Vol 2 No 12 . : KOMPETENSI : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni NILAI-NILAI BUDAYA DALAM CERITA RAKYAT SANGIHE AuBUKIDE BATUAy DAN AuGUMANSALANGIAy DAN IMPLIKASINYA BAGI PEMBELAJARAN SASTRA DI SEKOLAH Yolkhya Lawendatu1. Donal M. Ratu2. Wimsje R. Palar3 Universitas Negeri Manado Tondano. Indonesia yolkhialawe@gmail. Abstrak : Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan: . Nilai budaya dalam cerita rakyat Sangihe AuBukide BatuAy dan AuGumansalangi,Ay dan . Implikasi hasil penelitian bagi pembelajaran sastra di sekolah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan sumber datanya adalah cerita rakyat Sangihe AuBukide BatuAy dan AuGumansalangiAy. Penelitian ini menggunakan teknik analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam cerita rakyat AuBukide BatuAy terdapat nilai budaya berupa simbol, sikap, dan kepercayaan. Nilai budaya dalam cerita rakyat AuBukide BatuAy adalah tanggung jawab dan keberanian. Sementara nilai yang bertentangan dengan norma dan budaya masyarakat adalah kelicikan dan tidak menghormati. Penelitian juga menunjukkan nilai-nilai budaya dalam cerita Rakyat AuGumansalangiAy yang mencakup simbol dan sikap. Nilai budaya yang tercermin dari cerita rakyat ini tampak pada sifat tokoh cerita seperti sikap tegas, adil dan berani. Kata Kunci : Nilai, budaya. Cerita rakyat. Bukide Batu. Gumansalangi Abstract : The aims of this study are to describe: . The cultural values in the Sangihe folklores entitled "Bukide Batu" and "Gumansalangi," and . Their implications for teaching Indonesian Literature subject in schools. This study used a qualitative research method with the data source being the Sangihe folklore "Bukide Batu" and "Gumansalangi". This study uses content analysis techniques. The results of the study show that in the folklore "Bukide Batu" there are cultural values in the form of symbols, attitudes, and The cultural values in the folklore "Bukide Batu" are responsibility and Meanwhile, the values that are contrary to the norms and culture of the society are cunningness and disrespect. Research also finds the cultural values in the folklore "Gumansalangi" which includes symbols and attitudes. The cultural values that are reflected in this folklore can be seen in the character traits of the story characters such as being firm, fair, and courageous. Keywords : Value. Culture. Folklore. Bukide Batu. Gumansalangi Vol 2 No 12 . : KOMPETENSI : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni PENDAHULUAN Salah satu produk manusia sebagai makhluk berbudaya adalah karya sastra. Sastra berusaha mendeskripsikan hasil pikiran manusia yang memanfaatkan bahasa sebagai medianya. Pikiran tersebut imajinatif, sehingga memiliki daya tarik. Sastra berusaha mengungkapkan sesuatu fakta dengan cara yang berbeda dikombinasikan dengan nilai-nilai estetis, yang membuat karya sastra berbeda dengan teks-teks ilmiah ataupun teks-teks populer. Karya sastra merupakan sarana penyampaian pikiran dan perasaanperasaan, pikiran bukan hanya itu sastra juga merupakan alat pencerminan sikap, pandangan, dan tingkah laku kelompok sesuai perubahan zaman. Hal ini sejalan dengan pendapat Watson dala Wellek & Warren . bahwa sastra memiliki kemampuan merekam ciri-ciri zaman. Sastra dipandang sebagai gudang adat istiadat dan buku sumber sejarah Berdasarkan pandangan inilah, sering dijadikan pertimbangan untuk membagi periodisasi kesastraan. Salah satu media sastra yang dulu begitu dekat dengan kehidupan manusia adalah sastra lisan berbentuk dongeng. Dongeng adalah cerita yang diwarikan dari mulut ke mulut, hingga masih dapat dijumpai di zaman teknologi virtual terdokumentasi secara daring, tetapi dibukukan dalam buku khusus kumpulan Tidak dapat disangkal bahwa dongeng, yang awalnya sebagai sastra lisan mempunyai peran yang penting dalam kehidupan masyarakat dan merupakan warisan budaya daerah yang berharga. Dongeng pada zaman dahulu dijadikan sebagai media pendidikan bagi anak di tengah keluarga. Orang tua, ayah dan ibu atau kakek dan nenek menjadikan dongeng sebagai cara membentuk anak di tengah Hanya saja, karena perubahan zaman yang cepat, tradisi mendongeng telah tergerus, berganti gadget yang menyediakan aplikasi permainan bagi anak sebagai sarana hiburan. Di