1177 J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 5 Oktober 2025 PELATIHAN PENGELOLAAN HOMESTAY SEBAGAI UPAYA PERCEPATAN PENGEMBANGAN DESA WISATA MEKAR SARI. LOMBOK TENGAH Oleh Ihyana Hulfa1. Nur Afiah2. Siti Hamdiah Rojabi3. Rishan Adha4 1,2,3,4Program Studi Diploma Tiga Pariwisata Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram Email: 1ihyanahulfa@unram. id, 2nurafia@staff. 3rojabish@unram. id, 4rishanadha@staff. Article History: Received: 22-08-2025 Revised: 07-09-2025 Accepted: 25-09-2025 Keywords: Tourism Village. Homestay. Management. Excellent Service Abstract: Tourism is currently a strategic sector in supporting economic and social development, especially in rural areas. One of the emerging approaches is the development of tourism villages based on community participation. Homestays as a form of community accommodation have an important role in providing authentic tourism experiences and supporting the welfare of However, in Mekar Sari Tourism Village. Central Lombok, the quality of homestay management still faces challenges, such as low service standards, limited facilities, and lack of innovation in In response to these conditions, this service activity was carried out through intensive training aimed at increasing the capacity of homestay managers in aspects of management, excellent service, and service development based on local potential. The training method was conducted in a participatory manner through interactive lectures, practical demonstrations, group discussions, and reflections. The results showed an increase in participants' understanding of the importance of service standards and the emergence of additional service initiatives such as cooking classes and cultural tours. This activity not only provides an initial impact on strengthening community capacity, but also strengthens collective awareness in building a sustainable and competitive tourism village. PENDAHULUAN Pariwisata dewasa ini telah berkembang menjadi salah satu sektor unggulan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional dan pembangunan sosial, terutama di wilayah Peran strategis sektor ini terlihat dari kemampuannya dalam menciptakan lapangan kerja, memperluas peluang usaha, serta meningkatkan pendapatan masyarakat desa (Sunaryo, 2013. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, 2. Tidak hanya berfungsi sebagai sarana rekreasi, pariwisata saat ini juga menjadi alat transformasi sosial dan katalisator pembangunan lokal yang mendorong pemerataan ekonomi, pelestarian lingkungan, serta revitalisasi budaya. Dalam kerangka pembangunan berbasis masyarakat, konsep desa wisata muncul sebagai pendekatan yang semakin relevan. Desa wisata merupakan bentuk pengembangan wilayah yang memadukan potensi alam, sosial, dan budaya lokal dengan partisipasi aktif http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 5 Oktober 2025 masyarakat dalam penyediaan layanan wisata (Yuliarmi et al. , 2. Lebih lanjut. Konsep desa wisata merupakan salah satu cara untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Desa wisata diciptakan untuk mengurangi tingkat urbanisasi dari pedesaan ke perkotaan dan menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat lokal (Natasari et al. , 2. Desa wisata tidak hanya menjadi destinasi alternatif di luar kawasan wisata massal, tetapi juga instrumen efektif dalam pengentasan kemiskinan, penguatan identitas budaya, serta pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan (Sudiarta et al. , 2018. Suartika & Sutama, 2. Salah satu komponen penting dalam pengembangan desa wisata adalah keberadaan akomodasi, akomodasi menjadi salah satu hal yang sangat dibutuhkan oleh wisatawan saat mengunjungi destinasi wisata. Homestay merupakan bentuk akomodasi utama yang umum disediakan di desa wisata, serta merupakan sebagai bentuk akomodasi berbasis komunitas. Homestay memberikan pengalaman yang lebih otentik dan personal bagi wisatawan melalui interaksi langsung dengan kehidupan masyarakat lokal, termasuk aktivitas harian