Volume 10. No. 2 September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 INSTITUT AGAMA ISLAM PANGERAN DIPONEGORO NGANJUK http://ejurnal. iaipd-nganjuk. INTEGRASI KONSEP TASAWUF QURAISH SHIHAB DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Alfin Maskur Universitas Pangeran Diponegoro Nganjuk Email : alfinmaskur@gmail. Info Artikel Submit : 9 September 2024 Revisi : 11 September 2024 Diterima : 13 September 2024 Publis : 17 September 2024 Abstrak Mensinergikan nilai Ae nilai islam dalam dunia pendidikan penting dilakukan untuk menciptakan karakter siswa yang Islami baik secara mental maupun spiritual. Salah satunya dengan cara meng-integrasikan konsep-konsep tasawuf kedalam kurikulum pendidikan agama islam. Dalam konteks konsep tasawuf yang berkaca pada ulama lokal, salah satunya adalah Quraish Shihab, perlu kiranya meng-itegrasikan kosepnya dalam pendidikan, terutama ketika konsep tersebut berakar pada ajaran tradisi Islam. Dalam Penelitian ini mengeksplorasi integrasi konsep tasawuf, khususnya zuhud dan tawakal menurut pemikiran Quraish Shihab, dalam pendidikan agama Islam. Zuhud, sebagai sikap hidup sederhana dan tidak tergantung pada materi, serta tawakal, yaitu berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan setelah berusaha, adalah dua konsep utama dalam tasawuf yang penting untuk pengembangan spiritual. Quraish Shihab, melalui berbagai karya dan interpretasinya, menawarkan pemahaman yang mendalam mengenai bagaimana kedua konsep ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari serta pendidikan. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi pustaka, mencakup analisis teks-teks Quraish Shihab dan implementasinya dalam kurikulum pendidikan agama Islam. Penelitian menunjukkan bahwa integrasi konsep zuhud dan tawakal dalam pendidikan agama Islam sangat penting untuk menanamkan nilai-nilai spiritual dan moral pada siswa. Dengan mengajarkan siswa tentang pentingnya kesederhanaan, keterikatan, dan kepercayaan kepada Allah, pendidikan dapat membentuk karakter yang seimbang dan bermakna, yang menjamin keberhasilan di dunia dan akhirat. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 425 Volume 10. No. 2 September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Ajaran Zuhud dan Tawakkal memberikan landasan yang kuat bagi para siswa untuk menghadapi tantangan hidup dengan sikap positif dan ketekunan, yang pada akhirnya mengarah pada kehidupan yang holistik dan memuaskan Kata kunci Integrasi. Tasawuf. Pendidikan Agama Islam Pendahuluan Istilah Pendidikan Agama Islam merupakan upaya untuk mensinergikan nilai Ae nilai islam didalam sebuah kurikulum pendidikan yang diterapkan bagi siswa didik. Upaya ini menjadi pintu masuk untuk membentuk karakter manusia yang berakhlak mulia yang bisa dinilai dari kualitas hubungannya dengan sesama dan degan Tuhannya. Dengan demikian maka tujuan pendidikan islam adalah mengarahkan peserta didik untuk sadar diri terhadap tanggungjawabnya sebagai akhuk ciptaan Tuhan dan makhluk sosial serta membimbing mereka untuk menjadi manusia baik dan benar sebagai perwujudan khalifatullahfi al-ardh. Untuk mencapainya, diperlukan usaha-usaha yang serius dalam mengelola atau memanjemen bagaimana hal tersebut bisa tersinergi. Sementara itu Problematika pendidikan baik pendidikan umum maupun pendidikan agama Islam tidak akan punah dan sirna. Realitas empirik ini tidak bisa lepas atas konseptualisasi pendidikan yang bersifat dinamis, progresif dan kreatif tidak hanya pada aspek materi, kurikulum, model, metode dalam proses pembelajaran tetapi juga pada paradigma, pendekatan dan manusianya sendiri sebagai objek dan subjek pendidikan. Merujuk pada kalimat filosof Yunani Heracletos . -480 S. ) nothing endures but change, pendidikan Islam harus mampu berevolusi secara dinamis, kreatif dan inovatif bersifat Pendidikan Islam harus dimaknai pada konsepsi minimalis maksimalis yang membentuknya yaitu tarbiyyah . , taAoliim . dan taAodib . ebaikan/keadaba. Salah satu langkah untuk merealisasikan pendidikan Islam yang mampu membentuk karakter akhlak mulia sebagaimana dicontohkan oleh Rosululloh, maka dibutuhkan sinergi keilmuwan yang mengarah pada pembentukan karakter tersebut, dalam hal ini keilmuwan yang sesuai dengan hal tersebut adalah Tasawuf. Tasawuf Merupakan spiritualitas Islam yang bertujuan membangun kesalehan dan kesempurnaan kebajikan manusia yang sesuai dengan al-Qur`an, sinergi antara yang bersifat etis dan teologis. 1Bahar Agus Setiawan dkk. Tasawuf Implementation In Islamic Education: Independence. Dialogue And Integration. Jurnal Potensia. Vol. 5 No. 1 2019 hal. 2 Paul L. Heck. Sufism. What Is It Exackly?. Religion Compass, 2007, https://doi. org/10. 1111/j. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 426 Volume 10. No. 2 September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Paradigma tasaswuf yang ideal, akan menjadi hal yang sangat bermakna apabila dapat diterapkan dalam dunia pendidikan terutama yang berkaitan dengan proses pendidikan agama Islam. Terlepas dari perdebatan yang terjadi dalam dunia tasawuf, ada dua macam tipologi tasawuf yaitu tasawuf akhlaqi dan tasawuf falsafi yang dalam perkembangan keilmuan muncul istilah-istilah baru seperti tasawuf konvensional, tasawuf tradisional, tasawuf saintifik, tasawuf transformatif, dan lain sebagainya. Tasawuf dapat menjadi penawar bagi problematika pendidikan Islam yang sedang dihadapi. Cita-cita ideal terbentukknya insan kamil dari proses pendidikan agama Islam dapat diwujudkan dengan menjadikan tasawuf sebagai sebuah metode dan strategi pembelajaran pada siswa. Oleh karena itu. Integrasi konsep Tasawuf dalam pendidikan agama Islam merupakan upaya penting untuk memahami dan menerapkan nilai-nilai spiritual dalam konteks pendidikan terutama jika konsep tersebut merupakan hasil pemikrian ulama-ulama Indonesia yang secara langsung bersentuhan dengan tradisi dan budayanya. Hasil pemikiranya merupakan kontekstualisasi nilai tasawuf yang telah mereka pelajari selama mencari keilmuwan Islam. Salah satu ulama ternama yang telah menghasilkan berbagai karya adalah Quraish Shihab. Dengan demikian, maka menarik untuk melihat bagaimana konsep tasawuf Quraish Shihab untuk di integrasikan dengan Pendidikan Agama Islam sehingga mampu membuat anak didik terbentuk karakter yang cerdas secara intelektual dan mempunyai akhlak mulia dengan kedalaman spiritualnya. Metode Penelitian ini menggunakan metode penelitian literatur atau biasa disebut dengan penelitian kepustaan. Yaitu suatu penelitian dengan teknik pengumpulan data melalui sumbersumber tertulis, baik dari buku, artikel, surat kabar maupun majalah dengan tujuan untuk memperoleh pemahaman yang mendalam terkait judul penelitian tersebut. Adapun tahap-tahap yang harus ditempuh peneliti dalam penelitian kepustakaan adalah Pertama, mengumpulkan bahanbahan penelitian. Bahan yang dikumpulkan adalah berupa informasi data empirik yang bersumber dari buku-buku, jurnal, hasil laporan penelitian resmi maupun ilmiah dan literatur lain yang mendukung tema penelitian ini. Kedua, membaca bahan Dalam membaca bahan penelitian, pembaca harus menggali secara mendalam bahan bacaan yang memungkinkan akan menemukan ide-ide baru yang terkait dengan judul Ketiga. Membuat catatan penelitian. Keempat. Mengolah catatan penelitian. Semua Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 427 Volume 10. No. 2 September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 bahan yang telah dibaca kemudian diolah atau dianalisis untuk mendapatkan suatu kesimpulan yang disusun dalam bentuk laporan penelitian. Pembahasan Biografi Quraish Shihab Nama lengkap beliau adalah Muhammad Quraish Shihab dilahirkan di Rappang Kabupaten Sidenreng Rappang. Sulawesi Selatan pada tanggal 16 Februari 1944. Beliau berasal dari keturunan arab quraisy Ae bugis yang terpelajar. Beliau merupakan keturunan ulama, guru besar, pengusaha dan politikus yang memiliki reputasi baik dalam kalangan masyarakat Sulawesi Ayahnya bernama Prof. Abdurrahman Shihab ia adalah seorang ulama dan guru besar dalam bidang tafsir. Pendidikan dasarnya ia tempuh di Ujung Pandang setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya beliau melanjutkan Pendidikan menengahnya di Malang di Pondok Pesantren Darul Hadits al fiqhiyah pada tahun 1958 lalu beliau berangkat ke Kairo Mesir dan diterima di Kelas Tsanawiyyah Al-Azhar pada 1967 dan baru meraih Gelar Lc (S-. pada Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir Hadis Universitas Al-Azhar. kemudian beliau melanjutkan pendidikannya di jurusan dan fakultas yang sama pada 1969 beliau meraih sedangkan gelar MA untuk Spesialisasi Bidang Tafsir Al-Quran2 dengan tesis berjudul al-iAojaz tasyriry li al-Qur'an Al-Karim. Selanjutnya pendidikan S tiganya juga di Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar Kairo dalam bidang ilmuilmu al Quran dengan memperoleh yudisium summa cum laud disertai penghargaan tingkat pertama (Mumtaz maAoa martabat al-syaraf al-Aoul. 5 Jejak Intelektual Dalam mengkaji perjalanan intelektual yang dilalui M. Quraish Shihab diperlukan sistematika yang baik dan memadai, baik dalam mendiskripsikan jejak dan karier intelektualakademik maupun intelektual-sosial yang dilaluinya menuju upaya tersebut, pada bagian ini penulis membagi jejak perjalanan intelektualnya kedalam beberapa tahap atau fase. Fase Pertama Perjalanan intelektual M. Quraish Shihab pada fase ini dimulai dari masa kanak-kanak, yaitu sebelum masuk sekolah formal. Fase ini terus berlanjut dan berakhir ketika ia mengakhiri pendidikan menengah pertamanya di Malang, pada saat masih duduk di kelas 2, untuk 3 Mestika Zed. Metode Penelitian Kepustakaan, (Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2. , 3. 