ZONA KEDOKTERAN VOL 15 NO 3 SEPTEMBER 2025 THE RELATIONSHIP BETWEEN CLINICAL FACTORS AND OUTCOMES OF GASTROSCHISIS PATIENTS AT DR. ZAINOEL ABIDIN REGIONAL HOSPITAL, BANDA ACEH Darul Ilham1. Nanda Subhan2. Muhammad Azmi Fanany3 1Pediatric Surgery Divison. Faculty of Medicine of Syiah Kuala University 2General Surgery Division. Faculty of Medicine of Syiah Kuala University 3 General Surgery Division. Faculty of Medicine of Batam University Email: darulilham@usk. id, nandasubhan@usk. id, muhammadazmi@univbatam. Abstract Background: Gastroschisis is an abdominal wall defect without a membrane, allowing intraabdominal organs, especially the intestines, to be exposed. Globally, the incidence varies 22 to 7. 91 per 10,000 live births. Various factors can influence clinical outcomes in This study aims to evaluate the clinical characteristics of gastroschisis patients and identify potential risk factors affecting clinical outcomes at Dr. Zainoel Abidin General Hospital. Banda Aceh. Methods: A cross-sectional study was conducted using medical record data of gastroschisis patients born between January 1, 2015, and December 31, 2018. Univariate and bivariate analyses were performed using the chi-square test with a significance level of p < 0. Results: The majority of patients were male . 6%) with a birth weight of 1,500Ae2,500 grams . 2%). The most common procedure was primary closure . 2%), performed on day 0 . 8%). A low Apgar score was found in 68. 4% of patients. There were significant associations between survival time and birth weight . = 0. , type of surgical procedure . = 0. Apgar score . = 0. , and age at surgery . = 0. Conclusion: Gastroschisis patients in this hospital were generally male, had low birth weight, and were born to young mothers. Factors such as birth weight, type of surgical procedure. Apgar score, and age at surgery were significantly associated with survival time. Keywords: Gastroschisis, neonate, defect repair Abstrak Latar Belakang: Gastroschisis adalah kelainan dinding perut berupa defek tanpa membran yang membiarkan organ intraabdomen, terutama usus, terekspos. Secara global, angka kejadian bervariasi, mulai dari 0,22 hingga 7,91 per 10. 000 kelahiran hidup. Berbagai faktor dapat berpengaruh terhadap hasil luaran pada Gastroschisis. Penelitian ini untuk mengetahui hubungan klinis pasien gastroschisis dan mengidentifikasi faktor-faktor risiko yang berpotensi memengaruhi luaran klinis di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. Metode: Penelitian crossectional study menggunakan data rekam medis pasien gastroschisis yang lahir pada periode 1 Januari 2015Ae31 Desember 2018. Analisis data univariat dan bivariat dengan uji chi square nilai P <0. Hasil: Pada Penelitian ini mayoritas pasien adalah laki-laki . ,6%) dengan berat badan lahir 500Ae2. 500 gram . ,2%). Tindakan terbanyak adalah primary closure . ,2%), pada usia 0 hari . ,8%). Nilai Apgar ringan pada 68,4% pasien. Terdapat hubungan signifikan antara lama hidup dengan berat badan lahir . =0,. , jenis tindakan . =0,. , nilai Apgar . =0,. , dan usia tindakan . =0,. Simpulan: Pasien gastroschisis di rumah sakit ini umumnya adalah bayi laki-laki dengan Universitas Batam Batam Batam Page 267 ZONA KEDOKTERAN VOL 15 NO 3 SEPTEMBER 2025 berat lahir rendah dan lahir dari ibu usia muda. Faktor-faktor seperti berat badan lahir, jenis tindakan, nilai apgar dan usia tindakan berhubungan dengan lama hidup. Kata kunci: Gastroschisis, neonatus, primary closure Abstrak Latar Belakang: Gastroschisis adalah kelainan dinding perut berupa defek tanpa membran yang membiarkan organ intraabdomen, terutama usus, terekspos. Secara global, angka kejadian bervariasi, mulai dari 0,22 hingga 7,91 per 10. 