JURNAL KOMUNIKASI DIALOGIS Prodi Ilmu Komunikasi Tanri Abeng University Vol. No. Oktober 2025. Hal. ISSN 3123-2604 https://jurnal. id/jkd Konstruksi Sosial Emosi dalam Perkembangan Identitas Remaja di Media Sosial Nadya Paramitha1. Woro Harkandi Kencana2* 1,2 Fakultas Ilmu Komunikasi. Universitas Persada Indonesia YAI. Jakarta. Indonesia Abstract Young women who make the phenomenon have two different accounts become a culture in adolescents in constructing emotions within themselves. These teenagers construct all their emotions in both accounts. They call it the first account and the second account and have a variety of upload results that contain how they manage and express various forms of emotion on both their Instagram In conducting this research, the researcher refers to the theory of social emotional construction in which the theory can help informants to regulate or express all emotions in both accounts. The teenagers also have rules regarding the various forms of emotion that they distribute in their two This study uses a qualitative approach and the nature of research is descriptive. The results of this study indicate that their main purpose is to create two different accounts because teenagers need a medium to channel various forms of emotion and also set the best image on their first account, while they appear as they are when they use their second account. This is evidenced by their different upload results in both accounts. The conclusion of this study is in the development of identity the teenagers are still exploring the various results of their emotional construction in their two accounts so that in the development of the identity that is being undertaken these teenagers enter into 4 . identity statuses namely identity diffusion, identity foreclosure, identity moratorium & identity achievement. Keywords Social Construction Emotion. Two Instagram Accounts. Development of Youth Identity. Abstrak (Calibri . Remaja putri yang menjadikan fenomena memiliki dua akun berbeda menjadi sebuah budaya pada remaja dalam mengkonstruksi emosi dalam dirinya. Para remaja ini mengkonstruksi segala emosinya pada kedua akun tersebut. Mereka menyebutnya dengan akun pertama dan akun kedua serta memiliki beragam hasil unggahan yang berisi bagaimana mereka mengelola dan mengekspresikan berbagai bentuk emosi pada kedua akun Instagram mereka. Dalam melakukan penelitian ini, peneliti mengacu pada teori konstruksi sosial emosional yang mana teori tersebut dapat membantu para informan untuk mengatur atau mengekspresikan segala emosi pada kedua akun tersebut. Para remaja juga memiliki JURNAL KOMUNIKASI DIALOGIS Vol. No. Oktober 2025 Hal. Konstruksi Sosial Emosi dalam Perkembangan Identitas Remaja di Media Sosial JURNAL KOMUNIKASI DIALOGIS Prodi Ilmu Komunikasi Tanri Abeng University Vol. No. Oktober 2025. Hal. ISSN 3123-2604 https://jurnal. id/jkd aturan-aturan mengenai berbagai bentuk emosi yang mereka salurkan pada kedua akun Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan sifat penelitiannya adalah Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tujuan utama mereka membuat dua akun yang berbeda adalah karena para remaja membutuhkan sebuah media untuk menyalurkan berbagai bentuk emosi dan juga memasang citra terbaik pada akun pertama mereka, sedangkan mereka tampil apa adanya ketika mereka menggunakan akun kedua Hal ini dibuktikan dengan hasil unggahan mereka yang berbeda pada kedua akun Kesimpulan dari penelitian ini adalah dalam perkembangan identitas para remaja masih mengeksplorasi berbagai hasil konstruksi emosinya pada kedua akunnya sehingga dalam perkembangan identitas yang dijalani para remaja ini masuk ke dalam 4 . status identitas yaitu identity diffusion, identity foreclosure, identity moratorium & identity Kata Kunci Konstruksi Sosial Emosi. Dua Akun Instagram. Perkembangan Identitas Remaja. Pendahuluan Media sosial Instagram menjadi platform media interaksi digital yang populer. Menurut We Are Sosial pengguna Instagram di Indonesia sebesar 84. 