JURNAL RISET MAHASISWA AKUNTANSI (JRMA) Volume 13. No. Tahun 2025 https://doi. org/10. 21067/jrma. Analisis Komparatif Distribusi Laba Bersih Akuntansi Konvensional dan Syariah pada Sektor Perbankan di BEI Periode 2020-2023 Revsi Adestaa1*. Citra Etikaa2. Sania Nurazizaha3 Universitas Islam Negri Raden Intan Lampung. Indonesia 1revsiadesta@gmail. *Revsi Adesta1 Received: 18 Oktober 2025. Revised: 24 Oktober 2025. Accepted: 30 Oktober 2025 Abstrak Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengkaji perbedaan distribusi laba bersih antara sistem akuntansi konvensional dan syariah pada sektor perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2020-2023. Menggunakan metode kuantitatif studi ini menganalisis data dari bank konvensional dan syariah. Variabel yang dianalisis meliputi laba bersih, dividen, dana cadangan. PPh, bagi hasil, serta rasio keuangan utama seperti CAR (Capital Adequacy Rati. ROA (Return on Asset. , dan BOPO (Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasiona. Hasil penelitian yaitu adanya perbedaan yang signifikan secara statistik dalam distribusi laba bersih. Bank konvensional menunjukkan laba bersih yang lebih tinggi dan tingkat efisiensi yang lebih baik berdasarkan rasio ROA dan BOPO, sedangkan bank syariah menunjukkan distribusi laba yang lebih merata di antara para pemangku kepentingan, meskipun tingkat efisiensinya cenderung lebih rendah. Dengan demikian, distribusi laba bank syariah lebih sejalan dengan prinsip keadilan sosial, sementara bank konvensional lebih fokus pada profitabilitas bagi pemegang saham. Kata kunci - distribusi laba bersih. BEI. akuntansi konvensional. Abstract This research aims to examine the differences in net profit distribution between conventional and sharia accounting systems in the banking sector listed on the Indonesia Stock Exchange during the 2020-2023 period. Using Quantitative methods, this study analyzes data from conventional and sharia banks. The variables analyzed include net profit, dividends, reserve funds, income tax, profit sharing, as well as main financial ratios such as CAR (Capital Adequacy Rati. ROA (Return on Asset. , and BOPO (Operationg Costs to Operationg Incom. The results of the research are thate there are statistically significant differences in the distribution of net profit. Conventional banks show higher net profits and better levels of efficiency based on ROA and BOPO ratios, while Islamic banks show a more even distribution of profits among stakeholders, although their efficiency levels tend to be lower. Thus. Islamic bank profit distribution is more in line with the principles of social justice, while conventional banks focus more on profitability for shareholders. Keywords - Distribution of net profit. BEI. conventional accounting. banking sector How to Cite : Adesta. Etika. , & Nurazizah. Analisis Komparatif Distribusi Laba Bersih Akuntansi Konvensional dan Syariah pada Sektor Perbankan di BEI Periode 2020-2023. Jurnal Riset Mahasiswa Akuntansi, 13. , 209Ae216. https://doi. org/10. 