Journal for Quality in Women's Health Vol. 5 No. 1 March 2022 | pp. p-ISSN: 2615-6660 | e-ISSN: 2615-6644 DOI: https://doi. org/10. 30994/jqwh. Analisis Tingkat Pengetahuan tentang Kesehatan Reproduksi terhadap perilaku menghadapi Premenstruasi Sindrom pada Remaja Nita Dwi Astikasari*. Josiana Kofi Fakultas Keperawatan dan Kebidanan. Institut Ilmu Kesehatan STRADA Indonesia * Corresponding author: Nita Dwi Astikasari . ietanievo@gmail. Received: Februari 26 2022. Accepted: Maret 22 2022. Published: Maret 29 2022 ABSTRAK Pre menstrual syndrome yang tak kunjung diatasi dapat mengganggu aktivitas sehari-hari bahkan menurunkan kualitas hidup. Kurangnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi merupakan salah satu sebab remaja putri tidak melakukan penanganan sindrom premenstruasi dengan baik. Metode penelitian ini adalah literatur review yang bersumber dari database google scholar. PubMed serta Purpusnas RI yang diterbitkan dari tahun 2017 hingga 2021, dan secara manual memilih artikel yang relevan dengan pertanyaan penelitian. Hasil penelitian diketahui bahwa pada umumnya remaja putri tidak memiliki pengetahuan yang baik serta tidak melakukan penanganan sindrom premenstruasi. Kurangnya pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi mempengaruhi persepsi remaja dengan menganggap premenstruasi sindrom sebagai gejala fisiologis yang tidak perlu dilakukan penatalaksanaan khusus selain meningkatkan frekuensi dan durasi istirahat, sehingga berdampak pada tergaggunya aktivitas sehari-hari bahkan prestasi belajar. Diharapkan adanya penggalakan program sosialisasi dan edukasi untuk meningkatkan pengetahuan dan penyebarluasan informasi kesehatan utamanya kesehatan reproduksi pada remaja serta pencegahan dan penatalaksanaan premenstruasi sindrom agar mengurangi hari sakit yang dapat menggangu aktivitas sehari-hari Kata kunci: kesehatan reproduksi, pengetahuan, premenstruasi sindrom This is an open-acces article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. International License PENDAHULUAN Pre Menstrual Syndrome (PMS) terjadi beberapa hari sebelum terjadinya menstruasi bahkan sampai menstruasi berlangsung. Keluhan fisik yang dialami selama premenstruasi sindrom diantaranya kenaikan berat badan, pembesaran bagian tubuh terutama daerah tertentu . erut, jari tangan, kak. karena tubuh menahan cairan, pegal dan nyeri otot terutama didaerah pinggang, payudara membesar dan nyeri tekan, timbul jerawat, air seni berkurang, pusing, mual, nafsu makan meningkat. Keluhan psikis yang biasa dialami diantaranya kontrol emosi rendah, cepat marah, reaksi emosi tidak logis, daya ingat dan konsentrasi rendah, lesu, depresi, rasa kurang percaya diri dan perasaan tidak berharga (Estiani, 2. Pre menstrual syndrome yang tak kunjung diatasi dapat mengganggu aktivitas sehari-hari bahkan menurunkan kualitas hidup wanita. Kurangnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi merupakan salah satu penyebab seorang wanita tidak mampu meringankan keluhan saat pre menstrual syndrome terjadi (Aprilyandari, 2. Angka kejadian yang dilakukan American college of obstetricians and gynecologist (ACOG) tahun 2012, di Srilanka mendapatkan prevalensi hasil remaja putri yang mengalami Premenstrual Sindrome sebanyak 65,7%. Berdasarkan laporan World Health Organization . PMS memiliki prevalensi lebih tinggi di negara-negara Asia dibandingkan dengan negara-negara barat, sementara di Indonesia angka prevalensi ini dapat Website: