40-53 PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah PGMI: JURNAL PENDIDIKAN GURU MADARASAH IBTIDAIYAH VOLUME: 3 NO: 1 TAHUN 2024 E-ISSN https://ejournal. id/index. php/pgmi/index IDENTIFIKASI PENYEBAB KENAKALAN SISWA DI SEKOLAH DASAR Mi BABUSSALAM KECAMATAN PASONGSONGAN Dauri Aziz1. Sulhan2 Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Aqidah Usymuni Suemenp 1,2. Indonesia Email: dauriaziz@gmail. Email: shulhan. live@gmail. Article history Submitted Accepted Published 23/08/2024 22/12/2024 30/12/2024 ABSTRACT : Student bad behavior refers to behavior or actions that can cause problems, harm individuals or other people, and violate ethical and social standards. The purpose of this research is to determine the causes of naughty behavior in class IV Mi Babussalam students, and the types of mischief committed by class IV Mi Babussalam students. This research is qualitative in nature and involves the use of a case study model. This research was conducted at Mi Babussalam Pasongsongan Sumenep. This research focuses on student bad behavior . Information collection includes interview notes, observation sheets, and documents. Data analysis is based on the Miles and Huberman model, with data collection as the main methodology for collecting information, presenting it as output, analyzing state-of-the-art data using quantitative methods, and drawing conclusions. The validity of the data was verified through source triangulation techniques. Research shows that student misbehavior includes behaviors such as fighting, teasing, and ignoring school policies. These bad actions are not only caused by the students themselves but can also be the result of the influence of their families or the surrounding environment, such as a poor environment, lack of attention from parents, and disharmony within the family. A common form of student bad behavior is causing the classroom environment to become chaotic or disorganized by using dirty words to manipulate their friends so that fights occur. To deal with student bad behavior, teachers and schools can use actions such as warnings, sanctions, and letters of agreement to students not to repeat this again. This is done with the aim of creating a deterrent effect that prevents bad behavior from occurring in the future. Preventing student misbehavior requires joint efforts between educators and families, as well as a review of school programs. Key Words: Delinquency, students, elementary school ABSTRAK : Perilaku buruk siswa mengacu pada perilaku atau tindakan yang tidak hanya berpotensi menimbulkan masalah, tetapi juga dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain, sekaligus melanggar norma etika dan aturan sosial yang berlaku. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penyebab terjadinya perilaku nakal pada siswa kelas IV Mi Babussalam, dan jenis-jenis kenakalan yang dilakukan oleh siswa kelas IV Mi Babussalam. Penelitian ini bersifat kualitatif dan melibatkan PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah penggunaan model studi kasus. Penelitian ini dilakukan di Mi Babussalam Pasongsongan Sumenep. Penelitian ini berfokus pada perilaku buruk . Pengumpulan informasi meliputi catatan wawancara, lembar observasi, dan dokumen. Analisis data didasarkan pada model Miles dan Huberman, dengan pengumpulan data sebagai metodologi utama untuk mengumpulkan informasi, menyajikannya sebagai keluaran, analisis data mutakhir menggunakan metode kuantitatif, dan menarik kesimpulan. Keabsahan data diverifikasi melalui teknik triangulasi sumber. Penelitian menunjukkan bahwa perilaku buruk siswa mencakup perilaku seperti berkelahi, menggoda, dan mengabaikan kebijakan sekolah. perbuatan buruk tersebut tidak hanya dipicu oleh individu siswa itu sendiri, tetapi juga bisa akibat dari pengaruh keluarganya atau lingkungan sekitarnya, seperti lingkungan yang kurang baik, dinamika keluarga yang tidak harmonis, serta minimnya kepedulian dan keterlibatan dari orang tua dalam kehidupan anak. Bentuk umum dari perilaku buruk siswa adalah menyebabkan lingkungan kelas menjadi kacau atau tidak teratur dengan menggunakan kata-kata kotor untuk memanipulasi teman-temannya sehingga terjadi pertengkaran. Untuk mengatasi perilaku buruk siswa tersebut, guru dan sekolah dapat menggunakan tindakan seperti peringatan, sanksi, dan surat perjanjian kepada siswa untuk tidak mengulangi hal tersebut lagi. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menciptakan efek jera yang mencegah terjadinya perilaku buruk itu di kemudian hari. Pencegahan kelakuan buruk siswa memerlukan upaya bersama antara pihak pendidik dan keluarga, serta peninjauan ulang terhadap program sekolah. Kata Kunci: Kenakalan, siswa, sekolah dasar PENDAHULUAN Pengetahuan tentang perkembangan manusia sangat penting untuk memahami kebutuhan dasar dan karakteristik manusia, termasuk siswa sekolah dasar. Dalam sistem pendidikan, anak sekolah dasar adalah individu berusia 7 hingga 12 tahun ke atas. Penting bagi orang tua, guru, dan orang dewasa untuk memahami perkembangan siswa sekolah dasar (Bujuri, 2. Sekolah adalah tempat di mana siswa memperoleh pengetahuan dan meningkatkan kemampuan internal dan eksternal mereka, yang pada akhirnya mengarah pada pembangunan bangsa