4 https://id. org/wiki/Muhammad_Quraish_Shihab 5 M. Quraish shihab. Wawasan al-Quran, ( Bandung : PT Mizan Pustaka 2000 ), 5. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 428 Volume 10. No. 2 September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 melanjutkan pendidikannya di Kairo Mesir. Fase pertama ini penulis istilahkan dengan fase Aumembangun pondasiAy keilmuan. Pada fase ini, ia tidak banyak mengambil dan mendapatkan wacana intelektual, sebaliknya cenderung terbatas pada penanaman prinsip-prinsip agama, baik bidang aqidah, etika . , fiqih, al-QurAoan maupun hadits artinya pada fase ini ia banyak mempelajari pokok-pokok keilmuana islam, sebagai bekal untuk pendalaman kajian keislaman di masa pendatang. Pada masa ini ia juga mendapat pengaruh kepribadian dari dua orang guru AeAuutamaAy-nya yaitu ayahnya Abdurrahman Shihab dan pengasuh PP Darul Hadits al-Faqihiyyah, al Habib Abdul Qadir Bil Faqih. Sifat dan sikap toleran yang dimiliki ayahnya, yang sering dilihatnya secara langsung ketika masih belia tampaknya berpengaruh kuat terhadap pribadinya. Keterpengaruhan sifat ayahnya Auyang toleranAy terhadap masyarakat dengan berbagai latar belakang agama, kelompok, dan aliran, menjadikannya berkarakter sama dalam melihat dan menyikapi berbagai perbedaan pendapat bahkan keyakinan. Keterpengaruhan M. Quraish Shihab oleh guru keduanya, al-Habib Abd Qadir pun tidak dapat dinafikan. Keterpengaruhan seorang miurid oleh gurunya tentu dalam banyak aspek, baik akidah, syariah maupun keilmuan yang lain, khususnya metode berpikir ( manhaj al-fikr ) dan Fase Kedua Fase kedua ini dimulai ketika M. Quraish Shihab meninggalkan Indonesia untuk studi di Mesir dan berakhir pada saat ia menyelesaikan pendidikan S2 Ae nya. Fase kedua ini penulis istilahkan dengan Au menimba, mencari dan membangun Au keilmuan dan intelektual. Pada tahun 1967 ia meraih gelar Lc (S-. dari fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir dan Hadits. Pada tahun itu pula menempuh program Magister untuk spesialisasi tafsir QurAoan dengan tesis al-QurAoan berjudul Au al-Ijaz al-TasyriAoiy li al-QurAoan al-Karim Ay6. Pada fase kedua ini selain mendapatkan pendidikan formal juga mendapat pendidikan khusus dari beberapa ulamaAo al-Azhar. antaranya adalah Syekh Abdul Halim Mahmud. Di samping itu pertemuan dan pertukaran pikiran secara langsung atau tidak langsung dengan ulamaAo di Mesir dari berbagai mazhab turut membangun dan mewarnai keilmuan dan keintelektualannya. Hal ini yang menjadikan beliau salah satu ulamaAo AukontrofersiAy yang mendapatkan label AuliberalAy di tanah air. Ibid,. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 429 Volume 10. No. 2 September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Fase Ketiga Fase ini merupakan fase terakhir yang lebih banyak berhubungan dengan ranah intelektual sosial, yang sedikit banyak turut mewarnai pemikiran M. Quraish Shihab. Fase ini disebut Aupelengkap dan penyempurnaAy intelektualnya. Fase ini lebih banyak berkiprah yang kaitannya dengan jabatan baik yang berkaitan dengan aktifitas intelektualnya ataupun tidak. Pada tahun 1982 beliau menempuh program doctor dengan disertasi berjudul : Nazhm al-Durar li alBiqaiy Tahqiq wa Dirasah Au. Karier intelektual beliau di kampus antara lain : pengajar di IAIN Alaudin Ujung Pandang. Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta selama dua pereode ( 1992 Ae 1996 dan 1996 Ae 1. Di luar kampus beliau menjabat : Pembantu Pimpinan Kepolisian Indonesia Timur dalam bidang Pembinaan mental7. Ketua MUI Pusat tahun 1984. Anggota Lajnah Pentashih al-QurAoan Depag tahun 1984. Asisten ketua Umum ICMI, menteri agama, duta besar di sejumlah Negara dan lain-lain. Karya Intelektual M. Quraish Shihab Hingga saat ini M. Quraish Shihab telah menghasilkan puluhan karya ilmiah yaitu sejak lulus S2 dari universitas al-Azhar. Di antaranya adalah9 : Tafsir al-Misbah. Filsafat Hukum Islam. Membumikan al-QurAoan. Wawasan al-QurAoan. Lentera Hati. Studi Kritis Tafsir al-Manar, dan masih banyak yang lain. Sekilas Tentang Tasawuf Istilah tasawuf dalam tradisi studi Islam juga disebut dengan istilah lainnya seperti sufime dan mistisisme. Terlepas dari berbagai perdebatan yang ada istilah-istilah tersebut merupakan istilah yang sudah mapan dan formal dalam kajian studi Islam. Istilah sufisme atau tasawuf merupakan istilah yang identik dan dapat dikatakan hanya ada dalam Islam. Tinjauan etimologi, tasawuf mempunyai makna asal dari tashawwafa yatashawwafu, yang artinya . berbulu banyak. Landasan pengertian ini didasarkan pada asal katanya yaitu shaafa - yashuufu menjadi shaufan bentuk masdar yang artinya banyak. Kemudian istilah ini dikenal dengan nama AushufiAy yang selanjutnya dikenal dengan ciri khasnya menggunakan pakaian dari kain wol . ulit domb. Pemakaian kain wol yang berwarna putih ini merupakank identitas dan simbol bagi para pelaku tasawuf, yang mencerminkan sifat kesederhanaan. Ibid. Ibid. Quraish Shihab. Wawasan al-QurAoan ( Bandung : Mizan, 2. , 11. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 430 Volume 10. No. 2 September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Pengertian kata AushuffahAy yang berarti serambi masjid didasarkan kepada para sahabat muhajirin yang hidup di Masjid Nabawi dengan dengan Rasulullah yang hidup zuhud dan konsentrasi ibadah. Perspektif linguistik . definisi tersebut memberikan pemahaman bahwa keserhanaan, bijaksana, memelihara kesucian, taat ibadah merupakan gambaran hakikat dari akhlak yang mulai. Sementara itu secara terminologi, definisi tasawuf memiliki banyak persepektif yang berbeda-beda menurut para ulama. mulai al-Junaidi al-Baghdadi, al-Ghazali, al-Nawawi, al-Kurdi. Abd al-Qadir al-Jailani, yang dari beberapa pengertian tersebut dapat diambil definisi sederhana bahwa taswuf merupakan penyucian jiwa dan menjauhi hawa nafsu yang didasari dengan ilmu yang tercermin dalam amal untuk mendekatkan diri dan mencapai karunia Allah. Tasawuf merupakan spiritualitas Islam yang bertujuan membangun kesalehan dan kesempurnaan kebajikan manusia yang sesuai dengan al-Qur`an, sinergi antara yang bersifat etis dan teologis. Said Aqiel Siradj, pakar tasawuf alumni Universitas Ummul Qura Makkah mengatakan: Tasawuf merupakan sifat hamba kepada Tuhannya, terhadap dirinya sendiri dan terhadap alam Disini tasawuf berfungsi sebagai jalan bagi kehidupan. Oleh karena itu tasawuf Islam hadir sebagai dinamisator terhadap spiritual Islam. 11 Tasawuf merupakan cerminan dari beberapa Ia mengekspresikan keadaan diri, getaran spiritual, lintasan hati, bisikan nurani, rasa kerinduan yang tidak bisa ditangkap atau dipenuhi dengan gambaran kata-kata atau istilah, karena gerakannya yang memang sangat cepat, atau tidak ada padanan istilah di alam riil sebagai bentuk gambaran konkret dari adanya perkembangan pemikiran tasawuf. Tasawuf sebagai doktrin penyucian jiwa menuju Allah melahirkan sufisme sebagai aktualisasinya, berkaitan dengan 3 bentuk yaitu penyucian jiwa, berperilaku sufi dan gerakan sufi. Perspektif universal tentang sufisme, yaitu berakar pada wahyu Islam yang menghasilkan etika yang berifat dinamis bukan hanya dipelajari mampu memberikan kontribusi yang integral dalam pembentukan moral masyarakat Islam. 12 Perkembangan konsep spiritualitas yang identik dengan sufisme telah dijadikan dasar dalam menentukan kesehatan mental seseorang, bukan lagi hanya wilayah domain agama. Perkembangan pemikiran tasawuf di era modern menunjukkan dinamika yang progresif dan bersifat masif. Istilah-istilah baru yang berkaitan dengan tasawuf lahir di era modern ini mulai tasawuf tradisional, tasawuf konvensional, tasawuf transformatif, tasawuf saintifik dan Paul L Heck. Sufism? What Is It Exackly? Religion Compass, 2007, https://doi. org/10. 1111/j. 11 Rosyidi. Dakwah Sufistik Kang Jalal (Jakarta: Paramadina, 2. , 46 12 Paul L Heck. Mysticism As Morality : The Case Of Sufism. Journal of Religious Ethics. https://doi. org/10. 1111/j. 13 Shaque Nizame. Mohammad Zia Ul Haq Katshu, and NA Uvais. Sufisme Mental Health Indian Journal of Psychiatry. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 431 Volume 10. No. 2 September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 lainnya memberikan gambaran nyata bahwa tasawuf sudah melintasi batas-batas yang tidak hanya berkaitan dengan agama an sich. Tasawuf dan perkembangannya sudah mampu melahirkan rekonstruksi konseptual sehingga menjadi paradigma progresif dalam kehidupan manusia Telaah baru konsep-konsep dalam dunia tasawuf mendorongnya menjadi keilmuan yang bersifat transformatif yang menjadikannya tidak kaku tetapi cenderung elastis dan fleksible. Konotasi negatif terhadap konsep-konsep tasawuf telah mengalami perkembangan makna dan istilah. Istilah zuhud yang dianggap sebagai penyebab kemunduran Islam, di era modernis telah mengalami penafsiran baru. Esensi makna zuhud pada awal perkembangn tasawuf sebagai konsep meninggalkan dunia,zuhud di era modern ditafsirkan sebagai sikap meninggalkan sesuatu yang mengalihkan perhatian kepada Allah sehingga menuntut pelaku zuhud yaitu zahid esensinya manusia yang mampu bersikap integratif dan inklusif. Pemaknaan ini lebih melihat zuhud pada tataran yang benar-benar bersifat positif dan fungsional. Mengenal Maqamat dalam Tasawuf Term al-maqamat wa al-ahwal adalah kajian penting yang harus dibahas setiap kali berbicara tentang tasawuf. Konsep ini penting untuk dibahas dalam sub-kajian ini. Dengan menilik