Al-Liqo: JURNAL PENDIDIKAN ISLAM P-ISSN: 2461-033X | E-ISSN: 2715-4556 Upaya Guru Pendidikan Agama Islam dalam Penanganan Kasus Verbal Harassment untuk Menjaga Kesehatan Mental Siswa *Arizzatul Aulia Mufida. Moch. Charis Hidayat. Ika Puspitasari. Email: arizzatulauliam@gmail. com1, m. charishidayat@fai. um-surabaya. ikapuspitasari@um-surabaya. 1,2,. Universitas Muhammadiyah Surabaya. Jawa Timur. Indonesia Abstract Islamic Religious Education (PAI) teachers hold a strategic role in maintaining studentsAo mental health by preventing verbal harassment in schools. This study aims to analyze the strategies employed by PAI teachers in addressing verbal harassment at SMP Maryam Surabaya. Using a descriptive qualitative approach, data were collected through in-depth observation and interviews. The findings reveal that PAI teachers implement dialogic and narrative approaches to help students understand the negative impacts of verbal harassment. These approaches are reinforced by academic evaluations that include moral assessments as a preventive measure. In addition, religious values are integrated into the learning process to foster studentsAo social awareness. Despite various efforts, challenges such as student resistance remain. The study concludes that PAI teachers play a crucial role in creating a safe, inclusive school environment that supports students' mental well-being. Keywords: Islamic Religious Education. Verbal Harassment. Mental Health. Character Education Abstrak Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran strategis dalam menjaga kesehatan mental siswa melalui pencegahan tindakan verbal harassment di lingkungan sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi yang digunakan oleh guru PAI dalam menangani kasus verbal harassment di SMP Maryam Surabaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi mendalam dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru PAI menerapkan pendekatan dialogis dan naratif dalam memberikan pemahaman kepada siswa mengenai dampak negatif pelecehan verbal. Pendekatan tersebut diperkuat melalui evaluasi akademik yang mencakup aspek penilaian moral sebagai bagian dari tindakan preventif. Selain itu, nilai-nilai keagamaan diintegrasikan dalam proses pembelajaran untuk membangun kesadaran sosial siswa. Meskipun berbagai upaya telah dilakukan, tantangan seperti resistensi dari siswa masih menjadi hambatan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa guru PAI memiliki peran krusial dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman, inklusif, dan mendukung kesehatan mental peserta didik. Kata Kunci: Pendidikan Agama Islam. Verbal Harassment. Kesehatan Mental. Pendidikan Karakter Cara Mensitasi Artikel: Mufida. Hidayat. , & Puspitasari. Upaya guru pendidikan agama Islam dalam penanganan kasus verbal harassment untuk menjaga kesehatan mental siswa. Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam, 10 . , 120-132. https://doi. org/10. 46963/alliqo. *Corresponding Author: arizzatulauliam@gmail. Histori Artikel: Diterima Direvisi Diterbitkan Editorial Address: Kampus Parit Enam. STAI Auliaurrasyidin Tembilahan. Jl. Gerilya No. Tembilahan Barat. Riau Indonesia 29213. : 17/01/2025 : 16/06/2025 : 30/06/2025 DOI: https://doi. org/10. 46963/alliqo. AAuthors . Licensed under (CC-BY-SA) Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Arizzatul Aulia Mufida. Moch. Charis Hidayat. Ika Puspitasari Upaya Guru Pendidikan Agama Islam dalam Penanganan Kasus Verbal Harassment untuk Menjaga Kesehatan Mental Siswa PENDAHULUAN Kesehatan mental peserta didik merupakan aspek penting dalam proses pendidikan yang tidak boleh diabaikan. Lingkungan sekolah yang seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi tumbuh kembang siswa, dalam praktiknya sering kali justru menjadi ruang terjadinya kekerasan, baik secara fisik maupun verbal. Salah satu bentuk kekerasan yang paling umum namun kerap diabaikan adalah verbal harassment atau kekerasan verbal. Berbeda dengan kekerasan fisik yang memiliki bukti nyata, kekerasan verbal lebih halus, namun dampaknya terhadap psikologis siswa bisa jauh lebih besar