6 % (We Are Social. Tak hanya untuk kebutuhan interaksi, instagram saat ini menjadi media pendukung konstruksi sosial emosi para remaja. Tak heran jika mereka mengunggah seluruh ungkapan emosi atau meluapkan emosi yang mereka lakukan dengan memanfaatkan beberapa fitur yang dimiliki oleh instagram. Pelampiasan emosi melalui Instagram memiliki arti yang berbeda-beda bagi setiap individu, tergantung pada kebutuhan, kenyamanan, dan tujuan pribadi mereka. Instagram menjadi ruang alternatif untuk mengekspresikan emosi (Ningsih & Surawan, 2. Pengguna Instagram saat ini tidak hanya memiliki satu akun, tetapi juga membuat akun kedua . econd accoun. untuk tujuan tertentu. Fenomena ini menunjukkan adanya dinamika baru dalam perilaku komunikasi digital (Lisa & Irma, 2. Dengan hadirnya akun lainnya yang dikenal oleh para orang terdekatnya, pengguna ingin aktivitas yang berhubungan dengan berbagai macam hal yang berkaitan dengan pengungkapan rasa emosi mereka di Instagram tidak diketahui oleh orang lain. Kehidupan remaja di era digital ini kini tak bisa dipisahkan dari media sosial. Identitas, sebagai cerminan persepsi diri sendiri dan orang lain terhadap diri sendiri, kini dibentuk oleh aktivitas daring selain interaksi tatap muka (Thohirah et al. , 2. Istilah JURNAL KOMUNIKASI DIALOGIS Vol. No. Oktober 2025 Hal. Konstruksi Sosial Emosi dalam Perkembangan Identitas Remaja di Media Sosial JURNAL KOMUNIKASI DIALOGIS Prodi Ilmu Komunikasi Tanri Abeng University Vol. No. Oktober 2025. Hal. ISSN 3123-2604 https://jurnal. id/jkd asing yang sering digunakan untuk menunjukan masa remaja adalah Puberteit. Adolescentia dan Youth Puberteit (Puberta. adalah masa antara 12-16 tahun. Perubahan yang terjadi pada masa ini adalah perubahan fisik dan psikis. Sedangkan Adolescentia adalah masa sesudah pubertas yakni 17-22 tahun. Pada masa ini lebih diutamakan perubahan dalam hubungan dengan lingkungan hidup yang lebih luas (Gunarsa & Gunarsa, 2. Proses konstruksi sosial emosi yang berlangsung adalah ketika menampilkan unggahan aktivitas mereka dalam berbagai emosi di akun instagram dengan alasan akan banyak pengikut . dan orang yang diikuti . Menurut Ross unggahan dalam sosial media adalah sebuah social act, namun dapat dilihat dalam mengunggah ke Instagram adalah proses yang sangat mengambil pikiran dan merupakan proses sosial Pesan yang disampaikan dalam unggahan akun utama seseorang biasanya erat dengan status sosial, lokasi, kekayaan dan kecantikan, atau dapat dipadatkan menjadi bagaimana seorang dapat mempertunjukkan betapa menariknya mereka sebagai citra diri yang positif (Sirait, 2. Lain halnya ketika mereka mengunggah hal yang bersifat pribadi, proses konstruksi sosial emosi yang berlangsung adalah menampilkan berbagai macam pengungkapan rasa emosi yang ada di dalam diri mereka yang asli dan tidak di konstruk sama sekali di akun Bagi remaja perempuan yang memiliki akun lainnya ini, biasanya akan mengunggah hal hal yang bersifat pribadi dan hanya beberapa orang terdekat yang mereka ikuti . dan bisa melihat aktivitas pribadi apapun yang diunggah. Mereka jauh lebih membuka