e-ISSN 2962-3480 ANDREW LAW JOURNAL VOLUME 4 NOMOR 1 - JUNI 2025 Published by ANDREW LAW CENTER ANDREW LAW JOURNAL Volume 4 Nomor 1 - Juni 2025 e-ISSN 2962-3480 PELESTARIAN KAIN TENUN KAMPUNG BANDAR DALAM PERSPEKTIF HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL DAN BUDAYA IQBAL ADHIAKSA SUSANTO. GLADIS PATRISIA EUGENIA BR SEMBIRING. TENGKU ARIF HIDAYAT. NURAHIM RASUDIN Universitas Riau adhiaksa2270@student. ABSTRACT This study aims to explore the impact of modernization on the weaving tradition in Kampung Bandar. Pekanbaru, and its effects on the perception and interest of the younger generation towards woven fabric A qualitative method was employed, collecting data through in-depth interviews and documentation at the Kampung Bandar Weaving House and a woven fabric boutique. The findings reveal that modernization poses challenges such as declining youth interest and a shift from traditional handloom tools to automated machines, which diminishes the artistic and authentic value of woven However, modernization also creates opportunities for innovation through collaboration between artisans and designers, as well as digital marketing to expand market reach. Preservation efforts include developing craft centers, cultural promotion, and leveraging cultural tourism potential. Government policies and local regulations play a crucial role in sustaining the weaving culture. This study recommends integrating cultural preservation with modern innovation to keep woven fabrics relevant and maintain a strong cultural identity for the Kampung Bandar community. Keywords: Woven Fabric. Culture. Intellectual Property Rights ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengaruh modernisasi dan penguatan brandings melalui haki terhadap tradisi kain tenun di Kampung Bandar. Pekanbaru, serta dampaknya pada persepsi dan minat generasi muda terhadap budaya tenun. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan dokumentasi di Rumah Tenun Kampung Bandar serta butik penjualan kain tenun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modernisasi membawa tantangan berupa penurunan minat generasi muda dan perubahan proses produksi dari alat tenun tradisional ke mesin otomatis yang mengurangi nilai seni dan keaslian kain tenun. Namun, modernisasi juga membuka peluang inovasi melalui kolaborasi antara pengrajin dan desainer, serta pemasaran digital yang memperluas jangkauan pasar. Upaya pelestarian dilakukan melalui pengembangan pusat kerajinan, promosi budaya, dan pemanfaatan potensi wisata budaya. Dukungan kebijakan pemerintah dan peraturan daerah menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan budaya tenun. Penelitian ini memberikan Published by ANDREW LAW CENTER http://journal. id/index. php/ALJ ANDREW LAW JOURNAL Volume 4 Nomor 1 - Juni 2025 e-ISSN 2962-3480 rekomendasi untuk mengintegrasikan pelestarian budaya dengan inovasi modern agar kain tenun tetap relevan dan menjadi identitas budaya yang kuat bagi masyarakat Kampung Bandar. Kata kunci: Kain Tenun. Kebudayaan. Hak Kekayaan Intelektual peradaban dunia dengan menjamin PENDAHULUAN Kain songket merupakan salah satu produk unggulan khas Kota Pekanbaru memelihara dan mengembangkan yang mendapat perhatian khusus dari nilai-nilai budayanya. Ay Peraturan Daerah Kota Undang-Undang Nomor 5 Tahun Pekanbaru Nomor 1 Tahun 2011 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang memberikan landasan hukum yang lebih Daerah konkret dalam upaya pelestarian dan pelestarian dan pengembangan budaya pengembangan budaya, termasuk tradisi lokal, terutama warisan budaya Melayu Regulasi (Lestari, 2. UMKM yang