Ikhwana Khoiroh Empatheia : Jurnal Psikologi ISSN :A. DOI :AA. From Hoaxes to Empathy: Social Psychology Amid the COVID-19 Pandemic Dari Hoaks hingga Empati: Psikologi Sosial di Tengah Pandemi COVID-19 Ikhwana Khoiroh ikhwana2412@gmail. UIN Sunan Kalijaga Abstract The COVID-19 pandemic was not only a health crisis but also a complex social phenomenon, influencing how individuals interact, process information, and shape their behaviors. This literature review aims to analyze the dynamics of social psychology during the pandemic, focusing on two contrasting phenomena: the spread of hoaxes and the rise of social empathy. The method used was a review of articles, journals, and research reports published between 2020 and 2024. The findings indicate that the spread of hoaxes was driven by collective anxiety, low media literacy, and the influence of group norms, while social empathy emerged through narratives of solidarity, group identification, and shared experiences of crisis. This analysis underscores that social behavior during the pandemic was shaped by the interaction of psychological, social, and cultural factors. These findings are expected to serve as a foundation for more effective sociopsychological interventions in addressing future global health crises. Keywords: COVID-19, social psychology, hoaxes, empathy, social behavior Abstrak Pandemi COVID-19 bukan hanya krisis kesehatan, tetapi juga fenomena sosial yang kompleks, memengaruhi cara individu berinteraksi, memproses informasi, dan membentuk Studi literatur ini bertujuan untuk menganalisis dinamika psikologi sosial selama pandemi, dengan fokus pada dua fenomena yang kontras: penyebaran hoaks dan meningkatnya empati sosial. Metode yang digunakan adalah tinjauan pustaka terhadap artikel, jurnal, dan laporan penelitian yang diterbitkan antara tahun 2020Ae2024. Hasil kajian menunjukkan bahwa penyebaran hoaks dipicu oleh kecemasan kolektif, rendahnya literasi media, dan pengaruh norma kelompok, sedangkan empati sosial tumbuh melalui narasi solidaritas, identifikasi kelompok, dan pengalaman bersama menghadapi krisis. Analisis ini menegaskan bahwa perilaku sosial selama pandemi dipengaruhi oleh interaksi faktor psikologis, sosial, dan kultural. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi intervensi sosial-psikologis yang lebih efektif dalam menghadapi krisis kesehatan global di masa depan. Kata kunci : COVID-19, psikologi sosial, hoaks, empati, perilaku sosial Vol. No. Tahun 2024 Moh. Arvani Zakky Al Kamil. Ahmad Kholif Rosyidi &. Ahmad Ainun Najib cenderung mempercayai informasi yang Pendahuluan salah satu krisis global terbesar pada abad ke-21, tidak hanya menimbulkan tersebut tidak akurat (Lewandowsky et dampak kesehatan fisik, tetapi juga , 2. Pandemi COVID-19 telah menjadi Hoaks tidak muncul dalam ruang psikologis masyarakat di seluruh dunia. hampa, melainkan dipicu oleh kondisi Sebagai psikologis tertentu seperti kecemasan menyebar cepat. COVID-19 memicu perubahan besar dalam perilaku individu kehilangan kontrol (Van Prooijen & dan kelompok, termasuk dalam cara Douglas, berinteraksi, memproses informasi, dan pandemi yang penuh ketidakpastian, kebutuhan untuk mendapatkan kepastian (Brooks membuat individu lebih rentan terhadap fenomena sosial yang menonjol di masa informasi yang sederhana, emosional, pandemi adalah maraknya penyebaran dan mudah diingat, meskipun tidak benar informasi palsu atau hoaks. Fenomena ini secara faktual. Di Indonesia, rendahnya terjadi di berbagai negara, termasuk literasi media juga menjadi salah satu Indonesia, dan kerap menyebar melalui media sosial dengan kecepatan yang setara atau bahkan melebihi penyebaran Nugraheni, 2. Dampak penyebaran informasi resmi (Cinelli et al. , 2. Hoaks terkait COVID-19 mencakup kebingungan publik, tetapi juga dapat berbagai topik, mulai dari klaim palsu mengurangi kepatuhan terhadap protokol asal-usul Salah (Utami metode pengobatan tanpa dasar ilmiah, menjaga jarak, dan menerima vaksinasi (Bunker, 2. memengaruhi kepercayaan masyarakat (Pennycook Secara Namun, di sisi lain, pandemi juga memunculkan fenomena sosial positif