Jurnal Studi Ilmu Sosial dan Politik (JASISPOL) ISSN 2798-0243. Vol 5. No 1, 2025, 69-84 https://doi. org/10. 35912/jasispol. Analisis Pola Komunikasi dalam Disfungsional Family & Resiliensi pada Anak Kota Tegal (Communication Patterns in Dysfunctional Families and Their Impact on Children's Resilience in Tegal Cit. Alisya Ainnur Rizky1. Diryo Suparto2. Ike Desi Florina3 Universitas Pancasakti Tegal. Jawa Tengah. Indonesia1,2,3 alisyarzkyainnur@gmail. com1, suparto. diryo@gmail. com2, ikeflorina@upstegal. Abstract Purpose: This study aimed to analyze communication patterns in dysfunctional families and understand how resilience develops in children in Tegal City. Methodology: This study used a qualitative approach with a case study method. Data were collected through in-depth interviews with children from dysfunctional families and interviews with parents, teachers, and child psychologists in Tegal City. Results: Communication patterns in dysfunctional families in Tegal City significantly impact childrenAos emotional and social However, resilience is a key factor that allows children to survive and thrive under difficult conditions. Support from the surrounding environment, such as schools and social Riwayat Artikel: communities, plays an important role in helping children from Diterima pada 15 Mei 2025 dysfunctional families build psychological resilience and achieve Revisi 1 pada 23 Mei 2025 a better life. Revisi 2 pada 30 Mei 2025 Revisi 3 pada 10 Juni 2025 Conclusions: This study shows that communication patterns in Disetujui pada 18 Juni 2025 dysfunctional families in Tegal Citsy, both in structurally intact and incomplete families, significantly influence children's resilience levels. Limitations: Research on the analysis of communication patterns in dysfunctional families and resilience in children in Tegal City has several limitations, namely having a limited sample, using qualitative methods and focusing on one location (Tegal Cit. Contribution: This study can improve understanding and increase public awareness of communication patterns in dysfunctional families and child resilience. This study can also be used by clinical practitioners to develop more effective intervention strategies in the future. Keywords: Child Resilience. Communication Patterns. Dysfunctional Families. Tegal City. How to Cite: Rizky. Suparto. Florina. Analisis Pola Komunikasi dalam Disfungsional Family & Resiliensi pada Anak Kota Tegal. Jurnal Studi Ilmu Sosial dan Politik, 5. , 69-84. Pendahuluan Sebagai makhluk sosial, setiap orang yang hidup dalam suatu kelompok masyarakat dalam menjalani aktivitas kesehariannya sejak bangun tidur hingga tidur kembali senantiasa terlibat dalam kegiatan Hal ini dilakukan sebagai konsekuensi dari hubungan sosial melalui interaksi dengan orang-orang yang berada di sekitarnya. Bila kita amati lebih teliti mengenai aktivitas manusia dalam menjalani kehidupan kesehariannya, maka sebagian besar diisi dengan kegiatan berkomunikasi seperti mengobrol, membaca koran, mendengarkan radio, menonton televisi atau bioskop. lni membuktikan bahwa dalam tatanan kehidupan sosial manusia, komunikasi telah menjadi jantung kehidupan. Apabila jantung kehidupan itu tidak berfungsi, maka tidak akan ada kehidupan manusia seperti yang kita alami saat ini, sehingga tidak akan mungkin terbentuk suatu tatanan kehidupan manusia yang terintegrasi dalam sistem sosial yang disebut dengan masyarakat. Paparan media sangat umum dalam masyarakat Media dengan segala kontennya hadir dalam hidup manusia, disadari atau tidak. Seiring berjalannya waktu, kehadiran media menjadi lebih beragam dan berkembang. Menurut Parillo dalam Endang Sri Indrawati menyebutkan bahwa keluarga yang tidak berfungsi . adalah pola keluarga yang secara umum diasosiasikan dengan rendahnya tingkat kesehatan, kesejahteraan, kebahagiaan, dan pengaruh-pengaruh positif jika dibandingkan dengan keluarga-keluarga lainya (Indrawati et al. , 2. Dalam kajian ilmu keluarga dan psikologi, konsep keluarga disfungsional merujuk pada sistem keluarga yang tidak dapat melakukan tugas dasar seperti memberikan dukungan emosional, keamanan, komunikasi yang sehat, dan perkembangan individu yang Kondisi keluarga disfungsional terbagi menjadi dua kategori: kondisi keluarga disfungsional yang tidak lengkap, di mana salah satu orangtua tidak ada, atau kondisi keluarga disfungsional yang dianggap lengkap secara struktural dengan masalah hubungan di dalamnya yang buruk. Kategori pertama adalah kondisi keluarga disfungsional yang tidak lengkap, di mana salah satu orangtua tidak Dalam kondisi keluarga disfungsional yang tidak lengkap melibatkan ketidak hadiran salah satu orang tua. Selain itu, kondisi keluarga ini memiliki tanda-tanda berikut: a. ) Kehilangan peran ganda, b. Kesulitan keuangan, c. ) Kekurangan contoh, d. ) Ketidaksetiaan. Kedua, keluarga disfungsional yang dianggap lengkap secara struktural dan memiliki hubungan yang tidak baik. Mereka dianggap sebagai keluarga yang terdiri dari kedua orang tua . yah dan ib. dan anak-anak atau keluarga sepenuhnya, dengan beberapa ciri seperti : a. ) Konflik yang berkepanjangan, b. ) Komunikasi yang buruk, c. Kurangnya dukungan emosional, d. ) Kekerasan . erbal, emosional dan fisi. , d. ) Peran orang tua yang tidak seimbang. Menurut Harold D. Lasswell . dalam Ida Suryani Wijaya pengertian komunikasi merupakan proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan melalui saluran tertentu untuk mencapai efek tertentu (Wijaya, 2. Komunikasi adalah proses penyampaian gagasan atau perasaan seseorang kepada orang lain menggunakan lambang-lambang bermakna bagi kedua belah pihak sehingga pesan yang diterima sesuai dengan yang disampaikan. Dari komunikasi yang baik akan menghasilkan hasil yang baik pula, dengan adanya komunikasi yang baik akan terjalin hubungan yang baik dan terhindar dari kesalahpahaman (Salsabila, 2. Komunikasi tidak akan bisa berlangsung tanpa adanya dukungan dari unsur-unsur komunikasi seperti pengirim, pesan, saluran, penerima, akibat dan pengaruh. Unsur-unsur inilah yang menjadi tolak ukur berhasil atau tidaknya dalam proses komunikasi (Rofiatun & Mariyam, 2. Komunikasi disfungsional dalam keluarga adalah pola komunikasi yang tidak efektif, tidak sehat atau merusak, sehingga menyebabkan konflik, kesalahpahaman, dan ketegangan antar anggota keluarga. Dalam keluarga disfungsional, komunikasi sering kali ditandai dengan manipulasi, kritik berlebihan, kurangnya empati dan kegagalan dalam menyampaikan atau menerima pesan dengan baik. Dengan buruknya komunikasi didalam keluarga dapat menyebabkan trauma, rendahnya harga diri, serta kesulitan dalam membangun hubungan yang sehat dimasa depan. Jika digunakan untuk interaksi keluarga, terutama orang tua dan anak, pola komunikasi tentunya tidak serta merta berjalan dengan Menurut Reivich dalam Jean Klara Paliyama kemampuan untuk mengadaptasi serta bertahan dalam keadaan tertekan dan bahkan berberhadapan dengan kesengsaraan . atau trauma yang dialami dalam kehidupannya disebut resiliensi (Paliyama et al. , 2. Menurut Grotberg . dalam Evita Yuliatul Wahidah resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk menilai, mengatasi, dan meningkatkan dirinya sendiri atau mengubah dirinya dari keterpurukan atau kesengsaraan dalam hidup karena setiap orang pasti mengalami kesulitan atau masalah, dan tidak ada seseorang di dunia ini yang hidup tanpa masalah atau kesulitan (Wahidah, 2. Adapun tiga faktor resiliensi menurut Grotberg: . Faktor I Have, merupakan dukungan dari sumber dalam dan eksternal yang meningkatkan daya lentur. anak belajar siapa dia (I A. atau apa yang dia bisa lakukan (I Ca. Remaja membutuhkan dukungan eksternal dan sumber daya agar mereka dapat tumbuh dalam persaan keselamatan dan keamanan, yang merupakan dasar dari apa yang disebut resilience. Bantuan dan sumber dari luar meningkatkan 2025 | Jurnal Studi Ilmu Sosial