JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. Penerapan Nilai Panca Jiwa dan Problematikanya dalam Pembentukan Karakter Santri: Studi Kasus di Pesantren Terpadu Al-Mujaddid Kota Sabang 1,2,3 *Jarwin Asmaran Toni1. Salami2. Saiful3 Universitas Islam Negeri Ar-Raniry. Banda Aceh Email: jarwinjat@gmail. Abstract This study aims to analyze the implementation of the Panca Jiwa values and the challenges encountered in the character formation of students at Pesantren Terpadu Al-Mujaddid. Sabang City. Employing a descriptive qualitative approach with a case study design, data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation. The data were analyzed using Miles. Huberman, and SaldayaAos interactive model, which includes data reduction, data display, and conclusion The findings indicate that the Panca Jiwa valuesAisincerity, simplicity, independence. Islamic brotherhood, and responsible freedomAiare internalized through habituation, role modeling, mentoring, and structured supervision embedded in daily pesantren life. These values significantly contribute to the development of studentsAo character, particularly in discipline, responsibility, solidarity, and adaptability. However, several challenges hinder optimal implementation, including limited facilities, varying perceptions among teachers, the influence of digital technology, insufficient parental support, and personal factors such as emotional instability and dependency among students. The study concludes that the Panca Jiwa plays a strategic role in shaping studentsAo character. however, its effectiveness depends on consistent implementation, strong teacher exemplification, active parental involvement, and the pesantrenAos capacity to respond to contemporary social and technological challenges. Strengthening collaboration between the pesantren, families, and the wider community is essential to ensure the sustainable internalization of the Panca Jiwa values in modern educational settings. Keywords: Panca Jiwa. Islamic Boarding School. Character Education. Student Development. Habituation. Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi nilai-nilai Panca Jiwa dan problematika yang dihadapi dalam pembentukan karakter santri di Pesantren Terpadu Al-Mujaddid Kota Sabang. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles. Huberman, dan Saldaya melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai Panca Jiwa seperti keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan bertanggung jawab, diinternalisasikan melalui pembiasaan, keteladanan, pendampingan, serta pengawasan yang terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. Internalisasi nilai tersebut berdampak positif terhadap perkembangan karakter, terutama dalam hal kedisiplinan, tanggung jawab, solidaritas, dan kemampuan beradaptasi. Namun, implementasi Panca Jiwa masih menghadapi sejumlah kendala, meliputi keterbatasan fasilitas, perbedaan persepsi guru, pengaruh teknologi digital, dukungan orang tua yang belum optimal, serta faktor personal santri seperti gejolak emosional dan ketergantungan pada lingkungan Penelitian ini menyimpulkan bahwa Panca Jiwa berperan strategis dalam pembentukan karakter santri, tetapi keberhasilannya sangat dipengaruhi oleh konsistensi pembiasaan, keteladanan guru, keterlibatan orang tua, serta kesiapan pesantren dalam merespons tantangan perkembangan sosial dan teknologi. Penguatan kolaborasi antara pesantren, keluarga, dan lingkungan eksternal perlu dilakukan untuk menjaga efektivitas implementasi nilai-nilai Panca Jiwa dalam konteks pendidikan modern. Kata Kunci: Panca Jiwa. Pesantren. Pendidikan Karakter. Santri. Pembiasaan. *** PENDAHULUAN Pendidikan karakter merupakan inti dari ajaran Islam dan menjadi fondasi dalam pembentukan akhlak mulia. Rasulullah SAW digambarkan dalam Al-QurAoan sebagai uswah hasanah . eladan utam. , yang menjadi rujukan bagi umat manusia dalam membangun moral dan perilaku (QS. Al-Ahzab: . Hadis-hadis Nabi juga menegaskan bahwa misi kenabian bertujuan menyempurnakan akhlak manusia. Konsep ini meneguhkan bahwa pendidikan karakter harus menjadi orientasi utama dalam seluruh institusi pendidikan Islam, termasuk pesantren. Sejak diutusnya Nabi Muhammad SAW, beliau didaulat sebagai makhluk yang paling sempurna, baik dari segi akhlak maupun keteladanan hidupnya. Kesempurnaan tersebut ditegaskan dalam berbagai hadis, di antaranya riwayat alBaihaqi yang menyebutkan bahwa Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Ayat-ayat Al-Quran juga menguatkan hal ini, di mana Rasulullah digambarkan sebagai sosok dengan akhlak yang agung dan layak dijadikan panutan. Dari Al-Quran dan hadis tersebut dapat disimpulkan bahwa seseorang yang memiliki akhlak mulia sejatinya pantas menjadi uswah hasanah . eladan yang bai. bagi orang lain. Dengan demikian, pendidikan akhlak atau karakter menjadi inti JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. dari ajaran Islam, dan Rasulullah SAW menjadi model utama dalam pembentukan karakter umat manusia sepanjang zaman. Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia yang dikenal sebagai pusat pembentukan karakter melalui penguatan akhlak, disiplin, pembiasaan, dan pembinaan spiritual. Peran Pesantren selama ini sangat dirasakan masyarakat dimana berkontribusi nyata dalam pergulatan dinamika sosial yang menuntut perubahan. Peran Pesantren sangat strategis dalam masyarakat Indonesia yang mayoritas hidup di pedesaan (Endang Supandi, 2. Dikutip oleh Abdullah Hamid dari Likona menyatakan bahwa: Moral adalah sebuah pondasi di mana sebuah negara berkembang/bangkit menuju sebuah Puncak (Hamid, 2. Runtuhnya negara, para pemimpin dan individu karena telah meninggalkan moral. Dalam upaya mencetak SDM yang berkualitas dan berkarakter harus ada sinergitas antara keluarga sekolah dan masyarakat karena karakter berawal dari sebuah kebiasaan. Pondok Pesantren lembaga tradisional Islam . afaqquh fi al-die. dengan menekankan pentingnya moral agama Islam sebagai pedoman hidup bermasyarakat sehari-hari. Di samping itu. Pesantren juga merupakan lembaga pendidikan tradisional Islam untuk mempelajari, memahami, mendalami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman sehari-hari (Ummah, 2. Panca Jiwa Pesantren dapat dipahami sebagai usaha untuk membantu peserta didik mengembangkan seluruh potensi yang dimilikinya dengan tujuan agar santri memiliki jiwa keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, ukhuwah islamiah dan Penulis mengangangkat topik ini didukung oleh beberapa argumen pertama, berdasarkan Peraturan Mentri Agama Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2020 Bab 1 pasal 3 ayat 3 bahwa santri memiliki akhlak mulia (Kementerian Agama Republik Indonesia, 2. Pesantren sebagai instrument Pendidikan mengimplementasikan nilai Panca Jiwa dalam pembentukan karakter santri di Sabang sebagaimana diamanahkan oleh Peraturan Mentri Agama Republik Indonesia. Guru sebagai operator pendidikan terdepan di Pesantren berperan JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. mengimplementasikan nilai Panca Jiwa sebagaimana diamanahkan Peraturan Mentri Agama Republik Indonesia. Santri Pesantren itu identik dengan kumuh, jorok, kemana-mana sarungan dan pecian, alumninya hanya bisa mengaji dan menjadi guru mengaji di balai-balai kampung, tidak berdisiplin dan intoleran dalam bermasyarakat. Namun. Pesantren Terpadu Al-Mujaddid telah melahirkan alumni yang berkualitas, diantara lulusannya melanjutkan studi ke Mesir. Turki. Taruna Angkatan Laut. Kedokteran dan universitas terkemuka lainnya didalam maupun luar negri. Pesantren menanamkan nilai-nilai Panca Jiwa untuk membentuk karakter Islami santri dalam seluruh aktivitas sehari-hari. Penanaman karakter ini didukung melalui kedisiplinan, kegiatan berlandaskan nilai Islam, falsafah kepesantrenan, serta keteladanan. Santri dibiasakan hidup disiplin sejak hal kecil seperti kebersihan pribadi hingga kebersihan bersama di asrama. Mereka juga dilatih mandiri dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari serta diajarkan kesederhanaan melalui keterbatasan fasilitas. Hubungan santri dengan guru dan pengasuh dibangun atas dasar ketaatan. Seluruh aspek ini menjadikan pendidikan pesantren unik dan berbeda dengan sistem pendidikan lain seperti sekolah atau madrasah (La Hadisi. Zulkifli Musthan. Rasmi Gazali. Herman, 2. Seiring perkembangan waktu, penerapan nilai-nilai Panca Jiwa di pesantren menghadapi tantangan internal dan eksternal yang memerlukan strategi adaptif. Guru dan santri dituntut untuk menempatkan kepentingan pesantren di atas kepentingan pribadi, sementara pimpinan pesantren berperan penting menjaga stabilitas melalui komunikasi yang intensif dengan seluruh elemen, termasuk wali Kepemimpinan berbasis nilai kepesantrenan tidak hanya memastikan keberlangsungan pendidikan, tetapi juga membentuk santri menjadi pribadi tangguh, berilmu, dan siap menjadi pemimpin di tengah masyarakat yang dinamis (Nata. Pesantren Terpadu Al-Mujaddid di Kota Sabang merupakan salah satu lembaga pendidikan yang secara konsisten menerapkan Panca Jiwa dalam pembentukan karakter santri. Pesantren ini terbukti melahirkan alumni yang tidak hanya kompeten dalam bidang keagamaan, tetapi juga berhasil melanjutkan studi ke perguruan tinggi dalam maupun luar negeri serta berkarier di berbagai bidang JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. Namun, implementasi Panca Jiwa dalam konteks kekinian tidak terlepas dari berbagai tantangan. Perkembangan teknologi, latar belakang santri yang beragam, kurangnya konsistensi pembiasaan, serta keterbatasan fasilitas merupakan beberapa problem yang muncul dalam proses internalisasi nilai Penelitian tentang Panca Jiwa pesantren telah dibahas dalam berbagai literatur (Dhofier, 2011. Ummah, 2017. Nata, 2. , namun studi yang secara spesifik mengkaji problematika implementasi Panca Jiwa dalam konteks lokal Sabang, terutama dalam kaitannya dengan dinamika santri, pengasuh, orang tua, dan perkembangan teknologi, masih