pada definisinya, kata maqamat merupakan bentuk plural dari kata maqam, yang artinya berkisar pada tempat atau kedudukan, sementara pada pemaknaannya secara terminologis seringkali diterjemahkan sebagai kedudukan spiritual yang diperoleh melalui mujahadah dan ketulusan dalam menempuh perjalanan spiritual. Terkait tentang maqamat yang harus ditempuh oleh seorang sufi, para ahli memberikan pendapat berbeda-beda, sebagaimana dijelaskan oleh Abuddin Nata. Muhammad Al-Kalabazy dalam kitab, al-TaAoaruf li al-Tasawwuf, mengatakan bahwa maqamat yang harus ditempuh oleh seorang sufi meliputi, al-Taubah, al-Zuhud, al-Sabr, al-Faqr, al-TawadluAo, al-Taqwa, al-Tawakkal, alRidla, al-Mahabbah dan Al-MaAorifah, sementara menurut Abu Nasr al-Sarraj al-Tusi, meliputi, alTaubah, al-WaraAo, al-Zuhud, al-Faqr, al-Tawakkal dan al-Ridla. Berbeda dengan Imam al-Ghazali yang menyebutkan maqamat terdiri dari, al-Taubah, al-Sabr, al-Zuhud, al-Tawakkal, al-Mahabbah, alMaAorifah dan Al-Ridla. Dari perbedaan tersebut, tingkatan maqamat yang disepakati meliputi, alTaubah, al-WaraAo, al-Zuhud, al-Faqr, al-Shabr, al-Tawakkal dan al-Ridla, sedangkan al-TawaddluAo, alMahabbah dan al-MaAorifah tidak mendapatkan kesepakatan di antara para ulama. Hasyim Muhammad. Dialog Antara Tasawuf dan Psikologi (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2. Abuddin Nata. Akhlak Tasawuf (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1. , 195 Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 432 Volume 10. No. 2 September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Dari beberapa maqamat yang telah disebutkan, dua maqamat yaitu Zuhud dan Tawakkal akan menjadi fokus dari penulis untuk menggali lebih dalam konsep maqamat tersebut yang dikemukakan oleh Quraish Shihab. 1 Zuhud Secara harfiyah zuhud berarti tidak ingin kepada sesuatu yang bersifat duniawi, atau meninggalkan dunia dan hidup kematerian. Diriwayatkan dari Sahal ibn SaAoad as-Saidi r. a bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah s. w dan berkata: AuWahai Rasulullah, tunjukanlah kepadaku suatu pekerjaan yang apabila aku mengerjakanya, maka Allah dan manusia akan mencintaiku. Ay Rasulullah s. bersabda kepadanya: AN AO EIO OOE NEE ON AOI OA OO EI OOEA AuBerzuhudlah engkau terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu. Dan berzuhudlah engkau terhadap apaapa yang ada di manusia, niscaya mereka akan Ay (HR. Ibnu Maja. 16 Ayat al QurAoan yang kebanyakan di kaitkan dengan sifat zuhud adalah surat Al Nisa ayat 77 yang berbunyi : EAaEsAECaE AAEaANEA ACAOaE aCCia aEaEa aCEa aEAOCOEaAua EAaEAACEEaCOECEAA AAEACeA EAaEa CAACOEaAu AeaAuCa CeAAEaA ACsAA Ea AAsEaNAA aEaA aoCaCc aEaua A AoaCUECAA CCOACAA Ea Ca EaCUECACCAA ACACAoa AAEAACECEACI EAaEuAEAyEaC EACEEUCsAE AACUEaA EaIEOAEa ACeAACa ENaOEa ECaECsAA EAACsEIAAIa EAACUEau aCUEAecOa EECAAIAAC EAAEAu A aCEEUCsAAu a ACeAAEaA aoAAECsCa AOAEa aIEOAEa aoECOaE ENEaEaEO CACUEaANAE aEAOAAeA Ca Yang artinya: tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka. "Tahanlah tanganmu . ari berperan. , dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!" setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka . olongan munafi. takut kepada manusia . , seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu mereka berkata: "Ya Tuhan Kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? mengapa tidak Engkau tangguhkan . ewajiban berperan. kepada Kami sampai kepada Dr. Abdul Quddus. MA. AKHLAK TASAWUF : (Mazhab cinta meraih kebahagiaan Dunia & Akhera. Sanabil 2020. Cet. 1, hal. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 433 Volume 10. No. 2 September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 beberapa waktu lagi?" Katakanlah: "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun. Ke-Zuhud-an merupakan sifat yang ditandai dengan penuh kesederhanaan, tidak terbuai dengan kekayaan dunia. Sebagaimana kehidupan yang dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Namun perlu digaris bawahi, bahwa kesederhanaan ini tidak melarang seseorang untuk mempunyai kekayaan, tidak ada anjuran seorang sufi harus hidup miskin, karena harta juga menjadi sarana untuk bisa melaksanakan berbagai macam ibadah yang dianjurkan. Sementara itu Quraish Shihab mengatakan terkait dengan ayat zuhud diatas bahwa menurut beliau dunia dan akhirat merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, keduanya saling terkait dimana dunia menjadi tempat menabur benih amal yang nantinya akan di panen saat di akhirat. Kehidupan dunia dianggap suatu hal yang tidak seimbang jika dibandingkan dengan akhirat yang menjadi tujuan diakhir nanti, dunia menjadi sarana untuk mencapai akhirat sehingga sepatutnya mendapatkan perhatian lebih dari pada dunia namun demikian menurutnya dunia juga tidak harus di tinggalkan. Pandangan