bergerak di bidang produksi kain songket berbasis menjaga budaya lokal serta memberikan kerajinan tenun di Kota Pekanbaru salah pengakuan terhadap hak-hak komunitas satunya adalah Rumah Tenun Kampung adat dan para pengrajin kain tenun. Para Bandar yang tampil dengan karakteristik pengrajin kain tenun di Kampung Bandar khas Melayu yang dimilikinya. Rumah berharap dapat memperoleh akses yang Tenun Kampung Bandar tidak hanya lebih luas hingga ke tingkat nasional. Pemajuan Kebudayaan sekadar pusat produksi kain songket Perlindungan Hak atas Kekayaan berbasis kerajinan tenun saja, tetapi juga Intelektual dalam Konvensi UNESCO bangunannya merupakan arsitektur khas pengakuan terhadap hak komunal atas Melayu dan juga punya nilai historis di Warisan Budaya Tak Benda. Oleh karena Kota Pekanbaru. Kain Tenun Kampung Bandar perlu Pasal 32 Ayat . Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan bahwa: dilestarikan sebagai salah satu warisan Menurut Cullet, warisan budaya AuNegara memajukan kebudayaan generasi, serta terus berkembang seiring Indonesia Published by ANDREW LAW CENTER http://journal. id/index. php/ALJ ANDREW LAW JOURNAL Volume 4 Nomor 1 - Juni 2025 e-ISSN 2962-3480 dengan perubahan sosial dan lingkungan. Hal ini membentuk identitas kolektif Teknik analisa data yang digunakan dalam penghargaan terhadap keragaman budaya penelitian ini adalah analisa kualitatif. dan kreativitas umat manusia (Putri. HASIL DAN PEMBAHASAN Dari latar belakang masalah yang Hasil diskusi menunjukkan bahwa modernisasi memberikan peluang dan Kampung Bandar. Pekanbaru dalam melestarikan kain tenun pelestarian Kain Tenun Kampung Bandar sebagai warisan budaya. Di sisi lain, modernisasi memberikan akses terhadap Hak Kekayaan Intelektual dan budaya? teknologi yang lebih maju, jaringan pasar yang lebih besar, dan potensi inovasi dalam desain dan fungsionalitas produk. METODE PENELITIAN Penelitian Namun sebaliknya, permintaan terhadap kegiatan ilmiah menggunakan metode, produk tenun generasi muda menurun karena dianggap kuno dan tidak sesuai dengan tujuan untuk menganalisa dan dengan gaya hidup modern. Hal ini memecahkan suatu permasalahan. Metode menjadi permasalahan besar dalam proses yang digunakan dalam penelitian ini regenerasi pengrajin dan pelestarian nilai- nilai budaya lokal. Namun desainer dan Penelitian hukum empiris adalah suatu perajin asal Kampung Bandar tinggal diam. Mereka berupaya melawan Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh di lokasi penelitian serta berpartisipasi aktif dalam pameran budaya dan ekonomi kreatif, serta kerja sama peraturan perundang-undangan, jurnal ilmiah, dan literatur hukum. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam Published by ANDREW LAW CENTER http://journal. id/index. php/ALJ ANDREW LAW JOURNAL Volume 4 Nomor 1 - Juni 2025 e-ISSN 2962-3480 sangat mengkhawatirkan karena dampak Memanfaatkan potensi wisata budaya juga menjadi salah satu langkah strategis dalam prosesnya, mulai dari produksi hingga distribusi di tengah masyarakat. Awalnya, menggunakan alat sederhana berbasis inovasi baru dan memperluas jangkauan tenaga manusia yang disebut Alat Tenun pasar tanpa kehilangan sentuhan dengan Bukan Mesin (ATBM), yang digerakkan warisan budaya. Rumah Tenun Kampung dengan tangan dan kaki secara bersamaan. Bandar mengikuti praktik pemasaran baru seperti penjualan langsung melalui galeri, manual menggunakan benang dan jarum menjangkau komunitas online, pemasaran dengan ketelitian dan perhitungan yang media sosial, dan berinteraksi dengan influencer lokal. Proyek ini membuktikan produksi kain tenun telah berkembang bahwa konservasi budaya