Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) Vol. 7 No. 3 Juli 2023 e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 DOI: 10. 58258/jisip. 5302/http://ejournal. org/index. php/JISIP/index Dinamika Perkembangan Zaman Yang Terjadi Pada Sistem Kepercayaan Pada Masyarakat Adat Ammatoa Kajang (Studi Kasus Pada Masyarakat Kajang Dalam Dan Kajang Lua. Evi Alfira1. Andi Agustang2. Muhammad Syukur3 Article Info Accept : 03 Juni 2023 Publish : 06 July 2023 Keywords: Ammatoa. Patuntung,Tu Rie' A'ra'na (Go. Info Artikel Kata Kunci: Diterima : 03 Juni 2023 Publis : 06 Juli 2023 Universitas Negeri Makassar Abstract The purpose of writing this article is to better understand the dynamics of the times that occur in the belief system of the Ammatoa Kajang indigenous people . case study of the inner and outer Kajang peopl. This study aims to find out . the general description of the Ammatoa Kajang adat, . the system of belief in the Ammatoa Kajang adat community . nner kajang and outer kajan. , . the urgency of Patuntung belief in the kajang community. The method used in writing this article is to use historical research methods using a qualitative approach. qualitative approach is a type of research whose findings are not obtained through statistical procedures or other Data collection techniques using 4 stages, namely heuristics, criticism, interpretation and The Ammatoa Kajang indigenous people adhere to a belief called the patuntung belief. The Patuntung teachings teach that if humans want to find the source of truth, then the people of Kajang must rely on three main pillars, namely respect for Tu Rie'A'ra'na (Go. , the land given to them by Tu Rie'A'ra'na and their ancestor In the Kajang Dalam community, they still adhere to the customary rules made by their ancestors which were listed on the ri kajang pairs. But in the Kajang Outer community, they have started to follow the development of the current era, in which the rituals that are carried out have decreased in fulfilling the implementation requirements. this ritual and also wearing brightly colored clothes, unlike the case with the inner kajang, which still wears black clothes and does not use footwear. Abstract Tujuan penulisan artikel ini untuk lebih memamahami dinamika perkembangan zaman yang terjadi pada sistem kepercayaan pada masyarakat adat ammatoa kajang . tudi kasus pada masyarakat kajang dalam dan kajang lua. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui . Gambaran umum adat ammatoa kajang, . Sistem kepercayaan pada masyarakat adat ammatoa kajang . ajang dalam dan kajang lua. , . Urgensi Kepercayaan Patuntung didalam masyarakat kajang. Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah menggunakan metode penelitian sejarah dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif ialah jenis penelitian yang ditemuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau hitungan lainnya. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan 4 tahap yaitu heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Masyarakat adat ammatoa Kajang menganut kepercayaan yang disebut kepercayaan patuntung. Ajaran patuntung mengajarakan,iika manusia ingin mendapatkan sumber kebenaran,maka masyarakat kajang wajib menyandarkan diri pada tiga pilar utama,yaitu menghormatan Tu RieAoAAoraAona (Tuha. ,tanah yang diberikan oleh Tu RieAoAAoraAona dan nenek Pada masyarakat kajang dalam masih berpengang teguh dengan aturan adat yang dibuat oleh nenek moyang mereka yang tertera pada pasang ri kajang. Tetapi pada masyarakat kajang luar sudah mulai mengikuti perkembangan zaman yang ada,yang dimana ritual-ritual yang di jalankan sudah berkurang dalam memenuhi syarat pelaksanaan ritual tersebut dan juga sudah menggunakan pakaian yang berwarna terang beda halnya dengan kajang dalam yang masih menggunakan pakaian hitam dan tidak menggunakan alas kaki. This is an open access article under the Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 0 Internasional Corresponding Author: Evi Alfira Universitas Negeri Makassar Email : evialfira016@gmail. PENDAHULUAN Dari Sabang sampai Merauke. Indonesia adalah negara pluralisme dan multikulturalisme yang kaya akan khazanah keberagaman suku, agama, ras, dan kepercayaan. Semboyan Indonesia. AuBhinneka Tunggal IkaAy yang berbeda-beda namun tetap sama, tidaklah mengherankan. Keyakinan merupakan topik yang menarik di antara keragaman yang ada dan memiliki kedudukan yang berperan penting dalam seluruh aspek kehidupan individu dan kolektif sebagai bagian dari identitas warga negara. Hal ini dicontohkan dalam rumusan Pancasila, khususnya pada sila pertama. AuKeyakinan dalam Ketuhanan Yang Maha EsaAy, yang menggariskan hubungan antara manusia dengan Tuhan sebagai landasan kehidupan. ur, 2. Salah satu suku tradisionalnya adalah Kajang yang berada di Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan, sekitar 200 kilometer arah timur Kota Makassar. Terdapat 8 desa dan 6 dusun di wilayah Kajang. kabupaten ini dibagi secara geografis menjadi dua bagian: Kajang dalam 2230 | Dinamika Perkembangan Zaman Yang Terjadi Pada Sistem Kepercayaan Pada Masyarakat Adat Ammatoa Kajang (Studi Kasus Pada Masyarakat Kajang Dalam Dan Kajang Lua. (Evi Alfir. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 . arga Kajang, mereka diklasifikasikan "Tau Kajang") dan Kajang luar . rang-orang yang tinggal di sekitar marga Kajang yang sekarang sedang, mereka disebut "Tau Lembang". Selain itu. Kabupaten Kajang terkenal dengan hukum adatnya yang kokoh dan masih berlaku hingga saat ini. Mereka jauh dari modernisasi, bisnis, dan pemerintahan Kabupaten Bulukumba. Bisa jadi karena hubungan masyarakat adat dengan lingkungan hutannya yang selalu berlandaskan pada cara hidup tradisional mereka. Masyarakat Ammatoa adalah nama masyarakat purba ini. Menurut data statistik, masyarakat Ammatoa Kajang beragama Islam dan mendiami kawasan adat desa Tanatoa di kabupaten Bulukumba. Masyarakat Ammatoa memegang kearifan lokal berupa Pasang ri Kajang menciptakan keharmonisan, keseimbangan, dan kesinambungan antara manusia, lingkungan tempat tinggal, lingkungan alam, dan pencipta. Turi' A'ra'na adalah ungkapan dogmatis yang berarti bahwa manusia memiliki kehendak. ambu, 2. Masyarakat Kajang menganut paham ganda, salah satunya menganut kepercayaan Pattuntung, dimana Islam adalah agama resmi negara dan ajaran Pattuntung merupakan ajaran wajib leluhur. Di sisi lain, mereka mengaku beragama Islam. Sebagai warisan spiritual leluhur, masyarakat Kajang mengandalkan patuntung sebagai sumber kebenaran. Pemahaman masyarakat adat Ammatoa terhadap ajaran Islam tidak didasarkan pada pemahaman syariat Islam melainkan pada kegiatan terkait yang dikenal dengan tarekat. Meneliti agamaDoa tamattapuka, yang diterjemahkan menjadi