Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No. Des. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Terakreditasi No: 79/E/KPT/2023 (Sinta . http://w. stt-tawangmangu. id/e-journal/index. php/fidei Vol. 8 No. 2 (Des. hlm: 458-476 Diterbitkan Oleh: Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu e-ISSN: 2621-8135 p-ISSN: 2621-8151 DOI: https://doi. org/ 10. 34081/fidei. Antara Penderitaan yang Tersisa dan Rengkuhan yang Terbuka: Analisis Teologis atas Trauma Sosial Pascakonflik Ambon Lidya Patty. * . Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta. Indonesia *) Email: lidya. patty@stftjakarta. Diterima: 15 Mei 2025 Direvisi: 12 September 2025 Disetujui: 15 September 2025 Abstract This article examines the collective trauma of the 1999Ae2002 Ambon postconflict, which still leaves traces in the violent events of 2011 and early 2025. These social wounds indicate that the community's collective memory has not fully recovered and remains a source of vulnerability in interfaith relations. This paper aims to develop a trauma-healing-based reconciliation model in the Ambon Using qualitative methods based on literature studies, data are analyzed conceptually and thematically through three main approaches: Jeffrey C. Alexander's theory of collective trauma. Shelly Rambo's theology of trauma, and Miroslav Volf's theology of reconciliation. This article puts forward two First, post-conflict trauma in Ambon is still alive and is indicated by repeated conflicts in 2011 and early 2025 that reactivated the memory of the 1999 Second, formal reconciliation such as the Malino II Agreement has not yet addressed the dimensions of deep trauma recognition and healing. Therefore, this article proposes the formation of a transformative space as a space between "remaining suffering" and "open embrace. " This space allows wounds to be heard, narrated, and collectively reinterpreted through the reinterpretation of conflict sites . Silo Church and the Trikora Monumen. , interfaith forums, liturgical confessions, and public rituals. Thus, reconciliation does not stop at a formal agreement, but fosters interfaith solidarity and hope for sustainable peace. Keywords: Collective Trauma. Post-Conflict Transformative Space. Theology of Trauma. Ambon. Reconciliation. CopyrightA2025. Lidya Patty. Lisensi karya ini di bawah: Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License (CC BY-SA 4. | 458 Antara Penderitaan yang Tersisa, . (Lidya Patt. A(Petrus Yuniant. Abstrak ini membahas trauma kolektif pascakonflik Ambon tahun 1999Ae2002 ( Artikel Santy Sahartia. yang masih meninggalkan jejak dalam peristiwa kekerasan tahun 2011 dan awal Luka sosial tersebut menunjukkan bahwa memori kolektif masyarakat belum sepenuhnya pulih dan masih menjadi sumber kerentanan relasi lintas iman. Tulisan ini bertujuan mengembangkan model rekonsiliasi berbasis pemulihan trauma dalam konteks Ambon. Dengan menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka, data dianalisis secara konseptual dan tematik melalui tiga pendekatan utama: teori trauma kolektif Jeffrey C. Alexander, teologi trauma Shelly Rambo, dan teologi rekonsiliasi Miroslav Volf. Artikel ini mengajukan dua argumen. Pertama, trauma pascakonflik di Ambon masih hidup dan terindikasi dari konflik berulang pada 2011 dan awal 2025 yang mengaktifkan kembali memori kekerasan 1999. Kedua, rekonsiliasi formal seperti Perjanjian Malino II belum menyentuh dimensi pengakuan dan pemulihan trauma yang mendalam. Karena itu, artikel ini mengusulkan pembentukan ruang transformatif sebagai ruang antara Aupenderitaan yang tersisaAy dan Aurengkuhan yang terbuka. Ay Ruang ini memungkinkan luka didengar, dinarasikan, dan dimaknai ulang secara kolektif melalui pemaknaan ulang situs konflik . isalnya Gereja Silo dan Tugu Trikor. , forum lintas iman, liturgi pengakuan luka, dan ritus publik. Dengan demikian, rekonsiliasi tidak berhenti pada kesepakatan formal, tetapi menumbuhkan solidaritas lintas iman dan harapan akan damai berkelanjutan. Kata-Kata Kunci: Ambon Pascakonflik. Rekonsiliasi. Ruang Transformatif. Teologi Trauma. Trauma Kolektif. Pendahuluan Konflik sosial yang terjadi di Ambon tahun 1999-2002 merupakan salah satu peristiwa kelam dalam kehidupan masyarakat Ambon. Tragedi ini merenggut 5000 korban jiwa 1 dan memaksa sepertiga masyarakat Maluku dan Maluku Utara meninggalkan tempat tinggal mereka. 2 Kekerasan berbasis agama tersebut memberi trauma mendalam yang membayangi memori kolektif masyarakat Maluku. Trauma ini meninggalkan bekas yang tidak terhapus . eaves indelible mark. 4 dan terbukti belum sepenuhnya pulih, seperti yang tercermin dalam konflik-konflik Armita Arvanti dkk. AuDinamika Konflik Keagamaan di Maluku Serta Upaya Resolusi Mewujudkan Perdamaian,Ay Jurnal Education and development 12, no. : 68. Jerry Indrawan dan Ananda Tania Putri. AuAnalisis Konflik Ambon Menggunakan Penahapan Konflik Simon Fisher,Ay Jurnal Kolaborasi Resolusi Konflik 4, no. : 36608, doi:10. 24198/jkrk. Marfan Ferdinanda Tahamata. Tony Tampake, dan Agus Supratikno. AuTeologi Trauma Berbasis Budaya Orang Basudara Bagi Korban Konflik Komunal,Ay DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani 9, no. : 1417, doi:10. 30648/dun. Jeffrey C. Alexander. Trauma: A Social Theory (Cambridge: Polity Press, 2. , 6. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. susulan tahun 2011 dan awal 2025. Kedua konflik ini menunjukkan pola serupa, yakni bermula dari bentrokan kecil yang kemudian berkembang menjadi pertikaian yang bernuansa agama dan diperkuat oleh narasi yang mengokohkan dikotomi AukitaAy dan Aumereka. Ay5 Shelly Rambo menjelaskan trauma sebagai Aupenderitaan yang tersisaAy 6 dan Aupenderitaan yang tidak pergi,Ay 7 sementara Jeffrey C. Alexander menandaskan bahwa trauma kolektif membekas dalam kesadaran dan membentuk identitas 8 Trauma yang tidak dikenali dan direspons dengan tepat dapat melanggengkan segregasi sosial serta memperumit relasi antar kelompok 9 Hal ini sejalan dengan konflik yang terus terjadi di Ambon. Jacky Manuputty. Septemmy Lakawa, dan Debora Lindawaty dalam penelisikan mereka terhadap konteks pascakonflik 1999, menemukan bahwa rekonsiliasi pascakonflik dilakukan tanpa pengakuan dan pemulihan luka masa lalu dan lebih berorientasi pada masa depan, sehingga penderitaan tetap hidup dan memicu ketegangan berulang yang terpendam dalam hati, sebelum sewaktu-waktu muncul. 10 Artikel ini menanggapi situasi tersebut dengan menawarkan kerangka rekonsiliasi yang mengakui trauma kolektif Alexander dan konsep Aumiddle spaceAy Rambo sebagai ruang antara luka dan pemulihan,11 yang dipadukan dengan gagasan Miroslav Volf tentang pengampunan dan keterbukaan, 12 agar rekonsiliasi tidak sekadar mendamaikan tetapi juga memberi pengakuan atas penderitaan kolektif. Sejumlah penelitian sebelumnya telah mengulas trauma pascakonflik dan rekonsiliasi di Ambon. Marfan F. Tahamata dkk. menawarkan teologi trauma BCC News Indonesia. AuMasih Rentankah Kerusuhan Sektarian di Ambon?,Ay 2011. Debora Sanur Lindawaty. AuKonflik Ambon: Kajian Terhadap Beberapa Akar Permasalahan dan Solusinya,Ay Jurnal Politiicia 2, no. : 271Ae97. Eris Eka Patty. Rahmat Rahman. Jaya. AuBentrok 2 Kelompok Pemuda di Ambon. Kondusif. Warga Jangan Terprovokasi,Ay Kompas. com, 2025. Shelly Rambo. Spirit and Trauma: A Theology of Remaining (Kentucky: Westminster John Knox Press, 2. , 15. Ibid. , 20. Alexander. Trauma: A Social Theory, 6. Ibid. , 4. SETARA Institute. AuTrauma Healing Pasca Konflik Maluku 1999-Pdt. Jacky-Part 3,Ay Septemmy E. Lakawa. Kemurahatian dan Trauma: Imajinasi Baru Misi Kristiani, 1 ed. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 129Ae31. Lindawaty. AuKonflik Ambon: Kajian Terhadap Beberapa Akar Permasalahan dan Solusinya,Ay 271Ae73. Pada alur tulisan berikutnya, terminolongi Aumiddle spaceAy akan penulis pakai untuk menandaskan konsep Auruang antaraAy Rambo, namun bila dikaitkan dengan konteks penulisan, diksi yang penulis gunakan adalah Auruang antara. Ay Alexander. Trauma: A Social Theory, 6. Rambo. Spirit and Trauma: A Theology of Remaining, 15. Miroslav Volf. Exclusion and Embrace: A Theological Exploration of Identity. Other-ness, and Reconciliation (Nashville: Abingdon Press, 1. Antara Penderitaan yang Tersisa, . (Lidya Patt. A(Petrus Yuniant. Orang Basudara sebagai langkah konkret bagi warga jemaat yang ( Santy trauma Sahartia. 13 Sementara itu. Armita Arvanti dkk. resolusi konflik pasca 1999-2002, menyoroti bahwa rekonsiliasi tidak menghapus ketakutan dan rasa tidak percaya antar agama. 14 Muhammad Husein dan Marno Wance juga menunjukkan bahwa trauma masa lalu mempercepat eskalasinya konflik baru. 15Tulisan-tulisan ini, telah mengeksplorasi adanya indikasi trauma di Ambon, isu konflik, dan upaya rekonsiliasi yang telah dilakukan maupun Namun, belum secara eksplisit mengaitkan trauma kolektif dengan konsep teologis tentang pemberian ruang untuk mengakui penderitaan yang tersisa, sebagai tahap awal dalam upaya rekonsiliasi yang terbuka untuk merengkuh Aumereka yang berbeda. Ay Artikel ini, membatasi dirinya pada eksplorasi indikasi trauma kolektif pascakonflik yang berujung pada tahun 2011 dan awal tahun 2025. Kemudian, mendialogkan pandangan Alexander. Rambo, dan Volf untuk membangun ruang transformatif antara Aupenderitaan yang tersisaAy dan Aurengkuhan yang terbukaAy sebagai rekonsiliasi pascakonflik komunal yang ditawarkan. Metode Penelitian Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka16 terhadap sumber-sumber primer dan sekunder, khususnya literatur teoretis dan Metode ini dipilih bukan hanya untuk mengumpulkan data tekstual, tetapi juga untuk mengolahnya secara analitis dan konstruktif, sehingga dapat menghasilkan tawaran teologis yang kontekstual. Sumber-sumber sekunder berupa literatur teoretis dan teologis, yang dianalisis melalui tahapan pengumpulan data tekstual, analisis isi, dan konseptualisasi tematik atas tiga variabel utama trauma kolektif (Jeffrey Alexande. , penderitaan yang tersisa (Shelly Ramb. , dan rekonsiliasi lintas iman (Miroslaf Vol. untuk membangun konstruksi teologis mengenai ruang transformatif sebagai model rekonsiliasi kontekstual di masyarakat pascakonflik Ambon. Artikel ini akan dimulai dalam beberapa tahapan. Pertama, menganalisis indikasi trauma dari konflik yang terjadi pada tahun 2011 dan awal Kedua, menelisik dan memperjumpakan hasil analisis trauma kolektif dari konflik tahun 2011 dan awal tahun 2025 dengan teori konflik kolektif Tahamata. Tampake, dan Supratikno. AuTeologi Trauma Berbasis Budaya Orang Basudara Bagi Korban Konflik Komunal. Ay Arvanti dkk. AuDinamika Konflik Keagamaan di Maluku Serta Upaya Resolusi Mewujudkan Perdamaian,Ay 61Ae69. Marno Husein. Muhammad I. Wance. AuAnalisis Wacana Kritis Berita Konflik di Media Ambon Ekspres dan Siwalima,Ay Jurnal Inovasi Penelitian 1, no. : 1995Ae2010. Farida Nugrahani. Metode Penelitian Kualitatif (Solo: Cakra Books, 2. , 96. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. Alexander, konsep Aumiddle spaceAy Rambo, dan rekonsiliasi Volf untuk menghasilkan tawaran rekonsiliasi berbasis pemulihan trauma, lewat ruang transformatif sebagai ruang antara Aupenderitaan yang tersisaAy dan Aurengkuhan yang Ay Hasil dan Pembahasan Trauma yang Terbuka melalui Konflik Tahun 2011 dan Awal Tahun 2025 Shelly Rambo menegaskan trauma sebagai Aupenderitaan yang tersisaAy dan yang Autidak kunjung pergi. Ay17 Trauma bukan sekadar kenangan pahit, melainkan realitas yang hidup, yang terus memengaruhi relasi, identitas, bahkan cara seseorang membayangkan masa depan. 