Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 3. July 2025. Page, 129-140 Email: nurasjournal@gmail. PENINGKATAN KEMAMPUAN PUBLIC SPEAKING BAHASA INGGRIS BAGI MAHASISWA PASCASARJANA Arif Alexander Bastian1*. Defy Gustianing2. Eka Pratiwi Yunianti3. Septika Ariyanti4. Siti Saidah5, & Dyah Fitri Mulati6 1,2,3,4,&6 Program Studi S1 Pendidikan Bahasa Inggris. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Aisyah Pringsewu. Jalan Ahmad Yani Nomor 1A. Pringsewu. Lampung 35372. Indonesia Program Studi D4 Keperawatan Anestesiologi. Fakultas Kesehatan. Universitas Aisyah Pringsewu. Jalan Ahmad Yani Nomor 1A. Pringsewu. Lampung 35372. Indonesia *Email: arifalexander1@gmail. Submit: 18-06-2025. Revised: 27-06-2025. Accepted: 28-06-2025. Published: 04-07-2025 ABSTRAK: Kemampuan public speaking Bahasa Inggris merupakan keterampilan penting yang perlu dimiliki oleh mahasiswa pascasarjana, terutama dalam menghadapi forum akademik internasional, seperti seminar, konferensi, maupun kegiatan residensi global. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan public speaking Bahasa Inggris mahasiswa pascasarjana Universitas Aisyah Pringsewu, khususnya dari program studi S2 Kebidanan dan S2 Keperawatan. Program dilaksanakan secara daring selama delapan minggu melalui serangkaian pelatihan yang mencakup teori dasar komunikasi, teknik presentasi, latihan berbicara di depan umum, serta simulasi konferensi akademik. Metode pelaksanaan meliputi identifikasi kebutuhan peserta, penyusunan modul ajar, pemberian materi, praktik individu dan kelompok, serta sesi umpan balik. Hasil pada pengabdian masyarakat terkait pelatihan public speaking adalah peningkatan kemampuan komunikasi lisan mahasiswa sebesar 11,9% berdasarkan hasil evaluasi pre-test dan post-test. Selain itu, luaran yang dihasilkan dalam pelatihan ini adalah tersusunnya modul pelatihan, serta publikasi artikel ilmiah. Kegiatan ini tidak hanya memberikan dampak kognitif, tetapi juga membekali peserta dengan kepercayaan diri agar lebih siap mengikuti konferensi internasional, pertukaran pelajar, atau kolaborasi riset global yang berkontribusi pada citra akademik institusi di tingkat internasional. Kata Kunci: Bahasa Inggris. Komunikasi Internasional. Mahasiswa Pascasarjana. Pelatihan. Public Speaking. ABSTRACT: English public speaking skills are important skills that postgraduate students need to have, especially in facing international academic forums, such as seminars, conferences, and global residency activities. This community service activity aims to improve the English public speaking skills of postgraduate students at Aisyah Pringsewu University, especially from the Master of Midwifery and Master of Nursing study programs. The program is implemented online for eight weeks through a series of trainings that include basic communication theories, presentation techniques, public speaking exercises, and academic conference simulations. The implementation method includes identifying participant needs, compiling teaching modules, providing materials, individual and group practices, and feedback sessions. The results of community service related to public speaking training are an increase in students' oral communication skills by 11. 9% based on the results of pre-test and post-test evaluations. In addition, the outputs produced in this training are the preparation of training modules, and the publication of scientific articles. This activity not only provides cognitive impacts, but also equips participants with the confidence to be better prepared to participate in international conferences, student exchanges, or global research collaborations that contribute to the academic image of the institution at the international level. Keywords: English. International Communication. Postgraduate Students. Training. Public Speaking. Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 3. July 2025. Page, 129-140 Email: nurasjournal@gmail. How to Cite: Bastian. Gustianing. Yunianti. Ariyanti. Saidah. , & Mulati. Peningkatan Kemampuan Public Speaking Bahasa Inggris bagi Mahasiswa Pascasarjana. Nuras Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 5. , https://doi. org/10. 36312/nuras. Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat is Licensed Under a CC BY-SA Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. PENDAHULUAN Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang pesat telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan, bisnis, dan dunia profesional. Salah satu keterampilan yang menjadi semakin penting dalam era global ini adalah kemampuan public speaking, terutama dalam Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional. Keterampilan ini sangat krusial dalam berbagai konteks, mulai dari presentasi akademik, seminar, diskusi, hingga interaksi profesional di tingkat global. Berbicara di depan umum sering dianggap sebagai kemampuan yang mudah dikuasai, namun pada kenyataannya, public speaking memerlukan penguasaan teknik komunikasi, pengendalian emosi, serta latihan yang terstruktur. Menurut Dewi & Safnowandi . dan Yulian . , public speaking merupakan bagian dari functional communicative skills yang wajib dimiliki oleh setiap individu agar mampu menyampaikan pesan secara efektif di hadapan publik. Zainal . menambahkan bahwa public speaking adalah kompetensi multidimensi yang menggabungkan unsur sains, keterampilan, seni, dan karakter. Gyvendir et al. juga menegaskan pentingnya keterampilan ini dalam menunjang kepercayaan diri, memperkuat komunikasi, dan membuka peluang karier Meskipun demikian, berbagai penelitian menunjukkan bahwa masih banyak mahasiswa, khususnya di tingkat pascasarjana yang mengalami kesulitan dalam komunikasi lisan berbahasa Inggris. Tantangan yang sering dihadapi antara lain adalah rendahnya kepercayaan diri, minimnya praktik, serta kurangnya paparan terhadap lingkungan berbahasa Inggris. Lebih lanjut, observasi dari dosen pengampu mata kuliah presentasi atau seminar menyebutkan bahwa banyak mahasiswa masih bergantung pada teks tertulis saat presentasi, menunjukkan keterbatasan dalam struktur kalimat lisan, serta kurang menguasai ekspresi dan transisi alami dalam berbicara. Seperti yang telah dipaparkan oleh Nurjannah . , sekitar 78% mahasiswa tingkat akhir di Indonesia merasa kurang percaya diri saat harus berbicara dalam Bahasa Inggris, terutama dalam konteks akademik. Hal ini menjadi hambatan signifikan dalam kesiapan mereka mengikuti forum akademik internasional, seperti seminar, konferensi, hingga program residensi Di sisi lain, beberapa pelatihan public speaking sebelumnya cenderung berfokus pada aspek teoretis tanpa memberikan pengalaman praktik yang cukup intensif dan relevan dengan kebutuhan akademik mahasiswa di era global. Kebaruan ilmiah dari program ini terletak pada pengembangan model pelatihan public speaking Bahasa Inggris yang tidak hanya berbasis teori komunikasi, tetapi juga menekankan pada praktik interaktif, kesadaran budaya Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 3. July 2025. Page, 129-140 Email: nurasjournal@gmail. internasional, serta kesiapan menghadapi konteks residensi akademik global dengan mengimplementasikan performance-based assessment. Pelatihan ini mengintegrasikan teknik presentasi, penggunaan ekspresi formal, dan etiket budaya dalam sesi yang aplikatif dan berbasis umpan balik, sehingga peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi mampu mengimplementasikannya