Jurnal Teologi Anugerah Vol. VII No. 2 Desember 2018 ISSN 2085-532X DIPANGGIL DAN DIUTUS UNTUK BERBUAH Suatu Kajian Teologis Ae Praktis Tentang Upaya Gereja untuk Membangun MasyarakatEgaliter dalam Memelihara Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) Menyikapi Tahun Politik 2018 - 2019 Pdt. Perobahan Nainggolan. Th1 Abstrak Kehadiran Gereja dalam politik, tidak sekedar ikut serta menjadi penggembira atau penonton melainkan sebagai pemeran yang berkewajiban memberikan penilaian normatif. Penilaian yang dimaksud adalah penilaian terhadap Negara, apakah penyelenggaraan Negara dilaksanakan sesuai dengan norma-norma kebaikan dan kebenaran, contohnya: apakah hakhak azasi manusia dihargai, apakah keadilan ditegakkan, apakah hak-hak rakyat Hal ini merupakan tuntutan untuk membangun masyarakat egaliter. Allah selalu berpihak pada Rakyat lemah dan selalu menjadi korban. AuVox Populi. Vox Dei . uara rakyat adalah suara Tuha. Gereja diutus Tuhan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran serta kebaikan Allah dalam dunia, khususnya lapangan politik. Gereja tidak boleh membiarkan kekuasaan duniawi berkembang kearah yang cenderung destruktif. Oleh karena itu gereja dipanggil untuk menegakkan harkat dan martabat manusia dalam konteks pengelolaan kehidupan bersama melalui kehidupan berbangsa dan bernegara secara egaliter. Gereja melalui Pimpinan Gereja tidak tinggal diam menyikapi permasalahan dalam berbangsa dan bernegara, secara khusus yang menyangkut kemanusiaan3 Gereja ikut serta dalammengungkapkan landasan moral bagi kehidupan bernegara. Partisipasi Gereja dalam politik untuk mewujudkan kepedulian, concern dan komitmen untuk menciptakan kesejahteraan bersama. Dalam tulisan ini memberikan pencerahan tentang panggilan gereja untuk membangun masyarakat egaliter dalam memelihara keutuhan NKRI. Gereja tidak hanya berpangku tangan dalam memelihara keutuhan NKRI, melainkan terlibat dalam menyuarakan kebenaran dan keadilan demi untuk kesejahteraan bersama. Gereja hadir bukan untuk dirinya sendiri, melainkan ikut serta dalam menjunjung tinggi nilai-nilai pancasila dalam terang Kristiani. Gerejaterpanggil secara aktif dan kreatif dalam usaha mencegah segala hal Saat ini menjabat sebagai Waket 3 bidang Kemahasiswaan di STT GMI Bandar Baru Robert Borong. Etika Politik Kristen (Jakarta: Unit Publikasi dan Informasi STT Jakart. , 9 Soedjati Djiwandono. Gereja dan Politik (Yogyakarta: Kanius, 2. , 46 Jurnal Teologi Anugerah Vol. VII No. 2 Desember 2018 ISSN 2085-532X yang merorong pancasila sebagai dasar dan identitas NKRI. Kata kunci: Gereja. Agama. Pancasila. NKRI. Egaliter. Aktif dan Kreatif. Pendahuluan Membangun masyarakat egaliter merupakan salah satu tanggungjawab gereja dalam membangun masyarakat adil dan makmur. Pengertian egaliter yang dimaksud adalah persamaan derajat pada setiap manusia. Setiap manusia mempunyai derajat yang sama dihadapan Tuhan tanpa membedakan kedudukan, kekayaan, keturunan, suku, ras dan Egaliter berasal dari bahasa Perancis: Egal, egalite atau egalitaire yang berarti sama, tidak ada perbedaan. Masyarakat egaliter akan selalu bersikap berdiri sama tinggi duduk sama rendah, seiring sejalan, saling menghargai, saling mencintai, rela berkorban, bersifat demokratis dan dapat menikmati haknya sebagai masyarakat. Egaliter dalam masyarakat bernegara adalah kesetaraan sosial dimana semua orang yang berbeda dalam suatu masyarakat atau kelompok tertentu memiliki status yang sama. Indonesia sebagai masyakat pancasila adalah masyarakat yang religious. Bahkan Negara pancasila, seperti tercantum dalam UUD 1945 pasal 29 . Ai Negara berdasarkan ketuhananyang maha esaAn, adalah Negara religius. Walaupun demikian. Negara pancasila tidak mengenal AiNegara agamaAn maupun Aiagama Negara. Oleh karena itu, sebagai akibat menerima pancasila berarti juga tidak ada mayoritas dan Dengan kata lain, gereja menolak pengertian kata mayoritas dan minoritas dari segi suku, agama dan ras. Dalam menetukan kehidupan dan strategi bangsa tidak boleh ditentukan oleh mayoritas dan minoritas. Gereja sebagai bagian dari Negara tidak perlu memiliki etika politik khusus. 