Journal of Medicine and Health (JMH) Vol. 7 No. 1 February 2025 e-ISSN: 2442-5257 https://doi. org/10. 28932/jmh. Research Article Hubungan Keaktifan Berorganisasi terhadap Tingkat Self-esteem Mahasiswa Kedokteran Tingkat Preklinik The Relationship Between Organizational Activity and Self-Esteem Levels of Preclinical Students Antonia J Hendrik1. Ecie Budiyanti2*. Mariani Santosa3. Lonah4 1Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya 2Departemen Histologi. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya 3Departemen Fisiologi. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya 4Departemen Farmakologi. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jl. Jend. Sudirman No. RT. 004/RW. Karet Semanggi. Kecamatan Setiabudi. Kota Jakarta Selatan. Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12930. Indonesia *Penulis korespondensi Email: ecie. budiyanti@atmajaya. Received: August 22, 2024 Accepted: February 12, 2025 Abstrak Self-esteem berperan penting dalam mempertahankan identitas dan rasa harga diri seseorang yang membantunya untuk berkembang serta juga berperan dalam menjaga pandangan positif terhadap diri sendiri dan meningkatkan empati bagi mahasiswa kedokteran yang merupakan calon dokter. Rendahnya self-esteem berdampak buruk bagi kesehatan jiwa dan menghambat seseorang untuk berkembang. Manfaat yang didapatkan dari aktif berorganisasi dipandang berkaitan erat dengan self-esteem. Studi yang membahas hubungan antara keaktifan berorganisasi dan self-esteem pada mahasiswa kedokteran masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara kedua variabel tersebut pada mahasiswa kedokteran. Penelitian dengan desain cross-sectional pada 106 mahasiswa preklinik Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Atma Jaya (FKIK UAJ) angkatan 2021-2022. Alat ukur berupa kuesioner keaktifan berorganisasi oleh Rahmawati . dan Rosenberg Self-esteem Scale (RSES). Analisis data menggunakan uji Kruskal-Wallis. Skor kuesioner keaktifan berorganisasi pada responden memiliki nilai median cukup tinggi . dan mayoritas tergolong memiliki tingkat self-esteem sedang . ,5%). Analisis data Kruskal-Wallis menunjukkan adanya hubungan signifikan antara keaktifan berorganisasi terhadap tingkat self-esteem pada mahasiswa . =0,. Simpulan penelitian ini menyatakan adanya hubungan signifikan antara keaktifan berorganisasi terhadap tingkat self-esteem mahasiswa preklinik FKIK UAJ. Kata kunci: self-esteem. keaktifan berorganisasi. mahasiswa preklinik. mahasiswa kedokteran How to Cite: Hendrik AJ. Budiyanti E. Santosa M. Lonah. Hubungan keaktifan berorganisasi terhadap tingkat self-esteem mahasiswa kedokteran tingkat preklinik. Journal of Medicine and Health. DOI: https://doi. org/10. 28932/jmh. A 2025 The Authors. This work is licensed under a Creative Commons AttributionNonCommercial 4. 0 International License. J Med Health. :31-8 Journal of Medicine and Health (JMH) Vol. 7 No. 1 February 2025 Hubungan Keaktifan Berorganisasi TerhadapA e-ISSN: 2442-5257 Research Article Abstract Self-esteem plays an important role for someone in maintaining their identity, sense of self-worth, and helping someone to grow. It also plays an important role in maintaining a positive view of oneself and increasing empathy for medical students who are prospective doctors. Low self-esteem has a negative impact on mental health and prevents a person from developing The benefits obtained from being active in organizations are seen to be closely related to self-esteem. Studies discussing the relationship between the two are still limited. The purpose of this research is to discover the relationship between those variables in medical students. This research used a cross-sectional design on 106 Atma Jaya Faculty of Medicine and Health Sciences class 2021-2022 medical students. The measuring tools are the organizational activity questionnaire by Rahmawati . and the Rosenberg Self-esteem Scale. Data analysis used the Kruskal-Wallis test. Respondents' organizational activeness had a fairly high median score . and the majority . ,5%) had a moderate level of self-esteem. Kruskal-Wallis data analysis shows that there is a significant relationship between organizational activity and the level of self-esteem in students . =0. This research concludes that there is a significant association between organizational activity and the level of self-esteem of pre-clinical students. Keywords: self-esteem. organizational activities. club activites. medical students. Pendahuluan Self-esteem berperan penting dalam mempertahankan identitas dan rasa harga diri seseorang, yang membantunya dalam menghadapi stres atau kekecewaan, dan bangkit dari Self-esteem juga membantu individu untuk berkembang, melihat kemungkinan yang ada, dan mengeksplorasi kehidupan pribadi, karir, dan interpersonal. 