terbatas. Selain itu, kajian sebelumnya banyak berfokus pada konsep Panca Jiwa sebagai nilai ideal, bukan analisis mendalam mengenai hambatan dan strategi lembaga dalam mengimplementasikannya secara METODE Penelitian ini adalah penelitian lapangan dengan menggunakan metode Jenis metode kualitatif yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Studi kasus merupakan pendekatan penelitian kualitatif yang digunakan untuk memahami sesuatu isu atau problematika dengan menggunakan suatu kasus. Yang dimaksud dengan kasus disini dapat berupa suatu kejadian proses kegiatan, program, ataupun satu atau beberapa orang (Moleong. Pendekatan studi kasus dipilih karena memberikan ruang untuk mengeksplorasi fenomena secara komprehensif dalam konteks kehidupan nyata. (Creswell, 2. Dalam hal ini peneliti akan mencoba meneliti tentang problematika penerapan nilai Panca Jiwa dalam pembentukan karakter santri di Pesantren Terpadu Al-Mujadid. Penelitian dilakukan di Pesantren Terpadu Al-Mujaddid. Kota Sabang, yang merupakan salah satu pesantren terpadu yang menerapkan nilai-nilai Panca Jiwa sebagai dasar pembinaan santri. Pemilihan lokasi dilakukan secara purposif karena pesantren ini memiliki keunikan dalam sistem pembinaan karakter dan memiliki rekam jejak perkembangan yang signifikan. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. Subjek penelitian ditentukan melalui teknik purposive sampling dengan pertimbangan bahwa informan benar-benar memahami proses pembinaan karakter di pesantren. Informan terdiri dari pimpinan pesantren, dua orang guru atau asatidz pembina, seorang staf pengasuhan santri, dan seorang santri senior. Jumlah informan bersifat fleksibel dan dapat bertambah apabila ditemukan data baru, hingga mencapai titik kejenuhan atau data saturation, yaitu ketika data yang diperoleh sudah tidak menunjukkan informasi tambahan yang signifikan (Miles. Huberman, & Saldaya, 2. Data penelitian dikumpulkan melalui tiga teknik utama, yaitu observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Observasi dilakukan secara partisipatif terhadap berbagai aktivitas santri dan kegiatan pembinaan yang berlangsung di pesantren, termasuk rutinitas harian, pola interaksi, dan praktik internalisasi nilai Panca Jiwa. Wawancara dilakukan secara semi-terstruktur untuk menggali pemahaman informan terkait penerapan nilai Panca Jiwa, hambatan yang dihadapi, serta strategi yang diterapkan pesantren dalam pembinaan karakter. Sementara itu, dokumentasi digunakan untuk melengkapi data berupa arsip pesantren, tata tertib, jadwal kegiatan, foto kegiatan, dan dokumen lain yang mendukung proses triangulasi. Analisis data dilakukan sejak awal penelitian dengan mengikuti model interaktif Miles. Huberman, dan Saldaya . , yang meliputi proses reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Reduksi dilakukan dengan menyederhanakan dan mengelompokkan data berdasarkan tema-tema yang relevan dengan penelitian. Penyajian data dilakukan dalam bentuk narasi deskriptif untuk memudahkan peneliti dalam melihat hubungan antar-kategori. Selanjutnya, penarikan kesimpulan dilakukan dengan memaknai pola-pola yang muncul dari data, kemudian diverifikasi secara berkelanjutan hingga diperoleh kesimpulan yang valid. Untuk memastikan keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan informasi dari berbagai informan, sedangkan triangulasi teknik diperoleh dengan mencocokkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi. Selain itu, dilakukan member checking dengan meminta konfirmasi informan JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. terhadap hasil wawancara guna memastikan bahwa data yang diperoleh sesuai dengan maksud dan pengalaman informan. Hasil Penelitian dan Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan nilai-nilai Panca Jiwa di Pesantren Terpadu Al-Mujaddid Kota Sabang dilakukan melalui proses pembiasaan, keteladanan, dan pengawasan yang terintegrasi dalam seluruh aktivitas Nilai-nilai kemandirian, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan yang bertanggung jawab. Penerapannya tidak hanya dilakukan dalam konteks pembelajaran formal, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari santri di asrama, kegiatan ibadah, kebersihan lingkungan, serta interaksi antarsantri dan guru. Penerapan Nilai Keikhlasan Nilai keikhlasan menjadi fondasi pertama yang ditanamkan kepada santri. Bersasarkan hasil wawancara dan observasi menunjukkan bahwa nilai keikhlasan ditanamkan melalui pembiasaan totalitas dalam beramal, meskipun pada tahap awal implementasinya masih bersifat eksternal atau berupa paksaan. Temuan ini menunjukkan bahwa pembiasaan yang terstruktur dan konsisten efektif dalam membentuk karakter keikhlasan. Pada tahap awal, paksaan berperan sebagai Aupemicu eksternalAy untuk membiasakan santri menjalankan aktivitas, namun seiring waktu, perilaku ini menjadi motivasi intrinsik yang mengakar sebagai nilai Artinya, menginternalisasi nilai melalui praktik langsung, sesuai prinsip habituation dalam