F MAHAROT: Journal of Islamic Education Vol. No. 2, 2023 ISSN: 2580-3980 . 2580-3999 . http://ejournal. id/index. php/maharot CONSTRUCTIVISM APPROACH IN MADRASAH IBTIDAIYAH LEARNING PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME DALAM PEMBELAJARAN DI TINGKAT MADRASAH IBTIDAIYAH Received 05-11-2023 Revised 27-12-2023 Accepted 29-12-2023 DOI : 10. 28944/maharot. Shulhan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Aqidah Usymuni Sumenep ihan_live@yahoo. Keywords: Kata kunci: Abstract This article reviews the value of using constructivist teaching strategies in Islamic primary schools. The text was used as a research source for the goals mentioned above, and qualitative methodologies from a library research perspective were applied. The research stages involved topic selection, information exploration, focus determination, data collection, source gathering, preparation of presentations, and compilation of research reports. Content analysis was used for the data The findings are as follows: First, constructivism is a branch of educational psychology blending cognitivism theory, which holds that the mind is the most crucial aspect of human existence, with behavioristic theory looking at people as blank pieces of paper that teachers may scribe to. As a working hypothesis, every teacher must already have the basic knowledge to teach constructivism. Second, teachers must be adept at presenting learning contexts through various The learning process was conducted by attending to students' However, as it does not allow trial and error, it is inappropriate for writing involving doctrines. Every instructor must be able to analyze, review, and recreate the concepts created by students. The spiritual dimension, manifested in acts and attitudes, supports teachers' teaching abilities and scientific knowledge. Abstrak Artikel ini dimaksudkan untuk mediskusikan pentingnya pendekatan konstruktivisme dalam pembelajaran madrasah ibtidaiyah. Metode kualitatif dengan berbasis liberary reseach digunakan untuk tujuan di atas dengan menempatkan teks sebagai sumber penelitian. Adapun tahapan pelaksanaan riset ini antara lain: memilih topik, mendalami informasi, menetapkan fokus penelitan mengoleksi sumber data, mempersiapkan penyajian dan menyusun laporan hasil penelitian. Teknik analisis data yang digunakan berupa analisis isi . ontent Shulhan | MAHAROT Vol. No. 2, 2023 Berikut adalah rumusan hasilnya: Pertama, konstruktivisme merupakan aliran psikologi pendidikan yang menggabungkan teori behavioristik yang memandang manusia seperti kertas putih yang dapat digambar apa saja oleh guru dan teori kognitivisme yang memandang pikiran merupakan hal terpenting dari eksistensi manusia. Syarat mutlak pembelajaran konstruktivisme adalah setiap guru harus sudah memiliki ilmu dasar sebagai hipotesis kerja. Kedua, tatangan terbesar pembelajaran konstruktivistik menekankan guru harus mampu menghadirkan konteks pembelajaran dengan strategi yang banyak dan bervariatif. Pembelajaran dilakakuan dengan memperhatikan kebutuhan peserta didik. akan tetapi teknik ini tidak cocok untuk materi yang mengandung doktrin dan tidak menerima trial dan error. Setiap guru harus dapat merekonstruksi ide yang dibangun oleh peserta didik dan mengeveluasi serta mereview. Keterampilan mengajar dan kapasitas keilmuan guru hendaknya ditopang oleh dimensi spritualitas yang direfleksikan dalam tindakan dan sikap. AMAHAROT: Journal of Islamic Education. This work is licensed under CC BY-NC-SA 4. PENDAHULUAN Pembelajaran adalah proses transimisi ilmu pengetahuan yang dilakukan guru dan diikuti oleh peserta didik dengan memanfaatkan sarana dan prasarana yang ada. Dalam kegiatan pembelajaran interaksi guru dan murid adalah hal mutlak dan menentukan keberhasilan pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Komunikasi yang dibangun antara guru dan anak didik harus dikembangkan dengan benar agar menghasilkan pembelajaran yang berorientasi pada outcomes basad education (OBE). Sederhananya keberhasilan pembelajaran dapat diperhatikan dari perubahan positif perilaku peserta didik, peningkatan keterampilan dan keilmuannya. Perubahan itu tentu bersifat permanen tidak temporal karena itu pendidikan membutuhkan waktu yang tidak sebentar . ong life educatio. Pelaksanaan pembelajaran baik di kelas maupun yang berbentuk outdoor didasarkan pada visi dan misi dikembangkan oleh pengembangkan satuan pendidikan yang diturunkan menjadi tahapan kegiatan pembelajaran secara