Volume 6 Nomor 1 Februari 2026 p-ISSN : 2747-0725 e-ISSN : 2775-7838 Diterima : 17 November 2025 Direvisi : 21 Desember 2025 Disetujui : 7 Januari 2026 Diterbitkan : 28 Februari 2026 PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) DENGAN MEDIA KONKRET UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MATERI PECAHAN PADA SISWA KELAS II SDN 6 AMBON Siti Nur Hafizah Muwardin*. Wulandari Wance. Helisa Sampulawa. Yuni Stella Maris Ngutra. Claudia Cindy Jamlean. Yuan Paliak. Johanes Pelamonia. Linda Kusumawati Universitas Pattimura. Indonesia E-mail: hafizahnur6988@gmail. Abstrak: Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar matematika materi pecahan pada siswa kelas II SD Negeri 6 Ambon melalui penerapan model Problem Based Learning (PBL) berbantuan media konkret. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilaksanakan dalam dua siklus dengan menggunakan model spiral Kemmis & McTaggart yang meliputi tahapan perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian sebanyak 24 siswa yang terdiri dari 12 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan dikumpulkan melalui tes hasil belajar, observasi aktivitas guru dan siswa, serta Analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif untuk melihat peningkatan proses dan hasil belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model PBL dengan media konkret dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa, kemampuan pemecahan masalah, serta pemahaman konsep Hasil belajar siswa mengalami peningkatan pada setiap siklus dan mencapai indikator keberhasilan, yaitu Ou 75% siswa memperoleh nilai Ou 70. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa model PBL berbantuan media konkret efektif digunakan untuk meningkatkan hasil belajar matematika materi pecahan pada siswa kelas II SD Negeri 6 Ambon. Kata-kata Kunci: Problem Based Learning. Media Konkret. Hasil Belajar. Pecahan IMPLEMENTATION OF THE PBL-BASED LEARNING (PBL) MODEL WITH CONCRETE MEDIA TO IMPROVE MATHEMATICS LEARNING OUTCOMES ON FRACTIONS IN GRADE i STUDENTS OF SD 6 AMBON Abstract: This Classroom Action Research (CAR) aims to improve mathematics learning outcomes on fractions for second-grade students of SD Negeri 6 Ambon through the application of the Problem Based Learning (PBL) model assisted by concrete media. This Classroom Action Research (CAR) was conducted in two cycles using the Kemmis & McTaggart spiral model which includes the stages of planning, action, observation, and reflection. The research subjects were 24 students consisting of 12 male students and 12 female students collected through learning outcome tests, observations of teacher and student activities, and documentation. Data analysis was carried out qualitatively and quantitatively to see the improvement of the learning process and outcomes. The results showed that the application of the PBL model with concrete media can improve students' learning activities, problem-solving abilities, and understanding of fraction concepts. Student learning outcomes increased in each cycle and reached the success indicator, namely Ou 75% of students obtained a score of Ou 70. Thus, it can be concluded that the PBL model assisted by concrete media is effective in improving mathematics learning outcomes on fraction material for secondgrade students of SD Negeri 6 Ambon. Keywords: Problem Based Learning. Concrete Media. Learning Outcomes. Fractions PENDAHULUAN Pendidikan dasar memiliki peran penting dalam pembentukan kemampuan berpikir logis, kritis, dan sistematis, terutama melalui pembelajaran matematika. Namun, berbagai studi menunjukkan bahwa konsep pecahan masih menjadi salah satu materi yang sulit dipahami oleh siswa sekolah dasar karena sifatnya yang abstrak dan menuntut kemampuan representasi yang lebih tinggi. Hasil observasi awal di kelas II SD Negeri 6 Renjana Pendidikan Dasar - Vol. 6 No. 1 Februari 2026 Ambon menunjukkan