JURNAL VASTUKARA: JURNAL DESAIN INTERIOR. BUDAYA, DAN LINGKUNGAN TERBANGUN e-ISSN 2798-1703 Hal 245-252 Volume 3 No 2 September 2023 DOI: https://doi. org/10. 59997/vastukara. KAJIAN KENYAMANAN HALTE SATRIA TANGERANG BERDASARKAN KEBUTUHAN PENGGUNA Arifah Putri Salsaqilah1. Asventania Putri Rahmawati2. Irwan Sudarismani3 1,2,3Desain Interior. Fakultas Industri Kreatif. Telkom University E-mail : 1arifahsalsa@student. id, 2asventaniap@student. 3irwansudarisman@telkomuniversity. ABSTRAK Pada zaman serba maju seperti saat ini, bertambahnya jumlah penduduk dan tingginya mobilitas membuat kebutuhan dan kepemilikan kendaraan bermotor juga ikut meningkat. Hal ini mengakibatkan kemacetan terutama di kota Ae kota besar seperti kota Tangerang. Untuk dapat meminimalisir kemacetan, masyarakat dapat menggunakan kendaraan umum. Salah satunya adalah penggunaan bus. Bersamaan dengan hal ini, penggunaan Halte juga meningkat. Halte sendiri memiliki fungsi sebagai tempat menunggu datangnya angkutan umum dari berbagai jalur. Pada penelitian ini akan membahas salah satu Halte, yaitu Halte Satria di Tangerang. Pemilihan Halte Satria didasari oleh letaknya yang strategis, karena dekat dengan banyak sekolah, rumah sakit, pasar, alun-alun, dan satu jalur dengan Bandara Soekarno-Hatta. Karena penggunaan nya meningkat, tentunya sebuah halte harus memperhatikan kenyamanan sesuai dengan kebutuhan penggunanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kenyamanan halte berdasarkan kebutuhan pengguna. Manfaat penelitian dapat dijadikan referensi dalam merancang sebuah halte yang nyaman dan aman bagi semua pengguna. Metoda penelitian menggunakan metode kualitatif dengan teknik pencarian data observasi secara langsung ke lokasi, mewawancarai 6 pengguna Halte Satria, dan studi literatur. Hasil penelitian menyebutkan bahwa kenyamanan pengguna bisa tercapai dengan fasilitas duduk dan sirkulasi yang baik. Kata kunci : Halte. Kenyamanan. Tangerang. Fasilitas. Umum. ABSTRAK In this modern era, the increasing population and high mobility have made the need for and ownership of motorized vehicles also increase. This causes traffic jams, especially in big cities such as the city of Tangerang. To minimize congestion, people can use public transportation. One of them is the use of buses. Along with this, the use of the bus shelter is also increasing. The shelter itself has a function as a place to wait for the arrival of public transportation from various routes. In this study, we will discuss one of the bus stops, namely the SatriaAos Shelter in Tangerang. The selection of SatriaAos Shelter was based on its strategic location, because it is close to many schools, hospitals, markets, public squares, and is in one line with Soekarno-Hatta Airport. Because its use is increasing, of course a shelter must pay attention to comfort according to the needs of its users. This study aims to examine the comfort of the shelter based on user needs. The benefits of research can be used as a reference in designing a shelter that is comfortable and safe for all The research method uses qualitative methods with direct observation data search techniques to the location, interviewing 6 Satria Bus Stop users, and studying literature. The results of the study indicate that user comfort can be achieved with good seating and circulation facilities. Keywords : Bus Stop. Convenience. Tangerang. Facilities. Public. Diterima pada 4 Agustus 2023 Direvisi pada 25 Agustus 2023 Disetujui pada 15 September 2023 PENDAHULUAN Pertumbuhan ekonomi yang