21067/jrma. Copyright A JRMA 2020 e-ISSN. Hal | 209 Jurnal Riset Mahasiswa Akuntansi (JRMA), 13. , 2025 Adesta. Etika. Nurazizah PENDAHULUAN Perubahan paradigma dalam sektor perbankan kini semakin terasa dengan munculnya perbankan syariah sebagai alternatif dari sistem perbankan. Perbankan konvensional, yang mengandalkan bunga sebagai instrumen utama dalam menghasilkan laba, sering kali dipandang tidak adil karena pembagian keuntungan yang lebih menguntungkan pemilik modal dan mengesampingkan kontribusi pihak lain, seperti nasabah dan karyawan. Sistem ini juga mengarah pada ketimpangan sosial dan ekonomi, karena risiko dan imbalan cenderung ditanggung sepenuhnya oleh nasabah. Namun, meskipun perbankan syariah menjunjung tinggi keadilan, masih ada tantangan dalam hal pemahaman masyarakat mengenai perbedaan mendasar antara bunga dalam konvensional dan bagi hasil dalam syariah. Banyak yang beranggapan bahwa keduanya tidak berbeda, yang menghambat pemahaman dan adopsi yang lebih luas terhadap produk dan layanan bank syariah. Dengan demikian diperlukan upaya yang lebih masif dalam memberikan edukasi kepada masyarakat tentang perbedaan prinsip dan manfaat yang ditawarkan oleh sistem perbankan syariah. Untuk mencari solusi dari permasalahan distribusi laba terdapat beberapa konsep, salah satunya adalah value added concept of income yang bernuansa sosial. Konsep ini menganggap bahwa perusahaan memiliki kelompok besar pemegang hak atau pihak yang berkepentingan yang mencakup bukan hanya pemilik dan investor lainnya. Dalam melakukan kegiatan ekonomi, akuntansi syariah lebih memandang manusia memiliki kebebasan secara individu dibandingkan akuntansi konvensional, sekaligus keseimbangan antara unsur material dengan spiritual, akal dengan nurani, ilmu dengan agama, dan dunia dengan akhirat, dengan demikian segala macam ada keseimbangan. Laba akan dipandang sebagai suatu alat prediksi yang bisa membantu dalam peramalan pada masa mendatang. Faktor yang mempengaruhi laba bersih adalah biaya operasional. Apabila suatu perusahaan dapat menekan biaya operasional, maka laba bersih dapat meningkat secara optimal, namun sebaliknya bila terjadi pemborosan biaya operasionalnya maka akan menyebabkan penurunan laba bersih. Faktor lain adalah penjualan yang merupakan kegiatan yang penting bagi perusahaan, suatu perusahaan yang tidak memiliki aktifitas ini dalam suatu periode maka bisa diartikan tidak ada Perbedaan ini bukan saja disebakan oleh konsep pembagian keuntungan, tetapi juga karena perbedaan pedomannya. Dalam kegiatan operasional penentuan harga, pada bank konvensional menggunakan cara berdasarkan bunga atas penggunaan dana dan pinjaman, sedangkan bank syariah yang kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah dan dalam kegiatan operasionalnya penentuan harga menggunakan kerja sama dalam skema bagi hasil dengan tidak memberikan bunga. Adapun yang membedakan dari penelitian terdahulu ditemukan terdapat perbedaan pada rentabilitas ekonomi, kecukupan modal dan modal saham di mana bank konvensional lebih unggul, sedangkan dilihat dari tingkat likuiditasnya bank syariah dinilai yang lebih unggul. Hal itu terletak pada pendistribusian laba kepada nasabah dimana akuntansi konvensional mendistribusikan laba melalui bunga, sedangkan akuntansi syariah meggunakan sistem bagi hasil untuk mendistribusikan labanya kepada nasabah. Selain itu yang membedakan pendistribusian laba pada akuntansi konvensional adalah zakat, oleh karena itu penelitian ini meneliti tentang distribusi laba bersih antara akuntansi konvensional dan akuntansi Syariah pada Perbankan Syariah. METODE Waktu dan Tempat Penelitian Waktu penelitian dimulai sejak 12 april tahun 2025. Penelitian ini dilakukan pada perbankan konvensional dan perbankan syariah yang terdaftar di bursa efek Indonesia dari tahun Jenis dan Sifat Penelitian Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivism, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik Copyright A JRMA 2020 e-ISSN. Hal | 210 Jurnal Riset Mahasiswa Akuntansi (JRMA), 13. , 2025 Adesta. Etika. Nurazizah pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrument penelitian. Pada penelitian ini menguji keterkaitan variabel analisis komparatif pendistribusian laba bersih akuntansi konvensional dan akuntansi syariah di sektor perbankan yang terdaftar di bursa efek Indonesia (BEI). Jenis dan Sumber Data Jenis data dibedakan menjadi dua yaitu data kulitatif dan data kuantitatif. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data kuantitatif. Data kuantitatif adalah data yang dipaparkan dalam bentuk angka-angka. Sumber data disini yaitu mengumpulkan data-data laporan keuangan perbankan konvensional dan perbankan syariah yang terdaftar pada bursa efek Indonesia pada periode 2020-2023 yang diperoleh dari situs w. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah perbankan syariah dan perbankan konvensional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Berdasarkan data dari IDN Finacials. Daftar Emiten Bank di BEI sebanyak 47 Emiten Bank. Sampel dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti pada penelitian ini yaitu: Dokumentasi dimana teknik ini mengumpulkan data sekunder berupa laba bersih perbankan konvensional dan perbankan syariah periode 2020-2023. Sumber data diperoleh melalui situs website bursa efek Indonesia yaitu w. Studi kepustakaan adalah studi yang dilakukan peneliti dengan cara mempelajari buku-buku, atau jurnal yang terkait dengan Dalam penelitian kuantitatif, analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden atau sumber data lain terkumpul. Terknik analisa yang akan dipakai dalam penelitian ini adalah dengan memakai teknik analisa regresi linier berganda dengan bantuan program SPSS untuk memperoleh gambaran yang menyeluruh mengenai pengaruh variabel independen terhadap variabel Uji yang digunakan dalam penelitian ini yaitu statistika deskriftif, uji normalitas dan uji homogenitas, uji hipotesis, mann whiteney u, kruskal walis. PEMBAHASAN Deskripsi Pendistribusian Laba Bersih Bank Konvensionaal Pendistribusian laba bersih dalam perusahaan adalah proses pembagian laba bersih yang diperoleh perusahaan kepada pihak-pihak yang berhak menerimanya sesuai dengan kebijakan dan aturan yang berlaku di perusahaan tersebut, baik dalam bentuk dividen, cadangan, zakat, maupun bagi hasil, tergantung pada jenis entitas dan sistem akuntansi yang digunakan . onvensional atau Berikut deskripsi pendistribusian laba bersih berdasarkan nilai laba bersih, pembagan deviden, cadangan umum dan wajib, pembayaran pajak penghasilan untuk pemerintah, bagi hasil Syariah dan rasio profitabilitas (CAR. BOPO. ROA). Pembahasan Hasil Penelitian Data dan Analisis Perbedaan Pendistribusian Laba Bersih antara Akuntansi Konvensional dan Akuntansi Syariah di Sektor Perbankan Pendistribusian laba bersih juga merupakan bagian krusial dari siklus akuntansi perusahaan karena menjadi indikator kinerja dan dasar pengambilan keputusan ekonomi. Pada perusahaan perbankan, laba bersih tidak hanya mencerminkan kemampuan bank menghasilkan profit, tetapi juga memperlihatkan bagaimana lembaga keuangan tersebut mengalokasikan keuntungan kepada pemangku kepentingan, baik investor, pemegang saham, negara . elalui paja. , maupun nasabah dan pemilik dana. Dalam konteks penelitian ini, bank syariah cenderung mendistribusikan laba secara lebih merata kepada stakeholder melalui mekanisme bagi hasil, pembayaran zakat, dan alokasi dana sosial, sehingga tercermin nilai keadilan sosial yang menjadi prinsip operasionalnya. Sementara itu, bank konvensional lebih fokus pada kepentingan Copyright A JRMA 2020 e-ISSN. Hal | 211 Jurnal Riset Mahasiswa Akuntansi (JRMA), 13. , 2025 Adesta. Etika. Nurazizah pemegang saham melalui pembagian dividen dan reinvestasi laba, yang berdampak pada efisiensi dan profitabilitas yang lebih tinggi namun distribusi yang kurang merata. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat perbedaan signifikan dalam pola pendistribusian laba antara bank konvensional dan bank syariah yang terdaftar di BEI selama periode 2020Ae2023. Bank konvensional, seperti BBNI. BBRI, dan BMRI, secara konsisten menunjukkan laba bersih yang lebih tinggi dibandingkan bank syariah. Hasil uji independent sample t-test menunjukkan nilai 000 . < 0. , menandakan perbedaan yang sangat signifikan secara statistik. Ratarata laba bersih bank konvensional mencapai Rp31. 097 miliar, sedangkan bank syariah hanya sebesar Rp1. 680 miliar. Temuan ini sejalan dengan penelitian oleh Puspita, yang menunjukkan bahwa kinerja keuangan bank konvensional secara umum lebih unggul dalam hal profitabilitas (ROA) dan efisiensi biaya (BOPO). Perbedaan ini berakar dari model bisnis. Bank konvensional menggantungkan pendapatan pada bunga pinjaman . nterest incom. , sedangkan bank syariah memperoleh keuntungan melalui mekanisme bagi hasil, jual beli . , ijarah, dan akad lain yang tergantung pada aktivitas riil dan risiko nasabah. Berdasarkan hasil analisis dari sisi pembagian dividen, bank konvensional menunjukkan konsistensi dan jumlah pembagian yang lebih besar tiap tahunnya. Sementara bank syariah, seperti BSI dan PNBS, sering kali tidak membagikan dividen, atau hanya dalam jumlah terbatas. Pada aspek cadangan dana, meskipun kedua jenis bank membentuk cadangan dari laba, bank syariah lebih fokus pada alokasi untuk bagi hasil. Ini diperkuat oleh peran dewan pengawas syariah yang memastikan penerapan prinsip-prinsip syariah dalam pendistribusian laba. Komponen unik dari bank syariah adalah bagi hasil syariah kepada pemilik dana . , yang mencapai angka sangat besar, khususnya di PNBS pada tahun 2022 dan 2023. Sementara bank konvensional tidak memiliki komponen ini kecuali dalam bentuk unit usaha syariah. Ini menjadi pembeda mendasar antara sistem konvensional dan syariah dalam hal orientasi distribusi laba. Selain itu, struktur pendistribusian laba juga menunjukkan karakteristik khusus. Pada bank konvensional, proporsi dividen terhadap laba sangat besar, sedangkan cadangan dan pembayaran pajak ditentukan oleh kebijakan internal dan regulasi fiskal. Namun, bank syariah menunjukkan komposisi distribusi laba yang lebih besar kepada bagi hasil syariah, misalnya pada PNBS tahun 2023, distribusi bagi hasil mencapai lebih dari Rp650 miliar sementara tidak membagikan dividen sama sekali. Hal ini menegaskan pentingnya keadilan dalam distribusi keuntungan sesuai maqashid syariah, yang salah satunya adalah menjaga harta . ifdzul maa. Hasil ini sebagaimana ditegaskan oleh Antonio bahwa bagi hasil merupakan instrumen utama yang mencerminkan prinsip keadilan dalam ekonomi Islam. Berdasarkan analisis hasil efisiensi, analisis berdasarkan rasio CAR. BOPO, dan ROA menunjukkan bahwa bank syariah seperti BTPS memiliki keunggulan efisiensi (BOPO rendah dan ROA tingg. , sedangkan bank konvensional menunjukkan tren pertumbuhan yang stabil dan Rasio efisiensi juga menjadi indikator yang menunjukkan perbedaan dalam performa dan orientasi bank. ROA bank konvensional stabil di kisaran 2Ae2,7% pada 2023, mencerminkan stabilitas profitabilitas dari aset yang dikelola. Namun. BTPS, salah satu bank