dan berkepanjangan (Boleng. Pardede, and Fahlevie, 2024: 10250-10. Verbal harassment di lingkungan sekolah sering kali berupa ejekan, hinaan, pemberian julukan yang merendahkan, serta komentar negatif terhadap kondisi fisik, latar belakang keluarga, atau karakteristik pribadi siswa lainnya. Tindakan ini tidak hanya merusak harga diri korban, tetapi juga dapat menyebabkan gangguan emosional seperti rasa malu, rendah diri, stres, kecemasan, bahkan depresi (Setiani and Hidayah, 2024: 41-. Jika tidak ditangani dengan serius, dampak dari kekerasan verbal ini dapat menurunkan motivasi belajar, mengganggu hubungan sosial, dan menghambat perkembangan kepribadian siswa secara menyeluruh. Seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental di sekolah, pendidikan karakter menjadi salah satu pendekatan yang dianggap efektif dalam membentuk perilaku siswa. Pendidikan karakter bukan hanya berorientasi pada nilai-nilai moral seperti kejujuran dan tanggung jawab, tetapi juga melatih siswa untuk memiliki empati, rasa hormat terhadap perbedaan, dan kemampuan mengendalikan emosi (Saputra and Tunnafia, 2024: 69-. Dalam hal ini, guru memiliki peran yang sangat strategis, terutama guru Pendidikan Agama Islam (PAI), yang tidak hanya bertugas mengajarkan pengetahuan keagamaan, tetapi juga menjadi teladan dalam sikap dan akhlak mulia (Mukhlis, 2024: 22-. Guru PAI memiliki potensi besar dalam mencegah dan menangani kasus verbal harassment karena mereka membawa misi nilai-nilai Islam yang menekankan pentingnya menjaga lisan, menghormati sesama, dan menghindari perilaku merendahkan orang lain (Hilmin, 2024: 37-. Dalam konteks ini. Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Arizzatul Aulia Mufida. Moch. Charis Hidayat. Ika Puspitasari Upaya Guru Pendidikan Agama Islam dalam Penanganan Kasus Verbal Harassment untuk Menjaga Kesehatan Mental Siswa pembelajaran PAI dapat menjadi ruang edukatif sekaligus preventif dalam membentuk kesadaran siswa terhadap dampak negatif dari kekerasan verbal. Selain itu, nilai-nilai spiritual yang diajarkan dalam mata pelajaran PAI juga dapat memperkuat ketahanan mental siswa, membimbing mereka untuk lebih menghargai dirinya sendiri dan orang lain (Rendealla, 2024: 86-. Upaya menangani kekerasan verbal di sekolah memerlukan pendekatan multidisipliner yang melibatkan aspek psikologis, pendidikan, dan spiritual. Dalam konteks Indonesia, pendekatan berbasis nilai keagamaan dianggap memiliki potensi besar dalam menginternalisasi sikap positif dan membentuk karakter siswa yang berakhlak mulia. Peran guru sebagai figur otoritas moral semakin penting ketika nilai-nilai agama menjadi bagian dari kurikulum pendidikan nasional, terutama melalui mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Oleh karena itu, intervensi guru PAI tidak hanya bersifat instruksional, tetapi juga menyentuh ranah afektif dan spiritual siswa, yang pada akhirnya berdampak pada pembentukan perilaku sosial yang lebih baik (M. Zahroh, 2023: 122-. Selain itu, era digital dan keterbukaan informasi saat ini turut memperbesar ruang terjadinya kekerasan verbal. Interaksi antarsiswa tidak lagi terbatas pada ruang kelas, tetapi juga meluas ke platform digital seperti media sosial, yang kerap menjadi sarana perundungan berbasis verbal. Hal ini memperkuat urgensi bagi sekolah untuk membekali peserta didik dengan keterampilan literasi emosional dan etika komunikasi sejak dini. Pendidikan karakter yang dirancang secara sistematis dan terintegrasi ke dalam berbagai mata pelajaran, termasuk PAI, berpotensi mengurangi intensitas kekerasan verbal dengan membentuk kesadaran dan tanggung jawab sosial siswa (N. Rukmini and A. Munadi, 2022: 45-. Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa keterlibatan aktif guru dalam membangun hubungan yang positif dengan siswa menjadi faktor kunci dalam menciptakan iklim sekolah yang suportif dan bebas dari kekerasan. Guru PAI yang mampu mengimplementasikan pendekatan dialogis, reflektif, dan konseling berbasis nilai agama dinilai lebih efektif dalam mencegah dan menyelesaikan konflik verbal di lingkungan sekolah. Strategi seperti penggunaan kisah teladan dalam Islam, pembiasaan dzikir dan doa harian, serta forum diskusi nilai . Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Arizzatul Aulia Mufida. Moch. Charis Hidayat. Ika Puspitasari Upaya Guru Pendidikan Agama Islam dalam Penanganan Kasus Verbal Harassment untuk Menjaga Kesehatan Mental Siswa terbukti mampu meningkatkan empati dan kesadaran moral siswa dalam berkomunikasi (S. Nasution and L. Hamid, 2023: 101-. Di SMP Maryam Surabaya, fenomena verbal harassment ditemukan secara sistemik, baik antar siswa maupun dalam interaksi antara guru dan siswa. Contoh pemberian julukan seperti "boneng", "sembok", dan "gigi", yang ditujukan kepada siswa berdasarkan penampilan fisik mereka, menunjukkan bahwa tindakan merendahkan ini telah menjadi kebiasaan yang perlu segera dihentikan (Rahmawati, 2023: . Situasi ini mengindikasikan adanya urgensi bagi guru, khususnya guru PAI, untuk mengambil peran aktif dalam mengubah budaya komunikasi di sekolah menjadi lebih sehat dan beretika. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimana strategi dan upaya yang dilakukan oleh guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam menangani kasus verbal harassment di SMP Maryam Surabaya guna menjaga kesehatan mental Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji secara mendalam peran guru PAI dalam menangani kasus kekerasan verbal di lingkungan sekolah, serta untuk menganalisis efektivitas pendekatan dialogis, naratif, dan evaluatif yang digunakan dalam upaya menciptakan lingkungan pembelajaran yang aman, sehat, dan mendukung kesehatan mental siswa. Melalui penelitian ini, diharapkan dapat ditemukan strategi yang tidak hanya bersifat kuratif tetapi juga preventif, yang dapat diadopsi oleh sekolah lain sebagai bagian dari implementasi pendidikan karakter dan penguatan layanan bimbingan psikososial berbasis nilai-nilai keagamaan. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai strategi guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam menangani kasus verbal harassment di sekolah. Pendekatan ini dipilih karena sesuai dengan karakteristik fenomena yang ingin diteliti secara kontekstual dan naturalistik. Lokasi penelitian adalah SMP Maryam Surabaya. Provinsi Jawa Timur, yang dipilih secara purposif berdasarkan temuan Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Arizzatul Aulia Mufida. Moch. Charis Hidayat. Ika Puspitasari Upaya Guru Pendidikan Agama Islam dalam Penanganan Kasus Verbal Harassment untuk Menjaga Kesehatan Mental Siswa awal mengenai tingginya intensitas kasus kekerasan verbal di lingkungan sekolah Pemilihan subjek penelitian dilakukan dengan teknik purposive sampling, yaitu pemilihan informan secara sengaja berdasarkan kriteria tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian. Adapun kriteria subjek yang digunakan dalam penelitian ini meliputi guru PAI yang secara aktif terlibat dalam kegiatan pembinaan karakter dan nilai keagamaan, siswa yang pernah terlibat atau menjadi korban verbal harassment, serta tenaga pendidik lain yang mengetahui dinamika kasus, seperti guru Bimbingan Konseling dan kepala sekolah. Sebanyak enam orang informan dilibatkan dalam penelitian ini, yang terdiri dari dua guru PAI, dua siswa kelas Vi, satu guru BK, dan satu kepala sekolah. Jumlah tersebut dipandang cukup untuk memenuhi prinsip saturasi data dalam penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui observasi non-partisipatif, wawancara semi-terstruktur, dan studi dokumentasi. Observasi dilakukan untuk mengamati secara langsung interaksi verbal di antara siswa, baik di dalam kelas maupun di lingkungan sekolah lainnya. Wawancara dilakukan untuk menggali lebih dalam pengalaman, pemahaman, dan strategi yang diterapkan oleh guru PAI dalam menangani kasus kekerasan verbal. Sementara itu, studi dokumentasi dilakukan dengan menelaah catatan kasus, dokumen kegiatan keagamaan, serta arsip evaluasi karakter siswa. Untuk menjamin validitas data, peneliti menggunakan teknik triangulasi Triangulasi membandingkan informasi yang diperoleh dari berbagai narasumber, yaitu guru, siswa, dan pihak sekolah. Sementara itu, triangulasi