18 Berbeda dengan Rambo yang menyoroti dimensi eksistensial-individual. Jeffrey C. Alexander memandang trauma sebagai konstruksi sosial yang melekat pada kesadaran kolektif. Trauma kolektif lahir melalui proses penafsiran yang mendefinisikan peristiwa sebagai luka mendalam, menentukan siapa korban, siapa pelaku, serta menciptakan simbol-simbol yang mengikat komunitas pada memori luka itu. 19 Kerangka ini menolong penulis membaca konflik Ambon 2011 dan awal 2025 bukan sekadar sebagai insiden sporadis, melainkan reaktivasi luka lama dari tragedi 1999Ae2002. Pada tahun 2011, tersebar SMS tentang kematian Darmin Saiman, seorang tukang ojek Muslim, di wilayah mayoritas Kristen. 20 Informasi ini segera ditafsirkan sebagai serangan orang Kristen bagi umat Muslim, yang pada kenyataannya tidak demikian. Namun, trauma kolektif yang telah melekat dalam identitas agama dibangkitkan kembali dan memicu kemarahan umat Muslim21 dan berujung bentrok antar warga Waihaong dengan Mangga Dua pada 11 September Konflik ini meluas ke Kelurahan Waringin. Pohon Pule, dan Ponegoro. Umat Islam dengan cepat melakukan aksi lempar batu terhadap pembawa kendaraan yang beragama Kristen di beberapa titik, 22 sementara umat Kristen yang merasa diserang, mengumpulkan masa dan merespons tindakan itu. Dalam kerangka Alexander, terlihat empat elemen konstruksi yang dapat mengindikasi trauma kolektif. Pertama, hakekat penderitaan . ature of the pai. Rambo. Spirit and Trauma: A Theology of Remaining, 15,20. Ibid. , 20. Alexander. Trauma: A Social Theory, 26. Lindawaty. AuKonflik Ambon: Kajian Terhadap Beberapa Akar Permasalahan dan Solusinya,Ay 271Ae72. BCC News Indonesia. AuMasih Rentankah Kerusuhan Sektarian di Ambon?Ay Yusron Fahmi. AuKisah Minggu Mencekam di Kota Ambon 8 Tahun Lalu,Ay Liputan 6. Antara Penderitaan yang Tersisa, . (Lidya Patt. A(Petrus Yuniant. Kematian Saiman pada 2011 ditafsirkan sebagai penderitaan umat Muslim23 dan ( Santy Sahartia. emosional sekaligus kekerasan balasan. Merespons umat Islam dengan cepat melakukan aksi lempar batu terhadap pembawa kendaraan yang beragama Kristen di beberapa titik 24 dan umat Kristen yang merasa diserang, mengumpulkan masa dan merespons tindakan itu. Trauma tersebut disimbolkan melalui narasi yang dibentuk oleh bahasa dan media, menciptakan eskalasi 25 Kedua, identitas korban . ature of the victi. 26 memperkuat oposisi antara AukitaAy dan Aumereka. Ay Saiman, seorang Muslim, dilihat sebagai representasi umat Muslim dan bukan individu. Sehingga, mengindikasi posisi umat Muslim sebagai pihak yang dirugikan dan Kristen adalah pelakunya. Begitupula dengan kasus 2025 yang walau dipicu oleh persoalan non-agama seperti pesta miras dan balap liar 27, konflik di depan Tugu Trikora pada bulan Januari 2025 ini, dengan cepat membentuk sektarian yang menandaskan identitas AumerekaAy berdasarkan posisi berdiri yang mewakili kelompok agama. Ketiga, relasi korban dengan audiens luas . elation of the victim to the wider 28 Posisi berdiri masyarakat yang saling berhadapan di Tugu Trikora, persis di depan Gereja Silo, menghidupkan kembali memori kerusuhan 1999. Spasialitas ini menjadi simpul trauma lewat ruang geografis yang berubah menjadi ruang memori traumatis. Keempat, atribusi tanggung jawab . ttribution of responsibilit. polarisasi AukamiAy dan AumerekaAy dalam konteks sejarah konflik antaragama, yang tercermin pada posisi massa yang berhadap-hadapan di Tugu Trikora di depan Gereja Silo pada konflik awal 2025. 29 Lokasi-lokasi ini bukan hanya titik geografis, tetapi juga simpul trauma, karena di situlah kekerasan komunal pernah memuncak. Umat Kristen secara simbolik dilekatkan sebagai pihak bersalah. Narasi AuLaskar KristusAy yang kembali digaungkan memperkokoh identitas defensif Kristen, sementara komunitas Muslim merespons dengan solidaritas komunal. Dengan demikian, konflik 2011 dan awal 2025, memerlihatkan bagaimana trauma BCC News Indonesia. AuMasih Rentankah Kerusuhan Sektarian di Ambon?Ay Fahmi. AuKisah Minggu Mencekam di Kota Ambon 8 Tahun Lalu. Ay Alexander. Trauma: A Social Theory, 13. Ibid. , 18. Rahmat Rahman Patty. AuKapolda Maluku Janji Tindak Tegas Pelaku Bentrok di Tugu Trikora Ambon,Ay Kompas. com, 2025. Alexander. Trauma: A Social Theory, 18Ae19. Rahmat Rahman Patty. AuBentrok di Tugu Trikora Ambon Lukai 6 Warga. Polisi Periksa Sejumlah Saksi,Ay Kompas. com, t. Lindawaty. AuKonflik Ambon: Kajian Terhadap Beberapa Akar Permasalahan dan SolusinyaAy. Tim Redaksi. AuAmbon Membara, 1 Meninggal 68 Luka-Luka,Ay JPPN. com, 2011. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. lama bukan saja bertahan, tetapi justru menjadi bahan bakar konstruksi identitas kelompok yang eksklusif. Dalam dua versi AukitaAy ini, terlihat bahwa trauma bukan hanya belum sembuh, melainkan telah menjadi fondasi baru dari identitas kelompok, yang eksklusif dan berorientasi pada pembeda dari Aumereka. Ay30 Selain keempat eleman di atas, simbol dan rekonstruksi narasi yang tercermin dalam konflik 2025, menunjukkan adanya cultural code yang menghidupkan memori kekerasan 1999, lewat nyanyian AuLaskar Kristus. Ay Dalam teori Alexander, ini merupakan bagian dari proses penyematan makna simbolik yang membingkai suatu peristiwa kekerasan bukan sebagai insiden terisolasi, tetapi sebagai kelanjutan dari narasi trauma yang mapan dalam memori kolektif. 