pendidikan karakter (Ryan & Deci, 2. Santri dilatih untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab secara konsisten, termasuk sholat lima waktu, menjaga kebersihan lingkungan, serta keterlibatan dalam organisasi dan kepanitiaan. Proses ini menekankan keterhubungan antara aktivitas keseharian dengan orientasi spiritual, sehingga keikhlasan menjadi karakter yang diharapkan tumbuh secara alami (Lickona, 2. Santri dididik untuk menyadari bahwa setiap kegiatan mulai dari belajar, beribadah, menjalankan tugas kebersihan, hingga mengikuti ekstrakurikuler merupakan bagian dari ibadah kepada Allah. Observasi lapangan menunjukkan bahwa ustadz JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. memberikan teladan nyata dengan mengajar, membimbing, dan mengabdi tanpa menuntut imbalan berlebih. Pendekatan ini memperkuat pemahaman santri tentang keikhlasan melalui contoh praktik yang dapat ditiru dalam kehidupan sehari-hari (Bandura, 1. Dari perspektif pendidikan karakter, proses internalisasi nilai keikhlasan ini sejalan dengan teori habituation, di mana perilaku yang awalnya dilakukan secara paksa secara eksternal perlahan berkembang menjadi motivasi intrinsik. Dokumentasi kegiatan pesantren, seperti jadwal rutin kerja bakti, salat berjamaah, dan kepanitiaan acara, menunjukkan bahwa keterlibatan santri tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga menumbuhkan kesadaran spiritual. Dengan demikian, nilai keikhlasan diajarkan bukan secara teoretis semata, melainkan melalui praktik langsung yang menghubungkan kegiatan keseharian dengan orientasi ibadah. Proses dari keterpaksaan menuju kesadaran ini menjadi ciri khas pendidikan pesantren, di mana nilai keikhlasan diharapkan tumbuh secara alami dan melekat sebagai karakter permanen santri, sebagaimana prinsip pendidikan karakter yang menekankan integrasi antara perilaku, sikap, dan nilai spiritual (Lickona, 2012. Ryan & Deci, 2. Penerapan Nilai Kesederhanaan Kesederhanaan merupakan salah satu nilai utama dalam Panca Jiwa pesantren yang menjadi landasan dalam membentuk karakter santri. Nilai ini tidak hanya dimaknai sebagai pola hidup yang jauh dari sikap berlebihan, tetapi juga mencerminkan keseimbangan dalam bersikap, berperilaku, serta menggunakan fasilitas yang ada. Dalam konteks pendidikan pesantren, kesederhanaan dipraktikkan melalui pembiasaan hidup hemat, tidak berfoya-foya, serta mengutamakan kebutuhan dibanding keinginan. Oleh karena itu, memahami bagaimana kesederhanaan diterapkan di lingkungan Pesantren Terpadu AlMujaddid menjadi penting untuk melihat sejauh mana nilai ini berhasil sehari-hari Hasil menunjukkan bahwa nilai kesederhanaan diwujudkan melalui pengaturan sikap dan penampilan santri. Santri diarahkan untuk tidak berlebihan dalam berpakaian, berperilaku, maupun gaya hidup sehari-hari. Pembiasaan ini diperkuat dengan peraturan pesantren yang mendukung kehidupan sederhana sesuai suasana JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. Kesederhanaan bukan berarti miskin, melainkan menyesuaikan dengan kebutuhan sehari-hari (Lickona, 2. Observasi lapangan memperlihatkan bukti konkret penerapan nilai Santri menggunakan pakaian seragam sederhana dalam semua aktivitas, baik belajar, ibadah, maupun kegiatan harian, sehingga mengurangi perbedaan penampilan antar individu. Dari sisi konsumsi, menu makanan yang disediakan sederhana, cukup untuk kebutuhan gizi harian tanpa adanya makanan Kesederhanaan juga tampak pada fasilitas pesantren yang digunakan bersama-sama, seperti ruang belajar dan asrama, menciptakan suasana kebersamaan tanpa kesenjangan sosial (Narvaez & Lapsley, 2. Penerapan kesederhanaan mendidik santri untuk hidup apa adanya, mengendalikan diri dari sifat berlebihan, dan mengembangkan sikap qanaAoah . erasa cuku. Hal ini sejalan dengan prinsip pendidikan karakter yang menekankan pembentukan pribadi rendah hati dan tahan terhadap kondisi sosial yang beragam. Kesederhanaan menjadi strategi pendidikan karakter, bukan sekadar simbol identitas pesantren, karena melalui praktik ini santri belajar bersikap moderat, bersahaja, dan tidak konsumtif (Ryan & Deci, 2. Nilai kesederhanaan membantu santri membangun karakter moderat dan tangguh, yang relevan untuk menghadapi kehidupan masyarakat luas. Pembiasaan terhadap kesederhanaan ini memperkuat dimensi moral dan spiritual pendidikan karakter, sehingga santri siap menjadi individu yang mandiri dan bijaksana dalam berperilaku sosial. Penerapan Nilai Kemandirian Nilai kemandirian merupakan salah satu pilar penting dalam Panca Jiwa pesantren yang menekankan kemampuan santri untuk bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri tanpa selalu bergantung pada orang lain. Di Pesantren Terpadu AlMujaddid, kemandirian ditanamkan melalui sistem pendidikan dan pembiasaan yang terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari. Hasil wawancara menunjukkan bahwa nilai kemandirian ditekankan melalui kemampuan santri mengurus diri sendiri, mulai dari kebutuhan pribadi hingga keterlibatan