mikro oleh masingmasing guru kelas. Guru dituntut untuk memliki ekspektasi sebagai goalset dalam setiap melaksanakan pembelajaran yang diawali dengan sesi perencaan yang matang. Pendidik yang bertanggung jawab terhadapat tugasnya memilki cita-cita yang ingin dicapai setelah melangsungkan kegiatan belajar mengajar. Goal yang hendak dicapai perkembangan kognitif dan afektif serta psikomotorik. Dengan perkembangan tersebut Shulhan | MAHAROT Vol. No. 2, 2023 setiap peserta didik diharapkan mampu mengalami berubahan mental, perilaku dan sikap kearah yang lebih baik dan dinamis. Untuk mewujudkan cita-cita di atas, pembelajaran harus dirancang dan didesign dengan baik yang melibatkan aktivitas-aktivitas aktif peserta didik. Mereka secara aktif mengkonstruksi pembelajaran secara mandiri sehingga kegiatan pembelajaran lebih condong perpusat kepada paserta didik . tudent centered learnin. Guru berperan sebagai fasilitator dengan tanggungjawab yang sangat tinggi yaitu harus mendampingi dan membimbing setiap siswa untuk memaknai kegiatan pembelajaran secara Seorang guru harus mampu memberikan solusi akan menyelesaikan masalah yang dihadapi pembelajar. Dalam pembelajaran yang menekankan peran aktif mereka, pendidik akan berhadapan dengan beberapa kondisi yang tidak terduga yang membutuhkan kesiapan dan wawasan yang luas serta adaftif bagi pendidik. Pembelajaran dengan paradigma student centered ini sejatinya merupakan implementasi dari pendidikan yang berorientasi hasil yang hendak dicapai. Kegiatan pembelajaran yang berbasis patnership yang sangat memperhatikan integrasi dan interkoneksi antara struktur, proses dan kontens pembelajaran perlu diterpakan untuk mencapai target pembelajaran yang ditetapkan (Trinova, 2. Keberhasilan mencapai hasil pembelajaran sangat ditentukan oleh proses pembelajaran khususnya pada kemampuan pendidik dalam memanfaatkan semua sumber yang ada. Tempat dan ruang serta suasana pembelajaran adalah struktur penting yang perlu diperhatikan hubunganya dengan proses konstruksi anak terhadap konteks pembelajaran. Komponten-komponen ini harus dikembangkan disesuaikan dengan kapasitas psikologis peserta didik. Terdapat beberapa penelitian terhadulu tentang pembelajaran konstruktivisme seperti yang diterapkan dalam pembelajaran sosilogi pada jenjang Madrasaha Aliyah (Maswi et al. , 2. , konstruktivisme juga digunakan sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan berfikir kritis (Firdaus et al. , 2. dan pembelajaran konstruktivistik digunakan dalam pembelajaran IPA untuk meningkatkan hasil belajar pada sekolah dasar (Vitriani et al. , 2. Penelitian ini berfungsi sebagai pelengkap penelitian terdahulu dengan menempatkan pendidikan dasar sebagai lokus. Penelitina ini bertujuan untuk mendiskusikan tentang dinamika pembelajaran konstruktivisme untuk jengjang pendidikan madrasah ibtidaiyah dan tantangan-tantangan yang dihadapi guru yang hendak menerapkannya. Shulhan | MAHAROT Vol. No. 2, 2023 METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbentuk kajian kepustakaan . iberary researc. yang dimaksudkan untuk menggali konsep pembelajaran konstruktivistik untuk anak-anak pada jenjang pendidikan madrasah ibtidaiyah. Sumber penelitian ini berbentuk naskah yang berupa buku dan artikel jurnal. Tahapan penelitian ini sebagai berikut (Sari & Asmendri, 2. : memilih topik, mendalami informasi, menetapkan fokus penelitan. Mengoleksi sumber data, mempersiapkan penyajian dan menyusun laporan hasil penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Konseptual Kontruktivisme Sebagai Pendekatan Pembelajaran Konstruktivisme dalam sebuah pendekatan dalam ilmu psikologi yang menyakini anak dapat membangun dan mengembangkan pemahaman dan pengetahuan secara otonomik. Anak dapat mengembangkan ilmu pengetahuannya sendiri melalui berbagai pengalaman (Jamaris, 2. Pengalaman seseorang menjadi fondasi penting dalam menyusun pemahamannya terhadap suatu hal. Semakin banyak pengalamannya semakin banyak pula hasil konstruksi ilmu yang berhasil diperoleh oleh orang tersebut. Konstruktivisme berasumsi bahwa pembelajaran merupakan kegiatan seseorang murid yang aktif berusaha untuk mencari ilmu pengetahuan, keterampilan dan karakter dengan memanfaatkan kelima panca indranya untuk mengkonstruksi pemahaman tetap suatu konsep. Mazhab psikologi perkembangan ini berasumsi bahwa ilmu pengetahuan tidak dapat diberikan begitu saja kepada siswa seperti yang biasa dilaksanakan di kelaskelas (Sugrah, 2. Setiap anak dianggap mampu