31 Hal ini, menegasi pandangan Rambo tentang trauma adalah penderitaan yang tidak pergi . uffering that doesnAot go awa. dan penderitaan yang tersisa . uffering that remind. ,32 yang membayangi masyarakat Ambon hingga eskalasi konflik terjadi dengan polarisasi yang senada dengan konflik 1999. Penderitaan yang tersisa, tercermin dalam narasi kolektif yang dirasakan oleh para penyintas konflik Ambon tahun 1999-2002. Tahamata. Tampake, dan Supritikno menunjukkan memori traumatis yang merengkuh rasa takut, kecewa, dan marah masih dimiliki oleh ketiga narasumber dan melekat hingga kini. Temuan ini, mengafirmasi apa yang disebut Rambo sebagai suffering that reminds. Penderitaan yang tersisa dari konflik 1999 membentuk trauma script dalam narasi kelompok, memori kolektif, dan relasi spasial tertentu menjadikan identitas agama sebagai sumbu dari eksklusivitas sosial dan penolakan terhadap rekonsiliasi Dari penelisikan terhadap dua konflik ini, penulis menegaskan tiga temuan Pertama, narasi provokatif mudah memicu reaksi emosional karena luka yang masih terbuka. Kedua, spasialitas traumatis (Tugu Trikora dan Gereja Sil. mengandung memori yang dapat mengaktifkan trauma. Ketiga, simbol keagamaan seperti lagu AuLaskar KristusAy memperkeras identitas kolektif yang dibentuk oleh penderitaan yang tidak kunjung pergi, baik dalam pihak Kristen maupun Islam. Dengan demikian, trauma yang tersisa menjadi fondasi baru identitas komunal yang eksklusif. Alexander. Trauma: A Social Theory, 7. Ibid. , 3Ae4. Rambo. Spirit and Trauma: A Theology of Remaining, 15. Ibid. Miroslav Volf. AuForgiveness. Reconciliation, and Justice: A Theological Contribution to A More Peaceful Social Environment,Ay Millenium . 7Ae8, doi:10. 1177/03058298000290030601. Antara Penderitaan yang Tersisa, . (Lidya Patt. A(Petrus Karena Yuniant. itu, penulis meminjam gagasan Septemmy Lakawa tentang ( Santy Sahartia. Auruang penuturanAy agar Ausiklus kekerasanAy tidak terjadi. AuRuang penuturanAy itu perlu dihidupi dalam ruang formal hingga informal dalam percakapan bersama keluarga, dengan memberi makna baru yang menekankan Dengan begitu, rasa takut dan kebencian tidak diturunkan ke generasi 35 Sekaligus, ruang ini dapat menjadi Auruang transformatifAy yang memberi tempat untuk mengaku luka, sekaligus mengkonstruksi narasi-narasi yang membentuk memori kolektif baik dari umat Kristen maupun Muslim yang harus ditilik, secara serius sebagai suatu upaya rekonsiliasi berbasis pemulihan trauma. AuRuang transformatifAy ini akan penulis bangun setelah mendialogkan teori trauma Alexander dengan teologi trauma Rambo tentang Aumiddle spaceAy yang bersifat imajinatif, dan teologi rekonsiliasi Miroslav Volf untuk membangun rekonsiliasi yang berbasis pemulihan trauma. Rekonsiliasi Berbasis Pemulihan Trauma Rekonsiliasi pascakonflik Ambon telah diupayakan oleh berbagai pihak, termasuk pemerintah, tokoh agama, dan komunitas sipil. Akan tetapi, rekonsiliasi yang dilakukan hanya bersifat formal. Sebagaimana konflik 1999-2002 di Ambon telah diselesaikan melalui perjanjian Malino II pada tahun 2002. 36 Perjanjian ini merengkuh 11 poin keputusan yang diputuskan bersama dengan gubernur, 35 anggota dewan dari pihak Muslim dan Kristen, serta mediator perdamaian. Namun, rekonsiliasi yang dilakukan tampaknya belum berhasil mengatasi akar permasalahan, yakni trauma yang mengakar dalam masyarakat. Debora Lindawaty menyoroti bahwa trauma konflik Ambon merupakan faktor penyebab konflik sosial yang terus terjadi, secara khusus 2011. Ia melihat bahwa, bila rekonsiliasi benar-benar berhasil, maka seharusnya ketakutan terhadap potensi konflik baru tidak begitu kuat di masyarakat. 38 Hasadungan dalam penelisikannya terkait perdamaian setelah konflik Ambon turut menandaskan bahwa potensi konflik berulang di Ambon masih tinggi karena segregasi antara Lakawa. Kemurahatian dan Trauma: Imajinasi Baru Misi Kristiani, 136Ae37. Amin Tohari. AuRekonsiliasi Antarummat Beragama Kristen dan Islam di Ambon Maluku,Ay The Sociology of Islam 4, no. : 223Ae24, doi:10. 15642/jsi. Arvanti dkk. AuDinamika Konflik Keagamaan di Maluku Serta Upaya Resolusi Mewujudkan Perdamaian,Ay 62. Lindawaty. AuKonflik Ambon: Kajian Terhadap Beberapa Akar Permasalahan dan Solusinya,Ay 288. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. umat Kristen dan Muslim masih ada. 39 Tendensi itu dapat dilihat dalam konflik yang kembali pada Januari 2025. Trauma itu masih ada dan ketika narasi provokasi dan penegasan akan identitas agama dinarasikan secara radikal, respons atas luka itu dapat berupa kemarahan seperti tahun 2011. Sementara itu, bila dikaitkan dengan teori trauma kolektif Alexander yang menekankan bahwa trauma tidak secara otomatis bersifat kolektif, melainkan menjadi kolektif ketika pengalaman individu dimaknai dan dibingkai secara sosial dan kultural oleh suatu komunitas. 41 Bingkai sosial kultural yang membentuk identitas kolektif dikonstruksi oleh Auaktor kolektifAy dan Aukelompok pembawaAy yang bisa saja berasal dari pemimpin gereja,42 yang memiliki kemampuan diskursif untuk Aumembuat maknaAy di ruang publik. Alexander menawarkan suatu pertunjukan sosial yang bertujuan untuk menyampaikan klaim trauma secara persuasif kepada publik dan mengonstruksi makna penderitaan dari peristiwa yang terjadi. 