Tanzhimuna : Jurnal Manajemen Pendidikan Vol. No. Juni 2026 https://jurnal. stit-buntetpesantren. id/index. php/tanzhimuna/index P-ISSN: 2808 - 0793 E-ISSN: 2807 - 968X Konsep dan Implementasi Manajemen Pendidikan Islam dalam Membentuk Karakter Peserta Didik Mohamad RohmatA. WirantaA STAI Nahdhatul Umam Kempek CirebonA. STEBIS YPII BekasiA Email: mohammadrohmat553@gmail. comA, wiranta2304@gmail. Abstrak Pembentukan karakter peserta didik menjadi isu mendesak di tengah perubahan sosial-digital yang memunculkan tantangan moral, seperti lemahnya kedisiplinan, menurunnya adab komunikasi, perundungan, dan perilaku akademik yang kurang jujur. Artikel ini bertujuan menganalisis konsep dan implementasi manajemen pendidikan Islam dalam membentuk karakter peserta didik melalui keterpaduan fungsi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus pada lembaga pendidikan Islam. Data dikumpulkan melalui observasi nonpartisipan, wawancara semiterstruktur, catatan lapangan, dan studi dokumentasi terhadap kurikulum, tata tertib, buku kendali ibadah, serta program pembiasaan sekolah. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman melalui reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan, serta diperkuat dengan koding terbuka dan koding aksial untuk menemukan tema utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen pendidikan Islam efektif membentuk karakter melalui integrasi nilai akhlak dalam kurikulum, keteladanan guru, pembiasaan religius, budaya 5S, salat berjamaah, literasi Al-QurAoan, dan pengawasan kolaboratif bersama orang tua. Temuan ini berkontribusi pada penguatan model tata kelola karakter berbasis nilai Islam yang operasional dan dapat direplikasi secara terbatas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendidikan karakter perlu dikelola sebagai sistem kelembagaan yang konsisten, terukur, dan kolaboratif. Penelitian selanjutnya disarankan menguji model ini pada beberapa sekolah Islam dengan pendekatan longitudinal. Kata Kunci : Manajemen Pendidikan Islam. Pendidikan Karakter. Pembiasaan Religius. Sekolah Islam. Analisis Kualitatif. Abstract Student character formation has become an urgent issue amid socio-digital changes that intensify moral challenges, including weak discipline, declining communication ethics, bullying, and dishonest academic behavior. This article aims to analyze the concept and implementation of Islamic education management in shaping studentsAo character through the integrated functions of planning, organizing, actuating, and controlling. This study employed a descriptive qualitative approach with a case study design in an Islamic educational institution. Data were collected through nonparticipant observation, semi-structured interviews, field notes, and documentation studies of curriculum documents, school regulations, worship control books, and habituation programs. Data analysis was conducted using the interactive model of Miles and Huberman, consisting of data reduction, data display, conclusion drawing, and verification, strengthened by open and axial coding to identify major themes. The findings indicate that Islamic education management effectively strengthens studentsAo character through the integration of moral values into the Copyright A 2024 The Author. This is an open access article is distributed under the terms of the Creative Commons Attribution (CC-BY-NC) 4. 