JURNAL ADMINISTRASI TERAPAN VOL 1. NO. SEPTEMBER 2022 PEMASARAN SAGU TUMANG DI DISTRIK INANWATAN KABUPATEN SORONG SELATAN Hendry Jems Yoel Aidore. Krisna Fransina Lermating. Franklin Donaldson Paiki. 1,2,. Dosen Agribisnis Universitas Werisar aidorehendry23@gmail. com, . krisnafransina24@gmail. com, . paikifranklin@gmail. ABSTRACT This research aims to determine the marketing channels for Tumang sago and the price level, costs and income of Tumang sago entrepreneurs in Inanwatan District. South Sorong Regency. Each sample village involved 5 Tumang sago entrepreneurs. Tumang sago entrepreneurs in the Inanwatan District with case studies totaling 45 Tumang sago entrepreneurs. Primary data was collected by direct interviews with respondents using the Focus Group Discussion (FGD) method using a questionnaire . ist of question. There is one marketing channel for Tumang sago at the research location, namely marketing channel I: producer to final consumer. The price of small and large sago tumang ranges from IDR 100,000 to IDR. 350,000 with the highest average monthly gross income in Serkos Village Rp. 4,710,000/org, followed by Mate Village Rp. 2,560,000/org. Mogibi Village Rp. 2,400,000 and also Siri-siri Village Rp. 2,000,000 and Sibae and Odeari villages had the same gross income of Rp. 1,810,000, while Wadoi Village received a gross income of Rp. 1,590,000, followed by Isogo Village. Rp. 1,300,000 and the lowest gross income was in New Solta Village. Rp. 1,040,000. The costs incurred by Tumang sago entrepreneurs in the Inanwatan District are based on villages, namely Wadoi Village with an average total cost of IDR 456,292. 66/org. Serkos Village with an average total cost of IDR 334,426. 22/org. Odeari Village with average total cost IDR 286,959. 66/org. Solta Baru Village with average total cost IDR 255,051. 03/org. Mate Village with average total cost IDR 249,057. 59/org. Mogibi Village with total average cost IDR 244,046. 96/org. Siri-siri Village with an average total cost IDR 183,735. 55/org. Sibae Village with an average total cost IDR 170,570. 11/org and Isogo Village with an average total cost average IDR 151,165. 35/person. The income of Tumang sago entrepreneurs in Inanwatan District is classified as very high compared to the Papua Minimum Wage, so the highest income for Tumang sago entrepreneurs from Serkos Village is siri amounting to Rp. 2,216,264. 45/org. Mogibi village income amounting to Rp. 2,155,953. 04/org. Odeari Village income amounting to Rp. 1,523,040. 34/org. Sibae Village income amounting to Rp. 1,259,429. 89/org. Isogo Village amounting to IDR 1,148,834. Wadoi Village is IDR 1,133,707. 34 and the lowest average income is in Solta Baru Village IDR 784,948. 97 /org. Keywords: Tumang Sago. Price. Costs and Income ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui saluran pemasaran sagu tumang dan tingkat harga, biaya dan pendapatan pengusaha sagu tumang di Distrik Inanwatan. Kabupaten Sorong Selatan. Masing-masing kampung sampel melibatkan 5 pengusaha sagu tumang. Pengusaha sagu tumang di Distrik Inanwatan dengan studi kasus berjumlah 45 pengusaha sagu tumang. Data primer dilakukan dengan wawacara langsung ke responden melalui Metode Focus Group Discussion (FGD) dengan menggunakan kuesioner . aftar pertanyaa. Terdapat satu saluran pemasaran sagu tumang di lokasi penelitian, yaitu saluran pemasaran I : produsen ke konsumen akhir. Harga sagu tumang kecil dan besar berkisar dari Rp. 100,000 sampai Rp. 350,000 dengan pendapatan kotor rata-rata tertinggi perbulan pada Kampung Serkos Rp. 