yang berbudi luhur. Sekolah Dasar (SD/MI) juga merupakan tempat dimulainya proses pembelajaran penanaman kebaikan dan perilaku baik pada siswa. Namun tidak semua siswa memiliki karakteristik yang baik, banyak permasalahan yang muncul sejak pendidikan dasar, dan guru banyak mengalami kesulitan dalam mengajar (Syafaruddin et al. , 2. Hal ini antara lain disebabkan oleh perilaku siswa yang buruk dan sulitnya pengelolaan siswa di sekolah dasar. Tujuan utama sekolah adalah menciptakan lingkungan yang nyaman bagi siswa untuk belajar sebaik mungkin, dan mencegah potensi konflik atau perilaku tidak tertib. Penyimpangan atau penentangan terhadap norma yang telah ditetapkan merupakan wujud nyata dari kenakalan siswa. Dari segi hukum, kenakalan merupakan suatu perbuatan yang melanggar hukum namun tidak dapat dituntut secara pidana karena faktor usia. Kurangnya pengendalian diri pada diri siswa seringkali menjadi penyebab terjadinya Kenakalan di tingkat sekolah merupakan kejadian umum, dimana guru dan siswa mengalami integrasi yang lebih besar (Saputra. Komariah. Permasalahan ini sering kali muncul sebagai masalah dalam mengelola tugas-tugas yang berhubungan dengan sekolah, baik itu berbicara, menulis, atau mengerjakan pekerjaan rumah. Siswa yang mempunyai permasalahan di sekolah sering kali mengeluhkan kurangnya minat belajar dan sikap apatis, serta menurunnya prestasi akademik. Selain itu, timbul pula sikap dan perilaku PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah yang tak diharapkan, seperti membolos, melanggar aturan, membangkang terhadap guru, terlibat perkelahian, dan berbagai tindakan negatif lainnya. Ada dua tipe kenakalan yang dilakukan oleh siswa, yaitu kenakalan yang dilakukan atas dasar kesadaran dan kesengajaan, serta kenakalan yang dilakukan tanpa kesadaran dan ketidak sengajaan. Dengan memanipulasi dan melakukan refleksi, siswa pada dasarnya sadar akan perilaku negatifnya sendiri. Para siswa tahu bahwa mereka melakukan tindakan yang memalukan dan sadar akan apa yang telah/sedang mereka lakukan. Namun tindakan salah tersebut sengaja dilakukan siswa sebagai cara untuk menekan orang lain agar memenuhi keinginan mereka (Gularso. Indrianawati. Penyebab terjadinya hal tersebut biasanya dikarenakan siswa mendapat perlakuan manja secara terus menerus dari orang tuanya atau bisa juga karena mendapatkan pendidikan yang salah. Oleh karena itu, dia berpikir bahwa dia tidak dapat melakukan apa yang diinginkannya tanpa melakukan kesalahan. Misalnya, siswa mulai memahami bahwa apa pun bisa terjadi jika mereka menangis, menjerit, memberontak, atau membuat keributan. Kenakalan yang tidak disengaja muncul ketika siswa melakukan tindakan yang salah tanpa benar-benar menyadari bahaya yang ditimbulkannya. Dalam kasus ini, perilaku buruk tersebut terjadi tanpa kesadaran penuh akan dampak negatifnya. Mungkin dia berpikir bahwa apa yang dia lakukan untuk memuaskan keinginannya adalah perbuatan baik. Perilaku buruk siswa yang tidak disadari dan tidak disengaja dapat menyebabkan siswa mengalami gangguan emosional, bahkan dalam beberapa kasus, dapat menyebabkan gangguan jiwa. Misalnya, secara tidak sengaja ia menjatuhkan piring kakak kelasnya ke lantai sehingga pecah. Ada banyak jenis kenakalan yang dilakukan siswa yang dapat berpotensi menimbulkan masalah dan membahayakan diri mereka maupun orang lain, salah satunya adalah perilaku yang tidak disiplin, keinginan untuk mendominasi dan merasa superior, perkelahian, perlawanan atau pembangkangan, berjalan tanpa tujuan, cenderung berkumpul dalam kelompok, menimbulkan masalah serta menimbulkan kerugian, ribut sehingga melakukan tindak kekerasan, sembrono, tidak tertib, sering melanggar batas dan sadis (Qaimi, 2. Ada sejumlah alasan dan faktor yang menyebabkan beberapa siswa mengalami masalah dengan konsistensi. Bahkan seringkali mereka melakukan hal-hal yang tidak disukai oleh orang tua dan gurunya, ditambah lagi mereka selalu mengeluh mengenai kondisi kehidupannya. Akibatnya, mereka mulai terjebak dalam kehidupan yang kacau, seperti meletakkan pakaian atau membuang sampah sembarangan, merusak fasilitas fasilitas sekolah, dan lain-lain. Sifat arogan, seperti dorongan untuk menguasai, adalah masalah serius dalam Siswa yang menunjukkan sikap ini berusaha keras agar orang tua dan lingkungan sekitarnya patuh pada semua kehendaknya. Arogansi ini sering menciptakan ketegangan, terutama dalam bentuk pertengkaran sebuah perilaku yang mencerminkan pemaksaan, kekerasan, dan konflik. Kadang-kadang, pertengkaran ini berkembang menjadi perdebatan yang penuh emosi, di mana kata-kata tajam saling dilontarkan atau bahkan hubungan antarpribadi terputus. Siswa yang suka berkelahi seringkali mengabaikan hak orang lain dan enggan mengikuti aturan atau membangun persahabatan yang sehat. Perbedaan sekecil apapun dapat memicu kemarahan mereka, membuat konflik tampak seperti bumbu seharihari dalam interaksi mereka. PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Kebanyakan orang tua dan sebagian besar pendidik mengungkapkan keprihatinan yang besar tentang sikap pertentangan dan ketidaktaatan siswa atau anak. Meski aturan yang diterapkan oleh orang tua dan pendidik bertujuan untuk kesejahteraan anak, banyak di antara mereka justru melawan