Vol. No. November 2025, hal, 205-214 https://doi. org/10. 54214/efada. Vol2. Iss02. Revitalisasi Fungsi Masjid melalui Pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) dalam Penguatan Praktik Keagamaan Masyarakat Dusun Klepu. Desa Planjan. Kabupaten Gunungkidul Muhammad Fadillah Pratama. Abdurrahman Al-Amudi. Sekolah Tinggi Agama Islam Ali bin Abi Thalib Surabaya. Indonesia E-mail:. muhammadfadiltama22@gmail. com, . abdurrahmanamudi123@gmail. Info Artikel Kata kunci : Asset-Based Community Development Revitalisasi masjid kesadaran keagamaan TPQ pemberdayaan masyarakat Penulis Koresponden : Muhammad Fadillah Pratama E-mail : muhammadfadiltama22@gmail. ABSTRAK Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk merevitalisasi fungsi masjid sebagai pusat pembinaan keagamaan melalui pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) di Dusun Klepu. Desa Planjan. Gunungkidul. Permasalahan utama yang dihadapi adalah rendahnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan keagamaan, terbatasnya pemahaman dasar ibadah, serta tidak aktifnya Taman Pendidikan Al-QurAoan (TPQ). Metode yang digunakan meliputi pemetaan aset, perencanaan program, pelaksanaan kegiatan, dan evaluasi berbasis partisipatif. Program yang dilaksanakan mencakup kajian thaharah dan tata cara shalat, kajian sirah nabawiyah, kaderisasi muadzin, pengaktifan kembali TPQ, pelatihan guru TPQ, serta penyelenggaraan Festival Anak Sholeh. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman keagamaan, keterampilan ibadah, serta partisipasi masyarakat dalam kegiatan masjid. Selain itu, terjadi penguatan kapasitas kader lokal yang mendukung keberlanjutan program. Pendekatan berbasis aset terbukti efektif dalam mendorong keterlibatan masyarakat dan membangun kesadaran kolektif dalam mengelola kegiatan keagamaan secara mandiri. Dengan demikian, program ini berkontribusi dalam mengoptimalkan fungsi masjid sebagai pusat pemberdayaan umat yang berkelanjutan. PENDAHULUAN Masjid pada dasarnya memiliki peran strategis tidak hanya sebagai tempat pelaksanaan ibadah ritual, tetapi juga sebagai pusat pembinaan keagamaan dan penguatan kesadaran religius Kegiatan keagamaan yang terstruktur, seperti pengajian rutin, terbukti memiliki kontribusi dalam meningkatkan kesadaran beragama baik pada individu maupun komunitas (Zahara & Ritonga, 2024. Oktavia & Mastanora, 2. Namun, kondisi di Dusun Klepu menunjukkan adanya kesenjangan antara fungsi ideal tersebut dengan realitas yang terjadi di lapangan. Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) untukAA. Masjid Amal Muhammad Ismail yang secara fisik tergolong representatif justru belum dimanfaatkan secara optimal dalam aktivitas keagamaan harian. Partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan shalat lima waktu masih rendah, di mana pada waktu tertentu jumlah jamaah sangat Aktivitas masjid cenderung meningkat hanya pada momentum tertentu, seperti pengajian bulanan yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) atau kegiatan tabligh Tingginya antusiasme masyarakat dalam kegiatan tersebut tidak terlepas dari adanya faktor eksternal, seperti konsumsi dan bantuan sosial, yang secara tidak langsung menjadi daya tarik kehadiran masyarakat. Rendahnya partisipasi ini mengindikasikan bahwa kesadaran beragama masyarakat masih perlu diperkuat. Hal ini sejalan dengan temuan bahwa keberhasilan pendidikan agama sangat dipengaruhi oleh keterlibatan aktif masyarakat dalam kegiatan keagamaan (Sudari dkk. , 2. Berdasarkan kondisi lapangan, meskipun mayoritas warga Dusun Klepu beragama Islam, masih terdapat sebagian masyarakat yang belum mampu melaksanakan ibadah dasar secara optimal. Selain itu, program Taman Pendidikan Al-QurAoan (TPQ) yang sebelumnya pernah berjalan juga tidak lagi