diri dan cenderung tak ada batasan ketika sudah menggunakan akun kedua milik mereka, lain halnya ketika mereka mengunggah kegiatan di akun utama, mereka terkesan membatasi berbagai aktivitas yang di unggah dengan alasan privacy. Konstruksi sosial emosi di Instagram dapat dikatakan sebagai salah satu cara untuk menunjukkan emosi yang sedang dirasakan atau di alami di dalam dirinya dan dimana lebih membatasi pengungkapan emosi di Instagramnya. Di dalam penelitian ini yang bisa dikatakan sebagai media konstruksi sosial emosi adalah akun Instagram dari remaja yang hanya menampilkan emosi yang mengarah ke arah yang lebih positif di kehidupan mereka,baik dari hasil unggahan, caption, sampai dengan aktivitas sehari hari mereka yang bisa demi menampilkan sisi terbaik yang ada di dirinya dan akun kedua mereka berfungsi untuk menampilkan sisi mereka yang tidak di konstruk sama sekali, mereka merasa lebih ekspresif mengungkapkan perasaan yang dirasakan serta menyentuh seluruh aspek emosional yang ada di dalam dirinya sehingga cenderung tidak ada batasan untuk mengunggah hal hal yang mereka alami dengan maksud menampilkan keaslian diri mereka di hadapan orang yang dianggap dekat dan dipercaya oleh mereka. Pada awalnya Instagram digunakan untuk mengunggah foto foto yang bersifat pemandangan dan seperti album foto online. Namun seiring berkembangnya zaman. JURNAL KOMUNIKASI DIALOGIS Vol. No. Oktober 2025 Hal. Konstruksi Sosial Emosi dalam Perkembangan Identitas Remaja di Media Sosial JURNAL KOMUNIKASI DIALOGIS Prodi Ilmu Komunikasi Tanri Abeng University Vol. No. Oktober 2025. Hal. ISSN 3123-2604 https://jurnal. id/jkd sekarang Instagram sudah bisa mengunggah cerita . atau biasa yang disebut instastory yang juga mendukung proses konstruksi sosial emosi penggunanya, baik di akun pertama maupun akun kedua yang dimilikinya. Konstruksi sosial emosi para pengguna nya bisa juga dianalisis melalui bagaimana fotoatau video yang di unggah beserta caption yang menyertai foto tersebut serta bagaimana media Instagram tersebut dimanfaatkan untuk berbagai hal terutama dalam hal konstruksi sosial emosi di kedua akun pribadinya. Penelitian ini ingin mengetahui konstruksi emosi dalam perkembangan identitas remaja dalam media sosial Instagram. Tinjauan Pustaka Teori Konstruksi Sosial Emosi Menurut Averill (Morissan, 2. emosi adalah sistem kepercayaan yang akan memandu definisi seseorang mengenai situasi yang dihadapinya. Emosi terdiri dari normanorma sosial internal serta aturan tentang bagaimana mengatur perasaan. Berbagai norma dan aturan ini memberikan petunjuk kepada seseorang bagaimana menentukan dan merespons emosi. Dengan kata lain kemampuan untuk memahami emosi itu adalah dikonstruksikan secara sosial. Averill mengungkapkan 4 . aturan yang mengatur Rules of Appraisal (Aturan mengenai penilaia. : Aturan ini memberitahu apakah emosi itu? kepada siapa emosi diarahkan? Apakah emosi itu positif atau negatif? Rules of Behaviour (Aturan tingkah lak. : Aturan ini memberi tahu bagaimana memberikan respons kepada perasaan? Apakah perasaan itu harus disembunyikan atau diungkapkan secara pribadi atau ditunjukan secara terbuka ke publik? Rules of Prognois (Aturan mengenai pendapa. : Aturan ini menentukan kemajuan dan arah emosi, berapa lama emosi harus dipertahankan, bagaimana memulai dan mengakhirinya, bagaimana tahapannya dan seterusnya? Rules of Attribution (Aturan mengenai atribus. : Aturan ini menentukan bagaimana suatu emosi harus dijelaskan atau dibenarkan. Apa yang anda katakan kepada orang lain mengenai emosi itu? Bagaimana