Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik. Volume XI Nomor 2 September 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 68-87 DOI: https:// 10. 58374/sepakat. Available online at: https://ejurnal. id/index. php/Sepakat IMPLEMENTASI PRINSIP SINODALITAS DALAM KEHIDUPAN UMAT STASI IBU TERESA SEI HANYU KEUSKUPAN PALANGKA RAYA Silvester Adinuhgra1*. Louis Fingky Alexander Sinaga2 . Nullya Ngarani3 Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang. Indonesia STIPAS Tahasak Danum Pambelum Keuskupan Palangkaraya. Indonesia SMP Negeri 1 Sepang Gunung Mas. Indonesia *frlouismario@gmail. Alamat: Jl. Tjilik Riwut Km. 1 No. 5 Ae Kota Palangka Raya Korespondensi penulis: frlouismario@gmail. Abstract. This research examines the experience of the people of Stasi Ibu Teresa Sei Hanyu in building a Synodal Church, a church model that emphasizes the active participation and collaboration of all the Through in-depth interviews and three weeks of participant observation, this study reveals how the principles of synodality are implemented at the grassroots level. The main findings show that Stasi Ibu Teresa has implemented various initiatives to realize the Synodal Church, including interfaith dialogue, empowerment of categorical groups, and increased participation in liturgy and social services. Despite facing challenges such as resistance to change and generational gaps, the station has succeeded in creating a space for dialogue that allows diverse voices to be heard and valued. The impact of implementing the principles of the Synodal Church is seen in the increased involvement of parishioners in church decisionmaking and the strengthening of social relations among parishioners. Collaboration between Stasi Ibu Teresa and the parent parish has also increased, especially in pastoral planning and implementation of faith formation programs. This research concludes that the transformation towards a more participatory and inclusive church model requires the commitment and active involvement of the entire community. Stasi Ibu Teresa demonstrates that the principles of synodality can be concretely applied at the local level, contributing to the vision of a more inclusive and responsive universal Catholic Church. Keywords: Synodal church, active participation, collaboration, inclusive, dialog Abstrak. Penelitian ini mengkaji pengalaman umat Stasi Ibu Teresa Sei Hanyu dalam membangun Gereja Sinodal, sebuah model gereja yang menekankan partisipasi aktif dan kolaborasi seluruh umat beriman. Melalui wawancara mendalam dan observasi partisipan selama tiga minggu, studi ini mengungkap bagaimana prinsip-prinsip sinodalitas diterapkan di tingkat akar rumput. Temuan utama menunjukkan bahwa Stasi Ibu Teresa telah mengimplementasikan berbagai inisiatif untuk mewujudkan Gereja Sinodal, termasuk dialog antar umat, pemberdayaan kelompok kategorial, dan peningkatan partisipasi dalam liturgi serta pelayanan sosial. Meskipun menghadapi tantangan seperti resistensi terhadap perubahan dan kesenjangan generasi, stasi ini berhasil menciptakan ruang dialog yang memungkinkan suara-suara beragam untuk didengar dan dihargai. Dampak penerapan prinsip Gereja Sinodal terlihat dalam peningkatan keterlibatan umat dalam pengambilan keputusan gereja dan penguatan relasi sosial antar umat. Kolaborasi antara Stasi Ibu Teresa dengan Paroki induk juga mengalami peningkatan, terutama dalam perencanaan pastoral dan pelaksanaan program pembinaan iman. Penelitian ini menyimpulkan bahwa transformasi menuju model gereja yang lebih partisipatif dan inklusif membutuhkan komitmen dan keterlibatan aktif dari seluruh umat. Stasi Ibu Teresa mendemonstrasikan bahwa prinsip-prinsip sinodalitas dapat diterapkan secara konkret di tingkat lokal, memberikan kontribusi pada visi Gereja Katolik universal yang lebih inklusif dan responsif. Kata kunci: Gereja sinodal. Partisipasi Aktif. Kolaborasi. Inklusif. Dialog Received: September 3, 2025. Revised: September 20, 2025. Accepted: September 29, 2025. Online Available: September 30, 2025. : September 30, 2025. *Corresponding author, frlouismario@gmail. E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 68-87 LATAR BELAKANG Gereja Katolik saat ini sedang mengalami transformasi signifikan melalui konsep Gereja Sinodal yang dicanangkan oleh Paus Fransiskus . Konsep ini menekankan pentingnya "berjalan bersama" dalam membangun Gereja yang lebih inklusif, partisipatif, dan responsif terhadap kebutuhan umat. Studi-studi terdahulu telah mengeksplorasi implementasi konsep ini di tingkat keuskupan dan paroki, namun masih sedikit yang memfokuskan pada pengalaman umat di tingkat stasi, terutama di Indonesia. Stasi Ibu Teresa, sebagai bagian integral dari struktur Gereja Katolik di Indonesia, menawarkan perspektif unik dalam proses membangun Gereja Sinodal. Pengalaman umat di tingkat stasi ini penting untuk dipahami karena mereka berada di garis depan dalam menerjemahkan visi Gereja Sinodal ke dalam praktik sehari-hari. Namun, sejauh ini belum ada penelitian komprehensif yang mengkaji bagaimana umat di tingkat stasi memahami, mengalami, dan berkontribusi dalam proses sinodalitas ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan tersebut dengan mengeksplorasi pengalaman umat Stasi Ibu Teresa dalam membangun Gereja Sinodal. Dengan menggunakan kerangka teori ekklesiologi komunio dan pendekatan pastoral partisipatif, studi ini akan menganalisis bagaimana konsep "berjalan bersama" diinterpretasikan dan diimplementasikan di tingkat akar rumput. Urgensi penelitian ini terletak pada kontribusinya terhadap pemahaman yang lebih holistik tentang proses sinodalitas, yang tidak hanya berfokus pada aspek hierarkis tetapi juga pada peran aktif umat awam. Kebaruan penelitian ini terletak pada fokusnya terhadap dinamika lokal di tingkat stasi, yang seringkali luput dari perhatian dalam diskursus yang lebih luas tentang Gereja Sinodal. Dengan menggali pengalaman konkret umat Stasi Ibu Teresa, penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan berharga tentang tantangan dan peluang dalam membangun Gereja Sinodal di konteks lokal Indonesia. