Jurnal Farmasi Galenika (Galenika Journal of Pharmac. : 12 Ae 17 ISSN : 2442-8744 . http://jurnal. id/jurnal/index. php/Galenika/index DOI : 10. 22487/j24428744. Korelasi Kajian Fisikokimia Ekstrak Klika Faloak (Sterculia populifolia DC. ) Menggunakan Variasi Pelarut Terhadap Penghambatan Bakteri Patogen (Correlation of Physicochemical Study of Faloak (Sterculia populifolia DC. ) Bark Extract Using Solvent Variation on Pathogenic Bacteria Inhibitio. Reny Syahruni1*. Syamsu Nur1. Akhmad Amrullah1. Novianti Tonapa2. Vivi Shelina2 Akademi Farmasi Kebangsaan Makassar. Makassar. Indonesia, 90242 Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Makassar. Makassar. Indonesia, 90242 Article Info: Received: 29 Desember 2017 in revised form: 26 Januari 2018 Accepted: 30 Maret 2018 Available Online: 30 Maret 2018 Keywords: Faloak. Sterculia populifolia DC, variasi pelarut. Corresponding Author: Reny Syahruni Akademi Farmasi Kebangsaan. Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Makassar. Indonesia Phone : 6281342560383 Email: reny. syahruni@yahoo. ABSTRACT Faloak (Sterculia populifolia DC. ) is one of species of sterculiaceae found in East Nusa Tenggara which has potential as a medicinal plant mainly as an This study aims to determine the correlation of physicochemical study of faloak bark extracts with variation of solvents in inhibiting of pathogenic bacteria. The sample was extracted by maceration method with different polarity level of solvents i. e acetone, acetone 70%, water, ethanol 96%, ethanol 70% and ethanol 50%. The results of extraction through maceration indicate the difference of yield recovery from each of the extraction solvents. The highest yield was obtained from 70% ethanol extract, while the lowest yield of acetone extract. The increase of solvent polarity in this study did not give effect to the amount of recovery of yield. is also seen from the highest total phenolic content obtained from 70% acetone extract while the lowest in aquadest extract. The antibacterial activity of faloak bark extract on Salmonella typhi was tested using agar diffusion method with 1% of extract solution. Both of ethanol 96% and acetone extracts did not show any inhibitory activity. The largest inhibitory activity was demonstrated by 50% ethanol extract. The polarity level of the extract, the level of total phenolic content and the magnitude of rendement did not show correlation of increased inhibitory activity on Salmonella thypi as well. Copyright A 2017 JFG-UNTAD This open access article is distributed under a Creative Commons Attribution (CC-BY-NC-SA) 4. 0 International license. How to cite (APA 6th Styl. Syahruni. , et al. Korelasi Kajian Fisikokimia Ekstrak Klika Faloak (Sterculia populifolia DC. ) Menggunakan Variasi Pelarut Terhadap Penghambatan Bakteri Patogen. Jurnal Farmasi Galenika : Galenika Journal of Pharmacy, 4 . , doi:10. 