aktif, sehingga mengurangi akses masyarakat terhadap pembelajaran keagamaan dasar. Padahal, metode pembelajaran Al-QurAoan yang tepat, seperti metode IqroAo atau pendekatan sistematis lainnya, terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-QurAoan (Mustofa. Faktor sosial-ekonomi turut memengaruhi kondisi tersebut. Mayoritas masyarakat berprofesi sebagai petani dengan intensitas kerja yang tinggi, sehingga berdampak pada keterbatasan waktu dan energi untuk mengikuti kegiatan keagamaan. Di sisi lain, masih terdapat potensi positif berupa adanya keinginan sebagian masyarakat untuk mempelajari ilmu agama. Akan tetapi, keterbatasan sumber daya manusia dan minimnya tenaga pendidik menjadi kendala dalam pengembangan kegiatan keagamaan. Kondisi ini menunjukkan pentingnya pendekatan berbasis potensi masyarakat, seperti pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD), yang menekankan pada pemanfaatan aset dan kekuatan lokal dalam pemberdayaan masyarakat (Garcya, 2. Selain itu, pemilihan metode pembelajaran juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan partisipasi dan minat belajar masyarakat. Pendekatan yang interaktif, seperti ceramah yang dikombinasikan dengan diskusi dan tugas, terbukti mampu meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran (Maurin & Muhamadi, 2. Bahkan, penggunaan media pembelajaran yang variatif, termasuk media audiovisual, dapat memberikan dampak positif terhadap minat dan pemahaman peserta dalam kegiatan keagamaan (Shafira dkk. , 2. Dengan demikian, diperlukan strategi pembelajaran yang adaptif dan kontekstual sesuai dengan kondisi masyarakat Dusun Klepu. Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA A Muchamad Syaifudin dkk. Berdasarkan permasalahan tersebut, mahasiswa KKN Al-Mubarak menginisiasi program pengabdian kepada masyarakat yang berfokus pada penguatan dasar-dasar keagamaan melalui pendekatan yang partisipatif dan berbasis potensi lokal. Program ini diharapkan mampu mengoptimalkan kembali fungsi masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan dan pemberdayaan umat. METODE PENGABDIAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD), yaitu pendekatan pemberdayaan yang berfokus pada pemanfaatan aset, potensi, dan kekuatan yang dimiliki oleh masyarakat sebagai dasar dalam proses pengembangan komunitas (Garcya, 2. Pendekatan ini dipilih karena dinilai relevan dengan kondisi masyarakat Dusun Klepu yang memiliki potensi sumber daya manusia, namun belum terkelola secara optimal dalam bidang keagamaan. Lokasi pengabdian dilaksanakan di Desa Planjan. Kecamatan Saptosari. Kabupaten Gunungkidul. Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan cakupan wilayah meliputi Dusun Klepu. Dusun Blimbing, dan Dusun Sumber. Adapun fokus kegiatan dalam penulisan ini terletak pada Dusun Klepu sebagai lokasi utama implementasi program. Sasaran kegiatan adalah masyarakat Dusun Klepu yang terdiri dari anak-anak, remaja, dan orang dewasa, dengan durasi pelaksanaan program selama satu bulan. Tahapan pelaksanaan kegiatan diawali dengan proses pemetaan aset . sset mappin. yang meliputi identifikasi potensi masyarakat, kebutuhan, serta kondisi sosial-keagamaan setempat. Tahap ini dilanjutkan dengan perencanaan program yang mencakup penentuan jenis kegiatan, alokasi waktu dan tempat, serta penetapan target capaian. Dalam proses ini, tim pengabdian juga berkoordinasi dengan Kepala Dusun sebagai pihak yang memahami kondisi masyarakat secara Setelah tahap perencanaan, kegiatan dilaksanakan sesuai dengan hasil pemetaan yang telah dilakukan, kemudian diakhiri dengan evaluasi untuk menilai ketercapaian program dan respons masyarakat (Al-Kautsari, 2. Berdasarkan hasil pemetaan aset, ditetapkan beberapa program kerja yang berorientasi pada penguatan dasar keagamaan masyarakat. Program tersebut meliputi: . kajian thaharah dan tata cara shalat, . kajian sirah nabawiyah, . kaderisasi muadzin, . Taman Pendidikan Al-QurAoan (TPQ) anak, . kaderisasi dan upgrading guru TPQ, serta . Festival Anak Sholeh. Pemilihan program ini didasarkan pada kebutuhan masyarakat sekaligus potensi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan kualitas praktik keagamaan. Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) untukAA. Pelaksanaan kajian thaharah, tata cara shalat, dan sirah nabawiyah dilakukan secara berkala setiap satu minggu sekali dengan sistem rotasi materi. Kajian thaharah difokuskan pada pemahaman konsep dasar bersuci, baik dari hadas maupun najis, yang merupakan prasyarat sah dalam pelaksanaan ibadah. Sementara itu, kajian tata cara shalat bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan praktik ibadah shalat sesuai dengan tuntunan yang benar. Adapun kajian sirah nabawiyah diarahkan untuk menumbuhkan motivasi religius melalui pemahaman sejarah perjuangan Nabi Muhammad A Adan para sahabat (Winulyo dkk. , 2. Program kaderisasi muadzin difokuskan pada pembinaan anak-anak usia sekolah dasar dan menengah pertama yang telah memiliki kemampuan dasar dalam melantunkan adzan, namun masih memerlukan peningkatan dari aspek tajwid, makhraj, dan kepercayaan diri. Kegiatan ini dilakukan melalui pendekatan praktik langsung secara individual agar peserta memperoleh umpan balik yang lebih optimal (An Nadir dkk. , 2. Selanjutnya, program TPQ anak dilaksanakan dua kali dalam satu minggu dengan materi yang meliputi pembelajaran membaca Al-QurAoan menggunakan metode IqroAo, hafalan surat-surat pendek, serta pembiasaan doa harian. Penerapan metode pembelajaran yang terstruktur terbukti dapat meningkatkan kemampuan membaca Al-QurAoan secara lebih efektif (Mustofa, 2. Untuk mendukung keberlanjutan program, juga dilakukan kaderisasi dan upgrading guru TPQ yang diikuti oleh 12 partisipan. Pelatihan ini mencakup penggunaan metode UMMI, microteaching, pemahaman huruf hijaiyah, serta pengelolaan administrasi TPQ. Sebagai bentuk penguatan motivasi dan partisipasi anak-anak, diselenggarakan kegiatan Festival Anak Sholeh yang berfungsi sebagai media apresiasi sekaligus evaluasi kemampuan Selain itu, penggunaan metode pembelajaran yang variatif, seperti ceramah interaktif dan praktik langsung, turut mendukung peningkatan keterlibatan peserta dalam kegiatan. Secara keseluruhan, metode yang diterapkan dalam kegiatan ini tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga pada proses pemberdayaan masyarakat melalui optimalisasi aset yang dimiliki. Dengan demikian, diharapkan program yang dilaksanakan tidak bersifat sementara, melainkan dapat berkelanjutan dan dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat Dusun Klepu. HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan program pengabdian berbasis pendekatan ABCD menunjukkan adanya penguatan aset sosial-keagamaan masyarakat Dusun Klepu secara bertahap. Pendekatan ini menekankan pada identifikasi dan optimalisasi potensi lokal sebagai basis pemberdayaan, sehingga masyarakat berperan aktif dalam proses perubahan sosial. Secara konseptual, pendekatan ini sejalan dengan teori pemberdayaan berbasis aset yang menekankan bahwa pembangunan yang efektif harus Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA A Muchamad Syaifudin dkk. berangkat dari kekuatan internal komunitas, bukan dari ketergantungan eksternal (Permay. Octaviany, 2. Dalam perspektif yang lebih luas, hal ini juga berkaitan dengan konsep community-driven development yang terbukti mampu meningkatkan keberlanjutan program karena adanya rasa kepemilikan dari masyarakat (Luhukay & Athalia Pakpahan, 2. Dengan demikian, keberhasilan program ini tidak