43 Pada awalnya, pertunjukan trauma diarahkan kepada anggota kelompok pembawa itu sendiri. Jika berhasil, anggota kolektivitas ini menjadi yakin bahwa mereka telah mengalami trauma karena suatu peristiwa tertentu dan setelah berhasil klaim trauma dapat diperluas kepada publik lain dalam masyarakat secara umum. 44 Hal ini, dapat diaplikasikan mulai dari gereja sebagai komunitas internal, kemudian diperluas untuk merengkuh agama yang berbeda, yakni Islam secara khusus. Untuk menjembatani perluasan rengkuhan ini, penulis menggunakan teori rekonsiliasi dari Miroslav Volf sebagai pendekatan teologis yang dapat memberi arah etis dan spiritual terhadap rekonsiliasi yang mengakar pada pengampunan, keadilan, dan keterbukaan terhadap Auyang lain. Ay Volf menolak pendekatan yang menuntut pelupaan terhadap luka. sebaliknya, ia mengusulkan agar memori penderitaan diakui dan diproses dalam terang kasih Allah yang menyatukan. Anju Nofarof Hasudungan. Sariyatun Sariyatun, dan Hermanu Joebagio. AuPengarusutamaan Pendidikan Perdamaian Berbasis Kearifan Lokal Pela Gandong Pasca Rekonsiliasi Konflik Ambon di Sekolah,Ay Jurnal Lektur Keagamaan 17, no. : 37, doi:10. 31291/jlka. Indrawan dan Putri. AuAnalisis Konflik Ambon Menggunakan Penahapan Konflik Simon Fisher,Ay 1996. Rachel Iwamony dan Tri Astuti Relmasira. AuRekonsiliasi Sebagai Proses Bersama Menyembuhkan Luka Sejarah Islam Kristen di Kota Ambon,Ay Religiy: Jurnal Studi Agama-agama 7, no. : 9Ae10, doi:10. 15642/religio. Alexander. Trauma: A Social Theory, 14. Ibid. , 15Ae16. Ibid. , 16. Ibid. , 17. Volf. Exclusion and Embrace: A Theological Exploration of Identity. Other-ness, and Reconciliation, 126. Antara Penderitaan yang Tersisa, . (Lidya Patt. A(Petrus Namun, dalamYuniant. konteks di mana trauma belum sepenuhnya selesai, pendekatan ini ( dikomplementasi Santy Sahartia. oleh pandangan Shelly Rambo, dalam teologi trauma yang dikembangkannya, yakni konsep Aumiddle space. Ay Ruang antara kematian dan kehidupan, sebagai metafora untuk situasi ketika penderitaan tidak kunjung usai dan luka tetap hidup dalam tubuh, memori, dan ruang sosial. 46 Dengan begitu, rekonsiliasi dapat memberi ruang untuk menurutkan luka, mengolah memori kolektif, dan membangun relasi baru di tengah perbedaan dan ketegangan. Penulis mengintegrasikan tiga teori besar ini agar rekonsiliasi yang dirancang tidak hanya menjadi proyek normatif atau seremonial, tetapi sungguh memberi tempat bagi trauma yang belum selesai, bagi luka yang tidak mudah dilupakan, dan bagi identitas kolektif yang sedang berproses untuk disembuhkan. Dalam hal ini, pandangan Alexander yang menekankan konstruksi sosial trauma melalui aktor kolektif dan ruang simbolik. Volf yang menekankan pemulihan melalui rekonsiliasi dan penerimaan, serta Rambo yang memberi perhatian pada trauma yang terus hidup dalam ruang antara, menjadi sangat relevan untuk membaca ulang dinamika sosial dan religius pascakonflik di Ambon. Ketiganya memperluas horizon pemahaman kita tentang trauma, tidak hanya sebagai luka psikologis atau sosial, tetapi juga sebagai persoalan teologis dan relasional yang membutuhkan waktu, ruang, dan pengakuan untuk dipulihkan. Teori Volf: Melepaskan Pengampunan. Merengkuh yang Berbeda Miroslav Volf mengembangkan teori rekonsiliasi yang berakar pada teologi perengkuhan . sebagai respons terhadap realitas pengucilan yang terjadi dalam masyarakat, khususnya dalam konteks perang dan kekerasan etnis di Balkan, yang ia alami secara langsung. Pengucilan ini, menurut Volf, adalah mekanisme sosial yang digunakan untuk menjaga identitas kelompok dengan menyingkirkan Auyang lainAy . he othe. , yang didasarkan oleh rasa takut, sehingga membentuk batasan antara AukitaAy dan Aumereka. Ay47 Dalam bukunya Exclusion and Embrace . Volf menyoroti pengucilan . sebagai akar dari banyak konflik dan penderitaan manusia. Volf menolak model identitas yang berbasis pengucilan ini. Ia kemudian mentransformasi itu dengan teologi perengkuhan . yang Ia menilik bagaimana salib Kristus menjadi model utama bagi umat Kristen untuk belajar menerima yang lain, termasuk mereka yang berbeda Rambo. Spirit and Trauma: A Theology of Remaining, 17. Volf. Exclusion and Embrace: A Theological Exploration of Identity. Other-ness, and Reconciliation, 67. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. dan bahkan mereka yang telah menyakiti. 48 Volf menandaskan bahwa rekonsiliasi adalah suatu panggilan teologis yang merefleksikan cara Allah berelasi dengan Allah dalam Yesus Kristus merangkul manusia dengan kasih dan pengampunan, meskipun manusia telah memberontak terhadap-Nya. 49 Rekonsiliasi sejati harus mencerminkan tindakan Allah yang menerima Auyang lain,Ay termasuk musuh secara radikal, dalam karya penebusan-Nya di salib. 50 Oleh sebab itu, bagi Volf sebagai pengikut Kristus mengampuni merupakan hal esensial yang harus Pengampunan merupakan tindakan aktif yang meniru kasih Allah dalam Kristus, bukan sekadar melupakan atau membenarkan kesalahan. Corneliu Constamtineanu dalam tinjauannya terhadap tulisan Volf, menjelaskan bahwa dalam langkah progresif Volf dari pengucilan ke rekonsiliasi yang merengkuh. Volf dilakukan dalam tindakan pertobatan, pengampunan, memberi ruang dalam diri sendiri untuk orang lain, dan penyembuhan ingatan. 52 Sebagai umat yang percaya kepada Allah, melepaskan pengampunan merupakan hal yang harus dilakukan, walaupun Volf sendiri mengakui dalam pengalamannya, itu merupakan hal yang sulit untuk dilakukan. Baginya, tidak ada rekonsiliasi yang berhasil dilakukan tanpa melepaskan pengampunan. Karena, hanya melalui pengampunan, siklus kekerasan bisa diputuskan. 