Vol. 13 No. 2 Desember 2024 Jurnal Ilmiah Hospitality 283 a. PERKEMBANGAN SIKLUS HIDUP PARIWISATA DI DESA WISATA NGLANGGERAN. DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Oleh Mahmudah Budiatiningsih Universitas Mataram. Indonesia Email: mahmudahb@unram. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengenai perkembangan siklus hidup pariwisata di Desa Wisata Nglanggeran ditinjau dari konsep Tourism Area Life Cycle (TALC). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Metode pengambilan data dilakukan melalui studi literatur, observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Desa Wisata Nglanggeran memiliki indikasi yang sesuai dengan TALC pada tahap exploration dan tahap involvement, namun terjadi hal unik pada tahap development. Pada tahap development kunjungan wisatawan mengalami peningkatan signifikan dan selanjutnya mengalami penurunan signifikan dalam waktu relatif singkat. Hal tersebut bukan indikasi destinasi akan memasuki tahapan selanjutnya karena penurunan kunjungan wisata merupakan salah satu upaya responsif pengelola dalam menyelesaikan dampak negatif puncak kunjungan wisata. Modifikasi segmentasi pasar dan jenis paket wisata yang ditawarkan berhasil menekan kunjungan wisata tanpa menurunkan omzet Kemanfaatan ekonomi, sosial budaya dan lingkungan justru semakin dirasakan baik oleh masyarakat. Hal ini berperan dalam mempertahankan fase development di Desa Wisata Nglanggeran. Kata Kunci: Desa Wisata Nglanggeran. Perkembangan Destinasi. Tourism Area Life Cycle. PENDAHULUAN Desa wisata merupakan salah satu bentuk pengembangan pariwisata berbasis masyarakat atau biasa dikenal sebagai community-based tourism (CBT). Konsep CBT pengembangan pariwisata yang paling sesuai di Indonesia karena konsep ini mengutamakan Konsep menekankan masyarakat sebagai subyek sekaligus obyek pengembangan pariwisata. Hal ini sejalan dengan tujuan pengembangan pariwisata di Indonesia yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Desa wisata banyak berkembang di Indonesia, salah satunya ialah Desa Wisata Nglanggeran. Desa wisata Nglanggeran pengembangan desa wisata di Indonesia . Hal ini terlihat dari keberhasilan Desa Wisata Nglanggeran dalam mengelola potensi wisata dan sumber daya manusia di desa tersebut sehingga berhasil memajukan perekonomian desa setempat. Pada tahun 2017. Desa Wisata Nglanggeran memperoleh ASEAN CBT Award. Penghargaan ini diberikan kepada desa wisata yang berhasil prinsip-prinsip CBT . Desa Nglanggeran dianggap sukses menjadikan sektor pariwisata kesejahteraan masyarakat setempat. Desa Wisata Nglanggeran kembali memperoleh penghargaan pada tahun 2018 berupa ASEAN Sustainable Tourism Award . Desa Wisata Nglanggeran menerapkan prinsip pariwisata berkelanjutan dalam mengembangkan sektor pariwisata. Penghargaan ini diberikan dalam ASEAN Tourism Forum yang diselenggarakan di Thailand. Bahkan pada tahun 2019. Desa Wisata Nglanggeran berhasil masuk dalam Top 100 Destinasi Berkelanjutan di Dunia versi Global Green Destinations Days (GGDD) . P-ISSN: 2088-4834 E-ISSN : 2685-5534 http://stp-mataram. e-journal. id/JIH 284 Jurnal Ilmiah Hospitality Vol. 13 No. 2 Desember 2024 a. Sebagai destinasi wisata, meskipun telah diakui berhasil menerapkan prinsip pariwisata berkelanjutan. Desa Nglanggeran memiliki siklus hidup pariwisata. Menurut Butler . dalam CTH . , destinasi wisata akan melalui berbagai tahapan dalam proses Salah satu konsep yang digunakan untuk mengidentifikasi tahapan ini yang paling banyak dikenal ialah Tourism Area Life Cycle (TALC). Oleh karenanya penelitian mengenai perkembangan siklus hidup pariwisata di Desa Wisata Nglanggeran dilakukan untuk mengetahui kondisi destinasi ditinjau dari konsep