7 Cita-cita Diakses dari https://w. id/2016/10/pengertian-egaliter. html pada tanggal 4 Mei 2018, pukul 00 wib. Indonesia bukan Negara agama atau agama Negara, maksudnya adalah Indonesia tidak mengenal dan mengakui satu agama saja melainkan enam agama yang sudah diakui keberadaanya, yaitu: Islam. Kristen Protestan,Kristen Katolik. Budha. Hindu dan Konfucu. Ketuhanan yang maha Esa adalah suatu ungkapan keyakinan bahwa Negara itu dibentuk berdasarkan atas kodrat sosial, yaitu manusia yang diciptakan Tuhan. Menurut Gereja, sila pertama dalam pancasila merangkumkan kepercayaan dan takwa kepada Tuhan yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing. Octavianus. Kepemimpinan Kristen Dalam Negara Pancasila (Malang: YPPII, 1. , 30 Tidak perlu memiliki politik khusus maksudnya, bahwa gereja sebagai bagian Negara dari tidak perlu mencari etika politik lain, selain Pancasila. Pancasila adalah satu-satunya etika politik yang cocok bagi gereja, sebab Jurnal Teologi Anugerah Vol. VII No. 2 Desember 2018 ISSN 2085-532X Pancasila amat sesuai dengan keberadaan gereja. Oleh karena itu gereja harus mendukung sepenuhnya dan berdiri di belakang pancasila. Pancasila merupakan unsur kunci kesatuan Semua komponen bangsa akan bersatu dalam satu bangsa dan Negara apabila semua memiliki komitmen menerima keberadaan pancasila. Tidak dapat dipungkiri, bahwa ancaman terhadap Pancasila sebagai dasar Negara oleh kaum ekstrem, fundamentalis, picik agamais, radikalis dan lain-lain mencoba untuk mengganggu dan merong rong Pancasila sebagai identitas dasar Negara. Gereja sebagai sabagi bagian integral dari bangsa memiliki peran dan tanggung jawab yang besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Gereja tidak bersikap apatis dan hanya menjadi penonton melainkan ikut memberikan kontribusi yang nyata bagi Negara. Dengan demikian pancasila dapat tetap eksis berdiri dan kokoh sebagai identitas bangsa. Peran serta gereja di tengah Masyarakat Dengan kebebasan beragama berarti bahwa Negara pancasila menjamin kebebasan tanpa Kebebasan harus diletakkan di dalam kerangka dan batas kesatuan serta persatuan bangsa yang merupakan satu sendi utama dari jiwa pancasila itu sendiri. Oleh karena itu prinsip tersebut berdampingan dan bertalian erat dengan prinsip yang kedua, yaitu prinsip kerukunan beragama. Gereja dan Negara merupakan dua entitas yang masing-masing bebas. otonom, berdiri Gereja dan Negara tidak dipahami bahwa yang satu tidak membawahi yang lain, namun demikian tidak berarti keduanya terpisah sama sekali. Negara . mempunyai tanggung jawab dalam kehidupan kehidupan keagamaan, yaitu: pertama. Negara bertanggungjawab untuk menjamin, melindungi bahkan membantu secara aktif kehidupan serta perkembangan kehidupan gereja. Kedua. Negara bertanggungjawab menjaga kerukunan dan mencegah hal-hal yang dapat merusak kerukunan antar umat beragama termasuk di dalamnya gereja. Pada sisi lain, gereja juga mempunyai peranan, tempat dan fungsi yang sah dalam Negara Pancasila. Gereja mempunyai peranan yang cukup menentukan untuk mengawasi agar tidak ada produk legislatif maupun kebijakan eksekutif yang bertentangan dengan gereja. Gereja didalamnya telah tercantum nilai-nilai dasar, cita-cita dan norma-norma yang hidup bersama dan saling