syariah, mencatatkan ROA hingga 11,43% di tahun 2022. Meskipun demikian, tidak semua bank syariah PNBS sempat mencatat ROA negatif pada 2021, menunjukkan tingginya risiko pada sistem syariah yang bergantung pada usaha riil nasabah. Hal yang menyatakan bahwa bank syariah unggul dalam efisiensi, sementara bank konvensional lebih unggul dari sisi permodalan. Berdasarkan teori akuntansi konvensional, khususnya melalui Agency Theory (Teori Keagena. , menekankan bahwa manajemen sebagai agen bertindak untuk memaksimalkan kepentingan pemilik modal atau pemegang saham sebagai principal. Bentuk distribusi seperti total laba bersih, dividen, cadangan, dan pajak penghasilan menjadi indikator utama yang sangat diperhatikan karena berkaitan langsung dengan nilai perusahaan dan kepentingan pemegang Hasil uji Kruskal-Wallis yang menunjukkan bahwa, bentuk distribusi laba seperti total laba bersih, dividen, dan pajak penghasilan berpengaruh signifikan terhadap nilai pendistribusian Copyright A JRMA 2020 e-ISSN. Hal | 212 Jurnal Riset Mahasiswa Akuntansi (JRMA), 13. , 2025 Adesta. Etika. Nurazizah laba mendukung teori keagenan ini. Hal tersebut menunjukkan bahwa distribusi laba pada bank konvensional memang didesain untuk memaksimalkan nilai yang diterima pemilik modal, sehingga bentuk distribusi tersebut menjadi sangat dominan dan signifikan secara statistik. Sementara itu, indikator seperti CAR. BOPO, dan ROE lebih dipandang sebagai ukuran efisiensi dan kesehatan bank, bukan sebagai bentuk utama distribusi laba. Pada praktik akuntansi syariah, bentuk distribusi laba tidak hanya berupa dividen, tetapi juga mencakup bagi hasil kepada pemilik dana . , cadangan sosial, dan pembayaran Indikator utama seperti total laba bersih, bagi hasil, cadangan sosial, dan pajak penghasilan menjadi bentuk distribusi yang signifikan, sesuai dengan prinsip keadilan dan kesejahteraan Bersama. Temuan penelitian menujukan bahwa, bentuk distribusi seperti total laba bersih dan bagi hasil memiliki nilai pendistribusian yang signifikan sangat mendukung teori stakeholder. Hal ini menegaskan bahwa, dalam sistem syariah, distribusi laba memang diarahkan untuk memenuhi hak-hak seluruh stakeholder, bukan hanya pemegang saham. Indikator seperti CAR. BOPO, dan ROE tetap penting sebagai indikator efisiensi dan kesehatan bank, namun bukan bentuk utama distribusi laba dalam perspektif syariah. Komponen utama distribusi laba bersih pada bank konvensional digunakan dalam pembayaran dividen dan pajak sedangkan bank Syariah diperuntukkan untuk bagi hasil dan cadangan sosial. Analisis rasio keuangan menunjukkan bahwa, bank syariah memiliki potensi profitabilitas tinggi namun fluktuatif, sedangkan bank konvensional cenderung stabil dan efisien dalam pendistribusian laba bersihnya. Perbedaan Pendistribusian Laba Bersih antara Akuntansi Konvensional dan Akuntansi Syariah di Sektor Perbankan Pada penelitian ini, beberapa faktor utama yang memengaruhi perbedaan distribusi laba antara bank konvensional dan syariah dapat dijabarkan sebagai berikut Pertama, model bisnis menjadi faktor utama. Bank konvensional menggunakan sistem bunga yang menjamin pendapatan tetap, sehingga memiliki kestabilan dalam laba yang memungkinkan distribusi dividen secara konsisten. Sebaliknya, bank syariah mengandalkan akad bagi hasil, yang menjadikan pendapatan lebih fluktuatif sesuai kondisi bisnis mitra . Bank konvensional memperoleh penghasilan utama dari bunga kredit yang cenderung stabil dan dapat diprediksi. Sebaliknya, bank syariah sangat bergantung pada performa