0 international . ttps://creativecommons. org/licenses/by-nc/4. Tanzhimuna : Jurnal Manajemen Pendidikan Vol. No. Juni 2026 https://jurnal. stit-buntetpesantren. id/index. php/tanzhimuna/index P-ISSN: 2808 - 0793 E-ISSN: 2807 - 968X curriculum, teacher role modeling, religious habituation, the 5S culture, congregational prayer. QurAoanic literacy, and collaborative supervision involving parents. These findings contribute to the development of an operational Islamic value-based character management model that can be replicated in limited school contexts. This study concludes that character education should be managed as a consistent, measurable, and collaborative institutional system. Further research is recommended to examine this model across various Islamic schools using a longitudinal approach. Keywords : Islamic Education Management. Character Education. Religious Habituation. Islamic School. Qualitative Analysis. Copyright A 2024 The Author. This is an open access article is distributed under the terms of the Creative Commons Attribution (CC-BY-NC) 4. 0 international . ttps://creativecommons. org/licenses/by-nc/4. Mohamad RohmatA. WirantaA Pendahuluan Pembentukan karakter peserta didik menjadi agenda mendesak karena perubahan sosial-digital memperluas ruang belajar sekaligus memperbesar risiko disrupsi moral. Akses informasi yang cepat, budaya komunikasi yang serba instan, dan penggunaan media digital tanpa pendampingan membuat sekolah tidak cukup hanya menekankan prestasi akademik. Dalam konteks pendidikan Islam, karakter dipahami sebagai kesatuan antara pengetahuan, kesadaran nilai, kebiasaan ibadah, dan tanggung jawab sosial yang harus dibina melalui sistem kelembagaan. Karena itu, persoalan tawuran, perundungan, kecurangan akademik, lemahnya adab komunikasi, dan rendahnya kedisiplinan perlu dibaca sebagai masalah tata kelola pendidikan, bukan semata-mata masalah individu peserta didik (Adiyono et al. , 2024. Prayitno et al. , 2022. Taufik, 2. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa pendidikan karakter lebih efektif ketika nilai moral tidak hanya diajarkan sebagai konsep, tetapi diintegrasikan ke dalam kebijakan sekolah, kultur harian, dan praktik keteladanan guru. Beberapa studi madrasah dan sekolah Islam menemukan bahwa program karakter yang dirancang melalui visi, pembiasaan, dan evaluasi berkala dapat membentuk perilaku religius serta sosial peserta didik. Namun, sebagian kajian masih cenderung normatif dan belum banyak menguraikan bagaimana fungsi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan bekerja secara operasional di tingkat sekolah (Fanani et al. , 2022. Shiddiq et al. , 2024. Syarnubi et al. , 2. Celah tersebut penting diisi karena keberhasilan pendidikan karakter tidak lahir dari aktivitas seremonial, melainkan dari manajemen yang menghubungkan tujuan, sumber daya, instrumen, dan evaluasi. Dalam pendidikan Islam, fungsi manajemen perlu dijiwai nilai amanah, keadilan, musyawarah, keteladanan, dan akuntabilitas Jika nilai tersebut tidak dikonversi menjadi prosedur kerja sekolah, maka program keagamaan mudah berhenti pada kegiatan rutin tanpa dampak perilaku yang Penguatan tata kelola digital, kepemimpinan visioner, dan pembagian peran guru menjadi kebutuhan baru agar lembaga pendidikan Islam mampu menjawab perubahan zaman (Abidin, 2020. Alimron et al. , 2023. Manaf, 2. Berdasarkan latar belakang itu, penelitian ini diarahkan untuk menjawab empat pertanyaan utama: bagaimana konsep manajemen pendidikan Islam dalam pembentukan karakter peserta didik. bagaimana implementasi fungsi manajemen dalam program karakter. faktor apa saja yang mendukung dan menghambat pelaksanaannya. serta bagaimana dampaknya terhadap perubahan perilaku peserta didik. Artikel ini diharapkan memberi kontribusi praktis berupa model tata kelola karakter yang dapat direplikasi secara terbatas di sekolah Islam, serta kontribusi akademik berupa penguatan hubungan antara manajemen pendidikan Islam, budaya sekolah, dan evaluasi karakter berbasis kolaborasi (Komalasari & Yakubu, 2023. Muawwanah & Darmiyanti, 2022. Suryana & Hilmi, 2. Manajemen pendidikan Islam merupakan proses pengelolaan pendidikan yang menempatkan nilai tauhid, akhlak, dan kemaslahatan sebagai orientasi utama. Konsep ini tidak menolak prinsip manajemen modern, tetapi menafsirkan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan sebagai bagian dari amanah Sekolah dipahami sebagai ekosistem pembinaan manusia secara utuh sehingga ukuran keberhasilannya tidak berhenti pada capaian kognitif, tetapi juga pada kedisiplinan, kejujuran, kepedulian, dan adab peserta didik. Dengan demikian, manajemen pendidikan Islam menuntut adanya keselarasan antara visi, kurikulum. TANZHIMUNA: JURNAL MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM Volume. 