mengungkapkannya secara publik? Identitas Diri Menurut Martin dan Nakayama (Samovar, 2010:. , identitas sebagai konsep diri sendiri, siapa kita sebagai seorang manusia. Matthews (Samovar et al. , 2. juga mengungkapkan tentang definisi identitas adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri. JURNAL KOMUNIKASI DIALOGIS Vol. No. Oktober 2025 Hal. Konstruksi Sosial Emosi dalam Perkembangan Identitas Remaja di Media Sosial JURNAL KOMUNIKASI DIALOGIS Prodi Ilmu Komunikasi Tanri Abeng University Vol. No. Oktober 2025. Hal. ISSN 3123-2604 https://jurnal. id/jkd Identitas bukanlah sebuah hal yang statis, namun berubah menurut pengalaman hidup masing-masing. Marcia (Santrock, 2. berpendapat bahwa teori perkembangan identitas Erikson terdiri dari empat status identitas, atau cara yang ditempuh dalam menyelesaikan krisis Krisis identitas adalah suatu periode perkembangan identitas di mana remaja berusaha memilih terhadap berbagai alternatif yang bermakna. Lalu, 4 . status identitas yang dimaksud adalah: Pertama, identity diffusion: Istilah ini merujuk pada kondisi remaja yang belum pernah mengalami krisis . elum pernah mengeksplorasi berbagai alternatif yang bermakn. ataupun membuat komitmen apapun. Kedua, identity foreclosure: Istilah ini merujuk pada kondisi remaja yang telah membuat komitmen namun tidak pernah mengalami krisis identitas. Status ini sering kali terjadi jika orang tua meneruskan komitmen pada remaja, biasanya secara otoriter. Ketiga, identity moratorium: Istilah ini merujuk pada kondisi remaja yang berada di pertengahan krisis namun belum memiliki komitmen yang jelas terhadap identitas tertentu. Keempat, identity achievement: Istilah ini merujuk pada kondisi remaja yang telah mengatasi krisis identitas dan membuat komitmen. Media Sosial Media sosial adalah Aumedium di internet yang memungkinkan penggunanya merepresentasikan dirinya maupun berinteraksi, bekerjasama, berbagi, berkomunikasi dengan pengguna lain, dan membentuk ikatan sosial secara virtual (Nasrullah, 2. Menurut Van Dijk, media sosial adalah platform media yang memfokuskan pada eksistensi pengguna yang memfasilitasi mereka dalam berkativitas maupun berkolaborasi. Karena itu media sosial dapat dilihat fasilitator online atau menguatkan jaringan antar-individu dalam sebuah hubugan sebagai sebuah nilai sosial (Nasrullah, 2. Remaja Perempuan Remaja punya jiwa emosi yang masih labil. Perubahan fisik, psikis dan sebagainya kadang membuat remaja mengalami perubahan fisik, psikis dan sebagainya kadang membuat para remaja perempuan mengalami beberapa masalah seperti stres, mood yang jelek dan sebagainya. Remaja perempuan yang lebih cepat dewasa mengalami lebih banyak depresi dan kecemasan (Adisti, 2. Perempuan tampaknya memiliki struktur otak yang lebih cocok untuk kosakata Auemosional,Ay karena mereka memiliki lebih banyak sel di dalam bidang otak yang menetapkan bahasa dan yang menghubungkan bidang emosional dengan bidang bahasa (Love & Stosny, 2. JURNAL KOMUNIKASI DIALOGIS Vol. No. Oktober 2025 Hal. Konstruksi Sosial Emosi dalam Perkembangan Identitas Remaja di Media Sosial JURNAL KOMUNIKASI DIALOGIS Prodi Ilmu Komunikasi Tanri Abeng University Vol. No. Oktober 2025. Hal. ISSN 3123-2604 https://jurnal. id/jkd Emosi Remaja Reed Larson & Richards (Santrock, 2. menemukan bahwa remaja melaporkan emosi yang lebih ekstrem dan berlalu cepat dibandingkan orang tuanya. Remaja memiliki kecenderungan lima kali lebih besar untuk melaporkan dirinya berada dalam kondisi Ausangat bahagiaAy dan tiga kali lebih besar untuk melaporkan dirinya dalam kondisi