Sangihe terdapat cerita rakyat berupa dongeng yang berjudul AuBukide BatuAy dan Kisah Tentang AuGumansalangiAy. Kedua cerita rakyat ini termasuk cerita AuBukide BatuAy berkisah tentang peperangan dua kerajaan, yaitu Tabukan dan Siau, karena Raja Siau menculik salah satu putri kerajaan Tabukan yang sangat Raja Tabukan marah dan mengatur siasat untuk membebaskan putrinya yang Ia mengutus salah satu panglima perang terhebat di kerajaan Tabukan untuk membebaskan dan memulangkan putri yang diculik. Strategi pemulangan putri berhasil, yang membuat Raja Siau marah. Karena permasalahan ini, kerajaan Tabukan dan Siau terus berperang. Dalam peperangan. Raja Siau selalu menang, namun terdapat satu tempat di Tabukan yang tidak bisa dimasuki oleh kerajaan Siau, yaitu AuBukide BatuAy. Tempat ini hingga sekarang ini dikenal sebagai tempat yang keramat. Cerita rakyat AuGumansalangiAy berkisah tentang seorang putra kerajaan yang berperangai buruk. Akibat perbuatannya yang sering mempermalukan kerajaan dan ayahnya sebagai raja. Sang raja pun menghukum Gumansalangi dengan cara mengasingkannya ke hutan yang lebat. Gumansalangi merasa sedih, dia berteriak begitu keras, sehingga teriakannya terdengar Raja Kayangan. Raja Kayangan merasa prihatin dan hendak menolong Gumansalangi. Dia meminta putri-putrinya untuk menolong Gumansalangi. Akan tetapi, hanya putri bungsu yang bersedia Vol 2 No 12 . : KOMPETENSI : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni turun ke bumi. Putri yang cantik menyamar, terkena penyakit kulit yang Meskipun Gumansalangi mau menerimanya. Dia dinasihati sang putri, sehingga perangainya Kedua cerita rakyat tersebut merupakan khazana sastra lisan Sangihe yang Kedua cerita rakyat ini mengandung nilai-nilai yang perlu diketahui oleh generasi sekarang, terutama aspek-aspek budayanya. Cerita rakyat Sangihe ini perlu dilestarikan dan digali makna yang terkandung, seperti nilai Kedua cerita rakyat ini menggambarkan kehidupan sosial budaya dari masyarakatnya seperti nilai-nilai budaya patuh, berbakti kepada orang tua, menghormati dan menghargai sesama, serta menghindari perbuatan yang merusak, dan yang tidak kalah penting adalah menggali nilai-nilai kebudayaan sebagai warisan tradisi yang harus dilestarikan Kedua cerita rakyat ini dapat dijadikan media pembentukan karakter menghargai budaya setempat dalam pendidikan di sekolah dan di tengah masyarakat. Lebih dari itu, kedua cerita rakyat ini memiliki berbagai pesan moral seperti jangan angkuh, jangan serakah dan jangan sombong, yang penting bagi karakter anak didik di sekolah. Adapun alasan lain peneliti mengangkat pewarisan nilai karna nilai budaya bisa dijadikan sebagai . diri dalam bertindak, di mana peneliti sendiri adalah bagian dari komunitas Sangihe yang memiliki tangung jawab melestarikan budaya Sangihe. Dengan demikian relevansi penelitian yang dilakukan ini terkait langsung dengan pemanfaatan teks sastra sebagai sumber pembelajaran nilai sebagaimana penelitian Pantow. Ratu, dan Meruntu . yang meneliti tentang nilai moral dalam teks anekdot Gus Dur bahwa teks anekdot pun dapat dijadikan sumber pembelajaran nilai kehidupan untuk pembentukan kepribadan siswa. Tujuan Mendeskrispsikan nilai budaya yang terdapat dalam cerita rakyat Sangihe AuBukide BatuAy dan AuGumansalangiAo dan . mendeskripsikan Implikasi hasil penelitian bagi pembelajaran sastra di sekolah. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Moleong . menjelaskan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan metode Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam cerita rakyat Sangihe AuBukide BatuAy, karena hasilnya merupakan gambaran-gambaran penelitian berdasarkan data-data yang kesimpulan yang sebenarnya. penelitian ini pun bertujuan untuk memecahkan masalah secara sistematis dan faktual mengenai fakta-fakta yang terdapat dalam cerita rakyat Sangihe AuBukide BatuAy. Sumber data dalam penelitian ini adalah cerita rakyat Sangihe AuBukide BatuAy dan AuGumansalangi. Ay Penelitian ini menggunakan teknik analisis isi untuk pengempulan data, karena sifat penelitian studi kepustakaan. Teknik ini digunakan untuk menggali data-data berupa kalimat dalam paragraf, yang mengungkapkan nilai Vol 2 No 12 . : KOMPETENSI : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni budaya dalam cerita rakyat AuBukide BatuAy AuGumansalangiAy. Yuris, menjelaskan bahwa analisis isi adalah teknik penelitian yang bersifat pembahasan mendalam terhadap suatu informasi tertulis atau tercetak. Pencarian data pokok sesuai maka teks merupakan objek pokok bahkan Penelitian ini menggunakan teknik analisis data kualitatatif yang dikemukakan oleh Nusa . Langkah-langkah analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah: Membaca berulang isi teks untuk memperoleh pemahaman yang utuh tentang isinya. Kodifikasi . , paragraf-paragraf kalimat dalam teks. Menyajikan data secara unsur-unsur penting sesuai permasalahan penelitian dalam teks berupa kalimat dan Verifikasi, yakni membaca ulang teks dan melakukan analisis kembali untuk unsur-unsur ditemukan sudah sesuai permasalahan Menyimpulkan hasil penelitian, yakni nilai-nilai budaya dalam teks cerita AuBukide BatuAy AuGumansalangiAy. HASIL DAN PEMBAHASAN Nilai Budaya yang terdapat dalam cerita rakyat Sangihe AuBukide BatuAy Simbol-Simbol Di tengah masyarakat terdapat simbolsimbol yang mengungkapkan makna Simbol budaya bisa berupa manusia, hewan, tumbuhan, dan tempattempat tertentu. Kadangkala simbol ini dijadikan identitas masayarakat tertentu. Simbol-simbol melambangkan Kehormatan/harga diri, memiliki kekuatan supranatural atau memiliki kekuatan gaib, sehingga menjadi tempat yang keramat. Dalam cerita rakyat AuBukide BatuAy terdapat dua simbol penting yang menggambarkan Kehormatan dan Kekeramatan, yakni AuPutri SangiangAy dan AuBukide BatuAy. Simbol AuPutri SangiangAy Putri Sangiang dalam cerita rakyat Bukide Batu digambarkan sebagai putri yang sangat cantik, sehingga dengan parasnya yang cantik memikat banyak pria. Sesungguhnya. Putri Sangiang sebagai anak raja adalah simbol AokehormatanAo dan kejayaan kerajaan Tabukan. Oleh karena, itu siapa pun yang melakukan tindakan buruk dan jahat terhadap Putri Sangiang berarti sama dengan melecehkan atau merendahkan kerajaan Tabukan, karena sebagai anak tunggal dia akan menjadi pewaris kerajaan Tabukan atau akan menjadi ratu kerajaan. Oleh karena itu, tindakan penculikan yang dilakukan oleh Raja Siau terhadap Putri Sangiang, bukan hanya dianggap sebagai kejahatan, tetapi lebih dari itu telah melecehkan dan merendahkan wibawa kerajaan Tabukan, apalagi posisi kerajaan Tabukan berada di puncak Bukide Batu. Karena itu. Raja Tabukan, sang ayah dari Putri Sangiang begitu tersinggung dan marah atas tindakan Raja Siau. Raja Tabukan memberikan perintah untuk membebaskan dan menyelamatkan Putri Sangiang, sang buah Kemarahan Raja Tabukan kepada Raja Siau atas tindakan penculikan yang dilakukan terhadap putrinya, merupakan tindakan yang tidak dapat dimaafkan karena telah mencoreng kehormatan kerajaan Tabukan. Raja Tabukan siap Vol 2 No 12 . : KOMPETENSI : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni putrinya, meskipun peperangan dengan kerajaan Siau harus terjadi. Ternyata, benar tindakan Raja Tabukan menyelamatkan Putri Sangiang membuat Raja Siau marah, sehingga memerangi kerajaan Tabukan. Akibat peristiwa tersebut, kedua kerajaan Simbol AuBukide BatuAy Dalam cerita digambarkan AuBukide BatuAy adalah sebuah tempat di perbukitan. Bukide Batu adalah pusat kerajaan Tabukan. Bukide Batu menyimbolkan kejayaan kerajaan Tabukan. Sebagai pusat kerajaan. Bukide Batu memiliki kekuatan pertahanan yang kuat, sehingga sulit Tergambar dalam cerita, peperangan yang terjadi antara kerajaan Tabukan dan Siau terus berlanjut, setelah upaya penyelamatan yang dilakukan prajurit Tabukan berhasil membebaskan dan menyelamatkan Putri Sangiang dari penculikan yang dilakukan oleh Raja Siau. Pemimpin pasukan yang memimpin upaya Putri Sangiang membawanya kembali ke kerajaan Tabukan adalah Panglima kerajaan yaitu saudara sepupu Putri Sangiang. Hal ini tergambar pada data berikut. AuRaja Tabukan pun tak kalah marah karena buah hatinya diculik, dari atas tahta kerajaannya yang konon berada Batu Bukide memerintahkan untuk membawa kembali Putri Sangiang tak peduli apapun yang harus terjadi di Siau sana nanti. AAy Namun, tindakan penyelamatan dan Putri Sangiang mengakibatkan kemarahan yang begitu besar bagi Raja Siau. Ia memerintahkan pasukan menyerang seluruh wilayah kerajaan Tabukan. Dalam pertempuran yang terjadi, ternyata