menerima sebagai wujud dari masyarakat egaliter. M Pattiasina. Tekar Mekar di Bumi Pancasila, (Jakarta: BPK Gunung Muli. , 310-311 Jurnal Teologi Anugerah Vol. VII No. 2 Desember 2018 ISSN 2085-532X mempunyai peranan yang amat menentukan didalam meletakkan kerangka landasan moral dan etik masyarakat di tengah-tengah bangsa. Bangsa Indonesia pada umumnya dan umat Kristen pada khususnya mesti menjadi warga Negara yang bertanggungjawab. Artinya warga Negara turut bertanggungjawab atas maju mundurnya Negara ini. Tanggung jawab itu dapat dilakukan apabila kita mempunyai keinsafan kenegaraan. Keinsafan Negara dapat bertumbuh jika terdapat keinsafan 9 Lebih lanjut Leimena mengatakan, secara kongkret kita tidak dapat mengatakan bahwa kita adalah warga Negara Indonesia, kalau kita tidak insaf bahwa kita adalah anggota dari suatu organisasi yang bernama Negara Indonesia dan kita tidak insaf bahwa kita adalah anggota dari suatu perekutuan yang disebut bangsa Indonesia. Umat Kristen bukanlah kelompok suatu minoritas dilihat dari sudut ketatanegaraan. Mereka bukan warga kelas dua atau kelas tiga. Mereka mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan orang lain. Kesadaran berbangsa akan membawa orang kepada perasaan memiliki Negara ini. Perasaan memiliki hanya dapat bertumbuh dan berkembang apabila keadilan dan kebenaran diberlakukan dan jika setiap orang dilindungi oleh penegak hukum yang sungguh- sungguh. Tentu saja hak harus dibarengi oleh kewajiban. Namun kewajiban akan dipenuhi kalau setiap orang sunguh-sungguh merasakan Negara Indonesia sebagai miliknya sendiri. Kewajiban membayar pajak misalnya, pasti akan dipenuhi apabila orang yakin bahwa segala penghasilan pajak benar-benar digunakan untuk kepentingan umum dan tidak menyeleweng ke saku oknum- oknum yang tidak bertanggungjawab. Dukungan Gereja Pada Pancasila Sebagai Dasar Negara Melihat nilai-nilai yang terkandung di dalam pancasila sebagai dasar praktek dalam hidup bemasyarakat, berbangsa dan bernegara yang mempunyai nilai-nilai yang diperjuangkan oleh gereja. Oleh karena itu, gereja harus mempunyai nilai yang positif terhadap pancasila. Ada beberapa alasan, mengapa gereja mendukung Pancasila, yaitu: 1 Nilai-nilai pancasila dalam terang iman Kristian. Nilai-nilai pancasila yang tumbuh dan berkembang dari kebudayaan Indonesia Indonesia sangat dihargai oleh nilainilai kristiani. 2 Bhineka Tunggal Ika. Dukungan gereja terhadap pancasila timbul dari kesadaran A Yewango. Iman. Agama dan Masyarakat, (Jakarta: BPK Gunung Muli. , 186 Jurnal Teologi Anugerah Vol. VII No. 2 Desember 2018 ISSN 2085-532X yang dalam bahwa Pancasila mengandung nilai-nilai kemanusiaan yang terungkap dalam perkembangan kehidupan dan sejarah bangsa. Bhineka Tunggal Ika dalam terang pancasila merupakan kesadaran bangsa Indonesia untuk bersatu. Dalam kaitannya dengansila ke tiga menyatakan agar dihindari diskriminasi. Diskriminasi tidak dibenarkan di Negara pancasila. Gereja sangat dibutuhkan untuk membangun manusia seutuhnya di tengah-tengah bangsaini, sehingga gereja mempunyai tanggungjawab rangkap tiga yaitu: Tanggung jawab terhadap Tuhan yang telah memberi amant agung unuk mengabarkan Injil kepada segala bangsa dan segala suku bangsa yang belum mendapat kabar baik. Oleh karena itu, tanggungjawab awal bahwa gereja harus menyiapkan dan memanfaatkansumber daya manusia untuk tugas ber-misi. Gereja mempunyai tanggungjawab terlibat dalam hal pelayanan lintas budaya, yakni aktif dalam menumbuhkembangkan potensi-potensi yang ada di daerah tertentu. Gereja harus memberi dukungan yang real terhadap daerah suku atau budaya yang masih terbelakang, contohnya: memberikan penyuluhan pertanian, peternakan dan kerajinan