semakin pesat menimbulkan sebuah dampak perpindahan penduduk dari pedesaan ke perkotaan atau urbanisasi. Hal tersebut mengakibatkan meningkatnya jumlah kendaraan, pendapatan, dan tenaga kerja, sehingga permintaan akan transportasi terus meningkat. Meningkatnya jumlah kendaraan pribadi memberikan sebuah dampak yang masif dan mengakibatkan kepadatan jalan atau kemacetan. Pemanfaatan transportasi umum atau public transport belum dimaksimalkan oleh masyarakat, dengan pemanfaatan transportasi umum atau public transport dapat mengurangi terjadinya kepadatan A2023 Penulis. Dipublikasikan oleh UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar. Ini adalah artikel akses terbuka di bawah lisensi CC BY-NC-SA. Jurnal Vastukara. Volume 3 No 2 September 2023 | 246 jalan atau kemacetan (Wicaksono, 2. Karena banyak nya pengguna angkutan umum, pemerintah pun menyediakan fasilitas bagi masyarakat untuk menunggu angkutan umum, salah satunya yaitu Halte. Halte sendiri adalah tempat perhentian kendaraan penumpang umum untuk menurunkan dan/atau menaikkan penumpang yang dilengkapi dengan bangunan (Pedoman Teknis Perekayasaan Tempat Perhentian Kendaraan Penumpang Umum, 1. Salah satu Halte yang disediakan pemerintah adalah Halte Satria di Tangerang. Biasanya, angkutan umum yang berhenti di Halte Satria yaitu, bus yang berukuran A atau mini bus dengan rute dari berbagai daerah sekitar Tangerang. Kemudian, terdapat angkot, bus bandara dan bus tangerang ayo atau bisa disebut dengan bus tayo. Pengguna Halte Satria sendiri datang dari berbagai latar belakang, baik itu anak-anak maupun orang dewasa, baik perempuan maupun laki-laki. Juga tidak menutup kemungkinan digunakan oleh masyarakat difabel. Calon penumpang yang menunggu di Halte Satria memiliki bermacam dimensi ukuran tubuh, barang bawaan dan latar belakang pekerjaan. Karena pengguna nya beragam, tentunya kebutuhan akan kenyamanan dan keamanan pada Halte perlu diperhatikan. Pengaturan prasarana halte harus sesuai dengan kebutuhan (Firnas, et. Oleh karena itu, desain sebuah halte harus dapat mengakomodasi semua kalangan dan semua kepentingan termasuk masyarakat maupun penumpang berkebutuhan khusus, serta memberikan kenyamanan kepada pengguna ruang dengan tinjauan aspek Ergonomi yang dapat memberikan kenyamanan bagi penggunanya, juga aspek sirkulasi karena ketika sirkulasi halte tidak baik, maka hal ini akan berpengaruh pada terbatasnya ruang gerak pengguna (Wahyu, 2. Halte dapat dikatakan tidak nyaman apabila, kondisi fasilitas halte menurun, halte yang tidak sesuai dengan fungsi dan kegunaannya, kebersihan yang kurang terjamin dll. Hal ini membuat masyarakat enggan menggunakan halte tersebut (Ari, et. Karena tingkat penggunaannya bertambah, kenyamanan sebuah halte sangatlah penting untuk diperhatikan. Menurut bin Bidin et. , halte bus yang baik didesain atas pertimbangan tiga pertimbangan utama yaitu aksesibilitas, kenyamanan dan keamanan. Menurut Iseki dan Taylor . terdapat lima aspek yang menjadi atribut halte, yaitu: . koneksi dan andal. keamanan dan keselamatan. Amenitas pada halte bus terdiri dari kursi, tong sampah, partisi, beserta kelengkapan penunjang lainnya. Keamanan dan keselamatan, berkaitan dengan proteksi dari angin maupun hujan dan proteksi dari tindakan kriminal (Iseki & Taylor, 2. Kemudian, menurut Nediari . , menyatakan bahwa aspek fisik bangunan halte bus merupakan sebuah ruang tunggu semi terbuka dilengkapi pembatas ruang . , dudukan tanpa sandaran, atap penutup untuk melindungi dari paparan sinar matahari maupun air hujan. Halte