53 Artinya, dalam konflik di Ambon, umat Kristen yang terluka, perlu memaknai karya Allah melalui Yesus yang disalibkan, agar proses perengkuhan dapat dilakukan terhadap umat Muslim, setelah pengampunan itu dilepaskan. Sebagaimana. Allah melalui Yesus telah mengampuni kita sebagai umat Kristen yang berdosa. Setelah melepaskan pengampunan. Volf mengembangkan gerakan perengkuhan yang memberi ruang untuk merengkuh orang lain. Ia memberi metafora embrace bagi gereja untuk pertama membuka diri terhadap yang lain. Kedua, menunggu dan memberi ruang bagi yang lain. Rekonsiliasi tidak bisa Pihak yang membuka diri harus bersedia menunggu dengan sabar dan Ibid. , 126. Ibid. , 129. Corneliu Constantineanu. AuExclusion and Embrace : Reconciliation in the Works of Miroslav Volf,Ay 2013, 43. Volf. Exclusion and Embrace: A Theological Exploration of Identity. Other-ness, and Reconciliation, 129. Ibid. , 9. Constantineanu. AuExclusion and Embrace : Reconciliation in the Works of Miroslav Volf,Ay Ibid. , 42Ae43. Volf. Exclusion and Embrace: A Theological Exploration of Identity. Other-ness, and Reconciliation, 141. Antara Penderitaan yang Tersisa, . (Lidya Patt. A(Petrus Yuniant. ruang bagi yang lain untuk merespons tanpa paksaan. Ini ( Santy Sahartia. kerentanan dan kepercayaan sebagai bagian dari proses membangun kembali hubungan. 55 Ketiga, merangkul atau memeluk, dimana rekonsiliasi sejati melibatkan tindakan menerima dan menyatukan kembali pihak-pihak yang sebelumnya terpecah. Namun, merangkul tidak berarti menghilangkan identitas masing-masing. Dalam proses ini, setiap individu atau kelompok tetap memiliki integritasnya sendiri, tetapi memilih untuk hidup dalam hubungan yang baru yang bergerak bersama Auyang lain. Ay 56 Keempat, melepaskan pelukan. Tindakan melepaskan pelukan memberi ruang bagi otherness untuk tetap menjadi diri dan mempertahankan identitas mereka. Penulis melihat bahwa pandangan Volf ini sangat baik dalam upaya rekonsiliasi yang digaungkannya. Umat Kristen dalam pengalaman traumatis pasca kekerasan dan pengucilan terhadap identitas mereka, patut merespons itu dengan tindakan mengampuni sambil mengakui luka yang dimiliki, sebelum merengkuh mereka dalam kasih Allah. Akan tetapi, penulis melihat bahwa sulit bagi mereka yang memiliki luka terbuka untuk langsung mengampuni. Sebagaimana pertanyaan Jyrgen Moltmann yang dilayangkan pada Volf di bagian pengantar tentang mengampuni musuh. Bagaimana kita bisa mengampuni musuh, bila luka kita masih terbuka? Apalagi dalam konteks Kota Ambon yang bahkan untuk mengingat, menarasikan, dan mendengar percikan peristiwa sejenis saja, dapat membangkitkan luka yang menganga itu. Lantas, bagaimana mungkin dalam pemahaman akan salib dan kasih Allah Trinitas, sudah cukup bagi umat Kristen membangun relasi dan rekonsiliasi dalam pengampunan? Beberapa orang akan menganggap bahasa pengampunan bermasalah karena, menurut mereka, pengampunan, terutama jika diberikan sebelum keadilan ditegakkan, merupakan bentuk Auanugerah murahAy . heap grac. yang gagal meminta pertanggungjawaban pelaku atas tindakan mereka. Dari sudut pandang ini, pengampunan justru memberikan izin bagi pelaku untuk mengulangi 58 Sementara. Judith L. Herman berpendapat bahwa pencarian pengampunan sering kali berubah menjadi Ausiksaan kejam,Ay karena menjadi tujuan yang mustahil dicapai oleh korban. Ketika seseorang mengalami kekerasan yang dilakukan oleh sesama manusia, terkadang pengampunan menjadi sesuatu yang Ibid. , 142. Ibid. , 143. Ibid. , 144. Marie Fortune. AuForgiveness: The Last Step,Ay dalam Violence Against Women and Children, ed. oleh Continuum (New York, 1. , 201Ae6. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. terlalu sulit. 59 Oleh sebab itu, penulis menawarkan pandangan Rambo tentang Aumiddle spaceAy sebagai sebuah pendekatan dalam menghadapi trauma. Ruang ini merupakan tempat bagi mereka yang mengalami luka untuk mengakui dan AumerayakanAy penderitaan itu. Teori Rambo: Menyediakan Ruang. Merawat Luka yang Tersisa Rekonsiliasi yang ideal dan berbasis pemulihan trauma, tidak hanya menuntut tindakan pengampunan, tetapi juga memberikan ruang bagi pemulihan dan pengakuan atas luka yang dialami. Lakawa dalam tulisannya menegaskan bahwa rekonsiliasi tidak secara otomatis menyembuhkan trauma. Rekonsiliasi mengembalikan hubungan antar agama yang terbuka dan damai, tetapi hal itu tidak langsung menghapuskan trauma yang mengakar. Oleh sebab itu, kesadaran ini perlu diperhatikan agar gereja tidak tergesa-gesa menuntut penyembuhan tanpa menyediakan ruang aman untuk menampung luka. Shelly Rambo mengkritisi pemahaman trauma yang terlalu menekankan pada pemulihan atau resolusi yang tuntas, dan sebaliknya, menyoroti pengalaman bertahan hidup dalam kondisi yang belum sepenuhnya pulih atau teratasi. Baginya, trauma sebagai penderitaan yang tersisa dan tidak kunjung pergi harus menjadi Teologi, dalam hal ini juga komunitas iman seperti gereja, perlu menemukan bahasa dan praktik yang mendukung mereka yang hidup dalam ketegangan antara luka dan harapan, tanpa memaksakan akhir yang terlalu cepat. Rambo menawarkan Aumiddle spaceAy yaitu ruang di antara kematian dan kebangkitan, sebuah fase transisi yang ditandai oleh keberadaan penderitaan yang belum selesai namun masih menyimpan kemungkinan hidup. 