Terakreditasi SINTA Peringkat 3 Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, Nomor: 72/E/KPT/2024 masa berlaku mulai Volume 10 Nomor 1 Tahun 2023 sampai Volume 14 Nomor 2 Tahun 2027 Terbit online pada laman web jurnal: https://jurnal.plb.ac.id/index.php/tematik/index Jurnal Teknologi Informasi Komunikasi (e -Journal) Vol. 11 No. 2 (2024) 172 - 181 ISSN Media Elektronik: 2443-3640 Analisis Pergerakan Lengan Tari Bedoyo Majapahit Berbasis Motion Capture Analysis of Arm Movements in Bedoyo Majapahit Dance Using Motion Capture Technology Anang Kukuh Adisusilo1*, Emmy Wahyuningtyas2, Wisnu Yudo Untoro3 1,2,3Informatika, Fakultas Teknik, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya 1anang65@uwks.ac.id, 2emmy@uwks.ac.id@uwks.ac.id, wisnuyudo@uwks.ac.id@ uwks.ac.id Abstract The Bedoyo Majapahit dance is an Indonesian cultural heritage that combines elegance and meaning in every movement, particularly in its signature arm movements. This study focuses on exploring and analyzing arm movement patterns in this traditional dance using motion capture technology, aiming to document, understand, and scientifically reveal the beauty and dynamics of these movements. Positional data of the shoulders, elbows, and wrists from both sides were analyzed to calculate speed and elbow angles. Descriptive statistics, correlation analysis, and K-means clustering were applied to identify dominant patterns. The results indicate a positive correlation between shoulder and elbow speeds on both sides, with correlation values of 0.71 and 0.84, highlighting symmetrical movements. Three movement clusters were identified: low, medium, and high, with the low cluster being the most dominant. The average speeds in the low cluster were 0.097 m/s for the shoulders, 0.092 m/s for the elbows, and 0.091 m/s for the wrists, reflecting the gentle characteristics of the dance. Meanwhile, the medium and high clusters exhibited higher speed values, particularly for the wrists in the high cluster at 1.888 m/s, indicating more dynamic movements. This study provides a quantitative understanding of the smooth and symmetrical movements in Bedoyo Majapahit dance, supporting cultural preservation through data-driven analytical approaches. Keywords: arm movement, Bedoyo majapahit dance, K-means, motion capture, traditional dance, velocity Abstrak Tari Bedoyo Majapahit merupakan warisan budaya Indonesia yang memadukan keanggunan dan makna dalam setiap gerakannya, terutama pada gerakan lengan yang menjadi ciri khasnya. Penelitian ini berfokus pada eksplorasi dan analisis pola pergerakan lengan dalam tari tradisional ini dengan memanfaatkan teknologi motion capture, yang bertujuan untuk mendokumentasikan, memahami, dan mengungkap keindahan serta dinamika gerakan lengan secara ilmiah. Data posisi bahu, siku, dan pergelangan tangan kiri-kanan dianalisis untuk menghitung kecepatan dan sudut siku. Analisis statistik deskriptif, korelasi, dan K-Means dilakukan untuk mengidentifikasi pola dominan. Hasil analisis menunjukkan korelasi positif antara kecepatan bahu dan siku kiri-kanan dengan nilai korelasi 0,71 dan 0,84, menandakan simetri gerakan. Tiga kluster pola gerakan ditemukan: rendah, sedang, dan tinggi, dengan kluster rendah sebagai yang dominan. Rata-rata kecepatan pada kluster rendah adalah 0,097 m/s untuk bahu, 0,092 m/s untuk siku, dan 0,091 m/s untuk pergelangan, sesuai dengan karakteristik lembut tarian. Sementara itu, kluster sedang dan tinggi menunjukkan nilai kecepatan yang lebih tinggi, terutama pada pergelangan tangan di kluster tinggi dengan 1,888 m/s, menandakan gerakan yang lebih dinamis. Penelitian ini memberikan pemahaman kuantitatif terhadap pergerakan halus dan simetris dalam tari Bedoyo Majapahit, mendukung pelestarian dengan pendekatan analitik berbasis data. Kata kunci: Gerakan Lengan, Kecepatan, K-Means, Motion Capture, Tari Bedoyo Majapahit, Tari Tradisional. 1. Pendahuluan Tari Bedoyo Majapahit adalah salah satu bentuk seni tradisional yang sarat makna dan filosofi dari masa kejayaan Majapahit. Setiap gerakan dalam tari ini mencerminkan simbol spiritual serta representasi keanggunan, ketenangan, dan keselarasan yang dipegang teguh dalam budaya Jawa. Gerakan lengan dalam tari Bedoyo Majapahit bukan hanya berfungsi sebagai aspek estetis, tetapi juga memiliki nilai historis dan simbolik yang dalam [1]. Dengan perkembangan teknologi, seperti motion capture dalam berbagai bidang [2] , terdapat potensi besar untuk mengamati, menganalisis, dan mendokumentasikan gerakan tari ini Diterima Redaksi: 06-11-2024 | Selesai Revisi: 04-12-2024 | Diterbitkan Online: 16-12-2024 172 Anang Kukuh Adisusilo, Emmy Wahyuningtyas, Wisnu Yudo Untoro Tematik: Jurnal Teknologi Informasi Komunikasi (e-Journal) Vol. 11 No. 2 (2024) secara digital. Motion capture berbasis markerless kini membuka peluang