http://jqwh. org | Email: publikasistrada@gmail. Analisis Tingkat Pengetahuan Tentang Kesehatan Reproduksi mencapai 85% dari seluruh populasi wanita usia reproduksi, yang terdiri dari 60-75% mengalami sindrom pramenstruasi (Damayanti, 2. Angka kejadian premenstrual syndrome di Indonesia belum pernah ditelitim, namun dari beberapa penelitian yang pernah dilakukan diketahui bahwa angka kejadiannya antara 30-50%. Hal ini sebagaimana penelitian Ramadani . di Surabaya yang dieproleh data sebanyak 30Ae50% wanita mengalami gejala Premenstrual Syndrome (PMS), 5% merasakan gejala cukup parah dan 10% mengalami gejala sangat parah yang berakibat ketidakhadiran di sekolah ataupun di tempat kerja selama 1Ae3 hari setiap bulannya. Sedangkan penelitian Bungasari . diperoleh data kejadian Premenstrual Syndrome terjadi pada 55,6% remaja putri yang Walaupun kejadian Premenstrual Syndrome tidak mengancam nyawa, namun dapat memengaruhi produktivitas dan kesehatan mental seorang wanita (Bungasari, 2. Gejala yang sering dikeluhkan remaja adalah gejala emosional seperti mudah tersinggung, depresi, mudah marah, cemas atau tegang, perubahan suasana hati, sedangkan gejala fisik adalah payudara tegang, perut kembung, sakit kepala dan mudah lelah (Wong, 2. Dampak dari Premenstrual Syndrome juga mengganggu hubungan keluarga, kerja, aktivitas sosial. Wanita yang mengalami Pre Menstruasi Syndrom melaporkan bahwa gejala Premenstrual Syndrome mempengaruhi kehidupan rumah tangga . %) termasuk hubungan dengan suami dan anaknya, mempengaruhi kehidupan sosial . ,5%), dan mempengaruhi hubungan teman kerja atau keluarga . ,1%) (Kitamura, 2. Gejala-gejala PMS akan semakin menghebat jika didalam diri seorang wanita terus menerus mengalami tekanan psikologis dan tidak ada upaya pencegahan. Kurangnya pengetahuan seseorang tentang pola hidup yang sehat akan menyebabkan semakin banyak gejala PMS yang akan dilami (Saputri, 2. Pengetahuan remaja tentang Premenstrual syndrome serta antisipasi pencegahannya merupakan stimulus yang diperlukan agar dapat membentuk pola perilaku remaja yang baik. Dengan mengenali gejala gejala tentang syndrome menstruasi remaja diharapkan dapat berupaya untuk mengatasinya dengan benar bukan dengan membiarkannya (Puspasari. Kurangnya pengetahuan remaja tentang premenstrual syndrome dapat disebabkan karena remaja belum mengetahui tentang masalah kesehatan reproduksi utamanya tentang premenstruasi syndrome (Bungasari, 2. Menurut Manuaba . , peran orang tua khususnya ibu, diharapkan mampu memberikan informasi yang tepat dan benar tentang apakah menstruasi itu. Jika mengetahui informasi yang benar tentang menstruasi maka anak remaja perempuan akan merasa siap ketika mendapatkan menstruasi pertama kali serta berbagai gangguan kesehatan yang mungkin terjadi. Menurut Widyastuti . , pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja sangat penting, agar remaja memiliki sikap dan perilaku yang bertanggung jawab terhadap kesehatan diri mereka sendiri. Pembekalan pengetahuan tentang perubahan yang terjadi secara fisik, kejiwaan dan kematangan seksual, akan memudahkan remaja untuk memahami serta mengatasi berbagai keadaan yang membingungkannya. Menurut Putinah . , pengetahuan akan siklus menstruasi yang dialami sangatlah penting bagi remaja putri. Dengan mengetahui pola siklus menstruasi akan membantu dalam memperkirakan premenstruasi syndrome yang akan datang. METODE Penelitian ini merupakan litelatur riview yang mengulas