan tepat. Peserta didik dengan Self-Regulated Learning sedang juga mampu menyusun rencana penyelesaian masalah dengan benar dan cenderung mampu menyelesaikan rencana yang telah disusun. Peserta didik dengan Self-Regulated Learning juga tidak memeriksa kembali hasil yang diperolehnya. Peserta didik dengan Self-Regulated Learning rendah cenderung mampu menuliskan informasi yang diketahui dan masalah yang ditanyakan pada soal. Peserta didik dengan SelfRegulated Learning rendah tidak mampu menyusun rencana atau strategi penyelesaian Peserta didik dengan Self-Regulated Learning rendah tidak mampu melaksanakan rencana penyelesaian yang telah disusun dan tidak mampu memeriksa kembali hasil Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 452 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 445-456, Nurul Fajriyah Rizqi Aulia. Virgania Sari PEMBAHASAN Perbedaan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Hasil analisis data menunjukkan adanya perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematis antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model Creative Problem Solving (CPS) berbantuan aplikasi Cymath dan siswa yang mengikuti pembelajaran langsung. Berdasarkan hasil uji independent sample t-test pada data posttest, kemampuan pemecahan masalah matematis siswa pada kelas eksperimen lebih baik dibandingkan dengan kelas Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan model CPS berbantuan Cymath memberikan hasil yang berbeda dan lebih efektif dalam mengembangkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa (Jannah et al. , 2024. Nainggolan et al. , 2. Perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematis tersebut tampak dari proses penyelesaian soal yang dilakukan siswa. Siswa pada kelas eksperimen mampu mengidentifikasi informasi yang diketahui dan ditanyakan, menyusun langkah penyelesaian secara sistematis, melaksanakan perhitungan sesuai rencana, serta melakukan pengecekan ulang terhadap hasil jawaban. Sebaliknya, siswa pada kelas kontrol cenderung langsung melakukan perhitungan tanpa menuliskan informasi awal secara lengkap, tidak menyusun rencana penyelesaian secara runtut, dan jarang memeriksa kembali hasil yang diperoleh. Kondisi ini menunjukkan bahwa proses berpikir siswa pada kelas eksperimen lebih terstruktur dibandingkan siswa pada kelas kontrol. Perbedaan tersebut terjadi karena pada pembelajaran Creative Problem Solving siswa dilibatkan secara aktif sejak tahap awal pembelajaran. Siswa diarahkan untuk memahami permasalahan, mendiskusikan berbagai alternatif penyelesaian, menentukan strategi yang sesuai, serta mengevaluasi hasil penyelesaian yang diperoleh. Proses pembelajaran ini melatih siswa untuk berpikir sistematis dan mandiri dalam menyelesaikan permasalahan Hal ini sejalan dengan pendapat Branca . dalam Reski et al. yang menyatakan bahwa pemecahan masalah merupakan inti dari pembelajaran matematika dan harus dilatihkan melalui proses yang terstruktur. Sebaliknya, pembelajaran langsung lebih menempatkan siswa sebagai penerima informasi sehingga kesempatan siswa untuk mengembangkan strategi pemecahan masalah secara mandiri menjadi terbatas. Selain model pembelajaran, penggunaan aplikasi Cymath turut berperan dalam mendukung kemampuan pemecahan masalah matematis siswa pada kelas eksperimen. Aplikasi Cymath membantu siswa dalam memeriksa langkah-langkah penyelesaian yang telah dilakukan, sehingga siswa dapat mengetahui kesalahan dan memperbaiki strategi penyelesaian yang kurang tepat. Dengan demikian, siswa tidak hanya berfokus pada jawaban akhir, tetapi juga memahami proses penyelesaian masalah secara menyeluruh (Pratidiana & Junaedi, 2022. Luthfia & Hashina, 2. Kondisi ini membuat siswa lebih terbiasa menghadapi soal non-rutin dan lebih percaya diri dalam menyelesaikan permasalahan Hasil penelitian ini sejalan dengan tahapan pemecahan masalah menurut polya, yang meliputi memahami masalah, merencanakan penyelesaian, melaksanakan penyelesaian, dan memeriksa kembali hasil. Pembelajaran CPS berbantuan Cymath mampu memfasilitasi keempat tahapan tersebut secara lebih optimal dibandingkan pembelajaran langsung. Temuan ini juga didukung oleh penelitian Ariana. Widada, dan Herawaty . yang menyatakan bahwa pembelajaran yang mendorong keterlibatan aktif siswa dapat membantu mengembangkan kemampuan pemecahan masalah matematis. Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 453 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 445-456, Nurul Fajriyah Rizqi Aulia. Virgania Sari Pengaruh Self-Regulated Learning terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Hasil uji regresi linear sederhana menunjukkan bahwa Self-Regulated Learning berpengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang mengikuti pembelajaran Creative Problem Solving berbantuan aplikasi Cymath. Pengaruh ini ditunjukkan oleh nilai signifikansi yang lebih kecil dari 0,05 serta koefisien regresi bernilai positif, sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin baik Self-Regulated Learning siswa, semakin baik pula kemampuan pemecahan masalah matematis yang dimilikinya. Persamaan regresi yang diperoleh, yaitu = 40,647 0,454ycU, menunjukkan bahwa setiap peningkatan SelfRegulated Learning diikuti oleh peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis Pengaruh Self-Regulated Learning tersebut terjadi karena pembelajaran Creative Problem Solving menuntut siswa untuk terlibat aktif dalam setiap tahapan pemecahan masalah, mulai dari memahami masalah, merencanakan