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktorfaktor yang mempengaruhi partisipasi umat dalam proses sinodalitas, serta mengeksplorasi implikasi praktisnya bagi pengembangan pastoral di tingkat stasi. Melalui pendekatan kualitatif yang mendalam, penelitian ini bertujuan untuk memberikan kontribusi signifikan bagi pemahaman dan implementasi konsep Gereja Sinodal di tingkat IMPLEMENTASI PRINSIP SINODALITAS DALAM KEHIDUPAN UMAT STASI IBU TERESA SEI HANYU KEUSKUPAN PALANGKA RAYA akar rumput, sekaligus menyoroti peran penting stasi dalam ekosistem Gereja Katolik yang lebih luas. KAJIAN TEORITIS Pengertian Gereja Sinodal Gereja Sinodal adalah suatu gereja yang menekankan aspek Auberjalan bersamaAy . yn-hodo. , yaitu komunitas Allah yang secara bersama-sama melangkah dalam iman, saling mendengarkan, dan berkontribusi secara aktif dalam misi gereja. Menurut Martasudjita . , sinodalitas bukan hanya sekedar metode pastoral, melainkan merupakan identitas dasar dari gereja yang berasal dari esensinya sebagai persekutuan umat Allah . kklesiologi komuni. Paus Fransiskus menggarisbawahi bahwa sinodalitas adalah Aujalan yang diharapkan Tuhan bagi gereja di milenium yang ketigaAy (Jehaut, 2. , karena di dalamnya terdapat partisipasi, keterbukaan, dan dialog yang menyiratkan wajah gereja universal. Gereja Sinodal juga menuntut partisipasi dari semua segmen: klerus, religius, dan Seperti yang dinyatakan oleh Sinurat . , sinodalitas menjadi cara gereja mewujudkan dirinya sebagai sakramen keselamatan yang bersifat universal, di mana setiap umat beriman memiliki hak dan kewajiban untuk terlibat dalam kegiatan gereja. Oleh karena itu, pemahaman mengenai Gereja Sinodal melampaui sekat institusi, sebab mengajak semua umat untuk melangkah bersama dalam mendengarkan Roh Kudus dan mewujudkan Injil dalam konteks zaman sekarang. Landasan Filosofis Sinodalitas Secara filosofis, sinodalitas dapat dilihat sebagai suatu praktik kehidupan bersama . , di mana individu sebagai makhluk sosial selalu diarahkan untuk menciptakan kebersamaan dan melakukan dialog. Menurut Nampar (Nampar, 2. sinodalitas memiliki dimensi ontologis yang mencerminkan esensi Gereja sebagai komunitas umat Allah. serta dimensi aksiologis, karena memberikan nilai praktik berupa partisipasi aktif umat dalam kehidupan gereja. Oleh karena itu, sinodalitas bukan sekadar sebuah konsep organisasi, melainkan merupakan sebuah paradigma yang membentuk cara hidup orang-orang beriman. Jurnal Sepakat VOLUME XI. NO. SEPTEMBER 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 68-87 Lebih lanjut, sinodalitas juga mencerminkan filsafat relasionalitas. Dalam pandangan Emmanuel Levinas, eksistensi manusia mendapatkan maknanya melalui hubungan dengan orang lain. Ini sejalan dengan prinsip sinodalitas yang menekankan sikap terbuka, pertemuan, dan penghargaan terhadap "yang lain" dalam perjalanan iman bersama (Situmorang, 2. Dengan kata lain, sinodalitas memiliki dasar filosofis yang menegaskan bahwa Gereja hanya dapat mengekspresikan dirinya secara autentik melalui hubungan dialogis antara umat. Dasar Teologis dan Eklesiologis Sinodalitas Secara teologis, sinodalitas bersumber dari eklesiologi komunio, yang menggambarkan Gereja sebagai komunitas umat Allah (Martasudjita, 2. Eklesiologi ini menekankan bahwa semua orang percayaAibaik klerus, religius, maupun awamAidiberi tugas untuk saling mendengar, berdiskusi, dan ambil bagian dalam misi Gereja. Paus Fransiskus menyatakan bahwa Ausinodalitas adalah jalan yang diharapkan Tuhan untuk Gereja di milenium ketigaAy (Jehaut, 2. Dengan kata lain, sinodalitas adalah esensi dari identitas Gereja, bukan hanya sekadar metode pastoral. Eklesiologi komunio yang mendasari sinodalitas juga menuntut keseimbangan antara struktur hierarki dan partisipasi umat. Hardawiryana . dalam Sacrosanctum Concilium menekankan bahwa liturgi dan kehidupan Gereja hanya dapat mencapai puncaknya jika semua umat beriman berpartisipasi dengan aktif. Sebab itu, sinodalitas bukanlah penolakan terhadap hierarki, melainkan sebuah usaha untuk menggabungkan kekuasaan dengan partisipasi bersama dalam semangat Pneumatologi Sinodalitas Sinodalitas tidak dapat dipisahkan dari fungsi Roh Kudus. Setiap anggota umat Allah memiliki sensus fidei, yang merupakan rasa iman yang tumbuh dari karya Roh Kudus dalam diri mereka. Penelitian Situmorang . menunjukkan bahwa proses discernment dalam Gereja Sinodal adalah proses yang selalu membuka ruang bagi bimbingan Roh Kudus melalui percakapan rohani dan keputusan bersama. Dengan demikian. Roh Kudus dipahami sebagai agen utama yang menuntun Gereja untuk berjalan bersama, bukan sekadar hasil kompromi manusia. IMPLEMENTASI PRINSIP SINODALITAS DALAM KEHIDUPAN UMAT STASI IBU TERESA SEI HANYU KEUSKUPAN PALANGKA RAYA Lebih dalam, pneumatologi sinodalitas menunjukkan bahwa Roh Kudus tidak hanya bertindak melalui pemimpin Gereja, tetapi juga melalui suara kaum kecil yang sering kali terabaikan. Roh Kudus berkomunikasi melalui seluruh anggota Gereja, bahkan melalui individu-individu yang dianggap lemah (Sinurat, 2. Pandangan ini mengubah cara berpikir Gereja dari yang eksklusif-hierarkis menjadi institusi yang lebih mendengarkan, terbuka, dan peka terhadap tanda-tanda zaman. Sinodalitas dalam Konteks Pastoral dan Budaya Indonesia Pemahaman sinodalitas harus dilihat dalam perspektif pastoral serta budaya Dalam konteks masyarakat Indonesia yang bersifat komunal, prinsip sinodalitas menemukan artinya melalui spirit dialog dan semangat gotong royong. Seperti yang diungkapkan oleh Marbun (Marbun et al. , 2. , bahwa stasi-stasi di Indonesia