Ausangat sedihAy. Hal ini mendukung persepsi bahwa remaja memiliki suasana hati yang berubah Metode Penelitian Metode penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah dengan pendekatan kualitatif. Dalam penelitian ini, peneliti mengumpulkan data-data untuk diolah dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif, di mana dalam metode ini penelitian yang dilakukan adalah dengan mencoba menggambarkan dan menjelaskan mengenai bagaimana konstruksi sosial emosi dalam perkembangan remaja di kedua akun Instagram-nya. Metode yang peneliti gunakan adalah studi fenomenologi. Fenomenologi berarti menjelaskan atau mengungkap makna dari fenomena yang terjadi dan didasari oleh kesadaran yang terjadi pada beberapa individu atau kelompok. Fenomenologi dilakukan dalam situasi yang alami sehingga tidak ada batasan dalam memaknai fenomena yang dikaji, sehingga peneliti bebas untuk menganalisis data yang diperoleh (Sobur, 2. Saat fenomenologi dijadikan sebagai metode penelitian maka dapat dipastikan penelitian ini merupakan penelitian mengenai fenomena atau makna. Metode penelitian ini terfokus pada cara bagaimana peneliti melihat dan mempersepsikan realitas yang ada. Adapun dalam penelitian ini peneliti melakukan wawancara mendalam terhadap 5 informan yang merupakan remaja akhir dan memiliki dua akun di Instagram. Selain itu peneliti juga mendapatkan informasi berupa data-data yang menunjang dalam penelitian ini dari kedua akun Instagram mereka. Hasil Penelitian Hasil dalam penelitian ini remaja perempuan mengkonstruksi emosinya dalam perkembangan identitas di kedua akun Instagram. Kedua akun Instagram tersebut JURNAL KOMUNIKASI DIALOGIS Vol. No. Oktober 2025 Hal. Konstruksi Sosial Emosi dalam Perkembangan Identitas Remaja di Media Sosial JURNAL KOMUNIKASI DIALOGIS Prodi Ilmu Komunikasi Tanri Abeng University Vol. No. Oktober 2025. Hal. ISSN 3123-2604 https://jurnal. id/jkd merupakan media sosial yang digunakan sebagai media untuk menyalurkan berbagai macam emosi, baik dari emosi positif atau emosi negatif di masa perkembangan identitas yang saat ini sedang mereka jalani. Hal tersebut karena sifat Instagram sendiri bisa menjadi media penyalur emosi dan juga media pencari identitas diri. Dari hasil analisis data informan bahwa mereka membuat dua akun tersebut dengan nama pengguna . yang unik dan beragam agar diikuti oleh teman terdekatnya. Hal ini dikarenakan beragam konten unggahannya yang cenderung menyalurkan berbagai emosi baik positif ataupun negatif mereka pergunakan untuk mencari informasi serta motivasi pencarian identitas diri. Pengungkapan emosi yang disalurkan di kedua akun Instagram cukup beragam, ada yang mengarah ke positif maupun negatif. Berdasarkan hasil wawancara dengan para informan peneliti melihat bahwa tujuan mereka membuat dua akun di Instagram untuk menampilkan citra yang terbaik di akun pertama dengan alasan followers-nya lebih banyak dan meskipun mereka mengakui tidak mengenal secara keseluruhan. Tujuan mereka membuat akun kedua agar lebih mengekspresikan dirinya dengan cara melampiaskan segala macam bentuk emosinya. Followers di akun kedua adalah teman teman terdekatnya yang sudah mengenal masing-masing diri informan. Alasan dibalik penggunaan username di akun kedua agar identitas tidak mudah diketahui oleh orang lain yang tidak terlalu dikenal karena akun kedua bersifat lebih pribadi dan tidak mudah untuk diketahui oleh orang lain, dengan kata lain akun kedua hanya untuk teman-teman terdekat. Marcia (Santrock, 2. berpendapat bahwa teori perkembangan identitas Erikson terdiri