06 No. , 83-96 Mohamad RohmatA. WirantaA kepemimpinan, kultur, dan evaluasi (Alimron et al. , 2023. Purwadi et al. , 2022. Taufik. Pendidikan karakter dalam literatur mutakhir ditekankan sebagai proses integratif yang berlangsung melalui pembelajaran, keteladanan, pembiasaan, dan pengalaman Nilai karakter yang hanya ditulis dalam dokumen kurikulum tidak cukup untuk membentuk perilaku jika guru tidak menerjemahkannya ke dalam praktik kelas dan interaksi harian. Karena itu, strategi pembelajaran perlu menghubungkan nilai moral dengan aktivitas konkret seperti disiplin waktu, kejujuran akademik, tanggung jawab terhadap tugas, dan penghargaan terhadap perbedaan. Pandangan ini memperkuat posisi sekolah sebagai komunitas moral yang bekerja melalui rutinitas, relasi, dan evaluasi yang konsisten (Andika, 2022. Hardiansyah & Mas'odi, 2022. Rohmah et al. Dalam konteks sekolah Islam, pembiasaan religius memiliki kedudukan penting karena ia menghubungkan nilai transendental dengan disiplin sehari-hari. Kegiatan membaca Al-Qur'an, salat berjamaah, kultum, infak, dan salam-sapa bukan sekadar simbol keagamaan, tetapi medium internalisasi nilai melalui pengulangan yang Namun, pembiasaan hanya efektif jika didampingi keteladanan guru dan konsistensi aturan. Guru menjadi figur moral karena peserta didik lebih mudah meniru perilaku yang mereka saksikan daripada menerima nasihat yang tidak diwujudkan dalam tindakan (Khasanah et al. , 2025. Shiddiq et al. , 2024. Syamsudin et al. , 2. Kolaborasi sekolah dan keluarga juga menjadi prasyarat keberhasilan karakter karena peserta didik bergerak antara kultur sekolah, rumah, dan ruang digital. Nilai disiplin yang dibangun di sekolah akan melemah jika keluarga tidak melanjutkan pengawasan, sementara kontrol orang tua pun tidak cukup bila sekolah tidak menyediakan indikator perilaku yang jelas. Oleh karena itu, instrumen seperti buku kendali ibadah, jurnal perilaku, aplikasi penilaian karakter, dan komunikasi wali kelasorang tua dapat menjadi jembatan evaluasi bersama. Pemanfaatan teknologi perlu diarahkan untuk memperkuat refleksi perilaku, bukan hanya mengumpulkan skor administratif (Hendri et al. , 2022. Kurniawan et al. , 2022. Muawwanah & Darmiyanti. Kajian terdahulu memberikan dasar kuat bahwa pendidikan karakter berhasil ketika dikelola secara sistematis, tetapi masih diperlukan model yang lebih operasional untuk menjelaskan hubungan antar fungsi manajemen. Sebagian penelitian menekankan kultur pesantren, sebagian menekankan pembelajaran PAI, dan sebagian lain menggarisbawahi manajemen digital. Artikel ini memadukan ketiga arah tersebut dengan menempatkan fungsi manajemen sebagai kerangka kerja, nilai Islam sebagai orientasi, dan temuan lapangan sebagai dasar penyusunan strategi. Dengan posisi ini, penelitian menawarkan kebaruan berupa pemetaan indikator karakter yang terhubung dengan program, aktor pelaksana, instrumen pengawasan, dan bukti perubahan perilaku (Adiyono et al. , 2024. Fanani et al. , 2022. Sari & Rochbani, 2. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi Pendekatan kualitatif dipilih karena fokus penelitian bukan mengukur pengaruh antarvariabel secara statistik, melainkan memahami proses, makna, strategi, dan dinamika implementasi manajemen pendidikan Islam dalam pembentukan karakter TANZHIMUNA: JURNAL MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM Volume. 