berfungsi sebagai laboratorium sinodalitas, tempat umat bisa bertemu secara langsung, berdialog,dan membuat keputusan-keputusan penting secara bersama. Ini menunjukkan bahwa sinodalitas sejalan dengan nilai-nilai lokal yang menekankan kolaborasi, solidaritas, dan partisipasi aktif. Di samping itu, keragaman budaya Indonesia juga mendorong Gereja untuk memperluas sinodalitas yang inklusif serta lintas-agama. Sinodalitas di Indonesia dapat menjadi ruang bagi dialog antaragama yang otentik, di mana umat Katolik tidak hanya membangun hubungan internal tetapi juga melakukan interaksi harmonis dengan penganut agama lain. Dengan cara ini, konteks Indonesia memberikan karakter yang unik pada penerapan sinodalitas, yakni keterbukaan terhadap beragam budaya dan agama. Sinodalitas sebagai Sakramen Keselamatan Universal Menurut Sinurat (Sinurat, et al, 2. Gereja Sinodal merealisasikan identitas Gereja sebagai sakramen keselamatan universal. Ini berarti. Gereja tidak hanya memperkuat persekutuan di dalam, tetapi juga berfungsi sebagai simbol keselamatan bagi dunia. Penerapan sinodalitas mengarahkan Gereja untuk keluar dari batasbatasnya, membina dialog antaragama, memperhatikan mereka yang terpinggirkan, dan menampilkan wajah Allah yang penuh kasih. Dengan demikian, sinodalitas tidak Jurnal Sepakat VOLUME XI. NO. SEPTEMBER 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 68-87 hanya mengarah ke dalam, tetapi juga ke luar dengan tujuan menciptakan dunia yang lebih adil dan manusiawi. Lebih lanjut, sinodalitas mengaktualisasikan visi Gereja sebagai Ecclesia semper reformanda (Gereja yang selalu diperbaru. Proses berjalan bersama memungkinkan Gereja untuk terus-menerus dikritisi dan diperbarui sesuai konteks zaman. Ini menegaskan bahwa Gereja Sinodal adalah Gereja yang misioner, yang menampakan Kerajaan Allah di dunia, serta menjadi symbol persaudaraan universal di tengah masyarakat yang beragam (Jehaut, 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi untuk memahami pengalaman umat Stasi Ibu Teresa Sei Hanyu dalam membangun Gereja Sinodal. Metode Pengumpulan Data dilakukan dengan Wawancara Mendalam, yaitu Melakukan wawancara semi-terstruktur dengan anggota umat Stasi Ibu Teresa Sei Hanyu. Menyusun pedoman wawancara yang mencakup pertanyaan tentang pengalaman, pandangan, dan peran mereka dalam membangun Gereja Sinodal. Observasi Partisipan dengan cara Mengamati kegiatan-kegiatan gereja yang berkaitan dengan proses Mencatat interaksi dan dinamika umat dalam konteks pembangunan Gereja Sinodal. Pemilihan Informan dilakukan dengan Menggunakan teknik purposive sampling untuk memilih informan yang representatif. Kriteria informan: anggota aktif Stasi Ibu Teresa Sei Hanyu, terlibat dalam kegiatan gereja, dan memiliki pemahaman tentang konsep Gereja Sinodal. Analisis Data dilakukan dengan Transkripsi wawancara dan pengodean data dan Interpretasi data dengan mengacu pada konsep Gereja Sinodal dan konteks lokal. Validasi Data dilakukan dengan Triangulasi sumber data . embandingkan hasil wawancara dari berbagai informa. Member checking . emverifikasi interpretasi dengan informa. Keterbatasan penelitian ini terletak pada fokusnya yang spesifik pada satu stasi, yang mungkin membatasi generalisasi temuan. Namun, kedalaman analisis yang dihasilkan diharapkan dapat memberikan wawasan berharga yang dapat ditransfer ke konteks serupa. (Winardi, 2. IMPLEMENTASI PRINSIP SINODALITAS DALAM KEHIDUPAN UMAT STASI IBU TERESA SEI HANYU KEUSKUPAN PALANGKA RAYA HASIL DAN PEMBAHASAN Pengertian Gereja Sinodal Merujuk pada dokumen Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) . Gereja Sinodal mengarah pada model gereja yang menekankan partisipasi aktif dan kolaborasi dari seluruh anggota umat beriman dalam kehidupan dan misi gereja. Istilah "sinodal" berasal dari kata Yunani "synodos," yang berarti "berjalan bersama. " Dalam konteks ini. Gereja Sinodal dipahami sebagai komunitas iman di mana klerus, religius, dan awam bersama-sama berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan misi Gereja Sinodal dipahami sebagai persekutuan yang berjalan bersama, mendengarkan satu sama lain, dan membawakan pujian serta syukur kepada Allah. Konsep ini dijelaskan kepada umat yang belum familiar melalui contoh kehidupan bersama di gereja, seperti mengundang umat menjadi pelaku sejarah keselamatan. Ini berarti umat terus belajar, bertumbuh, dan menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman. Penjelasan langsung mungkin sulit karena dipengaruhi pemahaman umat, sehingga pendekatan yang digunakan adalah dengan berbaur bersama dan mengajak secara perlahan. Proses ini membutuhkan kesabaran ekstra karena tidak mudah . September, 2. Menurut Nampar . pentingnya mendengarkan suara Roh Kudus, yang berkomunikasi melalui seluruh umat Allah, ditekankan oleh gagasan gereja sinodal. Setiap anggota gereja, terlepas dari posisi atau pekerjaannya, memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam proses penilikan bersama, yang membentuk visi dan arah gereja. Pendekatan ini bertujuan untuk menciptakan struktur gereja yang lebih inklusif, partisipatif, dan responsif terhadap kebutuhan umat beriman dan tantangan zaman. Hasil sinode Para Uskup di Keuskupan Bogor. Gereja Sinodal menawarkan sebuah metode baru dalam menjalankan kepemimpinan di dalam gereja, bukan menggantikan organisasi hierarkis yang ada saat ini. Metode ini memerlukan perubahan dari pendekatan hirarkis menjadi pendekatan yang lebih konsultatif dan kolaboratif. Paus Fransiskus telah menjadi pendukung kuat dari visi Gereja Sinodal ini, menekankan Jurnal Sepakat VOLUME XI. NO. SEPTEMBER 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 68-87 pentingnya "berjalan bersama" dalam semangat persekutuan, partisipasi, dan misi sebagai cara untuk mewujudkan panggilan gereja di dunia modern. Peran Stasi Ibu Teresa dalam Gereja Sinodal