hanya terletak pada output kegiatan, tetapi pada terbentuknya kesadaran kolektif masyarakat dalam mengelola aktivitas keagamaan secara mandiri. Pada program kajian thaharah, peningkatan pemahaman masyarakat terhadap konsep bersuci menunjukkan bahwa pendekatan edukatif berbasis praktik memiliki efektivitas yang tinggi. Materi yang sebelumnya dianggap sederhana ternyata masih menyisakan banyak kesalahan dalam praktik sehari-hari. Setelah dilakukan pendampingan, masyarakat mulai mampu membedakan konsep hadats dan najis serta menerapkan tata cara bersuci yang benar. Dalam kajian pendidikan orang dewasa . dult learnin. , kondisi ini dapat dijelaskan melalui teori experiential learning yang menekankan bahwa pembelajaran akan lebih efektif ketika peserta terlibat langsung dalam praktik (Rohalia & Ishak, 2. Selain itu, penguatan melalui pengajian rutin juga terbukti menjadi sarana penting dalam meningkatkan kesadaran beragama masyarakat secara berkelanjutan (Oktavia & Mastanora, 2. Kajian tata cara shalat menunjukkan adanya transformasi pemahaman masyarakat dari sekadar praktik turun-temurun menjadi praktik berbasis pengetahuan. Sebelum intervensi, sebagian masyarakat menjalankan ibadah tanpa pemahaman mendalam terkait rukun dan syarat sah shalat. Setelah kegiatan berlangsung, terjadi peningkatan kesadaran untuk memperbaiki kualitas ibadah secara lebih sistematis. Hal ini sejalan dengan temuan dalam studi pendidikan keagamaan yang menyatakan bahwa pendekatan instruksional yang dikombinasikan dengan dialog interaktif mampu meningkatkan pemahaman konseptual peserta (Fauziah, 2. Dari sisi analisis, keberhasilan ini juga menunjukkan bahwa relevansi materi dengan kebutuhan langsung masyarakat menjadi faktor kunci dalam meningkatkan keterlibatan dan efektivitas pembelajaran. Sementara itu, kajian sirah nabawiyah memberikan dampak yang lebih kuat pada aspek afektif, khususnya dalam membangun motivasi religius masyarakat. Penyampaian kisah perjuangan Nabi Muhammad A Adan para sahabat tidak hanya memberikan wawasan historis, tetapi juga menumbuhkan nilai keteladanan yang dapat diinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari. Dalam perspektif pendidikan karakter, metode naratif atau berbasis kisah terbukti efektif dalam membentuk sikap dan nilai karena mampu menyentuh dimensi emosional peserta (Achmad, 2. Hal ini terlihat dari meningkatnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan keagamaan serta munculnya semangat untuk mengamalkan ajaran Islam secara lebih konsisten. Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) untukAA. Program kaderisasi muadzin menunjukkan hasil yang signifikan dalam peningkatan keterampilan dan kepercayaan diri peserta. Pelatihan berbasis praktik memberikan ruang bagi peserta untuk belajar secara langsung melalui pengalaman, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih bermakna. Peningkatan kepercayaan diri ini juga dapat dijelaskan melalui teori self-efficacy yang menyatakan bahwa pengalaman keberhasilan secara langsung akan meningkatkan keyakinan individu terhadap kemampuannya (Mahsunah dkk. , 2. Selain itu, keterlibatan peserta dalam aktivitas masjid setelah pelatihan menunjukkan adanya dampak sosial yang lebih luas, yaitu meningkatnya partisipasi generasi muda dalam kehidupan keagamaan masyarakat. Kegiatan TPQ yang diaktifkan kembali menunjukkan peningkatan partisipasi dan kemampuan membaca Al-QurAoan pada anak-anak. Hal ini tidak terlepas dari penggunaan pendekatan pembelajaran yang terstruktur serta adanya sistem motivasi berupa apresiasi. Dalam kajian pendidikan, motivasi belajar memiliki peran penting dalam menentukan keberhasilan proses pembelajaran (Abdurahman dkk. , 2. Pemberian penghargaan sederhana seperti sistem bintang terbukti mampu meningkatkan