dan Politik (JASISPOL)/ Vol 5 No 1, 69-84 resiliensi, . Faktor I Am, merupakan kekuatan internal . alam dir. yang terdiri dari perasaan, sikap, dan keyakinan anak, . Faktor I Can, adalah kemampuan seseorang untuk berkomunikasi dengan orang lain, menyampaikan pikiran dan perasaan mereka, memecahkan masalah dalam berbagai aspek kehidupan, seperti akademik, pekerjaan, pribadi, dan sosial, dan mengontrol tingkah laku. Selain itu, mendapatkan bantuan saat diperlukan. Contoh kasus dalam perceraian keluarga Dedy Mahendra Desta dan Natasha Rizky pada tanggal 11 Juni 2023, dalam kasus perceraian Desta menunjukkan bahwa resiliensi sangat penting dalam menghadapi perubahan hidup yang besar. Dengan dukungan sosial, regulasi emosi yang baik, pola pikir positif, rasa kontrol diri, serta hubungan yang sehat dengan mantan pasangan dan anak-anak. Desta berhasil melewati perceraiannya tanpa kehilangan arah dalam hidupnya. Keberhasilan ini membuktikan bahwa seseorang dapat tetap menjalani hidup dengan baik meskipun menghadapi tantangan berat, asalkan memiliki strategi yang tepat dalam membangun resiliensi. Pola komunikasi adalah cara atau sistem yang digunakan individu atau kelompok untuk berinteraksi dan bertukar pesan satu sama lain. Pola ini dibentuk oleh hubungan sosial, budaya, dan situasi yang ada dalam suatu kelompok atau organisasi. Menurut Joseph A. DeVito dalam Tri . dalam Sabethia Sihombing, terdapat empat pola komunikasi dalam keluarga, yaitu: . Pola Komunikasi Kesetaraan (Equality Patter. Dalam pola ini, peran tiap anggota keluarga sama, dan tiap individu memiliki kesempatan komunikasi yang sama. Semua orang dianggap setara dan memiliki kemampuan yang sama, dan semua orang memiliki kebebasan untuk menyatakan pendapat mereka. Komunikasi yang terjadi adalah langsung, jujur, terbuka, dan bebas dari jalur kekuasaan yang ada dalam hubungan interpersonal lainnya. Tidak ada pemimpin dan pengikut, pemberi pendapat atau pencari pendapat dalam pola ini. semuanya memainkan peran yang sama, . Pola Komunikasi Seimbang Terpisah (Balanced Split Patter. , dalam pola ini persamaan hubungan tetap ada, akan tetapi tiap orang memiliki kontrol atau kekuasaan dibidang mereka sendiri. Semua orang dianggap mahir dalam bidang tertentu, sebagai contoh dalam keluarga konvensional, suami dianggap bekerja atau mencari nafkah untuk keluarga, dan istri bertanggung jawab untuk menjaga anak dan memasak, . Pola Komunikasi Tak Seimbang Terpisah (Unbalanced Split Patter. Pola ini memiliki satu orang yang mendominasi, yang dianggap menguasai lebih dari setengah wilayah komunikasi timbal balik dan biasanya memiliki Orang-orang yang mendominasi ini mungkin lebih menarik secara fisik atau berpenghasilan, tetapi mereka juga mungkin lebih cerdas atau berpengetahuan, . Pola Komunikasi Monopoli (Monopoly Patter. Satu individu dianggap memiliki kekuatan. Mereka lebih suka berkomunikasi dan memerintah daripada mendengarkan pendapat orang lain. Pemegang kekuasaan berhak atas keputusan akhir, dan mereka tidak pernah meminta pendapat orang lain, perdebatan jarang terjadi karena semua tahu siapa yang akan menang. Akibatnya, ketika ada konflik, masing-masing tidak tahu bagaimana mencari solusi yang baik untuk bersama. Kota Tegal salah satu kota di Provinsi Jawa Tengah-Indonesia, memiliki sejarah yang panjang, kekayaan budaya, dan peran strategis dalam pembangunan ekonomi sekitarnya. Industri perkapalan, budaya masyarakat pesisir yang dinamis, dan makanan khas seperti warung tegal . adalah ciri khas kota ini. Buku Statistik Daerah Kota Tegal Tahun 2024 menyatakan bahwa Kota Tegal adalah salah satu kota di Provinsi Jawa Tengah yang berada di jalur pantai utara. Kota Tegal berada di wilayah Barat. Itu terletak di 4 kecamatan dan 27 kelurahan: Kecamatan Tegal Timur. Kecamatan Tegal Barat. Kecamatan Tegal Selatan, dan Kecamatan Margadana. Jarak utara ke selatan adalah 6,7 km dan jarak barat ke timur 9,7 km. Sebagai informasi dari Direktorat Jendral Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapi. ,jumlah penduduk Kota Tegal pada tahun 2023 mencapai 7. 461,21 jiwa per kilometer persegi . Artinya, setiap 1 km2 di Kota Tegal terdapat sekitar 7. 461 jiwa. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statisk Kota Tegal jumlah penduduk miskin pada tahun 2023 mencapai 19,220. Selain itu, ada proporsi penduduk Kota Tegal dengan tamatan SMA sebesar 22,86%, dengan proporsi lulusan SMP sebesar 15,0% dan lulusan SD masing-masing 22,85%. Ada juga 7,57% penduduk Kota Tegal yang belum tamat SD, dan proporsi penduduk yang tidak atau belum pernah sekolah sebesar 24,26%. Jumlah penduduk Kota Tegal. Jawa Tengah, menurut jenjang pendidikan pada pertengahan tahun 2024 adalah sebagai berikut: 2025 | Jurnal Studi Ilmu Sosial dan Politik (JASISPOL)/ Vol 5 No 1, 69-84 S3 berjumlah 22 jiwa . ,007%). S2 berjumlah 883 jiwa . ,3%). S1 berjumlah 14,53 ribu jiwa . ,94%). D3 berjumlah 5745 jiwa . ,96%). D1 dan D2 berjumlah 764 jiwa . ,26%). SMA berjumlah 67,16 ribu jiwa . ,86%). SMP berjumlah 44,08 ribu jiwa . ,0%). Tamat SD berjumlah 67,13 Gambar 1. Diagram Proporsi Tingkat Pendidikan Penduduk Kota Tegal (Juni 2. Di Kota Tegal, meskipun perkembangan sosial dan budaya terus berlanjut, fenomena keluarga disfungsional dan pola komunikasi yang terjadi dalam keluarga tersebut masih jarang dibahas dalam konteks dampaknya terhadap resiliensi anak. Dengan karakteristik sosial yang kental. Kota Tegal memiliki tantangan tersendiri dalam hal pola komunikasi dalam keluarga, terutama dalam keluargakeluarga dengan dinamika yang tidak sehat. Oleh karena itu, penting untuk melakukan penelitian yang mendalam mengenai bagaimana pola komunikasi dalam keluarga disfungsional memengaruhi perkembangan resiliensi pada anak-anak di Kota Tegal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola komunikasi yang terjadi dalam keluarga disfungsional di Kota Tegal, serta dampaknya terhadap perkembangan resiliensi anak-anak yang ada dalam keluarga Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini akan menggali lebih dalam mengenai pengalaman anak-anak yang tumbuh dalam keluarga disfungsional, bagaimana pola komunikasi dalam keluarga mereka, serta bagaimana anak-anak ini mengembangkan kemampuan untuk bertahan dan beradaptasi dengan situasi yang ada. Studi ini penting dilakukan untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana keluarga disfungsional memengaruhi pembentukan karakter dan ketahanan mental anak, serta memberikan wawasan tentang pentingnya pola komunikasi yang sehat dalam keluarga sebagai salah satu faktor pembentuk resiliensi. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam merancang program intervensi yang dapat membantu keluarga-keluarga di Kota Tegal, terutama yang mengalami disfungsi, agar dapat memperbaiki pola komunikasi dan menciptakan lingkungan yang lebih mendukung bagi perkembangan anak. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk memberikan rekomendasi bagi pembuat kebijakan dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang lebih positif bagi anak-anak, terutama mereka yang berada dalam kondisi keluarga disfungsional. Tinjauan Pustaka dan Pengembangan Hipotesis 1 Pola Komunikasi Dalam Keluarga Pola komunikasi dalam keluarga merupakan wadah dalam membentuk dan mengembangkan nilai-nilai yang dibutuhkan sebagai pegangan hidup (Daulay et al. , 2. Menurut Graham dalam Desi Yoanita pola komunikasi keluarga dibagi menjadi dua orientasi yaitu conformity orrientation dan conversation orientation (Yoanita, 2. Menurut Yuli dalam Veranus Sidharta pola komunikasi (Sidharta, 2. Komunikasi dalam sebuah keluarga sebagai subsistem dari masyarakat sangat mempunyai fungsi yang 2025 | Jurnal Studi Ilmu Sosial dan Politik (JASISPOL)/ Vol 5 No 1, 69-84 berarti dalam menanamkan nilainilai kepercayaan, tradisi, kesetaraan dalam setiap aktivitas dalam berinteraksi antar anggota keluarga (Lao et al. , 2. Konsep Disfungsional Family Keluarga disfungsional adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan jenis keluarga yang biasanya dikaitkan dengan tingkat kesehatan, kesejahteraan, kebahagiaan, dan efek negatif jika dibandingkan dengan keluarga lain menurut Parillo dalam Nisrina Khairani (Khairani et al. , 2. Keluarga disfungsional biasanya memiliki peran yang tidak sesuai. Misalnya, orang tua berperan sebagai orang tua, anak berperan sebagai orang tua, ibu berperan sebagai ayah, ayah berperan sebagai ibu, dan kakak berperan sebagai adik. Keluarga disfungsional biasanya terjadi akibat kecaduan alkohol, obat-obatan terlarang (Anggraeni, 2. Menurut Toof dalam Diamona Indriastuti Andrian dalam dinamika keluarga disfungsional dapat menyebabkan anak-anak mengembangkan ikatan yang tidak aman, anak-anak yang mengalami penelantaran atau pelecehan dapat menghalangi perkembangan ikatan yang sehat (Ardian & Ambarwati, 2. Menurut Scholevar dalam Wiryohadi keluarga yang tidak berfungsi terdiri dari anggota keluarga yang berkomunikasi buruk satu sama lain dan tidak dapat bernegosiasi dan menyelesaikan konflik. Akibat dari situasi ini, terjadi kemarahan, emosional, kepahitan, dan frustasi. Keluarga yang mengalami kondisi ini sering mengalami perselisihan, permusuhan, dan disharmoni, dan akhirnya mencapai tahap yang paling menyedihkan, yaitu perpisahan dan perceraian (Wiryohadi et al. , 2. Resiliensi Anak dalam Disfungsional Family Menurut Lestari dalam Betty resiliensi merupakan sebuah kemampuan individu untuk bangkit dari penderitaan dengan keadaan tersebut diharapkan mental akan menjadi lebih kuat dan memiliki sumber daya (Karya, 2. Menurut Schon dalam Eem Munawaroh dalam buku yang berjudul AyResiliensi: Kemampuan Bertahan dalam Tekanan dan Bangkit Dari KeterpurukanAy mengemukakan bahwa asumsi mendasar dalam studi mengenai resiliensi adalah bahwa beberapa individu tetap baik-baik saja meskipun telah mengalami situasi yang sarat adveritas dan beresiko, sementara beberapa individu lainnya gagal beradaptasi dan terperosok dalam adversitas atau resiko yang lebih berat lagi (Munawaroh & Mashudi, 2. Menurut Sondhi-Garg dalam Saskia Nabila menjelaskan bahwa resiliensi adalah kapasitas individu untuk menghadapi peristiwa buruk, bertahan ketika menghadapi kesulitan yang cukup besar, dan tidak hanya mengatasinya, tetapi juga menjadi lebih kuat (Nabila & Liyanti, 2. Resiliensi adalah kemampuan individu untuk menghadapi peristiwa buruk, bertahan ketika menghadapi kesulitan yang cukup besar dan bagaiman cara mengatasinya, agar bisa menjadi lebih kuat (S. Sari & Ningsih, 2. Konteks Sosial Kota Tegal dalam Studi Disfungsional Family dan Resiliensi Anak Budaya pesisir dan tradisi Jawa yang kuat membentuk karakteristik sosial Tegal. Tegal memiliki karakteristik sosial unik, terutama dalam hal agama, bahasa, budaya, ekonomi, pendidikan, dan kesejahteraan sosial. Mayoritas orang di sana beragama Islam, tetapi orang-orang dari minoritas agama lain seperti Kristen. Buddha. Hindu, dan Konghucu juga tinggal di sana. Mereka berbicara Jawa seharihari dengan dialek Tegal, atau Tegalan. Kota ini memiliki warisan budaya tradisional, termasuk wayang, tarian, dan musik lokal. Banyak warganya bekerja di industri rumah tangga seperti pengecoran logam, tekstil, dan bisnis kuliner yang dikenal sebagai Warung Tegal atau "Warteg". Banyak orang di daerah selatan bekerja di sektor pertanian, sementara sebagian besar orang di wilayah pesisir bekerja sebagai nelayan dan petambak. Kota Tegal memiliki banyak fasilitas pendidikan yang membantu meningkatkan sumber daya manusia. Angka kemiskinan masih menjadi masalah, tetapi persentasenya terus menurun setiap tahunnya. Sejarah panjang kota ini berasal dari zaman kolonial, yang dapat dilihat dari tata kota dan arsitektur di beberapa area. Tegal adalah kota yang dinamis dengan identitas budaya yang kuat karena karakteristik sosialnya yang beragam. Anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan dengan norma sosial yang menekankan kepatuhan kepada orang tua cenderung mengalami keterbatasan dalam mengungkapkan perasaan mereka, yang dapat menyebabkan tekanan emosional, terutama bagi anak-anak yang berasal dari keluarga yang tidak Salah satu faktor yang memengaruhi cara keluarga disfungsional berkomunikasi di Kota Tegal adalah ekonomi. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Rahman pada tahun 2019 menunjukkan 2025 | Jurnal Studi Ilmu Sosial dan Politik (JASISPOL)/ Vol 5 No 1, 69-84 bahwa keluarga yang hidup dalam keadaan ekonomi yang kurang baik cenderung mengalami lebih banyak tekanan, yang pada gilirannya menyebabkan pola komunikasi yang lebih otoriter atau tertutup. Faktor penyebab terjadinya disfungsional family yaitu karena status sosial ekonomi, status sosial ekonomi juga dapat berpengaruh pada perceraian dalam keluarga. Menurut Badan Pusat Statistik Jawa Tengah pada tahun 2023, angka perceraian di Kota Tegal mencapai 575 kasus. Berbeda dengan Kota Tegal angka perceraian di Kabupaten Tegal mencapai 3. 683 kasus pada September 2023. Sedangkan di Kabupaten Brebes angka perceraian mencapai 5. 045 kasus pada tahun 2023, jumlah ini terdiri dari 494 kasus cerai gugat dan 939 kasus cerai talak (Data ini dikutip dari platform resmi TvOnenew. Secara keseluruhan, faktor ekonomi serta perselisihan dan pertengkaran yang berkelanjutan merupakan penyebab utama perceraian di ketiga wilayah tersebut. Selain itu, faktorfaktor lain seperti meninggalkan salah satu pihak, judi, dan kekerasan dalam rumah tangga juga turut berkontribusi meskipun dalam jumlah yang lebih kecil (Data ini dapat berubah tiap tahunny. Penting dalam membantu anak mengembangkan resiliensi adalah dukungan dari lingkungan sosial mereka, seperti sekolah dan komunitas. Anak-anak yang berasal dari keluarga yang tidak berfungsi juga dapat memperoleh dukungan positif melalui program bimbingan sosial dan pendampingan psikologis yang disediakan oleh pemerintah daerah. Selain keluarga Desta dan Natasya, contoh kasus lain tentang keberhasilan resiliensi dalam perceraian ada pada keluarga public figure Gisella Anastasia dan Gading Marten. Gisella (Gise. dan Gading bercerai pada 23 Januari 2019, dalam pernikahan mereka dikaruniai satu putri yang bernama Gempita Nora Marten. Keberhasilan resiliensi yang dijelaskan dalam keluarga Gisel dan Gading menunjukan bahwa meskipun pernikahan mereka sudah berakhir, peran sebagai orangtua tetap bisa dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan kasih sayang. Sikap antara Gading dan Gisel dalam menyikapi perceraian mereka dengan sikap yang matang agar dapat menjaga kesejahteraan anak mereka. Metodologi Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, menurut Aria Mulyapradana pendekatan kualitatif adalah jenis penelitian yang bertujuan untuk memahami masalah sosial dengan tujuan untuk memberikan gambaran yang lengkap dan menyeluruh tanpa menggunakan kata-kata, memberikan laporan menyeluruh tentang perspektif informan, dan mengintegrasikan temuan tersebut dengan konteks alam. Selama penelitian, peneliti mendapatkan data deskriptif dalam bentuk gejala yang dikategorikan atau dalam bentuk dokumen, artefak, foto, dan catatan lapangan. Proses pengumpulan data ini dilakukan melalui observasi, dokumen, dan wawancara (Mulyapradana, 2. Metode studi kasus digunakan dalam penelitian ini untuk memahami secara mendalam pola komunikasi dalam keluarga disfungsional serta dampaknya terhadap resiliensi anak di Kota Tegal. Melalui studi kasus, penelitian ini tidak hanya mendeskripsikan fenomena, tetapi juga menganalisis dinamika sosial dan tantangan implementasi kebijakan dalam konteks lokal (Otariyani, 2. Pendekatan ini dipilih karena dapat menggali pengalaman subjektif anak dalam menghadapi dinamika keluarga yang tidak harmonis, dengan subjek penelitian yang terdiri dari : 7 mahasiswa Universitas dan Politeknik di Kota Tegal, 4 siswa siswi sekolah menengah pertama (SMP) dan 5 siswa siswi sekolah menengah atas (SMA), serta orang-orang terkait seperti orang tua, guru, dan psikolog. Pemilihan informan dilakukan secara purposive sampling, yaitu dengan memilih individu yang memilki pengalaman sesuai fokus penelitian. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu : Wawancara secara mendalam. Observasi partisipatif dan analisis dokumentasi. Dengan Teknik analisis data yang diambil secara tematik menggunakan : Reduksi data dengan menyaring dan mengelompokkan informasi berdasarkan pola komunikasi keluarga dan tingkat resiliensi anak. Kategorisasi dengan mengidentifikasi pola utama komunikasi dalam keluarga disfungsional . toriter, pasif-agresif dan tertutu. serta strategi resiliensi anak. Interpretasi dengan menyusun pemahaman mendalam mengenai keterkaitan antara pola komunikasi dan resiliensi anak. Triangulasi data dengan memvalidasi temuan dengan membandingkan informasi dari wawancara, observasi dan dokumentasi. Untuk memastikan validitas dan reliabilitas data penelitian ini, dengan menggunakan : Triangulasi sumber dengan membandingkan data dari anak,orangtua dan pihak terkait. Triangulasi sumber dengan menganalisis data dari wawancara, observasi dan dokumentasi, kemudian member checking dengan 2025 | Jurnal Studi Ilmu Sosial dan Politik (JASISPOL)/ Vol 5 No 1, 69-84 meminta informan untuk meninjau kembali hasil wawancara untuk memastikan akurasi. Penelitian ini juga memperhatikan prinsip etika, termasuk : Persetujuan dari informan, kerahasiaan data dan minimasi dampak psikologi. Metodologi ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai keterkaitan antara pola komunikasi dalam keluarga disfungsional dan resiliensi anak di Kota Tegal. Hasil dan Pembahasan 1 Analisis Pola Komunikasi terhadap Disfungsional Family Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan melalui wawancara mendalam dan observasi terhadap keluarga disfungsional di Kota Tegal, ditemukan bahwa pola komunikasi dalam keluarga tersebut memiliki berbagai karakteristik yang mempengaruhi perkembangan emosional dan psikologis anak. Menurut Syaiful dalam Yulianti pola komunikasi dapat dipahami sebagai pola hubungan antara dua orang atau lebih dalam pengiriman dan penerimaan pesan dengan cara yang tepat sehingga pesan yang dimaksudkan dapat dipahami. Pola komunikasi yang terjadi dalam keluarga akan berdampak pada perilaku dan sikap seseorang, pola komunikasi yang dilakukan dalam keluarga bertujuan untuk menyampaikan pesan kepada anggota keluarga yaitu,ayah, ibu dan anak (Yulianti. Rosantika, et al. Pola komunikasi adalah cara atau sistem yang digunakan individu atau kelompok untuk berinteraksi dan bertukar pesan satu sama lain. Pola ini dibentuk oleh hubungan sosial, budaya, dan situasi yang ada dalam suatu kelompok atau organisasi. Menurut Joseph A. DeVito dalam Tri . dalam Sabethia Sihombing, terdapat empat pola komunikasi dalam keluarga, yaitu: . Pola Komunikasi Kesetaraan (Equality Patter. Dalam pola ini, peran tiap anggota keluarga sama, dan tiap individu memiliki kesempatan komunikasi yang sama. Semua orang dianggap setara dan memiliki kemampuan yang sama, dan semua orang memiliki kebebasan untuk menyatakan pendapat mereka. Komunikasi yang terjadi adalah langsung, jujur, terbuka, dan bebas dari jalur kekuasaan yang ada dalam hubungan interpersonal lainnya. Tidak ada pemimpin dan pengikut, pemberi pendapat atau pencari pendapat dalam pola ini. semuanya memainkan peran yang sama, . Pola Komunikasi Seimbang Terpisah (Balanced Split Patter. , dalam pola ini persamaan hubungan tetap ada, akan tetapi tiap orang memiliki kontrol atau kekuasaan dibidang mereka sendiri. Semua orang dianggap mahir dalam bidang tertentu, sebagai contoh dalam keluarga konvensional, suami dianggap bekerja atau mencari nafkah untuk keluarga, dan istri bertanggung jawab untuk menjaga anak dan memasak, . Pola Komunikasi Tak Seimbang Terpisah (Unbalanced Split Patter. Pola ini memiliki satu orang yang mendominasi, yang dianggap menguasai lebih dari setengah wilayah komunikasi timbal balik dan biasanya memiliki Orang-orang yang mendominasi ini mungkin lebih menarik secara fisik atau berpenghasilan, tetapi mereka juga mungkin lebih cerdas atau berpengetahuan, . Pola Komunikasi Monopoli (Monopoly Patter. Satu individu dianggap memiliki kekuatan. Mereka lebih suka berkomunikasi dan memerintah daripada mendengarkan pendapat orang lain. Pemegang kekuasaan berhak atas keputusan akhir, dan mereka tidak pernah meminta pendapat orang lain, perdebatan jarang terjadi karena semua tahu siapa yang akan menang. Akibatnya, ketika ada konflik, masing-masing tidak tahu bagaimana mencari solusi yang baik untuk bersama. Penulis mewawancarai 21 informan, termasuk 7 mahasiswa Universitas dan Politeknik di Kota Tegal, 4 siswa siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP), 4 siswa siswi Sekolah Menengah Atas (SMA), serta orang-orang terkait seperti orang tua, guru, dan psikolog. Informan pertama mahasiswa A dari Universitas Pancasakti Tegal, mengatakan : AuDi rumah, komunikasi lebih sering satu arah. Ayah dan ibu lebih banyak memberi perintah, dan saya harus menuruti tanpa banyak bertanya. Kalau saya mencoba menjelaskan sesuatu, sering kali mereka tidak mau mendengar dan saya merasa tidak dianggap. Kadang saya ingin berbagi cerita tentang sekolah atau teman-teman, tapi mereka selalu sibuk atau tidak peduli. Jadi saya lebih banyak diam. Ay Dari penjelasan mahasiswa A pola komunikasi yang terjalin di dalam keluarganya termasuk kedalam pola komunikasi Monopoli (Monopoly Patter. , dimana didalam keluarganya peran seorang ayah yang lebih dominan. Mereka lebih suka berkomunikasi dan memerintah daripada mendengarkan pendapat 2025 | Jurnal Studi Ilmu Sosial dan Politik (JASISPOL)/ Vol 5 No 1, 69-84 orang lain. Dengan kondisi keluarga yang disfungsional utuh secara struktural, akan tetapi hubungan interaksi didalamnya sangatlah buruk. Selain itu menurut mahasiswa B dari Universitas Bina Sarana Informatika (BSI) Kota Tegal juga mengungkapkan bahwa : Ay Jadi, ayahku itu orangnya sangat otoriter. Dia yang selalu ambil keputusan, bahkan soal hal-hal Kalau ada yang beda pendapat, biasanya langsung dimarahin. Jadinya, aku dan mama sering diam aja, nurut. Kadang mama pengin kasih masukan atau saran, tapi langsung dibantah. Aku juga pernah coba ngomong soal jurusan kuliah, eh malah dimarahin. Katanya aku nggak tahu apa-apa. Ay Menurut penuturan mahasiswa B, pola komunikasi di dalam keluarganya termasuk kedalam pola komunikasi Unbalanced Split Pattern (Pola Pembagian Tak Seimbang Terpisa. Dimana satu pihak . dominan dalam komunikasi dan pengambilan keputusan, sementara pihak lain . stri dan anakana. bersifat pasif atau tunduk, adapun dampak yang dapat terjadi ketegangan emosional, minimnya komunikasi terbuka, dan berkembangnya pola komunikasi tertutup pada anak-anak. Kondisi keluarga yang struktural utuh . emua anggota keluarga masih tinggal bersam. , namun disfungsional secara emosional dan komunikatif. Adapun penuturan dari orangtua A : AyDi dalam keluarga dalam mengambil keputusan dibagi secara seimbang, kalau urusan rumah tangga atau sehari-hari seperti mengurus anak dari mulai makanan, sekolah, kegiatan mereka biasanya saya yang lebih banyak memutuskan. Akan tetapi kalau hal-hal yang berkaitan dengan keuangan seperti tabungan keluarga, investasi atau pembelian besar seperti kendaraan biasanya suami saya yang Dan kita selalu berdiskusi terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan, walaupun perbedaan pendapat diantara saya dan suami selalu ada. Ay Dari penuturan informan orangtua A, di dalam keluarga mereka memiliki pola komunikasi Balanced Split Pattern (Pola Pembagian Seimbang Terpisa. merupakan tanggung jawab keluarga dibagi secara seimbang dimana ibu yang mengatur keperluan rumah tangga seperti mengurus anak dari mulai sekolah dan kegiatan anak lainnya sedangan ayah yang mengatur keuangan keluarga. Menurut