000/org, dikuti oleh Kampung Mate Rp. 000/org. Kampung Mogibi Rp. 000 demikian juga Kampung Siri-siri Rp. 000 dan Kampung Sibae dan Odeari pendapatan kotor sama Rp. 000 sedangkan Kampung Wadoi menerimah pendapatan kotor Rp. 000 selanjutnya di ikuti oleh Kampung Isogo Rp. 000 dan pendapatan kotor terendah terdapat pada Kampung Solta Baru Rp. Biaya yang di keluarkan oleh pengusaha sagu tumang di Distrik Inanwatan berdasarkan kampung yaitu Kampung Wadoi dengan total biaya rata-rata sebesar Rp. 66/org. Kampung Serkos dengan total biaya rata-rata Rp. 22/org. Kampung Odeari dengan total biaya rata-rata Rp. 66/org. Kampung Solta Baru dengan total biaya rata-rata Rp. 03/org. Kampung Mate dengan total biaya rata-rata Rp. 59/org. Kampung Mogibi dengan total biaya rata-rata Rp. 96/org. Kampung Siri-siri dengan total biaya rata-rata Rp. 55/org. Kampung Sibae dengan total biaya rata-rata Rp. 170,570. 11/org dan Kampung Isogo dengan total biaya rata-rata Rp. 35/org. e-ISSN: 0000-0000 Halaman 171 JURNAL ADMINISTRASI TERAPAN VOL 1. NO. SEPTEMBER 2022 Pendapatan pengusaha sagu tumang di Distrik Inanwatan tergolong sangat tinggi dari upah Minimum Papua dengan demikian pendapatan tertinggi oleh pengusaha sagu tumang asal Kampung Serkos Rp. selanjutnya pendapatan kedua tertinggi Kampung Mate sebesar Rp. 41/org, dan seterusnya kampung Siri-siri sebesar Rp. 45/org, pendapatan kampung Mogibi sebesar Rp. 04/org, pendapatan Kampung Odeari sebesar Rp. 34/org, pendapatan Kampung Sibae sebesar Rp. 89/org. Kampung Isogo sebesar Rp. Kampung Wadoi sebesar Rp. 34 dan pendapatan rata-rata terendah terdapat di Kampung Solta Baru Rp. 784,948. 97 /org. Kata kunci : Sagu Tumang. Harga. Biaya dan Pendapatan PENDAHULUAN Sagu (Metroxylon s. merupakan bahan makanan yang telah lama dikenal di Indonesia. Tanaman sagu merupakan tanaman asli Indonesia yang memiliki peran sangat penting. Sagu merupakan sumber daya yang strategis untuk mengatasi kekurangan pangan nasional, dan tumbuh mendomminasi di Kawasan Timur Indonesia. Potensi sagu di Indonesia dapat ditemukan di berbagai wilayah, termasuk Papua. Papua Barat. Maluku. Maluku Utara. Riau. Sulawesi, serta Kalimantan. Luas areal sagu di Indonesia kurang lebih 2. 386 juta ha dan menurut laporan Bakorsurtanal . dalam Barahima . , distribusi luas tanaman sagu di Indonesia dan papua secara umum (Tabel . Tabel 1. Distribusi Tanaman Sagu Secara Umum Di Indonesia Tanaman Sagu Indonesia Papua Total Sumber Data: Barahima . Sagu di Kabupaten Sorong Selatan memiliki luas area 591 ha (Haryanto, dkk 2. Sagu tersebut banyak tersebar di daerah dataran rendah di Luas . Kabupaten Sorong Selatan Seperti disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Luasan Areal Sagu Di Kabupaten Sorong Selatan Distrik Seremuk Saifi Konda Kais Metamani Inanwatan Kokoda Kokoda Utara Total Sumber Data : Haryanto, dkk . Prinsip dasar Saluran Pemasaran adalah pergerakan produk dari produsen ke konsumen melalui lembaga pemasaran. Lembaga pemasaran merujuk kepada pedagang yang berperan dalam mengantarkan produk dan layanan dari produsen kepada konsumen melalui saluran pemasaran khusus (Swastha, 1. Pemasaran merupakan sebuah sistem barter yang digunakan untuk mendapatkan produk dan layanan dengan memberikan kompensasi dalam bentuk alat tukar seperti uang, cek, dan sejenisnya. e-ISSN: 0000-0000 Luas . Pemasaran muncul karena ada kebutuhan untuk komersialisasi dari produsen, serta kondisi harga yang menguntungkan (Soekartawi, 2. Peran lembaga pemasaran sangat bergantung pada sistem pasar yang ada dan sifat khas dari produk yang sedang dipasarkan. Tugas