Equilibrium : Jurnal Pendidikan Vol. Issu 3. September- Des 2022 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 Prodi Pendidikan Sosiologi Equilibrium : Jurnal Pendidikan Vol. Issu 3. September-Desember 2022 Sosiologi http://journal. id/index. php/equilibrium Kontestasi Sektoral Gerakan Literasi di Kota Makassar Sopian Tamrin Sosiologi. Universitas Negeri Makassar Email : sopiantamrin@unm. Abstract. Makassar as a big city which is often labeled as a granary for student demonstrations, is now starting to shift with the emergence of various discussion forums. The emergence of this discussion group brings fresh air in encouraging literacy in Makassar. This shows that there is a new contestation that has emerged in the turbulence of discourse and practice in the intellectual climate in the city of Makassar. This study aims to explain how the sectoral literacy contestation in the city of Makassar. The researcher used a descriptive-explanative The locus of this research is divided into two sectors, namely. Makassar in the north and Makassar in the south. Data was collected through direct observation and interview techniques and using digital instruments. This is of course to get data about the conditions that occur in the Makassar literacy upheaval. Furthermore, indepth interviews were conducted with Makassar literacy activists as well as documentation of literacy practices. The results of this study indicate that the contestation of literacy activists in the city of Makassar is divided into two sectoral segmentations. First: the North Sector covers the lower part of Makassar which is marked by the presence of Unhas. STIMIK, and Polytechnic campuses. Second: the Southern Sector covers the upstream Makassar area which is marked by the stretching of the UIN. UNM and Unismuh campuses. Both sectors have certain seniors who in the end give a style to the segmentation of discourse in their respective communities. Keywords: Contestation. Sectoral. Literacy Community. Abstrak. Makassar sebagai kota besar yang seringkali distigma lumbung demonstrasi mahasiswa, kini mulai bergeser dengan munculnya berbagai forum diskusi. Kemunculan kelompok diskusi tersebut membawa angin segar dalam mendorong geliat literasi di Makassar. Perihal ini menunjukkan adanya kontestasi baru yang muncul dalam pergolakan wacana dan praktik pada iklim intelektual di kota Makassar. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana kontestasi Sektoral literasi di kota Makassar. Peneliti menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-eksplanatif. Lokus penelitian ini dibagi menjadi dua sektor yakni. Makassar bagian utara dan Makassar bagian selatan. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik observasi dan wawancara langsung dan memanfaatkan instrumen digital. Hal tersebut tentu untuk memperoleh data tentang kondisi yang terjadi dalam pergolakan literasi Makassar. Selanjutnya wawancara mendalam dilakukan pada pegiat literasi Makassar serta dokumentasi praktik literasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kontestasi para pegiat literasi di kota Makassar terbagi menjadi dua segmentasi Sektoral. Pertama: Sektor Utara meliputi daerah makassar bagian bawah ditandai dengan keberadaan kampus Unhas. STIMIK, dan Politeknik. Kedua: Sektor Selatan meliputi daerah Makassar bagian atas ditandai dengan geliat Kampus UIN. UNM dan Unismuh. Kedua sektor tersebut memiliki senior tertentu yang pada akhirnya memberikan corak pada segmentasi wacana pada komunitas masing-masing. Kata Kunci: Kontestasi. Sektoral. Komunitas Literasi. Equilibrium : Jurnal Pendidikan Vol. Issu 3. September- Des 2022 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 PENDAHULUAN Makassar sebagai kota besar yang seringkali distigma lumbung demonstrasi mahasiswa, kini mulai bergeser dengan munculnya berbagai forum diskusi. Forum-forum tersebut dilihat sebagai salah-satu tanda mencuatnya literasi atau kemampuan menulis dan membaca (KBBI Online, 2. ke Geliat literasi ialah satu gerak yang mesti direspon oleh semua