Volume 10 No. Page 38 Ae 44 e-ISSN: 2598-2095 DOI: doi. org/10. 35747/jcps https://journal. id/index. php/jcps/index Uji Antibakteri Sabun Cair Antiseptik Kombinasi Ekstrak Biji Pepaya dan Daun Sirih Merah terhadap Staphylococcus aureus Selvi Megawati1* Abstract Leny Marlina2 Staphylococcus aureus is a major pathogen responsible for various skin infections, and the prolonged use of synthetic antiseptics can lead to side effects such as skin irritation. Consequently, natural alternatives like papaya seeds (Carica papaya L. ) and red betel leaves (Piper crocatu. are being explored due to their secondary metabolit content. This study aimed to evaluate the antibacterial activity of liquid antiseptic soap formulated with a combination of papaya seed and red betel leaf extracts against Staphylococcus aureus. The extracts were obtained through macerations using 96% The soap was prepared in four formulations with varying extract concentrations: F0 . %). F1 . %). F2 . %), and F3 . %). Antibacterial activity was tested using the disk diffusion method. DettolA and distilled water served as positive and negative controls, respectively. Statistical analysis was performed using the Kruskal-Wallis test followed by the Mann-Whitney post hoc test. The extraction yield is 15. 021% for papaya seeds and 15. 060% for red betel leaves. All formulations show strong antibacterial activity, with mean inhibition zone diameters of 14. 57 mm (F. , 14. 73 mm (F. , 40 (F. , and 16. 17 mm (F. The Kruskal-Wallis test indicates significant differences among the groups . =0. The liquid antiseptic soap containing a combination of papaya seed and red betel leaf extracts is effective inhibiting the growth of Staphylococcus aureus. This combination holds significant potential as a natural active ingredient for commercial antiseptic soap products. Shinta Wulandari1 Diah Astika Winahyu2 1 Politeknik Negeri Lampung. Bandar Lampung. Lampung. Indonesia 2 Universitas Malahayati. Bandar Lampung. Lampung. Indonesia *email: selvimegawati@polinela. Kata kunci: Carica papaya L. Piper crocatum Staphylococcus aureus Antiseptic liquid soap Antibacterial Article Info Received: January 2026 Accepted: March 2026 Published: March 2026 A 2026. Published by Institute for Research and Innovation Universitas Muhammadiyah Banjarmasin. This is Open Access article under the CC-BY-SA License . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. 0/). LATAR BELAKANG serius seperti halnya necrotizing fasciitis2,5. Saat ini, tantangan Infeksi masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat dunia yang signifikan terjadi, terutama di negara berkembang seperti Indonesia1,2. Pada kondisi kulit individu yang sehat, terdapat beberapa microbiome Corynebactirium. Staphylococcus. Cutibacterium. Streptoccous Microccous. Keberadaan S. aureus berjumlah sekitar 30% pada populasi microbiome bakteri di kulit3. Namun mikroorganisme ini dapat bertransformasi menjadi patogen yang invasif apabila sistem imun dari inang melemah1,4. Infeksi yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus sering kali bermanifestasi dalam bentuk peradangan, abses kulit, furunkel, hingga kondisi medis yang dihadapi yaitu munculnya strain MethicillinResistant Staphylococcus aureus (MRSA) akibat penggunaan antibiotik yang tidak rasional, sehingga dapat memicu kebutuhan mendesak akan agen antibakteri alternatif yang efektif6Ae8. Salah satu upaya preventif yang dapat dilakukan untuk penularan mikroba yaitu penggunaan sabun cair antiseptik6,9. Saat ini terjadi pergeseran prefensi masyarat untuk menggunakan produk yang berbasis herbal, hal ini disebabkan bahwa produk tersebut dinilai lebih aman, ekonomis, dan ramah lingkungan1,4,10. Indonesia kaya akan kekayaan hayati, dua diantaranya yaitu