dari empat status identitas, atau cara yang ditempuh dalam menyelesaikan krisis Krisis identitas adalah suatu periode perkembangan identitas di mana remaja berusaha memilih terhadap berbagai alternatif yang bermakna. Ada 4 status identitas yang dimaksud adalah identity diffusion, identity foreclosure, identity moratorium & identity Jika dikaitkan dengan konsep identitas diri dapat diketahui hasil observasi & wawancara dari informan yang berstatus remaja akhir dapat dilihat bahwa informan 1 yang merasa hidupnya belum pernah mengalami krisis dan merasa apa yang dilakukannya selalu positif di kedua akun Instagram-nya. Dari hasil wawancara dan observasi informan 1 termasuk dalam status identity diffusion yaitu belum pernah mengeksplorasi berbagai alternatif yang bermakn. ataupun membuat komitmen apapun. Informan 1 pun termasuk ke dalam remaja yang tertutup dan merasa hidupnya masih di jalur yang positif dan mengikuti alur saja, terkadang ia mencoba beberapa passion yang ada di dalam dirinya, namun cenderung kurang berminat di dalamnya. Pada informan 4 termasuk ke dalam status identity foreclosure karena merasa dirinya masih meneruskan komitmen apapun yang dibuat oleh kedua orang tuanya, dan merasa apapun pilihan orang tuanya adalah yang terbaik serta ia belum memiliki kesempatan JURNAL KOMUNIKASI DIALOGIS Vol. No. Oktober 2025 Hal. Konstruksi Sosial Emosi dalam Perkembangan Identitas Remaja di Media Sosial JURNAL KOMUNIKASI DIALOGIS Prodi Ilmu Komunikasi Tanri Abeng University Vol. No. Oktober 2025. Hal. ISSN 3123-2604 https://jurnal. id/jkd untuk mengeksplorasi jalan hidupnya seperti berbagai pendekatan, ideologis dan pekerjaannya sendiri. Status yang ketiga adalah identity moratorium yaitu merujuk pada kondisi remaja yang sedang berada di pertengahan krisis namun belum memiliki komitmen yang jelas terhadap identitas tertentu. Menurut hasil observasi dan wawancara kepada seluruh informan, informan 3 berada dalam status ini karena ia sedang di masa krisis identitas, ia pun mengakui memiliki banyak teman untuk memperbanyak wawasan serta sering melakukan kesalahan dan juga kegagalan yang membuat ia tidak pernah menyerah dalam menggapai hal tersebut, namun ia masih belum tahu ke depannya atau cita cita apa yang ia inginkan di dirinya mendatang. Berbeda dengan informan 2 dan informan 5 yang termasuk di dalam status identity Menurut hasil wawancara dan observasi mereka telah sukses mengatasi krisis identitas dan telah membuat komitmen dan keinginan mereka di 5 tahun ke depan. Mereka menentukan sebuah tujuan dan mulai mengeksplorasi di bidang tersebut. Berdasarkan hasil dari analisis data, peneliti mengetahui bahwa fenomena memiliki dua akun Instagram yang dimiliki oleh para informan yaitu untuk menyalurkan berbagai bentuk emosi di Mereka lebih terbuka di akun kedua dan berani mengekspresikan perasaan apapun yang ada di dalam dirinya. Informan 5 mengakui dirinya menggunakan fitur close friends di akun kedua yang di mana ia mengatur kembali teman yang bisa melihat Instagram cerita . Hal berbeda lainnya yang ditemukan oleh informan lainnya, yang seluruh konten atau unggahannya di akun pertama maupun akun kedua tetaplah di dalam bentuk yang positif sehingga respon yang didapatkan juga positif. Maka peneliti dapat mengetahui bahwa tujuan utama mereka membuat dua akun yang berbeda karena para remaja membutuhkan medium untuk menyalurkan berbagai macam bentuk emosi dan juga mengatur citra terbaik di akun pertama mereka, sedangkan mereka tampil apa adanya ketika mereka menggunakan akun kedua mereka. Mereka masih memikirkan