seperti bertani, memasak tradisional, dan mengikuti kegiatan adat (Yoeti, 2008. Putra & Pitana. Homestay tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga sarana edukasi budaya, promosi gaya hidup lokal, dan penguatan ekonomi berbasis komunitas (Utama & Astawa. UNWTO, 2. Desa Mekar Sari merupakan salah satu Desa wisata yang berada di Kecamatan Praya Barat. Kabupaten Lombok Tengah Provinsi Nusa Tenggara Barat. Mayoritas Penduduk Desa Mekar Sari beragama islam dan bersuku Sasak. Desa Mekar sari memiliki jumlah penduduk yaitu 6526 jiwa, mata pencaharian masyarakat rata-rata adalah, buruh tani, petani, pedagang, nelayan dan pengusaha kecil, menengah. Secara topografi Desa Mekar Sari terbagi menjadi Lembah, daerah perbukitan yang sangat potensial untuk dikembangkan dari sektor pertanian, perkebunan dan sektor wisata, seperti wisata pantai dan wisata perbukitan, dengan luas wilayah mencapai 3. 761 Ha. (Hafiddin, dkk. , 2. Namun demikian, berbagai studi menunjukkan bahwa sebagian besar homestay di desa wisata masih menghadapi sejumlah tantangan. permasalahan yang umum dijumpai meliputi rendahnya kualitas pelayanan, keterbatasan fasilitas dasar, tidak konsistennya standar kebersihan, serta kurangnya inovasi dalam penyediaan layanan tambahan (Mulyadi & Hidayat, 2. Hal ini mengindikasikan perlunya peningkatan kapasitas melalui program pelatihan dan pendampingan berbasis kebutuhan lokal. Berdasarkan kondisi tersebut, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dirancang untuk mempercepat pengembangan Desa Wisata Mekar Sari melalui pelatihan pengelolaan homestay. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat, khususnya pemilik dan pengelola homestay, dalam menyelenggarakan layanan akomodasi yang berkualitas, ramah wisatawan, dan sesuai dengan standar yang diharapkan wisatawan. Target kegiatan ini adalah pemilik homestay, pengelola homestay. Pokdarwis. Pelaku Wisata, apparat desa dan Masyarakat lainnya di Desa Wisata Mekar Sari. Kecamatan Lombok Tengah. Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam pengelolaan homestay yang berorientasi pada kualitas layanan dan kepuasan wisatawan. Menumbuhkan kesadaran akan pentingnya penerapan standar layanan, kebersihan, dan penyediaan fasilitas yang memadai. Mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam merancang layanan tambahan yang inovatif dan berbasis potensi local, serta Menghasilkan data awal mengenai jenis dan bentuk layanan tambahan yang potensial untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai bagian dari strategi ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 5 Oktober 2025 penguatan daya tarik Desa Wisata Mekar Sari. METODE Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di Ruang Serba Guna Kantor Desa Mekar Sari, berdasarkan rekomendasi ketua Pokdarwis dan apparat desa. Kegiatan ini menggunakan pendekatan partisipatif dan aplikatif, dengan tujuan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan homestay sebagai bagian dari pengembangan desa wisata. Pelatihan dirancang dalam beberapa tahapan yang terstruktur, mulai dari perencanaan hingga evaluasi, guna memastikan keberhasilan program secara menyeluruh dan Berikut adalah tahapan pelaksanaan pelatihan secara terperinci: Tahap Persiapan Pada tahap ini, dilakukan sejumlah kegiatan awal yang bertujuan untuk memastikan pelatihan dapat dilaksanakan secara efektif dan sesuai kebutuhan peserta. Kegiatan I I diawali dengan Identifikasi Kebutuhan Pelatihan (Training Needs Assessmen. Tim pengabdian melakukan observasi lapangan dan diskusi awal bersama ketua Pokdarwis desa wisata dan pemilik homestay untuk mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi serta kompetensi yang perlu ditingkatkan. Kedua. Penyusunan Mater Pelatihan. Materi pelatihan disusun berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan, mencakup topik seperti. Manajemen homestay. Layanan prima . xcellent servic. Kebersihan dan kenyamanan akomodasi. Strategi promosi homestay. Inovasi layanan tambahan berbasis lokal . isalnya cooking