22487/j24428744. Syahruni et al. /Jurnal Farmasi Galenika (Galenica Journal of Pharmac. : 12-17 ABSTRAK Faloak (Sterculia populifolia DC. ) merupakan salah satu jenis tumbuhan suku Sterculiaceae yang banyak ditemukan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berpotensi sebagai tumbuhan obat khususnya sebagai antimikroba. Penelitian ini bertujuan mengetahui korelasi kajian fisikokimia ekstrak klika faloak (Sterculia populifolia DC. ) menggunakan variasi pelarut terhadap penghambatan bakteri patogen. Ekstraksi sampel dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut dengan tingkat kepolaran yang berbeda yaitu aseton, aseton 70%, aquades, etanol 96%, etanol 70% dan etanol Hasil estraksi melalui metode maserasi menunjukkan adanya perbedaan perolehan rendemen dari masing-masing larutan penyari. Rendemen tertinggi diperoleh dari ekstrak etanol 70%, sedangkan rendemen terendah dari ekstrak aseton. Peningkatan kepolaran pelarut pada penelitian ini tidak memberikan pengaruh terhadap besarnya perolehan rendemen. Hal tersebut juga terlihat dari kadar fenolik total tertinggi diperoleh dari ekstrak aseton 70% sedangkan yang terendah pada ekstrak Aktivitas antibakteri ekstrak klika faloak terhadap Salmonella typhi diuji menggunakan metode difusi agar dengan larutan ekstrak 1%. Ekstrak etanol 96% dan aseton tidak menunjukkan adanya aktivitas penghambatan. Aktivitas penghambatan terbesar ditunjukkan oleh ekstrak etanol Tingkat kepolaran ekstrak, tingkat kadar fenolik total dan besarnya perolehan rendamen juga tidak menunjukkan hubungan peningkatan aktivitas penghambatan pada Salmonella thypi. Kata Kunci : Faloak (Sterculia populifolia DC), variasi pelarut, antimikroba Paiva . dan Coolborn . , melaporkan bahwa zat ekstraktif yang bersumber dari tumbuhan yang mengandung senyawa metabolit sekunder seperti steroid, alkaloid, tanin, polifenol dapat menghambat pertumbuhan sejumlah mikroba Aktivitas sebagai antimikroba terhadap bakteri Escherichia coli. Salmonella typhii. Staphylococcus Bacillus Streptococcus agalactiae, dan cendawan Candida albicans dengan berbagai tingkatan zona hambat dari zat ekstraktif yang diperoleh dari kulit pohon, daun dan biji faloak melalui maserasi bertingkat menggunakan aseton sebagai pelarut awal, dan dilanjutkan dengan fraksinasi secara bertingkat mulai dari heksan, dietil eter, dan etil asetat telah dilaporkan oleh Ranta . Perbedaan tingkatan zona hambat dapat dipengaruhi oleh zat ekstraktif yang terkandung dalam ekstrak uji. PENDAHULUAN Pemanfaatan bahan alam sebagai obat oleh masyarakat telah semakin meningkat, hal ini memberikan peluang untuk melakukan penelitian ilmiah dalam mengkaji berbagai jenis tumbuhan yang berpotensi untuk digunakan dalam pencegahan maupun pengobatan penyakit. Kekayaan alam Indonesia dengan keanekaragaman spesies yang tinggi dari tumbuhan berkhasiat obat yang telah digunakan secara turun-temurun di berbagai daerah menjadi salah satu faktor pendukung dalam pengembangan penelitian obat bahan alam tersebut. Faloak (Sterculia populifolia DC. ) merupakan salah satu jenis tumbuhan suku Sterculiaceae yang banyak ditemukan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berpotensi sebagai tumbuhan obat. Kajian komponen kimia yang terkandung dalam tumbuhan faloak dan aktivitas farmakologinya masih belum banyak dilaporkan. Di Timor, klika faloak dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit seperti liver, rematik, muntah darah, kanker, diabetes, dan gangguan pencernaan. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak eter dan etil asetat klika faloak mengandung alkaloid, flavonoid, fenolik dan terpenoid. (Siswadi dkk. Pada proses ekstraksi suatu bahan tanaman, terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kandungan senyawa hasil ekstraksi diantaranya: jenis pelarut dan konsentrasi pelarut yang digunakan untuk ekstraksi. Oleh karena itu, akan dilakukan pengujian mengenai korelasi kajian fisikokimia ekstrak klika faloak menggunakan variasi pelarut terhadap penghambatan bakteri patogen. Syahruni et al. /Jurnal Farmasi Galenika (Galenica Journal of Pharmac. : 12-17 sejumlah ekstrak uji dimasukkan ke dalam labu takar 10 ml, ditambah dengan 0,4 ml reagen FolinCiocalteu, dan dibiarkan selama 5-8 menit. Larutan selanjutnya ditambah 4 ml Na2CO3 7% ditambah aqua bidestilata sampai batas tanda. Setelah 2 jam, absorbansinya dibaca pada panjang gelombang 765 nm. Sebagai blanko digunakan Folin-Ciocalteu. Kandungan fenolik total dinyatakan sebagai gram ekivalen asam galat tiap 100 gram berat kering ekstrak (% b/b EAG). METODE PENELITIAN Alat dan Bahan Alat yang digunakan yaitu seperangkat alat gelas laboratorium, bejana maserasi, cawan petri, jarum ose, jangka sorong, labu ukur, neraca analitik, magnetik stirrer, mikropipet, oven, inkubator (Memmer. , rotary evaporator, seperangkat alat refluks, spatula logam, spektrofotometer UV-Vis (Shimadzu UV1. Bahan yang digunakan yaitu air suling (Wateron. , asam galat (Merc. , aseton, etanol 96% (OneMe. , etanol 70%(OneMe. , klika faloak. Medium NA (Merc. Na2CO3 (Merc. , kertas cakram, kertas cakram tetrasiklin (Oxoi. , reagen Folin-Ciocalteu (Merc. , serbuk Mg (Merc. Bakteri uji yang digunakan yaitu Salmonella thypi ATCC 1408 yang diperoleh dari laboratorium Jurusan Biologi. FMIPA. Universitas Negeri Makassar. Uji Aktivitas Antibakteri Penyiapan Ekstrak Uji Larutan ekstrak 1% dibuat dengan cara dilarutkan masing-masing ektrak kering sebanyak 50 mg dilarutkan ke dalam 50 ml etanol 70%. Sebanyak 50AAl dari masing-masing ekstrak diteteskan pada kertas cakram dan dibiarkan Penyiapan Sampel Penelitian Sampel yang digunakan yaitu klika faloak (Sterculia populifolia DC. ) yang diperoleh dari daerah kota Kefamenanu Kupang, provinsi Nusa Tenggara Timor (NTT). Klika faloak yang telah dikumpulkan disortasi basah dan dicuci dengan air mengalir kemudian dipotong-potong kecil, diserut tipis dan dikeringkan di lemari pengering. Simplisia yang telah kering selanjutnya diserbukkan dan siap untuk diekstraksi. Pengujian Daya Antibakteri Pengujian dilakukan secara in vitro dengan metode difusi dengan menggunakan kertas cakram. Langkah pertama yang dilakukan yaitu medium NA yang telah disterilkan, didinginkan pada suhu 4045AC. Suspensi bakteri sebanyak 20 AAl dimasukkan ke dalam botol coklat lalu ditambahkan sebanyak 10-15 ml medium NA, setelah itu dihomogenkan lalu dituang ke dalam cawan petri secara aseptis di dalam Laminary Air Flow (LAF) dan dibiarkan Kertas cakram yang telah diteteskan masingmasing ekstrak, ditempelkan pada permukaan medium NA. Letak kertas cakram pada permukaan medium diatur sedemikian rupa. Pada setiap cawan petri juga dimasukkan kertas cakram berisi kontrol positif . dan negatif . tanol 70%). Cawan petri diinkubasi dalam inkubator selama 1x24 jam pada suhu 370C lalu diamati zona hambat