dan mengabaikan aturan tersebut. Anak didik yang suka memberontak cenderung meninggalkan atau menjauhi lingkungan rumah atau sekolah. Tendensi untuk keluyuran tanpa tujuan adalah hal yang tidak biasa dan berasal dari pola asuh yang buruk. Kadang-kadang, perilaku ini juga bisa terkait dengan gangguan mental, yang semakin mempersulit situasi bagi orang tua dan pendidik. Akibatnya, tak jarang siswa memilih untuk meninggalkan rumah atau sekolah sebagai respons terhadap tantangan ini. Hal ini terjadi karena kondisi kehidupan yang tidak stabil . erutama dalam keluarg. atau keyakinan mereka bahwa tinggal di lingkungan yang sama, seperti di rumah atau sekolah, tidak memberikan keuntungan apa pun bagi mereka, yang pada akhirnya mereka berusaha menjaga jarak dan menjauh dari dua lingkuan tersebut. Sekitar usia delapan atau sembilan tahun, anak mulai merasakan jarak emosional dengan keluarganya dan mulai mengejar kebersamaan dengan kelompok teman. Pada masa ini, mereka seringkali mencari komunitas di antara teman-teman yang memiliki kesamaan golongan atau minat, berusaha menemukan tempat di mana mereka merasa terhubung dan diterima secara sosial. Seringkali, aktivitas kelompok itu melakukan tindakan negatif yang dapat mengakibatkan kerugian atau cedera pada orang lain. Perbuatan yang menyakiti orang lain akan menimbulkan banyak masalah dan keributan. Selain itu, pola negatif ini dapat menimbulkan konflik antara orang tua dan guru. Seorang siswa yang suka memperlakukan temannya dengan buruk, menyakiti teman yang lebih muda atau lebih tua darinya, menjambak rambut temannya hingga menangis tentu akan menimbulkan kesusahan bagi orang tua dan pendidik, serta juga dapat menimbulkan kekesalan dan kebencian orang tua siswa yang disakiti. Dari segi perilaku kekerasan dan perilaku tidak tertib, fenomena kekerasan dapat diwujudkan dalam bentuk vandalisme, pencederaan, merusak, melecehkan, dan memukul. Ketika terlibat dalam pertengkaran, bahkan jika seorang siswa hanya mengalami luka ringan, mereka mungkin bertekad untuk membalas dengan cara yang sangat kejam dan sadis. Perilaku tersebut dipengaruhi oleh gaya kepribadian siswa. Dengan demikian, pelajar yang melakukan pergaulan bebas tidak mempunyai jiwa yang stabil Umumnya, perilaku nakal muncul dalam bentuk pembangkangan, pelanggaran, dan penolakan keras terhadap peraturan dan ketentuan di rumah atau sekolah. Anak-anak mempunyai kecenderungan untuk menimbulkan masalah dalam pergaulan sehari-hari. Kecenderungan ingin tahu/penasaran anak terhadap suatu hal yang menyebabkan mereka tidak bisa diam, mengganggu dan merepotkan guru atau orang tua atau bahkan sampai melakukan kegaduhan dan keributan dengan teman-temannya itu adalah bentuk dari beberapa masalah yang mana hal itu wajar dan lumrah dilakukan oleh anak. Anak-anak yang suka membuat kekacauan sering kali menunjukkan bahwa dirinya terbiasa melakukan kecerobohan, terlebih lagi mereka tampaknya sengaja melakukan tindakan jahat tersebut. Perilaku mereka menyebabkan kekesalan dan ketidaknyamanan bagi orang lain, sekitar, seperti ketika mereka membuang atau menyembunyikan barang milik temannya dalam kondisi masih bagus sehingga sulit untuk menemukannya kembali. PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Setiap anak memiliki sikap dan perilaku yang berbeda dalam pergaulan sosial. Beberapa dari mereka mempunyai kecenderungan untuk melampaui batas dirinya dan merasa tidak cukup dengan apa yang dimilikinya. Terkadang, dilihat atau tidak oleh orang tua, anak tetap saja melakukan tindakan yang dapat merugikan orang lain, seperti mengambil barang orang lain tanpa izin. Perilaku semacam ini sering kali tampak pada anak-anak. Untuk itu, orang tua dan guru harus melakukan cara dan prosedur yang tepat untuk mencegah kondisi Bentuk kenakalan yang juga sering terjadi di era sekarang adalah sadisme. Bahasa sadisme menjadi sangat populer dan dipakai untuk merujuk pada berbagai bentuk perilaku kekerasan, kekejaman dan kedloliman. Secara kronologis, sadisme hanya menyangkut persoalan orang dewasa, namun terkadang juga digunakan pada anak-anak. Jadi istilah sadisme mencakup spektrum yang luas, meliputi berbagai tindakan penyiksaan dan pelecehan yang dilakukan oleh individu terhadap orang lain. (Dea, 2. menjelaskan bahwa kenakalan siswa adalah Suatu perbuatan yang melanggar norma, aturan hukum dalam suatu masyarakat yang dilakukan siswa atau transisi masa anak-anak dan dewasa. Pola interaksi sosial anak-anak seringkali menjadi faktor utama yang menyebabkan mereka melakukan kenakalan terhadap teman-teman sekolahnya. Perilaku buruk ini dapat terjadi baik disengaja maupun tidak. Selain dari pola pergaulan, media juga berperan penting dalam menyebabkan perilaku tidak pantas ini. Banyak program televisi yang menampilkan lelucon atau aksi usil yang diperagakan oleh anak-anak, yang kemudian sering ditiru oleh teman-teman sebaya mereka. Ada banyak faktor yang menyebabkan kenakalan siswa sekolah dasar, salah satunya ialah kurangnya pendidikan agama, kurangnya pemahaman orang tua terhadap pendidikan, kurangnya keteraturan dalam memanfaatkan waktu kosong, penurunan moral dan kesehatan psikologis di kalangan orang dewasa, maraknya film dan literatur yang kurang bermanfaat, serta minimnya perhatian