psikologi sosial, penyebaran hoaks dapat meningkatnya empati dan solidaritas dijelaskan melalui teori konformitas dan sebagai kemampuan untuk memahami Empati. Vol. No. Tahun 2024 Moh. Arvani Zakky Al Kamil. Ahmad Kholif Rosyidi &. Ahmad Ainun Najib dan merasakan pengalaman orang lain (Batson, 2. , menjadi salah satu pendorong perilaku prososial di masa solidaritas dan meningkatkan kepatuhan Banyak individu dan kelompok terhadap kebijakan kesehatan publik. tergerak untuk membantu sesama, baik Pemahaman melalui donasi, dukungan moral, maupun penting karena menunjukkan bahwa partisipasi dalam kegiatan komunitas respons masyarakat terhadap krisis tidak homogen, melainkan dipengaruhi oleh sosial-ekonomi dari pandemi (Kim & kombinasi faktor psikologis, sosial, dan Florack, 2. kultural yang kompleks. bertujuan mengurangi Penelitian Pfattheicher et al. Studi literatur ini bertujuan untuk mengkaji fenomena hoaks dan empati mendorong kepatuhan terhadap tindakan pencegahan seperti menjaga jarak fisik, perspektif psikologi sosial. Analisis akan karena individu yang memiliki tingkat empati tinggi lebih mampu memahami mendorong munculnya kedua fenomena risiko yang dihadapi orang lain, terutama tersebut, interaksi di antara keduanya. Indonesia, serta implikasinya bagi kebijakan publik fenomena gotong royong dan kampanye dan intervensi sosial. Dengan memahami bantuan sosial menjadi bentuk nyata dari solidaritas sosial yang lahir dari empati penyebaran hoaks dan pembentukan Hal ini sejalan dengan teori empati, diharapkan dapat dirumuskan identitas sosial yang menjelaskan bahwa ancaman bersama dapat memperkuat rasa meminimalkan dampak negatif informasi kebersamaan dalam kelompok, sehingga palsu sekaligus memperkuat solidaritas memicu aksi kolektif yang positif (Tajfel & Turner, 1. kesehatan global di masa depan Menariknya, kedua fenomena iniAi hoaks dan empatiAisering kali muncul COVID-19 faktor-faktor METODE PENELITIAN Penelitian pendekatan studi literatur . iterature Keduanya mencerminkan respons sosial revie. untuk mengkaji fenomena hoaks yang berlawanan terhadap krisis: hoaks dan empati dalam perspektif psikologi bersifat merusak kohesi sosial sosial selama pandemi COVID-19. Studi Vol. No. Tahun 2024 Moh. Arvani Zakky Al Kamil. Ahmad Kholif Rosyidi &. Ahmad Ainun Najib literatur dipilih karena memungkinkan mengevaluasi, dan mensintesis berbagai memberikan pemahaman komprehensif terhadap topik yang dibahas (Snyder, tema-tema Faktor psikologi sosial yang mendorong penyebaran hoaks. Faktor yang memicu empati dan perilaku Interaksi antara hoaks dan empati dalam memengaruhi perilaku masyarakat. Sumber Data Proses analisis mengikuti tahapan Sumber data yang digunakan berasal yang diusulkan oleh Braun dan Clarke dari artikel ilmiah, laporan penelitian, . , meliputi: Membaca berulang dan publikasi resmi yang relevan dengan seluruh sumber pustaka. Mengkode data topik hoaks, empati, dan perilaku sosial secara sistematis. Mengidentifikasi tema- selama pandemi COVID-19. Basis data tema utama. Menyintesis temuan untuk yang diakses meliputi Scopus. Web of menghasilkan narasi komprehensif. Science. PubMed. ScienceDirect. Metode studi literatur ini diharapkan Google Scholar, serta portal jurnal nasional seperti Garuda dan Sinta. Selain itu, digunakan pula laporan dari organisasi kesehatan dunia (WHO) dan lembaga riset resmi sebagai referensi intervensi sosial di masa depan. Prosedur Pengumpulan Data Proses pencarian literatur dilakukan HASIL Hasil kajian literatur menunjukkan kombinasi Setiap artikel yang ditemukan dievaluasi berdasarkan judul, abstrak, memunculkan dua pola besar dalam dan isi lengkapnya untuk menentukan perilaku sosial: kesesuaian dengan topik penelitian. Peningkatan Penyebaran Hoaks dan Analisis Data Data COVID-19 Disinformasi. Literatur hoaks terkait COVID-19 menyebar luas . hematic terutama melalui media sosial, dipicu Vol. No. Tahun 2024 Moh. Arvani Zakky Al Kamil. Ahmad Kholif Rosyidi &. Ahmad Ainun Najib sepenuhnya terpisah. Dalam beberapa kurangnya literasi media (Apuke & Omar, 2. Faktor psikologi sosial justru dimotivasi oleh niat prososialAi seperti