dari saluran pemasaran adalah untuk mengamati serta membandingkan harga, biaya, dan pendapatan di setiap lembaga pemasaran yang terlibat secara Halaman 172 JURNAL ADMINISTRASI TERAPAN VOL 1. NO. SEPTEMBER 2022 Tumang terbuat dari helai daun sagu berbentuk silinder dengan diameter dasar lebih besar dari diameter atas ayaman. Ayaman sagu tumang menggunakan tali dari pelepah sagu mudah diambi kulit luarnya. Tumang tersebut bentuk kerucut dan di isi patih sagu basah dari perahu kole-kole kecil atau pelepah sagu besar sebagai tempat penampung isi patih sagu basah tersebut. Proses pembuatan sagu tumang relatif membutuhkan waktu lebih singkat, kurang lebih 1-5 hari dan dengan kisaran produksi sebanyak 10-15 tumang. Ketergantungan proses penjualan sagu tumang tersebut membutuhkan waktu A 1 bulan. Sagu tumang tersebut sebagian besar dijual dalam pasar Kampung atau Distrik, selain itu juga dipasarkan di Kabupaten (Teminabua. serta ke luar Kabupaten seperti ke pasar di Kota Sorong, hal ini disebabkan karena transportasi laut atau toll laut yang kurang sementara Harga jual 1 sagu tumang berkisar antara Rp. 100,000 sampai 350,000 tergantung ukuran sagu tumang. Distrik Inanwatan terdiri dari 9 kampung di Kabupaten Sorong Selatan, sembilang kampung tersebut memiliki sumber daya sagu yang cukup Masyarakat setempat mengusaha sagu tumang dalam rangka peningkatan pendapatan ekonomi Informasi mengenai berapa besar tingkat harga, biaya dan pendapatan yang di peroleh dari pengusaha sagu tumang dalam proses pemasaran sagu tumang di Distrik Inanwatan belum Sehingga peneliti berupaya melakukan penelitian dengan judul Pemasaran Sagu Tumang Di Distrik Inanwatan Kabupaten Sorong Selatan. Tujuan Penelitian adalah mengetahui pemasaran sagu tumang yang berada di Distrik Inanwatan serta mengetahui tingkat harga, biaya dan pendapatan pengusaha sagu tumang di Distrik Inanwatan. TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Pemasaran Menurut definisi dari Philip Kotler . , pemasaran adalah upaya manusia untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan dengan melibatkan proses Philip Kotler, dalam bukunya tahun 1997 berjudul "Marketing," mendefinisikan pemasaran sebagai aktivitas manusia yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan melalui proses Menurut pandangan Philip Kotler dan Amstrong, pemasaran merupakan sebuah proses sosial dan manajerial yang memungkinkan individu dan kelompok memperoleh barang dan layanan sesuai dengan kebutuhan dan keinginan mereka melalui penciptaan serta pertukaran saling menguntungkan dari produk dan nilai dengan orang Menurut pandangan W. Stanton, pemasaran adalah keseluruhan sistem kegiatan usaha yang direncanakan untuk merencanakan, menetapkan harga, mempromosikan, dan mendistribusikan produk dan layanan dengan tujuan memuaskan kebutuhan pembeli saat ini maupun potensial. Saluran pemasaran Dalam upaya mencapai pasar target, pemasar memanfaatkan tiga jenis saluran pemasaran, yang meliputi saluran komunikasi, saluran distribusi, dan saluran layanan. Saluran komunikasi berperan dalam pengiriman serta penerimaan pesan dari konsumen Saluran layanan merujuk kepada saluran yang melakukan interaksi dengan calon pembeli produk, sedangkan saluran distribusi adalah sarana yang dimanfaatkan oleh pemasar untuk menyajikan, menjual, atau mengantarkan produk fisik atau layanan kepada pelanggan atau pengguna. e-ISSN: 0000-0000 Distribusi Pemasaran Pada dasarnya, saluran pemasaran adalah aliran produk dari produsen menuju konsumen melalui berbagai lembaga pemasaran. Peran lembaga pemasaran sangat