bahwa pemahaman siswa terhadap pecahan masih rendah, terlihat dari aktivitas belajar yang kurang optimal, minimnya partisipasi, serta hasil evaluasi yang belum mencapai standar ketuntasan. Kondisi ini mengindikasikan perlunya pendekatan pembelajaran yang lebih inovatif, bermakna, dan sesuai dengan tahap perkembangan kognitif anak. Sejalan konstruktivisme Piaget, siswa sekolah dasar berada pada tahap operasional konkret, sehingga mereka membutuhkan pengalaman belajar melalui benda nyata untuk memahami konsep matematika. Model Problem Based Learning (PBL) dipandang relevan karena melibatkan siswa dalam proses pemecahan masalah nyata, mendorong mereka untuk berpikir kritis, serta menempatkan mereka pusat pembelajaran. Berbagai penelitian sebelumnya telah menunjukkan efektivitas PBL dalam meningkatkan hasil belajar matematika. Dahlia . melaporkan peningkatan nilai rata-rata dari 66,32 menjadi 82,06 setelah penerapan PBL. Penelitian Sukmawati . peningkatan ketuntasan belajar dari 36,67% menjadi 76,67%. Temuan Husnidar & Hayati . menguatkan bahwa PBL mampu meningkatkan ketuntasan hingga 95%. Selain itu, penelitian terbaru oleh Fitria et al. menunjukkan bahwa penggunaan media konkret pada materi pecahan dapat meningkatkan pemahaman konseptual siswa. Berdasarkan studi tersebut, dapat disimpulkan bahwa PBL efektif untuk meningkatkan hasil belajar, dan media konkret efektif untuk membantu pemahaman Namun, kajian mendalam tentang integrasi keduanya secara bersamaanAiPBL berbantuan media konkret pada materi pecahan kelas IIAimasih terbatas, khususnya pada konteks sekolah dasar di wilayah Ambon. Keterbatasan tersebut menjadi celah penelitian . esearch ga. yang penting untuk Oleh karena itu, penelitian ini memfokuskan diri pada penerapan model PBL yang dipadukan dengan media konkret untuk meningkatkan hasil belajar matematika materi pecahan. Model PBL dikembangkan berdasarkan konsep-konsep yang dicetuskan oleh Jerome Bruner. Konsep tersebut adalah belajar penemuan atau discovery learning. Konsep tersebut memberikan dukungan teoritis terhadap pengembangan model PBL yang berorientasi pada kecakapan memproses Menurut Kemendikbud . 4: . PBL merupakan suatu model pembelajaran yang menantang siswa untuk Aubelajar belajarAy kelompok untuk mencari solusi dari permasalahan nyata siswa. Pendapat di atas diperjelas oleh Jones dkk, . alam Yamin, 2013: . PBL adalah model pembelajaran yang lebih menekanan pada pemecahan masalah secara autentik seperti masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Kurniasih . 4: . PBL merupakan sebuah model pembelajaran yang menyajikan berbagai permasalahan nyata dalam kehidupan sehari-hari siswa . ersifat kontekstua. sehingga merangsang siswa untuk belajar. Dari beberapa pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa PBL adalah merupakan sebuah model pembelajaran yang menyajikan berbagai permasalahan nyata dalam kehidupan sehari-hari siswa . ersifat kontekstua. sehingga merangsang siswa untuk belajar. Menurut Susanto . 4: 88-. kelebihan PBL antara lain: Pemecahan masalah merupakan teknik yang cukup baik untuk memahami isi . Pemecahan masalah dapat menantang kemampun siswa serta memberikan pengetahuan baru. Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa. Pemecahan masalah dapat membantu Renjana Pendidikan Dasar - Vol. 6 No. 1 Februari 2026 pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata. Pemecahan masalah dapat membantu pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka Pemecahan masalah dianggap lebih menyenangkan dan diskusi siswa. Pemecahan mengembangkan kemampuan siswa untuk berfikir kritis dan mengembangkan menyesuaikan dengan pengetahuan baru. Pemecahan masalah dapat memberikan mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata. Kelemahan dari penerapan model ini antara lain: Bila siswa tidak memiliki minat atau tidak memiliki kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk . Keberhasilan pendekatan pembelajaran membutuhkan cukup waktu untuk . Tanpa pemahaman mereka untuk berusaha memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar dari apa yang mereka Menurut Kemendikbud, . 