persepsi orang lain terhadap dirinya karena sekarang Instagram sangat bisa membentuk beragam persepsi. Mereka menggunakan fitur Instagram story di akun kedua karena instagram story yang sifatnya harian untuk meluapkan emosi yang negatif yang ada di dalam dirinya. Mereka pun mengakui bercerita di akun kedua Instagram mereka guna mendapatkan respons yang lebih dari teman dekat mereka yang mengikuti beragam aktivitas para informan di akun kedua. Pembahasan Menurut Averill (Morissan, 2. emosi adalah sistem kepercayaan yang akan memandu definisi seseorang mengenai situasi yang dihadapinya. Emosi terdiri dari normanorma sosial internal serta aturan tentang bagaimana mengatur perasaan. Berbagai norma JURNAL KOMUNIKASI DIALOGIS Vol. No. Oktober 2025 Hal. Konstruksi Sosial Emosi dalam Perkembangan Identitas Remaja di Media Sosial JURNAL KOMUNIKASI DIALOGIS Prodi Ilmu Komunikasi Tanri Abeng University Vol. No. Oktober 2025. Hal. ISSN 3123-2604 https://jurnal. id/jkd dan aturan ini memberikan petunjuk kepada seseorang dalam menentukan dan merespons Kemampuan untuk memahami emosi dikonstruksikan secara sosial. Kita memiliki aturan mengenai apa itu kemarahan, ketakutan, kecemburuan serta kesepian. Kita juga memiliki aturan dalam memberikan respons atau tanggapan terhadap berbagai perasaan. Aturan tersebut di konstruksikan dalam interaksi sosial sepanjang hidup manusia. Teori konstruksi sosial emosi dapat membantu para informan dalam mengatur atau mengungkapkan seluruh emosi di kedua akunnya. Para informan pun memiliki aturan mengenai berbagai bentuk emosi yang disalurkanya di kedua akun mereka. Mereka hanya menyalurkan emosi yang bersifat positif dan mereka pun mengetahui jika sedang merasa marah, kecewa atau sedih mereka langsung mengutarakan seluruh perasaannya dengan teman terdekatnya atau menceritakannya di akun kedua. Para informan pun memiliki cara tersendiri untuk merespons perasaan emosi mereka. Tujuan mereka menceritakan segala perasaan atau emosinya di akun kedua guna mempermudah untuk mendapatkan respons yang lebih dari orang lain dan tidak perlu diceritakan satu per satu. Namun ada juga yang merasa bahwa perasaan emosi tersebut dipendam saja atau disembunyikan saja. Respons yang diberikan oleh para followers di kedua akunnya pun beragam, ada yang positif dan negatif. Respons positif yang diterima pun menandakan bahwa followers mereka lebih peduli terhadap informan. Sedangkan respon negatif dapat memperkeruh keadaan informan di kala emosi. Arah emosi para informan juga beragam, ada yang stabil, ada yang selalu positif dan ada juga yang selalu merasa mengarah ke arah negatif. Informan yang berstatus remaja akhir ini pun mengakui bahwa perasaan mereka mudah berubah dan hal tersebut menjadikan emosi tidak perlu lama dipertahankan. Mereka juga memiliki cara yang berbeda-beda untuk mengakhiri seluruh perasaan emosinya seperti menangis, bermain, nonton film atau melihat video yang lucu. Dengan berbagai alasan yang beragam. Beberapa informan merasa emosi harus dijelaskan secara detil terutama di akun keduanya, namun ada juga yang hanya dibenarkan saja bahwa ia sedang merasakan emosi. Tahapan kemarahan yang dilakukan oleh para informan biasanya terjadi secara spontan atau ketika mereka merasakan masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh dirinya sendiri. Informan mengaku setelah mengungkapkan seluruh perasaan mereka di Instagram membuat informan merasa lega. Meskipun jika tidak mendapatkan interaksi dari Instagram sebagai media pencari identitas diri membantu mengintrospeksi diri dengan hadirnya