dipengaruhi oleh sistem pasar yang ada dan sifat khas produk yang sedang dijual. Distribusi intensif adalah strategi yang digunakan oleh produsen produk konsumen yang berusaha menjalankan upaya yang maksimal untuk mendekati dan mencapai konsumen dengan melibatkan sejumlah besar penyalur, terutama pengecer. Distribusi selektif adalah strategi di mana produsen berupaya memilih sejumlah pedagang besar atau pengecer yang terbatas di wilayah geografis tertentu. Umumnya, saluran ini digunakan untuk memasarkan produk-produk baru, barang belanjaan, produk khusus, serta peralatan tambahan jenis industri. Distribusi eksklusif melibatkan situasi di mana produsen hanya bekerja sama dengan satu pedagang besar atau pengecer di wilayah pasar tertentu. Konsep Pemasaran Terdapat beberapa pendekatan pemasaran yang mencakup konsep produksi, konsep produk, konsep penjualan, konsep pemasaran, konsep pemasaran sosial, serta konsep pemasaran global yang merujuk pada berbagai cara dalam memasarkan produk. Biaya Pemasaran Dalam bidang ekonomi, biaya yang dimaksud mencakup semua beban keuangan yang harus ditanggung oleh produsen atau pengusaha untuk menciptakan barang dan layanan yang siap digunakan oleh konsumen. Ini mencakup biaya yang secara eksplisit dikeluarkan . iaya eksplisi. dan biaya yang secara tidak eksplisit diperhitungkan . iaya implisi. Halaman 173 JURNAL ADMINISTRASI TERAPAN VOL 1. NO. SEPTEMBER 2022 Biaya Produksi Biaya produksi merujuk kepada pengeluaran yang terkait secara langsung dengan proses produksi selama suatu periode produksi, termasuk biaya yang konstan . ixed cos. dan biaya yang bervariasi . ariable cos. , seperti yang dijelaskan oleh Siregar pada tahun 2015. Biaya pokok adalah total biaya yang diperlukan untuk menghasilkan suatu produk sehingga produk tersebut siap untuk digunakan. Menurut Mosher pada tahun 1991, pendapatan merujuk pada perbedaan antara jumlah penerimaan yang diperoleh dan biaya yang dikeluarkan selama proses produksi. Biaya produksi adalah hasil dari penggabungan biaya yang tidak berubah dan biaya yang berubah, seperti yang dijelaskan oleh Siregar pada tahun 2015. Tabel 3. Biaya Produksi Bp = Bt Bv Bp = Biaya Produksi Sagu tumang (Rp/bula. Bt = Biaya Tetap Sagu tumang (Rp/bula. Bv = Biaya varibel Sagu tumang (Rp/bula. Penerimaan Pengolahan Sagu Untuk memproduksi sagu tumang dilakukan sebegai berikut. Penebangan pohon sagu masih menggunakan kapak dan setelah itu batang sagu di Penghancuran empulur dikenal dengan nama nani yaitu proses melepaskan empulur dari kulit Ekstraksi pati dilakukan secara tradisional dikenal dengan nama Ekstraksi pati dilakukan secara tradisional dikenal dengan nama peras atau ramas sagu, dimana hancuran empulur diletakan pada pangkal pelepah. Biasanya dipakai pangkal pelepah sagu besar untuk taruh kain kelambu halus atau baju kaos halus dan untuk pengambilan airnya denan menggunakan kaleng cat kecilPenampungan dan Pengendapan Pati, biasanya pada tempat yang disebut goti biasanya dibuat pada belahan batang sagu atau perahu kole-kole kecil untuk penampungan patinya. Pengemasan Pati Basah dibuat dari daun sagu disebut tumang. Proses rantai pengolahan sagu dapat dilihat pada bagan di bawah ini : Pohon Sagu di Tebang Batang Sagu di Belah Menokok Sagu Hasil Tokokan di Peras Hasil Perasan di Bungkus Dalam Bentuk Tumang Konsumen Akhir Gambar 1. Tahapan Pengolahan Distribusi Sagu Hingga Pada Konsumen Akhir di Distrik Inanwatan e-ISSN: 0000-0000 Halaman 174 JURNAL ADMINISTRASI TERAPAN VOL 1. NO. SEPTEMBER 2022 METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini berlangsung di Distrik Inanwatan Kabupaten Sorong Selatan, berlangsung kurang lebih 5 bulan. Terhitung Maret Ae Agustus 2018. Dalam penelitian ini, digunakan metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Sebagai kasus dalam penelitian ini adalah 45 Pengusaha sagu tumang yang terdiri dari 5 Pengusaha sagu tumang di 9 Kampung di Distrik Inanwatan. Data yang telah dikumpulkan melibatkan informasi yang diperoleh secara langsung . ata prime. dan informasi yang diperoleh dari sumber lain . ata sekunde. Pengambilan data primer dilakukan dengan wawacara langsung ke responden melalui Metode Focus Group Discussion (FGD) diskusi kelompok terfokus berdasarkan kuisioner yang telah di siapkan untuk produsen sagu tumang serta lembaga-lembaga yang terlibat seperti pedagang pengumpul. Sedangkan data sekunder di peroleh dari instansi pemerintah, jurnal, tesis, skripsi, buku-buku. Dalam pengamatan ini variabel yang di amati adalah Tingkat Pemasaran Tingkat Harga Biaya Pendapatan Secara matematis penerimaan diperoleh dengan menggunakan TR = Q X Pq Dimana : TR = Total penerimaan Q = Total produk Pq = Harga produk Pendapatan merupakan hasil dari selisih antara besar penerimaan yang dipeoleh dalam kegiatan usahatani dengan besarnya biaya atau ongkos yang dikeluarkan selama proses produksi berlangsung. Secara matematis pendapatan dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Pd = TR Ae TC Dimana : Pd = Pendapatan (Rp/Bl. TR = Total Penerimaan (Rp/Bl. TC = Biaya Total (Rp/Bl. Teknik analisis data dapat dilihat pada Tabel 4 berikut ini Tabel 4. Analisis Data Variabel Pemasaran Tingkat harga, biaya dan pendapatan Sumber Data : Diolah Data Primer 2018 Analisis Data Kualitatif . Kuantitatif . HASIL DAN PEMBAHASAN Jumlah penduduk Distrik Inanwatan sebanyak 598 kepala keluarga (KK), dengan 3,529 jiwa. Penduduk pemerintahan Distrik Inanwatan tersebar pada 9 kampung (Tabel . Tabel 5. Sebaran Jumlah Penduduk Distrik Inanwatan Berdasarkan Kampung Sumber : Data BPS 2018 e-ISSN: 0000-0000 Halaman 175 JURNAL ADMINISTRASI TERAPAN VOL 1. NO. SEPTEMBER 2022 Sebagian besar . %) penduduk Inanwatan termasuk Suku Sowabau, . %) termasuk Suku Iwaro dan bagian lainnya . %) Non OAP. Sebaran jumlah penduduk yang terhimpun dalam satuan suku dapat pula dibedakan berdasarkan ekosistem Daerah Aliran Sungai (DAS). Suku Sowabau dengan populasi penduduk terbesar terdapat di ekosistem DAS Usua, dan Suku Iwaro tersebar di wilayah ekosistem DAS. Saluran Pemasaran Saluran pemasaran sagu tumang di Distrik inanwatan hanya meliputi masyarakat dan komsumen akhir. Selama penelitian dilakukan tidak di jumpai saluran komunikasi, saluran distribusi dan saluran layanan. Dalam penelitian ini, hanya terdapat saluran pemasaran nol tingkat pada sagu tumang yaitu saluran nol (Produsen konsumen akhir (PK). Rantai pemasaran sagu tumang ini sangat pendek, karena sagu tumang hanya dipasarkan kepada tetangga di sekitar rumah, di pasar kampung atau pasar distrik, serta di pasar di luar distrik seperti pasar Teminabuan dan pasar Kota Sorong. Kendala yang dihadapi oleh masyarakat Distrik Inanwatan hanya transportasi laut kurang atau toll Di Distrik Inanwatan tidak ada pedagang pengumpul, maka itu Pengusaha sagu tumang langsung jual ke konsumen akhir. Pemasaran Sagu Pemasaran sagu tumang biasanya dijual ke tetangga, pasar Distrik, pasar Teminabuan dan pasar Kota Sorong. Sagu tumang tersebut sebagian besar dijual dipasar tradisional kampung atau Distrik dengan harga Rp. 000 sampai Rp. 000 per Ada pula yang dijual di pasar Kabupaten Sorong Selatan dengan harga Rp. 000 sampai Rp. 000 per tumang dan diluar pasar Teminabuan misalnya di pasar Kota Sorong, sagu tumang di jual dengan harga Rp 100. 