4: . mengemukakan bahwa langkah-langkah PBL adalah sebagai berikut. Orientasi siswa pada masalah Guru pembelajaran, menjelaskan logistik yang diperlukan, dan memotivasi siswa terlibat aktif dalam pemecahan masalah. Mengorganisasi siswa untuk belajar. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut. Renjana Pendidikan Dasar - Vol. 6 No. 1 Februari 2026 . Membimbing individual/kelompok. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, mendapatkan penjelasan dan pemecahan . Mengembangkan dan menyajikan hasil Guru merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya . Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Guru melakukan refleksi atau evaluasi terhadap materi yang telah dipelajari, meminta kelompok presentasi hasil kerja. Media pembelajaran yang berupa benda nyata atau dibuat menyerupai benda asli sehingga dapat diraba, dilihat, dan dimanipulasi langsung oleh peserta didik. media ini bertujuan matematika yang bersifat abstrak dengan cara memberikan pengalaman belajar yang nyata. Pada siswa kelas i SD yang berada pada (Piage. , penggunaan media konkret sangat diperlukan agar mereka dapat memahami pecahan melalui aktivitas langsung membagi atau memanipulasi benda. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Sudjana . 0: . hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah iya menerima pengalaman belajarnya. Adapun Suprijono . alam Sagala, 2013: . , memaparkan bahwa hasil belajar adalah polapola perbuatan, nilai-nilai, pengertianpengertian, sikap-sikap, apresiasi dan Kata matematika berasal dari kata latin mathematika yang mulanya diambil dari kata Yunani yaitu mathematike yang berarti kata itu mempunyai asal katanya mathema yang berarti pengetahuan atau ilmu . nowledge, scienc. Kata mathematike berhubungan pula dengan kata lain yang hampir sama, yaitu mathein atau mathenein yang artinya belajar . Jadi berdasarkan asal katanya maka kata matematika berarti Ilmu pengetahuan yang didapat dengan berpikir bernalar (Suwangsih, 2006: . Adji . 6: . mengemukakan bahwa matematika adalah bahasa, sebab matematika merupakan bahasa simbol yang berlaku secara universal dan sangat padat makna dan pengertian. Kata pecahan berarti bagian dari keseluruhan yang berukuran sama, berasal dari bahasa latin fractio yang berarti memecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Sebuah pecahan mempunyai 2 bagian yaitu pembilang dan penyebut yang penulisannya dipisahkan oleh garis lurus dan bukan miring (/). Contoh: , dan seterusnya. (Sukajati, 2. Pengertian pecahan yang lain adalah lambang bilangan dengan bentuk. b O0. mewakili bilangan cacah dan . adalah bilangan asli. Pecahan juga dapat diartikan sebagai bagian dari sesuatu yang utuh. Dalam ilustrasi gambar, bagian yang dimaksud adalah bagian yang diperhatikan, yang biasanya ditandai dengan arsiran. Bagian inilah yang dinamakan pembilang. Adapun bagian yang utuh adalah bagian yang dianggap sebagai satuan, dan dinamakan (Musrikah, 2. Pecahan dapat diartikan sebagai bagian dari sesuatu yang utuh, dalam ilustrusi gambar, bagian yang di maksud adalah bagian yang di perhatikan, yang biasanya ditandai dengan arsiran. Penelitian menganalisis efektivitas penerapan PBL meningkatkan hasil belajar pecahan pada siswa kelas II SD Negeri 6 Ambon. Secara pembelajaran berbasis masalah pada materi Secara praktis, penelitian ini memberikan manfaat bagi guru dalam merancang pembelajaran yang lebih menarik, bermakna, dan sesuai dengan karakteristik kognitif peserta didik. Selain itu, penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi bagi pembelajaran matematika, sekaligus menjadi rujukan bagi peneliti selanjutnya. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research sebagaimana dikemukakan oleh Kemmis dan McTaggart . , yang memandang tindakan kelas sebagai proses berulang yang meliputi observasi, dan refleksi. Berikut adalah visualisasi alur penelitian tindakan kelas model Kemiis & MC Taggart. Gambar 1: Desain PTK Model Kemmis & MC Taggart. Sumber: (Parnawi, 2. Model ini dipilih karena mampu memberikan ruang bagi guru dan peneliti untuk melakukan perbaikan pembelajaran berdasarkan temuan di kelas. Setiap siklus dalam penelitian ini dirancang untuk memperbaiki kelemahan siklus sebelumnya hingga diperoleh hasil belajar yang optimal. Penelitian dilaksanakan di SD Negeri 6 Ambon, bertempat di kelas II, dengan subjek penelitian sebanyak 24 siswa yang terdiri dari 12 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan. Penelitian dilakukan pada semester ganjil tahun ajaran berjalan dan berlangsung pada bulan November 2025. Lokasi dan waktu penelitian dipilih berdasarkan kebutuhan akademik, ketersediaan subjek penelitian, serta relevansi materi pecahan yang sedang Renjana Pendidikan Dasar - Vol. 6 No. 1 Februari 2026 dipelajari pada tingkat tersebut. Prosedur penelitian merujuk pada model spiral PTK yang mencakup tiga tahap utama pada setiap siklus, yaitu: . perencanaan, yang meliputi penyusunan perangkat pembelajaran berbasis Problem Based Learning (PBL) dan media konkret. tindakan dan observasi, yaitu pelaksanaan pembelajaran menggunakan langkah-langkah PBL sesuai pedoman Kemendikbud . sambil melakukan pengamatan aktivitas guru dan siswa. refleksi, yaitu mengkaji hasil observasi untuk menentukan efektivitas tindakan dan kebutuhan perbaikan pada siklus berikutnya (Parnawi, 2. Siklus indikator keberhasilan yang ditetapkan. Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer berasal dari hasil observasi selama pembelajaran serta hasil evaluasi belajar siswa setelah tindakan diterapkan. Data pendukung seperti daftar nilai, lembar kerja siswa, perangkat pembelajaran, serta foto-foto kegiatan yang relevan. Seluruh data digunakan untuk menggambarkan proses dan hasil penerapan model PBL berbantuan media Teknik pengumpulan data meliputi observasi, tes hasil belajar, dan dokumentasi. Observasi dilakukan menggunakan lembar observasi guru dan siswa yang telah divalidasi secara konseptual mengacu pada indikator aktivitas pembelajaran berbasis PBL (Rusman. Tes hasil belajar digunakan untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap materi pecahan, sedangkan dokumentasi mendukung interpretasi data melalui bukti (Sugiyono, 2. Teknik analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif mengikuti model Miles. Huberman, dan Saldaya . , yang mencakup proses reduksi data, penyajian data, serta penarikan Analisis kuantitatif digunakan Renjana Pendidikan Dasar - Vol. 6 No. 1 Februari 2026 untuk menggambarkan kecenderungan hasil belajar dan tingkat keterlibatan siswa sepanjang tindakan tanpa penyajian formula statistik, sesuai ketentuan jurnal. Integrasi kedua teknik analisis ini memungkinkan pembelajaran dan peningkatan pemahaman siswa secara komprehensif. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Hasil penelitian diuraikan dalam tahapan berupa siklus pembelajaran yang dilakukan dalam proses belajar mengajar di Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus sesuai dengan model Kemmis dan MC. Taggart dan akan dipaparkan sebagai berikut: Siklus 1: Perencanaan . Peneliti melakukan analisis kurikulum untuk mengetahui kompetensi dasar yang akan disampaikan kepada siswa. Peneliti menetapkan waktu pelaksanaan Peneliti Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang terdiri dari kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan Pada kegiatan inti RPP terdiri langkah-langkah pembelajaran yang sesuai dengan model PBL, di antaranya: Orientasi masalah Mengorganisasikan siswa Membimbing penyelidikan Mengembangkan dan menyajikan hasi Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Peneliti