biji pepaya (Carica Journal of Current Pharmaceutical Sciences. Vol. 10 No. March 2026. Page 38 Ae 44 e-ISSN: 2598-2095 papaya L. ) dan daun sirih merah (Piper crocatu. yang memiliki berbagai tingkat kepolaran . on-polar, semi-polar, dan potensi sebagai agen antibakteri alami. Selain relatif tidak toksik dan mudah diperoleh. Biji pepaya yang selama ini dibuang karena dianggap limbah etanol 96% memiliki kemampuan penetrasi yang lebih organik ataupun tidak memiliki nilai, diketahui memiliki baik ke dalam dinding sel dibandingkan etanol dengan kandungan senyawa metabolit sekunder seperti alkoloid, konsentrasi lebih rendah, sehingga meningkatkan flavanoid, saponin, tanin, dan terpenoid yang efektif merusak efisiensi ekstraksi. Sifatnya yang mudah menguap juga membran sel bakteri1,5,11,12. Sehingga, hal ini menegaskan bahwa biji pepaya memiliki potensi antimikroba terhadap Selain itu, penelitian ini mengevaluasi variasi konsentrasi berbagai patogen. Penelitian terdahulu membuktikan bahwa formulasi sabun antiseptik sebesar 2%, 6%, dan 10% untuk ekstrak biji pepaya memiliki aktivitas penghambatan terhadap menentukan profil aktivitas antibakteri yang paling efektif pertumbuhan S. aureus dengan kategori kekuatan yang dalam menghambat pertumbuhan S. Berdasarkan bervariasi tergantung konsentrasi dan varietasnya1,7,12,13. Hal penelitian sebelumnya, ekstrak biji pepaya pada konsentrasi ini juga menegaskan bahwa biji pepaya dapat dimanfaatkan 7,5% telah terbukti memiliki aktivitas antibakteri yang lebih lanjut yang dapat mengurangi jumlah limbah rumah ditunjukkan melalui adanya daya hambat terhadap Sedangkan, daun sirih merah mengandung minyak pertumbuhan bakteri6. Oleh karena itu, pada penelitian ini atsiri . ugenol dan kaviko. , polifenol, serta flavanoid yang digunakan variasi konsentrasi ekstrak sebesar 2%, 6%, dan memiliki daya antiseptik dua kali lebih kuat dibandingkan daun sirih hijau10,14,15. Ekstrak daun sirih merah telah terbukti konsentrasi rendah, sedang, dan tinggi. Pemilihan rentang secara ilmiah mampu menghambat pertumbuhan bakteri konsentrasi tersebut bertujuan untuk mengidentifikasi patogen melalui gangguan pada permeabilitas dinding sel4,7,16. aktivitas antibakteri pada konsentrasi terendah sekaligus Masing-masing akvitas antibakteri biji pepaya dan daun sirih merah telah banyak diuji, namun masih terdapat celah peningkatan konsentrasi ekstrak. Selain itu, rentang konsentrasi ini juga dipertimbangkan untuk menjaga menggabungkan kedua ekstrak tersebut ke dalam sediaan kestabilan formulasi serta mendukung efektivitas sediaan sabun cair antiseptik. Sebagian besar studi sebelumnya sabun cair. berfokus pada penggunaan ekstrak tunggal atau formulasi Penelitian ini diharapkan dapat memberikan landasan ilmiah dalam bentuk gel, krim, dan serum2,4,17. Sehingga, kebaruan yang kuat bagi pengembangan produk sabun antiseptik alami dalam penelitian ini terletak pada penggabungan secara yang stabil dan poten. masing-masing sinergis biji pepaya dan daun sirih merah yang diekstrasi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Maserasi merupakan metode ekstraksi yang sederhana menyebabkan kerusakan dinding sel akibat perbedaan tekanan, sehingga senyawa metabolit sekunder dalam METODE Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi rotary evaporator, autoclave, oven, timbangan analitik, penangas air . ater bat. , blender, ayakan mesh 100, serta seperangkat alat Etanol 96% Bahan yang digunakan meliputi biakan bakteri dipilih sebagai pelarut ekstraksi karena bersifat Staphylococcus aureus, simplisia biji pepaya (Carica papaya L. universal dan mampu melarutkan senyawa dengan dan daun sirih merah (Piper crocatu. dalam bentuk kering, sitoplasma dapat larut ke dalam pelarut18 Journal of Current Pharmaceutical