kerajaan Siau lebih banyak menang, sedangkan kerajaan Tabukan lebih banyak kalah. Beberapa wilayah kerajaan Tabukan berhasi direbut dan dikuasai. Namun, ada satu tempat di kerajaan Tabukan yang tidak dapat ditaklukkan dan direbut, yaitu pusat kerajaan AuBukide BatuAy. Ada hal yang menarik dari posisi kerajaan Tabukan yang berada di puncak Bukide Batu. Sebagai pusat kerajaan. Bukide Batu merupakan tempat yang strategi untuk pertahanan militer. Karena posisinya di atas memudahkan prajurit kerajaan Tabukan mengamati gerakan prajurit kerajaan Siau, sehingga lebih mudah mengatur strategi perang yang sulit ditembus dan dikalahkan oleh kerajaan Siau. Alasan berikutnya. Bukide Batu sebagai pusat dan simbol kejayaan kerajaan Tabukan ternyata memiliki kekeramatan. Bukide Batu diyakini dilindungi oleh para dewa, sehingga merebut tempat itu, sama artinya berperang dengan para dewa yang melindungi bukit tersebut. Bukit itu memiliki kekuatan gaib yang melindungi dan menangkal setiap serangan yang datang, sehingga setiap orang Siau, apakah dia prajurit atau rakyat biasa yang mencoba mendaki bukit tersebut, pasti dia akan mati. Bahkan, ini menjadi mitos yang bertahan sampai saat ini, sehingga orang Siau takut mendatangi bukit tersebut. Sikap Dalam cerita rakyat AuBukide BatuAy nilai budaya yang bertalian dengan sikap yang begitu tampak adalah tanggung jawab dan keberanian. Sementara nilai buruk, yang bertentangan dengan norma budaya masyarakat adalah kelicikan dan tidak Vol 2 No 12 . : KOMPETENSI : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni Tangung jawab dan keberanian dalam cerita rakyat ini, tampak pada tokoh Raja Tabukan ayah dari Putri Sangiang dan Panglima perang kerajaan Tabukan atau sepupu dari Putri Sangiang. Nilai Tanggung Jawab dan Bijaksana Dalam cerita dikisahkan, akibat perbuatan Raja Siau yang licik dan jahat karena telah menculik putri kesayangan Raja Tabukan, maka sebagai seorang ayah bertanggung jawab menyelamatkan dan membebaskan Putri Sangiang dari tangan Raja Siau. Sebagai seorang raja, wajar sekali bila Raja Tabukan sangat marah atas tindakan yang dilakukan Raja Siau terhadap putrinya. Hal ini dipandang mencoreng kehormatan keluarga raja tetapi juga pelecehan terhadap kerajaan Tabukan. Karena itu, raja mengeluarkan ultimatum membebaskan putrinya dari tangan raja Siau yang licik dan jahat apa pun caranya, sekalipun dia tahu akibat dari tindakan yang dia lakukan akan terjadi perang antar dua kerajaan. Hal ini dapat ditemukan pada data berikut. AuRaja Kerajaan Tabukan ini memiliki putri yang sangat cantik bernama Putri Sangiang. Mashyur kecantikan sang putri pun terdengar hingga ke kerajaan tetangga yaitu Kerajaan Siau, raja kerajaan tersebut pun terpikat dan ingin mempersunting sang Namun Sang Putri Sangiang menolak pinangan itu karena tak suka dengan perilaku buruk Raja Siau yang punya banyak istri. Raja Siau pun geram bukan kepalang mengetahui pinangannya ditolak, tanpa pikir panjang sang raja yang gelap mata pun menculik Putri Sangiang ke kerajaannya di Siau. AAy Tindakan ayah Putri Sangiang di atas sangat beralasan karena sesungguhnya tindakan Raja Siau telah merusak nilai-nilai persahabatan dan saling menghormati. Perbuatan Raja Siau telah merusak kehormatan nama baik raja, tetapi juga seluruh kerjaan Tabukan, sehingga penculikan yang dilakukan Raja Siau tidak dapat diterima. Sikap Raja Tabukan, tidak juga serta merta menunjukkan niat untuk berperang, tetapi membebaskan Putri Sangiang adalah tanggung jawab dia sebagai seorang raja sekaligus sebagai seorang ayah. Berhasilnya Tabukan membawa Putri Sangiang ke kerajaan Tabukan, membuat raja Siau marah dan bertindak membabi butah. Dia memerintahkan prajurit kerajaan Siau menyerang kerajaan Tabukan. Keberanian Kerajaan Kesetiaan Nilai keberanian dalam cerita rakyat AuBukide BatuAy ditunjukkan oleh tokoh Panglima Perang kerajaan Tabukan, yang juga adalah sepupu dari Putri Sangiang. Nilai keberanian dia tunjukkan saat melaksanakan perintah raja untuk membebaskan dan membawa kembali Putri Sangiang ke kerjaan Tabukan. Sebagai prajurit yang handal dia membebaskan Putri Sangiang dari tangan raja Siau yang menahan putri. Ia menyamar menjadi nelayan dan mengikuti sayembara yang dilakukan raja Siau untuk mengembalikan wujud Putri