000 kelahiran hidup. Berbagai faktor dapat berpengaruh terhadap hasil luaran pada Gastroschisis. Penelitian ini untuk mengetahui hubungan klinis pasien gastroschisis dan mengidentifikasi faktor-faktor risiko yang berpotensi memengaruhi luaran klinis di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. Metode: Penelitian crossectional study menggunakan data rekam medis pasien gastroschisis yang lahir pada periode 1 Januari 2015Ae31 Desember 2018. Analisis data univariat dan bivariat dengan uji chi square nilai P <0. Hasil: Pada Penelitian ini mayoritas pasien adalah laki-laki . ,6%) dengan berat badan lahir 500Ae2. 500 gram . ,2%). Tindakan terbanyak adalah primary closure . ,2%), pada usia 0 hari . ,8%). Nilai Apgar ringan pada 68,4% pasien. Terdapat hubungan signifikan antara lama hidup dengan berat badan lahir . =0,. , jenis tindakan . =0,. , nilai Apgar . =0,. , dan usia tindakan . =0,. Simpulan: Pasien gastroschisis di rumah sakit ini umumnya adalah bayi laki-laki dengan berat lahir rendah dan lahir dari ibu usia muda. Faktor-faktor seperti berat badan lahir, jenis tindakan, nilai apgar dan usia tindakan berhubungan dengan lama hidup. Kata kunci: Gastroschisis, neonatus, primary closure PENDAHULUAN Gastroschisis kelainan pada dinding perut yang ditandai dengan suatu defek tanpa membran. Gastroschisis sering dibagi menjadi 2 yaitu gastroschisis komplek dan sederhana. Angka kehidupan pada bayi yang mengalami gastroschisis ini sangat baik yaitu lebih dari 90%. (Tauriainen et al. Secara global insidensi pada laporan tahun 1980 hingga 2024 menyebutkan di Eropa angka prevalensi 1,45 per 10. kelahiran, di Argentina 7,91 per 10. kelahiran, di Iran 0,22 per 10. kelahiran, di jerman 2,79 per 10. kelahiran, di Kanada 3,87 per 10. kelahiran, di Spanyol 0,46 per 10. kelahiran, di Meksiko 2,91 per 10. (Feldkamp et al. , 2. Dalam mengakibatkan kematian menjadi dapat Universitas Batam Batam Batam ditangani dengan tingkat keberhasilan yang sangat baik. Identifikasi yang baik paling berperan dalam menurunkan angka kematian pada gastroschisis. (Tiruneh et , 2. Beberapa literatur menyebutkan bagaimana evaluasi terhadap perawatan, penggunaan pelindung usus, nutrisi, kontrol infeksi serta faktor faktor seperti waktu persalinan, waktu tindakan menjadi manajemen pada gastroschisis ini sehingga mempengaruhi hasil luaran. (MacHaea et , 2. faktor yang diduga berkaitan dengan terjadinya gastroschisis meliputi usia ibu yang muda saat hamil, serta indeks massa tubuh yang rendah sebelum kehamilan. Selain itu, paparan terhadap zat-zat berbahaya dari lingkungan, seperti obatobatan, asap rokok, dan polusi, juga diyakini turut memengaruhi proses terjadinya kelainan ini. (Durmaz et al. Manajemen Page 268 ZONA KEDOKTERAN VOL 15 NO 3 SEPTEMBER 2025 gastroschisis mencakup penutupan primer atau reduksi bertahap, dengan tujuan mengembalikan usus ke dalam rongga perut dan menutup defek tanpa intraabdomen yang bermakna maupun cedera usus tambahan. Pada kasus lanjutan mungkin diperlukan setelah penutupan defek untuk menangani kelainan seperti atresia atau stenosis usus. Selama parenteral total diberikan hingga asupan enteral