Rahmawati orangtua adalah komponen keluarga yang terdiri dari ayah dan ibu, yang merupakan hasil sebuah ikatan pernikahan yang sah (Rahmawati & Gazali, 2. Menurut penutuan siswa dengan usia 16 tahun dari SMA Negeri 1 Brebes : Ay Jadi, mama sama papa cerai waktu aku kelas 8. Sekarang aku tinggal sama mama aja. Papa udah nikah lagi dan udah jarang banget ketemu. Kadang kalau aku hubungi, juga gak dibalas. Dan semenjak mereka cerai, mama yang pegang kendali semua. Dari hal kecil kayak aku boleh main sama siapa, sampai soal jurusan kuliah nanti, semuanya mama yang tentuin. Aku gak bisa banyak komentar. Kalo aku coba kasi pendapat biasanya langsung ditolak. Mama suka bilang. AuMama lebih tahu, kamu masih anak-anak. Ay Jadi ya lama-lama aku malas ngomong. Percuma juga. Ay Seperti yang diungkapkan oleh siswa SMA berusia 16 tahun, pola komunikasi keluarga disfungsional karena perceraian membuat seorang ibu bertanggung jawab atas segalanya. Pola komunikasi yang tergambar dalam keluarga dari anak SMA tersebut adalah pola komunikasi Monopoli (Monopoly Patter. , dimana satu anggota keluarga memiliki kendali total atas komunikasi dan keputusan. Sedangkan anggota keluarga yang lain hanya memiliki sedikit kesempatan untuk menyuarakan Selain itu adapun penuturan dari orangtua B mengenai pola komunikasi didalam keluarganya: "Saya berusaha terbuka saat berkomunikasi dengan anak-anak, kalau ada hal penting saya akan mengajak anak-anak untuk berbicara santai mengenai hal itu. Dan biasanya saya meluangkan waktu untuk ngobrol dengan mereka di waktu malam hari disaat semua kegiatan telah selesai atau waktu sebelum tidur, agar anak-anak merasa tenang dan nyaman saat bercerita tentang keseharian mereka. Di keluarga juga saya menerepkan komunikasi dua arah, saya biasakan mendengar anak-anak bercerita terlebih dahulu baru saya memberikan tanggapan. Saya juga tegas dalam memberi aturan di rumah, akan tetapi saya juga mengusahakan memberikan nasihat dengan bahasa yang lembut agar mereka dapat memahami tentang aturan atau teguran yang saya berikan kepada mereka. Walaupun 2025 | Jurnal Studi Ilmu Sosial dan Politik (JASISPOL)/ Vol 5 No 1, 69-84 saya juga mempunyai tantangan karena anak-anak lebih suka bermain Hp, jadi saya usahakan mencari waktu yang pas dan pendekatan yang cocok agar mereka mau bercerita tentang keseharian mereka. Ay Dari penuturan orangtua B dapat dilihat bahwa pola komunikasi yang terjalin yaitu pola kesetaraan (Equality Patter. dimana setiap individu diberika kesempatan untuk berbicara, didengar dan hingga berpartisipasi dalam pengambilan keputusan. Pola ini juga mencerminkan hubungan yang demokratis dan terbuka. Menurut Yulianti pada dasarnya keluarga yang harmonis memiliki ciri antara lain saling menghargai antar anggota keluarga, mempunyai waktu luang bersama anggota keluarga dan memiliki komunikasi yang baik. Pola komunikasi dapat dilihat bagaimana orangtua membangun komunikasi dengan anak, pola komunikasi keluarga mempengaruhi keharmonisan keluarga karena adanya timbal balik antara keduanya atau yang biasa dikenal dengan sebutan komunikasi dua arah. Untuk menjalin hubungan antar anggota keluarga, adanya komunikasi yang baik dapat menciptakan suasana dan kondisi yang hangat antar anggota keluarga (Yulianti. Mona, et al. , 2. Menurut penuturan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 4 Kota Tegal : Ay Orang tua saya bercerai waktu saya masih SMP, sekitar kelas 2. Sekarang saya tinggal sama ibu, tapi masih kadang ketemu ayah juga, walaupun nggak terlalu sering. Dan ibu yang sering aku jadiin temen curhat, soalnya ibu yang selalu ada di rumah. Jadi saya merasa lebih dekat sama beliau. Semenjak ayah dan ibu bercerai pun komunikasinya jauh berkurang. Biasanya cuma lewat chat, itu pun kalau ada hal penting aja. Kadang beliau nelpon, tapi saya nggak terlalu nyaman. Rasanya kayak ngobrol sama orang asing. Ay Karena perceraian membuat keluarga informan disfungsional, sehingga pola komunikasinya berubah menjadi pola komunikasi Unbalanced Split Pattern (Tak Seimbang Terpisa. di mana salah satu pihak . alam hal ini ib. menjadi pusat komunikasi yang dominan, dan anggota keluarga lain . nak dan aya. memiliki hubungan komunikasi yang tidak seimbang atau minim interaksi langsung. Menurut mahasiswa C dari Politeknik Harapan Bersama (Harbe. Kota Tegal : AyKalau di dalam keluarga, ayah saya yang paling dominan. Ayah saya yang biasanya memutuskan segala sesuatu, mau itu masalah besar atau kecil. Dan anggota keluarga yang lain seperti ibu saya, saya dan adik saysa bisa untuk menyampaikan opini atau pendapat kita, tapi ya semua itu ga mempengaruhi keputusan ayah saya. Karena ayah saya kalu sudah bilang A ya harus A gitu si. Ay Menurut pendapat mahasiswa C dapat dilihat bahwa pola komunikasi di dalam keluarganya merupakan Monopoly Pattern (Pola Monopol. , dimana peran ayah didalam keluarga mahasiswa C sangat mendominasi atau memiliki kendali total atas komunikasi dan Keputusan. Sedangkan keluarga yang lain hanya memiliki sedikit kesempatan untuk menyuarakan pendapat mereka atau bahkan tidak memiliki suara sama sekali. Menurut penuturan mahasiswa D dari Universitas Muhammadiyah Tegal : AyPola komunikasi dalam keluarga saya cukup seimbang, orangtua saya memberikan kesempatan kepada saya dan adik-adik saya untuk berbicara dan menyampaika pendapat. Kami juga memiliki waktu untuk berdiskusi dan mencari solusi bersama. Jika saya berdiskusi dengan orangtua saya, saya merasa nyaman dan dihargai karena orangtua saya mendengarkan pendapat saya dengan memberikan saran yang konstruktif. Disaat ada perbedaan pendapat didalam keluarga kami mencoba untuk mendengarkan dan memahami pendapat masing-masing terlebih dahulu, jika perlu kami juga mencari kompromi yang sesuai untuk semua pihak. Hubungan saya dengan orangtua juga baik bahkan sangat baik, kai memiliki komunikasi yang terbuka dan saling menghargai. Saya juga merasa orangtua saya mempercayai saya dan memberikan kesempatan dalam membuat keputusan sendiri. Ay Penuturan dari mahasiswa D pola komunikasi yang digunakan didalam keluargannya menggunakan pola komunikasi Balanced Split Pattern (Pola Pembagian Seimban. , dimana tanggung jawab keluarga dibagi secara seimbang berdasarkan keahlian atau tugas masing-masing anggota. Komunikasi bersifat saling menghormati dan tidak ada suatu pihak yang lebih dominan. Menurut Ridha Afrianti peran keluarga sangat penting bagi perkembangan anak dan pola komunikasi keluarga merupakan pola 2025 | Jurnal Studi Ilmu Sosial dan Politik (JASISPOL)/ Vol 5 No 1, 69-84 orangtua dalam mengembangkan gaya berkomunikasi dengan anak (Afrianti, 2. Menurut penuturan orangtua C : AyYa, saya masih tinggal bersama pasangan dan anak-anak. Tapi kalau dibilang AuutuhAy secara keluarga, ya hanya secara struktur saja. Secara hubungan, komunikasi kami sering tegang, tidak Sejujurnya, saya merasa komunikasi di rumah itu berat sebelah. Saya yang lebih sering mengambil keputusan, lebih dominan dalam hal pendidikan anak, urusan rumah, bahkan soal Pasangan saya lebih banyak diam atau menyerahkan semua pada saya. Iya. Bisa dibilang seperti itu. Saya kadang merasa seperti Aukepala tunggalAy walau kami masih tinggal bersama. Kalau saya nggak inisiatif atau bicara duluan, biasanya rumah jadi seperti AuasingAy. Komunikasi satu arah atau tidak saling terbuka. Ay Dari penuturan orangtua C, komunikasi didalam keluarganya termasu kedalam pola kounikasi Unbalanced Split Pattern (Tak Simbang Terpisa. Pola komunikasi didalam keluarganya yang disfungsional utuh secara struktural . rtinya orangtua tidak bercera. , namun memiliki hubungan dan pola interaksi yang buruk. Menurut penuturan anak usia 13 tahun dari SMP Negeri 4 Kota Tegal : AyDi rumah yang paling banyak mutusin biasanya ayah si, kayak mau apa-apa ya ayah yang nentuin. Dan kalo aku berpendapat tentang sekolah atau teman ayah cuman jawab Aoanak kecil ga usah banyak omongAo, jadi aku