tangan. Gereja harus menciptakan suasana yang kondusif di tengah masyarakat. Gereja hadir untuk terlibat dalam hal-hal pelayanan sosial sehingga gereja dikenal dari pelayanan sosial di tengah masyarakat. Contohnya: gereja ikut dalam pelayanan panti asuhan, anak- anak yang putus sekolah, korban banjir dan lain sebagainya. Pengaruh Gereja Pimpinan Gereja sebagai bagian dari Pemimpin Masyarakat Salah satu peranan pemimpin gereja di tengah masyarakat adalah membangun komunikasi dan adaftasi di daerah tempat melayani. Komunikasi merupakan perkara penting dalam kepemimpinan gereja. Sosok pemimpin gereja di tengah masyarakat perlu memahami dan memiliki manajerial kreatifitas. Manajerial kreatifitas adalah orang yang memiliki kemampuan dan kecakapan atau keahlian dalam bidang tetentu. Kreatifitas berarti kemampuan untuk mencipta atau daya cipta yang berkreasi. John Maxwell, menjabarkan ada 7 . fungsi manajerial kreatifitas pemimpin gereja dalam dalam masyarakat dalam mencapai tujuannya yaitu: . Eko Budi Susilo. Gereja dan Negara, (Malang: Averoes,2. , 34-35 Jurnal Teologi Anugerah Vol. VII No. 2 Desember 2018 ISSN 2085-532X Meneladani integritas dengan setiap orang yang berhubungan dengan pemimpin. Hal yang terpenting adalah bagaimana sikap seorang pemimpin dalam menentukan komunikasi dan interaksi terhadap bawahannya. Integritas seorang pemimpin menunjukkan sikap dia akan dihormati oleh orang-orang yang dipimpinnya di tengah Menghargai orang lain. Seorang pemimpin harus menunjukkan sikap yang menghargai orang lain dan melalui penghargaan yang diberikan kepada bawahan akan menimbulkan semangat pada orang yang dipimpinnya dan orang lain. Mampu mendengar pendapat orang lain supaya pemimpin dapat membangun hubungan yang baik dengan bawahan dan orang lain. Seorang pemimpin yang kreatif harus mau belajar dari siapa saja termasuk bawahannya. Memperlengkapi anggota supaya anggota mampu memahami siapa diri mereka Gereja harus mampu memperlengkapi anggotanya dengan cara memilih konsep danpemahaman untuk mengembangkan potensi orang lain. Oleh karena itu orang lain akan dapat memahami siapa diri mereka sendiri. Adanya system pengkaderan terhadap pemimpin yang akan datang, gereja harus mampu mempersiapkan pemimpin baru untuk menggantikan dirinya. Dalam konteks gereja Aegereja di Indoneia, gereja sebagai persekutuan kristiani dipanggil untuk suara-suara perjuangan, antara lain: Gereja dititahkan oleh Allah menjadi wakil-wakil di hadapan Allah dan Tuhan sejarah untuk berdoa agar masyarakat yang menderita dan tertindas Gereja dititahkan oleh Tuhan Yesus Kristus untuk hidup diantara mereka yang tertindas, yang miskin. Gereja dipanggil agar berdiri tegak dan mengumandangkan suara kebenarankepada pihak penguasa sebagaimana dahulu dilakukan dihadapan Pontius Pilatus dari kekaisaran Romawi. Gereja juga dipanggil untuk berparstisipasi dalam gerak transformatif karakter. Gereja berjuang bagi transformatif di dunia ini. Oleh karena itu gereja bertekad untuk berjuang dan hidup diantara sesama rakyat yang tertindas dan miskin. Gereja berjuang menentang penindasan politik dan berpartisipasi dalam transformasi sejarah, sebagai gereja yang mesianis. Hakekat dan Panggilan gereja terhadap Negara Gereja ialah persekutuan orang-orang yang percaya kepada Yesus Knistus, yang Jurnal Teologi Anugerah Vol. VII No. 2 Desember 2018 ISSN 2085-532X dipanggil, dihimpun, dikuduskan dan ditetapkan Allah dengan Roh Kudus. Kor l:2. l Ptr 2:9. Ef. 1:21. 1 Kor. Gereja adalah kudus. Alasan dan kekudusan Gereja bukan karena kekudusan anggotanyasendiri-sendiri, melainkan karena kekudusan Kristus, kepala Gereja itu. Gereja adalah kudus karena dikuduskan oleh Kristus dan karena itulah Allah memandangnya kudus. Karena kekudusan inilah Gereja disebut Aibangsa yang kudusAn. AiBait Rohul kudusAn dan AiBait AllahAoAo . Ptr 2:9. Ef 2:22. Why 1:6. Ef. 3:21. 