dapat dimulai. e Souza et al. Faktor lain seperti waktu persalinan, adanya gastroschisis kompleks, dan strategi penatalaksanaan di negara berpendapatan rendah dan menengah juga memengaruhi pengambilan keputusan manajemen yang beragam pada pasien Aspek-aspek tambahan dalam perawatan ini tidak hanya menunjukkan dampak kemajuan klinis terhadap angka mortalitas, tetapi juga menggambarkan bahwa kelompok tertentu dari bayi dengan gastroschisis beserta pertimbangan khusus terkait kelangsungan (Georgeades et al. , 2. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran mengidentifikasi faktor-faktor risiko yang berpotensi berpengaruh, seperti usia kehamilan, berat badan lahir, jumlah tindakan pembedahan, usia saat dilakukan penutupan, dan keberadaan gastroschisis yang disertai komplikasi, guna mendukung upaya penurunan angka kematian akibat berbagai faktor. Meskipun berbagai studi telah manajemen, serta luaran klinis pada gastroschisis di berbagai negara, data mengenai karakteristik klinis dan faktorfaktor mortalitas di Aceh masih terbatas. Selain itu, belum banyak penelitian yang secara Universitas Batam Batam Batam komprehensif mengkaji pengaruh faktor usia kehamilan, berat badan lahir, waktu tindakan pembedahan, serta keberadaan komplikasi terhadap luaran pasien dalam satu kerangka analisis yang sistematis. Oleh karena itu, penelitian ini penting untuk menambah pengetahuan dengan memberikan gambaran kasus gastroschisis dan mengidentifikasi faktor risiko mortalitas yang relevan, sehingga dapat menjadi dasar untuk perbaikan strategi penatalaksanaan di masa mendatang. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan desain Data yang digunakan adalah data sekunder yaitu dari rekam medis pada Rumah Sakit Umum dr. Zainoel Abidi Banda Aceh. Data diambil penderita gastroschisis yang lahir dari 1 juanuari 2015 sampai 31 Desember 2018 dengan gastroschisis yang didiagnosa oleh dokter spesialis bedah anak yang terbukti berdasarkan klinis, sedangkan kriteria eksklusi yaitu data rekam medis yang tidak Karakteristik kelamin yang dikelompokkan laki- laki dan perempuan. Berat badan lahir dikelompokkan ke dalam berat badan lahir 1000-1500 gram, berat badan lahir 15002500 gram, berat badan lahir normal >2500 gram. Usia dikelompokkan saat awal dilakukan tindakan 0 hari, 1 hari, 2 hari dan 3 hari. Jenis persalinan dikelompokkan persalinan normal dan Lama dikelompokkan menjadi <2 hari, 3-7 hari dan >7 hari. Jenis tindakan dikelompokkan menjadi primary closure dan delayed Nilai Apgar Score dikelompokkan ringan, sedang dan berat. Usia ibu dikelompokkan 20-25 tahun dan 26-30 Penelitian ini menggunakan analisa data univariat dan analisis bivariat dengan uji chi square nilai P <0. Page 269 ZONA KEDOKTERAN VOL 15 NO 3 SEPTEMBER 2025 HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini menggambarkan profil penderita gastroschisis dalam kurun waktu 1 Januari 2015 hingga 31 Desember 2018 telah dilaksanakan. Terdapat 19 pasien dengan diagnosa gastroschisis yang menjadi subjek Jumlah dan frekuensi dalam kurun waktu 4 tahun tersebut dijelaskan pada Tabel 1. Tabel 1. Karakteristik pasien gastroschisis periode 2015-2018 Karakteristik Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Berat Badan Lahir 000- 1. 500 gram 500 Ae 2. 500 gram 500 Ae 3. 