masyarakat terhadap pendidikan . ahyuni, 2. Novita . menambahkan bahwa ada tiga faktor yang saling berkaitan yang mempengaruhi berkembangnya perilaku menyimpang pada remaja. Ketiga faktor tersebut membentuk kepribadian remaja yang meliputi nilai-nilai pribadi, harapan, dan keyakinan mereka. Faktor kedua adalah lingkungan yang mempengaruhi remaja, baik itu keluarga maupun teman sebaya mereka. Faktor ketiga adalah perilaku remaja, yaitu bagaimana mereka memilih untuk bertindak dalam kehidupan sehari-hari. Secara fundamental, faktor-faktor yang memengaruhi perilaku nakal anak atau siswa dapat dipahami dari perspektif faktor internal anak dan faktor lingkungan di rumah atau sekitarnya (Wilis, 2. Aspek-aspek yang muncul dari dalam diri anak mencakup ketidakstabilan dalam sistem pertahanan diri mereka, kurangnya kemampuan untuk mengatasi stres, dan rendahnya rasa percaya diri. Di sisi lain, faktor-faktor lingkungan keluarga juga berperan, seperti minimnya kasih sayang dan perhatian orang tua terhadap anak, serta ketidakharmonisan dalam kehidupan keluarga. Permasalahan perilaku nakal siswa juga terdapat di lingkungan siswa maupun siswa Mi Babussalam Pasongsongan Sumenep. Masih terdapat sejumlah siswa yang masih enggan melepaskan kebiasaan nakal, yang kerap kali menjadi keluhan dari para guru dan orang tua siswa lainnya. Situasi ini diperburuk oleh kondisi lingkungan keluarga, di mana banyak orang tua terjebak dalam kesibukan di luar rumah sehingga menyebabkan anak mudah terpengaruh dengan perilaku buruk dari lingkungan luar tanpa sepengetahuan orang tuanya. Disisi lain. PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah perilaku nakal tidak hanya dipicu oleh dinamika keluarga, seperti orang tua yang sering berada di luar rumah, tetapi juga bisa disebabkan oleh kelalaian orang tua dalam mengasuh anak, seperti kurangnya perhatian terhadap mereka. Akibatnya, anak-anak sering kali secara tidak sengaja meniru perilaku buruk yang berasal dari lingkungan rumah. Untuk menemukan solusi dalam memperbaiki perilaku siswa di sekolah, penting untuk mengkaji lebih mendalam mengenai kenakalan siswa. Peneliti tertarik untuk mengeksplorasi kenakalan siswa di MI Babussalam Pasongsongan. Sumenep, dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Unit analisis dalam penelitian ini meliputi jenis-jenis kenakalan siswa dan faktor-faktor yang memengaruhi kenakalan siswa kelas IV di MI Babussalam Pasongsongan Sumenep. METODE PENELITIAN Penelitian ini mengadopsi pendekatan kualitatif dengan menggunakan studi kasus sebagai fokus utamanya. Penelitian dilakukan di MI Babussalam Pasongsongan. Sumenep, dengan tujuan untuk memahami peran guru sekolah dasar (MI) di sekolah tersebut, terutama terkait dengan penyimpangan perilaku sebagian siswa. Instrumen yang digunakan meliputi wawancara, observasi, dan catatan, yang semuanya dianalisis dalam bentuk deskriptif. Objek analisis dalam penelitian ini mencakup satu guru kelas IV, lima belas siswa kelas IV, dan kepala sekolah. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Setelah data dikumpulkan, proses analisis dilakukan melalui tiga tahap: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dengan dasar studi kasus. Analisis data kualitatif dilakukan menggunakan model interaksi sebagai standar penelitian. Menurut Miles dan Huberman . ikutip dalam Sugiyono, 2016: . , analisis data melibatkan empat tahap kegiatan: pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan triangulasi data. Untuk memastikan keabsahan data, teknik triangulasi digunakan. Triangulasi ini melibatkan pengumpulan data tambahan dari sumber yang memberikan informasi serupa. Dalam penelitian ini, peneliti menerapkan triangulasi teknis dan pengumpulan sumber HASIL DAN PEMBAHASAN Bentuk Kenakalan Siswa Berdasarkan hasil pengamatan peneliti, beberapa pola yang teridentifikasi antara lain: banyak siswa tampak sering mengganggu dan kurang antusias selama sesi pelajaran. Selain itu, sejumlah siswa sering terlibat dalam percakapan dengan teman sekelas tanpa benar-benar fokus pada materi yang sedang diajarkan. Ketika guru tidak ada di kelas, beberapa siswa kerap menciptakan kegaduhan, seperti berteriak sambil bercanda gurau dengan teman Beberapa juga sering meminta izin untuk ke kamar mandi. Masalah yang sering muncul di kalangan siswa biasanya terkait dengan perbedaan karakter dan tingkat kemampuan belajar yang bervariasi. Peneliti menemukan bahwa guru tidak hanya menyampaikan materi pelajaran tetapi juga berperan aktif dalam memberikan panduan untuk mengatasi tantangan pembelajaran yang dihadapi siswa. Perilaku buruk siswa kelas IV tidak hanya disebabkan oleh siswa itu sendiri tetapi juga karena kurangnya kepedulian dari keluarga dan lingkungannya. Faktor pribadi mereka sendiri antara lain minimnya perhatian orang sekitar, rasa bosan saat belajar, dan pengaruh teman sebaya. Sementara faktor dari keluarga seperti ketidak pedulian orang tua serta PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah permasalahan dalam keluarga mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap perilaku buruk siswa, selain itu faktor lingkungan yang negatif juga mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap terjadinya perilaku buruk siswa. Jenis kenakalan yang dilakukan