jarang bisa untuk berpendapat karena udah ngerasa males aja dengan jawaban orang-orang rumah yg kek gitu. Ay Dari penuturan siswa dengan usia 13 tahun dari SMP Negeri 4 Kota Tegal, dapat dilihat jika didalam keluarga anak tersebut menggunakan pola komunikasi Monopoly Pattern (Pola Monopol. yang dimana figur seorang ayah menjadi dominan di dalam keluarga mereka. Dimana didalam keluarga siswa SMP tersebut termasuk kedalam kondisi keluarga disfungsional yang utuh secara struktural akan tetapi hubungan interaksi didalamnya sangatlah buruk. Menurut penuturan dari orangtua D : Ay Komunikasi di rumah cenderung satu arah, pasangan saya sangat dominan. Beliau selalu yang menentukan segalanya mulai dari keputusan kecil sampai yang besar. Saya dan anak-anak lebih sering diam, karena kalau mencoba bicara, malah sering dibantah atau dianggap tidak penting. Secara struktur, keluarga kami masih lengkap. Tapi kalau bicara soal hubungan, jujur saya bisa bilang. Kami hanya sebatas hidup bersama, tapi tidak benar-benar "bersama". Dan karena hanya satu suara yang dianggap valid di rumah. Kadang saya ingin menanggapi atau memberi masukan, tapi akhirnya malas bicara karena selalu berujung pada konflik atau dianggap remeh. Ay Dalam keluarga disfungsional yang utuh secara struktural, ada pola komunikasi yang buruk didalamnya. Pola komuniasi didalam keluarga informan mengacu pada pola komunikasi Monopoly Pattern (Pola Monopol. , yang dimana satu pihak dominan secara verbal dan keputusan. 2 Resiliensi Pada Anak di Kota Tegal Dalam bidang psikologi perkembangan, fokus utamanya adalah resiliensi pada anak yang menekankan kemampuan mereka untuk mengatasi tantangan dan stres. Anak-anak menghadapi berbagai masalah di era yang semakin kompleks dan menuntut ini, yang dapat mempengaruhi kesehatan dan perkembangan mereka secara keseluruhan. Oleh karena itu, penting untuk memahami komponen yang berkontribusi terhadap pembentukan resiliensi pada tahap perkembangan ini. Resiliensi biasanya mengacu pada anakanak yang mampu menangani situasi sulit dan tekanan. Proses parenting yang dialami setiap anak merupakan elemen yang paling penting. Sejauh yang kita ketahui, setiap keluarga memiliki cara unik untuk mendidik anak mereka. Semua orang tua memiliki harapan dan cita-cita khusus untuk anak mereka, yang dipengaruhi oleh banyak faktor. Namun, jika orang tua ingin mendidik anak mereka menjadi kuat, maka semua upaya mereka harus berfokus pada menumbuhkan resiliensi pada anak. Resiliensi pada anak-anak menjadi topik yang semakin mendapat perhatian dalam bidang psikologi perkembangan dan pendidikan. Dalam konteks kehidupan yang penuh dengan tantangan dan tekanan, kemampuan anak-anak untuk bertahan dan pulih dari situasi yang sulit menjadi kunci penting dalam 2025 | Jurnal Studi Ilmu Sosial dan Politik (JASISPOL)/ Vol 5 No 1, 69-84 pembentukan kesejahteraan dan kesuksesan mereka di masa depan (Sri Rukmana et al. , 2. Resiliensi secara umum digambarkan sebuah proses beserta hasil penyesuaian diri dengan berbagai permasalahan hidup yang penuh tantangan, yang mencakup tentang fleksibilitas mental, emosional dan perilaku (Ekaningtyas & Wiguna, 2. Adapun tiga faktor resiliensi menurut Grotberg dalam Evita Yuliatul Wahidah : . Faktor I Have, merupakan dukungan dari sumber dalam dan eksternal yang meningkatkan daya lentur. sebelum anak belajar siapa dia (I A. atau apa yang dia bisa lakukan (I Ca. Remaja membutuhkan dukungan eksternal dan sumber daya agar mereka dapat tumbuh dalam persaan keselamatan dan keamanan, yang merupakan dasar dari apa yang disebut resilience. Bantuan dan sumber dari luar meningkatkan resiliensi, . Faktor I Am, merupakan kekuatan internal . alam dir. yang terdiri dari perasaan, sikap, dan keyakinan anak, . Faktor I Can, adalah kemampuan seseorang untuk berkomunikasi dengan orang lain, menyampaikan pikiran dan perasaan mereka, memecahkan masalah dalam berbagai aspek kehidupan, seperti akademik, pekerjaan, pribadi, dan sosial, dan mengontrol tingkah laku (Wahidah. Selain itu, mendapatkan bantuan saat diperlukan. Seperti yang dikatakan oleh mahasiswa E dari Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Kota Tegal: AySaya juga ga merasa ada dukungan di dalam keluarga, hampir ga ada malah. Bukannya saya mendapat dukungan dari keluarga malah saya dibikin stress sama keluarga. Makanya saya lebih sering cari dukungan diluar keluarga, contohnya waktu saya SMP dan SMA saya dekat degan beberapa guru. Mereka suka kasih motivasi kalau lihat saya murung, disisi lain teman-teman saya juga sering menjadi tempat curhat saya. Di perkuliahan juga saya ikut komunitas sosial yang dimana saya merasa di terima dan dihargai, mungkin kalau ga ada teman, guru atau yang lain saya udah nyerah dengan kondisi. Ay Dari penuturan informan, resiliensi yang terbentuk dalam dirinya yaitu menggunakan pendekatan faktor AyI HaveAy. Dengan kondisi keluarga yang disfungsional utuh secara struktural akan tetapi buruk dalam hubungan didalamnya, informan lebih banyak mendapat dukungan atau support dari lingkungan diluar Menurut Satwika dalam Altaf dukungan emosional keluarga terbukti memiliki peran signifikan dalam meningkatkan self-compassion atau kemampuan untuk bersikap baik dengan penuh perhatian dan kasih sayang pada diri sendiri terutama saat menghadapi kesulitan atau kegagalan (Althaf et al. , 2. Menurut siswa sekolah menengah pertama (SMP) Negeri 3 Kota Tegal : AyOrang tua saya bercerai sejak saya kelas 6 SD. Sekarang saya tinggal sama mama, kadang akhir pekan ketemu papa. Semenjak papa sama mama bercerai saya ngerasa adanya perubahan besar. Dulu waktu masih bareng, walaupun sering berantem, tapi ya tetap kumpul. Sekarang beda. Rumah jadi lebih sepi, dan saya lebih sering sendiri. Dan yang paling banyak bantu saya buat bangkit itu mama Dia kerja keras, tapi tetap sempatin waktu buat dengerin saya. Kalau saya sedih atau bingung, mama selalu bilang. AuKamu kuat kok. Ay Selain mama ada orang lain juga yang bantu buat nguatin antara aku sama mama yaitu ada tante saya, adik mama. Kadang saya curhat ke dia juga. Dia suka kasih nasihat yang bikin saya merasa nggak sendiri. Saya juga punya teman, ada beberapa yang dekat. Mereka tahu soal keluarga saya, tapi nggak ngejek atau gimana. Malah suka ngajak main biar saya nggak kepikiran terus. Kalau guru, ada satu guru BK yang baik. Bu Rina. Saya pernah cerita dan beliau dengerin tanpa menghakimi. Ay Dari penuturan informan, dengan kondisi keluarga yang disfungsional karena perceraian ada banyak orang sekitar yang membantu dan memberi support terhadap informan dan ibunya. Resiliensi yang terbentuk di dalam diri informan menggunakan pendekatan faktor AyI HaveAy yang berfokus pada dukungan eksternal, yang dimiliki oleh anak dalam menghadapi situasi sulit. Yang dimana seorang orangtua . memberikan rasa aman dan dukungan emosional, sedangkan anggota keluarga lain seperti tante, teman dekat dan guru BK menjadi tempat berbagi, pemberi nasihat positif dan pendengar yang baik tanpa ada rasa menghakimi. Menurut siswa usia 17 tahun dari SMA Negeri 3 Kota Tegal : AyAku lebih banyak ngobrol sama diri sendiri, aku juga sering nulis dibuku harian atau lebih ke curhat si ya. Dan aku juga sering ngingetin diri ku sendiri kalo ini cuman fase suatu saat aku bisa punya hidup yang lebih baik, aku juga selalu mencari motivasi dan nonton video yang menginspirasi atau baca 2025 | Jurnal Studi Ilmu Sosial dan Politik (JASISPOL)/ Vol 5 No 1, 69-84 buku. Aku juga percaya sama diri sendiri dan aku yakin walaupun keluargaku ga sempurna, aku bisa sukses asal tetep semangat. Ay Dari penuturan anak usia 17 tahun dari SMA Negeri 3 Kota Tegal, dengan kondisi keluarga yang disfungsional utuh secara struktural faktor pendorong dalam diri informan menggunakan pendekatan faktor AyI AmAy. Yang merupakan kekuatan internal . alam dir. yang terdiri dari perasaan, sikap, dan keyakinan anak. Menurut penuturan anak usia 18 