bus biasanya berada di belakang trotoar dengan kisaran ukuran Ou2m x Ou4m. Halte bus dirancang untuk dapat menampung penumpang angkutan umum 20 orang per halte pada kondisi biasa yaitu dimana penumpang dapat menunggu dengan nyaman. Aktivitas yang dipenuhi dari tata letak di atas adalah aktivitas menunggu dengan fasilitas sarana duduk serta ruang yang cukup untuk berdiri. Namun belum disebutkan aktivitas membaca informasi rute jalan yang tentu juga membutuhkan ruang gerak. Dalam hal kapasitas halte bus masih relevan dengan kondisi saat ini, sementara untuk desain halte bus, sudah banyak pergerakan ataupun perubahan secara desain, material serta finishing. Walaupun di satu sisi standarisasi fasilitas dasar dari sebuah halte bus masih sama, yaitu identitas halte, rambu penunjuk, lampu penerangan, informasi trayek serta tempat duduk. Jurnal Vastukara. Volume 3 No 2 September 2023 | 247 Gambar 1. Standar Ukuran Halte . Sumber: Buku Pedoman Teknis Perekayasaan tempat perhentian kendaraan penumpang umum. Departemen Perhubungan Gambar diatas menyatakan . ruang gerak per penumpang di tempat henti 90 cm x 60 cm. jarak bebas antara penumpang. dalam kota 30cm dan antar kota 60 cm. ukuran tempat henti per kendaran, panjang 12 m dan lebar 2,5 m. ukuran lindungan minimum 4,00 m x 2,00m. Gambar di atas merupakan standar ukuran halte yang didapat dari Buku Pedoman Teknis Perekayasaan tempat perhentian kendaraan penumpang umum, departemen perhubungan, 2008. Gambar di atas merupakan kondisi ideal daya tampung sebuah halte bus dimana tidak terdapat penumpukan penumpang bus ataupun kendaraan umum lainnya dan halte bus hanya berfungsi sebagai tempat penumpang naik ataupun turun dari kendaraan Di dalam halte, dipenuhi oleh calon penumpang transportasi umum yang memiliki ragam dimensi ukuran tubuh serta barang bawaan (Wahyu. Menurut Wahyu. D, apabila kondisi halte sedang sibuk, maka permasalahan utamanya adalah kebutuhan aktivitas gerak antar pengguna. Banyaknya pengunjung halte mengakibatkan kesulitan dalam bergerak dan rasa tidak aman. Ketidaknyamanan juga disebabkan dalam proses membangun halte belum memperhatikan faktor ergonomi dan faktor lingkungan (Wahyu. Ergonomi didefinisikan sebagai studi tentang aspek-aspek manusia dalam lingkungan kerjanya yang ditinjau secara anatomi, fisiologi, psikologi, engineering, manajemen dan desain atau perancangan serta kondisi lingkungan kerja untuk tercapainya kesehatan, keselamatan dan kenyamanan manusia (Nurmianto dalam Saputra Giri, 2. Menurut Zhang, et al. Kualitas transit transportasi publik . alte, stasiun, termina. merupakan aspek yang sangat mempengaruhi pilihan pengguna. Oleh karena itu, supaya pengguna halte nyaman dan aman ketika menunggu, perlu diketahui kebutuhan berdasarkan standar ergonomi manusia. Menurut buku Human Dimension oleh Panero & Zelnik tahun 2003, menyatakan bahwa Jarak bersih untuk dilalui satu orang tanpa membawa barang adalah 76,2 hingga 91,4cm. Sedangkan untuk dapat dilalui dua arah secara bersamaan, jarak bersih yang diperlukan ialah 172,7cm. Lalu. Jarak bersih rentan tubuh manusia dengan barang yang dibawa, yakni 76,2 cm hingga 106,7 cm. Kemudian. Untuk ketinggian kursinya, dapat menggunakan rata-rata persentil perempuan dan laki-laki. Pada gambar di atas, persentil ketinggian lutut untuk duduk pada laki laki ialah 49 cm. Sedangkan perempuan adalah 44,5cm. Sehingga untuk menentukan ketinggian kursi dapat dikatakan diantara 49 hingga 44,cm. Menurut Wahyu . , yang mengambil literatur dari Panero & Zelnik, 2003, untuk mengatur dimensi