dan mencari beberapa artikel jurnal penelitian. Database yang digunakan untuk melakukan pencarian adalah Google Scholar dan Pubmed serta Purpusnas RI yang diterbitkan dari tahun 2017 hingga 2021, dan secara manual memilih artikel yang relevan dengan pertanyaan penelitian. Journal for Quality in Women's Health Analisis Tingkat Pengetahuan Tentang Kesehatan Reproduksi HASIL Setelah pengumpulan jurnal dengan menggunakan 3 database jurnal yang sudah terakreditasi yakni Google Scholar. PubMed dan Perpusnas RI didapatkan 4. 212 jurnal diidentifikasi untuk selanjutnya dilakukan kriteria kelayakan. Kemudian setelah itu disaring 414 jurnal periode 5 tahun terakhir, selanjutnya dilakukan excluded studies didapatkan 11 jurnal, setelah itu excluded studies lagi berdasarkan kesesuaian tujuan penelitian sehingga jumlah total artikel yang memenuhi syarat untuk review adalah 7 jurnal. Hasil dari jurnal didapatkan bahwa diantara 7 jurnal yang direview, seluruhnya memiliki desain cross sectional. Secara keseluruhan, jurnal yang direview melaporkan adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dengan perilaku menghadapi pre menstrual syndrome (Kalsoom, 2020. Tantina, 2019. Aprilyandari, 2019. Puspitraningrum, 2018. dan Psupitasari, 2. Terdapat 2 jurnal yang melaporkan tidak adanya hubungan antara pengetahuan dengan perilaku menghadapi pre menstrual syndrome (Ahmed & Saeed, 2019. Setiyowati, 2. Judul & Peneliti Knowledge Selfcare Practices Adolescent Students with Pre-menstrual Syndrome in Erbil City Metode (Desain, sample. Variable. Instrumen. Analisi. D : Cross sectional S : purposive sampling V : Pengetahuan, perilaku perawatan PMS I : Kuesioner A : uji chi square Hasil Penelitian Temuan Tidak ada hubungan yang signifikan secara antara pengetahuan perawatan selama . =0,. D : cross sectional S : purposive sampling V : Aspek demografi, kejadian PMS, pengetahuan kesehatan reproduksi, perilaku penanganan PMS I : Kuesioner A : uji Chi square Terdapat hubungan penanganan PMS . =0,. PMS . =0,. D : Cross sectional S : purposive sampling V : Pengetahuan, sikap, perilaku I : Kuesioner A : uji chi square dan regresi logistik berganda Pengetahuan hubungan bermakna sindrom di Desa Baru Kecamatan Pancur Batu Pengetahuan dan perawatan diri pramenstruasi pada remaja putri Siswa Premenstrual Syndrome dialami oleh sebagian besar siswa yang diteliti, sedangkan Kondisi tersebut prestasi akademik Secara bivariat terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan tindakan analisis multivariat Ahmed. , & Saeed. Prevalance of Premenstrual Syndrome and Knowledge Assessment Regarding It's Prevention Among Medical Students of a Private Medical College of Islamabad Umay Kalsoom . Analisis Karakteristik Hubungan Pengetahuan dan Sikap Dengan Tindakan Mengatasi Premenstruasi Sindrom Tiffani Tantina . Journal for Quality in Women's Health Analisis Tingkat Pengetahuan Tentang Kesehatan Reproduksi Kabupaten Serdang Hubungan Pengetahuan Premenstrual Syndrom Dengan Upaya Mengatasi Prementrual Syndrom Pada Remaja Putri di RW 1 Desa Klunjukan. Kecamatan Sragi. Kabupaten Pekalongan D : Cross sectional S : purposive sampling V : Pengetahuan, upaya mengatasi PMS I : Kuesioner A : uji chi square Widyah Setiyowati . Hubungan Pengetahuan Gejala D : Cross sectional Premenstruasi Sindrom S : purposive sampling Terhadap Penanganan V : Pengetahuan, perilaku Premenstruasi Sindrom Di Smp penanganan PMS. Negeri 3 Gamping Tahun 2018 I : Kuesioner A : uji