dan inovasi menggunakan mesin otomatis sehingga selaras dengan kemajuan teknologi dan proses produksi menjadi jauh lebih cepat Pengaruh Untuk motif kain dibuat Namun, di era Meskipun tradisi tenun. Modernisasi tidak dapat mengurangi nilai seni dan keaslian kain dipungkiri menjadi salah satu faktor besar tenun yang dahulu dibuat sepenuhnya di era kini yang mencakup berbagai dengan keterampilan tangan. Saat ini, hanya sedikit budaya, hingga kondisi sosial di tengah Salah satu aspek yang sangat salah satunya adalah pengrajin di Rumah terdampak adalah tradisi dan budaya. Tenun Kampung Bandar. Pekanbaru, yang termasuk bahasa, makanan, dan pakaian Pakaian adat menjadi salah satu menggunakan alat tenun bukan mesin agar hasil yang diberikan tetap terjaga seperti terpengaruh oleh perkembangan zaman. dulu, walaupun membutuhkan waktu lama Salah untuk menghasilkan satu kain tenun," menghadapi tantangan serius adalah kain serta menambahkan bahwa pembuatan Keberadaan kain tenun saat ini motif tetap dilakukan secara manual "Saat ATBM. Published by ANDREW LAW CENTER http://journal. id/index. php/ALJ ANDREW LAW JOURNAL Volume 4 Nomor 1 - Juni 2025 e-ISSN 2962-3480 dengan perhitungan yang presisi, berbeda sektor kehidupan, termasuk industri kain tenun tradisional di Indonesia saat ini. Tidak dapat dipungkiri, di era Salah satu perubahan yang mencolok modern, segala sesuatu dituntut untuk adalah peralihan fungsi alat tenun bukan (ATBM), konsekuensi berupa berkurangnya nilai tradisional, menjadi alat produksi keset. seni, budaya, dan ketulusan kerja tangan Perubahan ini bukan sekadar penyesuaian yang seharusnya menjadi identitas utama kain tenun tradisional. Dalam konteks ini, strategis para pengrajin terhadap tekanan perlindungan terhadap tradisi kain tenun pasar dan persaingan yang semakin ketat sejalan dengan amanat Undang-Undang dengan teknologi mesin tenun modern Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan (ATM). Dengan beralih ke produksi keset. Kebudayaan, di mana dalam Pasal 5 pengrajin tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga meningkatkan pendapatan mereka secara signifikan karena proses teknologi tradisional, dan seni, sehingga produksi yang lebih cepat dan pangsa kain tenun sebagai bagian dari warisan pasar yang lebih luas (Neneng Sri Andini, budaya tradisional wajib dilestarikan dan Selanjutnya. Pasal 24 Untuk konsumsi kain tenun di era mengamanatkan bahwa Pemerintah dan modern tentu sangat berdampak dengan Pemerintah adanya modernisasi. Modernisasi telah menyebabkan pergeseran konsumsi kain tenun di masyarakat, di mana preferensi pemajuan kebudayaan tersebut, sehingga terhadap pakaian praktis dan modern mempertahankan proses pembuatan kain Daerah terhadap kain tradisional seperti songket Masyarakat rata-rata (Fitriana, pengembangan budaya bangsa. Di sisi menggunakan pakaian modern dan juga model yang lebih kekinian. Konsumsi masyarakat terhadap kain tenun sangat Published by ANDREW LAW CENTER http://journal. id/index. php/ALJ ANDREW LAW JOURNAL Volume 4 Nomor 1 - Juni 2025 e-ISSN 2962-3480 jauh berkurang yang tentu berdampak muda mengenai nilai filosofis, sejarah. Beberapa cara dilakukan para dan proses pembuatan kain tenun perlu perajin kain tenun untuk mengembangkan digalakkan melalui berbagai media, baik kain tenun di tengah era modernisasi ini, formal seperti kurikulum sekolah, maupun salah satunya yang dilakukan oleh seorang informal seperti kampanye budaya di media sosial. Selain itu, dukungan dari Pekanbaru Edukasi dasar baju yang dibuatnya, kemudian pemberian insentif, dan promosi di pasar dipadukan dengan model kekinian saat ini. global