Sciences. Vol. 10 No. March 2026. Page 38 Ae 44 e-ISSN: 2598-2095 media Nutrient Agar (NA) dan Mueller-Hinton Agar (MHA) McFarland 0,5. yang setara dengan konsentrasi sekitar grade mikrobiologi, etanol 96% . rade tekni. , akuades. KOH 1,5x108 CFU/mL kemudian diinokulasikan pada media grade teknis. SLS grade teknis. CMC grade farmasi, asam Mueller-Hinton Agar menggunakan metode swab stearat grade farmasi. BHA grade farmasi, minyak zaitun secara merata pada permukaan media. Setelah itu grade farmasi, serta sabun cair DettolA sebagai kontrol dilakukan pembuatan sumuran pada media dengan menggunakan perforator. Sampel sabun cair dengan tiga konsentrasi dan masing-masing satu kontrol positif Preparasi Simplisia serta negatif diinokulasikan pada sumuran media dan Sampel biji pepaya dan daun sirih merah dicuci bersih dinkubasi pada suhu 37 C selama 24 jam. Sabun cari kemudian ditiriskan dan dikeringkan pada suhu DettolA digunakan sebagai kontrol positif, sedangkan ruangan selama 2-3 hari setelah itu di hari selanjutnya akuades sebagai kontrol negatif. Diameter zona hambat di oven dengan suhu 45EE. Bila sudah kering kemudian yang terbentuk diukur menggunakan jangka sorong sampel tadi di blender untuk mendapatkan serbuk dan dinyatakan dalam milimeter . Untuk mendapatkan serbuk yang lebih halus lagi maka di ayak dengan ayakan mess ukuran Tabel 1. Komposisi Formulasi Sabun Cair Antiseptik dengan Kombinasi Ekstrak Biji Pepaya dan Daun Sirih Pembuatan Ekstrak Merah6 Masing-masing serbuk simplisia dengan bobot 500 g dimaserasi dengan etanol 96%, proses maserasi dilakukan sebanyak 5 kali. Filtrat yang diperoleh disaring lalu diuapkan menggunakan rotary evaporator pada suhu 40EE hingga didapatkan ekstrak kental19. Perhitungan Rendemen Rendemen ekstrak dihitung berdasarkan berbandingan berat ekstrak kental yang diperoleh dengan berat Konsentrasi Bahan Satuan . %) . %) . %) . %) Fungsi EBP EDSM Minyak Zaitun Zat aktif Pelembab KOH CMC SLS Agen Saponifikasi Pengental Pembuat 0,25 0,25 0,25 0,25 Penstabil Asam Stearat BHA Akuades Zat aktif Antioksidan Ad. Ad. Ad. Ad. Pelarut Keterangan: EBP = ekstrak biji pepaya. EDSM = ekstrak daun sirih merah Rendemen (%) = Berat ekstrak yang diperoleh x 100% Berat simplisia yang diekstraksi Analisis Statistik Data diameter zona hambat dianalisis secara deskriptif Formulasi Sabun Cair Antiseptik dan diuji normalitasnya menggunakan uji Shapiro- Formulasi sabun cair antiseptik dibuat dengan variasi Wilk. Hasil data tidak terdistribusi normal sehingga konsentrasi ekstrak biji pepaya dan daun sirih merah, analisis perbedaan antar kelompok menggunakan uji yaitu F0 . %). F1 . %). F2 . %), dan F3 . %). Komposisi Kruskal-Wallis, lalu dilanjutkan dengan uji post hoc masing-masing formulasi disajikan pada Tabel 1. Mann-Whitney dengan koreksi Bonferroni. Seluruh Uji Aktivitas Antibakteri analisis statistik dilakukan pada tingkat kepercayaan Uji menggunakan metode difusi terhadap Staphylococcus Suspensi bakteri disesuaikan dengan standar 95% (A = 0,. Journal of Current Pharmaceutical Sciences. Vol. 10 No. March 2026. Page 38 Ae 44 HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 3. Diameter Zona Hambat Sabun Cair Antiseptik Rendemen Ekstrak Proses ekstraksi pada penelitian ini dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Proses ini menghasilkan rendemen ekstrak biji papaya dan daun sirih merah yang disajikan pada Tabel 2. Nilai rendemen menunjukan persentase ekstrak kental yang diperoleh dari masing-masing simplisia setelah proses penguapan pelarut. Tabel 2. Rendemen Ekstrak Biji Pepaya dan Daun Sirih Merah Bahan Simplisia Biji papaya (Carica papaya Daun sirih merah (Piper e-ISSN: 2598-2095 Berat Simplisia Berat Ekstrak Rendemen (%) 500,003 75,110 15,021 terhadap Staphylococcus