keterlibatan dan semangat belajar anak. Selain itu, keberadaan lingkungan belajar yang kondusif juga menjadi faktor pendukung dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran Al-QurAoan. Di sisi lain, pelatihan kaderisasi dan upgrading guru TPQ memberikan kontribusi terhadap peningkatan kapasitas pedagogis pengajar. Para peserta mulai memahami pentingnya metode pembelajaran yang sistematis, tidak hanya berfokus pada materi, tetapi juga pada cara Dalam konteks ini, kompetensi pedagogik menjadi aspek penting dalam menentukan kualitas pembelajaran (Suroto dkk. , 2. Namun demikian, tantangan keberlanjutan masih menjadi perhatian utama, terutama dalam menjaga konsistensi tenaga pengajar lokal dan partisipasi Oleh karena itu, diperlukan strategi lanjutan berupa penguatan kelembagaan dan pendampingan berbasis komunitas agar program dapat terus berjalan secara mandiri. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Pelaksanaan program pengabdian kepada masyarakat berbasis pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) di Dusun Klepu menunjukkan bahwa optimalisasi aset lokal mampu menjadi strategi efektif dalam memperkuat kesadaran dan praktik keagamaan masyarakat. Program-program yang dilaksanakan, seperti kajian thaharah, tata cara shalat, sirah nabawiyah, kaderisasi muadzin, serta pengaktifan kembali TPQ dan pelatihan guru TPQ, tidak hanya meningkatkan pemahaman keagamaan secara kognitif, tetapi juga berdampak pada aspek afektif dan psikomotorik masyarakat. Hal ini terlihat dari meningkatnya kualitas praktik ibadah. Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA A Muchamad Syaifudin dkk. kepercayaan diri peserta dalam menjalankan peran keagamaan, serta partisipasi masyarakat dalam kegiatan masjid. Pendekatan partisipatif yang digunakan dalam program ini turut berkontribusi pada munculnya rasa kepemilikan masyarakat terhadap kegiatan yang dilaksanakan. Masyarakat tidak lagi sekadar menjadi penerima manfaat, tetapi mulai berperan aktif dalam mengelola dan mengembangkan kegiatan keagamaan secara mandiri. Dengan demikian, fungsi masjid sebagai pusat pembinaan keagamaan dan pemberdayaan umat mulai mengalami revitalisasi, meskipun masih memerlukan penguatan pada aspek keberlanjutan program. Walaupun begitu, masih terdapat beberapa tantangan yang perlu diperhatikan, di antaranya adalah keterbatasan sumber daya manusia sebagai tenaga pengajar, fluktuasi partisipasi masyarakat, serta faktor sosial-ekonomi yang memengaruhi konsistensi keterlibatan dalam kegiatan keagamaan. Oleh karena itu, diperlukan strategi lanjutan yang lebih sistematis untuk memastikan keberlanjutan Sehingga berdasarkan temuan tersebut, direkomendasikan agar dilakukan pendampingan berkelanjutan berbasis komunitas dengan melibatkan tokoh masyarakat dan lembaga keagamaan setempat sebagai motor penggerak kegiatan. Selain itu, perlu dilakukan penguatan kapasitas kader lokal, khususnya guru TPQ dan muadzin, melalui pelatihan lanjutan yang lebih terstruktur. Pengembangan sistem manajemen kegiatan masjid yang lebih terorganisir juga menjadi penting guna menjaga konsistensi program yang telah berjalan. Selanjutnya, integrasi pendekatan pembelajaran yang variatif dan kontekstual perlu terus dikembangkan agar mampu menjangkau berbagai kelompok usia dan latar belakang masyarakat. Dukungan dari pihak eksternal, seperti institusi pendidikan, pemerintah, maupun organisasi keagamaan, juga diperlukan dalam bentuk fasilitasi, pelatihan, maupun penguatan jejaring. Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan program pengabdian yang telah dilaksanakan tidak hanya memberikan dampak jangka pendek, tetapi juga mampu berkembang menjadi gerakan pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan dan mandiri. DAFTAR PUSTAKA