TALC. LANDASAN TEORI TALC Tourism Area Life Cycle (TALC) merupakan salah satu konsep yang digunakan perkembangan destinasi wisata. Konsep ini sering diperbandingkan dengan Product Life Cycle (PLC). Dalam TALC, terdapat 5 tahapan perkembangan destinasi wisata. Gambar 1. Grafik TALC (Sumber: Butler . dalam CTH . ) Tahap 1. Exploration Pada tahap exploration, destinasi wisata memiliki kunjungan wisatawan yang masih sangat sedikit. Jenis wisatawan yang berkunjung merupakan tipe pelancong. Wisatawan jenis ini menyukai perjalanan mandiri ke tempat baru untuk mencari pengalaman baru. Pada fase ini, ketersediaan fasilitas di destinasi wisata masih sedikit dan berupa infrastruktur dasar. Sedangkan kondisi alam dan budaya di kawasan destinasi masih dalam kondisi terjaga. Tahap 2. Involvement Destinasi wisata yang mengalami peningkatan jumlah pengunjung berbanding lurus dengan munculnya berbagai fasilitas penunjang wisata. Berkembangnya jaringan transportasi, bertumbuhnya usaha milik penduduk seperti warung dan penginapan seperti homestay menjadi salah satu indikasi destinasi berada pada tahap involvement. Pada fase ini, keterlibatan sektor publik mulai terlihat melalui dukungan pengadaan fasilitas dan infrastruktur. Tahap 3. Development Pada tahap development, jumlah kunjungan wisatawan mengalami peningkatan yang signifikan. Jenis wisatawan yang berkunjung berupa rombongan yang biasanya menggunakan jasa tur operator. Sedangkan jenis wisatawan pelancong biasanya sudah tidak mengunjungi destinasi ini dan mulai menemukan destinasi baru yang masih belum banyak dikenal seperti pada tahap exploration. Destinasi yang sudah berada pada fase development biasanya mulai ada keterlibatan sektor swasta. Pada tahapan ini, sudah ada kegiatan promosi yang menyebabkan kunjungan wisatawan sangat tinggi. Tingginya Tahap 4. Consolidation Destinasi yang memasuki tahapan consolidation mengalami peningkatan jumlah kunjungan tetapi tidak lagi signifikan. Pada tahap ini biasanya jenis wisatawan yang berkunjung bersifat massal atau dalam jumlah banyak sebagai dampak dari usaha promosi yang gencar dilakukan. Tingginya jumlah peningkatan manfaat yang signifikan mulai menyebabkan masyarakat terganggu dengan kegiatan pariwisata. Tahap 5. Stagnation Tahap stagnation terjadi pada destinasi yang sudah mencapai batas daya dukungnya. Jenis pariwisata sudah berupa mass tourism. Hal ini mengakibatkan banyak kerusakan alam a. P-ISSN: 2088-4834 E-ISSN : 2685-5534 http://stp-mataram. e-journal. id/JIH Vol. 13 No. 1 Juni 2024 Jurnal IlmiahHospitality 285 a. akibat kelebihan kapasitas ataupun digantikan oleh konstruksi buatan. Destinasi menjadi terlalu ramai dan terlalu dikomersialkan. Pada tahap stagnation, destinasi akan menghadapi 3 jenis kemungkinan yaitu rejuvenation, stabilisation atau decline. Proses peremajaan kembali biasanya membutuhkan usaha yang sangat besar baik dari aspek tenaga pembangunan kembali destinasi wisata Hal menyelamatkan destinasi wisata yang sudah tidak kondusif. Sedangkan kemungkinan kedua yaitu stabilisation, yaitu kondisi destinasi wisata yang tetap stabil sesuai Sementara kemungkinan ketiga ialah decline yaitu kondisi destinasi wisata yang sudah tidak bisa bersaing dan mulai ditinggalkan oleh wisatawan (Butler, 2. Penelitian ini dilakukan di kawasan Desa Wisata Nglanggeran yang meliputi Gunung Api Purba dan Embung Nglanggeran. Desa Wisata Nglanggeran memiliki luas 762,0990 ha. Secara administratif, desa ini berada di Kecamatan Patuk. Kabupaten Gunungkidul. DIY. Desa ini terdiri dari 5 padukuhan/ dusun yaitu Dusun Doga. Dusun Gunungbutak. Dusun Nglanggeran Wetan, dan Dusun Nglanggeran Kulon dan Dusun Karangsari. Sedangkan batas administratif Desa Nglanggeran di sebelah