61 Ia menggambarkan ini melalui metafora Sabtu Suci, yaitu hari antara kematian Yesus (Jumat Agun. dan kebangkitan-Nya (Minggu Paska. Secara analogis. Aumiddle spaceAy dalam konteks Ambon dapat dilihat dalam situasi pascakonflik di mana umat Muslim dan Kristen telah berhenti saling menyerang, tetapi luka-luka batin, ketakutan, dan kecurigaan masih terasa kuat. Ini tercermin dalam keterpisahan spasial . ermukiman yang homogen secara agam. , interaksi yang terbatas, dan memori tentang kekerasan yang masih sering muncul dalam wacana dan tindakan sosial. AuMiddle spaceAy di sini adalah ruang transisi di mana masyarakat belum sepenuhnya pulih, tetapi juga tidak sepenuhnya terjebak Judith Lewis Herman. Trauma and Recovery (New York: BasicBooks, 1. , 190. Lakawa. Kemurahatian dan Trauma: Imajinasi Baru Misi Kristiani, 135Ae36. Rambo. Spirit and Trauma: A Theology of Remaining, 17. Ibid. , 48. Antara Penderitaan yang Tersisa, . (Lidya Patt. A(Petrus Yuniant. Mereka hidup dalam ketegangan antara upaya membangun relasi . an Santy Sahartia. memori lama. Ruang ini bukan hanya bersifat fisik, tetapi juga emosional dan spiritual. Menurut Rambo, yang berada dalam Aumiddle spaceAy adalah para penyintas, yakni individu dan komunitas yang tidak dapat kembali ke kondisi AunormalAy sebelum trauma, tetapi juga belum sampai pada titik pemulihan yang utuh. 63 Dalam konteks Ambon, mereka adalah para ibu yang kehilangan anak, anak-anak yang tumbuh dengan ingatan tentang kekerasan, pemimpin agama yang mencoba menengahi ketegangan, dan generasi muda yang mewarisi memori kolektif 64 Mereka bergulat di antara harapan untuk hidup berdampingan dan rasa takut akan luka lama yang bisa muncul kembali kapan saja. 65 Dalam perspektif ini, peran gereja bukan sekadar menjadi aktor rekonsiliatif normatif, tetapi menjadi pelayan Aumiddle spaceAy yakni ruang yang memelihara memori, mengakui luka, dan mendampingi umat untuk menemukan arah secara perlahan. Dengan pendekatan ini, komunitas Kristen dan gereja di Ambon dapat memainkan peran penting sebagai Auaktor kolektifAy dan Aukelompok pembawaAy 66 dalam menyediakan ruang aman bagi para penyintas untuk mengenang, mengolah, dan menarasikan pengalaman mereka, tanpa tekanan untuk langsung memaafkan atau melupakan. Bila Alexander menandaskan Auaktor kolektifAy dan Aukelompok pembawaAy sebagai pemberi makna dan mengonstruksi narasi baru. 67 Dalam teologi Rambo, penulis mengindikasi proses dan peran ini sebagai penyaksian. Oleh sebab itu, inisiatif seperti forum lintas-agama, liturgi pengakuan luka, dan ruang kesaksian dapat menjadi praktik konkrit yang memungkinkan masyarakat bertahan di tengah ketegangan dan pada saat yang sama merawat harapan, dapat menjadi Auruang tengahAy untuk menarasikan dan menyaksikan 69 Ruang ini, memberi kesempatan untuk mengakui luka, memulihkan relasi, dan terbuka kepada yang lain. Dalam kerangka ini, penyembuhan dan Ibid. Tahamata. Tampake, dan Supratikno. AuTeologi Trauma Berbasis Budaya Orang Basudara Bagi Korban Konflik Komunal. Ay Iwamony dan Relmasira. AuRekonsiliasi Sebagai Proses Bersama Menyembuhkan Luka Sejarah Islam Kristen di Kota Ambon,Ay 11Ae12. Alexander. Trauma: A Social Theory, 16. Ibid. , 16Ae17. Rambo. Spirit and Trauma: A Theology of Remaining, 15,22. and Onno van der Hart van der Kolk. Bessel A. Alexander C. McFarlane. AuA General Approach to Treatment of Posttraumatic Stress Disorder,Ay dalam Traumatic Stress: The Effects of Overwhelming Experience on Mind. Body, and Society, ed. oleh and Lars Weisaeth Van der Kolk. BesselA. Alexander C. McFarlane (New York: The Guilford Press, 1. , 430Ae31. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. rekonsiliasi tidak dipaksakan sebagai Auhasil akhir,Ay tetapi dijalani sebagai proses spiritual yang penuh kejujuran, pengakuan, dan solidaritas. Ruang Transformatif Sebagai Ruang Antara AuPenderitaan yang TersisaAy dan AuRengkuhan yang TerbukaAy Dalam upaya membangun rekonsiliasi yang otentik di Ambon pasca-konflik, penting untuk mengakui bahwa pemulihan tidak berjalan dalam garis lurus dari luka menuju kesembuhan. Seperti yang dikemukakan Shelly Rambo, trauma menyisakan penderitaan yang tidak kunjung pergi, dan penyintas sering kali berada dalam Auruang antara. Ay 70 Ruang ini perlu dihargai sebagai tempat bertahan, mengenang, dan merengkuh berlangsung secara simultan. Gagasan Auruang antaraAy ini juga sejalan dengan pemikiran Volf tentang pentingnya embrace sebuah tindakan yang tidak menghapus identitas atau pengalaman luka, tetapi justru menghargainya dalam proses penerimaan terhadap yang lain. 72 Dalam kerangka ini. Alexander juga mengingatkan bahwa upaya rekonsiliasi dan pengampunan hanya dapat terjadi bila luka diakui dan dihadirkan dalam wacana publik, bukan ditekan atau dipercepat untuk dilupakan. 73 Oleh sebab itu, rekonsiliasi berbasis pemulihan trauma harus berakar pada ruang yang memungkinkan luka didengar, disaksikan, dan dinarasikan, sembari tetap membangun jembatan menuju perjumpaan dengan yang berbeda. Dalam konteks Ambon. Auruang antaraAy ini dapat direalisasikan dalam bentuk Auruang transformatif,Ay yakni ruang-ruang fisik dan simbolik yang memediasi antara penderitaan masa lalu dan harapan akan masa depan yang damai. Salah satu bentuk konkret dari ruang transformatif ini adalah upaya memaknai ulang situs-situs yang menjadi saksi konflik seperti Gereja Silo dan Tugu Trikora. Gereja Silo, yang pernah dibakar saat konflik 1999, 74 dapat dimaknai ulang sebagai ruang antara, tempat perjumpaan antara memori kekerasan dan pengharapan akan rekonsiliasi. Demikian pula Tugu Trikora, yang selama ini menjadi lokasi terjadinya konflik, dapat dijadikan tempat ziarah damai dan refleksi lintas-iman atas dampak kekerasan yang berulang. Rambo. Spirit and Trauma: A Theology of Remaining, 35,37. Ibid. , 40. Volf. Exclusion and Embrace: A Theological Exploration of Identity. Other-ness, and Reconciliation, 126. Constantineanu. AuExclusion and Embrace : Reconciliation in the Works of Miroslav Volf,Ay Lindawaty. AuKonflik Ambon: Kajian Terhadap Beberapa Akar Permasalahan dan Solusinya,Ay 281Ae82. Antara Penderitaan yang Tersisa, . (Lidya Patt. A(Petrus Yuniant. Makna ini menggemakan pendekatan yang dilakukan di Duma, sebagaimana ( Santy Sahartia. Gereja dan rumah doa yang rusak akibat kekerasan dijadikan oleh Lakawa. situs tambahan pasca kekerasan yang menghubungkan arsitektur, identitas, dan memori kolektif. 