KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 6. Nomor 2. Hal: 67-77 Jejak Sejarah Boki Fatimah Prinses van Kasiruta dalam Media Virtual sebagai Wahana Digital Pembelajaran Sejarah di Sekolah Suharlin Ode Bau Institut Sains dan Kependidikan (ISDIK) Kie Raha. Maluku Utara. Indonesia Correspondence: suharlinodebau@isdikkieraha. Article Info Article history: Submitted : 27-03-2026 Accepted : 16-04-2026 Published : 23-04-2026 Keywords: Boki Fatimah History. Digital Platform. History Learning. Virtual Media Copyright & License: How to cite this article: Suharlin Ode Bau, . Jejak Sejarah Boki Fatimah Princes van Kasiruta dalam Media Virtual sebagai Wahana Digital Pembelajaran Sejarah di Sekolah. Kamboti: Jurnal Sosial dan Humaniora. https://doi. org/10. 51135/kambotivol6issue2p Abstract This study aims to examine the historical traces of Boki Fatimah. Prinses van Kasiruta, within virtual media as a digital platform for history learning in schools, with particular emphasis on her contributions to the history of the national press and the historiographical marginalization of local female figures. Employing a qualitative descriptive-analytical approach through literature review and digital documentation, this research analyzes the representation of Boki Fatimah across various online articles as alternative historical sources. The findings indicate that virtual media play a strategic role in reconstructing, disseminating, and revitalizing local histories that have long been marginalized, while simultaneously offering opportunities for integration into contextual, interactive, and critical digital history The application of instructional models such as flipped classroom, blended learning, and digital storytelling is shown to be relevant in fostering studentsAo historical and digital literacy. However, the implementation faces several challenges, including limited historiographical legitimacy, issues of digital source validity, pedagogical competence constraints, as well as technological infrastructure limitations and curriculum Therefore, a systemic approach is required, integrating the strengthening of academic research, source curation, pedagogical innovation, and educational policy support in order to realize history learning that is inclusive, reflective, and grounded in historiographical equity. PENDAHULUAN Kemajuan teknologi digital telah mentransformasi pelbagai pengetahuan sejarah yang berkontribusi pada tampilan wahana baru berupa media virtual bagi pembelajaran sejarah di sekolah. Saat ini. Internet menjadi basis media virtual yang menyimpan pelbagai informasi dan semakin berkembang menjadi ruang diskursif pembentuk informasi sejarah sekaligus mengonstruksi makna terhadap sejarah yang sangat Pada konteks kemajuan ini, nilai sejarah lokal yang dahulu menjadi terpinggirkan dari jangkauan penulisan sejarah nasional memperoleh peluang istimewa karena dapat disuarakan melalui tulisan esai dalam platform digital yang mudah diakses secara langsung sebagai bacaan keseharian maupun sebagai bahan pembelajaran. Sejarah lokal memiliki nilai strategis untuk membangun identitas kultural serta menjadi unsur penting penguatan kesadaran kolektif masyarakat di daerah dalam kehidupan suatu bangsa dan negara. Namun, muatan sejarah lokal belum mendapatkan perhatian serius sebagai bahan pembelajaran sejarah di sekolah jika dibandingkan dengan sejarah-sejarah revolusi nasional. Hal inilah yang berdampak pada tergerusnya KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 6. Nomor 2. Hal: 67-77 pemahaman sejarah generasi muda jauh dari semangat tokoh-tokoh pejuang di lingkungan mereka lahir dan besar di Maluku Utara. Degradasi pengetahuan ini tampak sangat nyata ketika generasi muda Maluku Utara tidak mengenal figur sentral tokoh perempuan bernama Boki Fatimah atau Princes van Kasiruta yang tercover dalam teks sejarah sebagai pejuang pers bersama Tirto Adhi Soerjo . Tokoh Prinses van Kasiruta merepresentasikan sosok perempuan pribumi yang lahir dari lingkungan elite Keterasingan