Sebagai unit terkecil dalam struktur gereja. Stasi Ibu Teresa berfungsi sebagai laboratorium praksis Gereja Sinodal. Hasil wawancara menunjukkan keterlibatan aktif umat dalam gotong royong, koor, kelompok kategorial, dan musyawarah pastoral. Praktik ini sejalan dengan temuan penelitian Martina et al. yang menyoroti stasi sebagai ruang pembinaan iman yang efektif dalam membangun kebersamaan dan solidaritas. Lebih jauh, model pelayanan berbasis komunitas kecil terbukti memperkuat sinodalitas dengan cara mendekatkan umat pada proses pengambilan keputusan (Stepanus & Angga. Stasi Ibu Teresa Sei Hanyu memainkan peran penting dalam mewujudkan visi Gereja Sinodal di tingkat lokal. Sebagai unit terkecil dari struktur gereja, dalam buku Sinodalitas Gereja: Tinjauan dari Berbagai Aspek Filosofis dan Teologis . , stasi ini menjadi garda terdepan dalam mengimplementasikan prinsip-prinsip sinodalitas dalam kehidupan sehari-hari umat. Melalui berbagai kegiatan dan program yang dirancang dengan semangat inklusivitas dan partisipasi aktif. Stasi Ibu Teresa berperan sebagai katalis perubahan, menggerakkan umat untuk lebih terlibat dalam proses pengambilan keputusan dan pelayanan gereja. Stasi Ibu Teresa berperan aktif dalam mewujudkan Gereja Sinodal melalui berbagai kegiatan konkret. Mereka melibatkan seluruh umat dalam kegiatan koor, rapat, dan pembersihan gereja. Gotong royong membangun gedung stasi dan mengadakan pertemuan kelompok Legio Maria juga menjadi bagian dari upaya ini. Implementasi prinsip-prinsip Gereja Sinodal dalam kegiatan seharihari terlihat melalui dialog antar umat dan praktik baik seperti membantu memasak saat kunjungan pastor. Pengambilan keputusan melibatkan rapat pengurus stasi dan lingkungan, mencakup perencanaan kegiatan hingga keputusan penting. Ini menunjukkan komitmen Stasi Ibu Teresa dalam menjalankan konsep Gereja Sinodal yang berjalan bersama dan saling . September 2. Sebagai perwujudan Gereja Sinodal. Stasi Ibu Teresa berfungsi sebagai wadah untuk diskusi kelompok dan menghasilkan sikap-sikap reflektif. Umat dari berbagai latar belakang berkumpul di sini untuk mendiskusikan pengalaman iman mereka. IMPLEMENTASI PRINSIP SINODALITAS DALAM KEHIDUPAN UMAT STASI IBU TERESA SEI HANYU KEUSKUPAN PALANGKA RAYA mengungkapkan tujuan mereka, dan bekerja untuk menemukan apa rencana Tuhan bagi lingkungan mereka. Disebut dalam Jurnal Eksistensi Gereja Sinodal Sebagai Sakramen Keselamatan Universal . ini adalah ruang di mana suara-suara yang sering diabaikan atau diremehkan di dalam sistem gereja yang lebih luas dapat didengar. Stasi Ibu Teresa mendukung proses sinodalitas yang mendasar yaitu "berjalan bersama" melalui pertemuan pengurus gereja dan kelompok kategorial. Lebih jauh lagi. Stasi Ibu Teresa berperan sebagai model sederhana dari Gereja Sinodal yang lebih luas. Praktik-praktik baik yang dikembangkan di tingkat stasi ini dapat menjadi contoh dan inspirasi bagi komunitas gereja lainnya. Dalam buku Paus Fransiskus Dalam Konteks Nusantara: Tinjauan Interreligius dan Interdisipliner . melalui keterbukaan terhadap Roh Kudus dan komitmen untuk terus belajar dan berkembang. Stasi Ibu Teresa menunjukkan bahwa transformasi menuju Gereja Sinodal bukanlah sesuatu yang abstrak, melainkan dapat diwujudkan dalam tindakan nyata sehari-hari. Peran stasi ini menjadi bukti bahwa perubahan signifikan dalam gereja dapat dimulai dari unit terkecil, menciptakan riak perubahan yang pada akhirnya akan mempengaruhi gereja secara keseluruhan. Keterlibatan Umat dalam Membangun Gereja Sinodal Partisipasi umat Stasi Ibu Teresa tampak dalam liturgi, doa bersama, kegiatan sosial, dan forum diskusi. Keterlibatan aktif ini menunjukkan pergeseran paradigma dari umat sebagai penerima pasif menuju agen aktif pembangunan gereja (Andayanto, 2. Penelitian terbaru menegaskan bahwa kelompok kategorial dan kaum muda memiliki peran strategis dalam menghidupkan Gereja Sinodal, khususnya melalui kreativitas, penggunaan media digital, dan pendekatan kolaboratif lintas generasi (Situmorang, 2024. Stepanus & Angga, 2. Keterlibatan umat dalam membangun Gereja Sinodal di Stasi Ibu Teresa Sei Hanyu merupakan manifestasi konkret dari ajakan Paus Fransiskus untuk "berjalan bersama" Gereja Diaspora: Model Gerakan Sinodal bagi Gereja Katolik Indonesia pada Masa Kini . Umat tidak lagi dipandang sebagai penerima pasif pelayanan gereja, melainkan sebagai partisipan aktif dalam perjalanan iman komunitas. Melalui berbagai inisiatif dan program, umat didorong untuk mengambil peran lebih besar dalam kehidupan gereja, mulai dari perencanaan kegiatan hingga pengambilan keputusan Jurnal Sepakat VOLUME XI. NO. SEPTEMBER 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 68-87 Stasi Ibu Teresa aktif melibatkan umat dalam berbagai kegiatan untuk mewujudkan Gereja Sinodal. Partisipasi umat terlihat dalam kegiatan pembinaan iman, doa rosario bersama, ibadat sabda mingguan, dan kegiatan sosial seperti pembagian sembako. Implementasi prinsip-prinsip Gereja Sinodal dalam keseharian mencakup dialog antar umat dan praktik baik, seperti gotong royong saat kunjungan pastor. Pengambilan keputusan di Stasi Ibu Teresa melibatkan rapat pengurus stasi dan lingkungan, mulai dari perencanaan kegiatan hingga keputusan penting. Umat diberi kesempatan menyuarakan pendapat melalui perwakilan ketua lingkungan dan panatua gereja. Partisipasi aktif umat juga terlihat dalam pembayaran iuran bulanan untuk pembangunan gereja dan kegiatan gotong royong. Pendekatan ini mencerminkan semangat Gereja Sinodal yang mengedepankan keterlibatan dan kebersamaan dalam kehidupan bergereja. September 2. Salah satu bentuk keterlibatan yang signifikan adalah partisipasi umat dalam kelompok-kelompok kategorial. Kelompok-kelompok ini, seperti komunitas kategorial dan kelompok doa, menjadi wadah bagi umat untuk mengekspresikan iman mereka dan berkontribusi