E-ISSN: 2797-1910 http://ejournal. Open Acces Ukazh: Journal of Arabic Studies. Vol. No. 2, 2026 Page 77-98 DOI : 10. 37274/ukazh. Analisis Akurasi IAorab Struktur Kalimat Bahasa Arab pada Output Artificial Intelligence ChatGPT: Studi Mixed Methods Muhammad Hilman1. Muhammad Azhar2 1,2Institut Agama Islam Imam Syafii. Pekanbaru. Indonesia E-mail: mhilman. academic@gmail. com1, azharm. arabicedu@gmail. Submission: 23-04-2026 Revised: 20-05-2026 Accepted: 06-06-2026 Published: 28-06-2026 Abstract The increasing use of ChatGPT as a source for learning Arabic requires a critical evaluation of the accuracy of the grammatical analysis it produces. This study aims to analyze the accuracy and precision of iAorab in Arabic sentences generated by ChatGPT. This research employed a mixed methods approach with a sequential exploratory design. The data consisted of 12 sentences with variations in syntactic structure, collected purposively and analyzed through content analysis. The qualitative analysis revealed errors in complex structures, such as al-binaAo lil-majhul, multi-mafAoul, uslub syar, istifham, as well as taqdimAetaAokhir and iAorab taqdir. The errors also included incorrect identification of faAoil, inaccuracies in iAorab markers, and inconsistencies in wording. The quantitative results showed an accuracy rate of 46. 81% . , indicating that ChatGPT is fairly capable of recognizing basic nahwu patterns. However, these findings indicate that the use of ChatGPT at the basic level may actually risk instilling conceptual errors. Therefore. ChatGPT cannot replace classical nahwu references and must be used critically and verified with authoritative sources. Keywords: Arabic Language. Artificial Intelligence. ChatGPT. IAorab Analysis Abstrak Meningkatnya penggunaan ChatGPT sebagai sumber belajar bahasa Arab menuntut evaluasi kritis terhadap ketepatan analisis nahwu yang dihasilkannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keakuratan dan ketepatan iAorab pada kalimat bahasa Arab yang dihasilkan oleh ChatGPT. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain sequential Data berupa 12 kalimat dengan variasi struktur sintaksis dikumpulkan secara purposive dan dianalisis melalui content analysis. Analisis kualitatif mengungkap kesalahan pada struktur kompleks, seperti al-binaAo lil-majhul, multi-mafAoul, uslub syar, istifham, serta taqdimAe taAokhir dan iAorab taqdir. Kesalahan juga mencakup penentuan faAoil, ketidaktepatan tanda iAorab, serta inkonsistensi redaksi, hasil kuantitatif menunjukkan tingkat akurasi sebesar 46,81% . , yang mengindikasikan bahwa ChatGPT cukup mampu mengenali pola dasar nahwu. Namun. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan ChatGPT pada tingkat dasar justru berisiko menanamkan kesalahan konseptual. Oleh karena itu. ChatGPT tidak dapat menggantikan rujukan nahwu klasik dan harus digunakan secara kritis serta diverifikasi dengan sumber otoritatif. Kata kunci: Analisis IAorab. Bahasa Arab. ChatGPT. Kecerdasan Buatan A 2026 by the authors. This is an Open Access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution- ShareAlike 4. 0 International License. ttps://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. 0/), which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the original work is properly cited. Muhammad Hilman. Muhammad Azhar PENDAHULUAN Metode pembelajaran baru yang memanfaatkan teknologi serta berorientasi komunikatif dan kontekstual semakin berkembang pada era digital saat ini(Nirwanto & Wahdah, 2. Kehadiran kecerdasan buatan (AI) dalam pembelajaran bahasa Arab memberikan peluang baru dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran, termasuk pada aspek evaluasi dan analisis kebahasaan. Media pembelajaran interaktif berbasis AI juga dinilai penting di era globalisasi karena mampu memperkaya proses pembelajaran dan mempersiapkan peserta didik menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Pendidikan di era 5. 0 memerlukan media yang tidak hanya sekedar alat bantu belajar, tetapi juga dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan individu serta mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan keterampilan problem solving yang relevan (Anas & Zakir, 2. Perkembangan zaman yang terus berlangsung juga mendorong para pelaksana pendidikan untuk senantiasa melakukan pengembangan dan inovasi demi memenuhi kebutuhan kegiatan pembelajaran(Rahmawati et al. , 2. muncul sebagai salah satu terobosan, menawarkan pendekatan yang personal, berbasis data, dan mampu beradaptasi dengan kebutuhan setiap individual (Saputra & Ghofur. Teknologi AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu yang strategis dalam proses akselerasi pemahaman struktur, gramatika, dan nuansa kebahasaan Arab yang kompleks (Lutfiyatun et al. , 2. AI juga memiliki kapabilitas untuk menganalisis data, yang memungkinkannya menangani serta memproses sejumlah besar informasi, sehingga menciptakan karangan yang tepat dan mendetail (Tabone & De Winter, 2. Perkembangan AI dalam beberapa tahun terakhir telah membawa perubahan signifikan pada praktik pembelajaran