1 Kor 3:. Yesus Kristus Kepala Gereja itu, adalah kudus. Dialah yang ditinggikan untuk selamanya di tempat Yang Mahamulia dan Yang Mahakudus. Karena Kepala Gereja itu kudus, maka gereja itu pun kudus. Jadi kekudusannya tidak bergantung pada kesucian anggota-anggotanya. Gereja itu adalah am, artinya ia adalah persekutuan semua orang kudus yang telah percaya di dalam Yesus Kristus dan pemberiannya, yaitu Injil. Roh kudus. Iman. Kasih, dan pengharapan. Gereja itu juga adalah Esa. Azas untuk keesaan ialah Efesus 4:4. 1 Kor 12:20 tubuh itu, yaitu gereja, adalah esa keesaan yang dimaksud bukanlah keesaan duniawi melainkan keesaan Gereja-gereja perlu keluar dari berbagai bentuk keterbatasannya, sehingga gereja di Indonesia itu bersama-sama menjadi gereja bagi semua orang di Indonesia ditengah-tengah pembangunan Nasional, menjadi terang dan menegakkan keadilan sosial dan juga menurut keaktipan menjembatani berbagai kesenjangan sosial yang timbul akibat kesewenangan pihak tertentu. 1 Panggilan Tritugas Gereja Marturia (Bersaks. Menurut kesaksian Perjanjian Baru bersaksi merupakan pelayanan yang sukar, suatu pelayanan yang meminta penderitaan dan pengorbanan. Yesus berkata kepada muridAimurid bahwa mereka akan hidup seperti domba di tengahAitengah serigala (Mat. 10: . Perkataan Yesus memang benar telah terjadi, saksiAisaksi itu banyak menderita seperti Paulus. Petrus. Stefanus dan lain-lain. Dalam Alkitab juga memberitahukan bahwa Injil tidak pernah terhalang betapapun terjadi penderitaan bahkan, penganiayaan. Lumbantobing A. Makna Wibawa Jabatan Dalam Gereja Batak, (Jakarta: BPK Gunung Mulia. Tim Peneliti. Persepsi Terhadap Tugas Panggilan Gereja dan pengaruhnya bagi pertumbuhan gereja, (Medan: IAKPSU, 1. , 11 Jurnal Teologi Anugerah Vol. VII No. 2 Desember 2018 ISSN 2085-532X Selanjutnya Abineno menyatakan bahwa AiPenyaksian jemaat akan Firman Allah itu berlangsung di dalam dunia, di antara orang-orang yang belum percaya kepada Yesus KristusAn Oleh karena itu, belum menjadi anggota ekklesiaNya, mulai dari Yerusalem sampai ke ujung bumi (Kis 1 : 8 ). Dalam Mat. 28 : 19, orangAiorang yang belum percaya kepada Yesus itu disebut ta ethne dalam bahasa Indonesia Asegala bangsa maksudnya bukan bangsaAibangsa dalam arti sosial-ethnis, tetapi dalam arti hedilshistoris yaitu sejarah keselamatanAo. Koinonia (Persekutua. Persekutuan memiliki dimensi makna seperti yang terletak dalam doa Yesus supaya mereka menjadi satu (Yoh 17:21-. Persekutuan juga dimaksudkan guna menyatakan di Persekutuan vertikal atau persekutuan dengan Tuhan Yesus, membawa dampak positif bagi persekutuan horizontal yaitu dengan sesama manusia. Diakonia (Pelayana. Dalam Perjanjian Baru mempunyai arti yang luas dimana dalam I Kor 12 : 5 Paulus mengatakan bahwa ada berbagai-bagai diakonia tetapi Tuhan adalah satu. berbagai-bagai diakonia tetap dimaksudkan segala bentuk kehidupan jemaat. Dalam Efesus 4:12 mempunyai arti yang sama yakni Oikodome yaitu semua jemaat terpanggil mengambil bagian dalam gereja. Disamping diakonia dalam arti yang luas ada juga diakonia dalam arti yang khusus yaitu pelayanan serta tanggung jawab terhadap orang-orang yang membutuhkan bantuan seperti: orang-orang sakit, orang hukurnan, orang-orang miskin. Model Teologi Gereja di Indonesia Model pembangunan dan Liberatif Model ini sangat menekankan pentingnya pembangunan nasional sebagai pengamalan ideologi Pancasila. Mereka yang menganut model ini mempunyai keyakinan yang kuat bahwa proyek pembangunan ideologis di bawah kekuasaan hegemoni rezim Orde