1 Studi menyatakan rendahnya self-esteem berdampak buruk bagi kesehatan mental seseorang seperti halnya kecemasan, depresi, ide bunuh diri. 2,3 Self-esteem yang rendah juga berdampak pada tindakan mencelakai diri, menghindari situasi tertentu atau seseorang, menyerah dalam mengerjakan tugas, terburu-buru saat bekerja, selalu berusaha menyenangkan orang lain, bertindak marah saat melakukan kesalahan, rendah diri, serta merupakan faktor risiko dari perilaku anti-sosial dan kriminal, dimana hal-hal tersebut dapat mengganggu hubungan sosial yang ada. 4,5 Pada mahasiwa kedokteran, self-esteem berperan penting seperti dalam menjaga pandangan yang positif terhadap diri sendiri,6 maupun dalam meningkatkan empati. 7 Empati sendiri menjadi penting bagi seorang calon dokter yang merupakan tenaga kesehatan khususnya dalam memahami perspektif, pengalaman, maupun kekhawatiran pasien yang akan meningkatkan hubungan antara dokter dan pasien guna memberikan hasil terapi yang lebih baik. 8,9 Penelitian menunjukkan self-esteem yang rendah pada mahasiswa kedokteran berhubungan dengan meningkatnya penundaan performa akademis, yang menimbulkan perasaan kewalahan dan putus asa, yang pada akhirnya memengaruhi kinerja akademis dan prospek masa depan. 10 Penelitian di Pakistan menyatakan rendahnya self-esteem pada mahasiswa kedokteran berhubungan dengan tingkat kecemasan. J Med Health. :31-8 Journal of Medicine and Health (JMH) Vol. 7 No. 1 February 2025 Hubungan Keaktifan Berorganisasi TerhadapA e-ISSN: 2442-5257 Research Article depresi, dan stres yang lebih tinggi, yang berdampak negatif pada pencapaian pendidikan dan kualitas hidup mereka secara keseluruhan. Penelitian di Universitas Brawijaya menunjukkan bahwa prevalensi self-esteem rendah pada mahasiswa kedokteran masih cukup tinggi, dimana terdapat 1 dari 4 mahasiswa yang 12 Penelitian menunjukkan manfaat yang dapat diambil dari mengikuti kegiatan non-akademik atau organisasi mahasiswa antara lain dapat mengurangi stress, memberi peluang atau tantangan baru, meningkatkan kesehatan fisik, mendekatkan diri dengan institusi, maupun berkontribusi untuk masyarakat luas. 13 Ada beberapa manfaat lain juga seperti. rasa percaya diri, tempat pembuktian kemampuan dan kompetensi mahasiswa pada diri sendiri maupun orang lain, meningkatkan kemampuan memimpin dan kerja dalam tim, memecahkan masalah, serta komunikasi, dimana hal-hal ini berkaitan erat dengan self-esteem. 13,14 Penelitian oleh Windiyanto . dan Bang . menyatakan bahwa ada hubungan antara keterlibatan remaja dalam kegiatan ekstrakurikuler . hususnya olahrag. dengan selfesteem yang lebih baik. 15,16 Penelitian lain oleh Budiyarti . pada mahasiswa ilmu keperawatan di Universitas Indonesia menyatakan adanya hubungan yang bermakna antara harga diri . elf-estee. dengan keaktifan berorganisasi. 17 Peneliti belum menemukan banyak penelitian mengenai hubungan keaktifan berorganisasi terhadap self-esteem yang dilakukan pada mahasiswa Pentingnya self-esteem bagi calon dokter dan hubungannya terhadap nilai-nilai yang didapatkan dalam berorganisasi, mendorong peneliti untuk melakukan penelitian mengenai hubungan keaktifan berorganisasi terhadap tingkat self-esteem pada mahasiswa preklinik kedokteran khususnya di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Atma Jaya (FKIK UAJ). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara keaktifan berorganisasi terhadap tingkat self-esteem mahasiswa preklinik. Metode Penelitian ini berupa studi observasional analitik dengan desain cross-sectional. Sampel berupa mahasiswa preklinik FKIK UAJ angkatan 2021-2022. Keaktifan berorganisasi dan tingkat self-esteem diukur menggunakan kuesioner keaktifan oleh Rahmawati yang sudah teruji validitas dan reliabilitasnya (Cronbach alpha: 0,. 