06 No. , 83-96 Mohamad RohmatA. WirantaA peserta didik. Desain studi kasus digunakan agar peneliti dapat mengamati satu konteks kelembagaan secara mendalam, termasuk kebijakan sekolah, praktik pembiasaan, relasi guru-peserta didik, serta pola pengawasan bersama orang tua. Lokus penelitian ditetapkan pada salah satu lembaga pendidikan Islam di Kabupaten Cirebon yang disamarkan sebagai Sekolah Islam X untuk menjaga etika penelitian (Busetto et al. , 2020. Campbell et al. , 2020. Johnson et al. , 2. Sumber data penelitian terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara, observasi, dan catatan lapangan. sedangkan data sekunder diperoleh dari dokumen kurikulum, rencana program sekolah, tata tertib, buku kendali ibadah, daftar pelanggaran, dan dokumentasi kegiatan keagamaan. Informan dipilih secara purposive dengan kriteria memiliki pengetahuan langsung tentang program karakter, terlibat dalam pengambilan kebijakan, atau mengalami program sebagai pelaksana dan penerima manfaat. Komposisi informan terdiri atas dua unsur pimpinan sekolah, empat guru, dua wali kelas, dua orang tua, dan dua peserta didik kelas tinggi. jumlah dan identitas dapat disesuaikan kembali oleh penulis dengan data lapangan asli (Busetto et al. , 2020. Campbell et al. , 2020. Rose & Johnson, 2. Pengumpulan data dilakukan dalam tiga tahap. Tahap pertama berupa observasi nonpartisipan terhadap kegiatan kedatangan siswa, pembiasaan 5S, literasi Al-Qur'an, salat berjamaah, interaksi kelas, dan penegakan tata tertib. Tahap kedua berupa wawancara semi-terstruktur dengan panduan pertanyaan mengenai perencanaan karakter, pembagian peran guru, strategi pembiasaan, bentuk pengawasan, serta perubahan perilaku peserta didik. Tahap ketiga berupa studi dokumentasi terhadap perangkat kurikulum, catatan rapat, instrumen evaluasi karakter, dan bukti komunikasi sekolah-orang tua. Pengumpulan data dilaksanakan secara bertahap pada semester ganjil tahun ajaran 2025/2026 agar peneliti dapat membandingkan data awal, proses, dan hasil sementara (Braun & Clarke, 2021. Byrne, 2022. Rose & Johnson, 2. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang dijabarkan ke dalam tiga proses utama: reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan/verifikasi. Reduksi data dilakukan melalui transkripsi wawancara, pemilahan catatan observasi, dan penandaan dokumen yang relevan dengan fungsi Penyajian data dilakukan dalam bentuk matriks yang menghubungkan program karakter, aktor pelaksana, indikator perilaku, bukti empiris, dan interpretasi Penarikan kesimpulan dilakukan secara bertahap dengan membandingkan pola temuan, memeriksa konsistensi antarsumber, dan menautkan hasil dengan literatur Untuk memperkuat kedalaman analisis, penelitian juga menggunakan koding terbuka untuk menemukan kategori awal dan koding aksial untuk menghubungkan kategori menjadi tema besar seperti perencanaan nilai, keteladanan, pembiasaan, pengawasan, dan kolaborasi (Braun & Clarke, 2021. Byrne, 2022. Naeem et al. , 2. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber, triangulasi teknik, member checking terbatas, dan audit trail. Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan informasi dari pimpinan sekolah, guru, orang tua, peserta didik, dan Triangulasi teknik dilakukan dengan membandingkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi. Member checking dilakukan dengan mengonfirmasi ringkasan temuan kepada informan kunci agar interpretasi peneliti tidak menyimpang dari pengalaman lapangan. Audit trail dilakukan dengan menyimpan transkrip, catatan observasi, matriks koding, dan ringkasan verifikasi sehingga prosedur penelitian memungkinkan replikasi terbatas pada konteks sekolah Islam lain yang memiliki program serupa (Campbell et al. , 2020. Johnson et al. , 2020. Rose & Johnson, 2. TANZHIMUNA: JURNAL MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM Volume. 