pada kehidupan gereja . Dalam kelompok-kelompok ini, umat tidak hanya berbagi pengalaman iman, tetapi juga belajar untuk mendengarkan satu sama lain dan bekerja sama dalam mengatasi tantangan bersama. Forum-forum diskusi dan pertemuan rutin stasi juga menjadi sarana penting bagi keterlibatan umat. Dalam hal ini, umat dari berbagai kalangan terkhusus orang muda (Christus Vivit: Menggagas Peran Orang Muda yang Transformatif . , kesempatan untuk menyuarakan pendapat mereka, memberikan ide-ide baru, dan berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan bersama. Praktek ini membantu menciptakan budaya dialog dan keterbukaan, di mana setiap suara dihargai dan dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan. Keterlibatan umat juga terlihat dalam pelaksanaan liturgi dan perayaan sakramen. Seperti yang tertuang dalam dokumen Sacrosanctum Concilium . , umat tidak lagi sekadar hadir sebagai penonton, tetapi aktif berpartisipasi dalam persiapan dan pelaksanaan liturgi. Mereka terlibat dalam tim liturgi, paduan suara, pelayan altar, dan berbagai peran lainnya yang memperkaya pengalaman ibadah komunitas. Hal ini tidak hanya meningkatkan rasa memiliki terhadap gereja, tetapi juga memperdalam pemahaman umat tentang makna liturgi dan sakramen. IMPLEMENTASI PRINSIP SINODALITAS DALAM KEHIDUPAN UMAT STASI IBU TERESA SEI HANYU KEUSKUPAN PALANGKA RAYA Dalam aspek pelayanan sosial, umat Stasi Ibu Teresa menunjukkan keterlibatan yang luar biasa. Mereka tidak hanya berpartisipasi dalam program-program karitatif yang diinisiasi gereja, tetapi juga proaktif dalam mengidentifikasi kebutuhan masyarakat sekitar dan merancang solusi kreatif. Keterlibatan ini mewujudkan konsep Gereja Sinodal yang tidak hanya berfokus ke dalam, tetapi juga bergerak keluar untuk melayani masyarakat luas. Dalam dokumen Evangelii Gaudium . menekankan pentingnya partisipasi seluruh umat beriman dalam kehidupan Gereja dan dalam misi pewartaan Injil. Keterlibatan aktif umat Stasi Ibu Teresa dalam pelayanan sosial merupakan manifestasi nyata dari sinodalitas. Seperti halnya yang dinyatakan dalam pertanyaan wawancara poin nomor 6 dan 7 ada keterlibatan aktif kelompok umat stasi dengan stasi lainnya hingga pusat paroki. Pendidikan dan pembinaan iman juga menjadi area di mana keterlibatan umat sangat terasa. Umat yang memiliki keahlian atau pengalaman tertentu didorong untuk berbagi pengetahuan mereka melalui katekese, seminar, atau lokakarya . Ini menciptakan budaya pembelajaran seumur hidup di kalangan umat, di mana setiap orang bisa menjadi guru sekaligus murid dalam perjalanan iman mereka. Sama halnya yang dirasakan oleh anggota OMK stasi yang mau mendengarkan satu sama lain sejalan dengan maksud gereja sinodal. Akhirnya, keterlibatan umat dalam membangun Gereja Sinodal juga tercermin dalam upaya-upaya untuk menjangkau mereka yang terpinggirkan atau merasa terasing dari gereja. Umat Stasi Ibu Teresa aktif dalam program-program penjangkauan, mengundang kembali mereka yang telah lama tidak aktif dalam gereja, dan menciptakan ruang yang aman dan inklusif bagi semua orang. Praktek ini mewujudkan visi Gereja Sinodal yang merangkul semua orang tanpa kecuali, mendengarkan suara-suara yang sering terabaikan, dan berjalan bersama dalam keberagaman. Kolaborasi antar Stasi dan Paroki dalam membangun Gereja Sinodal Hasil penelitian menegaskan bahwa kolaborasi Stasi Ibu Teresa dengan paroki induk memperkuat sinodalitas. Bentuk kerja sama ini terlihat dalam perencanaan pastoral, pembinaan iman, pelayanan sosial, hingga perayaan liturgi besar. Kolaborasi lintas level ini sejalan dengan studi terbaru yang menekankan pentingnya multi-level governance dalam eklesiologi sinodal untuk memastikan keberlanjutan program pastoral (Noble & Heale, 2023. Martina et al. , 2. Jurnal Sepakat VOLUME XI. NO. SEPTEMBER 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 68-87 Bentuk kerja sama antara Stasi Ibu Teresa dengan stasi-stasi lain dalam konteks Gereja Sinodal meliputi: Bentuk Kegiatan Pembinaan bersama anak-anak penerima Komuni Pertama dan calon pemberkatan nikah Partisipasi dalam kegiatan koor bersama saat ada kunjungan Imam. THS-THM Stasi Ibu Teresa membantu menjaga ketertiban dan keamanan di gereja stasi lain saat perayaan Natal dan Paskah Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan sinergi antara Stasi Ibu Teresa dengan paroki induk dalam membangun Gereja Sinodal antara lain: Upaya Kunjungan rutin pastor setiap 1-2 bulan sekali Kunjungan katekis dan kelompok rohani dari paroki Melibatkan fasilitator atau peserta dari Stasi Ibu Teresa dalam program pembinaan tingkat paroki. Dukungan paroki berupa materi, mentor, dan fasilitas untuk inisiatif pembinaan di tingkat stasi. Partisipasi THS-THM dalam kegiatan kerja bakti di Pembinaan pengurus Stasi untuk memimpin ibadat sabda dan membimbing anak sekami. Pertemuan bersama dewan paroki untuk perencanaan pembangunan gereja Kerja sama ini memperkaya perspektif, berbagi pengalaman, dan memperkuat ikatan antar komunitas gereja dalam semangat Gereja Sinodal. September 2. Kolaborasi antara Stasi Ibu Teresa Sei Hanyu dan Paroki induknya merupakan aspek penting dalam membangun Gereja Sinodal yang lebih luas. Sejalan pada prinsip dari Gereja Sinodal . , adanya hubungan yang sinergis ini mencerminkan prinsip IMPLEMENTASI PRINSIP SINODALITAS DALAM KEHIDUPAN UMAT STASI IBU TERESA SEI HANYU KEUSKUPAN PALANGKA RAYA komunio dan partisipasi yang menjadi inti dari visi dengan hubungan yang sinergis ini mencerminkan prinsip komunio dan partisipasi yang menjadi inti dari visi Gereja Sinodal. Melalui berbagai bentuk kerjasama, baik Stasi maupun Paroki saling memperkuat upaya mereka dalam mewujudkan gereja yang lebih inklusif, responsif, dan berakar pada kebutuhan umat. Salah satu bentuk kolaborasi yang signifikan adalah dalam perencanaan pastoral. Stasi Ibu Teresa aktif terlibat