999 gram Lama hidup <2 hari 3- 7 hari >7 hari Jenis persalinan Persalinan Normal Section Caesarea Jenis Tindakan Primary Delayed Usia Tindakan 0 hari 1 hari 2 hari 3 hari Kelainan lain Tidak ada Memiliki Kelainan lainnya Usia Ibu 21-25 tahun 26-30 tahun Apgar Score Asfiksia Sedang Asfiksia Ringan Total Karakteristik pasien gastroschisis dalam periode tersebut menunjukkan bahwa jumlah paling banyak berdasarkan jenis kelamin adalah laki-laki 10 pasien . ,6%). Sebagian gastroschisis lahir dari ibu yang berusia 21-25 tahun sebesar 73,7% dengan berat badan rendah (BBLR) 1500-2. 500 gram Universitas Batam Batam Batam Jumlah . Frekuensi (%) pada 12 pasien . ,2%) lahir dengan asfiksia ringan sebesar 68,4% atau 13 Jumlah pasien yang memiliki ketahanan hidup lebih lama >7 jam adalah 10 pasien . ,6%). Sebagian besar lahir secara section caesarea sebanyak 13 pasien ,4%) dengan usia saat tindakan paling banyak berusia 0 hari sebanyak 7 pasien Page 270 ZONA KEDOKTERAN VOL 15 NO 3 SEPTEMBER 2025 36,8 % tindakan yang paling banyak sebanyak 16 pasien dan 10 . ,6%) pasien memiliki kelainan kongenital lain. Pada uji bivariat menggunakan uji chi square didapatkan terdapat hubungan antara berat badan lahir , jenis Tindakan, nilai apgar, usia tindakan dengan lama hidup masing masing nilai p sebesar 0,016, 0,007, 0,022 dan 0,000 yang dapat dilihat pada table 2. Tabel 2. Karakteristik dengan lama hidup. Berat badan lahir 000- 1. 500 gram 500 Ae 2. 500 gram 500 Ae 3. 999 gr Jenis tindakan Primary closure Delayed closure Apgar score Asfiksia sedang Asfiksia ringan Usia tindakan 0 hari 1 hari 2 hari 3 hari <2 hari Lama hidup 3-7 hari Nilai P 0,007 0,022 Sebanyak 19 pasien terdiagnosis menunjukkan bahwa mayoritas berjenis kelamin laki-laki, yaitu 10 pasien . ,3%). Temuan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sarah, yang melaporkan bahwa bayi laki-laki merupakan kelompok dengan frekuensi tertinggi pada kasus (Melov et al. , 2. Mayoritas ibu yang melahirkan bayi dengan gastroschisis berada pada rentang usia 21Ae25 tahun, yaitu sebanyak 14 Hasil ini sejalan dengan penelitian oleh Muniz et al, yang melaporkan bahwa ibu berusia 20Ae25 tahun memiliki prevalensi tertinggi dalam melahirkan bayi penderita gastroschisis. Usia muda pada ibu menjadi salah satu faktor risiko signifikan terkait terjadinya gastroschisis, di mana prevalensinya pada ibu remaja tercatat lebih dari tujuh kali lipat dibandingkan ibu berusia Ou25 tahun. Pada Universitas Batam Batam Batam >7 hari 0,016 0,000 penelitian ini, analisis menunjukkan bahwa rata-rata usia ibu pada kelompok bayi yang meninggal secara signifikan lebih rendah dibandingkan kelompok bayi yang dikaitkan dengan faktor paparan lingkungan, pola hidup, serta tingkat kepedulian terhadap kesehatan. (Muniz et , 2. Sebagian besar pasien gastroschisis memiliki nilai Apgar score 7Ae10, yaitu sebanyak 13 pasien. Pada penelitian ini terdapat hubungan yang signifikan antara nilai apgar dengan lama hidup dengan nilai p sebesar 0,022. Temuan ini konsisten dengan penelitian Raitio et al yang melaporkan 92% kasus memiliki Apgar score 7-10. Dari sisi metode persalinan, 13 pasien dilahirkan melalui operasi sectio Hasil ini juga sejalan dengan penelitian Sarah et al, yang menemukan bahwa 53,6% bayi dengan gastroschisis lahir melalui sectio caesarea. (Egger et al. Page 271 ZONA KEDOKTERAN VOL 15 NO 3 SEPTEMBER 2025 Sebagian gastroschisis memiliki berat lahir antara 1500Ae2500 gram, yaitu sebesar 63,2%. Sejumlah gastroschisis memiliki berat badan lahir Semakin tinggi berat badan lahir, semakin rendah risiko kematian akibat Pada penelitian ini terdapat hubungan yang signifikan antara berat badan lahir dengan lama hidup dengan nilai p yaitu 0,016. Laporan penelitian di Brasil menunjukkan bahwa pasien dengan berat badan lahir kurang dari 2. 