siswa kelas IV Mi Babussalam antara lain membuat onar, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, mengganggu siswa lain, menyontek, dan suka berbicara/membuat keramaian saat proses pembelajaran dilakukan dengan sengaja sehingga bisa merugikan mereka sendiri dan orang-orang di sekitar mereka. Perilaku buruk siswa tersebut dapat ditangani dengan berbagai cara, antara lain dengan memberikan peringatan, memberikan sanksi, atau meminta siswa untuk membuat surat perjanjian. Melalui kombinasi metode ini, diharapkan siswa akan lebih menyadari dampak dari tindakan mereka dan berkomitmen untuk tidak mengulang kesalahan yang sama. Berdasarkan hasil wawancara, hasil observasi, dan dokumentasi, perilaku perilaku buruk siswa kls IV Mi Babussalam telah menimbulkan kalimat-kalimat yang tidak baik sehingga dengan ucapannya saja dapat menyakiti orang lain. Samsudin & Asrofi . berpendapat bahwa hukuman adalah tindakan yang disengaja untuk menanggapi suatu kesalahan, pelanggaran, atau tindak kejahatan. Namun, jika hukuman ingin dijadikan alat pendidikan, harus berorientasi pada pemulihan, dilaksanakan untuk kebaikan anak, dan bukan sebagai bentuk pelampiasan dendam atas kesalahannya. Ichsan . menambahkan bahwasanya untuk memperbaiki kesalahan anak, kita hanya perlu menegurnya dan menjelaskan di mana letak kesalahannya agar ia paham dan menyadari kesalahan yang Sikap inilah yang harus dipahami dan dijadikan contoh, karena yang lebih utama adalah bersikap lemah lembut dan penuh kasih sayang dalam menerapkan hukuman. Oleh karena itu, menghukum anak perlu bersifat mendidik, khususnya kemampuan dalam Sehingga tidak merusak hubungan baik antara siswa dan guru pasca pemberian Untuk menjaga hubungan baik antara guru dan siswa harus memperhatikan pedoman penerapan hukuman. Mengenai petunjuk penerapan hukuman harus peka dan adil, disesuaikan dengan pelanggaran yang terjadi, sehingga dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kesadaran atas kesalahan pada anak. Hukuman harus ditegakkan dengan prasyarat tertentu agar dapat beroperasi secara Syarat penerapan hukuman harus bersifat emosional dan dilakukan secara bertahap, mulai dari hukuman yang paling ringan hingga hukuman yang paling berat. Dengan kondisi seperti ini, hukuman akan memberikan dampak positif bagi anak (Samsudin, 2. Dalam memberikan hukuman, sebaiknya dimulai dengan langkah yang lebih ringan, seperti teguran lembut, sebelum menerapkan hukuman yang lebih berat. Hukuman harus diberikan secara adil dan proporsional sesuai dengan tingkat kesalahan. Misalnya, jika seorang siswa dihukum di depan kelas karena berbohong, maka siswa lain yang melakukan kesalahan serupa di kemudian hari harus menerima hukuman yang sama. Konsistensi dalam pemberian hukuman ini penting agar siswa memahami bahwa tindakan mereka akan selalu menghadapi konsekuensi yang setara, sehingga mereka belajar tentang tanggung jawab dan keadilan. Dampak hukuman terhadap siswa patut diperhatikan oleh para pendidik, karena mereka mungkin akan merasa malu jika gurunya menghukum mereka di depan teman-temannya, sebagaimana yang diungkapkan oleh Murray & Farrington . Aukenakalan didefinisikan menurut perbuatan yang dilarang oleh hukum pidana, seperti pencurian, perampokan, kekerasan, vandalisme, dan penggunaan narkobaAy. PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Dari hasil wawancara, observasi dan dokumentasi tentang perilaku buruk siswa di Mi Babussalam dapat dilihat hasil penelitian mengenai perilaku buruk yang sengaja dilakukan oleh siswa. Bentuk vandalisme yang disengaja antara lain membangun menara kursi di ruang kelas, berkelahi, dan mengganggu siswa lain. Saat siswa membuat keributan di kelas, guru merespons dengan pendekatan yang tegas namun fleksibel. Guru memberi siswa pilihan: mereka bisa memilih untuk fokus belajar tanpa mengganggu, atau melanjutkan keributan di luar kelas. Jika siswa memilih untuk terus mengganggu, guru akan memarahi mereka dan meminta untuk keluar dari kelas. Pendekatan ini, yang menggabungkan teguran dengan opsi yang jelas, sejalan dengan prinsip yang diungkapkan oleh Khotimah . Menurutnya, menghadapi perilaku bermasalah dengan memberikan pilihan setelah teguran memungkinkan siswa untuk memahami konsekuensi dari tindakan mereka. Hal ini tidak hanya mendidik siswa tentang tanggung jawab tetapi juga mengajarkan mereka untuk mengelola pilihan dan dampak dari perilaku mereka sendiri. Tugas guru adalah memisahkan siswa yang bertengkar dan menyelesaikan konflik Untuk menangani masalah tersebut, guru bisa memberikan nasihat dan mendorong siswa untuk saling memaafkan. Pengambilan keputusan yang terburu-buru, seperti memanggil orang tua siswa, sebaiknya dihindari jika masalah bisa diselesaikan oleh guru Jika konflik terjadi karena alasan kecil, seperti saling mengejek, solusi yang dapat diterapkan adalah memindahkan atau mengganti tempat duduk siswa. Pandangan ini sejalan dengan pendapat Nuraini, dkk . yang menyarankan bahwa ketika siswa terus-menerus terlibat dalam pertengkaran atau keributan dengan teman sebangkunya, guru sebaiknya mempertimbangkan untuk memindahkan tempat duduk mereka. Siswa yang sering mengganggu atau bersikap argumentatif dapat ditempatkan di barisan depan untuk meningkatkan fokus mereka dalam pembelajaran. Mengganggu teman yang sedang belajar merupakan salah satu bentuk kenakalan yang umum terjadi di kelas IV Mi Babussalam. Selama proses pembelajaran, peneliti mengamati bahwa beberapa siswa sering kali mengganggu teman-temannya yang sedang belajar. Untuk menangani masalah ini, siswa yang terlibat dalam tindakan disruptif tersebut dikenai sanksi berupa kewajiban untuk menulis surat perjanjian. Surat ini berisi komitmen mereka untuk menghentikan tindakan gangguan dan berjanji untuk fokus pada kegiatan belajar. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk mengatasi dan mengurangi perilaku disruptif di kelas. Jika siswa yang terlibat dalam gangguan tersebut mengulangi perilaku disruptifnya, mereka akan menghadapi sanksi lebih lanjut berupa larangan masuk kelas selama beberapa hari. Sanksi ini diterapkan sebagai upaya tegas untuk menegakkan disiplin dan memastikan bahwa siswa memahami konsekuensi dari tindakan mereka, serta memberikan waktu bagi mereka untuk merenung dan memperbaiki perilaku mereka. Namun penggunaan hukuman untuk menangani perilaku nakal siswa memerlukan kehati-hatian. Fissel. ER et. menemukan bahwa hukuman siswa tidak selalu efektif dalam membentuk persepsi siswa terhadap perilaku disiplin . ermasuk perilaku naka. Faktor yang Mempengaruhi Kenakalan Siswa Dengan mengkaji wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap kenakalan siswa di Mi Babussalam, peneliti dapat mengidentifikasi faktor-faktor penyebab terjadinya kenakalan siswa yang berasal dari dalam diri siswa, serta faktor eksternal seperti kondisi PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah lingkungan keluarga dan pengaruh dari lingkungan sosial di sekitarnya. Faktor penyebab kenakalan siswa yang berasal dari siswa itu sendiri seperti ketidak mampuan mereka dalam mengendalikan emosi, kurang disiplin, malas untuk mengerjakan tugas, kurangnya waktu dalam pengerjaan tugas dari guru, serta perilaku tidak fokus seperti membuat keributan, sulit diatur, mengganggu, tidak bisa diam selama pembelajaran, dan juga adanya konflik batin Hal ini selaras dengan apa yang yang diungkapkan oleh Arifin, dkk . bahwa Auperilaku buruk siswa dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk masalah kesehatan fisik, kesulitan emosional, dan kondisi lingkunganAy. Dengan kata lain, kenakalan siswa bisa jadi akibat dari gangguan fisik, stres emosional, atau pengaruh lingkungan di sekitarnya. Faktor penyebab kenakalan siswa yang kedua adalah lingkungan keluarga . rang tu. seperti: Kurangnya keharmonisan keluarga akibat perceraian orang tua. Situasi keluarga yang tidak bahagia seringkali menyebabkan siswa berkumpul dengan siswa yang bernasib sama, yang kemudian cenderung menimbulkan masalah atau melakukan tindakan tidak menyenangkan terhadap orang lain yang tidak bernasib sama dengan mereka (Handayani, dkk: 2. Hasil penelitian tersebut diperkuat dengan temuan Afiyani, dkk . yang menyarankan agar orang tua dan sekolah dapat bekerja sama untuk mengurangi perilaku negatif siswa melalui bimbingan/pengarahan, memberikan nasihat, menerapkan pendidikan agama, dan jika perlu mendatangkan atau membawa anak ke psikolog. Perilaku buruk siswa juga dapat disebabkan oleh hubungan sosial di lingkungan sekolah dikarenakan kurangnya kemampuan mereka dalam memilah dan memilih teman, contohnya terlibat pertengkaran selama pembelajaran karena diprovokasi oleh teman nakal atau menyembunyikan barang milik teman karena didorong oleh pengaruh teman sebaya. Hal ini sesuai dengan pandangan (Malihah et al. , 2. yang menjelaskan bahwa AuSelain lingkungan keluarga, lingkungan pertemanan juga berperan penting dalam memicu perilaku nakal pada siswaAy. Pihak sekolah dapat mengevaluasi ulang penerapan pendidikan karakter yang ada. Kurangnya efektivitas dalam pelaksanaan pendidikan karakter atau moral bisa menjadi faktor yang memicu perilaku nakal siswa (Marwanti. dkk, 2. Untuk mengatasi masalah kenakalan pada anak-anak di sekolah, tinjauan literatur mungkin diperlukan untuk mengkaji berbagai faktor yang berkontribusi terhadap kenakalan siswa dari berbagai sudut pandang serta menyarankan langkah-langkah pencegahannya (Polanin. dkk, 2. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Obsuth. I dkk . mengungkapkan bahwa guru dan siswa memiliki hubungan yang positif satu sama lain, sehingga membantu mencegah kemungkinan pemicu kenakalan siswa di sekolah menengah. Dalam situasi seperti ini, pihak Mi Babussalam dapat melakukan refleksi terhadap kualitas interaksi antara guru dan siswa di sekolah agar menjadi penjegah kenakalan siswa. Keterlibatan Orang Tua Milenial dalam Pendidikan Anaknya Bersumber pada penemuan riset tersebut, orang tua milenial yang berpartisipasi aktif dalam pembelajaran anaknya diprediksi hendak membagikan imbas positif terhadap kepiawaian literasi digitalnya. Sepanjang mana partisipasi orang tua serta kelengkapan prestasi akademik serta literasi digital anak hendak dikenal dengan menganalisis informasi yang dikumpulkan. Dalam penduduk yang didorong oleh teknologi dikala ini, riset kami bertujuan buat membagikan data yang bermanfaat kepada para pendidik, orang tua, serta pembentuk kebijakan menimpa berartinya pertolongan orang tua dalam tingkatkan kemahiran digital