secara langsung. Berdasarkan hal tersebut, permasalahan pengabdian yang ingin dijawab melalui kegiatan ini adalah, bagaimana mengimplementasikan pelatihan yang efektif untuk meningkatkan kemampuan public speaking Bahasa Inggris bagi mahasiswa pascasarjana, khususnya yang akan mengikuti program residensi Dengan demikian, tujuan dari kajian artikel ini adalah untuk mendeskripsikan proses dan hasil dari pelatihan public speaking Bahasa Inggris yang dirancang untuk mahasiswa pascasarjana Universitas Aisyah Pringsewu, serta mengevaluasi efektivitas program dalam meningkatkan keterampilan komunikasi lisan mereka di forum akademik dan profesional internasional. METODE Jenis dan Alur Pengabdian Jenis kegiatan pengabdian ini termasuk dalam kategori pelatihan penguatan kapasitas keterampilan komunikasi akademik internasional bagi mahasiswa Jumlah peserta dalam pelatihan ini adalah sebanyak 15 mahasiswa pascasarjana yang akan melaksanakan kunjungan akademik ke luar negeri. Waktu pelaksanaan pelatihan dimulai pada bulan September, dan berakhir pada bulan Oktober 2024. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif dan berbasis praktik langsung . xperiential learnin. yang bertujuan meningkatkan keterampilan secara komprehensif melalui siklus belajar, praktik, dan refleksi. Alur pengabdian ini terdiri dari tiga tahapan utama, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan Masing-masing tahapan dirancang untuk saling mendukung dalam mencapai tujuan peningkatan kemampuan public speaking dalam Bahasa Inggris. Gambar 1. Alur Pelaksanaan Kegiatan Pengabdian Public Speaking Bahasa Inggris. Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 3. July 2025. Page, 129-140 Email: nurasjournal@gmail. Tahapan Kegiatan Pengabdian Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan secara sistematis dalam dua tahap utama, yaitu tahap persiapan dan tahap pelaksanaan pelatihan. Masing-masing tahap dirancang untuk mengembangkan kompetensi public speaking mahasiswa dalam konteks akademik internasional, khususnya dalam Bahasa Inggris. Tahap Persiapan Pada tahap awal, dilakukan identifikasi kebutuhan peserta melalui survei untuk menggali informasi mendalam terkait latar belakang, pengalaman berbicara di depan umum, serta kendala yang dihadapi mahasiswa dalam menggunakan Bahasa Inggris secara aktif. Hasil survei ini menjadi dasar penyusunan materi yang relevan dan kontekstual. Selanjutnya, penyusunan modul pelatihan dilakukan oleh tim pengabdi dengan mencakup beberapa aspek penting. Modul ini berisi teori dasar komunikasi dan public speaking, teknik menyusun serta menyampaikan presentasi akademik dalam Bahasa Inggris, pemahaman terhadap etika komunikasi internasional, serta kesadaran lintas budaya. Tak hanya materi teori, modul ini juga dilengkapi dengan latihan-latihan praktis dan lembar evaluasi diri yang akan memudahkan peserta dalam mengukur perkembangan keterampilan mereka. Tahap Pelaksanaan Pelatihan Pelatihan diawali dengan sesi pembukaan yang bertujuan memberikan orientasi umum mengenai pentingnya keterampilan public speaking dalam dunia akademik global. Dalam sesi ini juga disampaikan jadwal kegiatan serta harapan terhadap output dan kontribusi peserta selama pelatihan. Materi dasar kemudian diberikan dalam dua fokus utama. Pertama adalah teori public speaking yang membahas pentingnya kontak mata, pengelolaan intonasi suara, serta teknik mengatasi rasa gugup. Kedua. Bahasa Inggris untuk presentasi akademik yang meliputi penyusunan kalimat efektif, penggunaan kosakata akademik, struktur penyampaian yang runtut dan logis, serta ekspresi formal yang sering digunakan dalam forum ilmiah, seperti seminar dan konferensi. Untuk memperkuat pemahaman dan kemampuan