teknik dilakukan dengan membandingkan data hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi. Verifikasi data juga dilakukan melalui member check, yaitu mengonfirmasi kembali hasil wawancara kepada informan untuk memastikan kebenaran dan konsistensi Selain itu, dilakukan peer debriefing dengan dosen pembimbing dan rekan sejawat guna menjaga objektivitas peneliti dalam proses analisis. Data dianalisis secara interaktif menggunakan tahapan yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Arizzatul Aulia Mufida. Moch. Charis Hidayat. Ika Puspitasari Upaya Guru Pendidikan Agama Islam dalam Penanganan Kasus Verbal Harassment untuk Menjaga Kesehatan Mental Siswa Reduksi data dilakukan dengan menyeleksi dan menyederhanakan informasi penting, kemudian disajikan secara sistematis dalam bentuk narasi Setelah itu, penarikan kesimpulan dilakukan berdasarkan pola temuan yang muncul secara konsisten, sembari tetap terbuka terhadap kemungkinan munculnya data baru selama proses penelitian berlangsung. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMP Maryam Surabaya memainkan peran aktif dalam menangani kasus verbal harassment melalui pendekatan dialogis, naratif, dan evaluatif. Strategi ini tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga preventif, karena secara eksplisit menanamkan kesadaran moral dan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari siswa. Pendekatan dialogis diwujudkan melalui kegiatan ceramah, diskusi, dan nasihat yang disampaikan secara langsung kepada siswa dalam suasana informal. Tujuannya adalah membangun komunikasi yang bersifat persuasif dan membentuk kesadaran melalui dialog dua arah. Pendekatan ini sesuai dengan prinsip pendidikan karakter menurut Thomas Lickona . 6 : . , yang menekankan pentingnya pembelajaran moral melalui penguatan nilai, penalaran moral, dan keteladanan. Selain pendekatan dialogis, guru PAI juga menggunakan metode naratif dengan menyampaikan kisah-kisah keislaman, baik dari tokoh agama maupun peristiwa sejarah, yang menggambarkan pentingnya etika komunikasi, sikap saling menghormati, dan larangan untuk merendahkan orang lain. Narasi semacam ini berfungsi sebagai alat internalisasi nilai karena memiliki kekuatan afektif dan Bandura . 6 : . , dalam teori sosial kognitifnya, menyebutkan bahwa proses belajar sosial terjadi melalui observasi terhadap model atau cerita yang Dalam konteks ini, kisah para nabi dan sahabat menjadi model moral yang efektif untuk menanamkan nilai empati dan pengendalian diri. Guru PAI kisah-kisah Nabi Muhammad menghadapi cercaan, atau kisah Luqman al-Hakim dalam mendidik anak, untuk menyentuh ranah emosional siswa dan mendorong mereka merefleksikan perilaku mereka sendiri. Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Arizzatul Aulia Mufida. Moch. Charis Hidayat. Ika Puspitasari Upaya Guru Pendidikan Agama Islam dalam Penanganan Kasus Verbal Harassment untuk Menjaga Kesehatan Mental Siswa Pendekatan evaluatif yang digunakan oleh guru PAI juga menarik untuk dianalisis lebih lanjut. Dalam praktiknya, guru tidak hanya menilai siswa dari segi akademik dan keterampilan, tetapi juga menilai karakter moral mereka. Siswa yang terbukti melakukan kekerasan verbal akan mendapatkan penilaian rendah dalam aspek karakter. Model penilaian ini memiliki fungsi edukatif sekaligus preventif karena mendorong siswa untuk merefleksikan perilaku mereka dan memahami Strategi ini sejalan dengan konsep restorative discipline menurut Wachtel . 2 : . , di mana pendidikan tidak hanya menekankan sanksi, tetapi juga rekonsiliasi, tanggung jawab moral, dan pemulihan hubungan sosial. Dalam beberapa kasus, guru PAI juga mengajak siswa untuk meminta maaf secara langsung, mengembalikan relasi sosial yang sempat terganggu. Temuan ini memperlihatkan bahwa guru PAI tidak hanya berperan sebagai pengajar, melainkan juga sebagai pembina karakter dan fasilitator dalam membentuk budaya sekolah yang positif. Akan tetapi, keberhasilan strategi ini tidak terlepas dari tantangan yang cukup kompleks. Salah satu tantangan utama yang ditemukan di lapangan adalah resistensi siswa terhadap pendekatan moral yang disampaikan guru. Beberapa siswa menunjukkan sikap acuh terhadap nasihat yang diberikan, terutama ketika mereka tidak menemukan keteladanan yang konsisten dari lingkungan sekitar, baik dari guru lain, teman sebaya, maupun keluarga. Ketika pesan moral yang disampaikan guru PAI tidak diperkuat oleh perilaku nyata dari komunitas sekolah, efektivitas pendekatan tersebut menjadi berkurang. Hal ini mencerminkan pentingnya pendekatan ekosistemik dalam pembinaan Bronfenbrenner . 