yang terbentuk dan diukur diameter zona hambatannya dengan tiga kali pengukuran yang berbeda . orizontal, vertikal dan diagona. menggunakan jangka sorong. Metode Ekstraksi Sampel Proses ekstraksi dilakukan dengan cara Sebanyak 50 g serbuk klika faloak diekstraksi dengan pelarut . :10 b/. Pelarut yang digunakan adalah aseton, aseton-air . , air suling, etanol 96%, etanol 70% dan etanol 50%. Sampel direndam dengan pengadukan selama 6 jam dan dibiarkan selama 18 jam pada suhu kamar. Setiap 24 jam maserat dipisahkan . dengan menggunakan kain saring, ampasnya diremaserasi dengan teknik yang sama seperti sebelumnya. Maserat dikumpulkan, kemudian diuapkan hingga diperoleh ekstrak kering. Perolehan rendemen masing-masing ekstrak dihitung dan dilakukan pengamatan warna ekstrak. HASIL DAN PEMBAHASAN Klika faloak diekstraksi menggunakan beberapa penyari dengan tingkat kepolaran yang berbeda yaitu aseton, aseton 70%, air suling, etanol 96%, etanol 70%, dan etanol 50%. Pemilihan penyari tersebut dalam penelitian ini diharapkan dapat menelusur keberadaan senyawa aktif yang Analisis Kuantitatif Fenolik Total Kandungan fenolik total ditentukan dengan metode spektrofotometri visibel sesuai dengan Chun, dkk. , dengan cara sebagai berikut: Syahruni et al. /Jurnal Farmasi Galenika (Galenica Journal of Pharmac. : 12-17 berpotensi antibakteri berdasar sifat kelarutannya pada berbagai penyari dengan perbedaan polaritas. dari ekstrak aseton 70% sedangkan yang terendah pada ekstrak aquades (Tabel . Yulistian, dkk. menjelaskan bahwa fenolik yang terikat dengan molekul gula pada posisi 3-O-glikosida akan cenderung larut dalam pelarut polar. Selain itu, ikatan hidrogen antara atom O dari aseton dengan atom H dari gugus hidroksil senyawa fenolik terglikosilasi juga mempengaruhi kelarutan. Adanya gugus metil yang merupakan pendorong elektron menyebabkan atom O menjadi kaya elektron. Dengan demikian interaksi hidrogen dengan senyawa fenolik menjadi lebih mudah. Pada etanol, atom H pada pelarut akan mengurangi kemungkinan interaksi hidrogen dengan sampel karena lebih kuat berinteraksi dengan atom O pada molekulnya Hal ini akan mengurangi kesempatannya dalam berikatan hidrogen dengan atom H dari gugus AeOH senyawa fenolik sampel. Tabel 1. Perolehan Rendemen Ekstrak Bobot Ekstrak Ekstrak Etanol 2,55 Rendamen Warna (%) Ekstrak 5,10 Cokelat Etanol Kemerahan 6,09 12,18 Etanol Cokelat Kemerahan 1,78 3,56 Cokelat Aseton 1,00 2,01 Cokelat Tua Aquades 1,34 2,67 Cokelat Tabel 2. Kadar Fenolik Total Ekstrak Aseton 1,77 3,55 Cokelat Ekstrak Muda Hasil estraksi melalui metode maserasi rendemen dari masing-masing larutan penyari. Rendemen tertinggi diperoleh dari ekstrak etanol 70%, sedangkan rendemen terendah dari ekstrak Peningkatan kepolaran pelarut pada penelitian ini tidak memberikan pengaruh terhadap besarnya perolehan rendemen. Perbedaan warna ekstrak yang diperoleh dari masing-masing penyari diduga karena adanya perbedaan kandungan senyawa yang terlarut dalam penyari tersebut. Etanol dengan polaritas yang lebih rendah daripada air, dapat melarutkan senyawa alkaloid, diglikosida, fenolik, flavonoid, dan sedikit minyak atsiri (Lopez et al. , 2005. Agustiningsih dkk. , 2. Etanol memiliki gugus hidroksil terminal dan