Sangiang yang menjelma menjadi air. Jika, saja penyamarannya terbongkar pasti ia akan ditangkap dan dihukum mati. Keberanian dan kesetiaan Raja Siau yang kehabisan akal kemudian mengadakan sayembara untuk mengembalikan Putri Sangiang kewujud semula, siapa yang berhasil akan mendapat Vol 2 No 12 . : KOMPETENSI : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni imbalan berupa emas. Mendengar hal ini sepupu Putri Sangiang langsung ikut ambil bagian, ia tahu bagaimana mengembalikan kewujudnya yang cantik. Dan benar saja, ketika hari sayembara berlangsung Ia maju kepodium dengan membawa sebuah mangkuk untuk menaruh wujud air dari sang Putri Sangiang, mangkuk inilah yang menjadi kunci untuk mengembalikan wujud sang putri kembali ke asalnya. Kepercayaan Kepercayaan terhadap simbol-simbol tertentu yang diangap memilki kekuatan supranatural tampak pada cerita rakyat AuBukide BatuAy. Namun, kepercayaan yang tergambar pada cerita rakyat AuBukide BatuAy menganggap benda-benda atau tempattempat tertentu memiliki kekuatan gaib, sehingga benda atau tempat tersebut dianggap keramat. Bukide Batu atau Bukit Batu sebagai pusat kerajaan Tabukan ternyata memiliki kekuatan gaib. Pada saat terjadi peperangan antara kerajaan Tabukan dan Siau, ternyata dari sekian tempat atau wilayah yang tidak dapat direbut dan ditaklukkan adalah Bukide Batu. Kepercayaan masyarakat AuBukide BatuAy memiliki kekuatan gaib karena di mana tempat ini dilindungi oleh para dewa. Bahkan, mitos yang berkembang, karena kekeramatannya tempat ini tidak bisa didatangi oleh orangorang Siau. Hal ini tergambar pada data berikut ini. AuKejadian-kejadian kemudian memicu terjadinya perang antara Kerajaan Tabukan dan Kerajaan Siau. Dalam perang pihak yang sering mengalami kemenangan adalah pihak Kerajaan Siau. Namun ada satu tempat yang hingga akhir tak dapat mereka kuasai, tempat itu adalah Batu Bukide, singgasana sang Raja. Konon setiap orang Siau yang mencoba menaikinya pasti mati dan mitos itu masih berlaku hingga Ay Berdasarkan data yang dikumpulkan kepercayaan ini masih diyakini sebagaian orang yang berada di Tabukan dan Siau, yang dahulunya terlibat perang. Oleh karena itu, ada sebagian orang Siau yang enggan atau takut mendatangi Bukide Batu karena resikonya. Nilai Budaya dalam Cerita Rakyat AuGumansalangiAy Nilai-nilai budaya yang terkandung dalam cerita rakyat AuGumansalangiAy begitu penting bagi kehidupan. Nilai-nilai budaya tersebut dipaparkan berikut ini: Simbol Simbol AuGumansalangiAy merujuk pada AuPangeran GumansalangiAy. Pangeran Gumansalangi seorang ayah yang juga adalah raja. Pangeran Gumansalangi harus menerima peghukuman akibat perbuatan jahat yang sering dilakukannya. Ayahnya sebagai seorang raja harus bertindak adil kepada rakyat yang dipimpin, sehingga sekali pun anaknya sendiri dia harus hukum atas kejahatan yang dilakukannya. Hukuman mengasingkan ke hutan adalah suatu bentuk penyadaran dan pendisiplinan, supaya Pangeran Gumansalangi berubah. Simbol lain yang ditampilkan dalam cerita rakyat AuPangeran GumansalangiAy adalah hewan AuNaga SaktiAy. Naga menyimbolkan teror ketakutan, karena hewan ini diyakini dapat menyemburkan menghanguskan apa saja. Karena itu, dalam cerita ini para tua-tua yang tinggal di Vol 2 No 12 . : KOMPETENSI : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni Kotabato, berusaha menenangkan warga bahwa kilat yang mereka lihat adalah Naga Sakti, yakni hewan yang sering dinaiki oleh para raja. Hal ini tampak pada data berikut AuSebelum mereka berangkat, pertamatama naga (Pangeran Banwangun Lar. dan kedua pasang suami isteri itu terbang mengelilingi langit Cotabato pada malam Penduduk Cotabatu menjadi ribut dan gelisah karena mereka menyaksikan ada yang mengkilat di langit. Tua-tua di Cotabato menenangkan warga dan mengatakan bahwa yang mengkilat yang mereka lihat itu adalah seekor naga sakti yaitu kendaraan yang dipakai oleh rajaraja. Perkataan ini membuat penduduk Ay Simbol lain yang ditampilkan dalam cerita rakyat AuPengeran GumansalangiAy adalah sebuah tempat yang bernama AuSalurangAy. Salurang adalah sebuah tempat ke arah Timur Tampungang Lawo. AuSalurangAy disimbolkan sebagai tempat yang istimewa dan bersejarah karena di tempat itulah Pangeran Gumansalangi dan Putri Konda disambut dan dieluk-elukkan