9 : . , dalam teori ekologi perkembangan anak, menyatakan bahwa perilaku dan perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh interaksi antara lingkungan mikro . eperti sekolah dan keluarg. dengan lingkungan makro . eperti budaya masyarakat dan medi. Oleh karena itu, intervensi yang dilakukan oleh guru PAI akan lebih efektif apabila didukung oleh budaya sekolah yang konsisten, keterlibatan orang tua, serta program sekolah yang Kegiatan seperti parenting class, penguatan budaya positif melalui regulasi sekolah, dan pembentukan komunitas anti-bullying menjadi bagian penting dari strategi kolaboratif ini. Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Arizzatul Aulia Mufida. Moch. Charis Hidayat. Ika Puspitasari Upaya Guru Pendidikan Agama Islam dalam Penanganan Kasus Verbal Harassment untuk Menjaga Kesehatan Mental Siswa Tantangan lainnya adalah terbatasnya kapasitas guru PAI dalam menangani aspek psikososial siswa secara profesional. Beberapa guru mengungkapkan bahwa mereka tidak memiliki pelatihan khusus dalam konseling atau pendidikan sosialemosional, sehingga penanganan kasus sering kali dilakukan secara intuitif. Di sisi lain, guru Bimbingan Konseling (BK) pun belum sepenuhnya menerapkan pendekatan yang mendalam, karena masih terfokus pada metode ceramah tanpa strategi tindak lanjut yang berkelanjutan. Hal ini menunjukkan perlunya penguatan kapasitas profesional guru, baik melalui pelatihan reguler maupun kolaborasi lintas bidang, khususnya antara guru PAI, guru BK, dan wali kelas. Program pelatihan semacam school-based mental health atau spiritual counseling dapat menjadi solusi jangka panjang untuk meningkatkan kompetensi ini. Dalam konteks implementasi, guru PAI yang memiliki kesadaran reflektif terhadap pentingnya peran mereka dalam ranah non-akademik cenderung lebih adaptif dan inovatif. Mereka tidak terpaku pada buku teks, tetapi merancang pendekatan pedagogis yang kontekstual, seperti drama, simulasi debat, atau proyek Misalnya, beberapa guru menginisiasi program halaqah mingguan di luar jam pelajaran, yang menjadi ruang aman untuk siswa berbagi pengalaman atau kegelisahan mereka. Program ini menjadi semacam wadah spiritual sekaligus emosional, yang memperkuat koneksi antara siswa dan guru. Implikasi praktis dari temuan ini cukup signifikan. Sekolah perlu merancang program penanganan verbal harassment yang tidak hanya mengandalkan sanksi, tetapi juga pembinaan yang menyeluruh dan partisipatif. Salah satu strategi yang bisa diterapkan adalah pembentukan komunitas belajar siswa yang menekankan nilai-nilai empati, toleransi, dan komunikasi sehat. Selain itu, pendekatan peer mediation dan peer support dapat dijadikan alternatif untuk meningkatkan kesadaran siswa melalui keterlibatan teman sebaya. Dalam skema ini, siswa yang sudah mendapatkan pelatihan khusus dapat menjadi mentor atau role model bagi siswa lain, menciptakan dinamika belajar horizontal yang tidak selalu bergantung pada otoritas guru. Guru PAI juga dapat mengintegrasikan tema anti-bullying secara eksplisit dalam materi ajar, baik melalui pelajaran fikih, akhlak, maupun sejarah kebudayaan Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Arizzatul Aulia Mufida. Moch. Charis Hidayat. Ika Puspitasari Upaya Guru Pendidikan Agama Islam dalam Penanganan Kasus Verbal Harassment untuk Menjaga Kesehatan Mental Siswa Islam. Dalam akhlak misalnya, . , namimah . engadu domb. , dan sukhriyah . erendahkan orang lai. dapat dikontekstualisasikan dalam situasi sosial siswa sehari-hari. Hal ini memberikan siswa pemahaman bahwa ajaran Islam bukan sekadar doktrin teoretis, tetapi juga pedoman praktis untuk menjaga hubungan sosial