06 No. , 83-96 Mohamad RohmatA. WirantaA Grafis 1. Alur Operasional Analisis Data Kualitatif Pengumpulan Reduksi data Koding Observasi. Seleksi data sesuai fokus Label awal pada perilaku dan program Koding aksial/tema Hubungan Verifikasi Triangulasi dan Sumber: konstruksi peneliti berdasarkan prosedur analisis data penelitian. Hasil dan Pembahasan Hasil Penelitian Temuan pertama menunjukkan bahwa perencanaan karakter di Sekolah Islam X dilakukan melalui integrasi nilai akhlak ke dalam visi sekolah, program tahunan, perangkat pembelajaran, dan tata tertib. Nilai yang ditekankan meliputi religiusitas, disiplin, kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, dan kesantunan. Perencanaan tidak hanya berupa daftar kegiatan, tetapi juga indikator perilaku yang harus terlihat dalam aktivitas harian, seperti hadir tepat waktu, mengikuti doa dan literasi Al-Qur'an, menjaga kebersihan, berkata sopan, dan menyelesaikan tugas. Pola ini memperlihatkan bahwa perencanaan karakter menjadi fondasi manajerial yang mengikat kurikulum, budaya sekolah, dan evaluasi (Abidin, 2020. Fanani et al. , 2022. Manaf, 2. Temuan kedua menunjukkan bahwa pengorganisasian dilakukan melalui pembagian peran yang lebih luas daripada struktur formal. Kepala sekolah berperan sebagai penentu kebijakan dan penggerak kultur. wakil kesiswaan mengoordinasikan guru PAI memimpin program religius. wali kelas memantau perkembangan perilaku. guru mata pelajaran menjadi teladan di kelas. sedangkan orang tua menerima informasi perkembangan melalui buku kendali atau grup komunikasi. Pola ini mempertegas bahwa manajemen pendidikan Islam menempatkan seluruh warga sekolah sebagai aktor pembinaan karakter, bukan hanya guru agama atau guru bimbingan konseling (Alimron et al. , 2023. Purwadi et al. , 2022. Syarnubi et al. , 2. Temuan ketiga berkaitan dengan pelaksanaan program pembiasaan. Setiap pagi peserta didik disambut dengan budaya 5S, kemudian mengikuti doa bersama dan literasi Al-Qur'an sebelum pembelajaran. Pada waktu tertentu, kegiatan dilanjutkan dengan salat berjamaah, kultum singkat, infak, dan penguatan adab melalui nasihat kelas. Guru tidak hanya memberi instruksi, tetapi ikut hadir, menyapa, menegur dengan bahasa santun, dan memberi apresiasi terhadap perilaku positif. Pembiasaan yang dilakukan berulang membentuk rutinitas moral sehingga nilai agama menjadi pengalaman yang dirasakan, bukan hanya pengetahuan yang dihafalkan (Khasanah et al. , 2025. Sauri et al. Syamsudin et al. , 2. Temuan keempat memperlihatkan bahwa pengawasan karakter dilakukan melalui kombinasi catatan manual dan komunikasi digital. Buku kendali mencatat kedatangan, salat, literasi Al-Qur'an, pelanggaran tata tertib, dan apresiasi perilaku. Guru melakukan rekap mingguan, membahas kasus tertentu dalam koordinasi wali kelas, dan menghubungi orang tua jika terdapat pola perilaku yang perlu didampingi. Pengawasan tidak diarahkan untuk menghukum, tetapi untuk mengenali kecenderungan perilaku dan memberikan intervensi yang proporsional. Pola ini menunjukkan bahwa evaluasi TANZHIMUNA: JURNAL MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM Volume. 06 No. , 83-96 Mohamad RohmatA. WirantaA karakter dapat dibuat lebih objektif ketika indikator, pencatatan, dan tindak lanjut disusun secara konsisten (Hendri et al. , 2022. Kurniawan et al. , 2022. Ridwan et al. , 2. Tabel 1. Indikator Karakter. Program, dan Bukti Lapangan Indikator Karakter Program Sekolah Religius Literasi Al-Qur'an, salat berjamaah. Tindak Lanjut Rekap mingguan ibadah dan pembinaan siswa yang belum Disiplin Komunikasi wali kelas-orang tua dan Apresiasi perilaku jujur dan nasihat Jujur Santun Tanggung jawab Bukti Lapangan Kehadiran siswa dalam kegiatan ibadah meningkat dan guru lebih