aureus Diameter Zona Hambat . (Mean C SD) 14,57 C 0,06 14,73 C 0,06 15,40 C 0,00 16,17 C 0,35 Kontrol Positif 28,27 C 0,06 Kontrol Negatif 0,00 C 0,00 Keterangan: Data disajikan sebagai nilai rerata C simpangan baku . = . Kontrol positif menggunakan sabun cair DettolA, sedangkan kontrol negatif menggunakan akuades. Kelompok Konsentrasi (%) Hasil menunjukan bahwa terhadap perbandingan lurus 500,000 75,302 15,060 antara peningkatan konsentrasi ekstrak dalam sediaan sabun cair antiseptik dengan diameter zona hambat. Formulasi pada Hasil dari rendemen ini mencerminkan efisiensi pelarut dalam kelompok F3 yang mana besaran konsentrasi ekstrak yaitu menarik metabolit sekunder dari matriks sel tanaman16. 10% menunjukan daya hambat terbesar di antara formulasi Penggunaan etanol 96% didasarkan pada sifatnya yang yang diujikan, sedangkan akuades sebagai kontrol negatif universal dan mampu berpenetrasi ke dinding sel secara tidak menunjukan aktivitas antibakteri. Kontrol positif yaitu efektif untuk menarik senyawa polar hingga non-polar2,17. DettolA menghasilkan diameter zona hambat terbesar. Hasil rendemen dalam penelitian ini relatif lebih tinggi hal ini menunjukan validitas metode pengujian yang dibandingkan temuan Avika et al. yang memperoleh 2,41% pada biji pepaya5, namun lebih rendah dari hasil Chairunisa et Hal yang signifikan dalam penelitian ini adalah sebesar 19,49% pada daun sirih merah16. Variasi hasil ini efektivitas formulasi basis F0 yang sudah menunjukan dipengaruhi oleh perbedaan letak geografis asal sampel, daya hambat sebesar 14,57 mm. Adanya daya hambat ukuran partikel serbuk simplisia, rasio pelarut, serta lamanya pada formulasi ini membuktikan bahwa komponen proses ekstraksi yang menentukan luas permukaan bidang basis sabun seperti SLS dan KOH berperan sebagai sentuh antara pelarut dan bahan simplisia9,12,16. mengemulsi lipid membran bakteri6,20. Penambahan Aktivitas Antibakteri Sabun Cair Antiseptik Hasil pengujian aktivitas antibakteri sabun cair antiseptik kombinasi ekstrak biji pepaya dan daun sirih merah terhadap bakteri Staphyloccus aureus ditunjukan dengan terbentuknya zona hambat di sekitar area perlakuan. Nilai diameter zona hambat untuk masing-masing formula disajikan pada Tabel 3. kombinasi ektrak biji pepaya dan daun sirih merah berfungsi untuk memberikan nilai tambah terhadap kekuatan antiseptik basis formulasi tersebut4. Aktivitas bakteri yang dihasilkan oleh kombinasi biji pepaya dan daun sirih merah dikaitkan dengan kehadiran metabolit sekunder yang bekerja secara Bakteri Staphylococcus aureus merupakan bakteri gram positif yang memiliki kerentanan yang Journal of Current Pharmaceutical Sciences. Vol. 10 No. March 2026. Page 38 Ae 44 e-ISSN: 2598-2095 lebih tinggi karena struktur dinding selnya hanya setelah dilakukan koreksi Bonferroni . >0,. Hasil ini terdiri dari lapisan peptidoglikan yang tebal tanpa kecenderungan peningkatan diameter zona hambat memudahkan penetrasi senyawa aktif1,2,21. keduanya seperti flavonoid, alkaloid, saponin, tanin. Flavonoid mendenaturasi protein sel bakteri dan merusak integritas membran sitoplasma, serta menghambat sintesis asam nukleat melalui gangguan pada enzim DNA gyrase2,7,11,17. Alkaloid seperti karpain bekerja seiring peningkatan konsentrasi ekstrak, aktivitas Mekanisme penghambatan dari metabolit sekunder sehingga dinding sel tidak terbentuk secara utuh, antibakteri yang dihasilkan belum berbeda signifikan Meskipun kelompok uji secara statistik dianggap tidak signifikan, hal ini tidak menjadikannya acuan bahwa tidak terdapat potensi ekstrak, melainkan fenomena umum pada penelitian dengan replikasi terbatas . Jumlah replikasi yang terbatas dapat memengaruhi uji statistik, sehingga perbedaan yang diamati belum mencapai signifikansi setelah