membangun pengetahuan dengan sendirinya tentang objek di alam ini berdasarkan pengalaman yang pernah dilalui. Kekuatan utama dalam memperoleh pengetahuan adalah pengalaman pribadi seorang Dengan pengalaman tersebut, anak membangun kerangka pengatahuan dalam pola pikirnya. Indikasi bahwa anak dapat mengembangkan ilmu pengetahuan secara mandiri berdasarkan pengalamannya dapat diperhatikan dari usaha yang dilakukan untuk menyesuaikan diri dengan situasi baru yang dihadapi. Contohnya untuk memotong kayu kecil menggunakan pisau, tetapi ketika pisau tidak ada, anak akan menggunakan bahan lain yang relevan seperti tulang dan batu. Ketika menghadapai masalah dan Shulhan | MAHAROT Vol. No. 2, 2023 kesulitan, anak akan menyampaikan pertanyaan yang sesuai dengan konteks yang dihadapi kemudian mengeksplorasi infomasi dan mengevaluasi apakah masalah tersebut dapat diselesaikan menggunakan ilmu yang telah dimiliki atau memerlukan ilmu baru. Dengan demikian, konstruktivisme meyakini bahwa pembelajaran mendorong peserta didik untuk menggunakan pengetahuan dan pengalamannya dalam memecahkan masalah kemudian pada gilirannya ia menyusuan konsep pemahaman terhadap suatu objek pengetahuan sebagai hasil pemahamannya (Suparlan, 2. Peserta didik dipersepsikan sebagai makhluk yang berpikir dan membangung Pengetahuan dikembangkan dengan dua media utama yaitu kognisi seseorang dan pengalaman itu Pengalaman-pengalaman yang dilaluinya akan menjadi bahan yang diolah oleh pikiran sehingga menghasilkan sintesa pikiran tentang konsep sesuatu. Pembelajaran yang dikembangkan dari konstruktivisme ini akan menuntut peserta didik aktif pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung karena mereka sebagai pusat . ore activit. dan sebagai subjek pembelajaran. Pembelajaran ini menekankan bagaimana peserta didik menemukan hal baru dengan praktik learning by doing. Setiap peserta didik idealnya harus mempunyai pengetahaun dasar yang kemudian diekplorasi dalam Ilmu pengetahuan dalam konstruktivisme bukan otoritas absolut tetapi hanyalah working hypothesis yang harus diuji kebenaranya berdasarkan pengalamanpengalaman setiap individu (Khadijah, 2. Konstruktivisme sebagai teori ini dikembangkan dari teori behaviorisme yang menganggap manusia berada dalam kotak hitam atau tabula rasa sehingga dapat diisi apa saja oleh gurunya (Setiawan, 2. Manusia memerlukan pembiasaan, latihan dan pengondisian untuk dapat mengembangkan pengetahuan. Manusia layaknya hewan yang tidak memiliki aspek psikologis dan mental. Dalam proses memperoleh pengetahuan, hal yang penting adalah stimulus dan respon. Hal ini dalam pandangan konstruktivisme kurang tepat karena selain aspek fisik, manusia juga memiliki aspek psikis yang juga penting untuk diperhatikan yaitu pikiran manusia. Mazhab kognitivisme meyakini pikiran manusia adalah bagian yang penting dalam memahami apa yang sedang dihadapi. Akan tetapi, kurang tepat ketika pikiran dijadikan alat utama untuk mengembangkan pemahaman akan pengetahuan. Untuk menjembatani dan memanfaatkan potensi manusia yang sejatinya memilki unsur yang diyakini kaum Shulhan | MAHAROT Vol. No. 2, 2023 behavioris dan kaum kognitivis, konstruktivisme menformulasikan pembelajaran dengan jalan penggunaan kerja pikiran berdasarkan pengalaman. Setiap peserta didik harus mampu menemukan informasi kompleks secara menggunakan regulasi lama dan melakukan revisi ketika terdapat yang tidak sesuai lagi. Siswa dituntut untuk bisa menjadi problem solver, menemukan sesuatu untuk dirinya dan berusaha dengan berbagai cara dengan menggunakan ide-ide. Guru sebagai fasilitator berfungsi sebagai pengarah, pembimbing, pendamping yang meluruskan arah Peserta didik mengikuti pembelajaran untuk memperoleh pengetahuan, menigkatkan skill dan memperbaiki sifat maupun prilaku. Keberadaan guru sangat penting untuk membimbing dan mengarahkan siswa agar dalam mengkonstruksi pemahaman terhadap suatu konsep pengetahuan tidak keliru karena akan berakibat fatal di kemudian hari. Ilmu pengetahuan, dan keterampilan ketika dikuasai oleh seseorang tidak akan bebas nilai . alue fre. lagi sangat bernilai yang ditentukan oleh sudut pandang dan keyakinan orang tersebut. Ketika orang tersebut memiliki akhlak dan konstruksi ilmu yang baik, ilmu akan digunakan untuk kebaikan dan untuk menyebarkan kemaslahatan. Sebaliknya jika pemilik ilmu itu orang jahat maka ilmu akan digunakan untuk memenuhi kepentingannya tanpa mempedulikan dampaknya. Guru sebagai pendidik perannya tidak akan dapat