bagi penelitian tanpa membutuhkan alat penanda fisik, yang dapat mengganggu keaslian performa tari tradisional [3], [4]. Penelitian mengenai motion capture pada tari tradisional telah diterapkan pada berbagai jenis tari di dunia untuk menganalisis pola gerakan serta dokumentasi digital [5], [6], seperti perekaman gerakan tari dengan motion captured dan dengan model generative sehingga memberi efek ketidak seragaman yang alami pada pembuatan animasi tari tradisional di indonesia khususnya tari Remo, bisa digunakan untuk berbagai jenis tari tradisional lainnya [7], analisis lainnya untuk tari remo dengan menggunakan metode optical flow untuk memnabdingkan gerakan dari tari Remo [8], dan juga berbagai penelitian tentang kebermanfaatan tarian sebagai media pengembangan bakat pemuda melalui sebuah aplikasi [9]. Selain itu untuk beberapa studi menunjukkan pemanfaatan motion capture untuk menganalisis keakuratan dan pola gerak dalam seni tari India, yaitu menggunakan teknologi motion capture untuk memetakan gerakan tangan dan tubuh penari Bharatanatyam secara akurat, dengan fokus pada pola gerakan dan sudut-sudut tubuh tertentu yang merefleksikan nuansa emosi dan ritme [10] dan penelitian di Jepang tentang penggunaan motion capture untuk menganalisis kecepatan dan pola gerak penari Noh, yang memiliki pergerakan lembut namun penuh dengan kontrol [11]. Penelitian lain tentang akurasi motion capture tanpa marker yaitu OpenPose dalam berbagai kondisi menggunakan kamera video [12], yang cocok untuk aplikasi dalam analisis gerak yang rumit, termasuk tari. Temuan menunjukkan akurasi yang baik dengan beberapa perbaikan yang diperlukan untuk pose yang sulit diestimasi. Terdapat juga penelitian lain menggunakan deep learning dalam motion capture tanpa marker, dengan fokus pada pengembangan dataset sintetik dan algoritma yang akurat untuk menangkap pose manusia dari gambar 2D [13]. Sangat berguna bagi penelitian berbasis visual seperti tari tradisional. Dalam bidang biomekanik dan analisis gerakan dalam olahraga [14] juga menggunakan motion capture untuk membantu memperkaya perspektif analisis gerakan pada aplikasi tari [15]. Dalam penbandingan teknologi marker dan tanpa marker di teliti untuk melihat kelebihan dan kekurangan masingmasing, terutama dalam analisis ketelitian Gerakan sehingga dapat memberikan wawasan tambahan dalam memilih teknologi yang tepat untuk aplikasi tari. Dari beberapa penelitian tersebut, belum ada penelitian yang secara spesifik fokus pada gerakan lengan dalam tari Bedoyo Majapahit menggunakan teknologi markerless, padahal teknologi ini menawarkan presisi tinggi dalam pengukuran parameter gerakan. Diperlukan analisis mendalam pada gerakan lengan tari Bedoyo Majapahit untuk mendokumentasikan elemenelemen khas yang belum banyak dijabarkan dalam penelitian. Selain itu, adaptasi teknologi markerless dalam analisis gerak budaya tradisional masih terbatas, khususnya di Indonesia. Penelitian dilaksanakan untuk mengkaji gerakan lengan yang memiliki makna simbolik, di mana penerapan teknologi markerless memungkinkan penelitian lebih presisi dan autentik. 2. Metode Penelitian Dalam penelitian ini mengikuti langkah langkah penelitian seperti Gambar 1. Pengambilan data Data Penelitian Pengumpulan Data Pembersihan data Analisa Data Kecepatan Akselerasi Sudut siku Analisa Pola Gambar 1. Metode penelitian dalam Analisis Pergerakan Lengan Tari Bedoyo Majapahit Berbasis Motion Capture Dengan pendekatan deskriptif-analitis konsep motion capture berbasis markerless digunakan untuk merekam dan menganalisis gerakan lengan tari Bedoyo Majapahit secara akurat tanpa memerlukan sensor fisik dimana data yang dihasilkan berupa parameter spasial dan temporal dari gerakan lengan, yang kemudian diinterpretasikan untuk memahami karakteristik dan pola gerak tari. Untuk seting pengambilan data dilakukan di ruang yang minim dengan halangan dilengkapi dengan sistem pencahayaan dan latar yang optimal untuk keperluan motion capture tanpa marker, guna menghasilkan rekaman gerakan yang bersih. Pengambilan data dilakukan dengan melakukan perekaman terhadap satu penari. Untuk pengumpulan data penari melakukan beberapa rangkaian gerakan lengan sesuai koreografi tari Bedoyo Majapahit. Perangkat motion capture akan merekam data spasial dan temporal dari gerakan lengan penari, seperti sudut, kecepatan, dan posisi relatif antara segmen lengan. Pembersihan dan Pra-pemrosesan Data dilakukan untuk setiap landmark (bahu, siku, pergelangan) konsisten dan tidak ada kesalahan pengukuran dengan melakukan beberapa proses yaitu : Memeriksa data yang hilang: Mengecek kolom mana yang memiliki nilai yang hilang; Mengisi data yang hilang: Mengisi nilai yang hilang dengan metode forward fill (menggunakan nilai sebelumnya); Menghapus duplikat: Menghapus baris yang duplikat dalam dataset; Normalisasi: Normalisasi kolom DOI: https://doi.org/10.38204/tematik.v11i2.2089 Lisensi: Creative Commons Attribution 4.0 International (CC BY 4.0) 173 Anang Kukuh Adisusilo, Emmy Wahyuningtyas, Wisnu Yudo Untoro Tematik: Jurnal Teknologi Informasi Komunikasi (e-Journal) Vol. 11 No. 2 (2024) landmark menggunakan Z-score; Mengonversi tipe data: Mengonversi kolom frame menjadi tipe integer; Mengatur indek: Mengatur ulang indek DataFrame setelah pembersihan. Pada analisis data meliputi kecepatan, akselerasi dan sudut d berdasarkan perhitungan parameter spasial dan temporal gerakan lengan untuk memperoleh pemetaan pola dan ciri khas gerakan yang berulang. Pada bagian analisis kecepatan setiap landmark (bahu, siku, pergelangan), dengan menggunakan Rumus 1. ๐‘ฃ= ๐›ฅ๐‘‘ (1) ๐›ฅ๐‘ก ๐‘ฃ adalah kecepatan, ๐›ฅ๐‘‘ adalah perubahan posisi dan ๐›ฅ๐‘ก adalah perubahan waktu (dalam frame). Akselerasi dihitung sebagai perubahan kecepatan per satuan waktu, berdasarkan Rumus 2. ฮฑ= ๐›ฅ๐‘ฃ (2) ๐›ฅ๐‘ก ฮฑ adalah akselerasi, ๐›ฅ๐‘ฃ adalah perubahan kecepatan (dalam m/s) dan ๐›ฅ๐‘ก adalah interval waktu (dalam detik). Untuk kecepatan adalah ukuran seberapa cepat posisi suatu bagian tubuh, sebagai contoh kecepatan lengan berubah dari waktu ke waktu, sedangkan akselerasi adalah perubahan kecepatan dalam periode waktu tertentu, yaitu seberapa cepat kecepatan itu sendiri berubah. Sedangkah untuk menghitung sudut siku, yaitu: Mendefinisikan vektor posisi untuk vektor dari bahu ke siku dan vektor dari siku ke pergelangan; Dihitung dengan menggunakan rumus, seperti Rumus 3. ๐œƒ = arccosโก( โƒ— โƒ— ๐‘Žโƒ—โ‹…๐‘ โƒ— โˆฃโˆฃ โˆฃโˆฃ๐‘Žโˆฃโˆฃ.โˆฃโˆฃ๐‘ ) (3) Vektor ๐‘Ž dan ๐‘โƒ—, merupakan representasi arah dan magnitude dari gerakan. Dalam konteks tari, mewakili vektor dari posisi bahu ke siku (๐‘Ž) dan dan dari siku ke pergelangan (๐‘โƒ—) Dot produk (โก๐‘Žโก โƒ—โƒ—โƒ— โก. ๐‘โƒ—)โก, dihitung dengan Rumus 4, untuk memberikan ukuran seberapa sejajar dua vektor tersebut. ๐‘Ž โ‹… ๐‘โƒ— = ๐‘Ž๐‘ฅ โ‹… ๐‘๐‘ฅ + ๐‘Ž๐‘ฆ โ‹… ๐‘๐‘ฆ + ๐‘Ž๐‘ง โ‹… ๐‘๐‘ง (4) Magnitudo vektor ๐‘Ž dan ๐‘โƒ—, dihitung dengan Rumus 5 dan 6. โˆฃโˆฃ ๐‘Ž โˆฃโˆฃ= โก โˆš๐‘Ž๐‘ฅ2 + โก ๐‘Ž๐‘ฆ2 + โก ๐‘Ž๐‘ง2 โˆฃโˆฃ ๐‘Ž โˆฃโˆฃ= โก โˆš๐‘๐‘ฅ2 + โก ๐‘๐‘ฆ2 + โก ๐‘๐‘ง2 (5) (6) Fungsi arccos digunakan untuk mendapatkan sudut dalam radian atau derajat dari nilai kosinus yang diperoleh dari pembagian dot product dengan produk magnitudo. Pada analisa pola dengan melakukan perhitungan nilai rata-rata, median, dan deviasi standar dari kecepatan dan sudut siku untuk masing-masing lengan untuk memberikan gambaran umum tentang pola gerak. Kemudian memvisualisasikan data dengan melakukan plot kecepatan dengan waktu, plot sudut siku dengan waktu dan membuat grafik gerak. Selanjutnya melakukan perbandingan antara lengan kiri dan kanan serta mencari korelasinya. Dan dengan menggunakan klustering K-Means dibuat analisa pengelompokan dari pola gerakan berdasarkan kecepatan dan sudut siku 3. Hasil dan Pembahasan 3.1. Data penelitian Proses pengambilan data untuk mendapatkan data dilakukan dengan merekam gerakan tari Bedoyo Majapahit dengan penari tunggal. Penari adalah anggota unit sanggar tari KTKL ( Karawitan Tari Kusuma Laras Ati ), yang sudah sering melakukan tari Bedoyo Majapahit. Ilustrasi posisi penari dan kamera seperti Gambar.2 Kamera Laptop Penari Gambar 2. Ilustrasi posisi penari dalam pengambilan gerak berbasis motion capture Hasil dari rekaman penari Bedoyo Majapahit, dilakukan proses pengambilan data dengan fokus pengambilan data pada pergerakan lengan. Langkah awal adalah menentukan mapping bagian lengan pada tubuh penari, yang meliputi titik bahu kiri (left shoulder), siku kiri (left elbow),pergelangan tangan kiri (left wrist) untuk bagian kiri dan bahu kanan (right shoulder), siku kanan (right elbow), pergelangan tangan kanan (right wrist) untuk bagian kanan, untuk lebih jelasnya seperti Gambar.3. KANAN Bahu Siku KIRI Bahu Siku Gambar 3. Posisi titik diteksi pada penari pada tari Bedoyo Majapahit Berbasis Motion Capture Proses pengambilan data berbasis bahasa pemrograman python versi 3.11.8. Untuk melakukan diteksi gerak dan penyimpanan data digunakan mediapipe pose, opencv, pandas dan numpy yang secara langsung mengambil gerakan penari didepan kamera untuk di rekam dan DOI: https://doi.org/10.38204/tematik.v11i2.2089 Lisensi: Creative Commons Attribution 4.0 International (CC BY 4.0) 174 Anang Kukuh Adisusilo, Emmy Wahyuningtyas, Wisnu Yudo Untoro Tematik: Jurnal Teknologi Informasi Komunikasi (e-Journal) Vol. 11 No. 2 (2024) menghasilkan vidio yang tersimpan, selain itu terdapat label pada setiap bagian titik deteksi dengan koordinat titik tersebut, seperti Gambar 4. Sedangkan algoritma untuk proses pengambilan data ini seperti flowchart pada Gambar 5. Setelah data dihasilkan maka dilakukan pembersihan data untuk persiapan sebelum dilakukan analisa data tersebut. Jumlah data yang dihasilkan sebanyak 4008 rows data dengan kondisi 2004 untuk lengan kanan dan 2004 untuk lengan kiri, atau terdapat 2003 frame hasil record, untuk durasi record 2 menit 40 detik. 