anak. PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Laporan ini juga melihat berbagai pendekatan dan rencana yang diterapkan orang tua milenial untuk membantu anak-anak mereka belajar, seperti membatasi waktu layar, membatasi aktivitas online, dan memberi mereka akses ke aplikasi dan situs pendidikan. Pendidik dan legislator dapat memberikan intervensi dan sumber daya yang terfokus untuk membantu orang tua dalam mendukung pembelajaran anak mereka secara efektif dengan mengenali pengaruh partisipasi orang tua dalam membentuk kemampuan digital anak. Tujuan utamanya adalah untuk memungkinkan orang tua mengambil peran lebih aktif dalam pendidikan anak-anak mereka dan membekali mereka dengan keterampilan dan informasi yang dibutuhkan agar berhasil menavigasi dunia digital. Misalnya, orang tua dapat mendorong anak-anak mereka untuk menggunakan aplikasi pendidikan seperti Khan Academy, menetapkan batas harian satu jam untuk mereka gunakan di layar, dan secara rutin meninjau riwayat browser mereka untuk memastikan mereka mengakses konten yang tepat. Orang tua secara aktif membina kecerdasan digital anak-anak mereka dan membantu mereka mengembangkan kemampuan berpikir kritis ketika menggunakan teknologi dengan menerapkan langkah-langkah pencegahan ini. Pendekatan realistis ini membantu seluruh keluarga mendapatkan pengalaman internet yang aman dan menyenangkan selain meningkatkan kinerja akademis anak. (Dwipa Santorine 2. Pengaruh Keterlibatan Orang Tua Pada Motivasi Anak Untuk Belajar Menurut sebuah penelitian, anak-anak yang orangtuanya menaruh perhatian pada pendidikan mereka menunjukkan lebih banyak dorongan untuk belajar. Hal ini dapat dijelaskan oleh fakta bahwa partisipasi orang tua menyampaikan kepada anak pentingnya dan nilai pendidikan. (Rahman 2. Ketika orang tua mengambil minat dalam belajar anak mereka, itu dapat meningkatkan harga diri dan kepercayaan diri mereka, menyebabkan peningkatan motivasi dan keterlibatan dalam studi mereka. Selain itu, orang tua dapat memberikan bimbingan dan dukungan, membantu anak mereka menavigasi setiap tantangan atau rintangan yang mungkin mereka hadapi dalam perjalanan akademis mereka. Secara keseluruhan, dampak positif dari keterlibatan orang tua pada pendidikan anak tidak dapat diabaikan. Dengan mendorong lingkungan yang mendukung dan mendorong di rumah, orang tua dapat membantu menumbuhkan cinta untuk belajar dan etika kerja yang kuat pada anak-anak mereka. Ini tidak hanya menetapkan mereka untuk sukses di sekolah tetapi juga menanamkan nilai-nilai penting yang akan menguntungkan mereka sepanjang hidup mereka. Pada akhirnya, ketika orang tua aktif terlibat dalam pendidikan anak mereka, anak lebih mungkin untuk mencapai potensi penuh mereka dan mencapai tujuan akademis mereka. Sistem pendukung ini juga dapat membantu anak mengembangkan keterampilan penting seperti pemecahan masalah, manajemen waktu, dan berpikir kritis. Selain itu, keterlibatan orang tua dapat meningkatkan rasa tanggung jawab dan akuntabilitas yang kuat pada anak, karena mereka melihat orang tua mengambil peran aktif dalam pendidikan Pada akhirnya, ketika orang tua terlibat dalam pembelajaran anak mereka, hal ini akan menciptakan lingkungan yang positif dan mendukung yang dapat memberikan manfaat besar bagi keberhasilan akademis dan kesejahteraan anak secara keseluruhan. Misalnya, orang tua yang secara teratur membantu anaknya dengan pekerjaan rumah tangga dan mendiskusikan kemajuan mereka dengan guru dapat membantu anak mengatasi kesulitan PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah dalam memahami konsep tertentu. Dukungan ini dapat menyebabkan penilaian yang lebih baik dan dorongan dalam kepercayaan diri anak, akhirnya membentuk mereka menjadi siswa yang lebih tahan lama dan termotivasi. Namun, penting untuk dicatat bahwa tidak semua anak mendapat manfaat dari keterlibatan orang tua dengan cara yang sama. Dalam beberapa kasus, orang tua yang terlalu terlibat dapat menciptakan tekanan dan kecemasan bagi anak mereka, menyebabkan penurunan kinerja akademik dan kesejahteraan secara keseluruhan. (Setiawati and Fithriyah Perbandingan Hasil Dengan Literatur Yang Ada Dalam hal prestasi akademis, ada perbedaan tipis antara partisipasi orang tua dan keterlibatan berlebihan. Penelitian telah menunjukkan bahwa anak-anak yang orangtuanya berpartisipasi dalam pendidikan sampai tingkat yang wajar, memiliki kinerja lebih baik daripada anak-anak yang partisipasi orangtuanya rendah atau ekstrim. (Pradina. Faiz, and Yuningsih 2. Ini menunjukkan bahwa menemukan tingkat dukungan dan bimbingan yang tepat dari orang tua sangat penting dalam membantu anak-anak mencapai potensi penuh mereka. Selain itu, penelitian juga telah menyoroti pentingnya mendorong hubungan positif dan mendukung antara orang tua, guru, dan siswa untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung. Dengan bekerja sama sebagai tim, orang tua dan guru dapat secara efektif mengatasi setiap tantangan atau hambatan yang mungkin timbul dalam pendidikan anak, akhirnya mengarah pada hasil akademik yang lebih baik dan kesejahteraan secara keseluruhan. Pendekatan kolaboratif ini memungkinkan komunikasi terbuka dan pemahaman bersama tentang kebutuhan dan kemajuan anak. Siswa lebih bisa jadi