Salurang AupengagunganAy karena di tempat itu juga. Pangeran Gumansalangi dan Putri Konda disambut, dimuliakan, dan diagungkan, kemudian diganti namanya. Pangeran Gumansalangi diganti namanya menjadi AuMedeluAy yang berarti Aubagaikan GunturAy dan Putri Konda digantin namanya menjadi AuMekilaAy yang berarti Aubagaikan kilatAy. Kemudian, di tempat ini juga warga menobatkan mereka menjadi raja. Hal ini tergambar pada data di bawah ini. AuKemudian mereka turun dan pergi ke arah timur Tampungang Lawo mengikuti aliran sungai Balau. Di sana mereka dieluelukan Pangeran Gumansalangi Puteri Konda dimintakan duduk di lengan orang-orang lalu diusung dan diagungkan. Tempat itu AuSalurangAy AupengagunganAy. Oleh penduduk setempat, nama Pangeran Gumansalangi digantikan menjadi AuMedeluAy yang artinya Aubagaikan gunturAy dan Putri Konda dinamakan AuMekilaAy yang berarti Aubagaikan kilatAy. Akhirnya mereka berdua diangkat menjadi raja di Kerajaan Tampungang Lawo (Sanger Besa. sebagai raja pertama Tabukan. Ay Sikap Cerita Gumansalangi menampilkan budaya yang bertalian dengan sikap. Sikap yang tercermin dari cerita rakyat ini tampak pada sifat tokoh Dalam cerita ini sikap tegas dan adil ditampakkan oleh Raja Mindanau, yaitu ayah Pangeran Gumansalangi. Raja dalam ketegasan dan keadilan dalam menerapkan hukum kerajaan. Anaknya yang berbuat kejahatan dihukum dengan cara diasingkan ke hutan. Sikap tegas dan adil dilakukan raja seperti pada data di bawah ini. AuMenurut cerita para orang tua Sangihe, pada tahun yang belum pasti sekitar 1300 Masehi di utara kepulauan Satal pada suatu tempat bernama Kotabato di pulau Mindanao terdapat seorang putra raja yang bertabiat buruk. Namanya Pangeran Gumansalangi. Karena kejahatannya, raja mengasingkannya kedalam hutan. Di sana ia menyesali meraung-raung memohon pengampunan entah kepada siapa karena tak satupun manusia yang Ay Sikap masyarakat yang juga tercermin dalam cerita rakyat AuPangeran GumansalangiAy adalah menolong sesama yang menderita. Vol 2 No 12 . : KOMPETENSI : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni Hal ini ditunjukkan oleh Raja Khayangan dan putri bungsunya. Raja Khayangan begitu prihatin dan iba terhadap penderitaan Pangeran Gumansalangi yang diasingkan ayahnya di hutan. Karena itu, dia bermaksud menolongnya, apalagi setelah dia tahu. Pangeran Gumansalangi telah menyadari kesalahan dan kejahatan yang dia lakukan. Karena itu, untuk menolong Pangeran Gumansalangi, dia meminta salah satu putrinya, turun ke bumi dan menolong Pangeran Gumansalangi, dan bersedia menjadi istrinya. Permintaan ini diterima dengan baik oleh putri bungsu. Pangeran Gumansalangi sebagai istri. Nilai sikap hidup lainnya yang AuGumansalangiAy adalah keberanian. Nilai keberanian tampak pada tokoh-tokoh cerita yang adalah anak dan cucu Pangeran Gumansalangi sekalipun mendapat banyak tantangan. Nilai keberanian yang ditampilkan dari tokoh-tokoh cerita diwariskan kepada generasi-generasi hingga kini kepada orang-orang Sangihe, sehingga di seluruh wilayah penjuru Sulawesi utara, tersebar orang-orang Sangihe yang mengadu nasib. Implikasi Hasil terhadap Pembelajaran Sekolah Penelitian Sastra di Dari hasil penelitian yang diperoleh, sangat jelas gambaran mengenai nilai-nilai budaya yang terkandun dalam cerita rakyat AuBukide BatuAy. Nilai-nilai budaya dalam ceria rakyat AuBukide BatuAy dan AuPengeran GumansalangiAy. Nilai-nilai budaya sangat penting ditanamkan dalam diri siswa, khususnya dalam pengajaran sastra. Implikasi berkontribusi secara langsung pada pembelajaran tentang sastra di mana nilainilai budaya yang ditemukan dalam cerita rakyat AuBukide BatuAy dan AuGumansalangiAy sangat relevan dengan pendidikan karkater yang saat ini menjadi tekanan utama Kurikulum 2013, yang menekankan pada pentingnya pendidikan sikap, yang meliputi sikap religius, sikap sosial, dan Nilai budaya dalam AuBukide BatuAy dan AuGumansalangiAy bertalian langsung dengan pembentukan tiga sikap dalam Kurikulum 2013. Salah satu KD pembelajaran dalam Kurikukulum 2013 untuk siswa SMP adalah AuMenelaah teks cerita rakyat, dongeng, dan legendaAy. Oleh sebab itu, pemanfaatan cerita rakyat sebagai sumber pembelajaran tentang nilai-nilai pendidikan Kurikulum 2013. Di dalam Kurikulum juga 2013, pembentukan sikap