3.2. Analisa data Gambar 4. Posisi hasil titik diteksi dengan label dan koordinat pada penari. Tabel 1. Hasil analisis statistik deskriptif untuk tiga variabel kecepatan, yaitu kecepatan bahu, kecepatan siku dan kecepatan pergelangan. Mulai Library: cv2, MediaPipe, numpy, pandas Statistik Inisialisasi MediaPipe Pose Buka Kamera dengan (cap = cv2.VideoCapture()) Inisialisasi DataFrame untuk Menyimpan Sudut dan Kecepatan N Count Mean Std Min 25% 50% 75% Max Kecepatan Bahu (m/s) 4008 1,001235 1,033628 0 0 0 1,897693 4,079572 Kecepatan Siku (m/s) 4008 1,196387 1,331025 0 0 0 2,28042 5,115336 Kecepatan Pergelangan (m/s) 4008 0,995698 1,221485 0 0 0 2,063578 5,079329 Dari Tabel 1, terdapat ada 4008 pengukuran untuk kecepatan bahu, siku, dan pergelangan, dengan mean dari semua nilai kecepatan yang diukur, adalah: Kecepatan bahu bernilai 1.001235; Kecepatan siku bernilai 1.196387; Kecepatan pergelangan bernilai 0.995698. Semua frame open (while cap.isOpened()) Y Baca Frame dari Kamera Konversi Frame ke RGB Deteksi Pose dengan MediaPipe Hasil mean menunjukkan bahwa secara umum, kecepatan gerakan bahu sedikit lebih rendah dibandingkan dengan siku, sedangkan pergelangan memiliki rata-rata mendekatu kecpatan bahu. Ada Landmark yang Terdeteksi? (Bahu, Siku, Pergelangan) Berdasarkan hasil Standard Deviation (Std), mrnunjukkan variasi atau sebaran dari data kecepatan. Semakin tinggi nilai Std, semakin besar nilainya berarti semakin besar variasi dalam gerak kecepatannya, dimana: Kecepatan bahu: 1.033628; Kecepatan siku: 1.331025; Kecepatan pergelangan: 1.221485. Y Ekstraksi Koordinat Bahu, Siku, dan Pergelangan Simpan Data ke List/DataFrame Tampilkan Frame dengan Data Hasil Std menunjukkan kecepatan siku memiliki variasi yang lebih besar dibandingkan bahu dan pergelangan, menunjukkan bahwa gerakan siku cenderung lebih bervariasi dalam kecepatan. N Tekan q Y Simpan Data CSV Tutup Vidio Dalam melakukan analisa data diawali dengan analisa setiap landmark (bahu, siku, pergelangan), dengan menggunakan rumus 1, kemudian dilakukan analisis statistik deskriptif untuk tiga variabel kecepatan, yaitu kecepatan bahu, kecepatan siku, dan kecepatan pergelangan dihasilkan seperti Tabel.1. N Selesai Gambar 5. Flowchart kamera menditeksi pada penari dan menyimpan file hasil. Untuk nilai Min (minimum), hasil nilai 25% atau luartil pertama dan 50% (median), semua variabel memiliki nilai 0.000000, yang menunjukkan bahwa ada beberapa frame dalam gerakan ketika pengukuran tidak gerakan baik dari bahu, siku dan pergelangan tangan. Pada hasil nilai 75% atau kuartil ketiga, yaitu : Kecepatan bahu: 1.897693; Kecepatan siku: 2.280420; Kecepatan pergelangan: 2.063578. DOI: https://doi.org/10.38204/tematik.v11i2.2089 Lisensi: Creative Commons Attribution 4.0 International (CC BY 4.0) 175 Anang Kukuh Adisusilo, Emmy Wahyuningtyas, Wisnu Yudo Untoro Tematik: Jurnal Teknologi Informasi Komunikasi (e-Journal) Vol. 11 No. 2 (2024) Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar pengukuran untuk bahu, siku, dan pergelangan memiliki kecepatan di atas nilai sebelumnya. akselerasi, yaitu: Akselerasi bahu: 122.387163; Akselerasi siku: 153.460065; Akselerasi pergelangan: 152.379880. Pada hasil nilai max (maksimum), yaitu: Kecepatan bahu: 4.079572; Kecepatan siku: 5.115336; Kecepatan pergelangan: 5.079329. Grafik akselerasi lengan yang meliputi bahu, siku dan pergelangan tangan seperti terlihat pada Gambar 7. Hasil nilai maksimum menunjukkan kecepatan maksimum yang dicapai oleh bahu, siku, dan pergelangan paling tinggi pada kecepatan siku. Grafik kecepatan lengan yang melipitu bahu, siku dan pergelangan tangan seperti terlihat pada Gambar. 5., sedangkan grafik untuk distribusi kecepatan bahu, siku dan pergelangan tangan seperti pada Gambar 6. Gambar 5. Grafik kecepatan lengan yang meliputi bahu, siku dan pergelangan tangan. Untuk analisa selanjutnya adalah menghitung akselerasi untuk perubahan kecepatan dalam periode waktu tertentu, dengan menggunakan Rumus 2. Kemudian hasil tersbut dilakukan analisis diskriptif untuk akselerasi bahu, akselerasi siku dan akselerasi pergelangan dihasilkan seperti Tabel 2. Tabel 2. Hasil analisis statistik deskriptif untuk tiga variabel akselerasi, yaitu akselerasi bahu, akselerasi siku dan akselerasi pergelangan. Statistik Akselerasi bahu (frame) Akselerasi siku (frame) count mean std min 25% 50% 75% max 4008 0,000000 61,057309 -122,387163 -56,930803 0,000000 56,930803 122,387163 4008 0,000000 75,934106 -153,460065 -68,412588 0,000000 68,412588 153,460065 Akselerasi pergelangan (frame) 4008 0,000000 66,862811 -152,379880 -61,907338 0,000000 61,907338 152,379880 Dari