koreksi Bonferroni17. berakibat pada lisis sel2,6,11,22. Saponin bertindak sebagai Perbedaan surfaktan yang menurunkan tegangan permukaan diperjelas dengan memvisualisasikan diameter zona hambat dalam bentuk grafik batang (Gambar . Grafik menyebabkan kebocoran materi intraseluler1,2,7,11. Tanin tersebut menunjukkan tren peningkatan diameter zona berfungsi sebagai astringen yang mengerutkan dinding hambat seiring peningkatan konsentrasi ekstrak. sel dan menganggu transport protein seluler2,22,23. Minyak atsiri seperti kavikol dan eugenol memiliki mendenaturasi protein sel dan merusak struktur kovalen protein membran4,21,22. Zona hambat yang diperoleh dilanjutkan dengan uji Hasil analisis statistika menggunakan uji Kruskal-Wallis bermakna antar kelompok perlakukan terhadap zona Nilai mean rank memperlihatkan tren peningkatan Gambar 1. Diameter Zona Hambat Sabun Cair Antiseptik Kombinasi Ekstrak Biji Pepaya dan Daun Sirih Merah terhadap Staphylococcus aureus seiring dengan peningkatan Penelitian serupa oleh Nurjanah et al. melaporkan pula konsentrasi ekstrak dalam formulasi sabun cair bahwa walaupun formulasi menunjukkan aktivitas Uji lanjutan . ost ho. Mann-Whitney kuat, uji lanjut tidak menemukan perbedaan signifikan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antar formula uji . >0,. Oleh karena itu, tren hanya ditemukan antara kelompok kontrol negatif dan peningkatan diameter 14,57 (F. hingga 16,17 mm (F. kontrol positif . <0,. Sementara itu, tidak terdapat tetap memiliki signifikansi secara klinis atau biologi. perbedaan bermakna antara kelompok uji (F0-F. Hal ini menjadi bukti bahwa penambahan ekstrak hambat Staphylococcus aureus (H = 16,769. p = 0,. maupun antara kelompok uji dengan kontrol positif Journal of Current Pharmaceutical Sciences. Vol. 10 No. March 2026. Page 38 Ae 44 e-ISSN: 2598-2095 secara bertahap meningkatan kualitas sediaan sabun adanya potensi kombinasi ekstrak biji pepaya dan daun antiseptik tersebut22. sirih merah sebagai bahan aktif alami dalam sediaan Meskipun hasil aktivitas antibakteri formulasi sabun cair antiseptik masih lebih rendah jika dibandingkan dengan kontrol positif, hasil penelitian ini menunjukan bahwa kombinasi ekstrak biji pepaya dan daun sirih merah memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai serta evaluasi lebih lanjut terhadap stabilitas dan keamanan sediaan. Apabila dibandingkan dengan penelitian sebelumnya, daya hambat dari sediaan sabun cair penelitian ini lebih unggul dan stabil. Penelitian sebelumnya dengan membuat sediaan spray biji pepaya yang dilakukan oleh Yulianti et al. dan Damayanti et al. yang menunjukan filtrasi17,24. Berkebalikan dari penelitian yang dilakukan oleh Ginting et al. yang sejalan dengan penelitian ini, mencatat zona hambat 11,9-15,6 mm menggunakan kombinasi serupa1. Penggunaan sediaan sabun cair berbasis minyak zaitun terbukti menjadi pembawa yang efektif dalam menjaga stabilitas senyawa fitokimia Staphylococcus aureus2,9. KESIMPULAN Sabun cair antiseptik kombinasi ekstrak biji pepaya dan daun sirih merah menunjukan aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus yang ditandai dengan terbentuknya zona hambat pada seluruh kelompok formulasi uji. Peningkatan konsenterasi ekstrak meningkatkan daya hambat dengan formulasi F3 memiliki diameter zona hambat terbesar meskipun lebih rendah daripada kontrol positif. DettolA. Secara statistik, terdapat perbedaan bermakna antara perbedaan antar formulasi uji hasil tidak signifikan pada uji lanjut . ost ho. Hasil ini tetap menunjukan lebih besar, variasi konsentrasi yang yang lebih luas. DAFTAR PUSTAKA selanjutnya yaitu menggunakan jumlah sampel yang bahan aktif alami dalam sediaan sabun cair antiseptik. zona hambat 0 mm akibat ketidakstabilan formula atau Saran