usaha nasabah melalui akad mudharabah dan musyarakah. Sistem ini membawa potensi pendapatan yang tinggi, namun juga mengandung risiko fluktuasi yang besar. Hal ini berdampak langsung pada kemampuan bank syariah dalam mendistribusikan laba secara konsisten. Bank konvensional berorientasi pada profit dan kepentingan investor . hareholder-centri. , sehingga dividen menjadi instrumen utama dalam mendistribusikan keuntungan. Dalam bank syariah, sistem distribusi diarahkan pada keseimbangan antara keuntungan perusahaan dan kesejahteraan nasabah sebagai mitra usaha. Prinsip ini sejalan dengan Islamic Corporate Governance yang menempatkan maqashid syariah sebagai basis etika manajemen laba. Berdasarkan penelitian ini, menunjukkan faktor kedua bahwa efisiensi operasional menjadi penentu besarnya laba bersih yang dapat didistribusikan. BOPO yang lebih rendah mencerminkan efisiensi yang baik. BTPS sebagai bank syariah mencatat BOPO terendah dan ROA tertinggi . ,43% pada 2. , yang berarti tingkat efisiensi dan profitabilitasnya sangat tinggi. Namun tidak semua bank syariah efisien. PNBS misalnya memiliki BOPO hingga 202% yang menunjukkan inefisiensi tinggi. BOPO merupakan indikator penting dalam menentukan efektivitas operasional bank. Nilai BOPO yang rendah pada BTPS menunjukkan efisiensi luar biasa, memungkinkan margin distribusi laba lebih besar. Sebaliknya, nilai BOPO yang sangat tinggi pada PNBS . ingga 202% pada 2. menyebabkan kerugian dan terbatasnya kapasitas distribusi laba. Ini mencerminkan bahwa efisiensi sangat memengaruhi daya saing dan kemampuan bank dalam menyalurkan keuntungan Faktor berkutnya adalah struktur permodalan yang tercermin dalam CAR (Capital Adequacy Rati. menunjukkan kemampuan bank menanggung risiko. BTPS memiliki CAR yang Copyright A JRMA 2020 e-ISSN. Hal | 213 Jurnal Riset Mahasiswa Akuntansi (JRMA), 13. , 2025 Adesta. Etika. Nurazizah sangat tinggi (>50%), menandakan struktur permodalan sangat kuat, memungkinkan distribusi laba lebih fleksibel dan sehat. Kebijakan manajemen juga berperan besar. Keputusan untuk membagikan dividen atau menyimpan laba sebagai cadangan sangat dipengaruhi oleh kebijakan strategis manajemen, baik untuk menjaga kestabilan modal (CAR) maupun ekspansi bisnis. CAR mencerminkan kekuatan modal bank. Bank syariah, terutama BTPS, menunjukkan CAR tinggi (>50%), memberi ruang bagi bank untuk mengambil risiko dan tetap mampu mengalokasikan laba secara sehat. Sebaliknya. CAR yang lebih rendah, meski masih sesuai ketentuan BI, bisa membatasi fleksibilitas distribusi laba, terutama dalam menghadapi risiko sistemik. Model bisnis bank syariah yang berbasis akad bagi hasil menyebabkan pendapatan bank sangat bergantung pada performa usaha nasabah. Hal ini menyebabkan laba bersih bank syariah cenderung fluktuatif, sehingga pola distribusi laba menjadi lebih dinamis dan adaptif terhadap kondisi riil ekonomi. Bank syariah yang efisien (BOPO rendah. ROA tingg. , seperti BTPS, mampu mendistribusikan laba lebih optimal kepada stakeholder, terutama melalui bagi hasil. Namun, jika efisiensi rendah (BOPO tingg. , seperti pada PNBS, maka kemampuan distribusi laba menjadi Struktur permodalan (CAR) juga berperan, namun dalam konteks syariah, kekuatan modal tidak hanya untuk ekspansi bisnis, tetapi juga untuk memastikan keberlanjutan distribusi bagi hasil dan dana sosial. Pada bank konvensional, distribusi laba sangat dipengaruhi oleh stabilitas pendapatan, efisiensi, dan kekuatan modal, dengan tujuan utama memaksimalkan kepentingan pemegang saham. Sebaliknya, pada