class, wisata budaya, dan wisata ala. dan Koordinasi dengan Mitra dan Stakeholder Lokal Melibatkan pemerintah desa, pengelola desa wisata, dan tokoh masyarakat untuk mendapatkan dukungan dan memastikan partisipasi aktif peserta. Tahap Pelaksanaan Pelatihan Tahap ini merupakan inti dari kegiatan pengabdian, di mana pelatihan diberikan kepada peserta secara langsung. Kegiatan ini dilaksanakan selama satu hari secara intensif. Pertama Pembukaan Pengenalan Tujuan Pelatihan Kegiatan diawali dengan sambutan, penjelasan tujuan, serta pengenalan fasilitator dan Dilanjutkan dengan, penyampaian materi. Materi disampaikan dengan metode ceramah interaktif, diskusi kelompok, dan studi kasus. Materi mencakup. Konsep dasar homestay dan desa wisata. Tata kelola kamar dan fasilitas. Standar pelayanan tamu, dan Pelayanan prima. kemudian Pemateri melakukan demontrasi dan Praktik terkait dengan layanan penerimaan tamu homestay, termasuk: check-in dan check-out tamu, latihan komunikasi pelayanan tamu dan diskusi tentang penyusunan paket layanan tambahan berbasis potensi local Tahap Evaluasi dan Refleksi Evaluasi dilakukan untuk mengukur efektivitas pelatihan serta menilai sejauh mana peserta memahami dan mampu mengaplikasikan materi. Evaluasi dilakukan dengan cara diskusi yang melibatkan seluruh peserta. Diskusi ini bertujuan untuk menggali umpan balik secara langsung mengenai efektivitas materi pelatihan, serta relevansi materi terhadap kebutuhan praktis peserta. Melalui diskusi tersebut, peserta diberi ruang untuk menyampaikan, persepsi mereka terhadap manfaat pelatihan. Kesulitan yang dihadapi selama kegiatan. Materi yang dianggap paling aplikatif. Harapan dan usulan terhadap bentuk pelatihan lanjutan, dan menyususn Rencana Tindak Lanjut (RTL) bersama pengelola desa wisata, mendiskusikan rencana tindak lanjut berupa kegiatan lanjutan atau pendampingan http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 5 Oktober 2025 yang dibutuhkan pasca pelatihan. Dokumentasi dan Pelaporan Seluruh rangkaian kegiatan didokumentasikan melalui foto, video, dan catatan Hasil dokumentasi menjadi bagian dari laporan pengabdian kepada lembaga, serta sebagai bahan monitoring dan evaluasi untuk pengembangan kegiatan serupa di masa depan. HASIL DAN PEMBAHASAN Desa wisata merupakan suatu kesatuan wilayah yang memiliki potensi daya tarik wisata yang khas, baik dari aspek budaya, alam, maupun buatan, dan dikelola oleh masyarakat setempat sebagai pelaku utama. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan melalui praktik pariwisata berkelanjutan (Kemenparekraf RI, 2. Menurut UNWTO . , desa wisata juga menekankan pentingnya partisipasi masyarakat, pelestarian budaya lokal, serta integrasi ekonomi berbasis pariwisata yang berkelanjutan. Desa Mekar Sari telah dikenal sebagai salah satu destinasi wisata pilihan, khususnya bagi wisatawan lokal yang berkunjung pada akhir pekan. Beberapa objek wisata yang sering dikunjungi antara lain Pantai Lancing dan Pantai Telawas, dengan Pantai Telawas sebagai daya tarik utama. Pantai ini mulai resmi dikelola oleh pemerintah desa sejak awal tahun 2019 (Prayoga, 2. Fasilitas yang tersedia di Pantai Telawas meliputi area parkir, deretan berugak . azebo tradisiona. , serta jalur setapak yang dapat digunakan untuk berjalan kaki maupun bersepeda. Selain potensi wisata pantainya. Desa Mekar Sari juga memiliki kekayaan alam lainnya yang mendukung pengembangannya sebagai destinasi pariwisata unggulan. Lanskap berupa pasir putih, teluk dengan panorama perbukitan, serta lokasi yang strategis karena berdekatan dengan destinasi populer seperti Pantai Selong Belanak . erjarak sekitar 6 k. dan Pantai Mawun . ekitar 2 k. , serta sky lancing untuk paralayang yang sering menjadi opsi wistawan untuk melihat keindahan alam dari atas, daya tarik ini menjadi nilai tambah tersendiri. Saat ini. Desa Mekar Sari juga telah dilengkapi dengan kurang lebih 10 unit homestay, yang masing-masing menyewakan antara dua hingga empat kamar. tersebut disewakan bagi wisatawan local, nusatara