kepribadian siswa, ditempatkan pada poin pertama untuk pencapaian hasil pembelajaran, yang bertalian dengan aspek afektif . Di sinilah keterhubungan hasil penelitian tentang nilai-nilai budaya AuBukide BatuAy dan AuGumansalangiAy. Dalam kedua cerita rakyat ini ditemukan nilai-nilai pendidikan karakter yang meliputi simbol-simbol, sikap dan Nilai-nilai karakter tersebut yang ditemukan dari AuBukide BatuAy dan AuGumansalangiAy sangat berguna bagi siswa untuk membentuk keperibadian mereka yang kuat. Hal ini sejalan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan bertujuan membangun landasan pendidikan bagi berkembangnya potensi peserta agar menjadi manusia yang: . bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia Vol 2 No 12 . : KOMPETENSI : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni dan berkepribadian luhur, . berilmu, cakap, kritis, kreatif, dan inovatif, . sehat mandiri, dan percaya diri, serta . toleran, peka,demokratis dan bertanggung jawab. Nilai Budaya dalam Cerita Rakyat AuBukide BatuAy Dari hasil analisis data diperoleh temuan nilai-nilai budaya dalam cerita rakyat AuBukide BatuAy, yakni simbol, sikap, dan kepercayaan. Dalam ceria rakyat AuBukide BatuAy terdapat dua simbol penting yang menggambarkan kehormatan dan kekeramatan, yakni AuPutri SangiangAy dan AuBukide BatuAy memiliki kekuatan gaib yang melindungi dan menangkal setiap serangan yang datang, sehingga setiap orang Siau, apakah dia prajurit atau rakyat biasa yang mencoba mendaki bukit tersebut, pasti dia akan mati. Bukide Batu di era modern sekarang ini telah dijadikan destinasi wisata karena panorama alamnya yang indah dan masih terdapat bendabenda antik di dalamnya, yang dianggap sangat keramat, sehingga tidak bisa diambil atau dicuri dan masih dipercayai hingga Nilai budaya yang bertalian dengan sikap atau perilaku ditemukan juga dalam cerita rakyat AuBukide Batu. Ay Nilai budaya ini menjadi pengikat dan pengendali bagi individu untuk bertindak. Di tengah masyarakat terdapat nilai budaya luhur yang perlu dijaga, seperti: menghormati berperilaku jujur, bertangung jawab, royong, menghormatik hak milik orang lain, dan mencintai lingkungan. Nilai budaya ini sangat penting, sejalan dengan hasil penelitian Kansil. Al Katuuk, dan Adrah . di mana cerita rakyat memiliki relevansi dengan pembentukan karakter individu melalui nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Temuan penelitian nilai budaya cerita rakyat AuBukide BatuAy mengenai sikap adalah tanggung jawab dan keberanian. Tangung jawab dan keberanian dalam cerita rakyat ini, tampak pada tokoh raja Tabukan ayah dari Putri Sangiang dan Panglima perang kerajaan Tabukan atau sepupu dari Putri Sangiang. Sikap bertanggung jawab dan berani merupakan karakter hidup yang dimiliki masyarakat Sangihe. Hasil penelitian menunjukkan nilai kepercayaan dalam cerita rakyat AuBukide BatuAy menganggap benda-benda atau tempattempat tertentu memiliki kekuatan gaib, sehingga benda atau tempat tersebut dianggap keramat. Bukide Batu atau Bukit Batu sebagai pusat kerajaan Tabukan ternyata memiliki kekuatan gaib. Pada saat terjadi peperangan antara kerjaan Tabukan dan Siau, ternyata dari sekian tempat atau wilayah yang tidak dapat direbut dan Bukide Batu. Kepercayaan masyarakat AuBukide BatuAy memiliki kekuatan gaib karena di mana tempat ini dilindungi oleh para dewa. Bahkan, mitos yang berkembang, karena kekeramatannya tempat ini tidak bisa didatangi oleh orang-orang Siau. Nilai Budaya dalam Cerita Rakyat AuGumansalangiAy Berdasarkan temuan penelitian terdapat nilai budaya simbol dan sikap dalam cerita rakyat AuGumansalangiAy. Simbol itu sendiri merujuk pada Pangeran Gumansalangi, ketegasan mendidik seorang ayah yang juga adalah raja. Pangeran Gumansalangi harus menerima peghukuman akibat perbuatan jahat yang sering dilakukan. Ayahnya sebagai seorang raja harus bertindak adil kepada rakyat yang dipimpin, sehingga sekalipun anaknya Vol 2 No 12 . : KOMPETENSI : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni sendiri dia harus dihukum atas kejahatan yang dilakukannya. Simbol seorang ayah yang tegas mendidik anak dapa dilihat dalam kehidupan masyarkat Sangihe hingga saat ini. Simbol lain yang ditampilkan dalam cerita rakya AuPangeran GumansalangiAy adalah hewan