dapat menjadi solusi strategis untuk Respon konsumen sangat baik. keberlangsungan kain tenun menggunakan kain tenun sebagai bahan mereka inginkan menggunakan kain tenun Indonesia. Kegiatan pameran budaya dan khas Riau berbagai warna. Desainer juga festival tenun lokal juga bisa menjadi mewarnai kain tenun dengan warna wadah untuk memperkenalkan kembali kekinian agar lebih memberikan daya nilai artistik dan identitas lokal yang tarik terhadap konsumen. Desainer ini terkandung dalam kain tenun. Langkah- berkolaborasi dengan pengrajin kain tenun langkah seperti ini penting untuk menjaga AuSri KemuningAy yang berasal dari Siak. semangat para pengrajin dan memperluas Tidak apresiasi masyarakat terhadap produk menggunakan warna dari bahan-bahan lokal yang sarat makna. Peran komunitas alami menggunakan teknologi di era dan organisasi budaya juga tak kalah modern ini sehingga kain tenun tetap eksis penting dalam mendukung kelestarian di kala ini. Tentu saja, modernisasi tidak hanya menjadi tantangan terhadap kain pelatihan dan regenerasi tenaga pengrajin tenun di tengah masyarakat, namun juga Dengan cara ini, warisan budaya dapat menjadi sumber kolaborasi terhadap tak hanya menjadi kenangan, tetapi terus produksi kain tenun dan juga konsumsi di tengah masyarakat. Oleh karena itu, kemajuan zaman. penting adanya sinergi antara pelestarian Konflik budaya. Konflik budaya dan inovasi agar warisan budaya suatu hal yang tidak dapat dihindari seperti kain tenun tetap relevan di era dalam kehidupan bersama. Oleh karena Published by ANDREW LAW CENTER http://journal. id/index. php/ALJ ANDREW LAW JOURNAL Volume 4 Nomor 1 - Juni 2025 Wawancara ini dilakukan bersama bagaimana konflik itu dikendalikan dan Kak Andini Yuliani, seorang fashion diselesaikan secara damai dan bijaksana, designer dari Riau yang aktif dalam agar tidak pengembangan UMKM khususnya pada e-ISSN 2962-3480 menimbulkan dis-integrasi Dalam penelitian ini, konflik sosial yang Dalam penjelasannya. Kak sangat terasa dapat dilihat dari perubahan Andini menjelaskan bahwa dirinya bukan gaya berpakaian yang terjadi dalam era produsen kain tenun, melainkan berfokus perkembangan globalisasi dan kemajuan pada pengolahan kain tenun menjadi Generasi busana modern yang siap pakai. Ia bekerja lebih tertarik pada sama dengan pengrajin tenun lokal di populer asing dibandingkan budaya lokal. Riau, salah satunya dari Tenun Sri Salah satu contoh yang memang sangat Kemuning. Kolaborasi ini tidak hanya disesalkan adalah maraknya tren AuKebaya bertujuan komersial, tetapi juga memiliki Korean visi dan misi bersama untuk melestarikan memadukan detail kebaya dengan tren dan mengangkat citra tenun Riau agar fesyen Korea terkini, yang mendapat tetap relevan di tengah perkembangan perdebatan hangat di media sosial. Ada LookAy. Tren yang menilai transformasi seperti ini Salah satu latar belakang utama mampu menutupi nilai budaya dan makna kebaya sebagai simbol identitas bangsa. keprihatinan terhadap pemaknaan kain Ada pula yang berpendapat bahwa inovasi tenun yang selama ini hanya dipakai merupakan bagian dari dinamika budaya, namun ada pula yang menganggapnya keraton, sehingga terlihat eksklusif dan sebagai degradasi budaya lokal. Proses ini kurang terjangkau oleh masyarakat umum, mewakili pertarungan antara melestarikan terutama generasi muda. Oleh karena itu, warisan budaya dan tuntutan pasar global. Kak Andini mencoba mendesain ulang Oleh karena itu, harus ada titik temu kain tenun menjadi pakaian yang lebih antara keberlanjutan dan inovasi serta mendorong generasi baru untuk mengakui termasuk untuk bekerja di kantor atau nilai-nilai