000 sampai Rp. Sisa dari hasil pati basah yang dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai persiapan bahan makanan dalam keluarga . eperti papeda dan sagu forn. selama 1 . Tingkat Harga Sagu Tingkat harga sagu tumang di Distrik Inanwatan dari 9 kampung itu selalu berbeda-beda menurut kampung, berdasarkan sagu tumang yang di Dalam penelitian ini Tingkat harga pada pengusaha sagu tumang adalah Rp 100. 000 sampai Rp. Tabel 6 berikut. Tabel 6. Harga Sagu Tumang di Distrik Inanwatan Berdasarkan Kampung Tahun 2018 Sumber Data : Diolah Data Primer 2018 Tabel 6. Menunjukkan bahwa penelitian kampung yang berada di Distrik Inanwatan, yang menghasilkan sagu tumang ukuran kecil selama 1 tahun terakhir Yaitu Kampung Mate sebanyak 40 sagu tumang. Kampung Isogo sebanyak 39 sagu tumang. Kampung Siri Ae siri sebanyak 36 sagu tumang. Kampung Odeari dan Kampung Mogibi sama-sama menghasilkan sebanyak 29 sagu tumang, e-ISSN: 0000-0000 Kampung Solta baru sebanyak 28 sagu tumang. Kampung serkos sebanyak 26 sagu tumang. Kampung Wadoi sebanyak 24 sagu tumang dan Kampung Sibae sebanyak 23 sagu tumang dan total sagu tumang yang di menghasilkan oleh masyarakat Distrik Inanwatan sabanyak 274 sagu sagu tumang. Pendapatan kotor berdasarkan kampung, untuk pendapatan kotor tertinggi adalah Kampung Serkos Halaman 176 JURNAL ADMINISTRASI TERAPAN VOL 1. NO. SEPTEMBER 2022 sebesar RP. 000/thn, dengan rata-rata pendapatan kotor tiap kepala keluarga sebesar Rp 000/org Sedangkan pendapatan paling terendah pengusaha sagu tumang yaitu Kampung Solta Baru sebesar Rp. 000/thn dengan ratarata pendapatan kotor tiap kepala keluarga sebesar Rp. 000/org. Tabel diatas dilihat bawah, pendapatan kotor tertinggi kedua adalah Kampung Mate sebesar Rp. 000/thn dengan rata-rata pendapatan kotor sebesar Rp 2. 000/org selanjutnya di ikuti oleh Kampung Siri-siri pendapatan kotor sebesar Rp. 000/thn dengan pendapatan rata-rata sebesar Rp. 000/org. Kampung Sibae dan Kampung Odeari memiliki pendapatan kotor dari hasil jualan sagu tumang itu sama sebesar Rp 9. 000/thn dengan rata-rata sebesar Rp. 000/org sedangkan Kampung Wadoi, pendapatan kotor sebesar Rp. 000/thn dengan rata -rata pendapatan kotor sebesar Rp. 000/org Dan Kampung Isogo memiliki pendapatan kotor sebesar Rp. 000/thn dengan rata-rata Rp. 000/org. Maka disimpulkan bahwa Kampung Serkos yang paling banyak mengusahkan sagu tumang kecil dan sagu tumang besar. Hal ini bisa membuktikan bahwa Kampung Serkos lah yang mempunyai luasan hutan sagu paling besar wilayah Distrik Inanwatan dibandingkan dengan Kampungkampung lain yang berada di Distrik Inawatan. Biaya Biaya mencakup semua pengeluaran yang dikeluarkan oleh suatu perusahaan untuk mendapatkan faktor-faktor produksi dan bahan baku lain yang digunakan dalam proses pembuatan barang yang diproduksi oleh bisnis, sesuai dengan penjelasan Sukirno pada tahun 2000. Biaya tetap adalah biaya yang tidak dipengaruhi oleh jumlah produksi yang dihasilkan. Biaya produksi didapatkan melalui penjumlahan biaya variabel . ariable cos. dan biaya tetap . ixed cos. , dapat ditulis dalam rumus berikut: Bp = Biaya Produksi Sagu tumang (Rp/bula. Bt = Biaya Tetap Sagu tumang (Rp/bula. dan Bv = Biaya varibel Sagu Tumang (Rp/bula. Biaya Produksi Tetap Biaya produksi tetap dari pengusaha sagu tumang adalah biaya penyusutan dari penguna alatalat antara lain kapak, parang Mesin katin-ting, dan motor tempel. Tabel 7 berikut. Tabel 7. Biaya Penyusutan Pengusaha Sagu Tumang Berdasarkan Kampung di Distrik Inanwatan Tahun, 2018 Sumber Data : Diolah Data Primer 2018 Tabel 7. Menunjukkan menunjukan bahwa Pengusaha sagu tumang masyarakat Kampung Sirisiri mencurahkan biaya minimum Rp. 67/bln dan biaya maksimum Rp. 33/bln dengan rata-rata biaya Rp. 66,555. 