dalam organisasi dan pengelolaan keuangan. Pesantren memberi tanggung jawab kepada santri untuk menjalankan program kegiatan secara mandiri, termasuk pengelolaan kantin Pembiasaan ini bertujuan agar santri menjadi pribadi yang bertanggung JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. jawab dan tidak bergantung pada orang lain, mampu berdiri di atas kaki sendiri tanpa harus bersandar pada pihak lain (Suryadi, 2. Observasi Santri membersihkan asrama dan mengatur perlengkapan belajar tanpa bantuan luar, sesuai dengan dokumentasi kegiatan yang diperoleh peneliti. Dalam aspek sosial, santri diberi tanggung jawab mengatur jalannya kegiatan ekstrakurikuler maupun acara pesantren, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Struktur organisasi santri berfungsi layaknya miniatur masyarakat, di mana mereka belajar (Kusumaningrum & Setiawan, 2. Pesantren menggunakan prinsip learning by doing dalam menanamkan nilai Proses ini tidak hanya melatih keterampilan praktis, tetapi juga membentuk mentalitas tangguh, kreatif, dan siap menghadapi tantangan hidup. Temuan ini menunjukkan bahwa kemandirian berkembang melalui praktik nyata dan tanggung jawab berjenjang, sehingga perilaku mandiri bukan sekadar rutinitas, melainkan internalisasi nilai yang mendalam (Ryan & Deci, 2. Nilai kemandirian di Pesantren Terpadu Al-Mujaddid tidak hanya menyiapkan santri untuk kebutuhan pribadi, tetapi juga membentuk pribadi yang mampu memberi kontribusi bagi masyarakat. Strategi ini selaras dengan tujuan pendidikan karakter, yaitu menghasilkan generasi yang mandiri, bertanggung jawab, dan berdaya sosial. Pendekatan pembelajaran ini menjadi contoh integrasi praktik, moral, dan pengembangan mentalitas yang berkelanjutan. Penerapan Nilai Ukhuwah islamiyah Nilai ukhuwah islamiyah di Pesantren Terpadu Al-Mujaddid diterapkan melalui kegiatan kebersamaan seperti salat berjamaah, pengajian, kerja bakti, dan Santri dilatih untuk saling peduli, menolong, serta menyelesaikan masalah dengan musyawarah. Dengan pembiasaan ini, ukhuwah tidak hanya sebatas rutinitas, tetapi membentuk karakter santri yang peduli, solidaritas tinggi, dan mampu menjadi pemersatu di masyarakat. Kehidupan yang ada di pesantren diliputi suasana persudaraan yang akrab, sehingga segala suka dan duka dirasakan bersama dalam jalinan ukhuwah. Hasil wawancara menunjukkan bahwa nilai ukhuwah Islamiyah ditanamkan melalui kehidupan bersama di pesantren. Santri JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. dibiasakan untuk saling menolong, menjaga kekompakan, dan mengedepankan musyawarah dalam menyelesaikan masalah. Aktivitas sehari-hari seperti salat berjamaah, belajar kelompok, piket kebersihan bersama, hingga kerja sama dalam kepanitiaan acara, menjadi sarana membangun persaudaraan yang erat di antara mereka (Nata, 2. Observasi dan dokumentasi lapangan mendukung hal ini. Interaksi santri dalam asrama dan kegiatan bersama memperlihatkan adanya solidaritas dan rasa Ketika ada santri yang mengalami kesulitan, teman-temannya turut membantu, baik dalam hal akademik maupun kebutuhan pribadi. Pola hubungan ini menciptakan suasana harmonis yang memperkuat rasa memiliki terhadap pesantren sebagai satu keluarga besar (Kusumaningrum & Setiawan, 2. Penerapan ukhuwah Islamiyah sejalan dengan konsep pendidikan karakter berbasis komunitas, di mana nilai-nilai sosial dan moral dikembangkan melalui interaksi sehari-hari. Prinsip ini menekankan bahwa karakter tidak hanya dibentuk oleh aturan, tetapi juga oleh pengalaman kolektif dan relasi sosial yang dibangun secara konsisten (Lickona, 2. Temuan ini menunjukkan bahwa persaudaraan di pesantren tidak hanya berfungsi sebagai ikatan emosional, tetapi juga sebagai mekanisme pendidikan sosial yang membentuk kepekaan, tanggung jawab, dan sikap empati. Nilai ukhuwah Islamiyah di Pesantren Terpadu Al-Mujaddid berkontribusi signifikan dalam membentuk santri yang mampu beradaptasi dengan masyarakat. Dengan terbiasa hidup bersama, menghargai perbedaan, dan mengutamakan kebersamaan, santri dipersiapkan untuk menjadi individu yang solidaritas sosialnya tinggi dan mampu menjaga harmoni dalam kehidupan bermasyarakat. Penerapan Nilai Kebebasan Bebas bukan berarti bebas dalam makna negatif. Bebas disini masih dalam koridor yang berlaku. Dari pengertian Panca Jiwa diatas bisa dilihat bahwa nilainilai yang terkandung di dalamnya sangat komprehensif. diharapkan jiwa ini mampu melekat pada diri santri. Dalam hal ini perlu adanya proses yang Berdasarkan hasil wawancara, penerapan nilai kebebasan di Pesantren Terpadu Al-Mujaddid dipahami sebagai tahapan tertinggi dalam pembentukan karakter santri. Kebebasan tidak dimaknai sebagai sikap bebas tanpa batas. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. melainkan sebagai kemampuan santri untuk menentukan pilihan hidup secara mandiri, menciptakan pola hidup sendiri, serta mengambil keputusan terbaik bagi Nilai ini baru dapat dicapai setelah santri menginternalisasi nilai-nilai Panca Jiwa lainnya, yakni keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, dan ukhuwah Islamiyah (Hidayat, 2. Hasil observasi menunjukkan bahwa pesantren menyediakan fasilitas yang mendukung pengembangan minat dan bakat santri, seperti olahraga, kesenian, dan keterampilan praktis lainnya. Santri diberi kesempatan memilih kegiatan sesuai preferensi, namun tetap dalam koridor nilai-nilai pesantren. Kebebasan yang diberikan tidak berarti tanpa batas, melainkan diarahkan agar santri tidak bergantung pada orang lain, mampu beradaptasi dengan berbagai situasi, serta tetap menjunjung nilai-nilai ukhuwah dan keikhlasan (Kusumaningrum & Setiawan. Kebebasan dalam konteks pendidikan pesantren dapat dipahami sebagai bentuk autonomy support sebagaimana dikemukakan dalam Self-Determination Theory (Ryan & Deci, 2. , di mana santri diberi ruang untuk memilih dan bertindak sesuai motivasi intrinsik, namun tetap dalam bingkai nilai moral. Dengan demikian, kebebasan menjadi tahap lanjutan dari proses habituasi, internalisasi, dan pembentukan karakter, yang menjadikan santri independen sekaligus bertanggung Penerapan kebebasan ini bertujuan membentuk santri yang memiliki kapasitas sosial tinggi, dapat diterima di berbagai lingkungan, serta mampu menyampaikan pendapat dan bekerja sama dengan masyarakat yang beragam. Santri diharapkan tidak bersikap fanatik terhadap satu pola pikir tertentu, tetapi adaptif, toleran, dan kolaboratif dalam menghadapi perbedaan di tengah Hal ini menunjukkan bahwa pesantren tidak hanya membentuk pribadi religius, tetapi juga individu yang siap berkontribusi dalam kehidupan sosial yang Problematika Penerapan Panca Jiwa di Pesantren Terpadu Al-Mujaddid Panca Jiwa sebagai ruh pendidikan pesantren idealnya menjadi pedoman dalam membentuk karakter santri yang ikhlas, sederhana, mandiri, memiliki ukhuwah islamiyah yang kuat, serta mampu menggunakan kebebasan secara JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. bertanggung jawab. Namun, dalam realitas pelaksanaan di Pesantren Terpadu AlMujaddid, proses internalisasi nilai-nilai tersebut tidak selalu berjalan mulus. Berbagai hambatan baik yang bersumber dari internal santri, keterbatasan tenaga pendidik dan fasilitas pesantren, maupun pengaruh lingkungan eksternal, sering kali menjadi tantangan yang mengurangi efektivitas penerapan Panca Jiwa. Berdasarkan hasil wawancara, penerapan nilai Panca Jiwa di Pesantren Terpadu Al-Mujaddid menghadapi sejumlah kendala yang bersumber dari faktor internal maupun Kendala internal terutama terkait dengan sumber daya dan kesiapan lembaga. Pertama, keterbatasan finansial berdampak pada pelaksanaan program pembinaan karakter, karena banyak kegiatan pembiasaan membutuhkan dukungan dana. Kedua, sebagian asatidz belum sepenuhnya memahami makna dan implementasi nilai Panca Jiwa, mengingat latar belakang pendidikan mereka yang beragam. Hal ini mengakibatkan adanya ketidaksamaan pendekatan dalam pembentukan karakter Selain itu, guru umum yang lebih fokus pada mata pelajaran akademik seperti fisika, kimia, dan biologi memiliki keterbatasan interaksi dengan kehidupan pesantren, sehingga muncul perbedaan persepsi dalam memahami visi dan misi lembaga (Zarkasyi, 2. Tantangan lain adalah pengaruh teknologi digital, yang terkadang membuat sebagian asatidz lalai terhadap tugas kepesantrenan. Dari sisi santri, masih ditemukan resistensi terhadap sistem disiplin dan hukuman yang dijalankan pesantren sebagai bagian dari pembinaan karakter (Nata, 2. Selain faktor internal, pengaruh eksternal juga signifikan. Kedekatan geografis rumah santri dengan pesantren membuat sebagian santri kurang mandiri karena sering pulang. Faktor orang tua juga menjadi tantangan. Sebagian beranggapan bahwa menitipkan anak di pesantren berarti sepenuhnya melepaskan tanggung jawab pendidikan, sehingga dukungan moral kurang optimal. Ada pula orang tua yang menekankan anak agar segera mandiri secara ekonomi, padahal pesantren memiliki tahapan pengabdian dan beasiswa lanjutan (Abdurrahman. Kurangnya keikhlasan sebagian orang tua dalam menyerahkan anak ke pesantren berdampak pada motivasi belajar dan kedisiplinan santri. Di sisi lain, status pesantren sebagai lembaga di bawah Kementerian Agama menghadirkan JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. tantangan birokrasi dan intervensi kebijakan, yang kadang membatasi ruang gerak pesantren dalam menjalankan visi kemandiriannya (Hasanah, 2. Kendala penerapan Panca Jiwa menunjukkan bahwa pembentukan karakter di pesantren tidak hanya bergantung pada internalisasi nilai dan sistem pembinaan internal, tetapi juga dipengaruhi oleh dukungan keluarga, masyarakat, dan kebijakan pemerintah. Hal ini sejalan dengan teori ekologi pendidikan Bronfenbrenner, bahwa proses pendidikan dipengaruhi oleh interaksi sistem dalam dan luar individu (Bronfenbrenner, 1. Keberhasilan penerapan Panca Jiwa menuntut sinergi antara pesantren, orang tua, dan pemerintah. Pesantren perlu memperkuat peran pembinaan internal dan pengembangan kompetensi