dari komunitas asal justru membentuk karakter yang tangguh dan berani. Perkembangan tersebut mendorong keterlibatan aktif dalam organisasi pergerakan sebagai sekretaris di Sjarikat Dagang Islamijah. Selain itu, peran strategis juga tampak melalui inisiatif mendirikan media perempuan pertama di Hindia, yakni Poetri Hindia, sebagai wadah ekspresi dan advokasi kaum perempuan. Jika ditelusuri, nama Prinses van Kasiruta bukan nama fiksi biasa yang muncul dalam teks roman Bumi Manusia dan Jejak Langkah karya pengarang ternama Indonesia. Pramoedya Ananta Toer. Prinses van Kasiruta adalah tokoh sejarah yang dikenal dengan nama Boki Fatimah merupakan saudara perempuan Sultan Muhammad Oesman Syah dari Kesultanan Bacan. Boki Fatimah juga merupakan istri tokoh pers nasional. Raden Mas Tirto Adhi Soerjo. Boki Fatimah merupakan bangsawan dari Kesultanan Bacan yang memiliki akses terhadap pendidikan modern pada masa kolonial. Literasi dalam bahasa Melayu dan Belanda memungkinkannya keterlibatan aktif dalam produksi pengetahuan melalui media cetak. Dalam sejumlah sumber digital Maluku Utara, disebutkan bahwa kapasitas intelektual tersebut menjadikan Boki Fatimah sebagai bagian dari kelompok elite terdidik yang berperan dalam transformasi sosial dan intelektual masyarakat (Bahtiar & Mustopa. Penjelasan tersebut menunjukkan posisi historis perempuan pribumi Maluku Utara yang hadir sebagai pelaku sejarah sekaligus pelopor aktif dalam denyut dinamika sejarah perubahan, khususnya dalam dunia pers Indoensia. Keterlibatan dalam dunia pers menjadi dimensi penting yang menegaskan kontribusi historis Boki Fatimah. Beberapa sumber menyebutkan adanya peran mendukung keberlangsungan surat kabar Medan Prijaji, yang dikenal sebagai salah satu media nasional awal di Hindia Belanda (Redaksi Tandaseru, 2. Selain itu, keterkaitan dengan penerbitan Poetri Hindia menunjukkan partisipasi dalam artikulasi wacana perempuan serta kesadaran emansipatoris di ruang publik kolonial (Rohman, 2. Keberadaan Boki Fatimah tidak boleh sekadar diposisikan sebagai figur pelengkap, tetapi harus dipahami sebagai subjek intelektual yang berperan dalam konstruksi diskursus kebangsaan. Walaupun kontribusinya tergolong penting, pengakuan terhadap peran tersebut masih terbatas, baik dalam ranah akademik maupun dalam upaya diseminasi kepada publik. Dokumentasi historis mengenai tokoh ini pun cenderung tersebar secara parsial dalam berbagai media daring lokal dan tulisan komunitas literasi, sehingga belum tersusun secara terpadu dalam kerangka historiografi nasional (Hartanto, 2. Lebih jauh, ketiadaan representasi dalam buku teks sejarah formal menunjukkan adanya disparitas antara besarnya kontribusi historis dan tingkat legitimasi dalam produksi pengetahuan. Kontribusi dan eksistensinya semakin jauh dari pengetahuan generasi muda Indonesia, khususnya Maluku Utara karena tidak mendapatkan cukup ruang dalam materi pembelajaran sejarah di sekolah. Hal ini juga menjukkan adanya ketimpangan porsi bahan ajar sejarah yang cenderung lebih mementingkan sejarah nasional dan dunia tanpa memberi porsi yang adil terhadap bahan ajar sejarah lokal. Fenomena tersebut menunjukkan adanya bias struktural dalam produksi pengetahuan sejarah, baik dari aspek gender maupun geografis. Sejumlah laporan media lokal mengungkapkan bahwa upaya pengusulan Boki Fatimah sebagai pahlawan nasional terus dilakukan oleh akademisi dan komunitas masyarakat Maluku Utara, namun belum memperoleh perhatian maksimal dari pemerintah pusat. Hal ini mempertegas perlunya rekonstruksi historiografi berbasis sumber alternatif yang lebih inklusif dan representatif serta dapat digunakan sebagai wahana pembelajaran sejarah di sekolah meskipun tokoh-tokoh sejarah di derah belum berstatus sebagai pahlawan nasional. Pada konteks pembelajaran dan transformasi digital, media virtual berfungsi sebagai ruang strategis untuk merekonstruksi, menyebarluaskan, sekaligus melegitimasi pengetahuan sejarah. Keberadaan platform digital memungkinkan pengintegrasian beragam sumber historis, mulai