18 dan Rosenberg Self-Esteem Scale yang mengkategorikan self-esteem menjadi tiga tingkat, serta dilakukan secara daring (SK Komite Etik No. 03/01/KEP-FKIKUAJ/2024, 15 Januari 2. Data yang diperoleh kemudian diolah dengan uji deskriptif maupun analitik menggunakan Kruskal-Wallis untuk melihat hubungan antara dua J Med Health. :31-8 Journal of Medicine and Health (JMH) Vol. 7 No. 1 February 2025 Hubungan Keaktifan Berorganisasi TerhadapA e-ISSN: 2442-5257 Research Article Hasil Analisis data menggunakan program SPSS dengan nilai signifikansi p<0,05. Hasil penelitian pada skor keaktifan berorganisasi dapat diartikan dengan semakin tinggi skor maka semakin aktif responden berorganisasi. Nilai median secara keseluruhan adalah 61,0 (Tabel . Dengan skor maksimal berada di angka 80 dan skor minimal di angka 16, dapat diartikan bahwa keaktifan berorganisasi mahasiswa FKIK UAJ cukup tinggi. Hasil dapat diartikan dengan semakin tinggi skor maka semakin aktif responden berorganisasi. Gambaran tingkat self-esteem mahasiswa preklinik FKIK UAJ dapat dilihat pada Tabel 2. Hasil menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki tingkat self-esteem sedang . ,5%). Pada Tabel 3 uji analisis Kruskal-Wallis menunjukkan nilai signifikan p=0,007 yang mengartikan bahwa ada hubungan signifikan antara keaktifan berorganisasi terhadap tingkat selfesteem pada mahasiswa preklinik FKIK UAJ. Pada Tabel 4, hasilnya sama dengan hasil uji analisis pada masing-masing organisasi mahasiswa . Unit Pengembangan Minat Mahasiswa (UPMM), dan kepanitiaan mayoritas yang diikuti responden. Tabel 1 Keaktifan Berorganisasi Responden Distribusi Skor Keaktifan Berorganisasi Responden 2021 . Total . Keaktifan Berorganisasi Median (IQR) 61,0 . Median (IQR) 61,0 . Median (IQR) 61,0 . Tabel 2 Tingkat Self-esteem Responden Tingkat Self-esteem Frekuensi Rendah Sedang Tinggi Total Total Tabel 3 Hubungan Keaktifan Berorganisasi terhadap Tingkat Self-esteem Self-esteem Keaktifan Berorganisasi (Median. IQR) J Med Health. :31-8 Rendah . Sedang . Tinggi . 56,0 . 61,0 . 65,0 . 0,007* Journal of Medicine and Health (JMH) Vol. 7 No. 1 February 2025 Hubungan Keaktifan Berorganisasi TerhadapA e-ISSN: 2442-5257 Research Article Tabel 4 Hubungan Keaktifan Berorganisasi terhadap Tingkat Self-Esteem pada Ormawa / UPMM / Kepanitiaan Terbesar yang Diikuti Responden Self-esteem Keaktifan Berorganisasi (Median. IQR) Rendah . Sedang . Tinggi . 58,0 . 62,0 . 63,5 . 0,026* *nilai signifikan p<0,05 Diskusi Skor dari keaktifan berorganisasi yang didapat adalah 61,0 yang merupakan nilai tengah dari kumpulan data skor keaktifan berorganisasi cukup tinggi dan dapat diartikan bahwa mahasiswa cukup aktif dalam berorganisasi. Hasil ini sejalan dengan penelitian pada UIN Syarif Hidayatullah dimana 91,9% dari 179 responden memiliki keaktifan tinggi dalam berorganisasi. Penelitian pada Universitas Nusa menunjukkan hasil berbeda, dimana 73,75% responden memiliki keaktifan berorganisasi yang rendah. 21 Perbedaan hasil ini dapat terjadi karena perbedaan alat ukur dan klasifikasi keaktifan berorganisasi yang digunakan masing-masing penelitian, serta perbedaan kebijakan dan macam organisasi mahasiswa dari tiap universitas. Hasil penelitian dapat dipengaruhi oleh peraturan pada FKIK UAJ yang mewajibkan mahasiswa memperoleh capaian SKP tertentu untuk lulus, banyaknya variasi ormawa / UPMM / kepanitiaan yang ada di kampus,19 serta kebiasaan tradisi promosi dari senior di FKIK UAJ dari tahun ke Hasil dari tingkat self-esteem pada penelitian ini sejalan dengan penelitian terdahulu menggunakan alat ukur yang sama pada mahasiswa kedokteran di Arab Saudi dengan 1099 responden, dimana 64,9% respondennya memiliki self-esteem sedang. 22 Hasil ini juga dapat dipengaruhi oleh faktor lain, seperti latar belakang ekonomi mahasiswa kedokteran yang pada umumnya berasal dari kelas menengah keatas. 23,24 Penelitian juga menunjukkan bahwa besarnya empati dan pandangan positif terhadap karir masa depan sebagai seorang dokter yang dimiliki oleh mahasiswa kedokteran berpengaruh kepada self-esteem. 25 Sebagian besar . ,5%) responden adalah perempuan, akan tetapi berbagai penelitian menunjukkan hasil yang berbeda-beda terkait apakah jenis kelamin signifikan mempengaruhi self-esteem seseorang. 