Auwudhu yang tidak pernah batalAy dan Audoa yang tidak pernah terputus, merupakan salah satu wujud pemahaman masyarakat Ammatoa terhadap tarekat. (Arman, 2. Pada dasarnya, sistem kepercayaan atau agama terdiri dari ide-ide yang mengarah pada keyakinan dan kepatuhan pengikutnya. Keyakinan ini mencakup pengertian "Tuhan", kepercayaan akan adanya kekuatan gaib, kepercayaan akan adanya dunia gaib, dan berbagai kepercayaan lain yang dapat menimbulkan rasa percaya terhadap apa yang diyakini. Menurut pandangan tersebut, masyarakat adat Kajang pada hakekatnya lahir, tumbuh, dan berkembang tanpa mengandalkan agama Tuhan sebagai pedoman. Mereka percaya bahwa Turi'e A'ra'na adalah Tuhan yang menciptakan alam semesta dan segala isinya, dan mereka mengacu pada tuntunan sistem kepercayaan Patuntung. Selain menyembah Tuhan yang mereka akui, masyarakat adat Kajang masih sangat menjunjung tinggi Ammatoa. pemimpin umat dan kepala pemerintahan Pasang ri Kajang yang telah disesuaikan dengan pokok-pokok ajaran Islam pada dasarnya adalah apa yang mereka lakukan dalam keberadaannya sebagai penganut suatu sistem Apa yang mereka lakukan dilakukan sebagai amanah dari leluhur yang mereka junjung tinggi. kib, 2. Ammatoa dan penolakan masyarakatnya terhadap ajaran Islam yang disebarluaskan oleh Janggo Tojarra dan Tu Asara Daeng Mallipa menjadi konteks terbentuknya dualisme masyarakat Kajang, yang mengakibatkan terbentuknya dua kelompok masyarakat di Desa Tanatoa: . masyarakat ammatoa, yang menganut kepercayaan patuntung dan disebut sebagai masyarakat Kajang Dalam Embayya. masyarakat di luar Embayya yang disebut sebagai masyarakat Kajang Luar Embayya. Kajang Dalam Embayya menganut ajaran Pasang ri Kajang sebagai pedoman hidup dalam kesehariannya, sedangkan Kajang Luar Embayya menggunakan Al- Qur'an dan Hadits sebagai pedoman. Dualisme masyarakat Kajang ini masih berlangsung hingga saat ini dan masih memperlihatkan perbedaan yang kasat mata di antara kedua komunitas tersebut. Jalani hidup dengan sebaik-baiknya. Kelompok masyarakat Ipantarang Embaya (Kajang Lua. yang masing-masing menganut ajaran Islam sebagai pedoman dalam kehidupannya merupakan salah satu dari dua kelompok masyarakat yang bermukim di Desa Tanatoa. Kelompok masyarakat lainnya juga menganut sistem kepercayaan Patuntung, namun tidak sama dengan masyarakat Ilalang Embayya. Prinsip hidup satu, tallasa kamase mase . idup sederhan. bagi masyarakat Kajang Dalam . lalang embayy. , juga tampak di samping berbagai pandangan hidup. Bangunannya memiliki bentuk, bahan, dan orientasi yang sama menghadap ke barat semuanya terkait dengan ajaran 2231 | Dinamika Perkembangan Zaman Yang Terjadi Pada Sistem Kepercayaan Pada Masyarakat Adat Ammatoa Kajang (Studi Kasus Pada Masyarakat Kajang Dalam Dan Kajang Lua. (Evi Alfir. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 patuntung yang masih dijunjung tinggi hingga saat ini. Sebaliknya masyarakat Kajang Luar . parang embayy. hidup dengan baik atau beradaptasi dengan zaman dari masa ke masa. Dalam kesehariannya, mereka sudah memakai sandal dan sepatu, mengendarai kendaraan bermotor, dan menggunakan berbagai model dan bahan rumah. Bahkan orientasi bangunannya sama dengan di tempat lain. Meskipun masyarakat Kajang Dalam mengakui Islam sebagai agama mereka, namun cara hidup mereka tidak sesuai dengan syariat Islam sebagaimana yang diterima dan dilaksanakan secara umum oleh masyarakat Islam. dan Ipantarang Embayya memiliki ajaran dan pedoman praktik agama yang berbeda. (Arman, 2. Menurut masyarakat Ammatoa yang menganut kepercayaan Patuntung dan menjalani kehidupan sehari-hari sebagai penganutnya. Patuntung bukanlah agama melainkan kepercayaan yang harus dianut oleh setiap warga masyarakat adat Ammatoa Kajang sebagai AupenuntutAy atau AupenuntunAy dalam untuk mengamalkan kebenaran yang diwariskan secara lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya oleh nenek moyang mereka. Nama wasiat ini adalah Pasang ri Kajang. Kepercayaan Patuntung merupakan ajaran leluhur yang harus dianut, sedangkan Islam adalah agama yang diakui negara masyarakat Ammatoa. Mereka tidak mendasarkan pemahaman ajaran Islam pada pemahaman hukum Islam, melainkan pada kegiatan yang berkaitan dengan Adapun tujuan penulisan artikel ini adalah : . Untuk mengetahui gambaran umum adat ammatoa kajang, . Untuk mengetahui Sistem kepercayaan pada masyarakat adat ammatoa kajang . ajang dalam dan kajang lua. , . Untuk mengetahui Urgensi Kepercayaan Patuntung didalam masyarakat kajang. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah menggunakan penelitian Sejarah dengan pendekatan kualitatif. Metode kualitatif ialah jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau hitungan lainnya. Tujuan menggunakan jenis penelitian ini adalah untuk mempelajari secara mendalam dinamika perkembangan zaman yang terjadi pada sistem kepercayaan pada masyarakat adat ammatoa kajang (Studi kasus kajang dalam dan kajang lua. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah dengan menggunakan 4 tahap, yakni : Heuristik Heuristik adalah langkah pertama dalam metode penelitian sejarah. Heuristik dapat dikatakan sebagai proses mengumpulkan sumber atau referernsi sejarah yang bersangkutan dengan . Kritik Pada tahap ini sumber-sumber ataupun referensi-referensi yang telah saya peroleh akan saya kritik atau saring sehingga diperoleh fakta-fakta sumber yang subjektif mungkin. Hal ini dilakukan agar sumber yang akan digunakan nantinya tidak mengandung kebohongan ataupun . Interpretasi Interpretasi adalah proses pemaknaan fakta sejarah. Dalam interpretasi terdapat dua poin penting yaitu sintesis . dan analisisi . Fakta-fakta sejarah harus di interpretasikan atau di tafsirkan agar sesuatu peristiwa dapat di rekonstruksikan dengan baik, yakni dengan jalan menyeleksi, menyusun, mengurangi tekanan, dan menempatkan fakta dalam urutan kausal. Historiografi Historiografi merupakan tahap akhir dari penelitian sejarah, setelah melalui fase heuristik, kritik, dan interpretasi. Pada tahap terakhir inilah penulisan sejarah dilakukan. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Adat Ammatoa Kajang 2232 | Dinamika Perkembangan Zaman Yang Terjadi Pada Sistem Kepercayaan Pada Masyarakat Adat Ammatoa Kajang (Studi Kasus Pada Masyarakat Kajang Dalam Dan Kajang Lua. (Evi Alfir. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 Desa Tanah Toa Di sebelah utara, di Kecamatan Kajang. Kabupaten Bulukumba. Provinsi Sulawesi Selatan, terdapat Desa Tanah Toa. Masyarakat adat Kajang atau dikenal dengan Ammatoa adalah sekelompok masyarakat yang mengidentifikasi diri sebagai masyarakat adat dan bertemu di Desa Tanah Toa. Mereka memiliki pemimpin adat dan dikenal dengan sebutan Ammatoa. Satu kelompok masyarakat menganut agama Islam sebagai pedoman hidup, dan kelompok lainnya adalah kelompok masyarakat yang menyebut dirinya penganut ideologi Patuntung, atau biasa disebut dengan penganut ideologi Patuntung. masyarakat Kajang. Tanah Toa merupakan wilayah administratif setingkat desa/kelurahan. Pada prinsipnya tumbuh dan berkembang dengan dua kelompok masyarakat yang dapat dikatakan berbeda satu sama lain dalam banyak hal. Perbedaan yang paling menonjol adalah masalah cara pandang terhadap kehidupan. afid, 2. Rumah Amma Toa menandai Desa Tanah Toa. Amma Toa berperan penting bagi seluruh kehidupan suku Kajang. Amma Toa dianggap sebagai pemuka agama dan adat bagi warga yang bermasalah. penyelesaian berbagai persoalan masyarakat. Ada tujuh dusun yang membentuk Desa Tanah Toa. Dusun Benteng antara lain. Sobat. Bongkina. Jannaya. Pangi, dan Kuncio Balarnbina. Luraya. Dan Dusun di Balagana. Desa Tanah Toa berada di Kecamatan Kajang Kabupaten Dati Il Bulukumba. Luas wilayahnya 797,55 ha/m2, dan lokasinya berada di wilayah ini. Batas Desa Tanah Toa Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba adalah sebagai berikut : Sebelah utara berbatasan dengan Desa Batu Nilamung. Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Bonto Baji. Sebelah barat berbatasan dengan Desa Pattioroang. Sebelah timur berbatasan dengan Desa Mallelleng. Ada empat sungai yang mengelilingi Desa Tana Toa. Sungai Limba di timur. Sungai Doro di barat. Sungai Tuli di utara, dan Sungai Sangkala di selatan berfungsi sebagai batas Ilalang Embaya, atau "tenda dalam ," dan Ipantarang Embaya, atau "tenda luar", adalah empat sungai yang digunakan sebagai pagar . untuk memisahkan wilayah. Orang Tana Toa menyebut keberadaan ekosistem mereka dan semua karakteristiknya sebagai embaya. (KKN-PPM, 2. Kekuasaan Ammatoa Ada tiga jenis borong . di wilayah adat Kajang: Borong Karama', hutan keramat. Dilarang keras memasuki hutan keramat ini, yang merupakan milik adat. Tergantung pada pasang surut . raktik ada. , untuk menebang pohon dan mengambil kayu atau sumber daya hutan lainnya. Ammatoa dan anggota adat Memasuki Borong Karama' hanya bisa dilakukan pada saat upacara adat, seperti upacara Pa'nganroang dan pengukuhan Ammatoa. Konon, siapa pun yang masuk ke dalam hutan dari luar tidak dapat melarikan diri, dan kalaupun masuk akan mati. Hutan pada penyangga atau perbatasan . orong battasayy. Bagian kedua dari Borong Karama' adalah hutan ini. Antara borong Karama' dan Burong Battasayya yang dibatasi oleh jalur yang dilalui Ammatoa dan individu standar sebagai jalan masuk Burong Karama'. Kayu hanya dapat diambil oleh masyarakat jika mendapat izin dari Ammatoa. Hutan rakyat disebut burong Luarayya. Kebun masyarakat adat Kajang dikelilingi oleh hutan ini, yang luasnya sekitar 100 hektar. Penduduk asli Kajang bisa mendapatkan apa yang mereka butuhkan dari hutan tersebut. Daerah di sekitar Desa Tana Toa berbukit dan bergelombang dari segi geografis. Wilayah desa Tana Toa menerima curah hujan rata-rata 575 milimeter per tahun dan berada pada ketinggian antara 50 sampai 200 meter di atas permukaan laut. Luas tanah Desa Tana Toa adalah 972 ha, yang meliputi pemukiman 169 ha, sawah 93 ha, perkebunan 30 ha, kuburan 5 ha, pekarangan 95 ha, perkantoran 1 ha, prasarana umum lainnya 5 ha, dan hutan 331 ha. afid a. , 2. Sejarah Suku Kajang 2233 | Dinamika Perkembangan Zaman Yang Terjadi Pada Sistem Kepercayaan Pada Masyarakat Adat Ammatoa Kajang (Studi Kasus Pada Masyarakat Kajang Dalam Dan Kajang Lua. (Evi Alfir. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 Manusia keturunan Kanyangan atas perintah Turi'e A'ra'na (Tuhan Yang Maha Es. adalah penduduk pertama Kajang. Tomanurung adalah manusia pertama, dan dialah yang melahirkan orang Kajang. Tomanurung mengendarai Koajang burung saat ia turun ke yang menyebabkan suku Kajang diberi nama komunitas ini. Kemudian, manusia pertama ini diperkirakan telah memiliki banyak anak dan tersebar di seluruh bumi. (Zanuddin, 2. Ada banyak teori berbeda tentang kapan manusia pertama tiba di Kajang, dan tiga di antaranya adalah sebagai berikut: Dalam versi pertama. Tu'rie A'ra'na (Tuhan Yang Maha Es. menyuruh Batara guru untuk melihat keadaan dunia. Guru Batara kemudian memberi tahu Tu'rie A'ra'na bahwa manusia perlu diberi energi. Jadi, burung Koajang yang berkepala dua membawa manusia pertama. Tomanurung, turun ke Bumi. Nama Kajang seperti yang kita kenal sekarang berasal dari kata ini. Menurut versi kedua. Batara Guru adalah manusia pertama atau Tomanurung yang diturunkan ke Bumi. Batara Lattu. Sawerigading, dan Jabeng lahir dari putri pertiwi yang kemudian menikah dengan Batara Guru dan memiliki tiga orang anak. Menurut versi ketiga. Tamparang Daeng Maloan dan Puangbinanga adalah sepasang suami istri yang tinggal di Rompio. Mereka biasa mengisi kendi dengan air pada malam hari karena tidak mempunyai anak. Setiap pagi, mereka menemukan kendi yang mereka cari telah kosong selama beberapa hari berturut-turut. Seorang wanita cantik sedang mandi di dekat periuk pada suatu malam sementara sang suami memperhatikan air di Setelah itu, gadis itu ditemukan, dan dia menikahinya, menamainya Tomanurung. Yang kemudian memberi melahirkan tiga putra: raja Kajang. Laikang, dan Lembangan. ambu, 2. Versi pertama dari ketiga cerita tersebut mengasumsikan bahwa manusia pertama dan raja pertama. Ammatoa Mariolo, sama-sama disebut sebagai Tomanurung. Versi kedua kemudian menunjukkan konsep manusia pertama sebagai Tomanurung, sedangkan versi ketiga hanya menampilkan Tomanurung dan tidak tidak menyebut Ammatoa atau konsep manusia pertama. Sebaliknya, versi pertama adalah versi yang paling dipercaya oleh penduduk setempat. Kepercayaan masyarakat setempat lainnya menyebutkan bahwa Tomanurung ini hidup di suatu tempat yang disebut hutan adat Tana Toa, yang terdiri dari sepetak kecil tanah yang dikelilingi air dari laut dan menjadi tempat tinggal Tomanurung ini. tinggal di sana, celah tanah kemudian semakin lebar. Ammatoa yang pertama menginstruksikan warganya untuk menanam pohon dan merawatnya agar tidak ada yang membahayakan kehidupan mereka karena tanahnya tandus. Lokasi adat sekarang subur sebagai hasil dari upaya yang dilakukan menanam pohon. Buhung, sumber air bersih, tercipta dari kesuburan tanah. (Zanuddin, 2. Masyarakat adat Kajang menganggap kepercayaan Tomanurung itu benar. Mereka percaya bahwa Turi'e A'ra'na' menciptakannya sebagai Ammatoa pertama di Bumi. Wanita pendamping Ammatoa Anrongta kemudian diciptakan oleh Turi'e A'ra' na. Tomanurung yang juga dikenal sebagai Ammatoa, dianggap sebagai pemimpin pertama dan tertinggi oleh masyarakat adat Kajang, yang memegang teguh semua ajaran mereka, khususnya Pasangri. Dimana Pasangri ini berfungsi sebagai kompas kehidupan sehari-hari. Adat Tana Toa Kajang dipimpin oleh raja kedua bernama Anrong Bungasayya setelah raja pertama. Ammatoa, mangkat setelah lama memerintah. Mereka bertanggung jawab untuk melanjutkan pesan atau nasihat yang menjadi ulama tradisional Kajang. Adat Istiadat Suku Kajang Suku Kajang merupakan marga adat dengan masyarakat umum yang sesekali tidak merasakan perubahan seperti budaya masa kini yang umumnya mengikuti perkembangan masyarakat dan terus meningkatkan cara hidup praktis mereka seiring berjalannya 2234 | Dinamika Perkembangan Zaman Yang Terjadi Pada Sistem Kepercayaan Pada Masyarakat Adat Ammatoa Kajang (Studi Kasus Pada Masyarakat Kajang Dalam Dan Kajang Lua. (Evi Alfir. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 Orang Kajang juga dikenal sebagai Tana Kammase-masea, yang berarti bahwa mereka hidup dalam kesederhanaan dengan tetap berpegang pada adat istiadat yang dipraktikkan oleh nenek moyang mereka. kib, 2. Aspek lain dari masyarakat kontemporer. Masyarakat Kajang hidup dengan prinsip AuKammase-maseAy yang mengacu pada generasi yang hidup dalam kesederhanaan, ketaatan, dan keikhlasan dalam menegakkan adat dan perintah leluhur mereka. Kupalabbakkangko Tunaya Anne . Iami Tuna Kammase-maseaAy dinyanyikan dalam Pasangri Kajang yang artinya AuSaya memberikan hidup, yaitu hidup yang sangat sederhanaAy. Dulu masyarakat Kajang hidup sederhana yang tidak bisa diubah. Mereka selalu melakukannya. Pasangri Kajang dan tradisi Bohe . pertama masih diikuti oleh orang Kajang hingga saat ini. Melestarikan hutan adalah bagian dari kehidupan mereka, seperti pakaian serba hitam dan penggunaan adat sehari-hari. (Zanuddin, 2. Kongjo adalah bahasa sehari-hari mereka. Orang Kajang berjuang untuk berkomunikasi dengan orang luar karena mereka tidak terbiasa dengan budaya tulis dan tidak tahu bahasa Indonesia karena tidak mempelajarinya di sekolah. Akibatnya, adat istiadat, kepercayaan, dan cerita leluhur mereka hanya terekam secara lisan. Seorang Ammatoa . diangkat sebagai sesepuh yang dipercaya memiliki pengetahuan luas tentang hukum adat Kajang, mampu mengambil keputusan dengan penuh pertimbangan dan bijaksana, serta sekaligus mewakili Turi'e A'ra'na (Tuhan Yang Maha Es. atas bumi untuk melestarikan adat Kajang dan menjamin kemantapan dan Ammatoa adalah pengayom, pengayom, dan panutan bagi seluruh anggota masyarakat adat Kajang. Ia juga bertanggung jawab untuk melakukan pelestarian Pasangri Kajang dan mengawasi aturan adat yang bersumber dari norma adat Install dan Kajang. Dalam kapasitasnya sebagai pemimpin adat. Ammatoa berperan penting dalam mengatur komunitasnya dan alat musik tradisional lainnya. afid A. , 2. Pasang Ri Kajang Nenek moyang orang Kajang mengajari mereka Pasang ri Kajang. Diterjemahkan menjadi "pesan", "firman", "wasiat", dan "amanat". mampu hidup bahagia sesuai dengan rambu-rambu yang dikehendaki Sang Pencipta. Pasang merupakan pesan lisan yang harus dipatuhi, dipatuhi, dan dilaksanakan. Jika tidak diindahkan akan menimbulkan hal atau akibat yang tidak diinginkan, dan segala isinya membentuk pola pikir dan perilaku masyarakat adat. Makna pesan, kepercayaan, anjuran, tuntutan, peringatan, atau peringatan terkandung secara berpasang-pasangan. Masyarakat di kawasan Ilalang Embaya masih memegang teguh aturan Pasang, terutama dalam kegiatan ritual atau upacara adat. Sistem kepercayaan masyarakat adat Kajang pada dasarnya didasarkan pada Pasang. Turi'e A'ra'na yang dikutip oleh tutowa mariolo (Ammatoa pertam. dianggap berasal dari pasangan tersebut, yang terus-menerus dikawal oleh Ammatoa. Ada cukup penegasan untuk mempercayai Pasang ri Isi dan kebenaran Kajang atas dasar cerita atau ungkapan tersendiri. Pasang ri Kajang mengklaim bahwa kepercayaan Patuntung ini menjadi acuan pola hubungan masyarakat di Kajang Dalam (Ilalang Embayy. , baik hubungan vertikal maupun horizontal dengan Turi'e A'rakna (Allah SWT). Sebagai hasil dari fungsi ini, pasangan membawa pesan, pedoman, atau petunjuk hidup untuk mencapai kebahagiaan serta pesan, pedoman, atau petunjuk untuk kebahagiaan duniawi . tos kerja dan etika yang didominasi oleh kecenderungan akhira. ketentuan Amanat di Kajang (Patuntung dalam Pasang ri Kajan. harus dijadikan kewajiban menyembah Turi'e A'ra'na. ambu, 2. Sistem Kepercayaan Masyarakat Adat Ammatoa Kajang (Kajang Dalam Dan Kajang Lua. Keberhasilan masyarakat Ammatoa dalam menjaga ekosistem yang sehat dan lestari mendukung keberadaannya. Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari nilai-nilai budaya yang 2235 | Dinamika Perkembangan Zaman Yang Terjadi Pada Sistem Kepercayaan Pada Masyarakat Adat Ammatoa Kajang (Studi Kasus Pada Masyarakat Kajang Dalam Dan Kajang Lua. (Evi Alfir. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 terkandung dalam Pasang ri Kajang. Keyakinan Islam mendominasi masyarakat Ammatoa. Namun, mereka selalu memadukan ajaran agama dengan ajaran leluhur yang masih dipegang. untuk menciptakan bentuk sinkretis. Suku Ammatoa percaya pada Patuntung, yang berarti "menemukan sumber kebenaran". Menurut ajaran Patuntung, manusia harus bersandar pada penghormatan terhadap Turie' A' Ra'na (Tuha. , tanah yang diberikan Turie' A' Ra'na kepada mereka. , dan nenek moyang mereka jika ingin mencari kebenaran. Masyarakat adat Kajang memegang kepercayaan bahwa Turie'A'ra'na yang Maha Kekal. Maha Mengetahui. Maha Perkasa, dan Maha Kuasa adalah satu-satunya yang menciptakan segalanya. (Adnan, 2. Masyarakat tradisional Makassar menganut Patuntung, sebuah agama atau kepercayaan terhadap kekuatan alam dan roh nenek moyang . nimisme dan dinamism. Meskipun raja Gowa masuk Islam pada awal abad ke-17, banyak masyarakat Makassar yang masih mempraktekkan ritual kuno. dan percaya pada sejumlah kepercayaan. Individu ini percaya pada "Agama Patuntung" dan menyebut dirinya sebagai "Patuntung. (Katu, 2. Salah satu ciri masyarakat adat Kajang saat ini yang tetap eksis melalui praktik berbagai ritual dan upacara sebagai bagian dari kepercayaan mereka adalah menganggap hutan sebagai bagian dari kehidupan mereka sehari-hari. Masyarakat adat Kajang sendiri adalah digambarkan secara signifikan melalui keberadaan ritual kuno ini, yang telah bertahan waktu. Istilah "upacara" atau "ritual" umumnya mengacu pada praktik keagamaan yang berfungsi sebagai sarana komunikasi dengan entitas gaib. Pada tingkat ritual ini ' pelaksanaan atau pengamalannya, tampilannya berbeda-beda sesuai dengan kepercayaan masing-masing dan merupakan ciri budaya masyarakat tertentu. (Akip, 2. Cara pandang mengenal Tuhannya. Hal ini dapat dipecah menjadi tiga kategori umum yang masing-masing berdampak pada kehidupan manusia, khususnya . Diyakini bahwa Karaeng Ampatana, pencipta alam semesta dan segala isinya, hidup di langit. Karaeng Kaminang Kammaya yang perkasa atau perkasa atau Kaminang Jaria A'ra'na, yang bersemayam di Rompio Tikka . uncak Gunung Bawakaraen. yang suci dan suci, dan Karaeng Patanna Lino, juga dikenal sebagai Patanna Pa'rasangang , bertugas menjaga ciptaan Ampatana, yang meliputi manusia. Selain ketiga Dewa tersebut, diyakini bahwa makhluk gaib yang kuat hidup di setiap tempat, tanaman, dan benda, terutama tempat-tempat yang sakral. Kekuatan suci ini konon berasal dari tiga Dewa, yang diperkirakan bersemayam di alam semesta ini. (Ahmad, 2. Pandangan Alam Patuntung adalah kepercayaan yang menekankan keterkaitan alam. Lingkungan alam, termasuk tanah . ebagai anrongt. dan hutan adat . ebagai lokasi ritus kepercayaan Patuntun. , sangat penting bagi kehidupan masyarakat adat di Kajang. Pandangan Patuntung tentang alam dapat dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh yang saling Konsepsi mereka tentang alam semesta menggambarkan tiga benua, yang pertama dikenal sebagai benua atas dan berpusat di langit. Kedua, nama "lino " mengacu pada benua tengah tempat manusia menetap. juga, yang ketiga, adalah daratan bawah yang disebut paratihi, yang berarti daratan yang lebih rendah dan dipandang terendam. Tanah dan hutan itu adalah "sifat manusia," menurut Akip. Untuk manusia dan makhluk hidup lainnya, tanah dan hutan adalah bagian dari makrokosmos, sedangkan "angkasa/langit" dan "lautan/air" tidak. (Akip, 2. Elemen penting lainnya untuk lingkungan alam adalah lebih fokus pada konservasi Kawasan hutan adat Kajang ri merupakan aset yang sangat berharga, sehingga keberadaan hutan ini selalu mendapat perlindungan dari seluruh anggota masyarakat adat Kajan. Kelestarian lingkungan alam termasuk hutan sangat ditentukan oleh kebijakan lingkungan yang terkait dengan pasang surut. Menurut konsep yang dipahami masyarakat Patuntung, manusia tidak mungkin hidup tanpa hutan, karena hutan merupakan sumber kehidupan, karena hutan mendatangkan hujan . nngontaki bosiy. dan menghasilkan mata air dari dalam tanah . ppakaanre timbusu'). Atas dasar itulah masyarakat adat Kajang 2236 | Dinamika Perkembangan Zaman Yang Terjadi Pada Sistem Kepercayaan Pada Masyarakat Adat Ammatoa Kajang (Studi Kasus Pada Masyarakat Kajang Dalam Dan Kajang Lua. (Evi Alfir. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 menyimbolkan hutan sebagai paru-paru dunia . aruna lino. Dengan kondisi tersebut, masyarakat adat Kajang harus selalu menjaga kelestarian lingkungan alam, termasuk hutan, karena merusak hutan berarti merusak diri sendiri. Bahkan secara moral mereka mengatakan. AuoloAo-oloji anjo akkulle ammanraki boronga. Jari punna niaAo tau ammanraki boronga sangkammajintu oloAo-oloAoa,Ay (Hanya binatang yang dapat merusak hutan, jadi jika manusia dengan sengaja merusak hutan, berarti dia setara dengan binatang. Begitu juga dengan pandangan Manusia bahwa menurut kepercayaan Patuntung, manusia adalah makhluk pertama yang tercipta diantara tumbuhan dan hewan, sedangkan bumi, air dan matahari sudah ada sebelum terciptanya manusia seperti yang disebutkan di atas yaitu ampatana, sedangkan tempat penciptaan mereka berada di Tompo Tikka puncak Gunung Bawakaraeng. Karena itu. Bawakaraeng memang disembah oleh mereka dengan anggapan bahwa di situlah manusia berasal dan terjadi. (Badrum, 2. Ada kepercayaan mendasar yang dianut oleh masyarakat adat Kajang yang menganut sistem kepercayaan Patuntung yang dianut dan dihayati, yaitu . Percaya terhadap TuriAoe AAoraAona (Tuhan Yang Maha Es. , . Percaya terhadap Ammatoa, . Percaya terhadap Pasang, . Percaya terhadap hari kemudian . llo ribok. Percaya terhadap Takdir. (Bustamin, 2. Pasang ri Kajang mengatakan bahwa kepercayaan Patuntung ini menjadi kerangka acuan dalam pola hubungan masyarakat di Kajang Dalam (Ilalang Embayy. , baik hubungan vertikal maupun horizontal dengan pola hubungan Turi'e A'ra'k'na (Allah SWT). dengan makhluk hidup lainnya. Sebagai hasil dari fungsi ini, pasangan membawa pesan, pedoman, atau petunjuk hidup untuk mencapai kebahagiaan serta pesan, pedoman, atau petunjuk untuk kebahagiaan duniawi . tos kerja dan etika yang didominasi oleh kecenderungan akhira. dalam waktu dekat Semua ketentuan "Pesan di Kajang" atau Patuntung di Pasang ri Kajang, harus dijadikan kewajiban untuk menyembah Turi'e A'ra'na. Masyarakat Kajang Dalam . lalang embayy. mempercayai Patuntung, yaitu suatu identitas dimana mereka mengikuti ajaran Patuntung dan secara tidak langsung mengaku beragama Islam. Menurut etimologinya, patuntung adalah kepercayaan yang diyakini mengandung ilmu, baik ilmu tentang hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia lain, dan hubungan manusia dengan lingkungan alam yang dapat menjadi pedoman atau pedoman hidup yang harus diikuti oleh manusia untuk menjamin keselamatan dirinya baik di alam maupun setelah kematian. Masyarakat Kajang Dalam . lalang embayy. percaya bahwa Patuntung adalah ciptaan manusia yang dijadikan kepercayaan yang harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh setiap anggota masyarakat di Ammatoa untuk menunjukkan bahwa itu adalah ajaran. "mengajarkan manusia kebenaran tentang keselamatan baik di dunia maupun di akhirat yang diwariskan nenek moyang mereka secara lisan dari satu generasi ke generasi Ritual patuntung pertama kali muncul pada abad pertama, namun baru dipraktekkan pada abad ke-17 karena kepatuhan banyak orang dan ajaran kepada pasangan ri kajang. Masyarakat Kajang Dalam (Ilalang Embayy. memegang kepercayaan bahwa ajaran Patuntung berasal dengan munculnya manusia pertama yaitu ammatoa . ohe pertam. Sumber ajaran Pasang ri Kajang yang mengajarkan hidup dalam tallasa kamase-mase . idup sederhan. karena menurut pemahaman mereka hidup dalam kesederhanaan sedunia mendapat tanggapan dari Turi'e A'ra. Masyarakat Kajang Dalam . lalang embayy. percaya bahwa kepercayaan patuntung mengarah pada keimanan dan ketaatan. Mereka juga percaya pada kekuatan gaib dan percaya pada hal-hal gaib. Selain itu, penganut Patuntung melakukan berbagai ibadah, ritual, dan simbol karena kepercayaan yang sangat jauh dari kehidupan sehari-hari. Keyakinan masyarakat Kajang Dalam . lalang embayy. tentang Al-Qur'an yang diwahyukan oleh Turi'e A'ra'na sebanyak 40 surah tidak dapat dibuktikan secara ilmiah karena kita me 2237 | Dinamika Perkembangan Zaman Yang Terjadi Pada Sistem Kepercayaan Pada Masyarakat Adat Ammatoa Kajang (Studi Kasus Pada Masyarakat Kajang Dalam Dan Kajang Lua. (Evi Alfir. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 ngetahui bahwa Al-Qur'an -Qur'an menyampaikan firman Allah yang fasih sebanyak 30 Juz. Kalau tafsir mereka tentang 10 juz disebut juga Pasang ri Kajang atau ayat-ayat yang tidak ada dalam Al-Qur'an adalah merujuk pada fenomena alam, persoalan hidup, dan segala dinamika kehidupan. Sebelum Islam masuk ke Kawasan Adat Ammatoa, terdapat suatu bentuk kepercayaan animisme yang dikenal dengan kepercayaan Patuntung. Keyakinan Pasang ri Kajang sangat penting bagi Patuntung. Tu Rie A'rakna konon menciptakan alam semesta ini di Pasang ri Kajang. Pemerintah setempat telah menggeser batas wilayah antara Ilalang Embayya . ajang dala. dan Ipantarang Embayya . ajang lua. , kecuali pintu gerbang barat, di Desa Tanah Toa, di mana orang-orang yang mengidentifikasi diri sebagai anggota kajang adat pemukiman pembesaran dan penguatan jalan desa menuju kawasan Adat Ammatoa. Karena itu, di kawasan Ipantarang Embayya (Kajang Lua. terlihat berbagai model rumah warna. Sesuai dengan ketentuan adat dalam Pasang ri Kajang . esan dalam kajan. , yang menyatakan bahwa seseorang harus memasuki wilayah adat Ammatoa dengan berjalan kaki, hanya boleh berjalan kaki ke dalam kawasan tersebut. Pembagian wilayah dalam kajang berbeda dalam hal-hal sebagai berikut: Kajang Dalam (Illalang Embayy. Ilalang Embayya mengacu pada yurisdiksi ammatoa. Dalam hal ini, ammatoa berwenang mengarahkan anggotanya untuk melakukan kegiatan yang berkaitan dengan ajaran yang dianut masyarakat kajang, khususnya yang dituangkan dalam Pasang ri Masyarakat adat Kajang Dalam melanjutkan menjalankan setiap ritual dengan penuh semangat. Dari awal ritual hingga saat ini, sama sekali tidak ada yang berubah. Ammatoa dan semua 26 Gallarang, atau anggota komunitas Kajang, yang telah dipilih oleh Ammatoa, diharuskan untuk berpartisipasi dalam ritual ini. Keluarga Gallarang diwajibkan menyembelih tiga hewan kurban, sedangkan masyarakat biasa hanya diwajibkan menyembelih satu ekor kerbau atau kuda untuk menuntaskan ritual patuntung. Menurut Ammatoa dan para pembantunya (Gallaran. , mereka beragama Islam dan tidak mau disebut agama Patuntung. Sebab, istilah AupatuntungAy merujuk pada kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap anggota masyarakat adat Kajang, seperti menjadi AupenuntutAy atau AupetunjukAy untuk mengamalkan kebenaran yang telah dituturkan secara turun-temurun oleh nenek moyang mereka. Wasiat itu dikenal dengan Pasang atau Pasang ri Kajang. Meskipun praktik sholat, zakat, puasa, dan pergi haji tidak sesuai dengan syariat Islam, namun setiap orang di wilayah adat Ammatoa (Ilalang embayy. menjalankan patuntung dan beragama Islam. Namun Islam cukup kuat. Sementara itu, warga masyarakat kajang dalam masih tinggal di rumah adat yang memiliki 16 tiang kayu dan 16 rumah yang semuanya menghadap ke barat, serta beratap daun ilalang dan dinding kayu yang dibiarkan polos atau dicat hitam. Kajang Luar (Ipantarang Embayy. Ipantarang Embayya adalah wilayah yang tidak berada di bawah kekuasaan Ammatoa. Kekuasaan di wilayah ini dipegang oleh pemerintah yang diamanatkan oleh masyarakat yang bersangkutan. Berbeda dengan pemukiman masyarakat dalam (Ilalang Embayy. , di mana rumah-rumah diposisikan berdampingan di sepanjang jalan, wilayah adat kajang luar (Ipantarang Embayy. telah mengembangkan pemukiman yang berbeda. Seiring berjalannya waktu, masyarakat kajang luar mengalami transformasi secara Dalam menjalankan ritualnya, anggota masyarakat luar kurang mampu memenuhi kebutuhan. Dalam kehidupan sehari-hari, warna pakaian juga berbeda dengan warna pakaian. pakaian dalam, yang sebagian besar berwarna hitam. Saat melakukan adat, misalnya adat lewat, hampir tidak ada orang yang memenuhi kebutuhan dalam adat, misalnya masyarakat Kajang tidak melakukan perjalanan, namun masyarakat luar daerah sudah mulai melakukan kegiatan perjalanan dengan anggapan 2238 | Dinamika Perkembangan Zaman Yang Terjadi Pada Sistem Kepercayaan Pada Masyarakat Adat Ammatoa Kajang (Studi Kasus Pada Masyarakat Kajang Dalam Dan Kajang Lua. (Evi Alfir. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 salah satu keluarga memiliki kicked the bucket. Hal ini menunjukkan bahwa komunitas kajang luar memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kejadian terkini. Dalam hal ini, rumah-rumah penduduk di Luar telah mengalami renovasi. Asbes menutupi atap, dan dinding papan kayu diwarnai. Ada rumah-rumah yang diisi furnitur. Karena juga berfungsi sebagai homestay, beberapa rumah di Daerah Luar biasanya lebih besar dan memiliki pilar penyangga yang lebih banyak. Dalam hal ini Ammatoa berperan penting dalam masyarakat Kajang Dalam . lang Embbayy. Mereka menguasai segalanya, bisa menyelesaikan masalah untuk masyarakat sendiri, dan bekerja sama dengan gallarang . okoh ada. untuk memecahkan masalah dan melakukan ritual penting di wilayah adat Kajang . ulma Embbayy. Ammatoa menegaskan, baik yang terkait dengan Pasang Ri Kajang maupun Patuntung ritual tidak akan diubah karena alasan ini. karena semua ini diturunkan dari nenek moyang mereka dan mereka tidak ingin menjadi seperti masyarakat lain di luar wilayah adat Kajang dan menjadi modern. Namun seiring berjalannya waktu terjadi perubahan pada masyarakat kajang luar (Ipantarang Embayy. , seperti rumah yang sudah memiliki warna yang beragam dan anggota yang ada tidak lagi terutama memakai pakaian hitam tetapi sudah memakai pakaian warna yang terlihat, bahkan dilarang. di kalangan masyarakat adat. Selain itu, anggota komunitas kajang luar (Ipantarang Embayy. menggunakan Android. Perubahan lain juga terjadi pada adat yang berhubungan dengan patuntung, misalnya adat Kalomba. Pakkaterang yang tidak lagi diikutsertakan Ammatoa dalam menjalankan adat tersebut karena tidak lagi melaksanakannya secara total namun ada beberapa syarat yang tidak diubah, untuk misalnya tambahan dalam upacara kematian. Ketika seseorang meninggal dunia, masyarakat adat Kajang Dalam tidak mengadakan ziarah. Di sisi lain, masyarakat luar, seperti umat Islam pada umumnya, sudah menggelar ibadah haji di rumah keluarga yang terbengkalai. Mereka juga telah melaksanakan Idul Fitri dan puasa, namun masyarakat Kajang Dalam tidak melakukan salah satu dari hal tersebut. Kebahagiaan akan datang kepada mereka yang telah menjalani dan mempraktikkan kejujuran, kerendahan hati, tekad, kesabaran, dan kepasrahan. Orang Ammatoa memegang keyakinan bahwa di dunia ini hanya ada kesederhanaan dan tidak ada Orang akan menjadi baik dan berguna jika memiliki akhlak yang mulia selama mereka hidup di dunia. Salah satu ciri masyarakat adat Kajang saat ini adalah tetap eksis melalui praktik berbagai upacara atau ritual yang sudah mendarah daging dalam kepercayaan mereka. Salah satu contohnya adalah mereka menganggap hutan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. Masyarakat adat Kajang bangga dengan kenyataan bahwa ritual mereka masih ada. Istilah "upacara" atau "ritual" umumnya mengacu pada praktik keagamaan yang melayani sebagai alat komunikasi dengan yang gaib. Urgensi Kepercayaan Patuntung Di Dalam Masyarakat Kajang Menurut kepercayaan Patuntung, penghormatan terhadap Tu Rie'A'ra'na (Tuha. dan tanah yang diberikan Tu Rie'A'ra kepada mereka adalah tiga pilar utama yang harus menjadi landasan manusia dalam mencari kebenaran. na, serta LeluhurKepercayaan yang paling mendasar dalam kepercayaan Patuntung adalah penghormatan dan kepercayaan kepada Tu Rie'A'ra'na. Menurut masyarakat adat Kajang. Tu Rie'A'ra'na adalah yang abadi, maha mengetahui, pencipta segala sesuatu yang maha kuasa dan maha kuasa. (Samsul Maarif, 2. Melalui Ammatoa, manusia pertama. Tu Rie'A'ra'na memberikan perintahnya kepada orang Kajang secara berpasangan. Tide secara harfiah diterjemahkan menjadi "pesan". Namun pesan yang dipermasalahkan bukanlah sembarang pesan. Keutuhan nenek moyang kita ' petunjuk lisan tentang segala aspek dan seluk beluk kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun merupakan hidup berpasangan. Masyarakat adat Ammatoa diharuskan 2239 | Dinamika Perkembangan Zaman Yang Terjadi Pada Sistem Kepercayaan Pada Masyarakat Adat Ammatoa Kajang (Studi Kasus Pada Masyarakat Kajang Dalam Dan Kajang Lua. (Evi Alfir. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 mengikuti dan menaati pasangan tersebut. Hasil negatif yang tidak diinginkan akan terjadi jika manusia mengganggu aliran tersebut. Keyakinan Patuntung merupakan ajaran leluhur yang penting. Berikut ini adalah ritualritual yang berhubungan dengan patuntung: Attunu Panrolik . embakar linggi. Kepala adat Ammatoa melakukan attunu panrolik . embakar linggi. sebagai bagian dari tradisi untuk mengidentifikasi pencuri di wilayah adat Tanah Toa, yang terletak di Desa Tanah Toa. Kecamatan Kajang. Kabupaten Bulukumba. Sebelumnya upacara attunu panrolik . embakaran linggi. , seluruh pemangku adat berkumpul dan abborong . dilakukan terlebih dahulu. Ammatoa kemudian menyuruh orang kepercayaannya untuk memberitahukan kepada seluruh masyarakat adat bahwa akan ada attunu panrolik selama beberapa hari dan jam. Akibatnya, anggota masyarakat tidak diperbolehkan keluar daerah dan harus berkumpul pada waktu yang tepat sebelum upacara Ammatoa juga akan memanggilnya untuk dimintai keterangan jika ada yang tidak hadir. Ketika terjadi tindak pidana pencurian di dalam wilayah atau di luar wilayah, kepala adat Ammatoa melakukan upacara Attunu Panrolik, salah satu upacara adat yang dianggap sakral dan diulangi ketika melapor langsung kepada pemangku adat. Kepala adat Ammatoa dan seorang utusan dari orang kepercayaan Ammatoa akan mengawal proses pelaksanaan ini, dan masyarakat akan melihat secara langsung upacara adat Attunu Panrolik. Orangorang atau tersangka yang diduga melakukan pencurian. Para pemimpin upacara diperlihatkan berbagai pendekatan, dimulai dengan cara mengadakan panrolik ( linggi. dan emosi yang akan dialami jika ketahuan menjadi pencuri. Linggis, kayu bakar, dan korek api adalah alat yang digunakan dalam upacara Attunu Panrolik. Linggis ammatoa harus dipegang oleh semua orang yang hadir, dan mereka harus bersumpah bahwa dia tidak mencurinya. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi pencuri yang sebenarnya. Panas linggis tidak akan dirasakan oleh orang yang memegangnya jika tidak bersalah. Di sisi lain, jika lengannya terluka, dia yang harus disalahkan, dan tangannya sendiri akan menempel pada linggis yang panas dan mengelupas kulitnya. Jika pelaku ditemukan, ia akan didenda 20. 000 rupiah dan diperintahkan untuk mengembalikan barang yang dicurinya. Namun, jika pelanggar tidak dapat melakukannya, ia akan diminta membayar dua kali lipat dari nilai barang yang dicurinya. Dan juga akan diusir dari wilayah adat Tanah Toa. Ammatoa melihatnya sebagai orang yang tidak mengikuti adat karena melanggar hukum. Ritual Pakkaterang Masyarakat adat Tanah Toa yang mampu dan masih keturunan tradisional serta taat pada ri kajang pasang surut, melakukan Ritual Akkattere. Ada dua macam ritual yang dapat dilakukan yaitu pertama adat potong rambut yang dilakukan oleh para anggotanya. masyarakat Tanah Toa Kajang. Akkatter ini sebenarnya dipandang sebagai ziarah dan tidak dianggap sebagai aqiqah sesuai dengan ajaran Islam. Tentunya yang penting dalam adat ini adalah tata cara berkumpulnya hubungan dan aktivitas publik yang lebih baik di antara individu Tanah Toa Kajang. Kedua, kebiasaan ziarah ke puncak Gunung Bawakaraeng. Pendakian ke puncak Bawakaraeng, di mana ritual ziarah dilakukan dengan cara yang sama seperti di Mekkah, diyakini menjadi metode lain dalam melaksanakan proses menunaikan ibadah haji dalam tradisi ini. Dalam pelajaran Pattuntung, penduduk asli Kajang yang telah menjalankan adat Akkatter dianggap telah melakukan perjalanan, namun unik dalam kaitannya dengan pelaksanaan perjalanan dengan umat Islam secara keseluruhan. ritual yang dilakukan sesuai dengan agama atau lebih sering lagi dengan adat masyarakat tertentu. Kegiatan dalam sebuah ritual tidak bisa dilakukan sembarangan karena biasanya sudah terkontrol dan 2240 | Dinamika Perkembangan Zaman Yang Terjadi Pada Sistem Kepercayaan Pada Masyarakat Adat Ammatoa Kajang (Studi Kasus Pada Masyarakat Kajang Dalam Dan Kajang Lua. (Evi Alfir. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 Makna ritual Akkattere juga penyucian diri. Masyarakat adat Kajang memegang kepercayaan bahwa tidak perlu berziarah. yang diperlukan hanyalah melaksanakan ritual akkattere karena biaya yang diperlukan untuk melakukan ziarah adalah sama. Para pemangku adat menghadiri ritual tersebut. Nasi ketan (Songkol. , ayam, kuda, kerbau, dan kemenyan adalah barang-barang yang harus disiapkan. Orang awam diharuskan menyembelih satu ekor kuda dan satu kerbau, tetapi gallarang . emimpin ada. keluarga harus menyembelih di sedikitnya dua ekor kuda dan kerbau. ditambah sedikitnya tiga ekor ayam. Rituan Andingingi (Mendinginkan Bum. Acara tahunan yang diadakan pada bulan Januari dan Februari adalah Ritual Andingingi. Suku Ammatoaan menggunakan ritual ini untuk berdoa memohon keselamatan dan perlindungan dari bencana alam selain untuk menyejukkan alam beserta Suku Ammatoaan berinteraksi satu sama lain di alam melalui ritual ini. Uniknya, ritual ini dilakukan dengan cara yang berbeda, dengan membakar kemenyan dan membawa sesajen seperti beras ketan hitam dan purih, buah-buahan, sayuran, dan daging kerbau siap Dengan membawa makanan dan menyalakan dupa di lokasi yang diyakini sebagai Pa'rasangang Iraja . empat suc. , tepatnya di Pammotokang Bombonga Ri Pattirotiroang . empat sembahyan. Andingingi merupakan ritual untuk menyejukkan alam beserta Lokasinya berbentuk seperti panggung yang diperpanjang dan menampilkan hiasan Janur Areng . uah aren. Ritual yang meliputi pembakaran kemenyan yang dikenal dengan Attunu Pasaung ini dilakukan oleh masyarakat adat sebagai sarana melestarikan dan menghormati hutan. Ammatoa, atau kepala suku , adalah tokoh adat yang mengarahkan ritual Andingingi. Ammatoa memimpin ritual ini, yang melibatkan