56/org demikian pula Pengusaha sagu tumang oleh masyarakat Kampung Mate dapat mencurahkan biaya peralatan yang biaya minimum Rp56. 33 /bln dan biaya maksimum RP. 95/bln rata-rata Rp. 59/org. Sedangkan untuk pengusaha sagu tumang oleh masayarakat Kampung Serkos e-ISSN: 0000-0000 mencurahakan biaya minimum Rp. 35/bln dan biaya maksimum RP. 05/bln dengan rata-rata Rp. 22/org. Kampung Wadoi mencurahkan biaya minimum Rp. 53/bln dan maksimum Rp. 29/bln dengan biaya ratarata Rp. 374,792. 66/org. Demikian pula Pengusaha sagu tumang oleh masyarakat Kampung Sibae dapat mencurahkan biaya minimum Rp. 56/bln dan maksimum Rp. 90/bln dengan biaya rata-rata Rp. 11/org. Kampung Solta Baru mencurahkan biaya tetap minimum Rp. Halaman 177 JURNAL ADMINISTRASI TERAPAN VOL 1. NO. SEPTEMBER 2022 67/bln Rp. 48/bln dengan biaya rata-rata Rp. 26/org. Kampung Mogibi dengan biaya tetap minimum Rp. 23/bln dan biaya tetap maksimum Rp. 05/ bln dengan rata-rata Rp. 70/org. Sedangkan untuk pengusaha sagu tumang oleh masayarakat Kampung Odeari mencurahakan biaya minimum Rp. 57/bln dan biaya maksimum Rp. 33/bln dengan rata-rata Rp 199. 66/org, demikian pula juga pengusaha sagu tumang asal Kampung Isogo dengan curahkan biaya tetap minimum Rp. 35/bln dan biaya maksimum Rp. 62/bln degan biaya rata-rata Rp. 34/org. Penerimaan Jumlah penerimaan didapatkan melalui hasil penjualan produk, atau dapat dijelaskan sebagai nilai produk yang dihasilkan yang berasal dari perkalian jumlah produk yang diperoleh dari kegiatan usahatani dengan harga pasar yang berlaku. Penerimaan pengusaha sagu tumang, dapat dilihat pada Tabel 8 berikut ini. Tabel 8. Peneriman Pengusaha Sagu Tumang di Distrik Inanwatan Tahun 2018 Sumber Data : Diolah Data Primer 2018 Tabel 8. Menunjukkan bahwa, rata-rata penerimaan pengusaha sagu tumang masayarakat Kampung Siri-siri merupakan dengan total harga jualnya sehingga menghasilkan Rp. 000,- per Pengusaha sagu tumang. Rp. 000,- per Pengusaha sagu tumang oleh masayarakat Kampung Mate, dan Rp. 000 per Pengusaha sagu tumang asal Kampung Serkos. Demikian juga Pengusaha sagu tumang masayarakat Kampung Wadoi menghasilkan Rp. 000, per Pengusaha sagu tumang, sedangkan masayarakat Kampung Sibae juga menghasilkn rata-rata penerimaan Rp. 000, per Pengusaha sagu tumang, dan Rp. 000 per Pengusaha sagu tumang asal Kampung Solta Baru. Pengusaha sagu tumang masayarakat Kampung Mogibi menghasilkan Rp. 000, per Pengusaha sagu tumang. Rp. 000, per Pengusaha sagu tumang oleh masayarakat Kampung Odeari, dan Rp. per Pengusaha sagu tumang asal Kampung Isogo. Pendapatan Tabel 9. Pendapatan Pengusaha Sagu Tumang di Distrik Inanwatan Tahun 2018 Sumber Data : Diolah Data Primer 2018 e-ISSN: 0000-0000 Halaman 178 JURNAL ADMINISTRASI TERAPAN VOL 1. NO. SEPTEMBER 2022 Tabel 9. Menunjukkan bahwa hubungan biaya dengan pendapatan mempunyai pengaruh yang signifikan besar, dimana Pengusaha sagu tumang asal Kampung Siri-siri sebulan mencurahkan total biaya rata-rata sebesar Rp. 183,735. 55/org, sedangkan Kampung Mate sebulan mencurahkan total biaya rata-rata sebesar Rp. 59/org dan Kampung serkos sebulan mencurahkan total total biaya rata-rata sebesar Rp. 22/org , demikian juga Kampung Wadoi mencurahkan total biaya rata-rata sebulan sebesar Rp. 66/org, sedangkan kampung Sibae juga mencurahkan biaya rara-rata sebulan sebesar Rp. 11/org. Kampung Solta Baru mencurahkan total biaya ratarata sebesar Rp 255. 