membuat lembar kerja siswa . Menyusun soal evaluasi . oal ujian/te. pada akhir siklus. Menyusun dan mempersiapkan lembar observasi pelaksanaan pembelajaran. Menyiapkan kamera untuk digunakan ketika pembelajaran berlangsung. Tindakan dan Pengamatan . Peneliti melaksanakan langkah-langkah pembelajaran sesuai dengan RPP yang dibuat dengan langkah-langkah model pembelajaran PBL. Langkah-langkah tersebut adalah: Kegiatan awal pada kegiatan awal guru membuka pembelajaran dan memberikan apresepsi kepada siswa sebelum memulai . Kegiatan inti: pada kegiatan inti guru dengan langkah-langkah model PBL yang di antaranya adalah: . orientasi siswa pada masalah, . guru mengorganisasi siswa untuk belajar. guru membimbing kelompok, . mengembangkan dan menyajikan hasil karya, dan . menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Kegiatan penutup: pada kegiatan penutup guru memberikan penguatan terhadap pembelajaran yang telah Guru juga memberikan motivasi kepada siswa untuk giat belajar. Peneliti memberikan soal-soal untuk mengukur pemahaman siswa. mengadakan evaluasi . ol te. untuk mengenai materi pecahan yang telah Observer melakukan pengamatan aktifitas dan sikap yang ditunjukkan Refleksi Refleksi adalah kegiatan mengkaji dan mempertimbangkan hasil yang diperolch dari Data atau hasil perubahan setelah adanya tindakan dianalisis kemudian dijadikan acuan perubahan atau perbaikan tindakan selanjutnya. Apabila pada tindakan pertama hasil penelitian masih belum sesuai dengan tujuan yang diharapkan, maka dapat dilakukan perubahan rencana tindakan pada siklus berikutnya . dengan mengacu pada hasil evaluasi siklus 1. Dalam upaya memperbaiki tindakan pada siklus yang berikutnya perlu dilakukan pemeriksaan terhadap catatan-catatan hasil observasi yang telah dilakukan. Siklus II Perencanaan Peneliti mengidentifikasi data dan informasi dari hasil refleksi pada siklus sebelumnya yaitu siklus 1 Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) berdasarkan refleksi pada siklus 1 dengan menerapkan model Problem Based Learning (PBL) Peneliti membuat lembar kerja siswa Menyusun soal evaluasi . oal ujian/te. pada akhir siklus. Menyusun dan mempersiapkan lembar observasi pelaksanaan pembelajaran. Tindakan dan observasi . Peneliti memperbaiki tindakan sesuai Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) . Menerapkan Problem Based Learning pada materi operasi hitung pecahan. Kegiatan pembelajarannya sebagai berikut: Kegiatan awal pada kegiatan awal guru membuka pembelajaran dan memberikan apresepsi kepada siswa sebelum memulai pembelajaran. Kegiatan inti: pada kegiatan inti guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan langkah-langkah model PBL. yang di antaranya adalah: . orientasi siswa pada masalah, . guru mengorganisasi siswa untuk belajar, . individual maupun kelompok, . mengembangkan dan menyajikan hasil karya, dan . menganalisis dan Renjana Pendidikan Dasar - Vol. 6 No. 1 Februari 2026 Kegiatan penutup: pada kegiatan penutup guru memberikan penguatan terhadap pembelajaran yang telah Guru juga memberikan motivasi belajar. Pada akhir siklus diadakan tes evaluasi . oal te. untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa mengenai operasi hitung pecahan. Refleksi Data yang berkaitan dengan proses dan hasil yang diperoleh dari siklus 2 dianalisis dan dikaji untuk mengetahui keberhasilan dan kekurangannya. Tabel 1. Hasil Penilaian Kemampuan Siswa (Materi Peacaha. Indikator Penilaian Rata-rata Nilai Evaluasi Jumlah Siswa Tuntas Presentase Ketuntasan Aktivitas Siswa Tabel 2. Siklus I Keterangan Siklus Siswa Siswa Meningkat Cukup Tinggi Berhasil (>75%) Lebih Interaktif Ketercapaian Obsevasi Aktivitas Guru (Model PBL) No Tahapan Model Problem Based Learning (PBL) Orientasi pada masalah Mengorganisasi siswa untuk belajar Membimbing (Individu/Kelomp Mengembangkan hasil karya Menganalisis Mengevaluasi proses pemecahan Meningkat Ketercapai an Siklus