bahasa, termasuk bahasa Arab. Pembelajaran bahasa Arab berbasis kecerdasan buatan AI merupakan langkah strategis dalam tantangan pendidikan modern yang menuntut efektivitas, efisiensi, dan personalisasi dalam proses belajar-mengajar (Azhar et al. , 2. Beberapa studi penelitian menunjukkan bahwa artificial intelligence AI semakin diintegrasikan dalam pembelajaran Bahasa Arab untuk mendukung pembelajaran yang lebih adaptif, interaktif, dan membantu pemahaman konsep kebahasaan yang kompleks (Azhar et al. Mufid & Muassomah, 2. Secara khusus. AI generatif seperti ChatGPT mulai Ukazh: Journal of Arabic Studies. Vol. No. 2, 2026: 77-98 Analisis Akurasi IAorab Struktur Kalimat Bahasa Arab pada Output Artificial Intelligence ChatGPT: Studi Mixed Methods digunakan sebagai learning assistant untuk memaparkan kaidah, memberikan contoh, menyiapkan bahan ajar yang menarik pada pembelajaran bahasa Arab (Nasaruddin. Sejumlah penelitian menegaskan bahwa ChatGPT bermanfaat untuk aktivitas ArabAeIndonesia/IndonesiaAeArab penulisan/ kitAbah karena responsnya cepat dan mudah diakses, namun hasilnya tetap perlu diperiksa kembali dengan merujuk kepada kamus, baik kamus manual maupun digital (Majid et al. , 2. Data penelitian juga menunjukkan Sebagian mahasiswa lebih memilih ChatGPT dibandingkan alat bantu terjemahan lainnya (Rahman et al. , 2. Dalam penelitian terdahulu yang lebih spesifik pada aspek nahwu/sintaksis, beberapa jurnal melaporkan bahwa ChatGPT mampu memberikan penjelasan nahwu dan contoh kalimat, tetapi masih ditemukan kekeliruan saat berhadapan lansung dengan konsep sintaksis tertentu dan penentuan hubungan antar unsur kalimat (Maulidiya et al. , 2. Ilmu Nahwu merupakan cabang kajian bahasa Arab yang berfokus pada pemahaman dan penerapan kaidah-kaidah tata bahasa Arab(Abdurrohman & Sopian. Bukti empiris menunjukkan bahwa ChatGPT memaparkan teori sintaksis Bahasa arab secara tepat, namun tetap ditemukannya kesalahan pada interpretasi mubtadaAoAe khabar oleh ChatGPT, yang berarti ChatGPT dapat keliru menetapkan fungsi unsur kalimat Arab, hal yang berkaitan langsung dengan ketepatan iAorAb (Sulaikho et al. , 2. Kajian kesalahan penerjemahan ke bahasa Arab pada output ChatGPT mengidentifikasi masalah pada level morfologi dan sintaksis, yang beririsan lansung dengan ketidaktepatan iAorAb pada konstruksi kalimat (Saimin et al. , 2. Hasil penelitian lain menunjukkan bahwa AI dapat berfungsi sebagai alat yang efektif, namun belum mampu menggantikan keahlian manusia dalam bidang linguistik bahasa Arab (Siyam et al. , 2. Berdasarkan kajian penelitian sebelumnya, masih terlihat adanya celah yang belum banyak dibahas. Sejumlah penelitian menyatakan bahwa AI sebagai media pembelajaran dan menilai manfaatnya, tetapi belum secara khusus menguji ketepatan iAorAb dengan kriteria penilaian yang jelas dan terukur (Nasaruddin, 2. Di sisi lain, penelitian yang menguji kemampuan AI dalam iAorAb umumnya terbatas pada perbandingan model atau contoh kalimat yang jumlahnya sedikit, sehingga belum cukup Ukazh: Journal of Arabic Studies. Vol. No. 2, 2026: 77-98 Muhammad Hilman. Muhammad Azhar menjawab kebutuhan evaluasi yang menekankan akurasi dan pola kesalahan, terutama dalam konteks pembelajaran bahasa Arab di Indonesia (Maulidiya et al. , 2. Selain itu, kajian tentang pemberian harakat dan pemrosesan bahasa Arab berbasis AI menunjukkan bahwa teknologi ini memiliki potensi yang besar. Namun, penelitian tersebut masih menghadapi persoalan pemahaman konteks dan penerapan kaidah bahasa Arab secara tepat, sehingga analisis iAorAb yang utuh berbasis nahwu belum banyak dilakukan (Siyam et al. , 2. Urgensi penelitian ini semakin terlihat seiring dengan meningkatnya penggunaan ChatGPT dalam pembelajaran dan analisis bahasa Arab di lingkungan akademik. Namun, jika ketepatan iAorAb yang dihasilkan tidak diamati secara mendalam dan terukur berdasarkan kaidah nahwu, penggunaan teknologi ini berpotensi menimbulkan kesalahan pemahaman gramatikal dan makna kalimat. Oleh karena itu, evaluasi tidak cukup hanya melihat angka, tetapi juga perlu disertai penjelasan terlebih dahulu terkait model kesalahan iAorAb berdasarkan kaidah nahwu. Berdasarkan celah penelitian yang ada, maka penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keakuratan iAorAb kalimat bahasa Arab yang dihasilkan oleh ChatGPT dengan merujuk pada kaidah nahwu yang baku sebagaimana dirumuskan dalam kitab-kitab klasik, seperti Al-Ajurrumiyyah. Qar an-Nada wa Ball a-ada, dan Syaru Ibn AoAqil Aoala Alfiyyah Ibn Malik. Dalam perspektif nahwu klasik, iAorab berfungsi sebagai penanda gramatikal utama yang menentukan relasi antar komponen kalimat (Qudsiyah et al. Fokus nahwu pada struktur dan hubungan antarkata menjadikan ketepatan iAorAb sangat krusial, karena kesalahan pada aspek ini dapat menimbulkan kekeliruan makna dan pemahaman teks bahasa Arab (Saleh et al. , 2. Analisis dilakukan tidak hanya melalui pengukuran tingkat ketepatan secara kuantitatif, tetapi juga melalui penelaahan kualitatif terhadap bentuk dan pola kesalahan iAorAb, khususnya dalam kekeliruan penentuan fungsi unsur kalimat