dalam proses perencanaan pastoral Paroki, menyumbangkan insights dan masukan berdasarkan pengalaman dan kebutuhan spesifik umat di tingkat Sebaliknya. Paroki juga mempertimbangkan aspirasi dan inisiatif yang muncul dari Stasi dalam merumuskan program dan kebijakan pastoral yang lebih luas. Proses ini menciptakan rencana pastoral yang lebih komprehensif dan relevan, mencerminkan keberagaman dan kompleksitas komunitas gereja secara keseluruhan. Dalam aspek pembinaan iman, terjadi pertemuan dewan stasi dan dewan paroki. Program-program pembinaan yang diselenggarakan di tingkat Paroki sering kali melibatkan fasilitator atau peserta dari Stasi Ibu Teresa, memperkaya perspektif dan pengalaman yang dibagikan. Sebaliknya. Paroki juga mendukung inisiatif pembinaan di tingkat Stasi dengan menyediakan materi, mentor, atau fasilitas yang mungkin tidak tersedia di tingkat stasi. Kolaborasi ini memastikan bahwa umat di semua tingkatan memiliki akses ke sumber daya dan kesempatan untuk pertumbuhan iman yang Pelayanan sosial dan misi evangelisasi juga menjadi area di mana kolaborasi antara Stasi dan Paroki sangat terlihat . Program-program sosial dan misi seringkali dirancang dan dilaksanakan bersama, memanfaatkan kekuatan dan sumber daya dari kedua entitas. Stasi Ibu Teresa, dengan pengetahuan mereka yang mendalam, dapat mengidentifikasi kebutuhan spesifik di wilayahnya, sementara Paroki dapat menyediakan dukungan logistik dan jaringan yang lebih luas. Kolaborasi ini memungkinkan pelayanan yang lebih efektif dan tepat sasaran, mencerminkan wajah Gereja yang peduli dan hadir di tengah masyarakat. Akhirnya, dalam konteks liturgi dan perayaan sakramen, terjadi koordinasi yang erat antara Stasi dan Paroki. Meskipun Stasi Ibu Teresa memiliki otonomi tertentu dalam penyelenggaraan liturgi harian, untuk perayaan-perayaan besar seperti Paskah atau perayaan sakramen tertentu, terjadi kolaborasi yang intensif. Ini tidak hanya memastikan Jurnal Sepakat VOLUME XI. NO. SEPTEMBER 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 68-87 keselarasan dalam praktek liturgi, tetapi juga memperkuat rasa kesatuan antara komunitas Stasi dan Paroki yang lebih luas. Kolaborasi ini juga membuka peluang bagi pertukaran budaya dan tradisi lokal, memperkaya ekspresi iman komunitas secara keseluruhan dan mencerminkan keberagaman yang menjadi ciri khas Gereja Sinodal. Dampak Sinodalitas terhadap kehidupan Sosial Umat Penerapan prinsip sinodalitas memberikan dampak positif pada kehidupan sosial umat, seperti meningkatnya solidaritas, keterampilan resolusi konflik, dan partisipasi aktif dalam kegiatan sosial. Penelitian terkini menunjukkan bahwa budaya dialog dalam Gereja Sinodal juga memperkuat kemampuan komunitas dalam menghadapi konflik dan membangun harmoni sosial (Jehaut, 2022. Sukristiono & Sinaga, 2. Adanya pembahasan dampak penerapan prinsip Gereja Sinodal terhadap relasi sosial dan kehidupan bermasyarakat di Stasi Ibu Teresa, informan mengungkapkan bahwa penerapan ini telah memperbaiki hubungan antar umat, meningkatkan kemampuan menyelesaikan konflik, dan mendorong kerjasama yang lebih baik antara berbagai kelompok seperti OMK. THSTHM, dan umat umum. Perubahan signifikan terlihat dalam peningkatan kekompakan, dukungan satu sama lain, dan pengembangan programprogram baru seperti pembinaan iman dan pendampingan untuk berbagai kelompok usia. Gereja Sinodal, yang menekankan "berjalan bersama" dan saling mendengarkan, telah menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan partisipatif dalam kehidupan gereja. September 2. Penerapan prinsip-prinsip sinodalitas di Stasi Ibu Teresa Sei Hanyu telah membawa dampak signifikan terhadap kehidupan sosial umat (Jehaut, 2. Semangat "berjalan bersama" yang menjadi inti dari Gereja Sinodal tidak hanya terbatas pada konteks keagamaan, tetapi juga merembes ke dalam interaksi sosial sehari-hari umat. Umat yang terbiasa berpartisipasi aktif dalam proses pengambilan keputusan di gereja, kini membawa pola pikir yang sama ke dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini terlihat dari kemasyarakatan, seperti gotong royong dan musyawarah. Sikap inklusif dan penghargaan terhadap keberagaman yang dipupuk dalam konteks gerejani, kini menjadi cara hidup yang memperkuat ikatan sosial di lingkungan tempat tinggal mereka. Dampak sinodalitas juga terlihat dalam cara umat menangani konflik dan perbedaan pendapat dalam konteks sosial seperti yang dialami Paulus. Pengalaman berdialog IMPLEMENTASI PRINSIP SINODALITAS DALAM KEHIDUPAN UMAT STASI IBU TERESA SEI HANYU KEUSKUPAN PALANGKA RAYA dan mendengarkan berbagai suara dalam forum-forum gereja telah mengasah kemampuan umat untuk mengelola perbedaan dengan lebih bijaksana. Mereka menjadi lebih terampil dalam mencari solusi yang mempertimbangkan kepentingan berbagai pihak, bukan sekadar mengutamakan suara mayoritas. Hal ini berkontribusi pada terciptanya lingkungan sosial yang lebih harmonis dan resilient terhadap potensi Dalam beberapa kasus, umat dari Stasi Ibu Teresa bahkan menjadi mediator atau fasilitator dalam penyelesaian konflik di tingkat komunitas, membawa pendekatan dialogis dan inklusif yang mereka pelajari dari praktik sinodalitas. Lebih jauh lagi, semangat sinodalitas telah mendorong umat untuk lebih peka terhadap isu-isu sosial di sekitar mereka. Kesadaran bahwa suara setiap orang penting dan harus didengar, membuat umat lebih aktif dalam mengidentifikasi dan merespons kebutuhan kelompok-kelompok dalam masyarakat. Inisiatif-inisiatif sosial yang diprakarsai oleh umat Stasi Ibu Teresa semakin banyak bermunculan, mulai dari program pendampingan bagi calon baptis, pendampingan bagi calon perkawinan, bimbingan bagi kelompok kategorial dan kegiatan bimbingan belajar bagi anak-anak sekami. Praktik sinodalitas telah mentransformasi umat menjadi agen perubahan sosial yang efektif, mewujudkan ajaran sosial