I Ketercapai an Siklus II Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Belum Maksimal Tercapai Tercapai Tercapai Belum Maksimal Tercapai Renjana Pendidikan Dasar - Vol. 6 No. 1 Februari 2026 Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Problem Based Learning berbantuan media konkret memberikan dampak positif terhadap aktivitas dan hasil belajar siswa kelas II pada materi pecahan. Peningkatan aktivitas belajar pada setiap indikator menunjukkan bahwa PBL berhasil menciptakan pembelajaran yang lebih interaktif dan berpusat pada siswa. Model ini menuntut siswa untuk terlibat dalam penyelidikan masalah, berdiskusi, serta menyusun solusi, sehingga sesuai dengan pandangan Piaget bahwa anak usia sekolah dasar membutuhkan pengalaman konkret untuk memahami konsep abstrak seperti Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian Dahlia . Sukmawati . , dan Husnidar & Hayati . yang PBL meningkatkan keterlibatan dan hasil belajar siswa pada berbagai materi matematika. Penelitian Fitria et al. juga mendukung bahwa media konkret mampu memperjelas Dengan demikian, integrasi PBL dan media konkret memperkuat kedua pendekatan tersebut sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna. Peningkatan hasil belajar siswa dari pra-siklus hingga siklus II mengindikasikan bahwa penggunaan media konkretAiseperti potongan kertas dan benda manipulatifAi membantu siswa memahami bagian-bagian pecahan secara visual dan motorik. Sementara itu, langkah-langkah PBL membantu siswa menghubungkan konsep pecahan dengan situasi nyata, sesuai dengan pendapat Rusman . bahwa PBL mendorong pengembangan berpikir kritis dan kolaboratif. Dengan tercapainya lebih dari 75% ketuntasan pada siklus II, penelitian ini mengonfirmasi bahwa model PBL berbantuan media konkret adalah strategi yang efektif untuk meningkatkan pemahaman pecahan, partisipasi, dan kemandirian belajar siswa. Temuan ini memperkuat pentingnya desain perkembangan kognitif siswa sekolah dasar melalui pengalaman langsung, pemecahan masalah, dan diskusi kelompok. PENUTUP Simpulan Kesimpulan menunjukkan bahwa penerapan model Problem Based Learning (PBL) berbantuan media konkret mampu meningkatkan hasil belajar matematika materi pecahan pada siswa kelas II SD Negeri 6 Ambon. Tujuan penelitian untuk menganalisis efektivitas PBL dengan dukungan media konkret tercapai, ditandai dengan meningkatnya aktivitas belajar, keterlibatan siswa dalam pemecahan masalah, serta pencapaian hasil belajar yang melampaui indikator keberhasilan yang Proses pembelajaran yang sebelumnya bersifat pasif berubah menjadi lebih interaktif, kolaboratif, dan bermakna karena siswa dapat memanipulasi media konkret sebagai representasi konsep pecahan. Peningkatan ketuntasan belajar dari prasiklus hingga siklus II menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara penggunaan model PBL dengan kemampuan siswa memahami konsep pecahan secara lebih Saran Saran yang diberikan berdasarkan temuan penelitian ini adalah bahwa guru sebaiknya mengintegrasikan model Problem Based Learning dengan penggunaan media konkret dalam pembelajaran matematika, terutama pada materi yang bersifat abstrak seperti pecahan, karena pendekatan ini terbukti dapat meningkatkan pemahaman konsep dan partisipasi siswa. Pertama, guru dapat mengembangkan variasi media konkret yang lebih beragam agar pengalaman belajar siswa semakin kaya dan kontekstual. Kedua, sekolah perlu memberikan dukungan melalui penyediaan fasilitas, pelatihan, dan ruang diskusi bagi guru untuk meningkatkan kemampuan dalam menerapkan model pembelajaran inovatif. Ketiga, peneliti selanjutnya dapat memperluas kajian dengan meneliti materi matematika lainnya atau mengombinasikan PBL dengan teknologi pembelajaran untuk melihat efektivitas yang lebih luas. Temuan penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan dalam peningkatan kualitas pembelajaran matematika di sekolah DAFTAR PUSTAKA