Spearman rank Aprilyandari. Journal for Quality in Women's Health Deli Tahun Hasil analisis diperoleh hasil p value sebesar 0,283, . ,283>0,. , maka tidak ada hubungan bermakna antara syndrome dengan upaya mengatasi syndrome pada remaja putri di Desa Klunjukan RW 01. Kecamatan Sragi. Kabupaten Hasil uji statistik spearman rank di dapatkan hasil p value 0,000 < 0,05. Hasil uji adanya hubungan sindrom terhadap sindrom di SMP Negeri 3 Gamping. Nilai 0,691 yang berarti keeratan kuat. adanya hubungan Informasi yang di miliki para remaja putri tentang jenis keluhan penyebab, cara mengatasi dan syndrom remaja putri yang kurang dalam hal syndrom akan untuk mengatasi pengetahuan yang remaja putri belum Kondisi kesehatan saat menstruasi dipengaruhi oleh jika seseorang yang tidak cukup akan cenderung kesehatan dan pada akhirnya ia akan memiliki tindakan yang bagi dirinya Premenstrual dianggap sebagai hal yang normal obatobatan, tapi cukup Analisis Tingkat Pengetahuan Tentang Kesehatan Reproduksi Hubungan Pengetahuan Remaja Putri Dengan Perilaku Mengatasi Gejala Premenstruasi Syndrome (Pm. di MAN Model Kota Jambi D : Cross sectional S : Total sampling V : Pengetahuan, perilaku mengatasi gejala PMS I : Kuesioner A : uji Chi square Ada hubungan yang antara Pengetahuan Remaja Putri Perilaku Mengatasi Gejala Premenstruasi Syndrome (PMS) . =0,. S : Total sampling V : Pengetahuan, penanganan PMS I : Kuesioner A : uji Chi square tentang sindrom pada remaja usia 12-15 tahun di SMP PGRI Bantul dengan nilai p=0,000. Puspitaningrum. Sindrom Premenstruasi dan Penanganan Sindrom Premenstruasi Puspitasari. S dan Suryani. dengan modifikasi gaya hidup seperti komunikasi, diet dan olahraga Sebagian besar lingkungan sekitar media massa dan responden kurang mengetahui PMS Semakin tinggi pengetahuan siswi tentang sindrom maka upaya sindrom akan tertangani dengan Akan tetapi sebaliknya apabila semakin rendah pengetahuan siswi maka upaya sindrom tidak PEMBAHASAN Tingkat Pengetahuan Tentang Kesehatan Reproduksi Pada Remaja Sumber informasi dan pengetahuan dapat mempengaruhi kesehatan reproduksi remaja saat menstruasi. Berdasarkan tinjauan literatur penelitian Setiyowati . menunjukkan ibu merupakan sumber utama informasi terkait menstruasi dan sumber informasi selanjutnya adalah guru di sekolah yang berperan dalam memberikan pengetahuan dan pemahaman mengenai kebersihan selama menstruasi. Hasil literature review dari penelitian yang dilakukan Aprilyandari . bahwa kurangnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi khususnya dalam hal menstruasi cenderung mendorong remaja mengabaikan kesehatan dan pada akhirnya remaja akan memiliki tindakan yang membahayakan bagi dirinya sendiri. Remaja memerlukan informasi yang tepat tentang proses reproduksi, sehingga remaja memiliki sikap dan perilaku yang bertanggung jawab atas proses reproduksi (Hasanah, 2. Kurangnya pengetahuan tentang biologi dasar pada remaja mencerminkan kurangnya pengetahuan tentang risiko yang berhubungan dengan Pengetahuan dan sikap kesehatan reproduksi remaja memang dinilai masih Journal for Quality in Women's Health Analisis Tingkat Pengetahuan Tentang Kesehatan Reproduksi rendah terutama pada pengetahuan mengenai pengenalan organ reproduksi menyangkut bentuk dan fungsinya serta cara perawatannya (Puspitasari, 2. Sumber informasi memiliki pengaruh yang besar terhadap perilaku higiene remaja. Pasalnya, dengan adanya sumber informasi tersebut, remaja memahami