confirmation bias membuat individu lebih cenderung membagikan tradisionalAy untuk membantu orang lain, walau klaim tersebut tidak ilmiah keyakinan awal mereka, meskipun (Islam Auobat Hal informasi tersebut tidak benar. Selain menunjukkan bahwa niat baik tidak itu, norma kelompok . roup norm. selalu menghasilkan dampak positif jika tidak disertai literasi informasi influencer memperkuat legitimasi hoaks yang memadai. di mata sebagian masyarakat (Cinelli et Secara , 2. menegaskan bahwa pandemi COVID- Munculnya Solidaritas dan Empati Sosial 19 adalah laboratorium sosial alami yang menguji interaksi antara faktor Berbagai psikologis dan sosial. Hoaks menjadi tantangan utama bagi kesehatan publik, solidaritas sosial, seperti penggalangan sementara empati sosial menjadi modal dana, bantuan makanan, dan dukungan penting dalam membangun ketahanan emosional daring (Abel & McQueen. Temuan ini memberikan Fenomena ini didorong oleh dasar bagi pengembangan intervensi . n-group identificatio. dan pengalaman krisis menghadapi krisis di masa depan. bersama, yang meningkatkan rasa Narasi PEMBAHASAN Pandemi COVID-19 menonjolkan kisah kemanusiaan juga ajang uji ketahanan sosial dan psikologis terbukti memperkuat perilaku prososial. Interaksi Dinamis Antara Hoaks dan Empati Fenomena terjadi menunjukkan adanya paradoks sosial: di satu sisi maraknya penyebaran Beberapa Penelitian hoaks yang merugikan, di sisi lain menggarisbawahi bahwa hoaks dan tumbuhnya empati dan solidaritas yang memperkuat kohesi sosial. Vol. No. Tahun 2024 Moh. Arvani Zakky Al Kamil. Ahmad Kholif Rosyidi &. Ahmad Ainun Najib Penyebaran Hoaks Misinformasi Empati kolektif ini berkembang melalui Penyebaran hoaks selama pandemi kepatuhan terhadap protokol kesehatan. ancaman yang sama, yang memperkuat psikologi sosial, termasuk kecemasan ingroup cohesion . an Bavel et al. Menurut Tasnim et al. Kegiatan penggalangan dana, pembagian sembako, confirmation bias, di mana individu cenderung mempercayai informasi yang menjadi bentuk nyata penerapan empati sesuai dengan keyakinan atau ketakutan sosial (Al Najjar et al. , 2. Fenomena Media proses ini melalui mekanisme echo behavior yang menyatakan bahwa situasi chamber, yang memperkuat pandangan krisis sering kali memicu tindakan homogen di dalam kelompok (Cinelli et , 2. merasa memiliki tanggung jawab moral Kecenderungan ini diperkuat oleh rendahnya literasi digital dan media di sebagian masyarakat (Guess et al. , 2. Dalam terhadap sesama (Batson et al. , 2. Interaksi Hoaks dan Empati dalam Dinamika Sosial Meskipun hoaks dan empati tampak perilaku berbagi hoaks dapat dilihat sebagai bagian dari dinamika identitas mekanisme psikologi sosial yang sama, sosial, di mana individu memvalidasi yaitu kebutuhan akan keterhubungan sosial . eed to belon. dan pencarian penyebaran narasi yang dianggap "milik makna dalam situasi krisis (Baumeister kelompok" (Tajfel & Turner, 1. & Leary, 1. Perbedaan muncul pada Munculnya Empati Solidaritas Sosial arah manifestasi perilaku: hoaks muncul dari misinformasi dan bias kognitif, gelombang empati sosial yang meluas. Penelitian oleh Pfattheicher et al. terhadap kelompok rentan meningkatkan sedangkan empati lahir dari kesadaran kolektif dan nilai prososial. Memahami interaksi ini penting bagi perumusan strategi komunikasi publik. Intervensi Vol. No. Tahun 2024 Moh. Arvani Zakky Al Kamil. Ahmad Kholif Rosyidi &. Ahmad Ainun Najib Namun, di tengah maraknya disinformasi, berbasis empati, dan penguatan norma muncul pula gelombang empati solidaritas sosial yang menjadi kekuatan sekaligus memperkuat solidaritas sosial. Kedua fenomena ini membuktikan KESIMPULAN Pandemi COVID-19 bahwa perilaku sosial manusia di masa krisis bersifat kompleksAidapat destruktif berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga memengaruhi dinamika psikologi empati yang terarah, dan pemahaman Penyebaran Literasi menjadi ancaman serius yang diperparah interaksi sosial menjadi kunci penting oleh faktor psikologis seperti confirmation dalam membangun ketahanan masyarakat bias, kecemasan, dan norma kelompok. menghadapi krisis di masa depan. Daftar Pustaka