karenanya memiliki karakter lebih polar dibandingkan karbonil C = O dalam aseton, yang membuat etanol lebih polar dari pada aseton. Campuran aseton dan air akan meningkatkan kepolarannya. Pengaruh tingkat kepolaran dari pelarut yang digunakan dalam mengekstraksi komponen senyawa dari klika faloak ini juga diamati dengan membandingkan kemampuan masing-masing pelarut dalam mengekstraksi senyawa fenolik dalam ekstrak klika faloak. Kadar fenolik total tertinggi diperoleh Kadar Fenolik (% EAG) Etanol 50% 9,57 Etanol 70% 11,01 Etanol 96% 44,75 Aseton 43,69 Aquades 5,42 Aseton 70% 61,34 Aktivitas antibakteri ektrak klika faloak terhadap Salmonella typhi diuji menggunakan metode difusi agar dengan larutan ekstrak 1%. Hasil uji menunjukkan perbedaan aktivitas dari masingmasing ekstrak (Tabel . Ekstrak etanol 96% dan aseton tidak menunjukkan adanya aktivitas Penghambatan Salmonella thypi ditunjukkan oleh ekstrak etanol 50% . ,617 m. , etanol 70% . ,367 m. , aquadest . ,77 m. dan aseton-aquadest . ,623 Aktivitas penghambatan terbesar ditunjukkan Syahruni et al. /Jurnal Farmasi Galenika (Galenica Journal of Pharmac. : 12-17 Tabel 3. Hasil uji aktivitas antibakteri terhadap S. Sampel Uji Diameter Zona Hambat . Rerata A SD Ekstrak Etanol 50% 14,05 13,35 13,45 13,62 A 0,38 Ekstrak Etanol70% 13,35 13,25 13,50 13,37 A 0,13 Ekstrak Etanol 96% 6,00 6,00 6,00 6,00 A0 Ekstrak Aseton 6,00 6,00 6,00 6,00 A0 Ekstrak Aquades 10,83 11,10 10,37 10,77 A 0,37 Ekstrak Aseton 70% 10,40 11,10 10,37 10,62 A 0,41 Kontrol Positif 1 21,35 20,83 21,30 21,16 A 0,29 Kontrol Positif 2 21,40 21,15 21,30 21,28 A 0,13 Kontrol Negatif 1 6,00 6,00 6,00 6,00 A0 Kontrol Negatif 2 6,00 6,00 6,00 6,00 A0 oleh ekstrak etanol 50%. Aktivitas hambatan dari ekstrak klika faloak dapat digolongkan sebagai respon hambatan kuat karena memiliki diameter hambatan 10-20 mm (Tabel . Tingkat kepolaran ekstrak dan besarnya perolehan rendamen juga tidak menunjukkan hubungan peningkatan aktivitas penghambatan pada Salmonella thypi DAFTAR PUSTAKA Agustiningsih. Wildan. , dan Mindaningsih. Optimasi Cairan Penyari Pada Pembuatan Ekstrak Daun Pandan Wangi (Pandanus amarillyfolius Rox. Secara Maserasi Terhadap Kadar Fenolik Flavonoid Total. Momentum. Vol. : 36-41. KESIMPULAN Jenis pelarut yang digunakan yaitu aseton, aseton 70%, aquades, etanol 96%, etanol 70% dan etanol50% mempengaruhi sifat fisikokimia ekstrak klika faloak dengan perolehan rendemen yang Ekstrak etanol 96% dan aseton tidak menunjukkan adanya aktivitas penghambatan terhadap bakteri patogen Salmonella thypi. Penghambatan pertumbuhan Salmonella thypi ditunjukkan oleh ekstrak etanol 50% . ,617 m. , etanol 70% . ,367 m. , aquadest . ,77 m. dan aseton 70% . ,623 m. Tingkat kepolaran ekstrak menunjukkan hubungan peningkatan aktivitas penghambatan pada Salmonella thypi. Coolborn AF & Bolatito B. Antibacterial and Phytochemical Evaluation of Three Medicinal Plants. Journal of Natural Products. 3 : 27-34. Chun. Kim. Lee. Superoxide Radical Scavenging Activity of The Major Polyphenols in Fresh Plums. Journal of Agriculture and Food Chemistry. 51:8067-8072. Lopez. , & Nonato. Alkaloids Pandanus collected from Marikina. Philippines. Phillippine Journal of Science 134 . : 39-44. UCAPAN TERIMAKASIH