manfaat dari personal hygiene dan dampak dari tidak mempraktikkan kebersihan diri yang baik dan benar, terutama pada saat menstruasi, agar alat reproduksi terhindar dari infeksi (Suryani, 2. Rendahnya pengetahuan yang dimiliki remaja tentang premenstrual syndrome menurut peneliti sangat berpengaruh terhadap praktik penanganan premenstrual syndrome sehingga dapat menimbulkan dampak yang buruk pada aktivitas sehari-hari dan kesehatan reproduksi Seseorang yang memiliki tingkat pengetahuan yang rendah memiliki kemungkinan yang lebih tinggi terkait munculnya berbagai masalah pada kesehatan reproduksi remaja seperti infeksi pada organ reproduksi jika penanganan yang dilakukan tidak memenuhi kaidah Perilaku Menghadapi Sindrom Premenstruasi Pada Remaja Perilaku menghadai sindrom premenstruasi pada remaja berdasarkan hasil literatur review yang dilakukan diketahui hampir seluruhnya dalam kategori kurang baik. Hal ini salah satunya ditunjukkan oleh penelitian Puspitasari . bahwa penanganan sindrom premenstruasi paling banyak adalah dalam kategori tidak ditangani yaitu sebanyak 65 responden . ,1%). Sehingga kemungkinan sindrom premenstruasi ini tidak ditangani karena kurangnya pengetahuan siswi tentang penanganannya. Sedangkan hasil Aprilyandari . menunjukkan bahwa dari 103 responden, 32% responden kategori penangaan cukup dan 28,02% responden memiliki penanganan kurang. Begitu pula hasil penelitian Kalsoom . yang didapatkan bahwa terkait perilaku pencegahan PMS, sebagian besar 250 responden . ,5%) tidak memiliki pengetahuan tentang pencegahannya. Setengah dari responden berpendapat bahwa hal itu dapat dicegah dengan pengobatan di rumah sementara 30% responden yang lain mengatakan penanganan yang dapat dilakukan adalah dengan istirahat dan hanya 20% mengatakan obat-obatan dapat mencegah premenstruasi syndrome. Lingkungan sekitar berperan dalam mempengaruhi pengetahuan penanganan premenstruasi sindrom hal ini ditujukan pesan keluarga, teman, guru dan media massa. Sementara pengalaman dapat mempengaruhi perilaku seseorang karena sudah pernah mengalami masalah itu sehingga ia sudah mengetahui apa yang akan terjadi. Suatu yang sudah pernah dialami oleh seseorang akan menambah pengetahuan tentang apa yang dialami (Soekanto, 2. Penanganan PMS dengan obat-obatan hanya dilakukan jika gejala PMS berat sampai mengganggu aktivitas sehari-hari dan umumnya modifikasi gaya hidup jarang berhasil (Taufiq, 2. Cara mengatasi gejala PMS adalah dengan farmakologi, psikoterapi . elaksasi, kogniti. , perubahan gaya hidup, seperti olahraga, modifikasi diet, seperti mengurangi kafein, mengurangi konsumsi garam, meningkatkan protein pada setiap menu, konsumsi makanan kaya vitamin dan mineral, mengurangi gula dan lemak dan mengurangi minimal beralkohol (Elvira, 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku remaja dalam menghadapi PMS cenderung dalam kategori cukup dan kurang. Kurangnya penanganan premenstruasi sindrome pada remaja disebabkan kurangnya informasi yang diterima remaja mengenai menstruasi dan Pendidikan kesehatan tentang sistem reproduksi di sekolah juga dinilai sangat kurang, sehingga siswi kurang memahami bagaimana cara menangani sindrom premenstruasi yang mereka alami setiap bulannya. Padahal banyak sekali cara untuk mengurangi sindrom premenstruasi salah satunya adalah aktivitas olahraga. Penelitian Nashruna . mengatakan bahwa wanita yang rutin melakukan olahraga lebih sedikit mengalami sindrom premenstruasi (PMS) daripada wanita yang tidak rutin melakukan olahraga. Aktivitas olahraga yang teratur dan berkelanjutan akan memberikan Journal for Quality in Women's Health Analisis Tingkat Pengetahuan Tentang Kesehatan Reproduksi kontribusi untuk meningkatkan produksi dan pelepasan endhorpin yang berperan dalam pengaturan endogen. Remaja yang mengalami kejadian sindrom premenstruasi terjadi karena kelebihan hormon estrogen. Kelebihan estrogen dapat dicegah dengan meningkatnya Selain aktivitas olahraga, pola makan juga dapat mempengaruhi kejadian PMS. Remaja yang sering mengkonsumsi makanan manis seperti kue dan cokelat dan jarang mengkonsumsi buah dan sayur akan mempengaruhi tingkat keparahan PMS. Oleh karena itu, untuk mengatasi gejala PMS dianjurkan untuk mengurangi asupan karbohidrat sederhana dan meningkatkan asupan serat yang banyak terkandung dalam sayuran dan buah. Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang Kesehatan Reproduksi Terhadap Perilaku Menghadapi Sindrom Premenstruasi Berdasarkan hasil tinjauan literatur yang dilakukan, diketahui bahwa dari 6 jurnal yang diteliti terdapat 2 artikel yang menyatakan tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan perilaku menghadapi sindrom premenstruasi (Ahmed, 2019. Setiyowati . Sedangkan 4 artikel yang lain menunjukkan adanya hubungan yang positif dan signifikan (Kalsoom, 2020. Tantina, 2019. Aprilyandari, 2019 dan Puspitaningrum, 2. Hasil penelitian ini pada umumnya sejalan dengan teori yang telah diungkapkan Notoatmodjo . bahwa pengetahuan akan memengaruhi perilaku seseorang. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang . vert behavio. Apabila perilaku baru atau adopsi perilaku didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap positif, maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng . Sebaliknya apabila perilaku tidak didasari oleh pengetahuan, dan kesadaran maka tidak akan berlangsung lama. Sehingga pengetahuan ini dapat mendorong dan memengaruhi remaja dalam pencegahan dan penanganan premenstrual syndrome (PMS). Konsep tersebut sesuai dengan hasil penelitian Kalsoom . Tantina . Aprilyandari . dan Puspitaningrum . Dua artikel yang dietliti pada penelitian ini menunjukkan hasil yang berbeda yakni tidak adanya hubungan antara pengetahuan dengan perilaku penanganan premenstruasi sindrome yakni pada penelitian Ahmed . dan Setiyowati . Kedua penelitian tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Irwana . yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan terhadap penanganan premenstruasi sindrom. Keadaan tersebut disebabkan adanya anggapan premenstrual syndrome merupakan hal yang normal atau fisiologis sehingga tidak perlu ditangani dengan obat- obatan, tapi cukup dengan modifikasi gaya hidup seperti komunikasi, diet dan olahraga. KESIMPULAN Berdasarkan tujuh artikel penelitian yang direview menunjukan bahwa secara garis besar terdapat hubungan antara pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dengan perilaku menghadapi sindrom premenstruasi. Semakin baik pengetahuan yang dimiliki, maka semakin baik pula perilaku remaja dalam menghadapi gejala premenstruasi baik dalam hal pencegahan maupun penanganannya. Kurangnya pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi mempengaruhi persepsi remaja dengan menganggap premenstruasi sindrom sebagai gejala fisiologis yang tidak perlu dilakukan penatalaksanaan khusus selain tergaggunya aktivitas sehari-hari bahkan prestasi belajar. DAFTAR PUSTAKA