Baru adalah sebuah proyek modernisasi Indonesia yang sangat menjanjikan. Itulah sebabnya mereka tidak ragu-ragu lagi mengklaim bahwa segala macam penyakit sosial di dalam masyarakat Indonesia, seperti kemiskinan, ketidakadilan sosial, kebodohan dan keterbelakangan dapat diatasi melalui pelaksanaan pembangunan nasional sebagai Tim Peneliti. Persepsi, 12 Jurnal Teologi Anugerah Vol. VII No. 2 Desember 2018 ISSN 2085-532X pengamalan Pancasila secara konsekuen dan bertahap. Model ini sangat menonjol di dalam naskah-naskah teologis resmi Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI). Model teologi sosial ini adalah model yang sebaliknya dari model pertama di atas Model ini menekankan bahwa pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila ternyata tidak memihak kepada nasib rakyat kecil, miskin dan tidak berdaya. Model Pemberdayaan Masyarakat dan Ekologis Model teologi sosial ini sangat menonjol selama dasawarsa 90-an. Model ini terkait dengan isu sosial yang saling terkait di dalam kehidupan sosial di Indonesia, yaitu isu tentang kerusakan lingkungan hidup dan pelanggaran HAM berupa manipulasi hak-hak politik rakyat, perampasan hak-hak tanah dan ketidakadilan gender. Sebagai respons terhadap realitas sosial ini maka wacana teologis sosial yang dipandang penting ialah wacana bagaimana pemberdayaan masyarakat agar menyadari hak-hak politiknya dan menjadi subyek di dalam kehidupan, tanpa harus merusak lingkungan alam di mana manusia itu Maka isu teologis yang terkait dengan wacana ini ialah pentingnya pengembangan civil society, kesetaraan gender, dan pelestarian lingkungan hidup. Kalau kita memperhatikan naskah-naskah teologis resmi PGImaka kita akan menemukan di situ bahwa isu-isu teologis inipun hanyalah apendiks di dalam pembangunan ideologis. Malahan wacana tentang civil society tidak mendapat perhatian. Sekalipun demikian kita boleh mencatat beberapa teolog yang menganggap isu-isu teologis sosial ini sebagai masalah teologis yang Model Pluralis: Menjadi Komunitas Iman yang Terbuka Model ini berkaitan dengan kesadaran Gereja-gereja dan umat Kristen Protestan di Indonesia bahwa mereka bukanlah "agen tunggal" untuk menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah di dunia ini. Gereja-gereja di Indonesia hanyalah "salah satu agen" dari "agen-agen" Allah dalam menyatakan Kerajaan-Nya atau pemerintahan-Nya sebagai pemerintahan yang menegakkan kebebasan, keadilan, perdamaian dan persatuan di dunia ini, termasuk di Indonesia. Panggilan Gereja Dalam Konteks Indonesia Secara umum Gereja mempunyai tiga tugas utama . Gereja di dunia ini yaitu: Marturia . Koinonia . , dan Diakonia . , tugas pokok ini menjadi rohgereja dalam pelayanannya. Dalam gereja Roma Katolik dikenal dengan empat Jurnal Teologi Anugerah Vol. VII No. 2 Desember 2018 ISSN 2085-532X fungsi dasariah gereja yaitu: . melalui persekutuan (Koinoni. , . melalui pelayanan Iman (Leitourgi. melalui pemberitaan Injil (Kerugm. dan melalui pelayanan (Diakoni. Gereja-gereja dalam konteks Asia mengandung 3 . konteks yaitu: konteks budaya. Gereja dan Alkitab. Ketiga unsur-unsur ini dapat dilihat cecara aktual dialami . dan bagaimana hal ini dihayati dalam sejarah . lokal maupun Dalam perjumpaan dengan Injil. Gereja mengenal Yesus wujud kuasa belas kasih Allah sehabis-habisnya sampai menanggung penderitaan dan wafat di kayu salib. Kejahatan dan kekerasan tidak berasal dari Allah melainkan dari manusia. Dalam peristiwa Yesus itu kita jumpai gambaran dan pesan mengenai hubungan Allah dengan selama yang bebas demi pembalasan dan kekerasan. Allah tidak menghendaki korban dan tumbal, malainkan memanggil kita untuk ikut serta dalam hidup,salib dan kebangkitan Yesus. Gagasan tentang ekklesia sudah ada dalam rencana Yesus sejak permulaan pekerjaannya, seperti yang sudah dinyatakan dalam pemerintahannya mengenai kerajaan sorga yang mempunyai tema sentral bahwa pemerintahan Allah telah dimulai. Yesus memanggil dua belas orang untuk menjadi bangsa Allah didalam kerajaannya. 