budaya di balik setiap elemen busana tradisional yang mereka tiru. menjadikan tenun tidak hanya sebagai acara-acara sehari-hari. Upaya Published by ANDREW LAW CENTER http://journal. id/index. php/ALJ ANDREW LAW JOURNAL Volume 4 Nomor 1 - Juni 2025 e-ISSN 2962-3480 simbol budaya, tetapi juga bagian dari memperhatikan kualitas bahan, bekerja gaya hidup sehari-hari. Aukita pengin kain Teran itu enggak hanya dipakai oleh mengenai kualitas kain, termasuk jika acara-acara orang-orang ditemukan kecacatan produksi. Bila ada tertentu gitu Jadi kita buat desain baju kain yang cacat, maka kain tersebut tidak yang bisa diterima oleh semua kalangan digunakan dalam proses produksi baju. terutama kita juga mainkan sekarang Untuk mempertahankan kualitas, ia juga untuk stestel anak mudanya itu yang memberikan edukasi kepada konsumen menjadi latar belakang kedua Bagaimana tentang cara perawatan kain tenun agar Kakak memadukan elemen tradisional ten tetap awet, seperti tidak mencuci dengan itu dengan desain-desain modern saat iniAy. Dalam proses desain. Kak Andini tetap mempertahankan motif-motif khas menggunakan deterjen lembut. Riau yang sarat makna filosofis, seperti Dalam hal pemasaran. Kak Andini motif pucuk rebung, tapuk manggis, dan Motif-motif ini tidak diubah secara signifikan, melainkan disesuaikan website katalog, serta mengikuti berbagai dengan gaya dan pilihan warna yang lebih pameran fashion baik lokal maupun Warna-warna kontras khas Riau Namun, ia mengakui masih ada seperti merah, kuning, dan hijau yang kendala seperti belum adanya tim promosi sebelumnya dominan, kini diolah menjadi khusus sehingga promosi masih dilakukan lebih soft, pastel, dan sesuai dengan selera secara mandiri. Meski begitu, usaha ini generasi muda maupun konsumen di luar daerah Riau. Untuk mewujudkan hal ini, terutama dari konsumen yang sudah sadar ia menggunakan benang viscose rayon mengoleksi kain-kain khas daerah. Teknik Instagram Kak Andini orang-orang mencintai budaya lokal, yang membeli termasuk teknik penguncian warna, yang bukan hanya karena nilai estetika produk, berfungsi memastikan warna tidak mudah tetapi juga karena makna dan cerita di balik motif kainnya. Untuk memperkuat Andini Kak Pelanggan (@andinyyulian. Published by ANDREW LAW CENTER http://journal. id/index. php/ALJ ANDREW LAW JOURNAL Volume 4 Nomor 1 - Juni 2025 e-ISSN 2962-3480 hubungan emosional ini. Kak Andini juga kali dibuat ulang. Hal ini menjadikan selalu menjelaskan kepada pelanggan setiap produk bersifat unik dan eksklusif. mengenai filosofi setiap motif yang Kak Andini menyebutnya sebagai Aulimited editionAy, dengan memahami filosofi, pemakai akan tergantung pada kondisi cuaca dan bahan merasa lebih AuterhubungAy secara batin alami yang digunakan saat itu. Konsumen dengan pakaian yang dikenakan, seolah yang mencari keunikan akan sangat pakaian itu membawa energi tertentuAi menghargai nilai ini karena mereka tidak seperti nilai amanah, sopan santun, atau hanya membeli pakaian, tetapi juga karya budaya yang tidak dapat disamakan Diharapkan pakaian dinas bagi instansi pemerintah dapat diproduksi oleh pelaku UMKM dengan produk lain. Upaya pelestarian kain tenun di Rumah Kampung Bandar. Upaya peningkatan perekonomian masyarakat, pelestarian kain tenun tradisional di langkah ini juga berkontribusi dalam Rumah pelestarian warisan budaya bangsa. Dalam merupakan langkah yang sangat signifikan Kak Kampung Bandar Pekanbaru Andini dalam menjaga warisan budaya dan tradisi tenun yang telah lama menjadi bagian dari identitas Melayu di wilayah tersebut. memberikan dukungan nyata kepada para Dalam beberapa tahun terakhir. Rumah Kak