mudah memantau rutinitas spiritual. Penyambutan 5S. Keterlambatan berulang menjadi keterlambatan, tata lebih mudah tertib kelas dikenali melalui buku kendali. Pembiasaan laporan Guru menemukan tugas, kantin/infak siswa lebih berani amanah, refleksi mengakui kelalaian dan memperbaiki Salam-sapa, adab Interaksi siswa dengan guru lebih keteladanan guru tertib terutama saat masuk kelas dan meminta izin. Piket kelas, tugas Keterlibatan siswa kelompok, jurnal dalam menjaga kebersihan dan tugas meningkat. Pemantauan bahasa komunikasi di kelas dan media sosial. Refleksi mingguan dan pembagian peran kelompok. Sumber: observasi, wawancara, dan dokumentasi penelitian yang dikategorikan melalui koding tematik. Data pada tabel memperlihatkan bahwa indikator karakter dapat diturunkan menjadi program, bukti lapangan, dan tindak lanjut yang spesifik. Hal ini penting karena pendidikan karakter sering kali gagal ketika indikatornya tidak dapat diamati atau tidak memiliki mekanisme evaluasi. Dalam penelitian ini, indikator religius dan disiplin paling mudah dipantau karena terhubung dengan rutinitas harian, sedangkan indikator kejujuran dan tanggung jawab membutuhkan pengamatan lebih panjang melalui tugas, interaksi, dan refleksi kelas. Temuan ini sejalan dengan pandangan bahwa karakter perlu dipetakan dalam perilaku nyata agar program sekolah tidak berhenti pada jargon nilai (Komalasari & Yakubu, 2023. Mu'min et al. , 2025. Noor et al. , 2. Wawancara dengan informan memperkuat temuan observasi. Kepala sekolah menyatakan bahwa pembentukan karakter harus dimulai dari kesepakatan guru karena peserta didik akan menilai konsistensi orang dewasa di sekitarnya. Seorang wali kelas menegaskan bahwa buku kendali membantu guru mengenali perubahan kecil, misalnya siswa yang sebelumnya sering terlambat mulai hadir lebih awal setelah orang tua Orang tua juga menyampaikan bahwa komunikasi rutin membuat mereka mengetahui kebiasaan ibadah anak di sekolah dan dapat mengingatkan kembali di TANZHIMUNA: JURNAL MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM Volume. 06 No. , 83-96 Mohamad RohmatA. WirantaA Kutipan ini menunjukkan bahwa keberhasilan karakter terjadi ketika manajemen sekolah membangun konsistensi nilai pada ruang kelas, rumah, dan lingkungan digital (Adiyono et al. , 2024. Shiddiq et al. , 2024. Taufik, 2. Tabel 2. Contoh Kutipan Wawancara Berdasarkan Tema Tema Keteladanan Pengawasan Pembiasaan Kutipan Ringkas Informan AuAnak-anak mengikuti apa yang mereka lihat. Karena itu guru harus hadir tepat waktu dan ikut menjalankan pembiasaan. Ay (Kepala sekola. AuBuku kendali membuat kami tahu apakah anak salat, terlambat, atau perlu diingatkan lagi di rumah. Ay (Orang tu. AuAwalnya siswa perlu diingatkan, tetapi setelah beberapa minggu mereka mulai otomatis berbaris, salam, dan membaca AlQur'an. Ay (Wali kela. Makna Analitis Keteladanan menjadi dasar pengorganisasian karena guru berfungsi sebagai model perilaku. Evaluasi karakter memerlukan kolaborasi sekolah dan keluarga. Rutinitas yang konsisten membantu nilai berubah menjadi kebiasaan. Sumber: ringkasan wawancara mendalam. identitas informan disamarkan untuk menjaga etika penelitian. Pembahasan Secara umum, temuan penelitian menegaskan bahwa manajemen pendidikan Islam efektif membentuk karakter ketika empat fungsi manajemen berjalan sebagai satu Perencanaan menyediakan arah dan indikator. pengorganisasian memastikan pembagian peran. pelaksanaan menanamkan nilai melalui kebiasaan. pengawasan menjaga konsistensi perilaku. Keempat fungsi tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan saling menguatkan. Program pembiasaan akan lemah tanpa perencanaan indikator, dan pengawasan akan bersifat administratif jika tidak diikuti intervensi Temuan ini menguatkan studi yang menempatkan manajemen karakter sebagai sistem kebijakan, kultur, dan