03/org sedangakn Kampung Mogibi juga mengeluarkan total biaya rata-rata sebulan untuk mengusahakan sagu tumang sebesar Rp. 96/org. Kampung Odeari juga sama mengeluarkan total biaya rata-rata sebulan untuk usaha sagu tumang sebesar Rp 286. 66/org dan Kampung Isogo juga mengeluarkan total biaya ratarata sebesar Rp. 35/org. hal ini seimbang dengan usaha tersebut. PENUTUP Kesimpulan Terdapat satu saluran pemasaran sagu tumang di lokasi penelitian, yaitu saluran pemasaran I : Produsen Konsumen Akhir Tingakat harga, biaya dan pendapatan pada pengusaha sagu tumang di Distrik Inanwatan adalah sebagai berikut Harga sagu tumang di Distrik Inanwatan bervariasi yaitu Rp. 000 sampai Rp. Harga sagu tumang kecil dan besar berkisar dari Rp. 100,000 sampai Rp. 350,000 dengan pendapatan kotor rata-rata tertinggi perbulan pada Kampung Serkos Rp. 000/org, dikuti Kampung Mate Rp. 000/org. Kampung Mogibi Rp. 000 demikian juga Kampung Siri-siri Rp. 000 dan Kampung Sibae dan Odeari pendapatan kotor sama Rp. 000 sedangkan Kampung Wadoi menerimah pendapatan kotor Rp. selanjutnya di ikuti oleh Kampung Isogo Rp. 000 dan pendapatan kotor terendah Kampung Solta Baru Rp. Biaya yang di keluarkan oleh pengusaha sagu tumang di Distrik Inanwatan berdasarkan kampung yaitu Kampung Wadoi dengan total biaya rata-rata sebesar Rp. 66/org. Kampung Serkos dengan total biaya rata-rata Rp. 22/org. Kampung Odeari dengan total biaya rata-rataRp. 66/org. Kampung Solta Baru dengan total biaya rata-rata Rp. 03/org. Kampung Mate dengan total biaya rata-rata Rp. 59/org. Kampung Mogibi rata-rata e-ISSN: 0000-0000 Pendapatan tertinggi dalam penelitian ini adalah Pengusaha sagu Tumang asal Kampung Serkos yaitu Rp. 78/org dan di susul oleh pengusaha sagu tumang asal Kampung Mate sbesar Rp. 41/org dan kampung Siri-siri sebesar Rp. 45/org, pendapatan kampung Mogibi dengan sebesar Rp. 04/org, pendapatan Kampung Odeari sebesar Rp. 34/org. Kampung Sibae Rp. 89/ org dengan demikian di simpulkan bahwa Pengusaha sagu tumang asal Distrik Inanwatan dengan jumlah 5 jiwa yang jauh lebih besar dari Upah Minimum Papua (UMP) Provinsi Papua Barat yang sebesar Rp. 000 perbulan Sedangakan pendapatan terendah pada 3 kampung yang berada di Distrik Inanwatan dibawah upah minimum papua (UMP) yaitu Kampung Isogo sebesar Rp. Kampung Wadoi sebesar Rp. 34 dan Kampung Solta Baru Rp. Rp. 96/org. Kampung Siri-siri dengan rata-rata Rp. 55/org. Kampung Sibae dengan total biaya rata-rata Rp. 170,570. 11/org dan Kampung Isogo dengan total biaya rata-rata Rp. 35/org. Pendapatan pengusaha sagu tumang di Distrik Inanwatan tergolong sangat tinggi dari upah Minimum Papua dengan demikian pendapatan tertinggi oleh pengusaha sagu tumang asal Kampung Serkos Rp. 78, selanjutnya pendapatan kedua tertinggi Kampung Mate sebesar Rp. 41/org, dan seterusnya kampung Siri-siri sebesar Rp. 45/org. Mogibi Rp. 04/org, pendapatan Kampung Odeari sebesar Rp. 34/org, pendapatan Kampung Sibae sebesar Rp. 89/org . Kampung Isogo sebesar Rp. Kampung Wadoi sebesar Rp. 34 dan pendapatan rata-rata terendah terdapat di Kampung Solta Baru Rp. 784,948. 97 /org. Saran Dinas terkait perlu menyediakan penyuluh lapangan, guna memberikan informasi terkait pemasaran sagu tumang. Pemerintah perlu mengusahakan pedagang pengumpul, agar pengusaha sagu tidak mengeluarkan dana yang besar. Perlu membangun kerjasama antara pengusaha sagu tumang dan pemerintah setempat. Halaman 179 JURNAL ADMINISTRASI TERAPAN VOL 1. NO. SEPTEMBER 2022 DAFTAR PUSTAKA