digantikan oleh kecanggihan teknologi apapun karena selain ilmunya yang dibutuhkan adalah keluruhan jiwa dan Teknologi hanya mampu menjadi sumber pengetahuan tetapi tidak bisa menjadi sumber kebijaksanaan yang bersumber dari hati dan keyakinan seseorang. Hadirnya guru sebagai pendidik yang menfasilitasi tumbuh kembangnya anak didik sangat dibutuhkan terutama dalam pertumbuhan mental dan prilakunya karena moral munusia ditentukan oleh lingkungan yang membetuknya (Alfinnas, 2018. Semakin baik lingkungan sekitar peserta didik, semakin efektif pertumbuhannya dalam hal kebaikan baik prinsip hidup, sikap dan prilakuknya. Kaum konstruktivis berasumsi bahwa setiap peserta didik bersifat aktif dalam mengembangkan pengetahuan untuk diri sendiri. Setiap orang memiliki karakteristik untuk mengaktiviasi diri dalam memperoleh dan mencari serta menemukan ilmu Tidak hanya itu manusia memiliki potensi untuk mengembangkan pengetahuan untuk dirinya sesuai kapasitas dan motivasi masing-masing. Kegiatan pembelajaran berpusat pada sejauh peserta didik mampu berperan aktif dalam setiap Shulhan | MAHAROT Vol. No. 2, 2023 sesi kegiatan belajar mengajar. Mereka akan menentukan dan memainkan peran untuk memeperoleh pengetahuan dan mengembangkannya (Umbara, 2. Konstruktivisme menyakini bahwa setiap subjek aktif mengembangkan struktur kognitif melalui interaksinya dengan lingkungan (Saripudin et al. , 2. Kurikulum hendaknya dikembangkan secara intergratif, holistik yang dapat memberikan ruang kepada peserta didik untuk berinterkasi dengan dunia nyata. Kurikukum harus dirancang sedemikian rupa untuk memberikan akses kepada pembelajar dalam memahami sebuah topik menggunakan banyak perspektif dan sebagai pendekatan. Semisal, peserta didik pada saat mempelajari balon-balon udara dapat dengan membaca buku-buku referensi tentang topik ini, dapat juga dengan menulis atau bahkan melihat langsung dengan mengunjungi tempatnya. Contoh pembelajaran ini menggambarkan adanya peran penting dan utama dari pembelajar . earner centere. dan ini merupakan esensi yang mendasar yang dikembangkan oleh mazahab konstruktivisme . Kurikulum merdeka secara konseptual sangat tepat untuk pembelajaran konstruktivisme karena dikembangkan dengan fokus pada tiga hal utama yaitu pengembangan soft skill dan karakter, fokus pada materi esensial, dan pelaksanaan pembelajaran yang fleksibel (Anggraena et al. , 2. Tujuan pembelajaran yang paling mendasar adalah meningkatkan keterampilan, keilmuan, dan karakter bagi setiap peserta didik untuk sebagai penerus masa depan bangsa. Setiap pembelajaran harus dibangun untuk dapat mengasah kemampuan berpikir tinggi (HOTS) untuk mendorong setiap pribadi mampu berpikir kritis dan berindak kreatif untuk menciptakan karya inovatif atau untuk mengembangkan temuan atau karya sebelumnya. Tujuan tertinggi pembelajran adalah untuk membekali anak didik agar mampu melakukan inovasi dan kreasi sebagai wujud dari aktualisisasi potensi yang dimiliki. Manusia yang berkualitas tinggi bukan yang hanya pandai berteori dan hafal banyak rumus dan prinsip-prinsip tetapi juga harus diimbangin dengan kecakapan inventori dan kreasi agar dapat menghasilkan karya yang bermanfaat bagai masyarakat dan alam lingkungan. Asumsi lain yan digagas oleh kaum konstruktikvisme dalam pembalajaran adalah guru tidak lagi sebagai pengajar dalam artian yang sempit dan konvensional. Guru hendaknya tidak mengajarkan ilmu kepada peserta didik layaknya pembelajaran klasik yang menekankan peran guru sebagi injektor pengetahuan dan murid-murid sebagai resiptor pengetahuan yang pasif. Guru dituntut mampu membangun kondisi Shulhan | MAHAROT Vol. No. 2, 2023 dan situasi sedekian rupa yang mendorong peserta didik untuk terlibat langsung dalam pembelajaran melalui pengolahan materi mampun interaksi sosial. Seorang guru harus mampu menjembatani dan menfasiltasi peserta didik untuk melakukan penelitian atau pengamatan terhadap fenomena-fenamena, mengumpulkan data dan merumuskan data serrta menguji hipotesis kerja secara bersama dengan kooperatif . Siswa tingkat dasar memiliki kecenderungan melakukan pembelajaran dalam hal-hal yang sifatnya kongkrit dan realistik. Karakteristik ini mengindikasikan guru dituntut untuk menyiapkan kondisi pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengikuti pembelajaran dengan cara merasakan dan mengalami secara nyata. Pembelajaran tidak cukup hanya disajikan dalam bentuk cerita dan penjelasan tanpa didukung oleh pengayan pengalaman secara kongkrit (Septianti & Afiani, 2. Anak-anak membutuhkan ruang yang memadai untuk merasakan dan mengalami dengan indera yang dimiliki agar mampu mengkonstruk pengetahuannya sesuai apa yang dirasakan dan dialamai. Contohnya ketika belajar materi bahan-bahan pengantar listrik, selain guru menyediakan literatur yang cukup tentang materi, juga menyediakan bahan dan alat uji agar anak-anak dapat mendapatkan realitas yang Anak-anak pada jenjang MI/SD yang dilatih untuk mengkonstruksi pengetahuan berdasarkan pengalaman nyata dalam pembelajaran yang dikontekstualisasikan dengan kehidupan sehari-hari secara tidak langsung dapat membentuk kebiasaan yang mengkar kuat dalam diri mereka. Usia ada MI membutuhkan pembiasaan yang tepat sebagai fondasi dalam menumbuhkan sikap, kebiasaan, mental dan prilaku. Siswa dalam pendidikan dasar berada dalam fase pembutukan hal mendasar yang menjadi cikal-cakal tumbuh kembangkan kapasitasnya. Dengan demikian, guru hendaknya meberikan intervensi pembelajaran yang tepat agar anak didik dapat berkembang dengan benar sesuai yang diharapkan. Mereka sebagai pembelajar hendaknya mendapatkan akses untuk mengaktivasi potensi dasar yang dimiliki secara sempurna bukan sekedar mendengarkan dan melihat secara pasif tetapi harus aktif bertindak dan mencontoh atau meniru (Sagitarini et al. , 2. Pemahaman yang diperoleh melalui penghayatan dari pengalaman nyata lebih efektif terbangun dalam diri seorang anak dibandingkan hanya sebatas menerima informasi melalui interaksi dengan masyarakat sekitar atau melului proses berfikir berdasarkan informasi yang diperoleh. Konstruksi pengetahuan melalui mengalaman Shulhan | MAHAROT Vol. No. 2, 2023 akan berfungsi untuk mendorong peserta didi terbiasa aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran sebagai ciri utama dari pembelajaran berbasis student centered learning yang dimaksudkan anak sebagai subyek pembelajaran memainkan peran utama dalam menggali ilmu dan keterampilan serta nilai. Pola ini akan membentuk kebiasaan bagi anak yang terbawa hingga dewasa yang memungkinkan selalu aktif dalam mengembangkan diri untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan dinamis, fair, dan menjunjung tinggi nilai keterbukaan dan kejujuran. Tantangan Implematasi Pendekatan Konstruktiviseme Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Guru memiliki tugas untuk mengarahkan peserta didik untuk merumuskan pengetahuannya secara mandiri. Mereka hendaknya aktif menciptakan kondisi dan proses belajar yang lebih menarik dan bermakna, sedangkan guru dapat bertugas membantu dan mengarahkan dalam menyediakan bahan dan sumber pembelajaran yang berisi konsep, prinsip atau teori supaya lebih muda dipahami siswa. Pembelajaran dalam konteks ini memberikan kesempatan sebesar-besarnya untuk mendapatkan pengalaman belajar bahkan jika dibutuhkan pengalaman tersebut diperoleh melalui interaksi dalam kehidupan nyata atas disetting seperti kehidupan nyata dalam kehidupan bermasyarakat (Solichin. Tanggung jawab terbesar bagi guru menghadirkan konteks pembelajaran yang riil kepada peserta didik agar pengalaman tersebut menjadi input referensi dalam menjalani realitas kehidupan. Pendidik dintuntut untuk dapat memberikan layanan pendidikan yang berbasis kapada fakta-fakta sosial dan alam yang disesuaikan dengan materi yang sedang diajarkan. Jika guru sedang mengajarkan anak tentang strukur organ katak, ia hendaknya dapat menyediakan media observasi yang representatif agar anak dapat melihat dan mengamati langsung struktur organ tubuh katak tersebut. Hal ini merupakan tantangan tersendiri bagi seorang guru karena sarana dan prasarana di sekolah belum tentu memadani yang dapat menunjang seluruh kebutuhan Banyak lembaga pendidikan belum dilengkapi media pembelajaran yang Ketika guru menggunakan pembelajaran dengan pendekatan ini dituntut untuk memilki persiapan secara mandiri. Shulhan | MAHAROT Vol. No. 2, 2023 Pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme mempunyai ciri utama, yaitu: peserta didik menyusun pemahamannya sendiri terhadap suatu konsep yang mempelajari materi baru ditentukan oleh pemahaman sebelumnya 3. Interaksi sosial menjadi salah satu pembelajaran 4. Memaknai proses pembelajaran melalui penyelesaian tugas-tugas belajar mandiri. Ciri nomor dua di atas merupakan titik tekan pembahasan dalam sub ini. Dalam pembelajaran dengan penggunaan pendekatan konstruktivistik, setiap peserta didik dituntut telah memilki bekal ilmu. Mereka mengikuti pembelajaran tidak