seperti mubtadaAo, khabar, fAAoil, mafAoul dan relasi sintaksis Dengan menggunakan pendekatan mixed methods, penelitian ini berupaya memberikan gambaran yang lebih luas mengenai kemampuan serta keterbatasan ChatGPT dalam memahami struktur gramatikal bahasa Arab. Kontribusi penelitian ini Ukazh: Journal of Arabic Studies. Vol. No. 2, 2026: 77-98 Analisis Akurasi IAorab Struktur Kalimat Bahasa Arab pada Output Artificial Intelligence ChatGPT: Studi Mixed Methods diharapkan dapat memperkaya kajian teoretis mengenai pemanfaatan AI dalam analisis kebahasaan Arab yang berbasis turats ilmiah, sekaligus memberikan kontribusi praktis sebagai rujukan bagi pendidik dan mahasiswa bahasa Arab dalam menggunakan ChatGPT secara kritis dan proporsional sebagai media pendukung pembelajaran nahwu di lingkungan akademik Indonesia. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain sequential Tahap pertama adalah analisis kualitatif yang bertujuan menjelaskan output iAorob melalui identifikasi pola kesalahan iAorAb, meliputi aspek kaidah nahwu, fungsi sintaksis, dan penggunaan tanda iAorab. Tahap kedua berupa analisis kuantitatif untuk mengukur ketepatan iAorAb menggunakan tiga kategori: tepat, kurang tepat, dan tidak Data dianalisis dengan secara kuantitatif untuk menentukan tingkat akurasi secara Desain ini memungkinkan penyajian hasil yang tidak hanya bersifat statistik, tetapi juga analitis dan komprehensif. Sumber data penelitian ini meliputi data primer dan sekunder. Data primer berupa hasil analisis iAorAb kalimat bahasa Arab yang dihasilkan ChatGPT berdasarkan prompt sistematis, dengan pemilihan kalimat secara purposive mencakup variasi struktur nahwu dan kompleksitas gramatikal seperti jumlah ismiyyah, fiAoliyyah, isAfah, naAotAemanAot, jarAemajrr, serta mubtadaAoAekhabar. Hasil tersebut dianalisis untuk menilai tingkat keakuratannya. Adapun data sekunder berasal dari kitab nahwu klasik, literatur kontemporer, dan artikel ilmiah yang relevan, yang digunakan sebagai landasan teoretis sekaligus pembanding dalam menilai ketepatan analisis iAorAb ChatGPT. Populasi penelitian ini adalah seluruh output analisis iAorAb kalimat bahasa Arab yang dihasilkan oleh ChatGPT. Sampel penelitian berupa kalimat bahasa arab yang dipilih secara purposive berdasarkan variasi struktur nahwu dan tingkat kompleksitas gramatikal, meliputi jumlah ismiyyah, jumlah fiAoliyyah, isAfah, naAotAemanAot, jarAemajrr, serta variasi posisi mubtadaAo dan khabar. Kalimat-kalimat tersebut dianalisis iAorAb-nya oleh ChatGPT melalui prompt yang disusun secara sistematis dan konsisten, sehingga data yang dihasilkan bersifat terkontrol dan dapat direplikasi. Ukazh: Journal of Arabic Studies. Vol. No. 2, 2026: 77-98 Muhammad Hilman. Muhammad Azhar Pengumpulan data dilakukan melalui purposive sampling dengan tahapan sistematis: . pemilihan kalimat bahasa Arab yang merepresentasikan variasi struktur . pemberian prompt terstruktur ke ChatGPT untuk menghasilkan analisis iAorAb. pengumpulan dan analisis data menggunakan mixed methods, meliputi pengukuran ketepatan secara kualitatif dan kuantitatif terhadap pola kesalahan berdasarkan kaidah serta . penyajian hasil dalam bentuk tabel dan uraian analitis untuk menggambarkan tingkat akurasi iAorAb secara komprehensif. Menurut Machali . sebagaimana yang dikutip oleh Rahmadani . Purposive Sampling adalah teknik pengambilan sampel berdasarkan kriteria atau pertimbangan tertentu yang ditentukan oleh peneliti (Machali, 2021. Rahmadani et al. , 2. Penelitian ini menggunakan teknik analisis isi . ontent analysi. sebagai teknik utama analisis data, karena metode ini relevan untuk mengkaji data berupa teks bahasa Arab yang mengandung unsur kebahasaan struktural. Analisis isi . ontent analysi. dipilih karena sejalan dengan karakteristik pendekatan mixed methods, yang memungkinkan integrasi analisis kualitatif dan kuantitatif. Secara kualitatif, analisis isi digunakan untuk menafsirkan pola kesalahan, variasi struktur sintaksis, serta ketepatan penerapan kaidah nahwu dalam teks yang dianalisis, secara kuantitatif, analisis dilakukan melalui pengodean dan penghitungan menggunakan rumus persentase = skor aktual : skor maksimal x 100 untuk menentukan tingkat akurasi frekuensi kategori ketepatan iAorAb kalimat bahasa Arab, yaitu tepat dengan skor 2, kurang tepat dengan skor 1, dan tidak tepat dengan skor 0, persentase = (Skor aktual : skor maksimal ) y 100. ( ycycoycuyc ycaycoycycycayco ) y 100 . cycoycuyc ycoycaycoycycnycoycayc. Dalam perspektif metodologis. Analisis isi . ontent analysi. disebutkan oleh ycE = (Krippendorff, 2. sebagaimana yang dikutip oleh (Ahmad, 2. merupakan prosedur sistematis untuk mengklasifikasikan unit-unit teks berdasarkan pola kemunculan dan keterkaitan maknanya. Kerangka ini diterapkan dalam penelitian linguistik Arab dengan menjadikan struktur kalimat dan pola iAorAb sebagai unit analisis. Melalui pengodean kategoris. Ukazh: Journal of Arabic Studies. Vol. No. 2, 2026: 77-98 Analisis Akurasi IAorab Struktur Kalimat Bahasa Arab pada Output Artificial Intelligence ChatGPT: Studi Mixed Methods HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian ini memfokuskan analisis pada output ChatGPT versi gratis karena pertimbangan aksesibilitas, sehingga merepresentasikan penggunaan nyata AI dalam pembelajaran bahasa Arab. Data dikumpulkan pada JanuariAeApril 2026 untuk memperoleh variasi output yang stabil. Data yang digunakan berupa 12 kalimat yang mencakup unsur-unsur iAorAb, yaitu: al-marfuAoatt, al-manubat, al-majrurat, dan almajzumat. Setiap hasil analisis iAorab diklasifikasikan berdasarkan unit struktur kalimat sesuai pembagian yang dihasilkan ChatGPT. Pendekatan ini menjaga objektivitas dengan tidak mengintervensi konstruksi yang dihasilkan sistem. Berikut hasil analisis IAorob pada output ChatGPT, sebagaimana tercantum pada tabel dibawah ini. Kalimat AII NOA Dalam analisis pada kalimat pertama sebagaimana terdapat dalam tabel 1, terdapat kesalahan dalam penentuan iAorab. Penempatan AuA AyIIAsebagai mubtadaAo dan AuAAyNOA sebagai khabar tidak sesuai dengan kaidah nahwu. Struktur yang benar adalah Au AAyIIA sebagai khabar muqaddam dan AuA AyNOAsebagai mubtadaAo muAoakhkhar, karena mubtadaAo pada asalnya berupa isim maAorifah(Ibnu Hisyam, 2. , sedangkan AuA AyIIAadalah isim istifham yang bersifat nakirah dan tidak memenuhi syarat mubtadaAo tanpa qarinah(Ibnu Hisyam, 2. Penempatan AuA AyIIAdi awal kalimat tetap mengikuti kaidah uslub istifham yang mewajibkan isim istifham berada pada adr al-kalam(Ibnu Aqil, 2. Tabel 1. Output I'rab ChatGPT untuk kalimat 1 AII NOA AANI IOIUc EO EEOI OA IE A IA AIA AIO IIAAE IOI EO EA OA IE A A AIIA ANOA Kalimat AO OO EEA Dalam analisis pada kalimat kedua sebagaimana terdapat dalam tabel 2, analisis oleh ChatGPT tidak tepat secara keseluruhan. Kata "A AyOAmerupakan fiAoil madhi, namun seharusnya berbentuk mabni lil majhul . , bukan mabni lil maAolum. Hal ini Ukazh: Journal of Arabic Studies. Vol. No. 2, 2026: 77-98 Muhammad Hilman. Muhammad Azhar ditunjukkan oleh perubahan bentuk akhirnya yang menjadi ya (A)OA, yang merupakan ciri fiAoil madhi majhul pada fiAoil naqis, sebagaimana dijelaskan oleh(Ibn Muhammad AlKhatib, 2. Selanjutnya, kata AuA AyOOAtidak tepat jika dianggap sebagai faAoil, melainkan merupakan naib al-faAoil karena mengikuti fiAoil mabni lil-majhul(Ibnu Hisyam, 2. Adapun AuAAyEEA, bukan berfungsi sebagai mafAoul bihi awwal, melainkan mafAoul bih tsani. FiAoil AuA AyOAtermasuk fiAoil yang membutuhkan dua objek . fAoal mutaAoaddi ila mafAoulai. (Ibnu Aqil, 2. Objek pertama adalah "A "OOAyang menjadi naibul fa'il, sedangkan objek kedua adalah AuAAyEEA. Kesalahan ini dipengaruhi oleh kecenderungan ChatGPT yang lebih sering mengenali pola kalimat aktif mempertimbangkan perubahan struktur sintaksis pada bentuk pasif. Tabel 2. Output I'rab ChatGPT untuk kalimat 2 AO OO EEA s AAEA AIOI EO EA IEC c EO EEA EE cA cU AIA AOA A OEI AN EI IEC c EO EEA EE cAUAAE IAOA AOOA AEEA A OEI IAN EA EN EO NAUAIAOE N cOE IIAOA Kalimat AE E EECOI A Dalam analisis pada kalimat ketiga sebagaimana terdapat dalam tabel 3, terdapat ketidaktepatan analisis ChatGPT pada dua bagian. Pertama, kata Au A AyEAseharusnya dianalisis sebagai fiAoil madhi dengan kaf sebagai mafAoul bih tanpa faAoil dhamir mustatir, karna faAoilnya adalah isim zhahir AuAAyEECOIA, pada struktur kalimat ini terdapat hukum wajibnya mengakhirkan faAoil dari mafAoul bihi(Ibnu Hisyam, 2. Kedua, pada pengulangan AuA AyEAyang kedua, meskipun benar sebagai bentuk taukid lafzhi. ChatGPT masih keliru dengan kembali menetapkan faAoil dhamir mustatir, sehingga mengganggu kesesuaian struktur makna. Adapun AuA Ay Asudah tepat sebagai fiAoil amr dan faAoil dhamir mustatir yang diulang sebagai taukid lafzhi. Kesalahan ini menunjukkan kelemahan dalam membedakan faAoil yang zhahir dan faAoil yang seharusnya tidak ditutupi oleh dhamir mustatir dalam konteks tersebut. Ukazh: Journal of Arabic Studies. Vol. No. 2, 2026: 77-98 Analisis Akurasi IAorab Struktur Kalimat Bahasa Arab pada Output Artificial Intelligence ChatGPT: Studi Mixed Methods Tabel 3. Output I'rab ChatGPT untuk kalimat 3 AE E EECOI A s A AEA:AOA AOEAEA. A IO IAE IOI OA IE IA IAOE NA:AEEAA. AI IOI EO EAA AEA AIO I CON NOA s AAEA AOEAE IOA. A IO IAE IOI OA IE IA IAOE NA:AEEAA. AI IOI EO EAA AEA AOE EAE NI EEOEO EEAOA. AI CON NOA AEECOI AE IAO OEI AN EOO EIN I IE IEA A OEAE IO I CON IAUAAE I IOI EO EEOIA A ONO OEO EAO EEAE CENAUA OEAE IO I CON IAUAAE I IOI EO EEOIA Kalimat AI E EE OA Dalam analisis pada kalimat keempat sebagaimana terdapat dalam tabel 4 tidak tepat secara menyeluruh. Pada kata AuAAyIA, tidak dijelaskan status iAorab-nya secara tegas, padahal ia fi mahalli rafAoin mubtadaAo, tetapi ChatGPT tidak menyebutkan rafAo pada iAorob tersebut (NiAomah, n. ), dan ini termasuk kesalahan mendasar. Pada kata AuAAyEA, analisis ChatGPT memang benar dalam penentuan bentuk dan posisi iAorab, namun keliru ketika menyatakan bahwa ia beramal seperti fiAoil. Secara kaidah, isim faAoil seperti AuAAyEA memang dapat berfungsi sebagai amil, tetapi dalam struktur kalimat ini penerapan tersebut tidak tepat. Apabila AuA AyEAdiposisikan beramal, maka kata AuA AyEEAseharusnya menjadi mafAoul bihi