Tabel 2, terlihat jumlah data sebanyak 4008, hal ini menunjukkan bahwa ada 4008 nilai akselerasi yang dihitung. Nilai dari mean atau rata-rata dari akselerasi untuk setiap titik adalah 0.000000, menunjukkan bahwa secara keseluruhan bahwa pergerakan akselerasi tidak terlalu signifikan dalam konteks ini. Gambar 6. Grafik distribusi kecepatan lengan yang meliputi bahu, siku dan pergelangan tangan. Untuk hasil Std menunjukkan seberapa banyak nilai akselerasi bervariasi dari rata-rata, dimana nilai menunjukkan variasi yang cukup besar, yaitu: Akselerasi bahu: 61.057309; Akselerasi siku: 75.934106; Akselerasi pergelangan: 66.862811. Untuk hasil rentang Nilai minimum, adalah: Akselerasi bahu: -122.387163; Akselerasi siku: -153.460065; Akselerasi pergelangan: -152.379880 Unyuk nilai 25% atau kuartil pertama menunjukkan bahwa nilainya lebih rendah atau nilai di bawah 25% dari data. Sedangkan pada nilai median adalah 0,000000 ini menunjukkan bahwa separuh dari nilai akselerasi berada di bawah nol dan separuh lainnya berada di atas nol. Sama seperti kuartil pertama pada kuwartil ketiga menunjukkan nilai di bawah 75% dari data akselerasi. Sedangkan pada nilai maksimum Gambar 7. Grafik akselerasi lengan yang meliputi bahu, siku dan pergelangan tangan. Analisis selanjutnya adalah untuk menghitung sudut siku, dimana sudut siku terbentuk dari adanya titik bahu DOI: https://doi.org/10.38204/tematik.v11i2.2089 Lisensi: Creative Commons Attribution 4.0 International (CC BY 4.0) 176 Anang Kukuh Adisusilo, Emmy Wahyuningtyas, Wisnu Yudo Untoro Tematik: Jurnal Teknologi Informasi Komunikasi (e-Journal) Vol. 11 No. 2 (2024) siku dan pergelangan tangan, perhitungan sudut siku seperti pada Rumus 3. Hasil grafik dari perhitungan sudut siku seperti pada Gambar 8. Gambar 8. Grafik hasil perhitungan sudut siku. Dari data tersebut dilakukan analisis statistik deskriptif terhadap sudut siku dan dihasilkan seperti pada Tabel 3. Sedangkan pada nilai minimum, untuk sudut siku kiri adalah 55,590, sedangkan sudut siku kanan adalah sekitar 46,910. Hasil pada kuartil pertama untuk nilainilai di bawah 25% dari data menghasilkan sudut siku kiri adalah sekitar 104,210 dan sudut siku kanan adalah sekitar 87,890. Sedabgkan pada nilai median untuk sudut siku kiri adalah sekitar 119,970 dan untuk sudut siku kanan adalah sekitar 107,530. pada bgian kuartil ketiga untuk kondisi data di bawah 75%, sudut siku kiri adalah sekitar 131,620 dan sudut siku kanan adalah sekitar 126,510. Pada hasil nilai maksimum, nilai terbesar sudut siku kiri adalah sekitar 174,850 dan sudut siku kanan adalah sekitar 166,370. Tabel 3. Hasil analisis statistik deskriptif untuk sudut siku Statistik count mean std min 25% 50% 75% max Sudut Siku Kiri (derajat) 2004 118,5675705 21,34576206 55,59339573 104,2108663 119,9712834 131,6193685 174,8544457 Sudut Siku Kanan (derajat) 2004 107,1593456 23,26983491 46,91356652 87,88621382 107,534737 126,5057993 166,3690634 Hasil statistik deskriptif pada Tabel 3, memberikan ringkasan dari distribusi sudut siku kiri dan kanan dengan menggunakan 2004 data untuk sudut siku kiri dan kanan. Dari hasil nilai mean sudut_siku_kiri adalah sekitar 118,570 dan sudut siku kanan adalah sekitar 107,160, hal tersebut menunjukkan bahwa secara umum, sudut siku kiri cenderung lebih besar daripada sudut siku kanan. Untuk Std sudut siku kiri adalah 21,350 dan sudut siku kanana dalah 23,270, menunjukkan variabilitas yang sedikit lebih besar dibandingkan sudut siku kiri. Gambar 9. Grafik distribusi sudut siku kiri dan sudut siku kanan. Gambar untuk distribusi antara sudut siku kiri dan sudut siku kanan seperti Gambar 9. Untuk melakukan analisa pola pergerakan tari dimulai dengan mengidentifikasi pola gerakan lengan dengan membandingkan pola pergerakan lengan kiri dan lengan kanan, seperti terlihat pada Gambar 10 yang merupakan bentuk histogram untuk menunjukkan distribusi sudut siku kiri dan kanan dengan kurva densitas sehingga terlihat pola distribusi. Gambar 10. Grafik gerak untuk lengan kiri dan lengan kanan Sumbu X mempunyai rentang nilai sudut siku berkisar dari sekitar 40ยฐ hingga 180ยฐ, menunjukkan bahwa sudut siku dalam gerakan lengan penari, yang merepresentasikan variasi gerakan pada posisi yang DOI: https://doi.org/10.38204/tematik.v11i2.2089 Lisensi: Creative Commons Attribution 4.0 International (CC BY 4.0) 177 Anang Kukuh Adisusilo, Emmy Wahyuningtyas, Wisnu Yudo Untoro Tematik: Jurnal Teknologi Informasi Komunikasi (e-Journal) Vol. 11 No. 2 (2024) lebih tertutup (siku lebih tajam) sampai posisi lebih terbuka (siku mendekati lurus). Sedangkan Y (Frekuensi), menunjukkan menunjukkan jumlah atau frekuensi terjadinya sudut siku tertentu selama gerakan tari. Nilai frekuensi tinggi menunjukkan sudut yang paling sering muncul dalam tarian. Dari kedua sisi (kiri dan kanan) memiliki rentang sudut yang hampir