utara ialah Desa Ngoro-oro, di sebelah timur ialah Desa Nglegi, di sebelah selatan ialah Desa Putat, dan di Desa Salam . (Sumber:http://gunungapipurba. com/pages/d etail/informasi-geografi. Penelitian pendekatan kualitatif deskriptif. Pengambilan data dilakukan dengan studi literatur mengenai konsep TALC, data kunjungan wisatawan, kondisi dan pengelolaan pariwisata, serta dampak pengembangan pariwisata di Desa Wisata Nglanggeran. Studi literatur dilakukan dengan mengunakan berbagai penelitian terdahulu, website resmi pariwisata Desa Wisata Nglanggeran serta beberapa portal berita online. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dengan cara memperbandingkan konsep TALC yang digunakan sebagai indikator penelitian dengan kondisi pariwisata Desa Wisata Nglanggeran secara faktual. Hasil analisis akan dipaparkan secara Gambar 2. Kawasan Desa Wisata Nglanggeran Gambar 3. Grafik Kunjungan Wisata Desa Wisata Nglanggeran 2008-2018 HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan pemaparan pengelola Desa Wisata Nglanggeran dalam website resmi pariwisata gunungapipurba. com, desa wisata ini dirintis sejak tahun 1999 oleh pemuda dan masyarakat setempat. Namun Desa Wisata ini mengalami perkembangan yang signifikan semenjak memperoleh pendampingan dari Budpar Gunungkidul pada tahun 2007, tepatnya 1 tahun setelah gempa Yogyakarta. Pengembangan ini dimulai dengan pembentukan Badan Pengelola Desa Wisata (BPDW) yang terdiri dari seluruh komponen masyarakat yaitu Pemerintah Desa, pemuda karang taruna, kelompok tani, dan Ibu PKK. P-ISSN: 2088-4834 E-ISSN : 2685-5534 http://stp-mataram. e-journal. id/JIH 286 Jurnal Ilmiah Hospitality Vol. 13 No. 2 Desember 2024 a. (Sumber: Data diolah Penulis dari Pengelola Desa Wisata Nglanggerann dalam Jamalina & Wardani . dan Dinas Pariwisata DIY . 6 Ae 2. ) Pada grafik tersebut, terlihat kunjungan wisatawan terus mengalami peningkatan. Puncak pertumbuhan terjadi pada tahun 2014 dimana jumlah kunjungan meningkat signifikan sebesar 379, 77 % dibanding tahun Namun pada tahun-tahun berikutnya, kunjungan wisatawan mengalami penurunan secara bertahap. Sebuah hal unik ketika kunjungan wisata menurun namun di saat yang bersamaan Desa Wisata Nglanggeran banyak memperoleh penghargaan karena keberhasilan pengembangan pariwisata. Tahap 1. Exploration . 9 Ae 2. Desa Wisata Nglanggeran mengalami tahap exploration sebagai fase yang paling lama yaitu pada tahun 1999 Ae 2007. Pada fase tersebut, masyarakat lokal menyadari potensi wisata Gunung Api Purba yang berada di Desa Nglanggeran. Masyarakat secara swadaya dan gotong royong melakukan penghijauan pada area Gunung Api Purba seluas 48 ha. Mereka melakukan penanaman pohon pada lahan gundul dan gersang tersebut. Upaya penghijauan tersebut mulai terlihat hasilnya. Gunung Api Purba yang sebelumnya hanya berupa batuan pencakar langit yang kering dan tampak gersang mulai terlihat hijau dan Menurut Hartono . , sejak tahun 2001 Gunung Api Purba sudah mulai dikunjungi wisatawan dengan jumlah terbatas. Jumlah tersebut terus mengalami peningkatan dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 18,3 % per tahun. Namun pada Mei 2006, tepatnya setelah terjadinya gempa Yogyakarta, pengelolaan pariwisata berhenti. Tahap 2. Involvement . Pada tahun 2007, masyarakat beserta karang taruna kembali semangat untuk Semangat tersebut memperoleh dukungan dari Disbudpar Kabupaten Gunungkidul melalui upaya promosi yang dikemas dalam FAM Tour. Dukungan lain yang diberikan oleh Disbudpar Kabupaten Gunungkidul berupa pendampingan untuk mengembangkan sektor pariwisata Desa Nglanggeran. Pemerintah bersama masyarakat membentuk sebuah lembaga khusus pengelola pariwisata yang dikenal sebagai BPDW (Badan Pengelola Desa Wisat. Anggota BPDW terdiri dari pemuda karang taruna. Pemerintah Desa, kelompok tani dan ibu PKK. Setelah BPDW terbentuk, para pengelola teknis di lapangan memperoleh beberapa pelatihan dari Disbudpar Kabupaten Gunungkidul dan Dinas Pariwisata DIY. Selain itu, beberapa pengurus BPDW juga menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Maka sejak tahun 2007 terjadi peningkatan kualitas SDM yang berkorelasi positif terhadap perkembangan Desa Wisata Nglanggeran. Hal ini terlihat dari jumlah kunjungan wisatawan yang mencapai 1. 