pihak dalam mendorong tumbuhnya iklim intelektualitas (Kern, 2000. Kuder, 2. Maraknya diskursus perihal literasi menjadi trend dimana-mana tanpa terkecuali di kota Makassar. Perkembangan literasi yang cukup positif ini menjadi angin segar dalam pertumbuhan inteletualitas di Makassar. Berdasarkan pengamatan dan pengalaman peneliti, maraknya kegiatan literasi di Makassar bisa dijumpai dengan berbagai gelaran diskusi. Kegiatan diskusi yang dimaksud tidak hanya berlangsung di dalam kampus. Namun, kegiatan tersebut tersebar di beberapa titik seperti sekretariat komunitas dan Namun komunitas yang dicermati peneliti adalah mereka yang cukup lama beraktivitas di Makassar dan melahirkan pegiat atau kader. Pergulatan para aktor dalam membangun atmosfer literasi mendorong lahirnya komunitas di beberapa tempat. Keberadaan mereka membentuk jaringan tertentu khususnya senioritas yang sering diudang sebagai pemateri. Jaringan tersebut menjadi sala satu diantara modal sosial yang dimiliki kelompok selain norma-norma dan kepercayaan (Putnam et al. , 1. Wacana literasi menjadi tema yang paling aktif diperbincangkan beberapa tahun terakhir di kota Makassar. Geliat ini dipacu oleh banyaknya riset menunjukkan kondisi literasi Indonesia yang cukup rendah bahkan terbilang miris (Tarigan, 2. Publikasi Republika menunjukkan fakta perihal siswa Indonesia hanya menempati urutan 57 dari 65 negara yang disurvey. Hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) menyebut, budaya literasi masyarakat Indonesia pada tahun 2012 terburuk kedua dari 65 negara yang diteliti di dunia. Indonesia menempati urutan ke 64 dari 65 negara tersebut. Sementara negara Vietnam justru menempati urutan ke-20 besar (Rostanti, 2. Sedangkan survei yang dilakukan Central Connecticut State University di New Britain yang bekerja sama dengan sejumlah peneliti sosial menempatkan Indonesia di peringkat 60 dari 61 negara terkait minat baca. Survei dilakukan sejak 2003 hingga 2014. Indonesia hanya unggul dari Bostwana yang puas di posisi 61. Sedangkan Thailand berada satu tingkat di atas Indonesia, di posisi 59 (Ferdianto, 2. Rilis hasil survey UNESCO pada tahun 2012 menempatkan minat baca di Indonesia hanya pada angka 0,001. Ini tentu kondisi yang memperihatinkan. Mengapa? karena itu berarti dalam setiap 1000 orang anak Indonesia hanya terdapat satu anak yang memiliki minat baca (Rostanti, 2. Hasil riset ini memberikan motivasi tersendiri bagi pegiat literasi khususnya di Makassar bergeliat dalam mendorong aktivitas literasi dimana-dimana. Namun, informasi awal dari beberapa penggiat literasi bahwa maraknya fenomena tersebut belum tentu spirit literasi tapi memungkinkan sebagai suatu Aktivitas literasi di Makassar tergolong unik dengan munculnya berbagai komunitas di luar kampus yang secara intens menggelar forum diskusi hingga kelas berkelanjutan dengan berbagai Melalui pengamatan dan pengalaman peneliti beberapa diantara mereka bahkan memiliki struktur kurikulum tertentu. Hal tersebut banyak digunakan dalam kegiatan terstruktur seperti perekrutan maupun kepentingan kerangka berpikir yang dibangung oleh komunitas masing-masing. Meskipun Fenomena seputar literasi mendapatkan sorotan berbagai pihak utama kelompok intelektual di dalam maupun di luar kampus (Widyaningrum, 2. Hanya saja problem ini belum didalami lebih jauh sebagai satu fenomena yang penting untuk diteliti. Sesuai dengan konteks yang sedang berkembang tersebut maka dipandang perlu melakukan riset dalam menjelaskan bagaimana geliat literasi yang sedang berlangsung di kota makassar. Selain itu, riset ini menyediakan referensi yang deskriptif perihal bagaimana kontestasi literasi dengan berbagai karaktristiknya yang ada di Makassar. Equilibrium : Jurnal Pendidikan Vol. Issu 3. September- Des 2022 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-eksplanasi. Posisi peneliti sangat penting apalagi terlibat dalam pergulatan literasi di Makassar. Informan penelitian terdiri dari tokoh literasi, para pegiat literasi yang ada dalam kampus maupun yang berbasis komunitas di