dengan otak yang kosong tetapi mereka telah memiki pemahaman dasar yang dijadika hipotesis kerja. Tugas guru sebagai fasilitator sangat besar yaitu membantu siswa agar dapat menemukan formula terbaik cara membangun pemahaman konsep ilmu baru itu tanpa bias ataupun salah memahami. Guru hendaknya memastikan bahwa peserta didik telah memiliki bekal dasar ilmu tentang konteks materi yang akan diajarkan. Kegiatan pembelajaran bersifat dinamis kerena siswa akan melakukan berbagai upaya untuk menemukan hal-hal baru dengan mendetail. Kesadaran siswa pentingnya memahami ilmu baru itu menjadi salah pendorong utama untuk berusah mengkonstruksi wawasan yang berkembang sesuai apa yang dialami dan ditanggap Selama berlasungnya kegiatan pembelajaran anak akan berupaya untuk mendapatkan pengetahuan berdasarkan pengalaman masing-masing. Kesimpulan dan cara membangun konsepsi masing-masing anak tidak mungkin homogen dan tidak selamanya benar. Guru di sini memainkan peran tersendiri untuk benar-benar menguasai materi dengan baik. Guru sebagai fasilitator harus mampu memimbing dan membantu dan mengantarkan peserta didik menuju konstruksi pola konsep keilmuan yang benar. Peserta didik secara aktif dan dinamis membangun pengetahun secara continuitas yang memungkinkan perubahan pemahaman terhadap konsep ilmu pengetahuan yang utuh dan komprehensip. Dinamika dan suasana yang tidak terduka sangat mungkin terjadi diluar prediksi dan rencana. Anak akan menyusun pemahaman tentang ilmu baru sangat ditentukan oleh pengetahuan sebelumnya sehingga hasil konstruksinya sangat beragam bergantung kepada kualitas masing-masing anak dalam memahami pengetahuan sebelumnya. Selain itu pengalaman, kesan dan juga implikasi peserta didik dengan lingkungan dan suasana belajar saat berlangasung menjadi Shulhan | MAHAROT Vol. No. 2, 2023 penentu yang memengaruhi hasil bangunan pemahaman seseoarang terhadap suatu Guru dituntut untuk benar-benar siaga untuk dapat mengatasi kemungkinan terjadinya hal tidak terduka tersebut. Konstruksi yang keliru dari seorang peserta didik harus diluruskan oleh seorang guru untuk memutus hal persepsi dan misunderstanding. Guru hendaknya meluruskan pemahaman-pemahaman yang kurang tepat yang dibangun oleh anak didik berdasarkan pengalaman yang dicerna dalam pikirannya yang Setiap menggunakan pendekatan konstruktivisme hendaknya mampu menghadirkan kegiatan klarifiasi agar anak tidak terjebak oleh konstruksi yang masih kurang tepat. Pembelajaran konstruktivistik menurut Supriadie dan Darmawan . membutuhkan strategi pembelajaran yang tepat sehingga guru dituntut untuk menguasai berbagai bentuk stretegi dan inovasi pembalajaran. Secara umum strategi tersebut diklasifikasikan menjadi dua kelompok. Pertama ekspositorik. dengan pola menyampaikan langsung kepada peserta didik. Sterategi ini tidak tepat digunakan dalam pembelajran dengan pendekatan konstruktivistik. Kedua adalah strategi Heuristik: starategi yang menekankan agar anak aktif untuk mencari dan menemukan sendiri informasi berupa fakta, prinsip dan konsep yang dibutuhkan. Strategi ini bisa dikemabgkan dalam bentuk: 1. Pure Model. peserta didik dikondisikan untuk mandiri mencari fatka, informasi, konsep dan contoh serta aplikasinya. Guide Model. pembelajar dikondisikan untuk mengembangkan kemampuan untuk mencari pengetahuan sendiri tetapi dengan bimibingan dan pengarahan dari guru. Modified Model. peserta didik diupayakan untuk mencari dan menemukan pengetahuan dengan madiri dan dengan bimbingan guru . Ketiga model strategi ini patuh dipertimbangkan untuk dikembangkan dalam pembelajaran yang dilaksanakan dengan pendekatakan Kunstruktivsitik. Starategi pembelajaran heuristik ini sangat direkomendasikan untuk diimplementasikan karena anak dapat mengembangkan kempampuan kognitifnya dengan cara berinteraksi dengan lingkungan sekitar dan menggali pengalaman dan informasi. Mereka berusaha melakukan pengayaan pengetahuan dengan cara mengamati, meneliti, berdiskusi dan membaca sumber pengetahuan. Anak-anak ketika dituntut untuk mandiri dalam mencari dan menemukan pengetahuan yang dibutuhkan tidak akan pasif tetapi Shulhan | MAHAROT Vol. No. 2, 2023 terkandaing membutuhkan dorongan dan pengondisian yang tepat. Mereka akan berusaha setidaknya dengan cara bertanya atau sharing dengam orang di sekililingnya. Pembelajaran konstruktivistik tidak selamanya cocok digunakan dalam setiap aktivitas pembelajaran. Terdapat pelajaran tertentu dan mungkin juga topik-topik pembelajaran tertentu tidak