asatidz, sementara orang tua harus menjadi mitra aktif dalam mendukung proses pendidikan anak. Dukungan regulasi pemerintah yang tidak terlalu birokratis juga penting agar pesantren dapat menjaga kemandirian sekaligus meningkatkan kualitas pembinaan karakter santri. Selain kendala yang muncul karena faktor external dan internal, terdapat juga kendala yang muncul dari sisi santri itu sendiri karna dari karakter dan latar belakang mereka Berdasarkan hasil wawancara, kendala penerapan nilai-nilai Panca Jiwa di Pesantren Terpadu Al-Mujaddid tidak hanya bersumber dari faktor internal lembaga maupun eksternal pesantren, tetapi juga dari diri santri itu sendiri. Masa pubertas membawa pengaruh besar terhadap kestabilan emosi dan perilaku. Pada fase ini, santri kerap menunjukkan gejolak emosional, mudah tersinggung, serta cenderung mengekspresikan kebebasan tanpa batas. Kondisi tersebut menghambat internalisasi nilai Panca Jiwa, khususnya pengendalian diri, kedisiplinan, dan keikhlasan. Sifat manja dan ketergantungan pada orang tua masih cukup kuat, terutama bagi santri yang baru pertama kali hidup mandiri di lingkungan pesantren. Adaptasi yang lambat menjadikan sebagian santri kesulitan mengikuti pola kehidupan disiplin dan kolektif. Inkonsistensi aktivitas juga muncul, di mana santri cenderung hanya menjalankan kegiatan yang disenangi dan mengabaikan aktivitas yang dianggap Padahal, internalisasi nilai Panca Jiwa menuntut ketekunan, kesungguhan, dan kesiapan menjalani seluruh proses pendidikan pesantren. Karakter pasif . dibandingkan karakter aktif . menjadi hambatan JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. Sikap menunggu membuat santri kurang proaktif dalam belajar maupun bekerja sama, sehingga proses pembentukan kemandirian berjalan lambat. Pengaruh lingkungan rumah dan pergaulan luar turut menjadi tantangan. Nilai yang ditanamkan keluarga terkadang bertolak belakang dengan nilai pesantren, sementara pengaruh negatif dari media sosial maupun teman sebaya di luar pesantren dapat melemahkan internalisasi Panca Jiwa. Hasil observasi di lapangan menunjukkan bahwa faktor psikologis, emosional, kebiasaan, serta pengaruh eksternal memperkuat tantangan yang dihadapi santri. Dengan demikian, penerapan sistem pendidikan berbasis Panca Jiwa menuntut strategi adaptif yang tidak hanya menekankan pada regulasi, tetapi juga memperhatikan perkembangan psikologis remaja. Pendekatan personal, konsisten, dan berkesinambungan menjadi penting agar pembinaan karakter dapat berjalan optimal. Kendala yang muncul dari diri santri dalam penerapan nilai Panca Jiwa di Pesantren Terpadu Al-Mujaddid menunjukkan bahwa pembinaan karakter tidak bisa dilepaskan dari dinamika perkembangan psikologis remaja. Menurut Lickona, pendidikan karakter membutuhkan proses internalisasi yang mencakup pengetahuan moral, perasaan moral, dan tindakan moral yang berkesinambungan (Lickona 2. Namun, gejolak masa pubertas, sikap pasif, dan ketergantungan pada orang tua menunjukkan bahwa sebagian santri masih berada pada tahap awal perkembangan moral yang belum matang. Selain itu, teori pendidikan karakter Islami menekankan pentingnya keteladanan, pembiasaan, dan pembinaan yang konsisten (Shihab 2. Karakter pasif . yang masih terlihat pada sebagian santri memperlihatkan bahwa strategi pembiasaan perlu diperkuat dengan pendekatan partisipatif yang mendorong santri menjadi thalib . ktif mencari ilm. Hal ini sejalan dengan pandangan Tilaar bahwa pendidikan karakter harus diarahkan untuk membentuk peserta didik yang mandiri, bertanggung jawab, dan mampu beradaptasi dengan lingkungannya (Tilaar 2. Pengaruh lingkungan rumah dan pergaulan luar yang masih kuat juga membuktikan bahwa pendidikan karakter tidak hanya menjadi tanggung jawab lembaga pendidikan, tetapi membutuhkan kolaborasi dengan keluarga dan masyarakat. Hidayatullah menegaskan bahwa keberhasilan JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. pendidikan karakter di pesantren hanya dapat tercapai apabila terdapat sinergi antara pesantren, orang tua, dan masyarakat (Hidayatullah 2. Dengan demikian, kendala dari diri santri mengindikasikan perlunya strategi adaptif dalam pembinaan karakter. Pesantren tidak hanya menekankan aturan dan disiplin, tetapi juga harus memberikan pendekatan yang memperhatikan kondisi psikologis, emosional, serta sosial santri. Strategi ini mencakup keteladanan asatidz, pembiasaan yang konsisten, penguatan dukungan keluarga, serta pembinaan keterampilan sosial agar nilai-nilai Panca Jiwa dapat terinternalisasi secara utuh. Upaya Pesantren dalam Mengatasi Problematika Setiap proses pendidikan tentu tidak terlepas dari berbagai kendala dan problematika, termasuk dalam penerapan nilai-nilai Panca Jiwa di pesantren. Hambatan tersebut dapat muncul dari faktor internal santri, lingkungan pesantren, maupun sistem yang diterapkan. Oleh karena itu, pesantren dituntut untuk memiliki strategi dan langkah nyata dalam mengatasi problematika tersebut agar tujuan pendidikan karakter