manshub. Konsekuensinya, kata AuA AyOAsebagai Aoahf bayan wajib mengikuti iAorab sebelumnya, yaitu manshub . enjadi: A)OA. Namun kenyataannya. AuAAyOA tidak menunjukkan alif sebagai tanda nashab(Ibnu Aqil, 2. , sehingga analisis tersebut tidak konsisten secara sintaksis dan menjadi gugur. Selain itu, penetapan AuA AyEEAsebagai mafAoul bihi juga tidak tepat, karena struktur yang lebih sesuai adalah ishafah, yaitu AuA AyEAsebagai mudhaf dan AuA AyEEAsebagai mudhaf ilaih dalam keadaan majrur. Adapun kata AuAAyOA, analisis yang tepat adalah sebagai Aoahf bayan yang mengikuti AuA AyEEAdalam keadaan majrur, bukan badal, karena kaidah badal mensyaratkan niat pengulangan Aoamil, yang tidak terpenuhi dalam konteks ini(Ibnu Aqil. Ukazh: Journal of Arabic Studies. Vol. No. 2, 2026: 77-98 Muhammad Hilman. Muhammad Azhar Hal ini menunjukkan ChatGPT lemah dalam memahami struktur kalimat ini secara utuh. Tabel 4. Output I'rab ChatGPT untuk kalimat 4 AI E EE OA AIO IIAAE IOI OA IE IA AIA A ONO I AE OIE IE AENAUAE IE IAO OEI AN EIA AIAOE N EI EAE (E) IIAO OEI IAN EAA AEEA A NOA:A IIAO IEN OEI IAN EA o AN EO COAUAE II "EE" O A OI ENA A EEIN EN I O IEE IIN OA uEAUAO UA AOA Kalimat A E EAU AO EIA Dalam analisis pada kalimat kelima sebagaimana terdapat dalam tabel 5. Secara umum ChatGPT telah tepat dalam menganalisis struktur kalimat ini. Namun, terdapat kekeliruan pada penentuan kategori kata AEIA, yang diklasifikasikan sebagai munada nakirah ghayr maqhudah. Klasifikasi ini tidak tepat karena tidak memenuhi ciri kaidahnya, yaitu adanya tanwin pada fathah, sementara pada bentuk tersebut tidak ditemukan tanwin. Analisis yang lebih tepat adalah bahwa kata tersebut merupakan munada mudhaf ila yaAo al-mutakallim yang mengalami variasi bentuk dari asalnya ( AEIOA A)Ie EIA. Fenomena ini dibenarkan dalam tradisi nahwu klasik, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Hisyam dalam Syaru Qar an-Nada mengenai adanya variasi . pada bentuk tersebut(Ibnu Hisyam, 2. Dengan demikian, kekeliruan ini menunjukkan kurangnya ketepatan ChatGPT dalam memahami variasi bentuk . dalam kaidah Tabel 5. Output I'rab ChatGPT untuk kalimat 5 A E EAU AO EIA AA I IOI E IE EN II uEA AOA A OEI IAN EA EN EO NAUAIIO IE O ICAO IIAOA AEIA A IA:AOOU CONA A OEAE IO I AUAAE I IOI EO EEOIA AEA A OEI IAN EA EN EO NAUAIAOE N IIAOA AEA Ukazh: Journal of Arabic Studies. Vol. No. 2, 2026: 77-98 Analisis Akurasi IAorab Struktur Kalimat Bahasa Arab pada Output Artificial Intelligence ChatGPT: Studi Mixed Methods Kalimat AI OEEA Dalam analisis pada kalimat keenam sebagaimana terdapat dalam tabel 6. Analisis ChatGPT tidak tepat pada dua bagian, yaitu pada penentuan fungsi sintaksis AuA AyEOOAdan AuAAyEEA. Meskipun teks tidak disertai harakat, penafsiran huruf AuA AyEOOAsebagai Au AOOA A AyEEAtidak dapat dibenarkan. Hal ini karena AuA AyOO EEAsetelahnya adalah jumlah (NiAomah, ), diantaranya adalah jumlah ismiyyah yang terdiri atas mubtadaAo dan khabar, sedangkan pada kalimat tersebut hanya terdapat satu kata tanpa struktur jumlah yang Apabila "A AyEEAdiposisikan sebagai mubtadaAo, maka konstruksi kalimat menjadi tidak sempurna karena tidak diikuti oleh khabar. Memang, dalam kondisi tertentu khabar dapat dihapus, namun hal tersebut terikat pada syarat-syarat khusus yang tidak terpenuhi dalam konteks ini(Ibnu Hisyam, 2. Dengan demikian, analisis yang lebih tepat adalah menjadikan AuA AyEOOAsebagai waw al-ma'iyyah, bukan waw al-haal, sejalan dengan kaedah yang ada pada ilmu nahwu. Berdasarkan itu, maka kata Au A AyEEAberfungsi sebagai mafAoul maAoahu manshub(Abdul Hamid, 2. Penyebab kesalahan analisis tersebut adalah ketidakmampuan dalam membedakan jenis waw secara kontekstual, khususnya antara waw al-hal dan waw al-maAoiyyah. Tabel 6. Output I'rab ChatGPT untuk kalimat 6 AI O EEA AIO IIAAE IOI EO EEOI OA IE A IA AIA A IE IAO OEI AN EI ENA AOO EE A IOI E IE EN II uEA AEOOA s A OA AUCA U : A ON IOA CONAUAI IAO OEI AN EI ENA AEEA Kalimat A IO IN OA Dalam analisis pada kalimat ketujuh sebagaimana terdapat dalam tabel 7, analisis ChatGPT keliru dalam mengidentifikasi bentuk verba pada kalimat A IO IN OA. Bentuk A Atidak menunjukkan fiAoil dan dhamir mutakallim, melainkan fiAoil maadhi dengan taAo taAonits saakinah yang menandai subjek perempuan(Ibnu Aqil, 2. Kesalahan ini berdampak pada ketidaktepatan struktur sintaksis, karena menempatkan A IOAsebagai objek dan menyisakan A INAtanpa fungsi gramatikal yang jelas. Dengan analisis Ukazh: Journal of Arabic Studies. Vol. No. 2, 2026: 77-98 Muhammad Hilman. Muhammad Azhar yang tepat. A Adipahami sebagai fiAoil maadhi yang bersambung dengan taAo taAonits, sehingga struktur menjadi koheren: A IOAsebagai faAoil. A INAsebagai mafAoul bih, dan AOA sebagai mafAoul li-ajlih. Tabel 7. Output I'rab ChatGPT untuk kalimat 7 A IO IN OA s AAEA AIO IAE IOI OA IE AA: A EA. AIOI EO EEOI EAEN EAEA cU AIA U : AA AAEA A OEI IAN EA IEC c EO I CE O IeI II II NONAUAIAOE N OE IIAOA U : AIA AIO IAE IOI OA IE IAA: A O IeIA. A ONO IAAUAE IEE UEE IEI EEOA AuEONA s AIAOE NA AIO IAE IOIA: A NA. A ONO IAAUA OEI IAN EA ENAUAI IIAOA U : AIA AIOA AINA A OEI IAN EA ENAUAIAOE