Quraish Shihab terkait akhirat dan dunia diatas berbeda dengan para ulama sufi klasik yang cenderung melihat dunia menjadi hal yang wajib ditinggalkan oleh orang yang sedang mendekatkan diri pada tuhannya. Tawakkal Tawakal adalah perbuatan yang timbul dari dalam diri orang yang mengerjakannya, tanpa ada paksaan atau tekanan dari luar. Tawakal mempunyai kebergantungan secara khusus dengan keumuman perbuatan dan sifat-sifat Allah. Semua sifat Allah dijadikan gantungan Ibnu Qoyim Al Jauzi mengatakan Maka siapayang lebih banyak makrifatnya tentang Allah, maka tawakalnya juga lebih kuat. 18 Seorang yang tawakal kerap tidak merasai sedikit pun juga, walapun bagaimana besarnya bahaya yang menimpanya, karena perhatiannya terhadap Allah semata-mata. Kesakitan dan bencana, tidaklah terasa, lantaran indahnya perasaan cinta kepada sang Hamka menerangkan bahwa tawakal dapat mendatangkan ketenangan hati, thumaAoninah dalam hati akan tumbuh sehingga kita akan bersabar ketika ujian datang dan akan bersyukur ketika nikmat itu tiba. Maka ia bertawakal kepada Allah, menyerahkan dengan sebulat hati dan yakin bahwa Allah tidak akan mengecewakannya. 17 Syukri. Dimensi Sufistik dalam Pemikiran M. Quraish Shihab: Telaah tentang Konsep Zuhud dan Tawakkal dalam Tafsir al-Mishbah. Esoterik: Jurnal Akhlak dan Tasawuf issn 2460-7576 eissn 2502-8847, hal. Ibnu Qoyyim. Al Jauziyah. Madarijus Salikin. Pendakian Menuju Allah: Penjabaran Konkrit: Iyyaka NaAobudu wa Iyyaka NastaAoin. Diedit oleh Terj. Kathur Suhardi. Jakarta,: Pustaka al-Kautsar. Hal. Achmad Reza Hutama al Faruqi dkk. Konsep Tawakal menurut Abdul Malik Karim Amrullah dan Relevansinya terhadap Kehidupan Sosial. Spiritual Healing : Jurnal Tasawuf dan Psikoterapi Vol 3. No:2 December 2022:72-82, hal. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 434 Volume 10. No. 2 September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Menurut Abdul Rozak Allah memerintah tawakkal bagi hambanya dalam firman-Nya semata-mata hanya untuk kebaikan hamba-Nya, karena Allah akan menolong hamba yang senantiasa bertawakkal kepada-Nya. Penyerahan diri kepada Allah SWT artinya menyerahkan segala urusan pada takdir Yang Maha Kuasa, yaitu selepas seseorang yang bertawakkal kepada Allah menjalani ikhtiar. Seseorang yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, meyakinkan kekuasaan dan kekuatan-Nya sehingga tidak cemas dan gelisah terhadap apapun yang menimpa dirinya. Quraish Shihab memberikan perhatian yang seimbang antara kewajiban manusia untuk berikhtiar dan keharusan untuk menyerahkan segala sesuatunya kepada dzat yang memiliki kemampuan tidak terbatas. Ini juga tidak berarti bahwa di antara keduanya harus dipisahkan. Tawakkal bukan berarti beramalasan karena merasa semua yang terjadi diatas bumi ini untuk seluruh makhluknya adalah takdir dan ketetapan, akan tetapi pemberian kemampuan ikhtiyar pada makhluk untuk memilih adalah keniscayaan untuk mencari keberhasilan baginya. Apabila hasil yang diperoleh setelah melakukan ikhtiyar tersebut tidak sesuai dengan keinginannya bukan berarti dia gagal melainkan ketetapan yang harus diterima. Seseorang memiliki kemampuan untuk memilih karena Allah memberikan kemampuan untuk memilih serta lahan pilihan tetapi adakalanya dutemukan sebuah pilihan yang sangat diinginkan tetapi tiada pilihan yang tersedia sehingga terpaksa harus menerima apa yang ada. Pentingnya Tasawuf Dalam Pendidikan Agama Islam Munculnya Krisis multidimensi yang dialami masyarakat modern memerlukan jalan keluar solutif. Ide solusi yang dipilih harus mempunyai kemampuan dianalisis secara rasional dan mental untuk menghasilkan solusi yang obyektif dan komprehensif. Perkembangan dunia tasawuf dengan berbagai variasinya memberikan arah dan perspektif baru dalam penyelenggaraan Pendidikan Agama Islam (PAI)sebagai salah satu mata pelajaran wajib dalam kurikulum dari pendidikan prasekolah hingga universitas. Pendidikan agama Islam menjadi landasan dasar dalam pembentukan etika dan estetika manusia. Makna pendidikan dalam istilah Islam tidak hanya dalam konsep eskatologis tetapi juga merupakan proses pembinaan dan pembinaan manusia yang berlandaskan tauhid kepada Allah. Mengembangkan potensi dan keterampilan peserta didik secara global dan universal, namun selalu dalam semangat tauhid/ketuhanan. Abdul Rozak. Filsafat Tasawuf, (Bandung: Pustaka Setia, 2. , h. 21 Sukri, hal 143 Quraish Shihab. Membumikan al-Quran Jilid 2 (Jakarta: Lentera Hati, 2. hal 4 23 Muh. Mustakim. ONTOLOGI PENDIDIKAN ISLAM (Hakikat Pendidikan Dalam Perspektif Isla. Jurnal At Tajdid. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 435 Volume 10. No. 2 September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Pelaksanaan pendidikan agama Islam di sekolah pada khususnya tentu tidak akan lepas dari kebutuhan konsep, teknik, metode, strategi dan model yang sesuai agar efektivitas dan efisiensi pembelajaran dapat diwujudkan. Pembelajaran sebagai ruh proses pendidikan merupakan komponen yang tidak bisa dianggap remeh karena sebaik apapun kurikulum, tujuan pendidikan dan lainnya tanpa proses pembelajaran tidak dapat disebut sebagai pendidikan. Inovasi-inovasi dalam bidang implementasi pembelajaran terus dilakukan untuk menghasilkan kualitas pembelajaran yang paripurna. Perubahan paradigma teacher centered ke arah student centered leraning sebagai bagian untuk menjadikan implementasi pembelajaran menjadi lebih aktif, inovatif, efektif dan menyenangkan yang populer disebut dengan istilah PAIKEM. Pendidikan agama Islam sebagai sebuah mata pelajaran harus mampu menselaraskan dengan perkembangan dan inovasi dalam bidang pembelajaran. Menjadikan pembelajaran pendidikan agama Islam sebagai proses yang dinamis, kreatif, inovatif dan menyenangkan menjadi sebuah keniscayaan yang harus mampu diwujudkan. Tujuan pendidikan agama Islam sebagai upaya untuk menguatkan, pemahaman, pengahayatan dan pengalaman siswa atas keimanan, bertakwa dan berkahlak mulia dalam kehidupan manusia secara universal. Pendidikan agama Islam adalah proses pembelajaran untuk mengarahkan manusia kepada akhlak mulia/al-akhlaq al-karimah. Materi pembelajaran pendidikan agama Islam secara umum meliputi akidah, akhlak dan muamalah/syariah. Materi bahasan pendidikan agama Islam, pengembangannya dilakukan dengan tiga konteks pendekatan yaitu: hubungan manusia dengan Allah, manusia dengan manusia dan manusia dengan alam. Perwujudan pengembangan pembelajaran pendidikan agama Islam dapat dipahami dalam dua aspek yaitu secara kuantitatif dan kualitatif. Pelajaran pendidikan agama Islam yang secara kuantitatif hanya dua jam pelajaran harus mampu memberikan pengaruh baik di dalam maupun di luar sekolah. Adapun secara kualitatif, pendidikan agama Islam mampu menampilkan pembelajaran yang bermutu, sejalan dengan nilai idealisme islami dan mampu merespon dan mengantisipasi berbagai problematika Pemikrian kreatif dan inovatif pengembangan pembelajaran pendidikan agama Islam merujuk pada prinsip perubahan . , pertumbuhan . , pembaharuan . dan terus menerus . Proses ini dalam manajemen mutu pendidikan dikenal dengan istilah continues quality improvement, dalam konteks pendidikan agama Islam tentu terkait dengan implementasi pembelajaran. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 436 Volume 10. No. 2 September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Pengembangan di samping mengedepankan sensivitas pada mainstream, di sisi lain juga harus mempertimbangkan fondasinya, sehinga proses tersebut tidak kehilangan spirit dan ruh Islami. Integrasi Nilai Tasawuf Quraish Shihab dalam Pendidikan Agama Islam Perlunya integrasi nilai-nilai tasawuf ke dalam Pendidikan Agama Islam diberbagai tingkatan sekolah. Hal tersebut dikarenakan Pendidikan Agama Islam di sekolah bertujuan untuk membentuk karakter siswa yang religius dan kuat secara rohaniah. Siswa-siswa sekolah masa sekarang ini mudah sekali terpengaruh dengan kondisi lingkungan yang mengitarinya, dan pengaruh tersebut tidak hanya ketika mereka berinteraksi langsung namun juga bisa melalui media hp. Oleh karena itu, proses penanaman nilai-nilai Islam pada tahap perkembangan ini sangat penting dilakukan agar mereka tidak mudah terombang ambing oleh lingkungan yang dapat menjerumuskannya pada hal-hal yang bersifat negatif. Peranan tasawuf yang terfokus pada pembersihan rohani menjadi solusi terkait hal tersebut. Augustinus mengatakan bahwa anak mempunyai kecenderungan lebih besar untuk menyimpang dari hukum dari pada orang dewasa yang disebabkan oleh keterbatasan dalam memahami realita kehidupan. Pendidikan Agama Islam memiliki tujuan utama yaitu untuk meningkatkan keimanan dan religiusitas siswa sebagai bekal kehidupan pada masa kini dan masa depan. Hal ini akan terwujud jika adanya materi tasawuf diintegrasikan ke dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada siswa Sekolah Menengah Pertama. Hal ini penting dilakukan, karena tabiAoat dan tingkah laku siswa sekolah berada pada masa-masa remaja yang cenderung ada dalam posisi proses pencarian jati diri dan percontohan, sehingga penanaman nilai-nilai agama pada siswa diyakini mampu mengubah secara perlahan sikap dan perilaku yang tidak pantas atau tidak sesuai dengan norma dan agama menjadi sikap dan perilaku yang sesuai. Dalam mengintegrasikan nilai Zuhud dalam pendidikan berarti mengajarkan siswa untuk memiliki sikap sederhana, tidak serakah, dan menjadikan nilai-nilai spiritual sebagai prioritas dalam hidup mereka. Pengajaran nilai-nilai tersebut bisa dengan menyertakan nilai-nilai zuhud dalam kurikulum agama Islam dengan cara memaparkan ajaran tentang kehidupan sederhana. Quraish Shihab mendefinisikan zuhud sebagai sikap yang tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama hidup. Zuhud bukan berarti menghindari dunia atau harta, tetapi tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang utama atau menentukan kebahagiaan dan kesuksesan 24 SuAodadah. Kedudukan dan Tujuan Pendidikan Islam Disekolah. Jurnal Kependidikan 2014 Mujamil Qomar. Meniti Jalan Pendidikan Islam (Yogyakarta: P3M STAIN Tulungagung dan Pustaka Pelajar, 2. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 437 Volume 10. No. 2 September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Zuhud tidak sama dengan ascetisme atau penyiksaan diri. Zuhud lebih kepada sikap mental dan spiritual yang memandang dunia secara proporsional, sedangkan ascetisme lebih pada penolakan fisik terhadap dunia. Kurikulum pendidikan harus mencakup ajaran tentang zuhud dengan cara yang relevan dan aplikatif. Ini termasuk mengajarkan siswa bahwa kekayaan dan material bukanlah ukuran utama kebahagiaan dan kesuksesan, melainkan ketaqwaan dan kepedulian terhadap sesama. Quraish Shihab menjelasan untuk memberikan contoh konkret tentang sikap zuhud dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Ini membantu siswa memahami bagaimana zuhud diterapkan dalam kehidupan nyata dan konteks Pengembangan sikap zuhud pada siswa penting dilakukan, agar siswa mampu menyeimbangkan antara dunia dan akhirat, sehingga siswa memahami bahwa dunia adalah sarana untuk mencapai tujuan akhirat, bukan tujuan itu sendiri. Hal ini bisa dilakukan melalui metode pengajaran yang melibatkan studi kasus, diskusi, dan refleksi tentang bagaimana tawakkal dapat diterapkan dalam situasi belajar. Misalnya, bagaimana siswa dapat bersikap tawakkal dalam menghadapi ujian atau tantangan akademik setelah berusaha dengan maksimal, kemudian menekankan pentingnya memahami bahwa hasil bukanlah satu-satunya ukuran dari keberhasilan, dan bahwa tawakkal membantu siswa untuk tetap tenang dan sabar dalam menghadapi kesulitan . Dengan mengajarkan siswa untuk melihat dunia dengan perspektif yang tepat dan tidak menjadikannya sebagai tujuan akhir, serta dengan memberikan teladan nyata dari guru dan orang tua, pendidikan dapat membentuk sikap hidup yang seimbang dan penuh makna. Prinsip zuhud yang diajarkan oleh Quraish Shihab memberikan dasar yang kuat untuk membentuk karakter siswa yang tidak hanya sukses di dunia tetapi juga di akhirat. Sedangkan mengintegrasikan konsep tawakkal Quraish Shihab bisa dilakukan dengan menekankan pentingnya memahami bahwa hasil bukanlah satu-satunya ukuran dari keberhasilan, dan bahwa tawakkal membantu siswa untuk tetap tenang dan sabar dalam menghadapi kesulitan. Menanamkan pada siswa pentingnya berusaha dengan maksimal dalam setiap tugas dan tanggung jawab mereka, sambil mengingatkan mereka untuk tetap berserah diri kepada Allah setelah melakukan usaha tersebut. Integrasi tawakkal dalam pendidikan agama Islam melibatkan pemahaman bahwa tawakkal adalah kombinasi dari usaha maksimal dan penyerahan diri kepada Allah. Dengan mengajarkan siswa tentang prinsip tawakkal melalui kurikulum yang relevan, teladan yang baik, dan dukungan yang konsisten, pendidikan dapat membentuk sikap yang seimbang dan penuh Tawakkal membantu siswa untuk menghadapi tantangan dengan sikap yang positif, sabar, dan penuh kepercayaan bahwa hasil akhir adalah yang terbaik dari Allah. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 438 Volume 10. No. 2 September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Kesimpulan Dari uraian di atas,fokus penulis adalah pada dua Maqamat, yaitu Zuhud dan Tawakkal sebagaimana dikemukakan Quraish Shihab. beliau mendefinisikan zuhud sebagai sikap yang tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama hidup. dan bukan berarti menghindari dunia atau harta, tetapi tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang utama atau menentukan kebahagiaan dan kesuksesan hidup. Sedangkan Tawakkal menekankan memberikan perhatian yang seimbang antara kewajiban manusia untuk berikhtiar dan keharusan untuk menyerahkan segala sesuatunya kepada dzat yang memiliki kemampuan tidak terbatas . Integrasi nilai-nilai Tasawuf dalam pendidikan Islam, dengan fokus pada Zuhud dan Tawakkal, sangat penting untuk menanamkan nilai-nilai spiritual dan moral pada siswa. Dengan mengajarkan siswa tentang pentingnya kesederhanaan, keterikatan, dan kepercayaan kepada Allah, pendidikan dapat membentuk karakter yang seimbang dan bermakna, yang menjamin keberhasilan di dunia dan akhirat. Ajaran Zuhud dan Tawakkal memberikan landasan yang kuat bagi para siswa untuk menghadapi tantangan hidup dengan sikap positif dan ketekunan, yang pada akhirnya mengarah pada kehidupan yang holistik dan memuaskan. Daftar Pustaka