Gereja dalam tindakan nyata dan membawa dampak positif bagi masyarakat luas, melampaui batas-batas komunitas gerejani. Tantangan dan Peluang Dalam Mewujudkan Gereja Sinodal Penerapan paradigma Gereja Sinodal dalam konteks lokal seperti Stasi Ibu Teresa menyajikan tantangan sekaligus peluang yang bersifat kontekstual dan teologis. Upaya mewujudkan Gereja Sinodal di Stasi Ibu Teresa tidak terlepas dari dinamika internal umat yang menghadirkan berbagai tantangan sekaligus peluang. Kehidupan menggereja pada hakikatnya menuntut keterbukaan, partisipasi, dan kerja sama, namun kenyataan di lapangan memperlihatkan bahwa perjalanan menuju cita-cita tersebut masih memerlukan pendalaman dan komitmen bersama. Tantangan yang dihadapi antara lain muncul dari perbedaan pendapat antarumat yang kerap menimbulkan friksi dalam pengambilan keputusan pastoral. Hal ini diperparah oleh kurangnya kekompakan, khususnya dalam partisipasi umat terhadap kegiatan liturgi dan pelayanan. Selain itu, terdapat kesenjangan generasi dan digital, di mana kelompok usia lanjut mengalami keterbatasan dalam mengikuti perkembangan teknologi yang kini semakin terintegrasi dengan kehidupan menggereja. Tantangan lain Jurnal Sepakat VOLUME XI. NO. SEPTEMBER 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 68-87 ialah adanya persepsi negatif terhadap kontribusi kelompok tertentu, misalnya Orang Muda Katolik (OMK) yang kadang dipandang kurang serius dalam pelayanan, sehingga partisipasi mereka belum sepenuhnya dihargai. Salah satu tantangan utama adalah resistensi terhadap perubahan (Situmorang, 2. , terutama dari kalangan umat yang telah lama terbiasa dengan model gereja yang lebih hierarkis. Beberapa umat merasa tidak nyaman dengan gagasan partisipasi aktif dalam pengambilan keputusan gereja, menganggap hal tersebut sebagai tanggung jawab eksklusif para pemimpin gereja. Tantangan lain muncul dalam bentuk kesenjangan generasi dan digital, di mana kelompok usia yang lebih tua atau mereka yang kurang akrab dengan teknologi merasa tertinggal dalam proses partisipasi yang semakin banyak memanfaatkan platform digital. Selain itu, keberagaman latar belakang sosial-ekonomi dan pendidikan di antara umat juga menciptakan tantangan dalam memastikan bahwa semua suara dapat didengar dan dihargai secara setara dalam proses sinodalitas. Meskipun demikian, upaya mewujudkan Gereja Sinodal juga membuka berbagai peluang menarik bagi Stasi Ibu Teresa. Proses sinodalitas memberikan kesempatan untuk menggali dan memanfaatkan potensi tersembunyi dari umat yang selama ini mungkin merasa tidak memiliki ruang untuk berkontribusi. Hal ini dapat memperkaya kehidupan gereja dengan beragam talenta, perspektif, dan ide-ide segar. Peluang lain muncul dalam bentuk penguatan solidaritas dan rasa kebersamaan di antara umat. Melalui proses berjalan bersama, umat dapat membangun hubungan yang lebih erat dan pemahaman yang lebih mendalam satu sama lain, menciptakan komunitas gereja yang lebih terikat dan saling mendukung. Selain itu, pendekatan sinodal juga membuka peluang untuk dialog yang lebih konstruktif dengan komunitas di luar gereja, memungkinkan gereja untuk lebih responsif terhadap kebutuhan dan aspirasi masyarakat luas. Tantangan dan peluang ini menciptakan dinamika yang menarik dalam perjalanan Stasi Ibu Teresa menuju Gereja Sinodal. Di satu sisi, tantangan-tantangan yang ada mendorong komunitas untuk terus berinovasi dan mencari solusi kreatif. Misalnya, untuk mengatasi kesenjangan digital, stasi dapat mengembangkan program pendampingan teknologi bagi umat yang kurang familiar dengan alat-alat digital. Di sisi lain, peluangpeluang yang muncul memberi energi dan optimisme baru bagi komunitas. Misalnya, penemuan talenta-talenta baru di antara umat dapat menjadi mempercepat pengembangan pelayanan dan program-program inovatif yang memperkaya kehidupan gereja. Dengan IMPLEMENTASI PRINSIP SINODALITAS DALAM KEHIDUPAN UMAT STASI IBU TERESA SEI HANYU KEUSKUPAN PALANGKA RAYA pendekatan yang seimbang dalam menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang. Stasi Ibu Teresa Sei Hanyu berada dalam posisi yang baik untuk terus bertumbuh dan berkembang sebagai model Gereja Sinodal yang dinamis dan inklusif. Langkah Masa depan Gereja Sinodal di Stasi Ibu Teresa Stasi Ibu Teresa memiliki visi jangka panjang yang kuat dalam konteks Gereja Sinodal. Berdasarkan wawancara dengan berbagai pihak di stasi, terungkap bahwa mereka bertekad untuk meningkatkan mutu dan kualitas kerja sama antar lingkungan, serta menjadi komunitas yang dikenal sebagai tempat di mana setiap orang diterima dan Dewan Stasi memiliki ambisi untuk menjadikan Stasi Ibu Teresa sebagai model pembelajaran dan inspirasi bagi stasi-stasi lainnya, khususnya dalam hal keterlibatan Orang Muda Katolik (OMK) . Untuk mewujudkan visi ini, stasi berencana untuk terus menjalankan dialog antar umat , meningkatkan komunikasi dan dukungan antara OMK dan umat yang lebih luas, serta berbagi informasi melalui media sosial untuk memperluas jangkauan dan pengaruh mereka. Langkah-langkah konkret yang direncanakan oleh Stasi Ibu Teresa untuk memperkuat penerapan Gereja Sinodal di masa depan mencakup beberapa aspek penting. Serupa dengan yang dikatakan jurnal Digital Ecclesia Sebagai Gereja Sinodal yang Mendengarkan . mereka berkomitmen untuk terus mengadakan dialog antar umat, yang merupakan inti dari konsep sinodalitas. Stasi juga akan fokus pada peningkatan kerja sama antara berbagai kelompok dalam gereja, seperti OMK. THS-THM (Tunggal Hati Seminari-Tunggal Hati Mari. , dan umat secara umum, untuk memastikan semua pihak dapat berjalan bersama dalam membangun komunitas gereja yang lebih kuat. Selain itu, terdapat rencana untuk memanfaatkan teknologi dan media sosial guna berbagi informasi dan membangun koneksi yang lebih luas dengan komunitas gereja di luar stasi. Upaya-upaya ini