bahkan internasional. namun jika beberapa homestay tersebut memilih untuk menyewakan kamarnya untuk para pekerja yang menginap lebih lama, khususnya pada saat musim low season. Keberadaan homestay ini diharapkan dapat menjadi salah satu sumber peningkatan pendapatan masyarakat lokal melalui sektor pariwisata berbasis komunitas. Gambar 1 Homestay Mekar Sari Sebagian besar akomodasi homestay di Desa Mekar Sari belum dikelola dengan ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 5 Oktober 2025 standar layanan yang baik, sehingga wisatawan cenderung memilih menginap di hotel atau resort sekitar. Kendala utama yanghambatandiidentifikasi adalah rendahnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat, khususnya pemilik homestay, dalam hal pengelolaan fasilitas, pelayanan kepada tamu, dan kesiapan menjadi tuan rumah yang baik. Hal ini diperparah dengan minimnya koordinasi dan dukungan dari pihak eksternal, termasuk pemerintah daerah dan pusat. Homestay sendiri memiliki peran strategis dalam pengembangan desa wisata, bukan hanya sebagai sarana menginap, tetapi juga sebagai medium untuk memperkenalkan budaya lokal secara langsung kepada wisatawan (Damasdino, 2. Namun demikian, pengelolaan homestay yang kurang profesional dapat menjadi penghambat dalam meningkatkan daya saing dan keberlanjutan desa wisata itu sendiri. Oleh karena itu, dibutuhkan intervensi berupa pelatihan untuk meningkatkan kapasitas pengelola homestay, sehingga akomodasi yang disediakan memenuhi standar yang diharapkan wisatawan. Pelaksanaan kegiatan pelatihan oleh tim pengabdian diawali dengan sesi koordinasi dan diskusi bersama Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwi. Desa Mekar Sari. Dari hasil diskusi tersebut teridentifikasi bahwa peningkatan kapasitas masyarakat melalui pelatihan pengelolaan homestay merupakan kebutuhan yang mendesak, mengingat pentingnya peran homestay dalam mempercepat pengembangan desa wisata. Menanggapi hal tersebut, tim merancang materi pelatihan yang mencakup standar layanan homestay, prinsip-prinsip pelayanan prima, serta pengembangan layanan tambahan yang berbasis pada potensi lokal Seluruh rangkaian pelatihan dilaksanakan sesuai jadwal yang telah disepakati, diawali dengan proses registrasi peserta dan acara pembukaan resmi yang dipimpin oleh Kepala Desa Mekar Sari. Dalam sambutannya. Kepala Desa menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif pelatihan ini dan menegaskan bahwa peningkatan kompetensi masyarakat dalam mengelola sektor pariwisata lokal merupakan langkah strategis dalam menjawab tantangan dan permasalahan yang tengah dihadapi oleh desa, khususnya dalam optimalisasi potensi homestay sebagai bagian penting dalam pengembangan Desa Wisata. Gambar 2 Pembukan Oleh Kepala Desa Mekar Sari Kegiatan berlanjut dengan sesi pemaparan materi yang disampaikan oleh narasumber pertama, yang membahas secara komprehensif mengenai urgensi keberadaan homestay di desa wisata, prinsip-prinsip dasar pengelolaannya, serta layanan dan fasilitas yang perlu disiapkan untuk mendukung kenyamanan wisatawan. Pemaparan dilanjutkan http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 5 Oktober 2025 oleh narasumber kedua, yang menyampaikan materi mengenai konsep pelayanan prima dalam pengelolaan homestay, meliputi penyambutan tamu, keramahan, kebersihan, keamanan, dan estetika lingkungan, sebagai aspek penting dalam meningkatkan kepuasan tamu dan daya saing layanan. Selanjutnya masuk pada sesi diskusi dan tanya jawab untuk seluruh peserta. Antusiasme peserta terlihat jelas dari banyaknya pertanyaan dan interaksi yang berlangsung cukup panjang. Hal ini mencerminkan tingginya minat serta keinginan peserta untuk memperdalam pengetahuan dan keterampilan dalam pengelolaan homestay secara profesional. Diskusi juga mengarah pada pentingnya memahami dan mengembangkan potensi lokal yang ada di Desa Mekar Sari. Konsep 4A dalam kepariwisataan (Attraction. Accessibility. Amenities, dan Ancillary Service. diperkenalkan sebagai dasar analisis dalam merancang