AuNaga SaktiAy. Masyarakt Sangihe zaman dahulu dan kini AuNaga SaktiAy menyimbolkan teror ketakutan, karena hewan ini diyakini dapat menyemburkan api dari mulutnya yang dapat menghanguskan apa saja. Simbol keberadaan Naga Sakti, masih dipercayai oleh masyarakat Sangihe hingga sekarang Temuan lain juga menunjukkan bahwa Simbol dalam cerita rakyat AuPengeran GumansalangiAy yang lain adalah sebuah tempat yang bernama AuSalurangAy. AuSalurangAy disimbolkan sebagai tempat yang istimewa dan bersejarah karena di tempat itulah Pangeran Gumansalangi dan Putri Konda disambut dan dieluk-elukkan Salurang AupengagunganAy karena di tempat itu juga. Pangeran Gumansalangi dan Putri Konda disambut, dimuliakan, dan diagungkan, kemudia diganti namanya. Pangeran Gumansalangi diganti namanya menjadi AuMedeluAy yang berarti Aubagaikan GunturAy dan Putri Konda diganti namanya menjadi AuMekilaAy yang berarti Aubagaikan kilatAy. Kemudian, di tempat ini juga warga menobatkan mereka menjadi raja. Salurang ini menjadi simbol budaya masyarakat Sangihe untuk mengangkat seseorang yang berjasa bagi masyarakat sebagai tokoh Hasil temuan juga menunjukkan Cerita rakyat Gumansalangi menampilkan budaya yang bertalian dengan sikap. Sikap yang tercermin dari cerita rakyat ini adalah tegas dan adil. Bersikap tegas dan adil merupakan cerminan pola kepemimpinan masyarkat Sangihe hingga kini. Temuan juga memperlihatkan sikap hidup sebagai budaya masyarakat Sangihe yang juga tercermin dalam cerita rakyat AuPangeran GumansalangiAy menolong sasama yang menderita. Praktik hidup tolong menolong mengakar kuat di tengah kehidupan masyarakat Sangihe hingga kini. Nilai sikap hidup lainnya yang ditemukan dalam cerita rakyat AuPangeran GumansalangiAy adalah keberanian. Nilai keberanian tampak pada tokoh-tokoh cerita yang adalah anak dan cucu Pangeran Gumansalangi sekalipun mendapat banyak tantangan. Nilai keberanian yang ditampilkan orang-orang Sangihe keberaniannya, sehingga di seluruh wilayah penjuru Sulawesi utara, tersebar orang-orang Sangihe yang mengadu nasib. Penggunaan cerita rakyat sebagai sumber pembelajaran karakter dapat menjadil alternatif bagi guru. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Suwasono. Pangemanan, dan Meruntu . pembelajaran nilai sikap untuk pendidikan karakter bisa bersumber dari dongeng, tidak melulu dari buku teks pelajaran atau atau mata pelajaran PKn dan Agama. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapatlah ditarik kesimpulan berikut ini. Dalam ceria rakyat AuBukide BatuAy terdapat nilai budaya berupa simbol, sikap, dan kepercayaan. Simbol tersebut menggambarkan kehormatan dan kekeramatan, yakni AuPutri SangiangAy dan AuBukide BatuAy. Simbol yang kedua AuBukide BatuAy sebuah tempat di perbukitan yang adalah pusat kerajaan Tabukan. Vol 2 No 12 . : KOMPETENSI : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni Bukide Batu menyimbolkan kejayaan kerajaan Tabukan. Bukit itu memiliki kekuatan gaib yang melindungi dan menangkal setiap serangan yang datang. Nilai budaya yang bertalian dengan sikap dalam cerita rakyat AuBukide BatuAy adalah tanggung jawab dan keberanian. Sementara nilai buruk, yang bertentangan dengan norma budaya masyarakat adalah kelicikan dan tidak menghormati. Nilai budaya dalam cerita Rakyat AuGumansalangi adalah simbol dan sikap. Simbol merujuk pada ayah AuPangeran GumansalangiAy. Ayah Pangeran Gumansalangi menyimbolkan ketegasan mendidik dan memerintah sebagai raja. Naga menyimbolkan teror ketakutan, karena hewan ini diyakini dapat menyemburkan api dari mulutnya yang dapat menghanguskan apa saja. Simbol lain yang ditampilkan dalam cerita rakyat AuGumansalangiAy adalah sebuah tempat yang bernama AuSalurangAy. Salurang memiliki arti AupengagunganAy karena di tempat ini Pangeran Gumansalangi dan Putri Konda disambut, dimuliakan, dan diagungkan, kemudia diganti namanya menjadi AuMedeluAy yang berarti Aubagaikan GunturAy dan AuMekilaAy yang berarti Aubagaikan kilatAy. Nilai budaya mengenai sikap yang tercermin dari cerita rakyat ini tampak pada sifat tokoh cerita. Dalam cerita ini sikap tegas dan adil ditampakkan oleh Raja Mindanau dan keberanian yang tampak pada tokoh-tokoh cerita yang adalah anak dan cucu Pangeran Gumansalangi sekalipun mendapat banyak tantangan. REFERENSI