sama, tetapi intensitasnya (frekuensi puncak) sedikit berbeda, dimana sudut siku kanan memiliki distribusi yang lebih terpusat (lebih banyak data mendekati nilai tengah), sedangkan sudut siku kiri terlihat memiliki variasi yang lebih besar dengan distribusi lebih merata. Tabel 4. Hasil analisis statistik deskriptif untuk gerak lengan kiri Lengan Kiri Bahu x count 2004 mean 0,77 std 0,44 min -2,94 25% 0,58 50% 0,81 75% 0,99 max 1,72 y 2004 -0,02 0,99 -7,13 -0,62 -0,15 0,45 2,95 z 2004 -0,14 0,98 -3,24 -0,87 -0,25 0,46 3,17 Siku x 2004 0,82 0,49 -1,39 0,62 0,98 1,16 1,6 y 2004 -0,05 1,02 -3,12 -0,29 0,07 0,64 2,22 z 2004 -0,21 0,86 -3,02 -0,81 -0,36 0,19 3,64 Pergelangan x y 2004 2004 0,7 0,06 0,66 1 -1,24 -2,29 0,22 -0,68 0,69 0,3 1,26 0,65 1,86 2,32 z 2004 -0,16 0,9 -2,87 -0,71 -0,3 0,16 3,87 Tabel 5. Hasil analisis statistik deskriptif untuk gerak lengan kanan Lengan Kanan Bahu x count 2004 mean -0,77 std 0,78 min -5,90 25% -1,06 50% -0,87 75% -0,63 max 2,89 y 2004 0,02 1,01 -6,96 -0,50 -0,11 0,63 3,20 z 2004 0,14 1,00 -3,16 -0,65 0,14 0,71 2,83 Siku x 2004 -0,82 0,64 -3,67 -1,13 -0,91 -0,68 2,41 Analisis statistik deskriptif menunjukkan data gerakan lengan kiri pada Tabel 4 dan lengan kanan pada Tabel 5. Hasilnya memperlihatkan keselarasan dan simetri gerakan kedua lengan, seperti rata-rata posisi bahu di sumbu x yang hampir sama, yaitu 0,77 untuk kiri dan 0,77 untuk kanan, mencerminkan kesimetrisan gerakan secara horizontal. Simetri ini juga terlihat pada berbagai titik lainnya di berbagai sumbu, mengindikasikan bahwa gerakan tari dirancang untuk mempertahankan keseimbangan visual antara sisi kiri dan kanan tubuh. Dalam variabilitas pergerakan dengan Std menunjukkan variabilitas atau keragaman dalam posisi tiap titik tubuh. Standar deviasi yang cukup tinggi pada beberapa titik, seperti pada bahu kanan denga standar deviasi ๐‘ฅ sebesar 0.78 dan ๐‘ฆ sebesar 1.01, menunjukkan adanya variasi atau pergerakan yang dinamis dalam beberapa sumbu. Hal ini bisa berarti bahwa gerakan bahu dan pergelangan bervariasi lebih besar dibandingkan siku, yang mungkin karena pergelangan dan bahu memungkinkan gerakan yang lebih luas atau fleksibel dalam tari Bedoyo Majapahit. Rentang antara nilai minimum dan maksimum menunjukkan ruang gerak untuk setiap titik. Seperti pada bahu kiri dan bahu kanan menunjukkan rentang yang cukup besar pada sumbu ๐‘ฆ, dengan nilai maksimum dan minimum berturut-turut 2.95 dan -7.13 pada kiri, serta 2.89 dan -6.96 pada kanan. Ini mungkin y 2004 0,05 0,98 -2,84 -0,31 0,11 0,72 2,21 z 2004 0,21 1,08 -2,25 -0,55 0,03 0,87 3,58 Pergelangan x y 2004 2004 -0,70 -0,06 0,76 0,99 -2,32 -2,14 -1,35 -0,64 -0,72 -0,10 -0,24 0,42 2,56 2,29 z 2004 0,16 1,06 -2,60 -0,53 0,05 0,76 4,22 menunjukkan bahwa gerakan vertikal pada bahu cukup signifikan dalam koreografi. Sedangkan pada sumbu ๐‘ง, nilai minimum dan maksimum yang cukup tinggi pada pergelangan kanan dari -2.60 hingga 4.22 menandakan rentang gerakan yang besar pada pergelangan, yang mungkin mencerminkan elemen tari yang melibatkan gestur atau pola gerak tangan yang luas. Untuk nilai median sebagai indikator posisi dominan menunjukkan posisi tengah atau posisi yang paling sering terjadi di sepanjang gerakan tari. Seperti pada median bahu kiri pada sumbu ๐‘ฅ adalah sekitar 0.81, sementara bahu kanan adalah -0.87, yang menunjukkan posisi dominan atau pusat dari pergerakan bahu di sepanjang sumbu horizontal. Nilai ini merupakan sebuat informasi untuk memahami posisi dan bentuk tubuh yang sering dipertahankan dalam gerakan tari, seperti saat mempertahankan sikap atau pose tertentu. Tabel 6. Hasil matrik korelasi kecepatan lengan kiri dan kanan Kecepatan bahu Kecepatan siku Kecepatan pergelangan Kecepatan bahu 1,000000 0,714616 0,534955 Kecepatan siku 0,714616 1,000000 0,843206 Kecepatan pergelangan 0,534955 0,843206 1,000000 Selanjutnya dilakukan visualisasi analisis korelasi antara kecepatan lengan kiri dan lengan kanan, dihasilkan seperti Tabel 6. Tabel 6, menunjukkan DOI: https://doi.org/10.38204/tematik.v11i2.2089 Lisensi: Creative Commons Attribution 4.0 International (CC BY 4.0) 178 Anang Kukuh Adisusilo, Emmy Wahyuningtyas, Wisnu Yudo Untoro Tematik: Jurnal Teknologi Informasi Komunikasi (e-Journal) Vol. 11 No. 2 (2024) matriks korelasi untuk menunjukkan hubungan antara kecepatan gerakan bahu, siku, dan pergelangan tangan dalam tari Bedoyo Majapahit. Korelasi antara kecepatan bahu dan siku menghasilkan nilai 0,714616, sehingga terdapat hubungan positif yang kuat antara kecepatan bahu dan siku. Hal tersebut berarti bahwa ketika kecepatan bahu meningkat, kecepatan siku cenderung juga meningkat. Dalam konteks tari, hal ini mungkin menunjukkan bahwa gerakan bahu dan siku saling berkoordinasi dalam eksekusi gerakan. Korelasi antara kecepatan bahu dan pergelangan menghasilkan nilai 0,534955, menunjukkan