500 gram memiliki risiko kematian 2,4 kali lebih (Muniz et al. , 2023. Oakes et al. Dalam penelitian ini, sebanyak 7 pasien menjalani tindakan pada usia 0 hari setelah lahir, dengan prosedur terbanyak berupa primary closure yang dilakukan pada 16 pasien . ,2%). Pada penelitian ini terdapat hubungan yang signifikan antara jenis tindakan dengan lama hidup pasien sebesar nilai p yaitu 0,007. Selain itu, 10 pasien . ,6%) memiliki kelainan Beberapa hal yang dapat menentukan keberhasilan tindakan yaitu Sindrom kompartemen abdomen yang menjadi kondisi serius dengan gejala yang (Bucardo & Ramyrez, 2. Tekanan intraabdomen yang tinggi dapat menyebabkan gangguan aliran darah dan iskemia usus yang berujung pada Oliguria/anuria, peritonisme, distensi abdomen, gangguan hemodinamik atau pernapasan, peningkatan tekanan vena sentral, serta disfungsi organ termasuk (Tauriainen et al. , 2. Pada penelitian ini, usia dilakukan tindakan yaitu paling banyak diusia 0 hari Terdapat hubungan yang signifikan antara usia dilakukan tidakan dengan lama hidup. Nilai p sebesar 0,000. Temuan ini sama dengan laporan oleh Minor yang menyebutkan bahwa pasien gastroschisis dapat bertahan hidup dan dipulangkan yang mendapatkan tindakan bedah kurang dari 24 jam. Rendahnya berat badan lahir pada bayi baru lahir Universitas Batam Batam Batam merupakan salah satu penyebab utama gastroschisis, di mana kondisi ini telah dikaitkan dengan pola pertumbuhan janin yang terhambat selama kehamilan. (Minor et al. , 2. Paparan usus yang berkepanjangan terhadap udara meningkatkan risiko edema, yang menjadi hambatan tambahan dalam pelaksanaan penutupan primer. Bayi dengan gastroschisis yang menjalani penutupan lebih dari 1 hari setelah lahir penutupan bertahap. (Burgos et al. , 2. Dalam 24 jam pertama setelah lahir, bayi dengan gastroschisis dapat kehilangan cairan hingga 2,5 kali lebih banyak dibandingkan bayi sehat. Paparan usus terjadinya edema usus, sehingga tindakan segera diperlukan untuk mencegah dehidrasi, infeksi, dan hipotermia. Oleh sebab itu, penutupan primer dalam 24 jam pertama kehidupan direkomendasikan guna mencegah timbulnya kondisi yang berpotensi fatal. (Rahayatri et al. , 2. SIMPULAN Studi ini menunjukkan bahwa profil mempengaruhi mortalitas pada kasus Profil gastroschisis sebagian besar kasus terjadi pada bayi laki-laki dari ibu berusia muda, khususnya 21Ae25 tahun. Berat keterlambatan tindakan bedah menjadi faktor penting yang berkontribusi terhadap Sebagian besar pasien menjalani operasi repair defect, namun banyak yang mengalami komplikasi seperti kelainan kongenital dan sindrom kompartemen Paparan usus yang terlalu lama terhadap udara menyebabkan edema dan memperberat kondisi, sehingga penutupan primer dalam 24 jam pertama kehidupan meningkatkan angka kelangsungan hidup. Saran bagi peneliti selanjutnya, disarankan dilakukan studi dengan desain prospektif dan melibatkan beberapa pusat Page 272 ZONA KEDOKTERAN VOL 15 NO 3 SEPTEMBER 2025 guna memperoleh jumlah sampel yang lebih besar dan hasil yang lebih representatif. Penelitian mendatang juga perlu mengeksplorasi faktor-faktor sosial, lingkungan, serta komprehensif untuk memahami penyebab mortalitas gastroschisis dari berbagai DAFTAR PUSTAKA