tahun dari SMA Negeri 1 Kota Tegal : AyKalau untuk tempat cerita atau lagi membutuhkan dukungan, saya lebih memilih bercerita ke sahabat. Kadang juga saya bercerita dengan guru BK di sekolah, untungnya juga guru BK sekolah lumayan perhatian dan terkadang suka nanyain kalau ngeliat saya sedang tidak baik-baik saja atau murung. Dan menurut ku dukungan dari luar keluarga mempunyai efek yang besar ke dalam diri saya, karena kalo ga ada teman, sahabat atau yang lain mungkin saya udah stress parah. Terus juga teman-teman suka ngajak bermain, ketawa-ketawa jadi saya agak lupa sama problem yang ada di dalem rumah. Selain itu juga guru BK selalu ngasih saya motivasi, yang ngebuat saya jadi ada semangat untuk ngejalanin hidup. Ay Menurut penuturan anak usia 18 tahun dari SMA Negeri 1 Kota Tegal, dengan kondisi keluarga disfungsional yang utuh secara struktural akan tetapi hubungan di dalamnya buruk pendekatan faktor resiliensi yang digunakan oleh informan ialah AyI Have. Ay Yang dimana membutuhkan dukungan eksternal dan sumber daya agar mereka dapat tumbuh dalam persaan keselamatan dan keamanan. Menurut penuturan siswa usia 18 tahun sekolah menengah pertama (SMP) Negeri 9 Kota Tegal : Ay Orang tua saya pisah sejak saya kelas 5 SD. Sekarang saya tinggal sama ibu. Ayah jarang ketemu, paling cuma lewat chat atau kalau lebaran. Dan yang paling berat itu pas masa awal-awal, saya bingung harus bagaimana. Teman-teman banyak nanya, saya malu. Di rumah juga suasananya beda. Kadang saya nangis sendiri. Lambat laun saya belajar untuk lebih mandiri. Dulu kalau ada masalah, saya nyari ibu terus. Tapi sekarang saya coba selesaikan sendiri dulu. Kalau masih bingung, baru tanya ibu. Saya juga biasanya nulis di buku harian. Kalau nulis, rasanya lebih lega. Kadang juga dengerin musik atau gambar. Itu bikin saya lebih tenang. Ay Dari penuturan informan, dengan kondisi keluarga yang disfungsional akibat perceraian ia menggunakan pendekatan faktor AyI CanAy. Yang dimana dalam faktor AyI CanAy dalam kerangka resiliensi merujuk pada kemampuan internal anak dalam menghadapi tantangan, seperti keterampilan sosial, kemampuan mengontrol emosi, dan kemampuan memecahkan masalah. Menurut penuturan mahasiswa F Universitas Pancasakti Kota Tegal : Ay Orang tua saya bercerai waktu saya SMA kelas 2. Awalnya cukup kaget, tapi sebenarnya konflik mereka sudah lama. Sekarang saya tinggal dengan ibu, dan hubungan dengan ayah hanya sesekali, lebih ke formalitas saja. Dan semenjak ayah dan ibu berpisah saya merasa kalau diri saya pribadi lebih Banyak hal yang dulunya saya keluhkan, sekarang saya belajar menerima. Saya jadi merasa punya tanggung jawab atas diri sendiri, dan saya yakin saya bisa menentukan hidup saya sendiri. Justru sejak kejadian itu saya mulai sering refleksi. Saya jadi tahu batasan saya, tahu nilai-nilai apa yang penting buat saya. Misalnya, saya sadar saya sangat menghargai kejujuran dan ketulusan karena itu yang dulu hilang di rumah. Ay Dengan kondisi keluarga yang disfungsional akibat perceraian, informan menggunakan pendekatan faktor AyI AmAy dalam resiliensi. Dimana AyI AmAy adalah bagian dari kerangka resiliensi yang menggambarkan persepsi positif seseorang terhadap dirinya sendiri, seperti memiliki harga diri, percaya diri, merasa bermakna, dan bertanggung jawab. Menurut penuturan informan siswa sekolah menengah atas (SMA) Negeri 2 Kota Tegal : Ay Orang tua saya bercerai waktu saya kelas 2 SMP. Awalnya saya tinggal sama ibu, tapi sekarang saya tinggal sama nenek karena ibu kerja di luar kota. Ayah saya jarang berhubungan sejak perceraian. Semenjak ayah dan ibu berpisah, rasanya saya kehilangan arah. Rumah jadi sepi, dan saya sering 2025 | Jurnal Studi Ilmu Sosial dan Politik (JASISPOL)/ Vol 5 No 1, 69-84 merasa sendirian. Dulu kalau ada masalah, saya bisa cerita ke ibu dan ayah. Tapi setelah mereka pisah, saya bingung harus cerita ke siapa. Akan tetapi saya punya nenek, 2 sahabat disekolah dan bu dinda selaku guru Bk sekolah saya, dan nenek yang paling sering ada di rumah, selalu tanya kabar saya, bangunin sekolah, dan masakin. beliau nggak banyak omong, tapi saya merasa diperhatikan, sedangkan dua sahabat saya mereka tahu soal kondisi keluarga saya, dan mereka nggak pernah ngejudge. Kalau saya lagi sedih atau nggak semangat, mereka suka ngajak keluar, atau sekadar dengerin cerita saya. Bahkan Bu Dinda, juga sangat baik. Saya pernah dipanggil karena nilai turun, lalu saya cerita apa yang terjadi di rumah. Sejak saat itu, beliau selalu menyapa saya dan kadang ngajak ngobrol empat mata. Itu cukup membantu. Ay Dari kondisi keluarga informan yang disfungsional akibat perceraian, membuat informan mendapatkan dukungan dari luar. Dengan fokus pada faktor AyI HaveAy, dukungan atau support dari luar yang menjadikan informan dapat bangkit dari masa terpuruknya. merupakan dukungan dari sumber dalam dan eksternal yang meningkatkan daya lentur. sebelum anak belajar siapa dia (I A. atau apa yang dia bisa lakukan (I Ca. Remaja membutuhkan dukungan eksternal dan sumber daya agar mereka dapat tumbuh dalam persaan keselamatan dan keamanan. Menurut penuturan mahasiswa G Universitas Muhammadiyah Kota Tegal : AyAwalnya saya kaget dan sempat menyalahkan diri sendiri, tapi sekarang saya bisa menerima itu sebagai bagian dari hidup. Saya tinggal sama ibu dan adik saya, ayah jarang komunikasi. Waktu itu saya merasa hancur. Saya jadi minder, merasa nggak lengkap. Tapi seiring waktu, saya belajar untuk melihat bahwa nilai diri saya nggak ditentukan oleh keadaan keluarga saya. Dan saya orang yang bertanggung jawab. Meskipun situasi di rumah kacau waktu itu, saya tetap berusaha jaga nilai kuliah. Saya juga tipe orang yang punya harapan. Saya percaya bahwa masa lalu nggak menentukan siapa saya di masa depan. Ay Dari penuturan informan dengan kondisi keluarga yang disfungsional akibat perceraian, menjadikan informan mempunyai rasa tanggung jawab dan nilai hidup yang perlu diambil. Fokus pada faktor resiliensi yang digunakan informan ialah AyI Am. Ay Yang dimana faktor ini merupakan kerangka resiliensi mengacu pada kekuatan internal seseorang, seperti kepercayaan diri, rasa tanggung jawab, harga diri, nilai hidup, serta harapan masa depan. Ini mencerminkan siapa dia sebagai pribadi. Menurut penuturan guru BK dari SMA Negeri 1 Kota Tegal : AyTentu. Kami cukup sering menemui siswa yang berasal dari keluarga dengan kondisi tidak ideal, entah karena konflik berkepanjangan, kekerasan verbal, atau perceraian. Tapi yang menarik, tidak semua dari mereka terpuruk. Beberapa justru punya daya tahan luar biasa. Sangat besar. Dalam konteks disfungsional, saya melihat adanya peran sangat besar dari lingkungan sekitar yang membuat siswa dapat membentuk ketahanan dari dalam diri. Dukungan dari luar misalnya guru, teman dekat, atau keluarga lain biasanya lebih kuat secara emosional. Mereka merasa tidak sendirian, dan itu Adapun contoh dimana satu siswa yang orang tuanya sering bertengkar hebat bahkan di depan anak-anak, tapi anak ini tetap aktif di sekolah, bahkan jadi pengurus OSIS. Setelah saya amati, ternyata dia dekat dengan wali kelasnya dan punya sahabat yang sangat suportif. Mereka adalah sumber rasa aman bagi dia. Ay Dari penuturan guru BK dari SMA Negeri 1 Kota Tegal tentang resiliensi dari berbagai siswa yang terfokus pada faktor AyI HaveAy terhadap kondisi keluarga disfungsional. Yang dimana faktor I Have mengacu pada dukungan eksternal yang dimiliki individu . alam hal ini sisw. , seperti kehadiran orang dewasa yang dapat dipercaya, lingkungan aman, atau komunitas yang memberi rasa diterima dan Kesimpulan Banyak anak-anak di Kota Tegal sangat kuat meskipun menghadapi komunikasi yang tidak efektif. Kemampuan anak untuk menghadapi tantangan dan bangkit dari kesulitan menunjukkan resiliensi ini. Ini terjadi bahkan ketika mereka berada dalam lingkungan atau keluarga yang tidak mendukung. Faktorfaktor seperti dukungan dari teman