hubungan antara kecepatan bahu dan pergelangan adalah positif tetapi lebih lemah dibandingkan dengan hubungan antara bahu dan siku. Ini menunjukkan bahwa ada kecenderungan bahwa saat kecepatan bahu meningkat, kecepatan pergelangan juga meningkat, tetapi tidak sekuat hubungan antara bahu dan siku. Tabel 7. Hasil rata rata kecepatan per cluster Kecepatan bahu (m/s) Cluster 0,097339 rendah Cluster 0,564027 sedang Cluster 0,447744 tinggi Kecepatan siku (m/s) 0,092492 Kecepatan pergelangan (m/s) 0,091916 1,307827 1,888714 0,456987 0,487540 Gambar 12. Grafik pengelompokan kecepatan bahu berdasar cluster. Korelasi antara kecepatan siku dan pergelangan menghasilkan nilai 0,843206, hal ini menunjukkan hubungan positif yang sangat kuat antara kecepatan siku dan pergelangan dan berarti gerakan siku dan pergelangan cenderung terjadi secara bersamaan, dan peningkatan kecepatan pada siku sangat terkait dengan peningkatan kecepatan pada pergelangan. Dalam tari, ini mungkin mencerminkan pentingnya sinergi antara siku dan pergelangan dalam menciptakan gerakan yang halus dan terkoordinasi. Sedangkan korelasi diagonal terdapat angka 1,000000 menunjukkan bahwa setiap variabel memiliki korelasi sempurna dengan dirinya sendiri. Ini adalah hal yang normal dalam matriks korelasi. Hasil korelasi ini dapat dilihat pada Gambar 11. Gambar 13. Grafik pengelompokan kecepatan siku berdasar cluster. Gambar 14. Grafik pengelompokan kecepatan pergelangan tangan berdasarkan cluster. Gambar 11. Grafik korelasi antara lengan kiri dan kanan. Untuk pola kecepatan dengan menggunakan K-Mean dilakukan analisis menghasilkan data cluster seperti Tabel 7, dan Gambar 12. 13,14 Data cluster pada kecepatan bahu menunjukan rata-rata kecepatan bahu sebesar 0.097339 m/s, berarti bahwa gerakan bahu dalam cluster ini relatif lambat, untuk rata-rata kecepatan bahu sebesar 0.564027 m/s, menunjukkan kecepatan bahu yang lebih tinggi, yang bisa berarti gerakan yang lebih aktif atau intens dan rata-rata kecepatan bahu sebesar 0.447744 m/s, menunjukkan kecepatan yang berada di antara cluster rendah dan tinggi. Untuk kecepatan siku cluster rendah rata-rata kecepatan siku sebesar 0.092492 m/s., cluster tinggi rata-rata DOI: https://doi.org/10.38204/tematik.v11i2.2089 Lisensi: Creative Commons Attribution 4.0 International (CC BY 4.0) 179 Anang Kukuh Adisusilo, Emmy Wahyuningtyas, Wisnu Yudo Untoro Tematik: Jurnal Teknologi Informasi Komunikasi (e-Journal) Vol. 11 No. 2 (2024) kecepatan siku sebesar 1.307827 m/s, dan cluster sedang mempunyai rata-rata kecepatan siku sebesar 0.456987 m/s. Rata-rata kecepatan pergelangan tangan untuk cluster rendah sebesar 0.091916 m/s, untuk cluster tinggiratarata kecepatan pergelangan sebesar 1.888714 m/s, menunjukkan kecepatan yang sangat tinggi, yang menunjukkan aktivitas yang signifikan pada pergelangan. Sedangkan cluster sedang nilai rata-rata kecepatan pergelangan sebesar 0.487540 m/s 4. Kesimpulan Dari penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan beberapa hal, Kecepatan Gerakan Lengan: Kecepatan siku lebih tinggi dan bervariasi dibandingkan dengan bahu dan pergelangan, menunjukkan akselerasi yang menonjol dalam gerakan tari. Sebagian besar nilai kecepatan mendekati nol, mencerminkan dominasi gerakan lambat atau gerakan yang menahan posisi dalam tari Bedoyo Majapahit.; Distribusi Sudut Siku: Rata-rata sudut siku kiri lebih besar dibandingkan siku kanan, namun sudut siku kanan menunjukkan variabilitas yang sedikit lebih tinggi. Pergelangan tangan kiri dan kanan memiliki perbedaan rata-rata pada sumbu y dan z, dengan sumbu z menunjukkan variabilitas besar, mencerminkan fleksibilitas dan variasi posisi yang tinggi.; Stabilitas Pola Bahu: Bahu kiri dan kanan menunjukkan pola distribusi yang stabil, yang berfungsi sebagai pusat keseimbangan gerakan lengan dalam koreografi tari.; Simetri dan Ekspresi Gerakan: Terdapat keseimbangan simetris antara lengan kiri dan kanan, dengan rentang gerakan terbesar pada pergelangan tangan. Variasi pada sumbu tertentu, seperti sumbu z pada pergelangan, menekankan elemen ekspresif yang kuat.; Korelasi Antar Bagian Tubuh: Hubungan yang signifikan antara kecepatan bahu, siku, dan pergelangan menunjukkan harmoni gerakan, di mana satu bagian tubuh memengaruhi bagian lainnya untuk menciptakan keselarasan.; Cluster Pola Gerakan (Cluster Rendah: Gerakan lembut dan anggun, mencerminkan simbolisme dan ritme tenang yang menekankan kedamaian dan keindahan. Cluster Sedang: Gerakan dengan kecepatan sedang, mencerminkan perubahan dinamis, seperti transisi atau interaksi dengan musik, yang menunjukkan perpaduan antara ketenangan dan keaktifan. Cluster Tinggi: Gerakan cepat dan tajam, menggambarkan elemen dramatik dan energetik, sering digunakan untuk mengekspresikan emosi atau menekankan elemen penting dalam narasi tari). Sehingga secara umum gerakan