fasilitas duduk pada public space seperti halte, didasari pada aktivitas maupun perilaku penggunanya. Seperti merentangkan tangan, membaca, bermain gadget, meletakkan barang di atas tempat duduk, maka situasi ini dapat diasumsikan bahwa setiap pengguna memerlukan ruang duduk sekitar 76 cm dengan kedalaman tempat duduknya 40cm. Pengguna halte beragam, baik anak anak hingga lansia dan bagi kaum difabel. Pemerintah Indonesia sudah menetapkan aturan bahwa kaum difabel juga layak mendapatkan perlakuan dan pelayanan yang sama dengan orang normal. Sehingga, fasilitas umum seperti halte sudah harus memperhatikan kebutuhan fasilitas bagi kaum difabel berdasarkan standar ergonomi. sirkulasi bersih pengguna kursi roda yang bersebelahan dengan orang ketika berdiri ialah 106,7 Sedangkan untuk sirkulasi bersih pengguna kursi roda sendiri ialah 81,3 cm (Panero. J & Zelnik, 2. kemudian, sirkulasi bersih ketika pengguna kursi roda dan orang yang menggunakan tongkat berjalan bersamaan, yakni 152,4 cm. Diketahui dimensi kursi roda ialah Jurnal Vastukara. Volume 3 No 2 September 2023 | 248 81,3 cm. Dengan kata lain, sirkulasi bersih pemakai tongkat adalah 61 cm. (Panero. J & Zelnik. Pengguna halte beragam, baik anak anak hingga lansia dan bagi kaum difabel. Pemerintah Indonesia sudah menetapkan aturan bahwa kaum difabel juga layak mendapatkan perlakuan dan pelayanan yang sama dengan orang normal. Sehingga, fasilitas umum seperti halte sudah harus memperhatikan kebutuhan fasilitas bagi kaum difabel berdasarkan standar ergonomi. Bagi pejalan kaki yang berkebutuhan khusus . una netra dan yang terganggu penglihata. , membutuhkan informasi khusus pada permukaan lajur pejalan kaki. Informasi tersebut disebut lajur pemandu. Lajur pemandu terdiri dari: . Ubin/blok kubah sebagai peringatan, dengan tipe blok peringatan. Ubin/blok garis sebagai pengarah, dengan tipe blok pengarah. Penempatan ubin atau blok pengarahnya, terdiri dari: . ubin pengarah ditempatkan pada sepanjang jalur pejalan kaki . pada ubin pengarah harus memiliki ruang kosong 600 mm pada kiri-kanan ubin. pada ubin pengarah yang berada di daerah pertokoan/wisata yang jumlah pejalan kaki cukup banyak, ruang kosong harus lebih besar. penyusunan Ubin garis sedapat mungkin berupa garis lurus agar mudah diikuti oleh pejalan kaki. METODE Metode penelitian menggunakan metode kualitatif. Menurut Moleong . penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian, misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll. Secara holistic, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan metode alamiah. Tujuan penelitian kualitatif adalah memahami pandangan individu, mencari temuan dan menjelaskan proses, dan menggali informasi mendalam tentang subjek atau latar penelitian yang terbatas (Putra, 2013: . Metode kualitatif dibagi menjadi beberapa tahap, yakni : Memilih Objek Studi Pengumpulan Data Observasi Wawancara Analisis Data Merumuskan Hasil Studi Menyusun Rekomendasi untuk Pembuatan Tahap pertama, memilih objek studi yang didasari dengan letaknya yang strategis, karena dekat dengan banyak sekolah, rumah sakit, pasar, alun-alun, dan satu jalur dengan Bandara SoekarnoHatta. Tahap kedua, mengumpulkan data secara observasi secara langsung ke lokasi dibarengi dengan dokumentasi. Kemudian mewawancarai 6 pengguna Halte Satria. Selanjutnya tahap ketiga, menganalisis data yang sudah ditemukan di lapangan. Tahap keempat, merumuskan hasil studi. Terakhir, tahap kelima, menyusun rekomendasi berdasarkan studi literatur dan pertimbangan kebutuhan pengguna untuk