pengembangan homestay yang terintegrasi dengan daya tarik desawisata. Peserta didorong untuk mengidentifikasi atraksi unik, seperti budaya lokal, lanskap pertanian, dan aktivitas keseharian warga yang bisa dikemas menjadi pengalaman wisata yang autentik. Setelah sesi pemaparan materi dan diskusi interaktif, rangkaian pelatihan dilanjutkan dengan kegiatan demonstrasi dan praktik langsung mengenai prosedur penerimaan tamu di Pada tahap ini, peserta diberikan kesempatan untuk mengamati dan mempraktikkan langkah-langkah standar dalam menyambut tamu, mulai dari proses penyambutan yang ramah, pencatatan identitas, hingga penyampaian informasi mengenai fasilitas homestay secara jelas dan komunikatif. Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat pemahaman peserta terhadap teori yang telah disampaikan sebelumnya, sekaligus membekali mereka dengan keterampilan praktis yang dapat langsung diterapkan dalam operasional homestay. Pendekatan praktik ini terbukti efektif dalam meningkatkan kepercayaan diri peserta serta memperkuat kualitas pelayanan yang akan mereka berikan kepada wisatawan. Gambar 3 Pemaparan Materi dan Demontrasi Penerimaan Tamu Tahapan akhir dalam rangkaian kegiatan pelatihan difokuskan pada evaluasi dan refleksi, yang diawali dengan diskusi kelompok terarah. Diskusi ini bertujuan untuk menggali potensi pengembangan layanan tambahan homestay yang berbasis pada kekayaan lokal, seperti kegiatan memasak makanan tradisional, kerajinan tangan, dan pengalaman budaya Evaluasi dilakukan pada akhir sesi sebagai upaya untuk mengukur tingkat pemahaman peserta serta menghimpun masukan guna perbaikan pelatihan di masa yang akan datang. ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 5 Oktober 2025 Hasil evaluasi menunjukkan antusiasme peserta yang sangat tinggi, tercermin dari partisipasi aktif dalam sesi diskusi maupun praktik langsung. Peserta menyatakan bahwa pelatihan ini telah membuka wawasan mereka terhadap pentingnya pelayanan prima dalam pengelolaan homestay, sekaligus menyadarkan mereka akan potensi lokal yang dapat dikembangkan sebagai nilai tambah layanan. Beberapa peserta bahkan mulai merancang inisiatif layanan tambahan yang sebelumnya belum pernah mereka pertimbangkan. Berdasarkan observasi lapangan dan dinamika diskusi, pelatihan ini memberikan dampak awal yang positif terhadap peningkatan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan Temuan ini sejalan dengan penelitian Yuliani . yang menekankan bahwa pelatihan merupakan salah satu strategi yang efektif dalam pengembangan dan keberlanjutan desa wisata. Hal ini juga diperkuat oleh Parajow . , yang menyatakan bahwa pengelolaan homestay yang baik dapat berkontribusi signifikan terhadap peningkatan pendapatan pemilik homestay. Namun demikian, ia juga menekankan pentingnya peningkatan partisipasi masyarakat secara lebih luas agar manfaat ekonomi yang dihasilkan dapat dirasakan secara merata. Sebagai penutup, kegiatan diakhiri dengan sesi refleksi bersama dan pengambilan foto kelompok sebagai simbol kolaborasi dan semangat kolektif dalam membangun Desa Wisata Mekar Sari yang berkelanjutan, berdaya saing, dan berbasis potensi lokal. Gambar 4 Penutup dan Foto Bersama Peserta Pelatihan KESIMPULAN Pelaksanaan kegiatan Pelatihan Percepatan Pengembangan Desa Wisata Berbasis Pengelolaan Homestay di Desa Wisata Mekar Sari. Lombok Tengah, berlangsung dengan baik dan mendapat respon positif dari mitra masyarakat. Program pengabdian ini terbukti mampu menjawab kebutuhan masyarakat dalam meningkatkan kapasitas pengelolaan homestay secara lebih profesional. Melalui pendekatan pelatihan dan simulasi, peserta tidak hanya memperoleh wawasan baru, tetapi juga terdorong untuk mengembangkan homestay secara kreatif dan berorientasi pada kualitas layanan. Selain itu, kegiatan ini berhasil membuka pemikiran masyarakat tentang pentingnya menghadirkan layanan tambahan berbasis kearifan lokal sebagai daya tarik khas desa wisata. http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 5 Oktober 2025 SARAN