sebaya, contoh positif dari luar keluarga, dan keterlibatan dalam 2025 | Jurnal Studi Ilmu Sosial dan Politik (JASISPOL)/ Vol 5 No 1, 69-84 kegiatan sosial dapat membantu anak menjadi lebih tahan. Secara keseluruhan, penting untuk terus meningkatkan pemahaman dan praktik komunikasi yang positif dalam keluarga dan masyarakat agar anak-anak di Kota Tegal dapat lebih terlindungi dan lebih mampu mengatasi tantangan, meskipun pola komunikasi disfungsional dapat menghambat perkembangan mereka. Hasil penelitian kualitatif yang dilakukan di Kota Tegal menunjukkan bahwa pola komunikasi dalam keluarga disfungsional dan dampaknya terhadap resiliensi anak sangat berpengaruh. Simpulan mencakup jawaban atas pertanyaan tentang tujuan penulisan serta rekomendasi untuk pihak-pihak yang terkait. Adanya ketegangan, ketidakjelasan dalam interaksi, atau ketidak mampuan orang tua atau lingkungan sekitar anak untuk memberikan dukungan yang efektif adalah beberapa karakteristik yang sering ditandai dengan pola komunikasi ini. Anak dapat merasa tidak dihargai atau tidak percaya diri karena hal ini, yang dapat memperburuk kesehatan mental mereka. Penelitian tentang analisis pola komunikasi dalam disfungsional family dan resiliensi pada anak di Kota Tegal, menunjukkan bahwa pola komunikasi Monopoli (Monopoly Patter. lebih banyak digunakan dalam keluarga di Kota Tegal. Hal ini disebabkan oleh kultur dan tradisi lokal yang masih kuat, serta pengaruh lingkungan sosial dan ekonomi yang membentuk pola komunikasi dalam keluarga. Keluarga di Kota Tegal cenderung memiliki pola komunikasi yang otoriter dimana, orangtua memiliki kekuasaan yang lebih besar dalam membuat keputusan dan mengatur anak. Hal ini dapat mempengaruhi resiliensi anak, karena anak mungkin tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dalan menghadapi tantangan dan kesulitan. Namun, penelitian ini juga menunjukkan bahwa anak-anak di Kota Tegal yang tumbuh dalam keluarga yang mengalami disfungsional family cenderung menggunakan fokus pada faktor AyI HaveAy sebagai strategi untuk membangun resiliensi. Mereka mencari dukungan dari luar keluarga seperti teman atau guru untuk membantu mereka menghadapi tantangan dan kesulitan. Menariknya, menurut penuturan guru BK sebagai pihak terkait dalam Analisis Pola Komunikasi Dalam Disfungsional Family & Resiliensi Pada Anak Di Kota Tegal dukungan dari orangtua atau keluarga menjadi faktor penting dalam resiliensi anak. Hal ini menunjukan bahwa meskipun pola komunikasi dalam keluarga di Kota Tegal cenderung otoriter, namun dukungan dari orangtua atau keluarga masih sangat penting dalam membantu anak mengembangkan resiliensi. Orangtua otoriter dalam keluarga disfungsional tetap dapat membantu anak menjadi tangguh jika mereka mau mengubah gaya komunikasi dan memberikan dukungan emosional yang konsisten. Anak membutuhkan rasa aman, bukan hanya aturan. Keseimbangan antara struktur dan kasih sayang adalah kunci agar anak tidak hanya patuh, tetapi juga tumbuh sehat secara mental da emosional. Resiliensi tumbuh saat anak merasa dicintai, dihargai dan punya peran dalam hidupnya sendiri. Hasil penelitian ini memiliki implikasi bagi praktisi yang bekerja dengan keluarga dan anak di Kota Tegal. Praktisi dapat menggunakan hasil penelitian ini untuk mengembangkan program interverensi yang bertujuan meningkatkan pola komunikasi dalam keluarga dan resiliensi pada anak. Selain itu, praktisi juga dapat meningkatkan kesadaran orangtua tentang pentingnya dukungan dari orangtua atau keluarga dalam membantu anak mengembangkan resiliensi. Dengan demikian, penelitian ini dapat memberikan kontribusi pada pemahaman tentang pola komunikasi dalam disfungsional family dan resiliensi pada anak di Kota Tegal. Serta dapat membantu praktisi dalam mengembangkan program intervensi yang efektif untuk meningkatkan resiliensi anak. Limitasi dan Studi Lanjutan Penelitian tentang analisis pola komunikasi dalam disfungsional family dan resiliensi pada resiliensi anak di Kota Tegal memiliki beberapa limitasi diantaranya : . Memiliki sampel yang terbatas, dimana penelitian ini hanya melibatkan sampel yang terbatas. Sehingga hasil penelitian ini mungkin tidak dapat di generalisir ke populasi yang lebih luas, . Metode penelitian, penelitian ini menggunakan metode kualitatif, sehingga hasil penelitian ini mungkin tidak dapat diukur secara kualitatif, . Berfokus pada Kota Tegal, dimana penelitian ini hanya berfokus pada Kota Tegal, yang mungkin tidak dapat di generalisir ke daerah lain. 2025 | Jurnal Studi Ilmu Sosial dan Politik (JASISPOL)/ Vol 5 No 1, 69-84 Studi lanjutan yang dapat dilakukan untuk memperluas pengetahuan tentang analisis pola komunikasi dalam disfungsional family dan resiliensi pada anak adalah : . Penelitian kualitatif, dimana penelitian kualitatif dapat dilakukan untuk mengukur secara lebih akurat hubungan antara pola komunikasi dan resiliensi pada anak, . Penelitian longitudinal, penelitian ini dapat dilakukan untuk memantau perkembangan resiliensi anak dalam jangka wsaktu yang lebih lama, . Penelitian komparatif, penelitian ini juga dapat dilakukan untuk membandingkan pola komunikasi dan resiliensi pada anak di daerah lain, . Pengembangan interverensi, dimana pengembangan interverensi dapat dilakukan untuk meningkatkan resiliensi anak dalam keluarga disfungsional. Dengan demikian, penelitian selanjutnya dapat memperluas pengetahuan tentang analisis pola komunikasi dalam disfungsional family dan resiliensi pada anak, serta dapat memberikan kontribusi pada pengembangan interverensi yang efektif untuk meningkatkan resiliensi anak. Ucapan Terima Kasih Peneliti ingin mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dan mendukung penelitian ini. Peneliti sangat berterimakasih kepada seluruh informan yang telah bersedia berbagi pengalaman dan pengetahuan mereka tentang Pola Komunikasi Dalam Disfungsional Family & Resiliensi Pada Anak Di Kota Tegal seperti guru BK dan pihak sekolah yang telah membantu memfasilitasi penelitian ini dan memberikan dukungan yang sangat berharga, orangtua dan keluarga yang telah memberikan izin dan dukungan untuk melakukan penelitian ini, kemudian pihak lain yang telah membantu dalam proses penelitian baik secara langsung maupun tidak langsung. Peneliti juga mengucapkan terimakasih kepada lembaga penelitian dan universitas yang telah memberika dukungan dan fasilitas untuk melakuka penelitian ini. Peneliti juga mengucapkan terimakasih atas segala bantuan dan dukungan yang telah diberikan, semoga penelitian ini dapat memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi masyarakat dan dapat digunakan sebagai acuan untuk penelitian selanjutnya. Peneliti juga ingin mengucapkan terimakasih kepada bapak Diryo Suparto. Sos. Si dan ibu Ike Desi Florina M. Kom sebagai pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan arahan yang sangat berharga selama proses penelitian, peneliti juga ingin mengucapkan terimakasih kepada teman-teman kelas sekaligus angkatan 21 progdi Ilmu Komunikasi Universitas Pancasakti Tegal serta teman-teman diluar Universitas Pancasakti Tegal yang telah membantu dan mendukung penelitian ini. Peneliti juga ingin mengucapkan terimakasih kepada seseorang yang teristimewa, yaitu Harits Muzaki Farda Abdillah sekaligus calon suami dari peneliti yang selalu menemani dalam keadaan suka maupun duka, yang selalu mendengarkan keluh kesah peneliti dan selalu memberikan dukungan, motivasi, pengingat dan menemani peneliti selama 4 tahun dari awal masuk perkuliahan hingga sekarang. Tak lupa juga peneliti ingin mengucapkan terimakasih kepada orangtua dan keluarga terutama ibu dan kaka peneliti yang telah mendukung dan mendoakan hingga peneliti bisa sampai berada dititik sekarang. Terimakasih atas segala bantuan dan dukungan yang telah diberikan, semoga penelitian ini dapat memberikan hasil yang bermanfaat dan dapat digunakan sebagai acuan untuk penelitian selanjutnya Referensi