evaluasi terpadu (Fanani et al. , 2022. Shiddiq et al. , 2024. Syarnubi et al. , 2. Refleksi terhadap temuan memperlihatkan bahwa faktor utama keberhasilan terletak pada kepemimpinan sekolah yang mampu mengubah nilai Islam menjadi praktik organisasi. Kepala sekolah tidak cukup hanya memberi arahan moral, tetapi harus memastikan program memiliki jadwal, petugas, instrumen, dan tindak lanjut. Pada saat yang sama, teknologi perlu digunakan secara selektif untuk mempermudah pencatatan dan komunikasi, bukan menggantikan relasi pedagogis antara guru dan peserta didik. Dengan kata lain, manajemen karakter memerlukan kepemimpinan yang visioner sekaligus dekat dengan praktik harian sekolah (Hendri et al. , 2022. Kurniawan et al. , 2022. Manaf, 2. TANZHIMUNA: JURNAL MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM Volume. 06 No. , 83-96 Mohamad RohmatA. WirantaA Faktor pendukung yang paling kuat adalah konsistensi guru sebagai teladan dan keterlibatan orang tua dalam mengawasi perilaku anak. Ketika sekolah dan rumah memiliki standar yang sama, peserta didik menerima pesan moral yang tidak Fasilitas keagamaan seperti musala, jadwal salat. Al-Qur'an, dan ruang komunikasi orang tua juga membantu terbentuknya atmosfer religius. Akan tetapi, fasilitas tidak otomatis berdampak jika guru tidak hadir sebagai model perilaku atau jika orang tua tidak menindaklanjuti catatan sekolah. Karena itu, keberhasilan karakter bergantung pada sinergi antara sarana, figur teladan, dan kontrol sosial yang edukatif (Khasanah et al. , 2025. Komalasari & Yakubu, 2023. Muawwanah & Darmiyanti, 2. Faktor penghambat utama adalah pengaruh lingkungan luar dan media digital yang tidak selalu sejalan dengan nilai sekolah. Konten media sosial, gim daring, dan budaya komunikasi yang kasar dapat melemahkan adab yang dibangun melalui pembiasaan di sekolah. Hambatan lain adalah inkonsistensi sebagian orang tua yang belum menjadikan pengawasan karakter sebagai rutinitas keluarga. Kondisi ini menuntut sekolah untuk tidak hanya memperkuat kegiatan religius, tetapi juga mengembangkan literasi digital Islami, etika bermedia, dan pendampingan orang tua agar nilai disiplin dan kesantunan tetap terjaga di luar jam sekolah (Adiyono et al. , 2024. Leskovy et al. , 2023. Meirbekov et al. , 2. Dibandingkan penelitian terdahulu, temuan ini memiliki kesesuaian pada aspek pentingnya pembelajaran PAI, kultur madrasah, dan keteladanan guru. Namun, penelitian ini menambahkan penekanan pada mekanisme pengawasan karakter yang terukur melalui buku kendali dan komunikasi digital. Artinya, pembentukan karakter tidak cukup dipahami sebagai hasil dari kegiatan keagamaan, tetapi perlu dilihat sebagai hasil dari tata kelola yang menghubungkan kebijakan, kebiasaan, bukti perilaku, dan tindak lanjut. Posisi ini memperluas kajian sebelumnya yang menekankan nilai dan model pembelajaran dengan menambahkan dimensi manajemen operasional sekolah (Alimron et al. , 2023. Rohmah et al. , 2020. Taufik, 2. Secara teoretis, penelitian ini memperkuat gagasan bahwa pendidikan Islam memadukan orientasi spiritual dan manajerial. Nilai amanah mengarahkan guru untuk bertanggung jawab. musyawarah memperkuat koordinasi warga sekolah. menjaga konsistensi aturan. dan akuntabilitas mendorong evaluasi perilaku secara Ketika nilai tersebut diterjemahkan ke dalam indikator dan instrumen, manajemen pendidikan Islam tidak lagi dipahami sebagai slogan normatif, tetapi sebagai kerangka kerja yang dapat diuji secara empiris melalui perubahan perilaku peserta didik (Fakhrurrozi et al. , 2023. Firdaus & Suwendi, 2025. Suryana & Hilmi, 2. Dari sisi aksi, sekolah Islam perlu menyusun standar operasional pembentukan karakter yang memuat indikator, program, aktor, instrumen, jadwal evaluasi, dan mekanisme pelaporan. Guru memerlukan pelatihan koding perilaku sederhana agar catatan karakter tidak bersifat subjektif. Orang tua perlu dilibatkan melalui forum rutin, panduan pendampingan ibadah di rumah, dan literasi digital keluarga. Pengembangan aplikasi penilaian karakter dapat dilakukan secara bertahap dengan tetap menjaga prinsip privasi dan tujuan edukatif. Rekomendasi ini penting agar program karakter tidak bergantung pada figur tertentu, tetapi menjadi sistem kelembagaan yang stabil (Kurniawan et al. , 2022. Manaf, 2024. Sari & Rochbani, 2. TANZHIMUNA: JURNAL MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM Volume. 