16 Dengan datangnya kerajaan Allah, orang kafir juga diundang untuk ambil bagian dalam keselamatan yang sudah datang itu. 1 Gereja Sebagai Sakramen keselamatan Universal dalam Sejarah Gutierrez menekankan, bahwa gereja adalah suatu sakramen keselamatan yang Universil,yaitu suatu tanda anugerah keselamatan yang kelihatan bagi seluruh dunia. Gereja menyatakan kepada realitas Aikesatuan dengan AllahAn dan Aikesatuan seluruh umat manusiaAn. Gereja hanya dapat dimengerti dalam hubungannya dengan realitas yang dinyatakan kepada manusia keberadaan gereja bukanlah untuk dirinya sendiri tetapi untuk orang lain. Pusat gereja bukanlah di dalam dirinya sendiri, tetapi diluar dirinya, yaitu didalam karya kristus dan rohnya. 2 Gereja Sebagai persaudaraan Kristen di dunia Dalam konteks gereeja-gereja di Indonesia, tugas gereja yang utama adalah Beding Marcel. Gereja Indonesia pasca Vatikan II. (Yogyakarta:Kanisius, 2. , 446 Ibid, 447 M Hunter. Memperkenalkan Theologia Perjanjian Baru, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1. , 41-43 Jurnal Teologi Anugerah Vol. VII No. 2 Desember 2018 ISSN 2085-532X merayakan dengan sukacita anugerah keselamatan Allah terhadap manusia yang digenapi melalui kematian dan kebangkitan Kristus. Inilah Ekaristi (Perjamuan Kudu. : suatu peringatan dan pengucapan syukur. Ekaristi adalah peringatan syukur karena kasih Allah yang diungkapkan dalam peristiwa- peristiwa keselamatan dalam hidup Kristus. Karya penyelamatan Kristus di dunia yang menciptakan persaudaraan manusia yang amat mendalam, inilah yang menjadi dasar bagi kehidupan dan keberadaan gereja. Gereja harus terlibat dalam usaha kearah kesatuan dunia sebab kerajaan Allah ada Oleh karena itu gereja adalah alat untuk menandakan realitas kerajaan Allah yang telah mulai dari sejarah. Dalam konteks gereja-gereja di Indonesia yang sarat dengan caracara politik, maka ada3 . rangkap tugas panggilan gereja yaitu: Tugas kenabian Dari perspektif Alkitab, hal yang perlu di ketahui pihak-pihak yang terjun dalam dunia pollitik adalah mengenal siapa Allah itu dan bagaimana caranya Ia bertindak. Gereja dapat memenuhui suatu misi yang penting didalam memantau semua kebudayaan pemerintah untuk memangku terlalu banyak kekuasan atau mengangap bahwa bahwa dirinya berperan seperti Mesias. Dalam menanggung penderitaan, berat dan kematian Martir, gereja telah menjadi sarana kenabian yang kuat melawan klaim-klaim politik yang pongah dan penindasasn politik yang kejam. Satu peringatan yang perlu disuarakan ialah didalam menjalankan peran kenabiannya, gereja tidak mencari kekuatan atau Privitase bagi dirinya Didalam mengemban peran kenabian, gereja tidak boleh melayani kepentingan sendiri, hanya kepentingan berita yang dipercayakan kepadanya. Tugas hamba Gereja terpanggil untuk memanjatkan doa syafaat bagi para pemimpin pemerintah pada semua tingkat, bukan saja pada kesempatan formal, melainkan juga dalam kehidupan doa perorangan dan kehidupan doa bersama dari anggota-anggotanya. Gereja . rang kriste. dipanggil untuk terlibat aktif untuk bekerja merelakan talenta, pengalaman dan pendidikan untukdidayagunakan demi masyarakat sipil tanpa mengharapkan imbalan uang yang besar. Tugas penginjilan Gustavo Guttierrez. A Theology of Liberation. New-York: Orbis Book, 1979, hlm. Jurnal Teologi Anugerah Vol. VII No. 2 Desember 2018 ISSN 2085-532X Tidak dapat dipungkiri bahwa pekabaran