EEN IIAOA AOA AOA IE IA uEONA Kalimat AO II EAE ONA Dalam analisis pada kalimat kedelapan sebagaimana terdapat dalam tabel 8, analisis iAorab pada bagian AOA a A Asudah tepat sebagai fiAoil madhi dengan faAoil berupa dhamir Namun, terdapat kekeliruan pada penentuan fungsi sintaksis unsur setelahnya. Kata A IIAtidak tepat diklasifikasikan sebagai mafAoul bih awwal, melainkan mafAoul bih tunggal, karena fiAoil A OAdalam konteks ini bukan termasuk afAoal qulub yang menuntut dua objek, tetapi fiAoil mutaAoadd biasa(Ibnu Aqil, 2. Sementara itu, kata A EAEAtelah benar dianalisis sebagai naAot karena mengikuti keadaan nashb manAout. Adapun analisis AONA sebagai badal tidak tepat karena tidak memenuhi kesesuaian iAorab dengan mubdal Analisis yang lebih tepat adalah menempatkan A ONAsebagai faAoil bagi isim faAoilA EAEA, yang berfungsi seperti fiAoil dengan menjadikan marfuAo unsur setelahnya(Ibnu Aqil. Dengan demikian, struktur kalimat menjadi lebih konsisten dengan kaidah Ukazh: Journal of Arabic Studies. Vol. No. 2, 2026: 77-98 Analisis Akurasi IAorab Struktur Kalimat Bahasa Arab pada Output Artificial Intelligence ChatGPT: Studi Mixed Methods Tabel 8. Output I'rab ChatGPT untuk kalimat 8 AO II EAE ONA s AAEA A OE IOU IAE OA IE A AEAUAIOI EO EEOI EAEN EAEA cU AIA AOA A OEI IAN EAAUAIAOE N OE IIAOA AIIA A OEI IAN EAAUAA"II " IIAOA c AI (AA) EA AEAEA AIOA: ANEA. A ONO IAAUA OEI AN EOO EIN II EI EIAUA"II " IAOA U : AOA c AE IIA AIAE OA IE IA uEONA AONA Kalimat AC IC uNOIA Dalam analisis pada kalimat kesembilan sebagaimana terdapat dalam tabel 9. ChatGPT membagi menjadi tiga bagian. Analisis terhadap kalimat ini menunjukkan ketidaktepatan pada kata A ICAyang diklasifikasikan sebagai mafAoul mulaq, padahal bentuk tersebut merupakan isim makan, bukan mahdar, sehingga tidak memenuhi kaidah mafAoul mulaq(Ibnu Hisyam, 2. IAorab yang lebih tepat adalah mafAoul fih . harf makA. karena menunjukkan tempat dan mengandung makna fii (Ibnu Hisyam, 2. Adapun unsur lainnya telah tepat, yaitu ACA sebagai fiAol madhi dengan AA a sebagai faAoil, a A uasebagai mushaf ilaih majrur. serta ANOIA Tabel 9. Output I'rab ChatGPT untuk kalimat 9 AC IC uNOIA s AAEA AIO IAE IOI EO EI OA IEA: AEA. AIOI EO EEOI EAEN EAEA cU AIA U : ACA AA AEA ACA A ONO IAAUAIEC IIAO OEI IAN EA ENA U AIAOEA AICA )AIA uEON IO OEI N EA EIN iO II EAA (EI IOA AuNOIA Kalimat AIO OI OA Dalam analisis pada kalimat kesepuluh sebagaimana terdapat dalam tabel 10. ChatGPT membagi menjadi empat bagian. Analisis kalimat ini menunjukkan kekeliruan pada dua bagian, yaitu pada A IAdan A OA. Kata A IAtidak tepat ditetapkan sebagai khabar, karena secara kaidah merupakan eharf makan . dan mudhaf, sehingga tidak berfungsi sebagai khabar secara mandiri. Yang tepat, khabar adalah syibh al-jumlah Ukazh: Journal of Arabic Studies. Vol. No. 2, 2026: 77-98 Muhammad Hilman. Muhammad Azhar A(IOAIbnu Aqil, 2. , baik berkedudukan fi maualli rafAo maupun sebagai mutaAoalliq bi khabar maudzuf. Selain itu. A OAtidak tepat sebagai naAot karena merupakan isim jamid, bukan musytaq(Ibnu Hisyam, 2. Oleh karena itu, kedudukannya lebih tepat sebagai tamyiz tsani yang menjelaskan jenis dari AA A A. Dengan demikian, struktur yang tepat adalah: A IOAsebagai syibh al-jumlah . A OIAsebagai mubtada muAoakhkhar. A A sebagai tamyiz, dan A OAsebagai tamyiz tsani(Ibnu Hisyam, 2. Tabel 10. Output I'rab ChatGPT untuk kalimat 10 AIO OI OA AIO IAE IOI OA IE IAA: AEOA. AA IEI IOI EO EA OA IE ICIA: AIA AuEONA AIOA AI I IAO OEI AN EOO EIN IEC I IEE EIEA AOIA AIOO IIAO OEI IAN EA ENA A A A IIAO OEI IAN EA ENA AI (AA) EA A A OA Kalimat AENEI EA O E IEOIA Dalam analisis pada kalimat kesebelas sebagaimana terdapat dalam tabel 11. ChatGPT membagi menjadi enam bagian. Terdapat analisis keliru pada dua bagian, yaitu pada penentuan lam (A )EAAterdapat kekeliruan yang bersifat mendasar. Lam tidak tepat dianggap sebagai laamul ibtidaAo karena ia hanya masuk pada isim(NiAomah, n. Dalam konteks ini, laam masuk pada fiAoil mudhaariAo, sehingga yang benar adalah laamul qosam sebagai penegas makna sumpah. Selanjutnya, terdapat kesalahan parsial pada analisis iAorob AOA. Dalam konteks ini, tidak sekadar sebagai uarf Aoaf, tetapi yang bermakna ilaa, illa dan hatta, yang mana, fiAoil mudhaariAo setelahnya menjadi manshub karena adanya AIA AOOUA A(II AIbnu Aqil, 2018. Ibnu Hisyam, 2. Ukazh: Journal of Arabic Studies. Vol. No. 2, 2026: 77-98 Analisis Akurasi IAorab Struktur Kalimat Bahasa Arab pada Output Artificial Intelligence ChatGPT: Studi Mixed Methods Tabel 11. Output I'rab ChatGPT untuk kalimat 11 AENEI EA O E IEOIA AEEI (EA EI E (O EI EOEO) IIO E IE NE II uEA A IOI EOEO ECOE E IE NE IIA:AEIOIA. AAE I IOI EO EA EAEN IOI EOEO ECOEA AOOU CON IA A IO I A:AEAEA. AuEA ANEIA AA AA AOA AOEI IAN EA ENA. )A OA:AOOU "O" (IOIA AAE I IIAO A I II A A IO I CON IA:AOEAEA AEA AIAOE N IIAO OEI IAN EA IEC EO EEA EEA AIEOIA AIAOE N IIAO OEI IAN EA ENA AEAA Kalimat AIO EII AOIA Dalam analisis pada kalimat kedua belas sebagaimana terdapat dalam tabel 12. ChatGPT membagi menjadi 4 bagian. Terdapat kekeliruan yang bersifat parsial pada tiga Pertama: iAorab terhadap