bank syariah, distribusi laba bersih tidak hanya mempertimbangkan efisiensi dan kekuatan modal, tetapi juga harus memenuhi prinsip keadilan, kesejahteraan kolektif, dan kepatuhan syariah, sehingga distribusi laba lebih inklusif dan berlapis. Distribusi laba dalam bank syariah dirancang untuk mencerminkan asas keadilan ini, tidak hanya pada pemilik saham tetapi juga pada stakeholder lainnya seperti nasabah, masyarakat, dan negara melalui mekanisme zakat dan pajak. Pendistribusin Laba Bersih dalam Akuntansi Konvensional dan Syariah Berdasarkan hasil uji statistik yang Anda sampaikan, terdapat perbedaan yang signifikan dalam pendistribusian laba bersih antara bank konvensional dan bank syariah, terutama pada indikator Total Laba Bersih dan Dividen. Hal ini mencerminkan perbedaan mendasar dalam filosofi dan mekanisme pendistribusian laba kedua sistem akuntansi tersebut. Bank konvensional lebih menitikberatkan pembagian laba kepada pemegang saham melalui dividen sebagai imbal hasil investasi, sementara bank syariah menerapkan mekanisme bagi hasil yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Prinsip keadilan dan keseimbangan dalam Islam sangat menekankan bahwa pembagian keuntungan harus dilakukan secara adil kepada semua pihak yang berhak. Sementara itu, pada indikator cadangan dan bagi hasil syariah, hasil uji menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan antara kedua jenis bank. Hal ini mengindikasikan bahwa kebijakan pembentukan cadangan dan mekanisme bagi hasil relatif serupa, meskipun bagi hasil lebih khas diterapkan oleh bank syariah. Dalam akuntansi syariah, laba setelah dikurangi pajak dan zakat menjadi dasar pembagian laba, dan cadangan berperan penting dalam menjaga stabilitas serta keberlanjutan bank. KESIMPULAN Berdasarkan kesimpulan dari pembahasan hasil analisis data dan deskripsi hasil analisis komparatif pendistribusian laba bersih dalam akuntansi konvensional dan akuntansi syariah di sektor perbankan yang terdaftar di BEI periode 2020-2023 sebagai berikut Pertama, terdapat perbedaan yang signifikan dalam mekanisme pendistribusian laba bersih antara kedua sistem akuntansi tersebut. Bank yang menggunakan akuntansi konvensional cenderung mendistribusikan laba kepada pemangku kepentingan melalui bunga sebagai imbal hasil investasi, sedangkan bank syariah menerapkan sistem bagi hasil yang sesuai dengan prinsip syariah. Selain itu, bank syariah juga mengalokasikan sebagian laba untuk zakat sebagai kewajiban sosial, yang tidak dilakukan oleh bank konvensional. Hal ini Copyright A JRMA 2020 e-ISSN. Hal | 214 Jurnal Riset Mahasiswa Akuntansi (JRMA), 13. , 2025 Adesta. Etika. Nurazizah menunjukkan bahwa perbedaan utama terletak pada cara pembagian laba kepada nasabah serta aspek sosial yang menjadi bagian integral dalam akuntansi syariah. Kedua, faktor-faktor yang mempengaruhi pendistribusian laba bersih meliputi nilai laba bersih itu sendiri, dividen, cadangan, pajak penghasilan (PPH), bagi hasil, serta indikator kinerja keuangan seperti CAR. BOPO, dan ROA. Analisis statistik menunjukkan bahwa beberapa faktor seperti laba bersih, dividen, dan pajak penghasilan memiliki pengaruh signifikan terhadap pendistribusian laba antara kedua sistem akuntansi, sementara faktor lain seperti cadangan dan kinerja keuangan menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan. Ini mencerminkan bahwa aspek distribusi laba yang berkaitan langsung dengan pembagian keuntungan dan kewajiban fiskal menjadi pembeda utama antara akuntansi konvensional dan Syariah. Daftar Pustaka