Kampung Bandar telah melakukan banyak Andin. "Semoga ke depannya pemerintah upaya dalam melestarikan kain tenun, mau memakai jasa kain tenun lokal untuk yang tidak hanya memiliki nilai estetika membuat seragam instansi. Ini sangat yang sangat besar tetapi juga memiliki membantu UMKM seperti kami untuk makna budaya dan sejarah yang sangat tetap bertahan dan berkembang, sekaligus Salah satu teknik konservasi utama adalah dengan menyediakan lokakarya produk sehari-hari. " Menariknya, produk- pendidikan dan pelatihan bagi generasi produk tenun dihasilkan tidak muda untuk mempelajari langsung proses khususnya karena menenun tradisional, mulai dari persiapan proses pewarnaan alami yang tidak bisa benang dan pembuatan motif hingga menghasilkan warna yang identik setiap mengoperasikan alat tenun secara manual. (Narasumber: diproduksi massal. Published by ANDREW LAW CENTER http://journal. id/index. php/ALJ ANDREW LAW JOURNAL Volume 4 Nomor 1 - Juni 2025 e-ISSN 2962-3480 Dengan demikian. Rumah Kampung Pemanfaatan sebagai destinasi Bandar tidak hanya memberikan keahlian teknis tetapi juga menanamkan kearifan Membuat pengakuan Kain Tenun lokal dan nilai-nilai yang ada di balik sebagai Warisan Budaya Tak setiap motif kain tenunnya. Selain itu, benda (WBTB) Rumah Tenun juga mengikuti festival Peraturan Daerah (Perd. yang budaya lokal dan nasional sebagai bentuk mengatur penggunaan kain tenun promosi dan pengenalan pasar produk pada seragam dinas pemerintah. tenunnya kepada masyarakat. Mereka juga menelusuri proses pembuatan tenun dan KESIMPULAN Perkembangan memasarkan tenun warisan Kampung berdampak signifikan terhadap pelestarian Bandar ke generasi web. Kolaborasi tradisi kain tenun, terutama dalam aspek dengan desainer nasional dan lokal telah produksi dan konsumsi. Pergeseran dari mengungkapkan kreativitas dalam motif penggunaan alat tradisional seperti Alat dan penggunaan, sehingga kain tradisional Tenun Bukan Mesin (ATBM) menuju dapat digunakan tidak hanya pada upacara berkurangnya nilai artistik dan makna budaya yang terkandung dalam proses makna budaya yang kuat. Proyek-proyek tenun tradisional. Selain itu, preferensi tersebut menunjukkan bahwa pelestarian masyarakat terhadap busana modern turut menghasilkan inovasi dan tetap kuat di eksistensi kain tenun. Kendati demikian, tengah lingkungan modern. modernisasi juga membuka ruang inovasi Beberapa upaya yang dilakukan dan kolaborasi kreatif. Inisiatif dari pelaku dalam pelestarian kain tenun di Rumah Kampung Bandar Pekanbaru antara lain: Yuliani, menunjukkan bahwa pengolahan Kak Pengembangan Pusat Kerajinan kain tenun Tenun kontemporer dapat menarik perhatian Promosi dan Pameran Kerjasama dengan komunitas dan identitas budaya lokal. Penggunaan bahan alami, pengolahan warna modern, serta Andini Published by ANDREW LAW CENTER http://journal. id/index. php/ALJ ANDREW LAW JOURNAL Volume 4 Nomor 1 - Juni 2025 e-ISSN 2962-3480 pemanfaatan platform digital media promosi menjadi strategi adaptif mendaftarkan dan memiliki hak cipta komunal atas motif-motif tradisional yang Di sisi lain. Rumah Tenun telah ada secara turun-temurun. Dengan Kampung Bandar Pekanbaru meningkatnya kesadaran dan pengaktifan perlindungan HKI, para perajin tenun tidak hanya mendapatkan pengakuan atas program, seperti pembinaan pengrajin, kreativitas mereka, namun juga memiliki penyelenggaraan pameran budaya, kerja daya tawar yang lebih besar dalam rantai sama lintas sektor, serta pemanfaatan potensi wisata berbasis budaya. Hal ini membuktikan bahwa pelestarian kain tenun tidak hanya memerlukan upaya konservatif, tetapi juga pendekatan kreatif DAFTAR PUSTAKA