luar kampus baik di sektor Selatan maupun yang ada di sektor Utara. Metode ini dipilih sebagai upaya menemukan penjelasan yang utuh mengenai kontestasi gerakan literasi di Makassar dengan kondisi yang cukup bervariasi setiap sektor. Dengan metode eksplanasi maka informan diberikan kebebasan dalam mengeksplorasi secara detail perihal kontestasi yang terjadi pada kedua sektor. Peneliti menganalisis data dengan menggunakan alur Miles & Huberman . yakni reduksi, penyajian dan diakhiri dengan penarikan simpulan. Sedangkan uji keabsahan data dilakukan dengan konfirmasi dan perbandingan jawaban melalui teknik triangulasi sumber khususnya perihal klaim dominasi kampus dalam geliat literasi pada sektor selatan maupun utara. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Kontestasi Sektoral Pegiat Literasi Makassar Kontestasi atau persaingan (Fatimah, 2. para pegiat literasi Makassar secara alami membentuk dua sektor yakni sektor yang berada pada Makassar Utara . dan sektor bagian Makassar Selatan . Kedua sektor ini terpola dengan konteks ruangnya masing-masing. Geliat antar sektor utara dengan selatan diwarnai dengan keberadaan kampus yang ada pada kedua teritorial tersebut. Corak yang berkembang pada kedua teritorial tersebut kemudian peneliti menyebutnya sebagai pergulatan sektoral. Adapun pergulatan yang dimaksud peneliti menyebutnya sebagai sektor utara dan sektor selatan. Penggunaan istilah ini juga biasa dibahasan oleh para pegiat untuk mengidentifikasi keberadaan mereka jika dimaksudkan dalam konteks ruang. Sektor Utara Sektor utara atau dengan istilah pada umumnya Makassar bagian bawah adalah satu teritori pergerakan literasi yang berkembang di Makassar. Keberadaan kampus besar Universitas Hasanuddin (Unha. memberikan dampak besar pada diskursus yang berkembang pada sektor ini. Tidak jarang wacana yang dijadikan tema literasi adalah penetrasi geliat intelektual yang ada di kampus merah Geliat inteletual dalam kampus mengalami perluasan diskursus dan itulah yang kemudian ditangkap sebagai satu tema menarik untuk mereka diskusikan. Kecenderungan dan orientasi pengembangan diskursus tersebut juga sedikit berdampak pada tokoh yang tampil pada sektor ini. Tidak sedikit kegiatan yang digelar pada sektor ini menampilkan tokoh yang tak lain adalah akademisi dan pegiat yang besar dari kampus yang ada di wilayah tersebut. AuDi Makassar Utara, gerakan literasi cenderung didominasi oleh intelektual UNHAS serta beberapa yang berasal dari STIMIK Dipanegara serta Poleteknik Ujung Pandang. Pada sektor utara lebih banyak bergeliat wacana sosial-humaniora. Kita bisa melacak geliat ini melalui pegiat seperti. Alwy Rahman. Aan Mansur. Aslan Abidin. Faisal Oddang. Ibe S. Palogai. Sinta Pebriani dan Alfian DipahattangAy . asil wawancara Muhajir 05 juli 2. Tokoh-tokoh diatas menjadi patron perkembangan literasi di sektor tersebut. Dari keberadaan mereka maka lahirlah beberapa forum literasi seperti Lingkar Sastra Tamalanrea. KFJ. Kata Kerja dll. Melalui merekalah geliat forum ini mereproduksi diskursus sekaligus karya literasi yang konkret. Karya konkret seperti ini oleh Karnanta . lebih dekat dan identik dengan sastra. Karya yang mereka lahirkan kemudian juga sedikit banyak menjadi bahan diskusi. Sehingga penguatan pada diskursus tertentu tetap berlangsung. Lahirnya sebuah karya tidak hanya menunjukkan produktivitas komunitas atau sektor, melainkan menentukan kecenderungan wacana yang direproduksi. Tokoh Ae tokoh yang melahirkan karya itu memiliki popularitas tersendiri sehingga tidak jarang diidentikkan pada sector tersebut. Misalnya, sector utara identik dengan Alwy Rahman,Aan Mansur. Faisal Oddang dll. Meskipun tokoh Ae tokoh tersebut tidak hanya popular di Equilibrium : Jurnal Pendidikan Vol. Issu 3. September- Des 2022 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 sector tersebut, namun sudah menjadi penanda dan identifikasi sektoral bagi aktivitas diskursif di daerah UNHAS dan sekitarnya. Sehingga, jika ada generasi muda kemudian muncul pada sektor itu seringkali dihubungkan