akun kedua mereka yang dimana mereka jauh lebih terbuka serta apa adanya dan berbagai macam respon/saran yang diterima oleh para informan yang berasal dari teman-temannya. Namun sedikit berbeda dengan akun pertama mereka yang mereka nilai juga bisa untuk mencari identitas diri karena di akun pertama mereka selalu JURNAL KOMUNIKASI DIALOGIS Vol. No. Oktober 2025 Hal. Konstruksi Sosial Emosi dalam Perkembangan Identitas Remaja di Media Sosial JURNAL KOMUNIKASI DIALOGIS Prodi Ilmu Komunikasi Tanri Abeng University Vol. No. Oktober 2025. Hal. ISSN 3123-2604 https://jurnal. id/jkd menampilkan berbagai bentuk emosi positif tapi tetap memikirkan persepsi orang lain terhadap dirinya. Masa remaja adalah masa pencari identitas bahwa semua hal dibangun di masa remaja dan di masa remaja inilah mulai bisa menilai mana yang baik dan mana yang buruk. Cara mereka untuk mengeksplorasi diri pun beragam diantaranya dengan cara mendengarkan nasihat dari orang tua masing-masing dan juga bisa belajar dari kesalahan di masa lampau serta memperbanyak relasi/pertemanan. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, para informan remaja perempuan melakukan konstruksi sosial emosi dalam mengatur dan mengungkapkan seluruh emosi di kedua akun Intagramnya. Para informan pun memiliki aturan mengenai berbagai bentuk emosi yang disalurkanya di kedua akun mereka. Mereka hanya menyalurkan emosi yang bersifat positif di akun pertama mereka dan mengunggah perasaan marah, kecewa, atau sedih di akun kedua di mana akun tersebut hanya bisa diihat oleh teman terdekatnya. Para remaja membutuhkan medium untuk menyalurkan berbagai macam bentuk emosi dan juga mengatur image terbaik di akun pertama mereka, sedangkan mereka tampil apa adanya ketika mereka menggunakan akun kedua mereka. Mereka masih memikirkan persepsi orang lain terhadap dirinya karena saat ini Instagram membentuk beragam Mereka menggunakan fitur Instagram story di akun kedua karena Instagram story yang sifatnya harian untuk meluapkan emosi yang negatif. Mereka pun mengakui bercerita di akun kedua Instagram untuk mendapatkan respons yang lebih dari teman dekat mereka yang mengikuti beragam aktivitas para informan di akun kedua. Perkembangan identitas para remaja perempuan ini dapat terlihat dari bentuk konstruksi emosi mereka di kedua akunnya sehingga dalam perkembangan identitas yang sedang dijalani ini para remaja masuk ke dalam 4 . status identitas yaitu status identity diffusion yaitu belum pernah mengeksplorasi berbagai alternatif yang bermakna ataupun membuat komitmen apapun. Status identity foreclosure karena merasa dirinya masih meneruskan komitmen apapun yang dibuat oleh kedua orang tuanya, dan merasa apapun pilihan orang tuanya adalah yang terbaik serta ia belum memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi jalan hidupnya seperti berbagai pendekatan, ideologis dan pekerjaannya sendiri. Status identity oratorium yaitu merujuk pada kondisi remaja yang sedang berada di pertengahan krisis namun belum memiliki komitmen yang jelas terhadap identitas tertentu. Hingga status identity achievement. Di mana sukses mengatasi krisis identitas dan telah membuat komitmen dan keinginan mereka di 5 tahun kedepan. Mereka menentukan sebuah tujuan dan mulai mengeksplorasi di bidang tersebut. JURNAL KOMUNIKASI DIALOGIS Vol. No. Oktober 2025 Hal. Konstruksi Sosial Emosi dalam Perkembangan Identitas Remaja di Media Sosial JURNAL KOMUNIKASI DIALOGIS Prodi Ilmu Komunikasi Tanri Abeng University Vol. No. Oktober 2025. Hal. ISSN 3123-2604 https://jurnal. id/jkd Daftar Pustaka