diharapkan dapat membantu Stasi Ibu Teresa tidak hanya dalam memperkuat identitas sinodal mereka sendiri, tetapi juga dalam memberikan kontribusi positif dan inspiratif bagi gereja yang lebih luas. KESIMPULAN DAN SARAN Pengalaman Stasi Ibu Teresa Sei Hanyu dalam membangun Gereja Sinodal menunjukkan bahwa transformasi menuju model gereja yang lebih partisipatif dan inklusif adalah sebuah proses yang membutuhkan komitmen dan keterlibatan aktif dari seluruh umat. Melalui berbagai inisiatif seperti dialog antar umat, pemberdayaan Jurnal Sepakat VOLUME XI. NO. SEPTEMBER 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 68-87 kelompok kategorial, dan peningkatan partisipasi dalam liturgi dan pelayanan sosial. Stasi Ibu Teresa telah mendemonstrasikan bahwa prinsip-prinsip sinodalitas dapat diterapkan secara konkret di tingkat akar rumput. Meskipun menghadapi tantangan seperti resistensi terhadap perubahan dan kesenjangan generasi. Stasi Ibu Teresa telah berhasil menciptakan ruang-ruang dialog dan kolaborasi yang memungkinkan suara-suara yang beragam untuk didengar dan dihargai. Pengalaman ini tidak hanya memperkaya kehidupan gerejani, tetapi juga berdampak positif pada relasi sosial umat dalam kehidupan bermasyarakat yang lebih luas. Dengan terus memupuk semangat "berjalan bersama" dan keterbukaan terhadap bimbingan Roh Kudus. Stasi Ibu Teresa berada pada jalur yang tepat untuk menjadi model inspiratif bagi implementasi Gereja Sinodal di tingkat lokal, sekaligus berkontribusi pada visi yang lebih besar dari Gereja Katolik universal yang inklusif, responsif, dan berpusat pada umat. Untuk memperkuat penerapan Gereja Sinodal di Stasi Ibu Teresa, disarankan untuk meningkatkan keterlibatan aktif seluruh lapisan umat dalam proses pengambilan keputusan dan kegiatan gereja. Hal ini dapat dilakukan dengan mengadakan forum-forum diskusi rutin yang melibatkan berbagai kelompok usia dan latar belakang, termasuk Orang Muda Katolik (OMK) dan kelompok kategorial lainnya. Penting juga untuk memfasilitasi pelatihan kepemimpinan dan pembinaan iman yang berkelanjutan bagi umat, sehingga mereka memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang konsep Gereja Sinodal dan dapat berkontribusi secara lebih efektif dalam membangun komunitas gereja yang inklusif. Selain itu. Stasi Ibu Teresa perlu memanfaatkan teknologi digital dan media sosial secara lebih optimal untuk menjangkau umat yang lebih luas, terutama generasi muda. Penggunaan platform digital tidak hanya akan memfasilitasi komunikasi yang lebih baik, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk mendengarkan suara-suara yang mungkin belum terwakili dalam forum-forum tradisional. Penting juga untuk membangun jembatan kolaborasi yang lebih kuat dengan paroki induk dan stasi-stasi lain, sehingga dapat terjadi pertukaran ide dan praktik baik yang memperkaya pengalaman Gereja Sinodal di tingkat yang lebih luas. IMPLEMENTASI PRINSIP SINODALITAS DALAM KEHIDUPAN UMAT STASI IBU TERESA SEI HANYU KEUSKUPAN PALANGKA RAYA DAFTAR REFERENSI Andayanto. Christus Vivit: Menggagas Peran Orang Muda yang Transformatif. Media Jurnal Filsafat dan Teologi, 194-210. Emanuel P. Martasudjita. Indra Tanureja. Antonius Galih Arga W. Aryanto. St. Eko Riyadi. Agus Widodo. Puplius Buruh. , . Alphonsus. Sinodalitas Gereja: Tinjauan dari Berbagai Aspek Filosofis dan Teologis. Yogyakarta: PT Kanisius. Adisusanto. Evangelii Gaudium Sukacita Injil. Jakarta: Departemen Dokumentasi Dan Penerangan Konferensi Waligereja Indonesia. Godensius Daleq. Partisipasi Umat Dalam Kemandirian Dana Di Paroki Hati Kudus Yesus Laham. Gaudium Vestrum: Jurnal Kateketik Pastoral, 46-61. Jehaut. Membedah Diskursus Sinodalitas Paus Fransiskus dan Relevansinya terhadap Kehidupan Menggereja di Indonesia . Jurnal Ledalero, 105-120. Keuskupanbogor. Rekomendasi Pastoral Butir Pertobatan Sinodal Dan Langkah-Langkah Pastoral Di Gereja Keuskupan Bogor. Bogor: Percetakan Grafika Mardi Yuana. Mardiatmadja. Gereja Sinodal . Yogyakarta: PT Kanisius. Martina Rosmaulina Marbun. Pembinaan Iman Umat di Stasi Santo Tomas Onodohalawa sebagai Wujud Kasih kepada Sesama. Aksi Nyata : Jurnal Pengabdian Sosial dan Kemanusiaan, 146-154. Martasudjita. Tanureja. Aryanto. Riyadi. Widodo. Buruh. Alphonsus. Sinodalitas Gereja: Tinjauan dari Berbagai Aspek Filosofis dan Teologis. Yogyakarta: Kanisius. Nampar. Menuju Gereja yang Sinodal: Memahami Gagasan Sinodalitas Sebagai Cara Hidup dan Cara Bergerak Gereja di Milenium Ketiga. Jurnal Ledalero, 177-189. Hardawiryana. Sacrosanctum Concilium ( Konsili Suci ). Jakarta: Departemen Dokumentasi Dan Penerangan Konfeensi Waligereja Indonesia. Susanto. Thomas Eddy. Sinodalitas Dalam Kehidupan Dan Misi Gereja. Roma: Departemen Dokumentasi dan Penerangan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Jurnal Sepakat VOLUME XI. NO. SEPTEMBER 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 68-87 Situmorang. AoAggiornamentoAo dalam Visi Sinodal untuk Merespon Tantangan Gereja pada Millenium Ketiga . Forum Filsafat dan Teologi, 57-78. Stepanus Angga. Digital Ecclesia Sebagai Gereja Sinodal yang Mendengarkan. Dunamis: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani, 170-183. Sukristiono. Dominikus. Paus Fransiskus Dalam Konteks Nusantara: Tinjauan Interreligius dan Interdisipliner. Yogyakarta: Sanata Dharma University Press. Vincentius. Angelinus. Ziarah Iman dan Kiprah Pastoral Dalam Tata dunia 150 Tahun paroki katedral santo yoseph maumere. Maumere: Keuskupan Maumere dan Universitas Nusa Nipa Maumere. Wibisono. Christian Fritz. Gereja Diaspora: Model Gerakan Sinodal bagi Gereja Katolik Indonesiapada Masa Kini. Jurnal Ilmu Kateketik Pastoral Teologi. Pendidikan. Antropologi, dan Budaya, 1-17. Winardi. Metoda Wawancara. researchgate, 1-42. Yogi Hamonangan Sinurat. Eksistensi Gereja Sinodal Sebagai Sakramen Keselamatan Universal. Rajawali, 34-43.