praktis, dilakukan simulasi dan latihan, baik secara individu maupun kelompok. Mahasiswa diminta menyampaikan mini-speech di depan kelompok kecil yang kemudian direkam dan dianalisis bersama. Selain itu, diselenggarakan simulasi konferensi akademik, dimana peserta mempresentasikan topik atau penelitian mereka secara formal, lengkap dengan sesi tanya jawab. Pelatihan diakhiri dengan sesi umpan balik, dimana tim pelatih, narasumber, serta peserta lain memberikan masukan konstruktif berdasarkan rubrik penilaian yang telah disusun. Rubrik penilaian terdiri dari beberapa indikator dalam penilaian berbicara, seperti pronunciation, grammar, vocabulary, fluency, dan Masing-masing indikator tersebut memiliki nilai skala 1-5. Diskusi terbuka dilakukan untuk menggali kekuatan dan area perbaikan dari setiap peserta, sehingga proses pembelajaran menjadi reflektif dan berkelanjutan. Metode yang Digunakan Kegiatan ini dilaksanakan dengan pendekatan terpadu yang menggabungkan beberapa metode pembelajaran aktif. Participatory training diterapkan untuk mendorong partisipasi aktif peserta selama sesi pelatihan. Participatory learning adalah pendekatan pembelajaran yang menempatkan peserta Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 3. July 2025. Page, 129-140 Email: nurasjournal@gmail. didik sebagai subjek aktif dalam proses belajar (Dara & Kesavan, 2. Metode ini menekankan partisipasi langsung, kolaborasi, refleksi kritis, dan pengambilan keputusan bersama. Dalam participatory learning, proses belajar tidak bersifat satu arah . eacher-centere. , melainkan berbasis dialog dan pengalaman nyata yang dibawa oleh peserta. Melalui experiential learning, peserta belajar secara langsung dari praktik dan refleksi atas pengalaman mereka. Selain itu, peer feedback digunakan sebagai strategi untuk membangun kepercayaan diri dan kemampuan evaluatif melalui umpan balik antar peserta. Evaluasi keterampilan dilakukan secara nyata melalui performance-based assessment, yaitu penilaian berbasis kinerja dalam simulasi berbicara langsung. Penilaian berbasis kinerja . erformance-based assessmen. muncul dari teknik tradisional untuk menguji kemampuan mahasiswa. Dengan demikian, yang memiliki dampak langsung pada kinerja mahasiswa disebut sebagai nilai akademik umum mahasiswa, kemudian PBA bertanggung jawab dalam mengembangkan dan meningkatkan kinerja siswa secara keseluruhan (Salendab & Dapitan, 2. HASIL DAN DISKUSI Kegiatan pengabdian ini berhasil dilaksanakan secara daring melalui delapan sesi pelatihan yang terbagi selama bulan September hingga Oktober 2024. Adapun peserta yang mengikuti pelatihan adalah mahasiswa pascasarjana dari Program Studi S2 Kebidanan dan S2 Keperawatan Universitas Aisyah Pringsewu dengan jumlah 15 peserta. Adapun metode pelatihan public speaking yang digunakan ini adalah dengan metode 70:30 dari Steny Agustaf, dimana 70% materi pelatihan adalah praktek dan 30% sisanya adalah teori. Metode ini menitik beratkan kepada praktik untuk memperkuat skill public speaking dibanding hanya pemberian teori semata. Materi yang diberikan pada saat pelaksanaan pelatihan dibagi menjadi 8 kali pertemuan dengan pembagian materi yang tertera pada Tabel 1. Tabel 1. Daftar Materi. No. Kegiatan Meeting 1 - Introduction and Small Talk Meeting 2 - Cultural Etiquette Meeting 3 - Language Expression. Oral Presentation Meeting 4 - Practice. Oral Presentation Meeting 5 - Language Expression. Asking and Giving Opinion Meeting 6 - Vocabulary for International Setting Meeting 7 - Public Speaking Meeting 8 - Comprehension Review Pertemuan pertama, kegiatan dilaksanakan pada tanggal 20 September Selama pertemuan pertama, para peserta menunjukkan kurangnya rasa percaya diri dan rasa malu yang nyata. Banyak yang ragu untuk berbicara, sering kali menghindari kontak mata dan menanggapi dengan singkat. Suasananya ditandai oleh rasa khawatir, karena para peserta tampak tidak yakin pada diri mereka sendiri dan enggan untuk terlibat dalam diskusi terbuka. Keraguan awal ini tampaknya berasal dari ketidaktahuan terhadap dinamika kelompok dan rasa takut dihakimi, yang mengakibatkan interaksi yang lebih tenang dan lebih tertutup di antara para peserta. Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 3. July 2025. Page, 129-140 Email: nurasjournal@gmail. Gambar 2. Pertemuan Pertama secara Daring. Pertemuan pertama menunjukkan bahwa kepercayaan diri peserta meningkat seiring paparan berulang terhadap situasi komunikasi nyata dalam Bahasa Inggris. Hal ini sesuai dengan teori self-efficacy dari Lippke . yang menjelaskan bahwa pengalaman langsung . nactive mastery experienc. merupakan sumber utama dalam membangun keyakinan diri seseorang terhadap kemampuan spesifiknya. Awalnya, peserta menunjukkan rasa malu dan takut untuk berbicara, namun secara bertahap mereka mulai aktif, bersuara, dan menanggapi diskusi pada sesi-sesi selanjutnya. Pertemuan kedua dilaksanakan pada 21 September 2024. Pada pertemuan ini, para peserta menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam hal kepercayaan diri dan keterlibatan. Mereka mulai berbicara lebih aktif, menunjukkan minat yang tulus dalam diskusi, khususnya pada topik kebiasaan dan budaya di Thailand. Rasa malu yang awalnya ada, sebagian besar telah hilang, dan para peserta lebih bersedia untuk berbagi pikiran, mengajukan pertanyaan, dan berkontribusi dalam Topik tersebut tampaknya menarik bagi mereka, memicu diskusi yang hidup, dan suasana yang lebih interaktif secara keseluruhan. Gambar 3. Pertemuan Kedua secara Daring. Pada pertemuan ketiga yang dilaksanakan pada tanggal 27 September 2024, mahasiswa diberikan materi tentang presentasi lisan. Materi ini dibuat sebagai persiapan mahasiswa untuk mengikuti konferensi internasional. Berdasarkan pengalaman mahasiswa, mereka belum pernah melakukan presentasi dalam Bahasa Inggris di seminar atau konferensi. Pada pertemuan ini, mahasiswa belajar bagaimana mengorganisasikan presentasi mulai dari pendahuluan, isi, dan Di akhir pertemuan, mahasiswa diminta untuk membuat presentasi lisan mini berdasarkan organisasi yang telah dipelajari sebelumnya. Presentasi ini bertujuan untuk mengukur pemahaman mahasiswa terhadap dinamika organisasi. Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 3. July 2025. Page, 129-140 Email: nurasjournal@gmail. Gambar 4. Pertemuan Ketiga secara Daring. Pada 28 September 2024, dilaksanakan sesi pertemuan keempat dengan memberikan materi tentang oral presentation. Oral presentation dapat didefinisikan sebagai penampilan lisan tentang topik-topik tertentu yang sudah dipilih (Ho et al. , 2. Hal ini bisa disampaikan secara mandiri maupun berkelompok tergantung pada tujuan akademisnya. Pada pertemuan ini, para peserta melakukan presentasi dan menunjukkan organisasi tertulis dari presentasi Karena mereka tidak terbiasa tampil dalam Bahasa Inggris, beberapa mahasiswa masih merasa gugup dan sulit mengucapkan kata-kata dengan benar. Setelah setiap mahasiswa mempresentasikan tugas mereka, tutor mengoreksi pengucapan mereka, dan juga memberikan beberapa saran untuk presentasi yang lebih baik. Gambar 5. Pertemuan Keempat secara Daring. Selanjutnya, pada pertemuan kelima yang dilaksanakan pada 3 Oktober 2024, peserta diberikan materi tentang meminta dan memberi pendapat . ngkapan Pada sesi ini, mahasiswa belajar untuk meminta dan memberi pendapat dengan menggunakan frasa yang tepat dan benar. Meskipun mahasiswa sering menggunakan frasa tersebut, mereka harus memahami sepenuhnya Mahasiswa diberi kesempatan untuk mempraktikkan frasafrasa tersebut melalui kelompok kecil. Dalam kegiatan ini, mereka diminta untuk membahas sebuah topik tertentu dan saling bertukar pendapat dengan memperhatikan struktur bahasa yang sesuai. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kefasihan terhadap konteks penggunaan bahasa. Di akhir pertemuan, mahasiswa diberikan contoh dialog yang menunjukkan penggunaan ungkapan bahasa untuk meminta dan memberi pendapat. Mereka kemudian diminta untuk membuat dialog berdasarkan tema yang diberikan terkait kesehatan reproduksi. Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 3. July 2025. Page, 129-140 Email: nurasjournal@gmail. Gambar 6. Pertemuan Kelima secara Daring. Pertemuan keenam, mahasiswa mempresentasikan dialog yang telah mereka buat berdasarkan tema yang dipilih. Pertemuan ini dilaksanakan pada 4 Oktober 2024 yang diikuti oleh 15 peserta. Sebagian besar mahasiswa masih merasa malu dan khawatir berbicara dalam Bahasa Inggris selama presentasi. akhir pertemuan, tutor mengoreksi beberapa ketidakakuratan dalam kalimat mereka, dan membantu pengucapan Bahasa Inggris yang benar. Gambar 7. Pertemuan Keenam secara Daring. Selanjutnya, pertemuan ketujuh pada 10 Oktober 2024, mahasiswa diberikan pengetahuan tentang tips dan trik berbicara di depan umum, serta penambahan unsur-unsur apa saja yang ada dalam berbicara di depan umum, dan mahasiswa bercerita tentang pengalaman mereka berbicara di depan umum dalam kegiatan pekerjaan atau sosialisasi dengan menggunakan unsur-unsur berbicara apa saja dan apa saja kendala yang terjadi, sehingga pada sesi ini terdapat sesi berbagi pengalaman yang ingin diungkapkan dan dapat dipelajari oleh seluruh mahasiswa. Gambar 8. Pertemuan Ketujuh secara Daring. Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 3. July 2025. Page, 129-140 Email: nurasjournal@gmail. Sesi terakhir pelatihan public speaking dilaksanakan pada 11 Oktober 2024. Pada pertemuan ini, peserta diberikan pengetahuan tentang contoh cara berbicara di depan umum dengan berlatih secara mandiri. Mahasiswa menonton video contoh pemenang lomba berbicara di depan umum. Mahasiswa juga diberikan pertanyaan dan menjawab pertanyaan tersebut berdasarkan analisis data dari video yang Gambar 9. Pertemuan Kedelapan secara Daring. Berikut adalah hasil pemaparan nilai yang didapatkan peserta selama mengikuti pelatihan. Tabel 2. Hasil Speaking Pre-Test dan Speaking Post-Test. No. Kode Mahasiswa Speaking Pre-Test AVS ANA CAS DIP MKV MAS NKD NAM RWP RDP SDW SDK Rata-rata Speaking Post-Test Dari keseluruhan peserta, terdapat 10 mahasiswa . ,7%) yang menunjukkan peningkatan skor kemampuan speaking setelah mengikuti pelatihan. Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 3. July 2025. Page, 129-140 Email: nurasjournal@gmail. Misalnya, mahasiswa dengan kode AVS mengalami peningkatan skor yang signifikan dari 50 menjadi 70, demikian juga SDK dari 45 ke 65, serta DIP dari 75 Peningkatan ini mencerminkan adanya peningkatan kepercayaan diri, penguasaan materi, dan keterampilan berbicara dalam konteks akademik. Sementara itu, terdapat 5 mahasiswa . ,3%) yang tidak mengalami perubahan skor, seperti mahasiswa dengan kode CA. ANA. CAS. NKD, dan NAM yang skor pre-test dan post-test tetap. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kehadiran tidak penuh selama sesi pelatihan, kecemasan yang tinggi saat tampil, atau kurangnya latihan mandiri. Adapun skor tertinggi dicapai oleh mahasiswa DIP dan SDW yang keduanya berada pada angka 85 dan 75 setelah pelatihan, menunjukkan performa berbicara yang kuat dan relatif stabil. Secara keseluruhan, pelatihan ini berhasil meningkatkan kemampuan speaking mahasiswa. Peningkatan rata-rata sebesar 6,63 poin atau 11,9% menjadi indikator bahwa metode yang digunakan memiliki dampak positif. Ke depan, evaluasi lanjutan diperlukan untuk menyesuaikan metode pembelajaran bagi peserta yang belum menunjukkan kemajuan, seperti pemberian sesi mentoring, latihan individu, atau dukungan manajemen kecemasan saat berbicara. Selanjutnya, sesi umpan balik dari teman sejawat . eer feedbac. menjadi pendekatan yang sangat membantu peserta mengidentifikasi kelemahan tanpa merasa terintimidasi. Prinsip ini mendukung teori sociocultural learning dari Tudge & Scrimsher . yang menekankan pentingnya interaksi sosial dalam pembentukan kompetensi melalui Zone of Proximal Development (ZPD). Kolaborasi antarpeserta memungkinkan adanya perbaikan bertahap dalam pengucapan, penggunaan frasa akademik, serta pelafalan. Jika dibandingkan dengan pelatihan berbasis teori semata seperti pada penelitian Basri . , pendekatan praktikal 70:30 terbukti memberikan hasil lebih signifikan dalam aspek performatif. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis awal pengabdian, yakni bahwa metode praktik intensif akan lebih efektif dalam meningkatkan public speaking mahasiswa pascasarjana dalam konteks akademik internasional, karena terbukti secara empiris dan teoretis. Selain itu, hasil pelatihan ini juga sejalan dengan Pratiwi et al. yang menunjukkan bahwa kegiatan pengabdian kepada masyarakat memberikan manfaat bagi mahasiswa, karena peserta kegiatan ini memperoleh pengetahuan yang dapat digunakan untuk jenjang karier mereka di masa mendatang. Selain itu, kegiatan ini juga meningkatkan rasa percaya diri peserta dalam berbicara di depan umum dalam Bahasa Inggris, dan mereka dapat memperoleh umpan balik. Pelatihan ini memiliki keunggulan pada integrasi konteks internasional dan penerapan metode praktik intensif. Dengan demikian, hasil kegiatan ini mendukung hipotesis bahwa pendekatan pelatihan berbasis praktik dan simulasi, efektif dalam meningkatkan kemampuan public speaking mahasiswa pascasarjana di tingkat global. SIMPULAN Kegiatan pelatihan public speaking dalam Bahasa Inggris bagi mahasiswa pascasarjana Universitas Aisyah Pringsewu, berhasil dilaksanakan selama delapan sesi atau pertemuan secara daring. Pelatihan ini terbukti meningkatkan kemampuan komunikasi lisan mahasiswa, khususnya dalam konteks akademik internasional. Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 3. July 2025. Page, 129-140 Email: nurasjournal@gmail. SARAN Berdasarkan hasil pelatihan, terdapat beberapa saran untuk pengembangan ke depan. Pertama, pelatihan public speaking Bahasa Inggris perlu diintegrasikan ke dalam kurikulum pascasarjana agar penguatan komunikasi internasional menjadi bagian pembelajaran yang berkelanjutan. Kedua, pelatihan sebaiknya dikembangkan secara berjenjang, termasuk sesi lanjutan yang fokus pada debat akademik dan presentasi ilmiah. Selain itu, penyediaan language clinic untuk pendampingan individu dapat membantu peserta mengatasi kendala spesifik, seperti pengucapan dan kepercayaan Pelatihan juga perlu diperluas ke program studi lain dan melibatkan kerja sama antar perguruan tinggi untuk memperkaya pengalaman belajar. Terakhir, evaluasi jangka panjang dan penelitian lanjutan, penting dilakukan guna memastikan efektivitas dan keberlanjutan program pelatihan. UCAPAN TERIMA KASIH Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh tim pengabdian yang telah bekerja sama dan berkontribusi dalam pelaksanaan kegiatan ini. Sebagai hibah mandiri, program ini berjalan berkat inisiatif dan dukungan penuh dari tim, baik secara teknis maupun moril. Semoga kolaborasi ini menjadi langkah awal bagi kegiatan pengabdian selanjutnya yang lebih berdampak. REFERENSI