450 di tahun 2007 (Pengelola Desa Wisata Nglanggeran dalam Jamalina dan Wardani. Jumlah ini terus mengalami peningkatan yang stabil hingga tahun 2012. Tingkat kunjungan yang menunjukan pola teratur membuka peluang usaha bagi masyarakat setempat. Sebagian masyarakat mulai membuka warung. Sedangkan menurut Jamalina dan Wardani . perbaikan di kawasan atraksi wisata berupa pengadaan lampu penerangan di jalur pendakian sampai di titik puncak Gunung Api Purba pada tahun Dalam Wahyuni . Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pariwisata ikut memberikan dukungan kepada Desa Wisata Nglanggeran. Kementerian Pariwisata memberikan dukungan dana dalam bentuk PNPM Pariwisata untuk pengembangan Desa Wisata Nglanggeran. Dana PNPM Pariwisata diberikan dalam dua tahap, yaitu tahap 1 pada tahun 2011 dan tahap 2 pada tahun 2012. Dana bantuan tersebut diwujudkan dalam dua program utama yaitu peningkatan kualitas SDM dan perbaikan fasilitas fisik. Penentuan program dilakukan secara musyawarah dan disesuaikan dengan potensi serta kebutuhan. Pada tahun pertama . , program yang dilaksanakan berupa pelatihan pengelolaan a. P-ISSN: 2088-4834 E-ISSN : 2685-5534 http://stp-mataram. e-journal. id/JIH Vol. 13 No. 1 Juni 2024 Jurnal IlmiahHospitality 287 a. homestay, pelatihan penataan pedagang, pembuatan warung dan relokasi pedangan, serta pengadaan arena flying fox. Sementara pada tahap kedua . , program yang dilaksanakan berupa pelatihan pemanduan outbond, pelatihan manajemen ODTW . byek daya tarik wisat. , pelatihan kuliner, pelatihan kesenian tradisional serta pengadaan seragam kesenian, dan pembuatan fasilitas MCK . andi, cuci, kaku. standar internasional. Pada tahun 2012. PT. Pertaminan memberikan Corporate Social Resposibility (CSR) berupa dana senilai Rp765. untuk pengembangan agrowisata dengan konsep Sentra Pemberdayaan Tani (SPT). Program ini berupa pengadaan Kebun Buah Nglanggeran yang dibuat oleh Gabungan Kelompok Tani (Gapokta. Kumpul Makaryo. Program ini diawali dengan pembuatan Embung Nglanggeran di atas bukit yang akan digunakan untuk kebutuhan pengairan Kebun Buah Nglanggeran. Embung tersebut dibangun di atas Sultan ground. Lokasinya berjarak sekitar 1,5 km arah tenggara dari pintu masuk Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran. Peresmian embung dilakukan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X pada Februari 2019. Sementara untuk pengembangan agrowisata. PT. Pertamina bekerja sama dengan Yayasan Obor Tani terus melakukan pendampingan kepada petani (Wahyuni, 2. Tahap 3. Development . 3 Ae sekaran. Sebagai dampak keterlibatan sektor publik yang mendukung pengembangan menunjukkan peningkatan yang signifikan. Pada tahap ini, jenis wisatawan yang berkunjung ke Desa Wisata Nglanggeran banyak berupa rombongan. Keterlibatan tur operator juga sudah banyak ditemukan. Salah satunya berupa penawaran paket wisata ke Desa Wisata Nglanggeran oleh berbagai travel agent ataupun tur operator. Pada tahun 2013. BPDW ditunjuk sebagai organisasi resmi yang mengelola kegiatan pariwisata. BPDW diberi nama baru yaitu Pokdarwis Desa Wisata Nglanggeran. Jumlah peningkatan dari yang mulanya 20 orang menjadi 