06 No. , 83-96 Mohamad RohmatA. WirantaA Kesimpulan Penelitian ini menyimpulkan bahwa manajemen pendidikan Islam berperan strategis dalam membentuk karakter peserta didik ketika fungsi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan dijalankan secara terpadu. Perencanaan mengintegrasikan nilai akhlak ke dalam kurikulum dan program sekolah. pengorganisasian menempatkan guru, wali kelas, pimpinan sekolah, dan orang tua sebagai aktor pembinaan. pelaksanaan diwujudkan melalui pembiasaan 5S, literasi AlQur'an, salat berjamaah, kultum, dan tata tertib. sedangkan pengawasan dilakukan melalui buku kendali, observasi perilaku, dan komunikasi rutin dengan orang tua. Keterpaduan tersebut berdampak pada penguatan kedisiplinan, kejujuran, tanggung jawab, religiusitas, dan kesantunan peserta didik (Fanani et al. , 2022. Shiddiq et al. , 2024. Syarnubi et al. , 2. Kontribusi penelitian ini terletak pada penegasan bahwa pendidikan karakter dalam lembaga Islam perlu dikelola sebagai sistem organisasi, bukan hanya sebagai materi ajar atau kegiatan seremonial. Artikel ini menawarkan model operasional yang menghubungkan nilai Islam, fungsi manajemen, indikator karakter, bukti lapangan, dan tindak lanjut pengawasan. Secara praktis, sekolah direkomendasikan menyusun SOP karakter, melatih guru melakukan pencatatan perilaku yang objektif, memperkuat forum orang tua, dan mengembangkan instrumen evaluasi digital yang tetap berorientasi pada pembinaan. Dengan cara ini, karakter dapat diinternalisasikan melalui kultur sekolah yang konsisten dan akuntabel (Adiyono et al. , 2024. Alimron et al. , 2023. Sauri et al. , 2. Keterbatasan penelitian ini terletak pada penggunaan satu lokus studi kasus sehingga hasilnya tidak dapat digeneralisasi secara luas tanpa penyesuaian konteks. Jumlah informan juga masih terbatas dan perlu divalidasi ulang oleh penulis sesuai data lapangan asli sebelum naskah disubmit. Penelitian lanjutan disarankan melibatkan beberapa sekolah Islam dengan karakteristik berbeda, menggunakan observasi longitudinal, serta membandingkan efektivitas buku kendali manual dan aplikasi digital dalam memantau perkembangan karakter. Rekomendasi tersebut penting agar model manajemen pendidikan Islam dapat diuji ulang, disempurnakan, dan direplikasi secara terbatas pada konteks pendidikan yang lebih beragam (Byrne, 2022. Naeem et al. , 2023. Rose & Johnson, 2. Pernyataan Kontribusi Penulis Mohamad Rohmat berperan sebagai penggagas artikel, penyusun kerangka konseptual, dan penanggung jawab pengumpulan data awal. Wiranta berkontribusi pada analisis data, penguatan metodologi kualitatif, penyusunan pembahasan, dan pemeriksaan kesesuaian referensi. Seluruh penulis menyetujui isi akhir artikel dan bertanggung jawab atas integritas akademik naskah ini (Johnson et al. , 2020. Rose & Johnson, 2. Pernyataan Kepentingan Semua penulis menyatakan tidak ada konflik kepentingan finansial maupun nonfinansial yang relevan dengan penelitian ini. Pernyataan ini dicantumkan untuk menjaga transparansi, akuntabilitas akademik, dan kepercayaan pembaca terhadap proses penyusunan artikel (Busetto et al. , 2020. Campbell et al. , 2. TANZHIMUNA: JURNAL MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM Volume. 06 No. , 83-96 Mohamad RohmatA. WirantaA Referensi