dari arsip, narasi lokal, hingga interpretasi akademik, sehingga membuka peluang untuk merevitalisasi figur-figur yang sebelumnya https://jurnal. id/index. php/kamboti KAMBOTI is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 6. Nomor 2. Hal: 67-77 Jejak digital Boki Fatimah Prinses van Kasiruta yang tersebar diberbagai media daring Maluku Utara dapat dioptimalkan sebagai basis data dalam pengembangan model pembelajaran sejarah berbasis digital. Pemanfaatan media virtual sebagai wahana pembelajaran juga sejalan dengan paradigma pendidikan abad ke-21 yang menekankan literasi digital, berpikir kritis, dan pembelajaran kontekstual. Integrasi sejarah lokal dalam media digital memungkinkan peserta didik memahami realitas sejarah secara lebih dekat dan relevan dengan lingkungan sosial-budaya. Dalam konteks ini, representasi digital Boki Fatimah dapat berfungsi sebagai media edukatif yang menghubungkan sejarah lokal dengan narasi nasional secara lebih Lebih lanjut, digitalisasi sejarah lokal merupakan bagian dari upaya dekolonisasi pengetahuan, yaitu proses mengoreksi dominasi narasi kolonial dalam historiografi. Pengangkatan figur seperti Boki Fatimah dalam ruang digital menciptakan ruang baru bagi artikulasi identitas sejarah yang lebih beragam dan adil. Proses ini tidak hanya memperkaya wacana sejarah nasional, tetapi juga memperkuat kesadaran historis masyarakat terhadap kontribusi tokoh lokal (Hartanto, 2. Namun demikian, pemanfaatan media virtual dalam pembelajaran sejarah tidak terlepas dari tantangan, seperti validitas sumber, kurasi konten, dan tingkat literasi digital pengguna. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan metodologis yang mampu mengintegrasikan analisis kritis terhadap sumber digital dengan strategi pedagogis yang efektif. Kajian terhadap jejak sejarah Boki Fatimah dalam media virtual menjadi relevan untuk mengidentifikasi potensi dan keterbatasan tersebut dalam konteks pembelajaran digital. Dengan demikian, penelitian mengenai AuJejak Sejarah Boki Fatimah Prinses van Kasiruta pada Media Virtual sebagai Wahana Pembelajaran DigitalAy memiliki urgensi akademik dan praktis. Kajian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan pembelajaran sejarah lokal Maluku Utara, sekaligus memperkaya model pembelajaran sejarah berbasis digital yang inklusif, kontekstual, dan berorientasi pada penguatan identitas kultural. II. METODE Penelitian mengenai jejak sejarah Boki Fatimah Prinses van Kasiruta dalam media virtual sebagai wahana pembelajaran sejarah berbasis digital menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptifanalitis. Pendekatan ini dipilih untuk mengkaji secara mendalam fenomena representasi tokoh sejarah lokal dalam ruang digital serta menilai potensi pemanfaatannya sebagai sumber pembelajaran sejarah berbasis digital. Analisis dilakukan secara holistik (Sugiyono, 2. dengan menelaah data yang bersifat tekstual, visual, dan naratif guna mengungkap makna, konteks, serta konstruksi interpretatif dari berbagai Secara metodologis, penelitian ini memadukan kajian sejarah dan studi media digital melalui integrasi analisis teks artikel sejarah. Pendekatan sejarah diarahkan untuk menelusuri jejak historis tokoh dalam sumber digital lokal dan literatur relevan, sementara analisis media digital digunakan untuk mengkaji representasi tokoh dalam artikel daring sebagai ruang diseminasi informasi sejarah. Sumber data meliputi data primer berupa konten digital seperti artikel daring dalam situs website media di Maluku Utara. Data sekunder yang berasal dari buku, artikel jurnal, dan publikasi ilmiah terkait Boki Fatimah Prinses van Kasiruta. Pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka dan dokumentasi digital. Analisis data menggunakan model interaktif reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi (Miles & Huberman, 2. Tahap reduksi dilakukan dengan menyeleksi dan mengelompokkan data agar sesuai dengan fokus penelitian, sedangkan penyajian data disusun dalam bentuk deskriptif tematik untuk memperjelas hubungan antarkategori, seperti jejak historis Boki Fatimah Prinses van Kasiruta dalam artikel daring dan relevansi pembelajaran. Tahap akhir berupa interpretasi dilakukan untuk mengidentifikasi pola representasi tokoh dalam media virtual dan mengaitkannya dengan fungsi edukatif dalam pembelajaran sejarah digital, disertai proses verifikasi berkelanjutan melalui perbandingan berbagai sumber data. https://jurnal. id/index. php/kamboti KAMBOTI is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 6. Nomor 2. Hal: 67-77 i. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Jejak Sejarah Boki Fatimah Prinses van Kasiruta dalam Media Virtual Transformasi digital telah menggeser cara produksi, distribusi, dan konsumsi pengetahuan sejarah dari ruang konvensional menuju ruang virtual yang lebih dinamis dan terbuka. Media virtual tidak hanya berfungsi sebagai sarana dokumentasi, tetapi juga sebagai arena konstruksi makna yang memungkinkan narasi sejarah direproduksi, dinegosiasikan, dan diinterpretasikan ulang. Dalam konteks ini, keberadaan jejak sejarah tokoh lokal Maluku Utara memperoleh signifikansi baru karena dapat diakses secara luas lintas ruang dan waktu. Media virtual seperti koran lokal berbasis website menjadi ruang bagi digitalisasi sejarah yang membuka peluang untuk mengangkat kembali figur-figur yang sebelumnya kurang mendapat perhatian dalam historiografi arus utama sejarah di Indonesia. Jejak sejarah Boki Fatimah Prinses van Kasiruta dalam media virtual menjadi representasi penting dari upaya pelestarian memori kolektif masyarakat Maluku Utara. Kehadiran informasi terkait tokoh tersebut dalam berbagai platform digital, salah satunya pada artikel daring menunjukkan adanya proses revitalisasi sejarah lokal berbasis teknologi. Dokumentasi digital memungkinkan rekam jejak historis tidak hanya tersimpan, tetapi juga terus diperbarui sesuai dengan perkembangan kajian dan temuan baru. Hal ini memperkuat posisi sejarah lokal sebagai bagian integral dari narasi sejarah nasional. Selain aspek pelestarian, media virtual juga berperan dalam memperluas jangkauan edukasi sejarah. Jejak digital Boki Fatimah dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran yang kontekstual dan relevan, khususnya dalam pengembangan pembelajaran sejarah berbasis digital. Integrasi konten sejarah lokal dalam platform digital memberikan alternatif pembelajaran yang lebih interaktif dan partisipatif. Dengan demikian, pemahaman terhadap sejarah tidak lagi terbatas pada teks buku, melainkan berkembang melalui berbagai format multimedia yang menarik dan mudah diakses. Urgensi kajian terhadap jejak sejarah Boki Fatimah pada media virtual juga berkaitan dengan upaya dekonstruksi dominasi narasi sejarah yang bersifat sentralistik. Representasi tokoh lokal dalam ruang digital menjadi strategi untuk menghadirkan perspektif alternatif yang lebih beragam. Melalui media virtual, konstruksi sejarah dapat mencerminkan realitas sosial budaya yang lebih inklusif, sehingga memperkaya khazanah historiografi Indonesia. Proses ini sekaligus mendorong penguatan identitas lokal dalam kerangka kebangsaan. Pembahasan mengenai pentingnya jejak sejarah Boki Fatimah Prinses van Kasiruta pada media virtual tidak hanya relevan dalam konteks pelestarian sejarah, tetapi juga dalam pengembangan pendidikan, penguatan identitas, serta rekonstruksi wacana historiografi. Media virtual berfungsi sebagai medium strategis yang menjembatani masa lalu dengan kebutuhan masa kini, sekaligus membuka ruang bagi interpretasi baru yang lebih kritis dan kontekstual terhadap sejarah lokal. Hasil studi pustaka dan dokumentasi digital yang telah dilakukan menunjukkan bahwa terdapat beberapa artikel daring memuat jejak Boki Fatimah Prinses van Kasiruta pada media lokal Maluku Utara maupun pada media daring nasional. Hasil studi pustaka dan dokumentasi digital ini dapat diuraikan pada tabel berikut. Tabel Artikel Daring Diseminasi Jejak Sejarah Boki Fatimah Prinses van Kasiruta dalam Media Virtual Judul Artikel Daring 1 Menelusuri Jejak Prinses Fatimah. Istri Tirto Adhi Soerjo 2 Prinses van Kasiruta. Jurnalis Perempuan Pertama Indonesia (Bagian 1 dan . 