tetap tercapai. Upaya yang dilakukan tidak hanya bersifat reaktif terhadap problematika yang muncul, tetapi juga preventif dan kuratif, sehingga santri dapat tumbuh dengan karakter yang sesuai dengan nilai-nilai Dengan demikian, pembahasan ini akan menguraikan berbagai langkah yang ditempuh Pesantren Terpadu Al-Mujaddid dalam menghadapi tantangan sekaligus menjaga keberlangsungan internalisasi nilai-nilai Panca Jiwa dalam kehidupan santri sehari-hari. Berdasarkan hasil wawancara. Pesantren Terpadu AlMujaddid menerapkan sejumlah strategi untuk mengatasi problematika penerapan nilai-nilai Panca Jiwa. Strategi tersebut antara lain: Pendekatan personal dan kesabaran Pesantren lebih mengutamakan pendekatan dialogis dengan memanggil santri atau guru yang bermasalah secara langsung untuk dibina dan diarahkan. Metode ini bertujuan agar pembinaan lebih efektif karena mempertimbangkan aspek psikologis dan latar belakang individu. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. Program berkala berbasis apresiasi Pesantren menyelenggarakan program khusus seperti pentas seni atau kegiatan lain yang hanya dapat diikuti oleh santri kelas akhir yang memenuhi standar karakter dan keilmuan. Strategi ini menjadi bentuk reward sekaligus motivasi agar santri termotivasi meningkatkan perilaku positif. Pembinaan guru dan karyawan Pesantren menyadari pentingnya peran pendidik dan karyawan dalam proses pembentukan karakter, sehingga pembinaan internal dilakukan agar seluruh elemen memahami serta menginternalisasi nilai-nilai Panca Jiwa secara menyeluruh. Evaluasi terstruktur Evaluasi dilakukan dalam berbagai bentuk, baik mingguan maupun harian. Setiap Jumat siang setelah shalat Jumat, dilakukan evaluasi terhadap pelanggaran sebagai contoh bagi santri lainnya. Evaluasi rutin juga dilaksanakan melalui apel pagi, tausiah malam Jumat, serta pemanggilan santri tertentu untuk pembinaan. Pengawasan langsung Guru dan pengasuh pesantren secara aktif mendampingi santri dalam berbagai kegiatan, baik akademik maupun non-akademik. Pendampingan ini memastikan bahwa proses internalisasi nilai-nilai Panca Jiwa berjalan konsisten. Evaluasi berjenjang Apabila permasalahan tidak dapat diselesaikan melalui mekanisme awal, evaluasi akan ditingkatkan ke level pimpinan pesantren. Sistem ini memastikan adanya tindak lanjut yang jelas dan hierarkis terhadap setiap persoalan. Strategi pesantren dalam mengatasi problematika penerapan Panca Jiwa sejalan dengan prinsip pendidikan karakter berbasis pesantren yang menekankan aspek keteladanan, pembiasaan, dan pengawasan (Aly, 2. Pendekatan personal yang diterapkan mencerminkan prinsip humanistic education yang berfokus pada perkembangan individu, sehingga santri tidak hanya dipaksa menaati aturan, tetapi juga dibimbing memahami nilai di balik aturan tersebut (Rogers, 1. Adanya program berbasis apresiasi juga sesuai dengan teori motivasi belajar yang menekankan pentingnya reinforcement dalam membentuk perilaku positif (Skinner 1. Sementara itu, evaluasi berjenjang dan pengawasan langsung JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. menjadi wujud implementasi hidden curriculum di pesantren, di mana proses pendidikan karakter berlangsung secara terus-menerus, baik melalui kegiatan formal maupun nonformal (Dhofier,2. Dengan strategi tersebut, pesantren tidak hanya menekan potensi pelanggaran, tetapi juga menciptakan kultur pendidikan yang membentuk santri berkarakter kuat, disiplin, dan berdaya guna di PENUTUP Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan nilai-nilai Panca Jiwa di Pesantren Terpadu Al-Mujaddid yang meliputi keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, ukhuwah islamiyah, dan kebebasan telah diimplementasikan secara konsisten melalui pembiasaan, keteladanan, dan pengawasan dalam seluruh kegiatan Pesantren Terpadu Al-Mujaddid. Internalisasi nilai-nilai tersebut berkontribusi pada pembentukan karakter santri, terutama dalam aspek kedisiplinan, tanggung jawab, solidaritas, dan kemandirian. Namun, penerapan Panca Jiwa masih menghadapi sejumlah hambatan. Kendala internal meliputi keterbatasan fasilitas, ketidaksamaan pemahaman guru terhadap nilai-nilai kepesantrenan, serta dampak teknologi digital. Hambatan eksternal berasal dari dukungan orang tua yang belum optimal dan lingkungan sosial santri. Sementara itu, tantangan personal seperti gejolak emosional, inkonsistensi perilaku, dan ketergantungan pada orang tua turut memengaruhi efektivitas pembinaan. Untuk mengatasi problematika tersebut, pesantren menerapkan strategi berupa pendekatan personal, penguatan keteladanan, evaluasi terstruktur, pembinaan guru, serta pengawasan berjenjang. Strategi ini terbukti membantu memperkuat internalisasi nilai Panca Jiwa. Dengan demikian. Panca Jiwa tetap keberhasilannya bergantung pada kolaborasi yang kuat antara pesantren, keluarga, dan lingkungan, serta adaptasi pesantren terhadap tantangan perkembangan zaman. *** JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. DAFTAR PUSTAKA