dengan keberadaan tokoh-tokoh tersebut. Dari keterangan beberapa informan bahwa keberadaan mereka tidak sekadar tokoh tapi corong ideologis yang banyak menginspirasi gerakan literasi. Memang identifikasi sektoral ini tidak sepenuhnya dimaksudkan bahwa tokoh yang hadir pada sektor tersebut hanya memiliki pengaruh pada wilayah tersebut. Melainkan keberadaan merekalah yang banyak memberikan corak bagi geliat diskursif yang tumbuh di sekitaran mereka. Klaim keaktoran sektoral tidak terlepas pada keterlekatan yang dimiliki aktor pada genealogi akademik, intensitas gerakan dalam ruang sosialnya, diskursus yang dibangun dan generasi yang mereferensikan cara berpikirnya. Jika hal demikian diidentifikasi secara menyeluruh memang menunjukkan ada sebaran diskursus pada sektor tertentu. Misalnya Aan Mansur sangat diidentikkan sebagai tokoh gerakan literasi Makassar utara. Meskipun kenyataannya ia tetap dikenal pada Makassar bagian selatan, namun keterlekatan tadi mencadi satu kesatuan pengklasifikasiannya. Klasifikasi wacana, tokoh yang meliputinya serta generasi yang menghidupkannya adalah satu kesatuan lingkungan sosial yang bercorak. Kondisi ini sangat menarik karena bisa secara aktif mereproduksi pengetahuan sebagai penanda berkembangnya dunia literasi. Perbedaan yang dilahirkan dari situasi tersebut tentu tidak dimaksudkan untuk mereduksi kekayaan dan eksplorasi yang mereka kembangkan. Namun mencoba menunjukkan karaktristik yang sedang mereka hidupkan. Melihat kondisi lapangan dan informasi dan informan maka menguatkan apa yang dimaksud Bourdieu . pada konsepnya tentang Distinction. Bahwa sistem ekspresi pada semua praktik kultural dan pertukaran simbolis menentukan selera komunitas dalam memilih seni, memilih sastra bahkan musik. Sebagaimana yang dinyatakan Bourdieu bahwa Au selera mengkalisifikasikan objek yang hendak dipilih, dan ia juga mengklasifikasikan pengklasifikasiannya. Subjek Ae subjek sosial, yang dklasifikasikan oleh klasifikasi-klasifikasi mereka sendiri, membedakan diri berdasarkan pemilahan yang mereka buat sendiri. Ay Selera yang dimaksudkan di atas termasuk wacana dan segmentasi pengetahuan yang mereka bangun pada arenanya. Reproduksi wacana tersebut dimungkinkan karena adanya modal kultural seperti gelar akademik oleh aktor yang berperan besar dalam arena tersebut. Dalam kacamata Bourdieu bahwa antara aktor dan struktur ruang sosial yang bersifat eksternal saling berkelindan dan membentuk satu formulasi sosial tertentu. Formulasi sosial yang terbentuk tidak hanya mengafirmasi kemampuan pegiat literasi sebagai aktor kreatif, melainkan memberikan ruang pada aktor untuk terberdayakan oleh ruang yang mereka ciptakan kemudian. Hal ini akan mengamplifikasi aktor sebagai petindak . he acting sel. (Giddens. Petindak disini bisa dipadankan dengan para pegiat yang mendorong tumbuhnya geliat literasi pada sektor masing-masing. Pada akhirnya pegiat-pegiat tersebut juga menjadi semakin kuat karena kondisi kultural yang Artinya melalui praktik yang senantiasa diulang terus menerus membentuk formulasi aktivitas kultural yang memberdayakan dirinya kemudian sebagai aktor. Sehingga tidak jarang referensi keaktoran mereka baik dari sisi identitas sektoral maupun kultural dirujuk dalam produksi wacana pengetahuan. Sektor Selatan Ketika sektor Utara akrab dengan penyebutan Makassar Bawah sebaliknya Makassar Selatan seringkali disematkan para pegiat sebagai Makassar bagian atas. Seperti sebelumnya ini bukan sekedar penyebutan teritorial yang tanpa makna. Kedua sektor ternyata diwarnai dengan pergumulan yang berbeda. Jika di sektor Utara diwarnai dengan Universitas Hasanuddin dan beberapa kampus Maka di sektor selatan juga diwarnai beberapa universitas besar yakni. Universitas Negeri Makassar (UNM). Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin . ekarang UIN Samat. dan Universitas Muhammadiyah (Unismu. Makassar. Hal ini kuatkan oleh penjelasan informan yang bernama Muh. Ridha pada tanggal 05 juli 2019. Equilibrium : Jurnal Pendidikan Vol. Issu 3. September- Des 2022 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 AuSementara di sektor selatan, lebih cenderung mengeksplorasi genre filsafat dan ilmu sosial. Sebut saja. LKIMB. Cara Baca. HMI cabang Makassar. LDSI Almuntazhar, dan Pojok Bunker. Adapun komunitas yang menghimpun seluruh genre adalah Paradigma InstituteAy . asil wawancara Muh. Ridha 05 juli 2. Dalam berkontestasi di arena sosial, para agen bertarung demi legitimasi atau kuasa simbolik (Ritzer, 2015. Bourdieu, 1. Bourdieu menganggap realitas sosial sebagai tipologi ruang, dengan berbagai macam arena di dalamnya. politik, seni, hiburan, akademik, agama, filsafat (Harker et al. , 2. Habitus mendasari ranah yang merupakan jaringan relasi antar posisi-posisi objektif dalam suatu tatanan sosial yang hadir terpisah dari kesadaran individual. Ranah bukan ikatan intersubjektif antara individu melainkan semacam hubungan yang terstruktur dan tanpa disadari mengatur posisi-posisi individu dan kelompok dalam tatanan masyarakat secara spontan (Bourdieu. Ranah mengisi ruang sosial (Coleman, 1. Istilah ruang sosial mengacu pada keseluruhan konsepsi tentang dunia sosial. Konsep ini menganalogikan realitas sosial sebagai sebuah ruang dan pemahamannya menggunakan pendekatan tipologi. Ruang sosial dapat dikonsepsi terdiri dari beragam ranah yang memiliki sejumlah hubungan satu sama lain, serta sejumlah titik kontak. Ruang sosial individu dikaitkan melalui waktu . rajektori kehidupa. dengan serangkaian ranah orang-orang yang berebut berbagai bentuk modal. Dalam ruang sosial ini, individu dengan habitusnya berhubungan dengan individu lain, dan berbagai realitas sosial yang menghasilkan tindakan-tindakan sesuai dengan ranah dan modal yang dimilikinya (Sulistyo, 2. Praktik merupakan suatu produk dari relasi antara habitus sebagai produk sejarah dan ranah yang juga merupakan produk sejarah (Maton, 2. Pada saat bersamaan, habitus dan ranah juga merupakan produk dari medan daya-daya yang ada di masyarakat. Mereka yang memiliki modal dan habitus yang sama dengan kebanyakan individu akan lebih mampu melakukan tindakan mempertahankan atau mengubah struktur dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki modal. Secara ringkas. Bourdieu menyatakan rumus generatif yang menerangkan praktik sosial dengan persamaan: . abitus x moda. ranah: praktik (Bourdieu, 2. Rumus ini mengganti setiap relasi sederhana antara individu dan struktur dengan relasi antara habitus dan ranah yang melibatkan modal (Bourdieu, 1. Pierre Bourdieu . mendefinisikan habitus sebagai pengkondisian yang dikaitkan dengan syarat-syarat keberadaan suatu kelas. Menurutnya sistem disposisi tahan waktu dan dapat diwariskan, struktur-struktur yang dibentuk, yang kemudian akan berfungsi juga sebagai strukturstruktur yang membentuk adalah merupakan hasil dari suatu habitus. Jika melihat hasil penelitian maka model yang berkembang di Makassar sedikit banyak menguatkan teori habitus Bourdieu. Dimana arena yang memproduksi habituasi lietrasi pada akhirnya habitus tersebut mereproduksi karaktristik pada kontestasi yang adalah pada gerakan literasi di masing-masing sektor. Pembahasan Sektor Selatan maupun sektor Utara merupakan ranah bagi pegiat literasi dalam proses kontestasi yang berlangsung. Oleh karena itu keseluruhan kompleksitas sektor mereproduksi habitus literasi dengan coraknya masing-masing. Kalau sektor Utara tampil dengan kecenderungan diskursus sosial-humaniora maka pada sektor Selatan lebih banyak geliat pada tema sosial dan filsafat. Hal ini bisa dilihat dari aktivitas literasi yang hidup pada sekitaran teritori masing- masing. Melalui riset ini kita bisa memahami bahwa kontestasi sektoral tidak hanya bicara ruang. Melainkan membentuk corak pemikiran yang khas bagi setiap pegiatnya masing-masing. Kondisi ruang dengan berbagai keragaman praktik dan perbedaan modal sosial, modal kultural, arena telah mereproduksi wacana yang beragam. Bahkan kondisi semacam ini menjadi penguatan identitas bagi masing-masing pegiat literasi. Identitas tersebut kemudian mengklasifikasi ikhwal simbolik dari