pemangku adat suku Kajang. Upacara Andingingi merupakan salah satu cara berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk keselamatan semua makhluk-Nya manusia, tumbuhan, dan hewan agar tidak mengalami celaka. Ritual khusus ini berfungsi sebagai waktu untuk saling menyapa dan menyampaikan permohonan untuk doa untuk hal-hal yang ada di bumi. Mereka berdoa agar Sang Pencipta memberkati dan melindungi alam dan isinya. Uniknya, seluruh komunitas Ammatoan berpartisipasi dalam adat atau ritual lokal ini baik di dalam maupun di luar komunitas. Mereka bergegas ke Tana Toa pintu untuk memegang adat Andingingi. Masyarakat Ammatoan dan Kajang luar akan semakin bersatu dan saling menghormati dengan cara ini. Identitas masyarakat Ammatoan dalam kaitannya dengan alam dibentuk oleh kearifan lokal ini. Ritual Kalomba Masyarakat Ammatoa telah menjadikan kalomba, sejenis pesta adat, sebagai cara Mirip dengan ritual adat lainnya, metode dan prosedur pelaksanaannya tidak terlalu Sebagian besar perlengkapan dan perlengkapan acara tersebut terkait dengan Seperti hitam dan songkolo putih, ketupat, kampalo, dan alole. Seorang dukun bertugas merencanakan pesta atau acara adat ini. Pesta semacam ini tidak ada waktu yang pasti, sehingga bisa terjadi kapan saja. Sambil menolak bala atau berusaha menghindari penyakit adalah motivasi pelaksanaannya. Seperti pertumbuhan terhambat, kecerdasan rendah, atau sejumlah penyakit lain yang sulit diobati. Membaca doa dan makan bersama menjadi inti acara. Dalam rangkaian acara lainnya, seluruh keluarga, termasuk setiap anak dalam upacara, disuguhkan makanan dengan meletakkan masing-masing jenis makanan di pundak mereka. Itu dianggap sebagai penutup Ritual Kematian Ritual kematian masyarakat Ammatoa pada hakekatnya identik dengan yang sudah menjadi pengetahuan umum, baik dari segi cara pelaksanaannya maupun alasan 2241 | Dinamika Perkembangan Zaman Yang Terjadi Pada Sistem Kepercayaan Pada Masyarakat Adat Ammatoa Kajang (Studi Kasus Pada Masyarakat Kajang Dalam Dan Kajang Lua. (Evi Alfir. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 Kue merah, ayam, kerbau, dan kuda termasuk hidangan yang disiapkan. Yang memiliki gallarang harus menyembelih minimal tiga ekor, sedangkan rakyat biasa harus menyembelih minimal satu ekor kerbau dan kuda. Dalam masyarakat Ilalang Embayya, ritual kematian terdiri dari tiga bagian: Aklajo-Lajo Aklajo-Lajo adalah rangkaian peristiwa yang dimulai ketika seseorang meninggal Aklajo Ae lajo dirayakan pada hari ketujuh, artinya jika orang yang meninggal meninggal dunia setelah tujuh hari, dianggap meninggal. Pesta adat yang dikenal dengan nama Aklajo-lajo ini tidak terlalu meriah. Acara ini bertujuan untuk berdoa dan kemudian memberikan pakaian kepada guru atau pemuka agama. Sarung, peci, celana, sprei, dan barang-barang lainnya dibagikan kepada rombongan. Adangang Perayaan ini berlangsung pada hari ke 40 yaitu hari ke 40 setelah meninggalnya orang yang meninggal. pesta ini adalah untuk memagari makam dan membangun makam di atasnya. Setelah itu, membaca doa bersama dan makan bersama. Sebagai pesta adat baru, pesta Addangang dapat dianggap sah jika semua pemerintah dan pejabat adat hadir. Karena ini adalah peristiwa Dalle Lasa'ra, yang artinya matahari akan . Addampo Pesta terakhir dalam rangkaian pesta kematian adalah Addampo. Pada hari ke-100. Addampo menang. Pelaksanaan pesta ini adalah yang paling meriah dan raksasa. Tujuan utama dari acara tersebut, yang dikenal sebagai Akrabba Kalli, yang diterjemahkan menjadi "merobek bawah pagar,Ay adalah membuka kembali pagar yang dibangun pada hari keempat puluh. Pada saat pagar dibuka, rumah tempat pesta akan menjadi pusat segala kegiatan. Semua penguasa adat dan pemerintah daerah dikembalikan pada saat seperti Adat Limaya. Karaeng Tallua, dan berbagai organisasi keagamaan Ada doa dan pembacaan setelah semua hadir, kemudian semua orang makan Perlu diketahui juga bahwa hubungan arwah dengan keluarganya menjadi semakin jauh setelah peristiwa Addampo. Karena waktu untuk menentukan meninggal atau tidaknya seseorang adalah setelah hari ke-100 kematiannya. Jika seseorang meninggal, setelah Hari ke-100, tubuhnya dihancurkan lagi menjadi tanah, sebuah proses yang dikenal sebagai Amminro mange ri assalana. Di sisi lain, jika kematiannya tidak normal, ada beberapa kemungkinan untuk menjadi addampo, di mana mayatnya tidak hancur tetapi malah menjadi kering, seperti yang dijelaskan. Mayat juga bisa berubah karena kukunya semakin panjang,yang menacu pada kematian ini, berarti memanjang. Kemungkinan lain adalah bahwa tubuh tidak akan memasuki kubur setelah hari ke-100. Kejadian seperti itu disebut sebagai Lanyaki, yang diterjemahkan menjadi "menghilang". Selain Lanynyaki, bisa juga menjadi Sajang karena jenasahnya telah lenyap sebelum dikubur, hanya menyisakan tikar dan pembungkusnya. Orang yang paling baik dalam beramal dan menikmati keistimewaan Ammatoa yang pertama tunduk pada kematian seperti ini. Masyarakat adat Kajang (Illang Embayy. juga memegang kepercayaan bahwa tergantung pada jenazah orang yang meninggal, makamnya akan dikunjungi selama 40, 78, atau 110 hari setelah kematiannya. Puto akan menentukan orang yang dimakamkan atau tidak di bawah masih dalam kuburan. Selain itu, anggota keluarga dekat almarhum dilarang mandi, menggunakan sarung, atau memakai sisir selama empat puluh hari. KESIMPULAN Patuntung adalah informasi sebagai panduan keberadaan sehari-hari untuk masyarakat Kajang (Ilalang Embayy. yang berpegang pada pesan-pesan yang ada di dunia ini dan di alam 2242 | Dinamika Perkembangan Zaman Yang Terjadi Pada Sistem Kepercayaan Pada Masyarakat Adat Ammatoa Kajang (Studi Kasus Pada Masyarakat Kajang Dalam Dan Kajang Lua. (Evi Alfir. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 semesta dalam pelajaran Tallasa kamase-mase . idup luru. dan menerapkan Jenne talluka untuk memohon tanga tappu (Wudhu yang jarang turun dan petisi konsiste. yang berpegang teguh pada koordinat ri kajang dan memiliki kepercayaan terhadap Turi'e A'ra'na. Menghormati Turi'e A'ra'na (Tuha. , tanah yang diberikan kepada mereka oleh Turi'e A'ra'na, dan penghormatan terhadap nenek moyang mereka adalah tiga pilar utama yang mendasari kepercayaan Patuntung. Dengan berjalannya waktu, masyarakat adat kajang terbagi menjadi dua kelompok, kajang dalam (Ilalang Embayy. dan kajang luar (Ipantarang Embayy. Masyarakat kajang luar terpengaruh oleh perkembangan zaman, orang-orang ini sedikit demi sedikit melanggar ritual yang ada karena masyarakatnya sudah modern. bahkan banyak yang menggunakan android dan memakai pakaian berwarna cerah. Kajang batin pada prinsipnya masih memegang teguh aturan adat yang diberikan oleh nenek moyang mereka dan apa yang tertuang dalam Pasang Ri Kajang. DAFTAR PUSTAKA