154 orang di tahun 2017. Pengelola yang terus bertambah sejalan dengan pertumbuhan pariwisata Desa Wisata Nglanggeran. Pembukaan Embung Nglanggeran menjadi salah satu daya tarik baru di kawasan ini. Hal ini tentu berpengaruh terhadap peningkatan jumlah kunjungan. Guna wisatawan yang terus meningkat. Dinas Pariwisata Provinsi DIY pada akhir tahun 2014 memberikan bantuan hibah yang terdiri dari 79-unit kloset duduk, lantai keramik, tempat penampungan air, dan pipa penyambungan air yang diserahkan kepada 79 pemilik homestay untuk perbaikan fasilitas (Wahyuni, 2. Tidak hanya fasilitas yang terus diperbaiki, pada tahap ini, keterlibatan masyarakat setempat dalam penyediaan kebutuhan wisatawan juga mengalami Dalam Strategi Pemberdayaan Masyarakat Dalam Pengembangan Desa Wisata Nglanggeran. Kabupaten Gunung Kidul yang ditulis oleh Wahyuni . disebutkan bahwa tingkat keterlibatan masyarakat setempat dalam kegiatan pariwisata Desa Wisata Nglanggeran sangat tinggi. Pada kelompok penyedia kuliner yang bernama Purba Rasa terdiri dari 55 Purba Wisma atau kelompok penyedia homestay mengelola 80-unit Kelompok Tani Kumpul Makaryo beranggota 100 orang tersebar di 5 dusun dan aktif dalam kegiatan pertanian yang mendukung kegiatan desa wisata. Kelompok pedagang memiliki 21 anggota. Kelompok pengelola kakao memiliki 15 anggota. Kelompok TKI Purna memiliki 50 anggota. Tiga kelompok pengrajin yang terdiri dari Dusun Nglanggeran Kulon. Nglanggeran Wetan, dan Gunungbatak. Sedangkan kelompok Ternak Purbaya juga terbagi ke dalam 3 lokasi ternak yaitu Dusun Nglanggeran Kulon. Nglanggeran Wetan, dan Gunung Butak. Sementara daya tarik yang a. P-ISSN: 2088-4834 E-ISSN : 2685-5534 http://stp-mataram. e-journal. id/JIH 288 Jurnal Ilmiah Hospitality Vol. 13 No. 2 Desember 2024 a. paling baru dibentuk yaitu kelompok Purba Ayu Spa yang terdiri dari 20 orang. Puncak kunjungan wisata terjadi pada tahun 2014 yang mencapai 325. Jumlah ini meningkat 379, 77 % dibanding tahun sebelumnya. Sebuah angka yang sangat signifikan. Dalam penelitian Tiani & Baiquni . diketahui bahwa pada puncak kunjungan yaitu tahun 2014, sumber mata air di Desa Wisata Nglanggeran mengering sehingga masyarakat mengalami kekurangan air. Masyarakat akhirnya harus menggunakan sanyo. Padahal berdasarkan penelitian Hartono . , daya dukung kawasan Gunung Api Purba Nglanggeran 072 per hari. Sedangkan jumlah kunjungan sampai tahun 2014 memiliki rata-rata kunjungan yang masih di bawah 1. 072 per Mendapatai permasalah ini. Pokdarwis cepat tanggap untuk menyusun program perbaikan melalui 3 hal yaitu manajemen kunjungan, penanaman pohon dengan kandungan air tinggi dan program edukasi bijak penggunaan air bagi wisatawan. Manajemen program yang sangat menarik karena bertujuan untuk membatasi jumlah wisatawan. Program ini dilakukan dengan peningkatan tarif tiket masuk dari Rp 7. 000 menjadi Rp 000 pada siang hari dan menjadi Rp 20. pada malam hari. Cara tersebut ternyata sangat efektif karena berhasil menekan kunjungan wisata secara drastis. Pada tahun 2016 kunjungan wisatawan sebesar 172. semakin menurun di 2017 menjadi sejumlah 035, dan di tahun 2018 sebesar 142. Namun penurunan jumlah wisatawan tidak menyebabkan penurunan omzet Desa Wisata Nglanggeran (Sugeng Handoko Ae Pokdarwi. dalam (Wahyuni, 2. Tabel 1. Omzet Desa Wisata Nglanggeran Tahun 2012-2017 (Sumber: Sugeng Handoko - Pokdarwis dalam Wahyuni . ) Selain peningkatan tarif masuk, pengelola juga melakukan pergeseran Pengelola menekankan pada upaya penerapan prinsip ekowisata, sehingga lebih mengutamakan wisatawan yang sadar pentingnya konservasi lingkungan dan konservasi budaya. Oleh karenanya pengelola semakin menggiatkan promosi paket live in. Dalam Wahyuni . , paket