keseluruhan penanda yang melekat pada mereka. Keberagaman wacana dan identifikasi sektoral ini sudah semestinya. Kondisi semacam ini ternyata juga berlaku pada pegiat karya seni dan seniman di kota Makassar. Sebagaimana hasil riset Equilibrium : Jurnal Pendidikan Vol. Issu 3. September- Des 2022 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 Faisal . menemukan bahwa tidak mungkin bisa menyatukan berbagai macam gendre dan sikap perupa di kota Makassar. Hal tersebut dikarena setiap diantara mereka lahir dari pengalaman artistik yang berbeda. Temuan tersebut menunjukkan bahwa kondisi ruang dan situasi diskursif memberikan warna pada aktivitas literasi yang bergejolak pada setiap sektor. Kehadiran komunitas literasi ini memberikan isyarat bahwa kampus tidak tunggal memainkan peran intelektual di masyarakat. Komunitas literasi mengambil peran yang sama dengan lembaga pendidikan formal khususnya dalam meningkatkan minat baca dan budaya diskusi. Namun, tulisan ini tidak dalam posisi memperhadap-hadapkan keduanya tetapi melihat kelindannya satu-sama lain. Keterlekatan satu-sama lain itulah yang mencirikan bahwa aktivitas sosial selalu berlangsung dalam Perkembangan kemudian gerakan literasi terus bergerak ke arah selatan. Perkembangan tersebut dipantik dengan pergeseran beberapa perguruan tinggi ke daerah tersebut seperti kampus UIN Samata. Ini tentu bukan satu-satunya sebab melainkan perpindahan tersebut cukup membentuk kawasan baru yang aktif mereproduksi wacana tertentu. Wacana sektor ini banyak memainkan wacana filsafat,bahkan jika dispesifikkan filsafat islam. Hal tersebut juga memiliki pola yang mirip dengan apa yang terjadi dengan sector utara sebelumnya. Bahwa keberadaan tokoh pegiat filsafat di kawasan ini baik yang ada dalam kampus maupun di luar menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Hanya saja pada riset ini tidak menyasar kawasan tersebut lebih mendalam. Justru menjadi bahan amatan baru yang menarik untuk ditelusuri lebih mendetail melalui aktivitas riset selanjutnya. Begitupun geliat penerbitan karya yang diinisiasi oleh aktor literasi yang menampung berbagai tulisan dalam satu tema tertentu. Kumpulan Ae kumpulan tulisan dalam bentuk book chapter menjadi satu gerakan kekaryaan baru yang tidak kalah menarik yang sedang berkembang akhir-akhir ini. KESIMPULAN Kontestasi para pegiat literasi di kota Makassar terbagi menjadi dua segmentasi Sektoral. Pertama: Sektor Utara meliputi daerah makassar bagian bawah ditandai dengan kampus UNHAS. STIMIK, dan Politeknik. Kedua: Sektor Selatan meliputi daerah Makassar bagian atas ditandai dengan geliat Kampus UIN. UNM dan Unismuh. Kedua sektor tersebut masing-masing dimotori oleh pegiat literasi yang kemudian disebut sebagai tokoh literasi. Sektor Utara lebih merproduksi diskursus sosialhumaniora di tandai dengan ramainya pegiat literasi dengan karya-karya sastra. Sedangkan pada sektor Selatan lebih cenderung mereproduksi diskursus sosial dan filsafat. Klasifikasi sektoral ini disebabkan paling tidak karena adanya perbedaan modal kultural yang dimiliki, aktor yang hadir dan arena sosialnya. Selain itu, hal ini juga menunjukkan bahwa Kehadiran komunitas literasi ini memberikan isyarat bahwa kampus tidak tunggal memainkan peran intelektual ditengah masyarakat. Komunitas literasi mengambil peran yang sama dengan lembaga pendidikan formal khususnya dalam meningkatkan minat baca dan budaya diskusi. DAFTAR PUSTAKA Bourdieu. Language and Symbolic Power. Polity Press. Bourdieu. Practical Reason: On the Theory of Action. Stranford University Press. Bourdieu. Arena Produksi Cultural: Sebuah Kajian Sosiologi Budaya. Kreasi Wacana. Coleman. Foundations of Social Theory. Harvard University Press. Faisal. Medan Identitas Seniman Kontemporer. Emik, 2. Fatimah. The Contestation of Bangil Arabian Woman in Inter-Ethnic Marriage. Jurnal Lakon, 6. Ferdianto. Minat Baca Indonesia. Peringkat 60 dari 61 Negara. Mediaindonesia. https://mediaindonesia. Giddens. Teori Strukturasi. Dasar-Dasar Pembentukan Struktur Sosial Masyarakat. Pustaka