pembangunan halte di masa yang akan datang. Untuk penelitian yang menggunakan metode kualitatif, jelaskan pendekatan yang digunakan, proses pengumpulan data, pemeriksaan keabsahan data, dan analisis data, dan proses penafsiran hasil penelitian. Maksud dari rincian ini ialah untuk menjamin keterulangan hasil HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan observasi secara langsung yang telah dilakukan, diperoleh data ukuran halte sebagai berikut Tabel 1. Ukuran Halte Satria Sumber: Penulis. Jurnal Vastukara. Volume 3 No 2 September 2023 | 249 Keterangan Dimensi Panjang bersih dalam halte 5 meter Lebar bersih halte 1,5 meter Tinggi bersih halte 2,5 meter Lebar sirkulasi bersih akses jalan 0,8 meter Tinggi tangga 0,2 meter Lebar tangga 0,3 meter Panjang tangga 0,9 meter Tinggi railing 0,8 meter Pintu keluar masuk halte 0,8 meter pintu keluar masuk untuk akses bus 3/4 1 meter Lebar ramp 0,9 meter PxLxT bangku . 1,5x0,6x0,6 meter Lebar dudukan bangku 0,35 meter Kemudian, ditemukan bahwa kondisi halte terlihat kurang baik, karena pertama area sekitarnya tidak terlalu bersih sehingga bagian luar dari bangunan halte juga menjadi kotor, kedua bagian plafondnya banyak terkelupas, dan ketiga bagian jendela halte banyak bekas lem dikarenakan kertas informasi sering ditempelkan pada kaca tersebut. Tabel 2. Kelengkapan Fasilitas Halte Satria Sumber: Penulis . Fasilitas Ada Tidak Ada Ae Nama halte Nomor halte Rambu petunjuk Papan informasi trayek Lampu penerangan Telepon umum Tempat sampah Ae Pagar Ae Papan iklan/ Pengumuman Ae Ae Ae Ae Ae Ae Menurut standarisasi halte, ukuran halte satria yang sekarang belum memenuhi standarisasi Lalu berdasarkan tabel 2, fasilitas halte belum memenuhi standarisasi halte karena belum ada nomor halte, papan informasi trayek, dan telepon umum. Kemudian, ada juga hasil Jurnal Vastukara. Volume 3 No 2 September 2023 | 250 pengamatan terhadap perilaku pengguna halte satria. Berdasarkan observasi yang dilakukan dari jam 11. 45 hingga 13. 00, pengguna halte bus ini cukup beragam dari anak-anak hingga orang dewasa. Untuk anak-anak, biasanya datang ke halte bus bersama orang tua mereka. Pengguna-pengguna ini biasanya menggunakan halte ketika ingin berangkat ke suatu tempat, seperti tempat kerja ataupun akan pulang ke rumah. Dari yang diamati saat observasi, ketika bus belum sampai, pengguna yang baru saja tiba biasanya langsung duduk di bangku halte, tapi ada juga yang memilih untuk duduk di bagian tangga halte. Biasanya mereka akan menunggu sekitar sepuluh menit sebelum akhirnya sebuah bus akan datang. Ketika menunggu biasanya pengguna hanya akan memainkan handphone mereka, tapi ada juga yang menyempatkan diri untuk makan cemilan. Ada juga beberapa pengguna yang langsung menaiki bus ketika mereka baru sampai di halte atau bisa disebut tidak menunggu sehingga tidak menggunakan fasilitas di halte. Selanjutnya, wawancara dilakukan kepada 6 orang pengguna Halte Satria. Pertanyaan yang diajukan mengenai kenyamanan terkait kondisi dan fasilitas halte. Ketika ditanya, ada beberapa pengguna yang sudah sering menggunakan halte ini dengan alasan dekat dengan rumah ataupun searah dengan tempat tujuan. Tapi ada juga yang baru pertama kali menggunakan halte Untuk kenyamanan nya sendiri, banyak pengguna yang mengeluh tentang bangku halte. Menurut mereka bangku tersebut terlalu tinggi, bahkan untuk orang dewasa sehingga lebih sulit untuk anak-anak bisa duduk di bangku tersebut. Tingginya bangku ini juga membuat kaki pengguna menggantung. Seorang pengguna juga mengharapkan