live in ternyata banyak diminati oleh berkesempatan untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat lokal dan belajar berbagai kebudayaan yang hidup di Desa Nglanggeran. Perkembangan paket wisata live in disambut dengan sangat baik oleh masyarakat. Masyarakat yang mayoritas memiliki mata pencaharian sebagai petani tidak perlu berganti profesi karena pertanian juga terintegrasi dengan kegiatan pariwisata. Selain itu, paket live in juga berhasil lama kunjungan wisatawan meningkat sehingga kemanfaatan ekonomi yang dirasakan masyarakat semakin Sebagai pengembangan pariwisata lainnya. Desa Wisata Nglanggeran Nglanggeran Mart pada tahun 2016. Nglanggeran Mart merupakan toko yang menjual produk lokal buatan masyarakat Desa Nglanggeran seperti hasil olahan kakao dan Sebagai dukungan pertumbuhan usaha masyarakat. Pokdarwis memberikan fasilitas pinjaman modal usaha. Selain pinjaman modal usaha. Pokdarwis juga a. P-ISSN: 2088-4834 E-ISSN : 2685-5534 http://stp-mataram. e-journal. id/JIH Vol. 13 No. 1 Juni 2024 Jurnal IlmiahHospitality 289 a. memberikan pinjaman modal untuk perbaikan homestay atau MCK. Selain Nglanggeran Mart. Desa Wisata Nglanggeran juga memiliki Griya Cokelat. Griya Coklat merupakan industri rumah tangga yang memproduksi Kegiatan produksi Griya coklat memanfaatkan peralatan yang sederhana. Hal ini semakin melengkapi dampak positif pengembangan pariwisata. (Wahyuni, 2. Dalam Hermawan . disebutkan juga bahwa pengembangan Desa Wisata Nglanggeran memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal seperti peningkatan penghasilan, peningkatan peluang kerja, dan peningkatan peluang usaha. Sedangkan indikasi dampak negatif berupa kenaikan harga barang tidak ditemukan di sini PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan komparasi yang dilakukan antara konsep TALC dan data temuan mengenai kondisi pariwisata Desa Wisata Nglanggeran menunjukkan kesesuaian pada tahap exploration dan tahap involvement. Namun ditemukan hal unik dalam tahap Hal pertumbuhan kunjungan wisatawan yang terus meningkat hingga tahun 2012. Kunjungan meningkat signifikan pada 2013 dan puncaknya pada tahun 2014. Kemudian mengalami penurunan signifikan pada tahuntahun berikutnya. Meskipun terjadi penurunan kunjungan pada 2015-2018, namun hal tersebut bukan indikasi bahwa Desa Wisata Nglanggeran mengalami pergantian tahapan. Hal tersebut justru merupakan sebuah keberhasilan pencapaian tindakan responsif dari dampak negatif saat puncak kunjungan Pengelola melakukan program pembatasan kunjungan wisatawan. Modifikasi segmentasi pasar dan jenis paket wisata yang ditawarkan berhasil menekan kunjungan wisata tanpa menurunkan omzet kunjungan. Strategi tersebut berhasil menekan dampak negatif kegiatan pariwisata terhadap aspek lingkungan tanpa menurunkan kemanfaatan pada aspek lainnya. Kemanfaatan ekonomi, sosial budaya dan lingkungan justru semakin dirasakan baik oleh masyarakat. Pengelola bersama pelaku usaha juga terlibat aktif dalam mempromosikan dan melayani wisatawan. Fasilitas penunjang pariwisata telah tersedia dengan baik. Desa Wisata Nglanggeran menjadi contoh pengelolaan pariwisata yang baik karena sangat responsif terhadap dampak negatif yang muncul. Hal ini membantu siklus development pada destinasi tersebut bertahan lebih lama. Jika upaya pengelola tersebut tidak dilakukan, bukan tidak mungkin Desa Wisata Nglanggeran memasuki tahap stagnation secara lebih cepat. Batasan Penelitian Data yang digunakan merupakan data sekunder melalui studi literatur karena keterbatasan waktu penelitian. Penulis menyarankan untuk melakukan survei dan wawancara mendalam dalam penelitian selanjutnya agar diperoleh gambaran detail kondisi di lapangan. DAFTAR PUSTAKA