75Pengalaman Duma menunjukkan bahwa pemaknaan ulang ruang secara simbolik dapat menjadi media penting untuk menyatukan pengalaman penderitaan dengan spiritualitas pemulihan. 76 Inilah yang perlu diadopsi di Ambon suatu proses teologis dan sosial yang menjadikan tempat-tempat luka sebagai situs kesaksian dan transformasi. Lebih jauh lagi, inisiatif-inisiatif seperti Gerakan Perempuan Peduli yang mengadakan workshop lintas-iman bagi para perempuan korban konflik, memperlihatkan bagaimana perjumpaan yang jujur, terbuka, dan penuh empati bisa terjadi ketika ruang aman diciptakan. Dalam ruang seperti ini, pengalaman trauma dapat dibagikan secara kolektif, air mata menjadi saksi penderitaan yang tersisa, dan pelukan menjadi bahasa pertama rekonsiliasi. 77 Gereja dipanggil bukan hanya untuk berkhotbah tentang pengampunan, tetapi menyediakan struktur sosial dan spiritual bagi pengolahan luka yang masih hidup. Dengan berulang kali menceritakan trauma, para penyintas dapat secara perlahan mengendalikan bagaimana mereka melihat dan memahami peristiwa tersebut, sehingga memungkinkan mereka untuk melanjutkan hidup dengan lebih percaya diri78 dan terbuka terhadap Auyang berbeda. Ay Selain ruang-ruang sakral, monumen Gong Perdamaian Dunia dan Lapangan Merdeka juga memiliki potensi besar sebagai tempat publik untuk membangun memori kolektif yang menyembuhkan. Monumen tersebut bukan sekadar objek wisata atau simbol pasif, sebagaimana percakapan penelitian di masa kini,79 tetapi bisa dimaknai sebagai tempat ritus perdamaian tahunan yang menyatukan komunitas lintas iman dalam ritual pengingatan dan pengharapan. Seperti halnya di Lakawa. Kemurahatian dan Trauma: Imajinasi Baru Misi Kristiani, 194Ae95. Ibid. , 189. Iwamony dan Relmasira. AuRekonsiliasi Sebagai Proses Bersama Menyembuhkan Luka Sejarah Islam Kristen di Kota Ambon,Ay 706. Susan Brison. Aftermath: Violence and the Remaking of a Self (Princeton: Princeton University, 2. , 54. Fitriavni Atamimi. Jusuf Madubun, dan Atikah Khairunnisa. AuStrategi Dinas Parawisata Provinsi Maluku Dalam Meningkatkan Kunjungan Wisata,Ay Journal of Government Science Studies 3, no. : 22Ae34, doi:10. 30598/jgssvol3issue1page22-34. August Johannes Ricolat Ufie. AuRuang Publik sebagai Tempat Wisata Kaum Milenial Kota Ambon,Ay Media Wisata 19, no. : 11Ae21, doi:10. 36276/mws. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. Duma yang merayakan 19 Juni sebagai hari ziarah damai. Ambon dapat merancang perayaan bersama yang menandai perjalanan dari konflik menuju solidaritas. Dengan demikian, ruang antara Aupenderitaan yang tersisaAy dan Aurengkuhan yang terbukaAy adalah ruang yang: Pertama. Mengakui trauma sebagai realitas yang masih hidup, bukan hanya sebagai masa lalu yang harus dilupakan. Kedua. Menawarkan tempat-tempat konkret dan simbolik bagi proses pemulihan dan perjumpaan lintas-iman. Ketiga. Memelihara kesetiaan kepada memori luka, tanpa terjebak dalam dendam yang memicu kekerasan. Keempat. Membangun harapan melalui praktik sosial dan spiritual, yang tidak memaksa rekonsiliasi, tetapi membukanya sebagai kemungkinan yang inkremental dan manusiawi. Gereja dipanggil untuk menjadi pelayan di ruang ini bukan sebagai institusi yang mengontrol narasi trauma dan pengampunan, melainkan sebagai fasilitator kehadiran Allah di tengah kesunyian Sabtu Suci, tempat di mana penderitaan belum berlalu, tetapi kehidupan baru perlahan muncul dari reruntuhannya. Simpulan Trauma kolektif pascakonflik di Ambon masih hidup dalam memori sosial, identitas keagamaan, dan simbol-simbol publik yang terus mengaktifkan luka masa Hal ini tampak jelas dalam peristiwa kekerasan tahun 2011 dan 2025 yang merefleksikan belum selesainya trauma dari konflik 1999. Upaya rekonsiliasi yang selama ini berjalan cenderung formal dan belum menyentuh kedalaman penderitaan yang belum diakui dapat dikembangkan melalui pengintegrasian gagasan dari tiga teolog ini. Melalui pendialogkan teori Jeffrey C. Alexander. Shelly Rambo, dan Miroslav Volf, artikel ini menghasilkan pendekatan rekonsiliasi berbasis pemulihan trauma yang tidak mengharuskan pengampunan instan, melainkan membuka ruang Ruang ini merupakan sebuah Auruang antara,Ay tempat luka didengar, diolah, dan direspons secara jujur. Ruang transformatif memelihara memori tanpa terjebak pada dendam, menampung penderitaan tanpa menutup peluang harapan, dan memberi waktu bagi penyintas untuk bergulat di tengah ketegangan antara kehilangan dan penghidupan kembali. Dalam konteks Ambon, ruang ini dapat direalisasikan melalui reposisi situs-situs bersejarah seperti Gereja Silo. Tugu Trikora, dan Gong Perdamaian Dunia, yang ditafsir ulang bukan hanya sebagai jejak konflik, tetapi juga sebagai tempat ziarah damai lintas-iman. Lebih jauh, ruang transformatif juga dapat diwujudkan melalui inisiatif masyarakat seperti forum kesaksian, liturgi pengakuan luka, dan perjumpaan lintas agama yang Lakawa. Kemurahatian dan Trauma: Imajinasi Baru Misi Kristiani, 206-207,213. Antara Penderitaan yang Tersisa, . (Lidya Patt. A(Petrus Yuniant. bagi pengalaman traumatis untuk dibagikan, dimaknai ulang, dan ( Santy Sahartia. solidaritas yang belajar untuk berdamai dari luka dan membuka ruang bagi Auyang berbeda. Ay Dengan demikian, artikel ini tidak hanya membaca ulang pengalaman Ambon, tetapi juga memperkenalkan ruang transformatif sebagai kerangka teologis baru dalam studi trauma dan rekonsiliasi di Indonesia. Konsep ini dapat dipakai secara lebih luas dalam konteks masyarakat pascakonflik lain sekaligus memperkaya diskursus teologi trauma global dengan perspektif lokal Indonesia. Daftar Pustaka