merasa terdorong serta dapat ide guna menggapai prestasi kala orang tua serta guru rukun. Pada kesimpulannya, landasan keberhasilan serta yang berkesinambungan sanggup dibentuk lewat kerja sama yang solid antara orang tua, pendidik, serta siswa. Siswa bisa meningkatkan keahlian serta rasa yakin diri yang mereka perlukan buat sukses secara akademis serta individu dengan bekerja sama tanpa satu sama lain. Kerjasama ini pula bisa menolong dalam mengenali kesusahan ataupun hambatan yang barangkali dialami siswa, sehingga mengizinkan dorongan serta intervensi yang kilat. Kala orang tua serta pendidik mempunyai tujuan serta pendekatan yang sama, mereka bisa menunjang anak secara tidak berubah- ubah serta khusus buat menolong mereka mewujudkan kemampuan mereka seluruhnya. Selain itu, kemitraan yang kuat dapat mempromosikan rasa komunitas dan kepemilikan bagi siswa, menciptakan lingkungan yang positif dan mendidik untuk belajar dan pertumbuhan. Akhirnya, upaya gabungan dari orang tua, guru, dan siswa dapat menyebabkan tidak hanya keberhasilan akademik tetapi juga pengembangan pribadi dan ketahanan. Temuan dari penelitian ini menyoroti pentingnya kolaborasi antara orang tua dan guru dalam mendukung kesuksesan siswa. Dengan bekerja sama, orang tua dan guru dapat menciptakan garis depan yang bersatu dalam memberikan dukungan dan sumber daya yang diperlukan bagi siswa untuk berkembang. Kemitraan ini juga dapat berfungsi untuk memperkuat rasa komunitas dalam lingkungan sekolah, mempromosikan suasana positif dan inklusif bagi semua siswa. PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Pendidik dan orang tua sama-sama dapat mendapat manfaat dari wawasan yang diperoleh dari penelitian ini, menggunakannya untuk menginformasikan praktik mereka dan meningkatkan kemampuan mereka untuk mendukung siswa secara efektif. Dengan mengenali nilai kolaborasi dan komunikasi, kedua belah pihak dapat bekerja menuju tujuan bersama untuk membantu siswa mencapai potensi penuh mereka. Misalnya, pendidik dan orang tua dapat bekerja sama untuk menciptakan program mentoring untuk siswa berisiko, memberikan dukungan akademis dan bimbingan baik di dalam maupun di luar kelas. Upaya bersama ini dapat membantu meningkatkan kinerja siswa, meningkatkan moral, dan menciptakan lingkungan belajar yang lebih mendukung bagi semua siswa. Rekomendasi untuk meningkatkan keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak-anak dengan cara membangun saluran komunikasi reguler antara orang tua dan guru, seperti laporan kemajuan mingguan atau konferensi orang tua-guru. Selain itu, sekolah dapat menawarkan lokakarya dan sesi informasi untuk orang tua tentang bagaimana mendukung kesuksesan akademik anak mereka di rumah. Partisipasi orang tua dalam pengalaman pendidikan anak-anak mereka dan perasaan terhubung dengan masyarakat juga dapat dipupuk dengan mendorong mereka untuk membantu di kelas atau menghadiri acara-acara sekolah. Strategi paling efektif untuk memastikan bahwa siswa mendapatkan bantuan dan dukungan yang mereka butuhkan untuk berhasil secara akademis adalah dengan membangun hubungan yang kuat antara orang tua dan guru. Siswa dapat memperoleh prestasi akademis yang lebih baik sebagai hasil dari kemitraan ini, dan suasana sekolah secara keseluruhan dapat meningkat. Orang tua yang berpartisipasi aktif dalam pendidikan anak-anak mereka akan lebih mampu mengidentifikasi bidang-bidang kekuatan dan pertumbuhan anak mereka, sehingga memudahkan mereka untuk memberikan bantuan terfokus di rumah. Bersama-sama, orang tua dan pendidik juga lebih siap menghadapi hambatan dan permasalahan yang mungkin timbul, sehingga memastikan siswa mendapatkan bantuan yang mereka perlukan tepat waktu. Kita dapat mewujudkan suasana pembelajaran yang penuh kepedulian dan suportif sehingga menumbuhkan prestasi siswa melalui interaksi yang tulus dan terus terang antara semua pihak yang terlibat. Ketika seorang anak mengalami kesulitan dalam memahami bacaan, misalnya, orang dewasa yang tertarik dengan pendidikannya dapat berkolaborasi dengan instruktur untuk membuat rencana khusus untuk latihan tambahan di Pada akhirnya, prestasi akademik yang lebih baik dihasilkan dari kemitraan antara orang tua dan guru, yang menjamin anak mendapat bantuan ekstra secara tepat waktu dan PENUTUP Perilaku nakal yang dilakukan siswa seperti berkelahi, membuat masalah, mengganggu temannya, dan melanggar peraturan sekolah, tidak hanya disebabkan oleh siswa itu sendiri, namun juga disebabkan oleh keluarga dan lingkungan sekitar. Pengaruh keluarga yang mengarah pada kenakalan anak antara lain ketidak pedulian orang tua dan ketidak harmonisan dalam keluarga. Pengaruh lingkungan yang kurang baik juga mempengaruhi terjadinya kenakalan siswa. Kelakuan buruk siswa seperti berkata kasar atau mengganggu teman saat pelajaran berlangsung dengan sengaja akan menimbulkan kegaduhan di dalam kelas, sehingga guru bisa memberikan peringatan, menghukum, dan memberikan surat PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah perjanjian kepada siswa agar siswa tersebut jera dan tidak mengulanginya kembali. Mencegah perilaku buruk siswa memerlukan peninjauan kembali pada program sekolah serta upaya bersama antara pihak sekolah dan keluarga. DAFTAR PUSTAKA