Injil mempunyai dimensi politik. Pada waktu yang besamaan, kegiatan politik dilakukan oleh orang yang perlu mendengar bagi mereka sendirikabar baik tentang Yesus Kristus. Pekabaran Injil juga menunjuk pada realitas suatu kuasa yang mentransformasikan yang melebihi kehidupan politik sehari-hari. Gereja harus bersaksi melawandunia kepalsuan. Dalam skala Gereja lokal. Nasional dan Global tugas gereja hendaknya membangun generasi Profesional mandiri yang berwawasan sosial, ada beberapa hal program-program Gerejawi yang perlu kita kembangkan yaitu: Memperluas wawasan pelayanan dari pelayanan yang bersifat ritual atau ceremonial ke suatu pelayanan menyeluruh dan juga meliputi hal-hal yang etis. Gereja-gereja perlu membentuk community centre. Dengan dibangunnya sarana-sarana untuk pelayanan umat dan pelayanan sosial maka umat Tuhan dapat dibimbing untuk melihat bahwa menolong adalah tugas dan panggilan orang Kristen. Memperluas pengertian Diakonia sehingga meliputi orang diluar gereja. Pelayanan gereja hendaknya pelayanan diaonia yang inklusif bukan Diakonia yang ekslusif. Diakonia inklusif artinya kita selalu membuka diri untuk menolong orang lain tanpa mengharapkan orang yang ditolong itu nantinya jadi anggota kita. Singkatnya kita menolong orang bukan karena kita menargetkan bahwa yang kita tolong itu dikemudian hari masuk Kristen, itu sudah urusan lain lagi, tidak ada sangkut pautnya langsungdengan pertolongan yang diberikan. Memperluas struktur gereja sehingga meliputi baik yang parokhial maupun Gereja-gereja perlu memperhatikan kalangan-kalangan profesional seperti pengembangan sumber daya manusia. Gereja harus mengintegrasikan kegiatan parokhial dengan kegiatan kategorial sehingga menjadi seimbang. Kegiatan kategorial diperluas meliputi bidang-bidang diluar unit keluarga, sehingga bisa menunjang usaha mengembangkan sumber daya manusia yang sesuai dengan yang dicita-citakan. KESIMPULAN Melalui tulisan ini, penulis membuat 3 . point penting sebagai kesimpulan J Andrew Kink. Apa itu Misi? Suatu penelusuran Teologis, ( Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 302-304. Jurnal Teologi Anugerah Vol. VII No. 2 Desember 2018 ISSN 2085-532X Gereja-gereja di Indonesia mempunyai peranan yang memberi landasan moral, mental, etik dan spiritual bagi pembangunan nasional yang dipahami sebagai pengamalan pancasila. Oleh karena itu gereja-gereja di Indonesia terpanggil menjadi alat damai sejahtera masyarakat Indonesia. Gereja bukan berdiam diri dan menganggap diri minoritas, melainkan ikut serta dalam memelihara keutuhan NKRI di bumi pancasila sebagai kapasitas gereja yang diutus untuk melayani dan berbuah . Samuel 2:. Gereja-gereja di Indonesia sebagaima tugas dan Misi utamanya: Bersaksi. Bersekutu dan melayani diwujudkan dalam konteks Indonesia. Gereja ada bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk orang lain . aluran berka. Oleh karena itu gereja ikut berpartisipasi untuk memberi solusi dan persoalan-persoalan sosial baik ditingkat lokal, nasional maupun global. Gereja ikut membrantas diskriminasi bangsa dan membangun masyarakat yang egaliter. Gereja hadir sebagai pembebas bagi masyakat yang lemah dan kaum Miskin. Sebagaimana Yesus dalam pelayananNya pro kepada yang lemah, demikian juga gereja hadir untuk pelayanan kepada kaum yang lemah. Gereja harus mampu menyuarakan kenabian di tengah-tengah pemerintahan yang tidak berkeadilan. Oleh karena itu kaum lemah dan kaum miskin dapat merasakan damai, adil dan sejahtra lewat pelayanan gereja. Gereja ikut menjadi agen perubahan untuk kesejahtraan Memilih pemimpin yang egaliter dan takut akan Tuhan serta mendukung kebijakan pemerintahan untukkepentingan rakyat. DAFTAR PUSTAKA