penyelesaian, melaksanakan penyelesaian, hingga mengevaluasi hasil. Siswa dengan Self-Regulated Learning yang baik mampu mengatur kesiapan belajar, memantau langkah penyelesaian yang dilakukan, serta mengevaluasi hasil secara mandiri. Selain itu, siswa juga lebih mampu memanfaatkan aplikasi Cymath sebagai alat bantu untuk memeriksa langkah penyelesaian, mengidentifikasi kesalahan, dan memperbaiki strategi yang kurang tepat. Kondisi ini membuat proses pemecahan masalah menjadi lebih terarah dan sistematis. esarnya pengaruh Self-Regulated Learning terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis juga ditunjukkan oleh nilai koefisien determinasi sebesar 0,505, yang berarti bahwa Self-Regulated Learning memberikan kontribusi sebesar 50,5% terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Secara empiris, siswa dengan Self-Regulated Learning tinggi menunjukkan kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik dibandingkan siswa dengan Self-Regulated Learning sedang dan rendah. Siswa pada kategori tinggi lebih konsisten mengikuti tahapan Creative Problem Solving, lebih mandiri dalam menyelesaikan soal, serta lebih optimal memanfaatkan aplikasi Cymath, sedangkan siswa dengan SelfRegulated Learning rendah masih mengalami kesulitan dalam mengelola proses penyelesaian masalah dan memerlukan bimbingan lebih intensif. Hal ini menunjukkan bahwa Self-Regulated Learning merupakan faktor penting yang mendukung keberhasilan pembelajaran Creative Problem Solving berbantuan Cymath dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah Deskripsi Kemampuan Pemecahan Masalah Ditinjau dari Self-Regulated Learning Kemampuan pemecahan masalah matematika dalam penelitian ini dideskripsikan berdasarkan tiga tingkat Self-Regulated Learning, yaitu tinggi, sedang, dan rendah, dengan mengacu pada tahapan pemecahan masalah menurut Polya, yaitu memahami masalah, merencanakan penyelesaian, melaksanakan penyelesaian, dan memeriksa kembali hasil. Hasil analisis kualitatif menunjukkan bahwa peserta didik dengan Self-Regulated Learning tinggi mampu memenuhi seluruh tahapan pemecahan masalah dengan baik. Peserta didik mampu memahami masalah secara lengkap, menyusun rencana penyelesaian yang tepat, melaksanakan penyelesaian sesuai rencana, serta memeriksa kembali hasil yang Temuan ini sejalan dengan penelitian Pattisina dan Sopiany . yang menyatakan bahwa siswa dengan Self-Regulated Learning tinggi mampu memenuhi seluruh tahapan pemecahan masalah matematis. Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 454 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 445-456, Nurul Fajriyah Rizqi Aulia. Virgania Sari Peserta didik dengan Self-Regulated Learning sedang mampu memahami masalah dan menyusun rencana penyelesaian dengan benar. Peserta didik juga mampu melaksanakan penyelesaian sesuai rencana, namun masih mengalami kesulitan pada tahap perhitungan sehingga hasil yang diperoleh belum tepat. Selain itu, peserta didik dengan Self-Regulated Learning sedang tidak melakukan pemeriksaan kembali terhadap hasil penyelesaian yang Peserta didik dengan Self-Regulated Learning rendah memiliki kemampuan pemecahan masalah yang lebih rendah dibandingkan peserta didik pada kelompok Self-Regulated Learning tinggi dan sedang. Peserta didik mampu memahami masalah, tetapi tidak mampu menyusun rencana penyelesaian, melaksanakan penyelesaian sesuai rencana, serta memeriksa kembali hasil. Temuan ini sejalan dengan penelitian Pattisina dan Sopiany . yang menyatakan bahwa peserta didik dengan Self-Regulated Learning rendah mengalami kesulitan dalam memenuhi tahapan pemecahan masalah matematis secara lengkap. Secara keseluruhan, hasil analisis menunjukkan bahwa Self-Regulated Learning berpengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika. Peserta didik dengan Self-Regulated Learning tinggi memiliki kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik dibandingkan peserta didik dengan Self-Regulated Learning sedang dan rendah, sedangkan peserta didik dengan Self-Regulated Learning sedang memiliki kemampuan yang lebih baik dibandingkan peserta didik dengan Self-Regulated Learning rendah. SIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematis antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model Creative Problem Solving berbantuan aplikasi Cymath dan siswa yang mengikuti pembelajaran langsung, di mana siswa pada kelas eksperimen memiliki kemampuan pemecahan masalah matematis yang lebih baik. Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan bahwa Self-Regulated Learning berpengaruh positif terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa pada pembelajaran Creative Problem Solving berbantuan Cymath, dengan persamaan regresi = yeya, yiyeyi ya, yeyeyeyc dan kontribusi pengaruh sebesar 50,5%. Secara kualitatif, siswa dengan Self-Regulated Learning tinggi mampu memenuhi seluruh tahapan pemecahan masalah, siswa dengan Self-Regulated Learning sedang mampu memahami masalah dan merencanakan penyelesaian tetapi tidak melakukan pemeriksaan kembali hasil, sedangkan siswa dengan Self-Regulated Learning rendah hanya mampu memahami masalah dan belum mampu melaksanakan penyelesaian secara sistematis. Berdasarkan temuan tersebut, pembelajaran Creative Problem Solving berbantuan Cymath dapat digunakan sebagai alternatif pembelajaran matematika, serta guru disarankan memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan Self-Regulated Learning agar kemampuan pemecahan masalah matematis dapat berkembang secara optimal. DAFTAR PUSTAKA