agar bangku tersebut memiliki sandaran agar lebih nyaman. Seorang pengguna juga mengeluhkan tentang kondisi halte yang tidak terlalu bersih, juga lokasinya yang dekat dengan kali/sungai membuat pengguna sering mencium bau-bau tidak sedap di sekitar halte. Tetapi untungnya, halte ini memiliki sirkulasi udara yang cukup baik dikarenakan memiliki ventilasi dan juga banyaknya pohon yang tumbuh di sekitar halte yang menyangkal panas cahaya matahari dan bisa menyerap debu dan polusi sehingga udara tidak terasa terlalu panas dan bau-bau tidak sedap sedikit bisa teratasi. Ada pengguna yang berharap halte tersebut memiliki tempat untuk meletakan barang, karena terkadang sulit untuk memegang semua barang bawaan di tempat yang tidak terlalu luas seperti halte bus. Tapi ada juga yang menyatakan bahwa tempat penyimpanan barang tidak diperlukan karena halte bus merupakan tempat umum dan penggunanya banyak, sehingga tidak terlalu aman untuk menyimpan barang bawaan meskipun sebentar apalagi jika haltenya sedang dalam kondisi Setelah melakukan observasi dan wawancara, ditemukan bahwa kondisi halte masih banyak Mulai dari ukuran yang belum sesuai standar sehingga sirkulasi mobilitas pengguna terganggu. Untuk sirkulasi saat ini belum memadai bagi pengguna kaum difabel dan pengguna yang membawa banyak barang. Juga bangku untuk menunggu kedatangan transportasi umum banyak yang dikeluhkan. Karena, saat menunggu aktivitas pengguna tidak hanya duduk. Tetapi juga ada yang melakukan aktivitas lain, seperti bermain gawai, ngemil, menaruh barang pada bangku. Sehingga, kegiatan tersebut membutuhkan ukuran tempat duduk yang lebih luas agar nyaman dibanding dengan ukuran awal. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi, hal yang menurut pengguna agar halte nyaman adalah fasilitas duduk yang nyaman dan mobilitas sirkulasi yang baik. Oleh karena itu, untuk menciptakan fasilitas duduk yang nyaman dan sirkulasi yang baik, maka halte satria perlu memperhatikan standar halte dan kebutuhan pengguna. Untuk masalah fasilitas duduk, hal yang perlu diperhatikan adalah bentuk, ukuran, dan material dari tempat duduk. Adapun bentuk dari fasilitas duduk halte harus disesuaikan dengan kebutuhan penggunanya. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi, pengguna membutuhkan fasilitas duduk halte dengan sandaran punggung. Supaya, saat tiba di halte, pengguna bisa menyandarkan tubuh mereka yang lelah, dan agar pengguna tidak langsung bersandar pada material dinding di Jurnal Vastukara. Volume 3 No 2 September 2023 | 251 Kemudian, ada kebutuhan akan pembatas antar pengguna saat duduk berupa arm rest . andaran tanga. Armrest ini juga berfungsi agar tempat duduk tidak disalahgunakan, seperti dijadikan tempat tidur oleh beberapa oknum. Selain itu, agar pengguna bisa menjaga jarak untuk melindungi privasi masing-masing dan terjaganya sanitasi. Untuk ukuran fasilitas duduk halte, harus menyesuaikan dengan ergonomi dan standar halte. Juga dengan mempertimbangkan aktivitas pengguna halte ketika duduk. Menurut pengamatan, pengguna tidak hanya duduk ketika menunggu. Tetapi, beberapa pengguna melakukan aktivitas lain seperti bermain gawai, ngemil, dan menaruh barang bawaan pada dudukan. Maka dari itu, untuk satu pengguna fasilitas duduk membutuhkan lebar ruang gerak yang memadai. Lalu, ketinggian tempat duduk juga atas pertimbangan penggunanya. Saat wawancara dan observasi, ditemukan bahwa tempat duduk di Halte Satria terlalu tinggi baik itu untuk orang dewasa maupun untuk anak kecil. Oleh karena itu, untuk perancangan