cocok disampaikan dengan menggunakan pembelajaran Contohnya, pembelajaran yang memuat doktrin sangat tidak cocok dengan pembelajaran konstrutivisme kerena hal-hal yang mengandung memasukkan nilai dokrinasi kepada murid sesuai konsep dan prinsip yang telah baku. Materi ini sebaiknya tidak diajarkan dalam setting kelas yang memungkinkan siswa membangun konsepsi secara mandiri khawatir tidak tepat sesuai dengan yang dimaksudkan dalam doktrin Pembelajaran yang mengandung pendoktrinan seperti yang berkaitan dengan keyakinan agama, menekankan kepada pola brain storming atau bahkan brain washing sehingga apa yang disampaikan guru diyakini sebagai kebenaran mutlak yang dijadikan landasan dalam melakasanakan aktivitas sehari-hari. Konstrukvisme pembelajaran dimaksudkan untuk menghadirkan makna pembelajaran itu sendiri kepada peserta ini dan penggunaannya harus disesuiakan dengan kondisi aktual mereka, meteri yang hendak diajarkan dan tujuan pembelajaran yang ditetapkan (Medriati, 2. Pembelajaran harus disesuaikan agar murid-murid menyadari pengetahuan mereka sebelumnya, mampu bekerja dengan saling kerjasama dalam lingkungan belajar yang positif dan aman, dan membandingkan ide-ide baru dengan pengetahuan sebelumnya. Guru sebagai pendidik juga dapat menghubungkan gagasan baru atau ide dengan apa yang sudah diketahui siswa, membangun pengetahuan baru dan mengaplikasikan pengetahuan baru tersebut dalam situasi yang berbeda dengan saat dipelajari . Memperhatikan Guru harus peka melihat kebutuhan peserta didik pada saat pembelajaran berlangsung dan pada saat mendatang sehingga pembelajaran dilaksanakan Pelaksanaan pembelajaran bukan berdasarkan kebutuhan guru seperti yang lazim terjadi akhir-akhir Guru melaksaakan pembelajaran sesuai keinginan dan kebutuhkannya tanpa memperhatikan kebutuhan pada waktu itu. Akibatnya, dalam dalam mengikuti pembelajaran selolah masuk dalam dunia lain yang asing dan tidak realistis. Shulhan | MAHAROT Vol. No. 2, 2023 Pembelajaran berbentuk aktivitas yang berlangsung secara interaktif antara faktor internal pada diri pembelajar dengan faktor eksternal yang berupa lingkungan sehingga melahirkan perubahan tingkah laku dan sikap. Proses untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan dan nilai dapat terjadi apabila pembelajaran dikondisi secara ideal. Kondisi pembelajar yang ideal yang dimaksud adalah suatu proses belajar mengajar yang sesuai dengan aspek psikologis dan kemampuan peserta didik dan memperhatikan perspektif siswa Sekolah Dasar. Pembelajaran yang hendaknya minds-ons . embelajaran menekankan peningkatkan fungsi ota. dan hands-ons . embelajaran mendorong aspek motorik peserta didik aktif dan dinami. serta terjadi interaksi dan mengakui adanya konsepsi awal yang dimiliki siswa melalui pengalaman sebelumnya . Idealitas pembelejaran terletak pada kesesuaian antara desain pembelajaran beserta muatan materinya dengan kebutuhan aktual peserta didik. Siswa sebagai subjek pembelajaran memiliki hak untuk menentukan apa yang hendak dipelajari berbasarkan apa yang dibutuhkan ketika siswa tersebut telah memiliki kemampuan dasar untuk memutuskan sendiri. Ketika siswa belum mampu memilah dan memilih apa yang harus dipelajari, guru mengambil peran sebagai pengarah dengan menghadirkan konteks pembelajaran yang sesuai dengan realitas sosio masyarakat di sekitar. Mereka akan mampu mengembangkan kemampuan kognitif dan indranya. Kemampuan kognitif dan aktivasi panca indra merupakan hal utama dalam berinteraksai dengan lingkungan. Seoarang anak akan terangsang untuk berifikir dan bertindak apabila menemukan sesuatu yang dianggap butuh. Selama mereka tidak merasa apa yang dihadapi bukan sebuah kebutuhan, tidak akan melakukan upaya-upaya untuk meraihnya. Ketika sesorang merasa membutuhkan materi belajar tertentu misalnya, akan berusaha untuk menggunakan kukuatan pikiran dan gerak indranya agar dapat memahami dan mengkonstruksi konsepsi. Kegiatan menyusun ulang beberapa gagasan dikatakan esensi dari kegiatan pembelajaran konstruktif. Kegiatan tersebut mencakup tahapan-tahapan sebagai berikut, yaitu: 1. Validasi atau tashih dan bertukar ide-ide. Pengertian atau pengetahuan tentang sesuatu konsep yang dimiliki anak didik diperjelas, dipertajam dan dipertentangkan . dengan pandangan atau pendapat siswa lain atau dengan pendapat guru. Menyusun ide-ide baru setelah melakukan diskusi dan tukar Setelah itu, dilanjutkan kegiatan demonstrasi sehingga peserta didik Shulhan | MAHAROT Vol. No. 2, 2023 