yang sehat. Di tingkat kebijakan, hasil penelitian ini menunjukkan perlunya penguatan peran guru PAI dalam pendidikan karakter melalui kebijakan internal sekolah yang mendukung pelatihan dan pengembangan profesional. Sekolah juga perlu membangun sistem pelaporan dan penanganan kekerasan verbal yang responsif dan berbasis nilai, agar siswa merasa aman dan dihargai. Misalnya, penyediaan kotak aduan anonim, forum diskusi terbuka antara siswa dan guru, serta pendampingan intensif bagi korban kekerasan verbal dapat memperkuat sistem pelindungan siswa di sekolah. Selain itu, keterlibatan tokoh agama lokal dalam pembinaan karakter juga bisa dijadikan pendekatan kontekstual yang lebih membumi. Kolaborasi lintas pihak menjadi krusial untuk memperkuat dampak dari intervensi yang dilakukan oleh guru PAI. Sekolah, keluarga, masyarakat, serta instansi pemerintah daerah perlu duduk bersama untuk menyusun strategi pencegahan kekerasan verbal yang berkelanjutan. Dalam hal ini. Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama dapat memberikan dukungan berupa modul pembelajaran karakter berbasis agama dan pelatihan terstandar bagi guru PAI di berbagai jenjang Secara keseluruhan, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan guru PAI dalam menangani verbal harassment telah mengarah pada praktik yang reflektif dan bernilai edukatif. Namun, untuk mencapai dampak jangka panjang yang signifikan, dibutuhkan sistem yang lebih terstruktur, kolaboratif, dan berkelanjutan dalam menciptakan budaya sekolah yang sehat secara emosional dan Intervensi yang dilakukan oleh guru PAI harus dilihat bukan sebagai upaya individual semata, tetapi sebagai bagian dari gerakan pendidikan karakter nasional yang menjunjung tinggi martabat dan kesehatan mental peserta didik. Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Arizzatul Aulia Mufida. Moch. Charis Hidayat. Ika Puspitasari Upaya Guru Pendidikan Agama Islam dalam Penanganan Kasus Verbal Harassment untuk Menjaga Kesehatan Mental Siswa KESIMPULAN Merujuk pada temuan penelitian yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya, peneliti menarik simpulan berkenaan dengan Penanganan Kasus Pelecehan Verbal dalam Menjaga Kesehatan Mental Siswa SMP Maryam Surabaya sebagai berikut: Pendekatan strategis Guru dalam menangkal tindakan harassment verbal terhadap pelajar dilaksanakan melalui pemberian wawasan, petunjuk, arahan, serta bimbingan kepada siswa SMP agar menghindari perilaku perundungan. Upaya tersebut dilanjutkan dengan menjelaskan fenomena sosial yang terjadi di lingkungan masyarakat sebagai sarana pembelajaran, menguraikan konsekuensi negatif dari tindakan perundungan serta mendorong pembentukan karakter positif. Berkenaan dengan tantangan dan alternatif penyelesaian dalam mencegah harassment verbal, kendala utama berasal dari dinamika siswa yang masih melanjutkan perilaku negatif meskipun telah menerima nasihat dan pengarahan dari guru Pendidikan Agama Islam (PAI). Solusi yang ditempuh oleh guru Pendidikan Agama Islam (PAI). memberikan pemahaman dan bimbingan secara berkelanjutan dengan pendekatan persuasif dan konstruktif. Tidak hanya dengan nasihat saja yang kita berikan paling ringan adalah nasihat kepada anak-anak itu arahannya adalah nasihat. nasihat itu bisa jadi nanti bisa mengarah kepada pembinaan kita memberikan arahan kita memberikan pembiasaan-pembiasaan kegiatan yang nilainya positif bagi siswa kemudian yang bisa menguatkan nilai-nilai yang normative kemudian penguatan melalui ibadah,kegiatan-kegiatan keagamaan ceramah bercerita dan lain-lain itu juga bagian daripada apa yang kita lakukan. jadi mungkin untuk nasihat itu bagian daripada hal yang awal tapi selebihnya adalah dilanjut dengan pembinaan yang lainnya dan akan di agendakan kegiatan tambahan yang positif di setiap bulan agar bisa menguatkan akhlak mereka untuk mengikis adanya kasus verbal harassment di SMP Maryam. Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Arizzatul Aulia Mufida. Moch. Charis Hidayat. Ika Puspitasari Upaya Guru Pendidikan Agama Islam dalam Penanganan Kasus Verbal Harassment untuk Menjaga Kesehatan Mental Siswa REFERENSI