struktur syariyyah ini masih belum tepat karena terdapat kekurangan dalam redaksi dan penjelasan fungsi gramatikal. Pada kata AIOA, tidak cukup hanya disebut sebagai isim syar jazim, tetapi seharusnya ditegaskan isim syar jazim yajzimu fiAolain, karena ia menjadikan majzum fiAol -syar dan jawab syar. Pada kata AA, analisis perlu dilengkapi dengan penyebutan fungsinya sebagai fiAol syar, bukan sekadar fiAol mushaariAo majzum(Ibnu Hisyam, 2. Ketiga, pada kata AAOIA, terdapat kekeliruan dalam analisis unsur dhamir. Analisis yang menyatukan AuA AyIAatau bagian akhirnya sebagai satu dhamir tidak tepat. Karna nun disitu adalah nun wiqoyah, maka ya' mutakallim yang menjadi maf'ul bihi(NiAomah, n. Tabel 12. Output I'rab ChatGPT untuk kalimat 12 AIO EII AOIA AI I IOI EO EEOI OA IE IA A IIA AIOA A OEAE IO I CON IAUAAE I IOI A IO OEI IN EEOIA Ukazh: Journal of Arabic Studies. Vol. No. 2, 2026: 77-98 Muhammad Hilman. Muhammad Azhar AIAOE N IIAO OEI IAN EA ENA AEIIA A OEI IN A EIOI EIN II EAEAUAAE I IOI EIN O EA: AAOA AIO IAE OA IE IAA: AIA. AIO IAE OA IE A AEA: AOO EIA. AEIA AIAOE NA AAOIA Hasil analisis menunjukkan bahwa skor total yang diperoleh adalah 44. Skor tersebut kemudian dihitung menggunakan rumus perhitungan dengan membagi skor total dengan skor maksimal, kemudian dikalikan 100. Adapun skor maksimal dalam penelitian ini adalah 47 x 2 = 94. Kalimat Jumlah Bagian Tepat Kurang Tepat Tidak Tepat Skor Kalimat 1 Kalimat 2 Kalimat 3 Kalimat 4 Kalimat 5 Kalimat 6 Kalimat 7 Kalimat 8 Kalimat 9 Kalimat 10 Kalimat 11 Kalimat 12 Total Dengan demikian, nilai diperoleh sebagai berikut: Persentase = . y 100 = 46,81%. ycE = y 100 = 46,81 = 46,81% Pola kesalahan iAorab ChatGPT mencakup tiga aspek utama: fungsi sintaksis, tanda iAorab, dan relasi kontekstual. Kesalahan dominan terdapat pada penentuan mubtadaAekhabar, failAemaful, serta struktur pasif, hal ini menunjukkan kecenderungan generalisasi pola kalimat aktif. Kesalahan juga muncul pada bentuk khusus seperti isim manqus, fiAoil muAotal, dan konstruksi ber-taqdir. Secara kausal, hal ini dipengaruhi oleh kuatnya penguasaan struktur umum, tetapi lemah pada konstruksi kompleks dan pengecualian seperti taqdimAetakhir dan hadzf. Dari sisi linguistik, kesalahan berakar pada lemahnya integrasi morfologi dan sintaksis serta ketidakmampuan menganalisis unsur tak tampak Ukazh: Journal of Arabic Studies. Vol. No. 2, 2026: 77-98 Analisis Akurasi IAorab Struktur Kalimat Bahasa Arab pada Output Artificial Intelligence ChatGPT: Studi Mixed Methods seperti dhamir mustatir dan khabar mahdzuf. Dengan demikian, keterbatasan utama terletak pada aspek konseptual dan kontekstual nahwu, bukan pada struktur Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan ChatGPT versi gratis dalam menganalisis iAorAb masih berada pada tingkat yang rendah hingga sedang. Dari total skor maksimal 94. ChatGPT hanya memperoleh skor 44 dengan persentase ketepatan sebesar 46,81%. Kesalahan muncul hampir pada seluruh jenis struktur nahwu yang diuji, baik pada al-marfuAoAt, al-manbAt, al-majrrAt, maupun al-majzmAt. Pola kesalahan yang paling dominan terdapat pada penentuan fungsi sintaksis seperti mubtadaAo-khabar, fAAoilmafAol, nAAoib al-fAAoil, serta penentuan relasi antarkomponen dalam struktur kompleks. sisi lain. ChatGPT cenderung lebih tepat ketika menganalisis struktur yang bersifat umum dan sederhana, seperti fiAoil amr, naAot dasar, serta beberapa bentuk tamyz dan mafAol liajlih. Hal ini menunjukkan bahwa sistem AI memiliki kecenderungan memahami pola nahwu yang sering muncul, namun masih lemah dalam menghadapi struktur yang membutuhkan analisis kontekstual dan pendalaman kaidah klasik. Temuan penelitian ini memperlihatkan bahwa kecanggihan kecerdasan buatan belum sepenuhnya mampu menggantikan kompetensi analitis dalam ilmu nahwu, khususnya pada aspek iAorAb yang bersifat konseptual dan kontekstual. ChatGPT tampak bekerja berdasarkan kecenderungan pola linguistik yang paling umum digunakan, sehingga sering melakukan generalisasi terhadap struktur aktif, bentuk sederhana, dan relasi sintaksis permukaan. Ketika dihadapkan pada konstruksi yang melibatkan taqdr, uaf, taqdmAetaAokhr, ketidakkonsistenan analisis. Kondisi ini merefleksikan bahwa pemrosesan bahasa oleh AI belum sepenuhnya memiliki kedalaman epistemologis sebagaimana metode analisis ulama nahwu klasik yang mempertimbangkan aspek semantik, qarinah, dan hubungan antarstruktur secara menyeluruh. Oleh sebab itu, penggunaan AI dalam pembelajaran bahasa Arab perlu diposisikan sebagai alat bantu, bukan sebagai otoritas final dalam penentuan kaidah kebahasaan. Ukazh: Journal of Arabic Studies. Vol. No. 2, 2026: 77-98 Muhammad Hilman. Muhammad Azhar Secara interpretatif, rendahnya akurasi ChatGPT dalam penelitian ini menunjukkan adanya keterbatasan integrasi antara analisis morfologi dan sintaksis dalam sistem AI generatif. Banyak kesalahan muncul karena sistem gagal mengenali hubungan antarunsur dalam kalimat secara mendalam. Misalnya, kesalahan dalam membedakan antara fAAoil zhahir dan dhamr mustatir, kegagalan memahami fungsi nAAoib al-fAAoil pada fiAoil