mengetahui dan menyadari bahwa ternyata banyak cara untuk menafsirkan fenomena dan fakta (Barlia, 2. Aktivitas ini sangat penting dilaksanakan untuk memastikan anak didik mendapatkan pengalaman belajar melalui serangkaian menyusun ide berdasarkan pengalaman yang ditashih oleh guru untuk menghindari penyimpangan. Evaluasi dapat dilakukan dengan melakukan percobaan atau dengan jalan berpikir tentang implikasi-implikasi ide-ide yang telah dikonstruksi. Guru hendaknya mampu menugaskan peserta didik untuk memecahkan masalah . roblem solvin. dengan cara terbaik untuk mengetahui dan menguji kekayaan pikiran secara kretiatif yang bersifat alternatif yang dimiliki. Dalam kegiatan ada, ada kemungkinan anak merasa tidak puas . dengan konsepsi yang ada. Setelah para melakukan tahapan indentifikasi dan analisis masalah, mereka harus mendapatkan kesempatan untuk menggunakan ide-ide atau pemikiran-pemikiran yang dikembangkannya di dalam situasi yang berlainan, baik dalam situasi biasa atau baru (Afandi et al. Tahapan terpenting terakhir dalam pembelajaran konsruktivisme yang harus dilakukan oleh guru yang berperan sebagai fasilitator pembelajaran ialah review. Dalam tahap ini para pembelajaran diminta untuk merefleksikan kembali ide-idenya. Konstruksi ide yang ada dalam diri peserta didik berpotensi untuk berkembang atau bahka berubah. Hal termudah untuk mengetahui dinamisasi ide tersebut, guru membandingkan pemikiran awal dan akhir selama proses pembelajaran. Intinya, review untuk membimbing pembelajar mengetahui bagaimana belajar . earn how to Pembelajaran konstruktivisme dalam dilakukan pada pelajaran mengamati fisiologi henwan dengan cara praktik membendah hewan kecil atau mendatangi laloratorium kedokteran hewan. Peserta didik diberikan kesempatan langsung konteks pembelajaran yang sedang di disajikan. Guru memfasilitasi peserta didik melihat langsung dan mengkonstruksi konsep fisiologi tumbuhan berdasarkan apa yang telah Kemudian guru memberikan kesempatan kepada peserat diidik untuk mengembangkan pemahaman-pemahan konteks dan implikasinya. Setelah itu, guru merekontruksi ide-ide peserta didik, mengevaluasi dan mereviw. Guru melaksanakan tugasnya sebagai pendidik dalam bentuk membimbing, pembelajaran harus didorong oleh ketulusan niat, keluhuran budi dan spritualitas yang Shulhan | MAHAROT Vol. No. 2, 2023 tinggi (S. Shulhan et al. , 2. dan (Alfinnas, 2. Hal itu untuk memastikan kegiatan di atas dilaksanakan secara totalitas di dalam dan di luar kelas karena guru sebagai orang tua kedua bagi anak tidak cukup hanya membangun hubungan profesionalitas saja dengan murid. Mendidik itu profesi yang di dalamnya mengandung spirit pengabdian untuk memanusiakan manusia agar terbangun kesadaran humanistikspritualistik yang berorientasi pada penguatan kompetensi yang memerhatikan kecerdasan majemuk yang bersifat fitrah. Guru selain dituntut untuk memiliki keahlian, ilmu dan empat kompetensi guru, juga wajib memiliki prilaku dan yang mencerminkan kedalaman penghayatan terhadap nilai agama. Pendidik tidak cukup hanya menyampaikan dan menanamkan ilmu pengetahuan, keterampilan kepada peserta didik apalagi di era yang serba terhubung dengan teknologi informasi (A. Shulhan et al. , 2. Keberadaan guru dibutuhkan dalam menanamkan nilai-nilai keagamaan dan keindonesiaan agar semakin tinggi ilmu dan keterampilan seorang murid diimbangi dengan semakin kuatnya pengamalan nilai agama dan falsafah keindonesiaan yang mengahadapi tantangan semakin besar ke SIMPULAN Konstruktivisme dalam pembelajaran adalah sebuah paham dalam psikologi pendidikan yang meyakini pengetahuan anak dapat dibangun berdasarkan konstruksi pikiran . yang diperoleh melalui pengalaman-pengalaman yang telah dirasakan. Syarat utama pembelajaran ini dapat dilakukan dengan baik, peserta didik telah memiliki pengetahuan dasar yang dijadikan basis working hypothesis Dalam hal ini, guru mendapatkan tugas sebagai fasilitator pembelajaran dalam arti yang kompeks. Guru harus mampu memberikan ruang kepada guru untuk mengekslporasi pengetahuan dengan pengalaman-pengalama. Guru harus mampu menghadirkan konteks pembelajaran yang dibutuhkan peserta didik dengan menggunakan strategi pembelajaran yang beragam. Tetapi, model ini tidak cocok untuk semua pelajaran teruma pelajaran yang mengandung doktrin yang menghindari trial and error. Di akhir pembelajaran guru harus merekonstruksi ide peserta didik dan mengevaluasikan serta memberikan review. Shulhan | MAHAROT Vol. No. 2, 2023 DAFTAR PUSTAKA