lengan dalam tari Bedoyo Majapahit mencerminkan keseimbangan antara keanggunan, harmoni, dan dinamika. Kecepatan dan variasi dalam sudut siku, pergelangan, serta korelasi antarbagian tubuh menggambarkan keindahan koreografi yang memadukan ekspresi halus dan energi dramatis, menciptakan harmoni visual dan makna simbolis dalam tarian. Hasil penelitian ini memiliki sejumlah implikasi praktis yang dapat dimanfaatkan oleh sanggar tari dan lembaga budaya dalam upaya pelestarian tari Bedoyo Majapahit, seperti untuk pembuatan modul latihan dan pelatihan berbasis ilmiah yang berasal dari data pola gerakan lengan yang dihasilkan, pengembangan teknologi pembelajaran digital seperti augmented reality (AR) atau virtual reality (VR) dan juga standarisasi gerakan tari. Penelitian ini terbatas pada satu penari dan gerakan lengan saja. Penelitian lanjutan disarankan melibatkan lebih banyak penari, analisis gerakan tubuh keseluruhan, serta dilakukan dalam konteks pertunjukan asli untuk hasil lebih representatif. Ucapan Terimakasih Ucapan terimakasih kepada LPPM UWKS yang sudah memberikan pendanaan hibah internal penelitian melalui Hibah ENIMAS 2024 (Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat) Daftar Rujukan [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10] [11] Kuswarsantyo, APRESIASI BUDAYA. Lingkaran, 2019. W. W. T. Lam, Y. M. Tang, and K. N. K. Fong, โ€œA systematic review of the applications of markerless motion capture (MMC) technology for clinical measurement in rehabilitation,โ€ J. Neuroeng. Rehabil., vol. 20, no. 1, pp. 1โ€“ 26, Dec. 2023, doi: 10.1186/S12984-023-011869/TABLES/2. H. ZHENG, R. SHIOYA, C. KATO, and K. HARADA, โ€œ ใƒžใƒผใ‚ซใƒผใƒฌใ‚นใƒขใƒผใ‚ทใƒงใƒณใ‚ญใƒฃใƒ—ใƒใƒฃใซใ‚ˆใ‚‹่ˆžๅฐ่กฃ่ฃ… ใ‚’็€็”จๆ™‚ใฎๅ‹•ไฝœๆŽจๅฎš,โ€ Proc. Mech. Eng. Congr. Japan, vol. 2023, no. 0, pp. S235-01, 2023, doi: 10.1299/JSMEMECJ.2023.S235-01. M. Wang and R. Yu, โ€œDigital production and realization for traditional dance movements based on Motion Capture Technology,โ€ Front. Soc. Sci. Technol., vol. 4, no. 11, pp. 13โ€“18, Dec. 2022, doi: 10.25236/FSST.2022.041102. K. Sun, โ€œResearch on Dance Motion Capture Technology for Visualization Requirements,โ€ Sci. Program., vol. 2022, 2022, doi: 10.1155/2022/2062791. X. Jiang, โ€œApplication of motion capture technology based on dance big data in dance retrieval,โ€ Appl. Math. Nonlinear Sci., vol. 8, no. 2, pp. 2927โ€“2938, Jul. 2023, doi: 10.2478/AMNS.2023.2.00009. L. Zaman, โ€œModel Generatif Berbasis Recurrent Neural Network Untuk Gerakan Tari Tradisional Indonesia,โ€ Nov. 2020. N. Kurniati, A. Basuki, and D. Pramadihanto, โ€œRemo Dance Motion Estimation with Markerless Motion Capture Using The Optical Flow Method,โ€ Emit. Int. J. Eng. Technol., vol. 3, no. 1, pp. 1โ€“18, Mar. 2015, doi: 10.24003/EMITTER.V3I1.33. F. (Fitria) Gustiani, K. (Kevin) Sujono, R. A. (Reza) Maulana, and D. A. (Dwi) Capah, โ€œAplikasi Pembelajaran Tari Tradisional Indonesia Sebagai Media Pengembangan Bakat Pada Generasi Z Berbasis Web,โ€ J. Ilm. Betrik, vol. 12, no. 3, pp. 278โ€“288, Dec. 2021, doi: 10.36050/BETRIK.V12I3.399. H. Bhuyan, J. Killi, J. K. Dash, P. P. Das, and S. Paul, โ€œMotion Recognition in Bharatanatyam Dance,โ€ IEEE Access, vol. 10, pp. 67128โ€“67139, 2022, doi: 10.1109/ACCESS.2022.3184735. M. Yoshimura, H. Murasato, T. Kai, A. Kuromiya, K. Yokoyama, and K. Hachimura, โ€œAnalysis of Japanese dance movements using motion capture system,โ€ Syst. DOI: https://doi.org/10.38204/tematik.v11i2.2089 Lisensi: Creative Commons Attribution 4.0 International (CC BY 4.0) 180 Anang Kukuh Adisusilo, Emmy Wahyuningtyas, Wisnu Yudo Untoro Tematik: Jurnal Teknologi Informasi Komunikasi (e-Journal) Vol. 11 No. 2 (2024) [12] [13] [14] Comput. Japan, vol. 37, no. 1, pp. 71โ€“82, Jan. 2006, doi: 10.1002/SCJ.20250. N. Nakano et al., โ€œEvaluation of 3D Markerless Motion Capture Accuracy Using OpenPose With Multiple Video Cameras,โ€ Front. Sport. Act. living, vol. 2, May 2020, doi: 10.3389/FSPOR.2020.00050. D. D. Vo and R. Butler, โ€œA Review of Deep Learning Techniques for Markerless Human Motion on Synthetic Datasets,โ€ Jan. 2022, Accessed: Nov. 04, 2024. [Online]. Available: https://arxiv.org/abs/2201.02503v1 R. R. Bini, F. A. Moura, P. R. P. Santiago, S. Colyer, and [15] N. Vanicek, โ€œSpecial issue themes: Markerless motion analysis in sport and exercise,โ€ J. Sports Sci., vol. 42, no. 1, pp. 1โ€“2, Jan. 2024, doi: 10.1080/02640414.2024.2317652. M. Pardell et al., โ€œMovement Outcomes Acquired via Markerless Motion Capture Systems Compared with Marker-Based Systems for Adult Patient Populations: A Scoping Review,โ€ Biomech. 2024, Vol. 4, Pages 618-632, vol. 4, no. 4, pp. 618โ€“632, Oct. 2024, doi: 10.3390/BIOMECHANICS4040044. DOI: https://doi.org/10.38204/tematik.v11i2.2089 Lisensi: Creative Commons Attribution 4.0 International (CC BY 4.0) 181