23,26,27 Di sisi lain, faktor personal seperti penampilan fisik, keterbukaan diri terhadap pengalaman dan kemampuan akademik dapat berpengaruh pada self-esteem. 27,28,29 Penelitian sebelumnya yang spesifik membahas keaktifan berorganisasi dan hubungannya terhadap self-esteem pada mahasiswa kedokteran masih sangat terbatas, akan tetapi hasil penelitian ini serupa dengan penelitian pada mahasiswa keperawatan di Universitas Indonesia oleh Budiyarti . 17 Studi di China menunjukkan dengan berpartisipasi pada J Med Health. :31-8 Journal of Medicine and Health (JMH) Vol. 7 No. 1 February 2025 Hubungan Keaktifan Berorganisasi TerhadapA e-ISSN: 2442-5257 Research Article kegiatan olahraga mempengaruhi self-esteem mahasiswa. 30 Ada pula studi di Korea yang menunjukkan bahwa dengan mengikuti kegiatan kepemudaan di masa SMA, dapat meningkatkan kemampuan kepemimpinan dan self-esteem pada masa kuliah. Studi oleh Cho menunjukkan bahwa dengan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler membuat seseorang lebih aktif bergerak, bersosialisasi dengan teman sebaya, 32 meningkatkan peluang untuk sukses, dan mendapatkan pengakuan sosial dimana hal-hal tersebut meningkatkan selfesteem. 33 Kegiatan berorganisasi juga memberikan dampak positif bagi rasa kemanusiaan dan physical self-concept . enilaian fisik terhadap diri sendir. yang berpengaruh pada self-esteem 34 Selain itu, berpartisipasi pada kegiatan kepemudaan seperti olahraga dapat meningkatkan self-esteem melalui fokus dan konsentrasi pikiran yang terlatih karena aktivitas fisik yang baik. 35 Penelitian OAoDonnel dkk menyatakan bahwa keterlibatan dalam organisasi menumbuhkan pengaruh sosial yang positif, serta meningkatkan self-esteem melalui hubungan yang mendukung dan kesempatan untuk eksplorasi identitas, yang berkontribusi terhadap kesejahteraan dewasa muda secara keseluruhan. 36 Penelitian juga menunjukkan bahwa berpartisipasi dalam organisasi mendorong relasi pertemanan dan rasa kepemilikan satu sama lain dimana hal ini meningkatkan self-esteem secara kolektif. Hasil dari penelitian ini menggambarkan bahwa keaktifan berorganisasi kemahasiswaan dapat berpengaruh kepada self-esteem, khususnya pada mahasiswa kedokteran. Hal ini dapat dijadikan perhatian dalam pengambilan kebijakan non-akademik mengenai kegiatan berorganisasi dan dampaknya pada self-esteem mahasiswa, serta wawasan baru bagi penelitian terkait tingkat keaktifan berorganisasi dan self-esteem pada mahasiswa kedokteran. Ada pula keterbatasan penelitian ini tidak membahas lebih dalam mengenai karakteristik demografi responden maupun karakteristik dalam berorganisasi, seperti tingkat jabatan atau posisi dalam organisasi, serta terdapat faktor lain yang dapat memengaruhi self-esteem, seperti latar belakang ekonomi mahasiswa, kemampuan akademik, kepribadian seseorang, serta besarnya empati yang dimiliki seseorang yang dapat menjadi bias dalam penelitian. Penelitian ini juga tidak membahas mengenai arah hubungan signifikansi statistik, yang dapat dibahas di penelitian berikutnya. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian, keaktifan berorganisasi mahasiswa preklinik FKIK UAJ memiliki nilai median 61,0. Mayoritas . ,5%) tingkat self-esteem mahasiswa tergolong sedang. Ada hubungan yang signifikan antara keaktifan berorganisasi terhadap tingkat self-esteem mahasiswa preklinik kedokteran . =0,. Hasil ini dapat dijadikan pertimbangan bagi mahasiswa dalam mengikuti kegiatan organisasi pada perguruan tinggi, serta menjadi wawasan J Med Health. :31-8 Journal of Medicine and Health (JMH) Vol. 7 No. 1 February 2025 Hubungan Keaktifan Berorganisasi TerhadapA e-ISSN: 2442-5257 Research Article bagi institusi pendidikan maupun masyarakat. Penelitian yang melihat hubungan keaktifan berorganisasi dengan self-esteem pada mahasiswa kedokteran di Indonesia masih terbatas, namun hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang serupa pada populasi lain. Pada penelitian selanjutnya disarankan untuk menggunakan populasi yang lebih besar serta membahas lebih lanjut faktor-faktor yang dapat mempengaruhi self-esteem pada mahasiswa kedokteran, seperti latar belakang ekonomi, penampilan fisik, body image, maupun pencapaian akademik. Daftar Pustaka