kedepannya, ketinggian tempat duduk harus dipertimbangkan siapa penggunanya. Kemudian, material yang terdapat pada Halte Satria saat ini, menurut penggunanya dirasa kurang nyaman. Tempat duduk halte satria saat ini menggunakan besi berbentuk tiga buah pipa yang disusun sedemikian rupa menjadi sebuah bangku tanpa sandaran dan armrest. Susunan besi ini memiliki jarak yang cukup lebar. Sehingga ketika duduk bagian yang kosong terasa tidak Jarak yang lebar ini juga dianggap berbahaya bagi anak kecil karena ada kemungkinan jatuh atau bagian tubuh tersangkut. Lalu, karena material yang digunakan adalah besi tanpa Sehingga, ketika diduduki terasa keras dan tidak nyaman meskipun digunakan dalam waktu yang singkat. Selanjutnya adalah masalah mobilitas pengguna pada sirkulasi, dimana yang perlu diperhatikan adalah ukuran komponen yang terdapat pada halte. Menurut wawancara dan observasi, ukuran dari halte satria ini belum memenuhi standar ukuran halte dan belum memenuhi kebutuhan Sehingga mobilitas di dalam halte terganggu dan tidak nyaman. Oleh karena itu, untuk kedepannya, ukuran halte ini bisa disesuaikan kembali dengan standar halte dan mempertimbangkan kebutuhan ruang gerak pengguna. Ketika diamati, pengguna membutuhkan sirkulasi yang cukup lebar. Karena beberapa pengguna ada yang membawa barang bawaan. Baik itu banyak maupun sedikit. Hal ini membutuhkan ukuran jarak yang memadai agar tidak terjadi senggolan antar pengguna yang membuat tidak nyaman. Menurut pengamatan, salah satu penyebab sempitnya akses mobilitas pada sirkulasi Halte Satria saat ini adalah lebar bangku yang terlalu besar dan memakan akses berjalan. Sehingga, ketika pengguna melalui akses jalan tersebut tidak nyaman dan aman akibat sering tersenggol antar pengguna. Sirkulasi yang sempit, juga tidak bisa dilalui oleh kaum difabel. Meskipun saat pengamatan tidak ada pengguna kaum difabel, namun ukuran sirkulasi tetap harus dipertimbangkan untuk kenyamanan semua pengguna termasuk kaum difabel. Karena sudah diketahui bahwa perancangan fasilitas publik termasuk halte, memerlukan pertimbangan standar ukuran yang dapat dilalui oleh siapapun. SIMPULAN Meningkatnya kebutuhan akan transportasi umum, membuat halte banyak digunakan oleh Maka dari itu, kenyamanan sebuah halte perlu diperhatikan agar pengguna betah menunggu di halte dan bisa meminimalisir penggunaan kendaraan pribadi. Salah satu halte yang ada, adalah halte Satria di Tangerang. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara. Halte Satria tidak termasuk sebagai halte yang nyaman karena fasilitas duduk dan mobilitas sirkulasi nya kurang nyaman serta tidak memenuhi kebutuhan pengguna. Dari segi fasilitas, yang perlu diperhatikan adalah bentuk, ukuran, dan material dari tempat duduk. Pengguna membutuhkan tempat duduk dengan sandaran, serta perlu ditambahkan arm rest. Untuk ukurannya disesuaikan dengan ergonomi dan kebutuhan aktivitas saat duduk. Lalu, material yang digunakan membuat pengguna nyaman meskipun diduduki di waktu yang singkat. Dari segi sirkulasi, yang perlu diperhatikan adalah lebar ruang gerak pada sirkulasi halte yang bisa Jurnal Vastukara. Volume 3 No 2 September 2023 | 252 diakses bagi pengguna yang membawa banyak barang bawaan, serta dapat dilalui oleh kaum Dari penelitian ini diharapkan dapat membantu pemerintah dalam membuat halte yang lebih nyaman dan sesuai dengan kebutuhan penggunanya. Perlu diketahui bahwa kenyamanan dapat dirasakan dari thermal dan lingkungan sekitar. Untuk kedepannya, diharapkan dapat diteliti lebih lanjut. DAFTAR PUSTAKA