mabn lil-majhl, serta ketidakmampuan membedakan waw al-uAl dan waw al-maAoiyyah. Selain itu. ChatGPT juga tampak kesulitan dalam menganalisis unsurunsur yang tidak tampak secara eksplisit, seperti khabar mauf, an musmarah, atau nun wiqAyah. Temuan ini mengindikasikan bahwa AI lebih dominan membaca struktur permukaan . urface structur. dibandingkan relasi gramatikal mendalam . eep syntactic relatio. Dengan demikian, kelemahan utama ChatGPT bukan terletak pada pengenalan bentuk kata semata, tetapi pada proses inferensi sintaksis yang membutuhkan penalaran kontekstual berbasis kaidah nahwu. Jika dibandingkan dengan pendekatan analisis nahwu dalam literatur klasik, hasil iAorAb ChatGPT menunjukkan perbedaan mendasar dalam mekanisme berpikir linguistik. Ulama nahwu seperti Ibnu Hisyam dan Ibnu Aqil membangun analisis iAorAb berdasarkan keterkaitan antara makna, posisi sintaksis, qarinah lafzhiyyah, dan qarinah maAonawiyyah. Sebaliknya. ChatGPT cenderung mengandalkan probabilitas pola bahasa yang paling sering muncul dalam data pelatihannya. Hal ini menyebabkan AI mampu menghasilkan analisis yang tampak benar secara struktural, tetapi lemah ketika diuji dengan konstruksi syA, bentuk lughah tertentu, atau susunan yang membutuhkan pemahaman illat Meski demikian, pada struktur dasar dan pola yang umum digunakan. ChatGPT menunjukkan kemampuan yang cukup baik dan relatif konsisten. Dengan demikian. AI generatif memiliki potensi sebagai media pendukung pembelajaran nahwu tingkat dasar. Tetapi ChatGPT belum dapat memberikan data informasi secara akurat (Sulaikho et al. , 2. , sehingga untuk analisis iAorAb tingkat lanjut memerlukan analisis secara mendalam. Hasil penelitian ini memiliki implikasi teoretis dan praktis dalam pengembangan pembelajaran bahasa Arab berbasis AI. Secara teoretis, penelitian ini memperlihatkan bahwa analisis nahwu tidak hanya bergantung pada pengenalan bentuk linguistik, tetapi Ukazh: Journal of Arabic Studies. Vol. No. 2, 2026: 77-98 Analisis Akurasi IAorab Struktur Kalimat Bahasa Arab pada Output Artificial Intelligence ChatGPT: Studi Mixed Methods juga pada kemampuan inferensi sintaksis dan pemahaman konteks yang kompleks. Secara praktis, penggunaan ChatGPT dalam pembelajaran iAorAb perlu disertai verifikasi guru atau ahli nahwu agar tidak menimbulkan miskonsepsi pada peserta didik. Temuan ini juga membuka peluang pengembangan model AI khusus bahasa Arab yang dilatih menggunakan korpus nahwu klasik dan kaidah iAorAb berbasis turats agar memiliki sensitivitas lebih tinggi terhadap struktur sintaksis Arab. Selain itu, penelitian ini dapat menjadi dasar evaluasi kritis terhadap integrasi AI dalam pendidikan bahasa Arab, khususnya dalam aspek pembelajaran gramatika, analisis teks, dan pengembangan literasi linguistik digital di era kecerdasan buatan SIMPULAN Kemampuan ChatGPT versi gratis dalam menganalisis iAorAb masih berada pada tingkat rendah hingga sedang dengan persentase akurasi sebesar 46,81%. ChatGPT cenderung tepat pada struktur nahwu yang sederhana dan umum, tetapi masih banyak mengalami kesalahan pada struktur kompleks. Kesalahan tersebut mencakup kekeliruan dalam menentukan kedudukan unsur kalimat, seperti mubtadaAo, khabar, fAAoil, mafAol bih, nAAoib al-fAAoil, badal, dan Aoaf bayan, mafAol mulaq, earf, naAot, dan tamyz, ketidaktepatan juga terdapat dalam mengidentifikasi bentuk dan kategori gramatikal, seperti fiAoil maAolm dan majhl, taAo al-fAAoil dan taAo at-taAonts, munAdA, isim fAAoil, serta kelemahan dalam memahami hubungan antarunsur kalimat, terutama pada struktur yang mengandung taqdmAetaAokhr dan hubungan AoAmil dengan maAomlnya. Hal ini menunjukkan bahwa ChatGPT lebih mampu mengenali pola bahasa permukaan dibandingkan melakukan analisis sintaksis mendalam yang memerlukan pemahaman kaidah nahwu klasik. Secara teoritis, penelitian ini menunjukkan bahwa AI generatif memiliki potensi sebagai media pendukung pembelajaran bahasa Arab, khususnya pada analisis nahwu Namun, kemampuan AI masih terbatas dalam memahami aspek konseptual dan kontekstual nahwu seperti taqdr, uaf, qarinah, dan relasi sintaksis mendalam. Temuan ini menegaskan pentingnya integrasi teknologi AI dengan pendekatan nahwu tradisional agar pembelajaran bahasa Arab tetap akurat dan sesuai dengan kaidah turA. Penelitian ini masih memiliki keterbatasan pada jumlah data, penggunaan satu platform AI, serta Ukazh: Journal of Arabic Studies. Vol. No. 2, 2026: 77-98 Muhammad Hilman. Muhammad Azhar fokus penelitian yang hanya membahas analisis iAorAb. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan menggunakan data yang lebih luas, membandingkan beberapa AI generatif, serta mengembangkan kajian pada aspek linguistik Arab lainnya seperti sharaf, semantik, dan balaghah. Selain itu, diperlukan pengembangan model AI bahasa Arab yang lebih adaptif terhadap kaidah nahwu klasik agar dapat menghasilkan analisis sintaksis yang lebih akurat. Ukazh: Journal of Arabic Studies. Vol. No. 2, 2026: 77-98 Analisis Akurasi IAorab Struktur Kalimat Bahasa Arab pada Output Artificial Intelligence ChatGPT: Studi Mixed Methods DAFTAR PUSTAKA