3 Princess Van Kasiruta dan Sejarah Pers Nasional 4 Menenun Pesan Boki Fatimah. Perempuan di Bukit Borero Pulau Penulis/Editor Sumber Digital Dwi Hartanto Terbit, 10 Sep 2019 Handi Andrian Terbit, 16 Juli 2021 Catatan Redaksi Mursal Bahtiar dan Mustopa Terbit, 31 Oktober 2023 Terbit, 26 Januari 2025 https://jurnal. id/index. php/kamboti KAMBOTI is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 6. Nomor 2. Hal: 67-77 Judul Artikel Daring Bacan Halsel Boki Fatimah. Maluku Utara dan Hari Perempuan Internasional Boki Fatimah: Pahlawan Pers yang Diabaikan Pemerintah Penulis/Editor Sumber Digital Dedi Rohman Terbit. Maret 2025 Terbit, 14 Agustus 2025 Irfan Ahmad Keenam artikel daring dianalisis menggunakan kerangka struktur teks cerita sejarah untuk mengidentifikasi konstruksi peristiwa sekaligus mengungkap representasi historiografis Boki Fatimah Prinses van Kasiruta. Pendekatan ini memungkinkan pembacaan kritis terhadap bagaimana narasi sejarah dibangun, dinegosiasikan, dan diproduksi dalam wacana populer. Dalam artikel AuMenelusuri Jejak Prinses Fatimah. Istri Tirto Adhi SoerjoAy (Hartanto, 2. , orientasi tidak sekadar berfungsi sebagai pengantar, melainkan sebagai konstruksi epistemik yang menempatkan Bacan sebagai ruang historis sekaligus locus Keterkaitan dengan karya Pramoedya Ananta Toer menunjukkan adanya intertekstualitas antara sejarah dan sastra yang memperkuat legitimasi naratif, sekaligus menegaskan ketidakpastian identitas tokoh. Rangkaian peristiwa disusun secara kronologis-deskriptif melalui penelusuran lapangan, interaksi dengan masyarakat lokal, serta eksplorasi makam, yang kemudian dipadukan dengan rekonstruksi peran Fatimah dalam Medan Prijaji dan Poetri Hindia. Struktur ini mencerminkan hibriditas sumber lisan, tradisi, dan literer yang memperlihatkan dinamika produksi sejarah populer sekaligus menegaskan posisi Fatimah sebagai bagian dari elite Kesultanan Bacan dan aktor intelektual awal abad ke20 (Hartanto, 2. Reorientasi mengartikulasikan kritik terhadap bias historiografi yang cenderung memarginalkan peran perempuan, sekaligus menyerukan revitalisasi ingatan kolektif (Hartanto, 2. Artikel AuPrinses van Kasiruta. Jurnalis Perempuan Pertama Indonesia (Bagian 1 dan . Ay (Handi Adrian, 2. memperlihatkan konstruksi orientasi yang secara eksplisit mengaitkan Fatimah dengan narasi kebangkitan pers bumiputra melalui rujukan pada Tetralogi Buru. Orientasi ini berfungsi sebagai legitimasi identitas historis yang menempatkan Fatimah dalam orbit Tirto Adhi Soerjo sekaligus dalam konteks Sarekat Dagang Islam dan dinamika awal abad ke-20. Rangkaian peristiwa disusun secara kronologis berbasis data historis, dimulai dari pernikahan tahun 1906 di Bacan, keterlibatan dalam Medan Prijaji, hingga pendirian Poetri Hindia sebagai media perempuan. Narasi diperkuat dengan evidensi berupa arsip, dokumen, dan testimoni, serta diperkaya melalui penelusuran makam dan wawancara dengan komunitas lokal (Handi Adrian, 2. Perbandingan dengan Roehana Koeddoes menjadi strategi argumentatif untuk menegaskan ketimpangan pengakuan historis. Reorientasi menegaskan urgensi legitimasi terhadap kontribusi Fatimah sekaligus mengkritik absennya pengakuan negara dan lemahnya literasi sejarah. Dalam artikel AuPrincess Van Kasiruta dan Sejarah Pers NasionalAy (Kaidah. id, 2. , orientasi dibangun melalui pengenalan Fatimah dalam irisan sejarah lokal Kesultanan Bacan dan narasi pers nasional, dengan tetap merujuk pada representasi dalam karya Pramoedya. Rangkaian peristiwa disajikan secara deskriptifhistoris dengan menampilkan relasi antara aktor (Fatimah dan Tirt. , institusi (Medan Prijaj. , serta dukungan struktural dari Sultan Oesman Sjah, termasuk pembentukan N. Medan Prijaji pada 1908 (Kaidah. id, 2. Namun, keterbatasan elaborasi evidensial menunjukkan kecenderungan simplifikasi narasi sejarah. Reorientasi menegaskan bahwa sejarah Fatimah masih bersifat fragmentaris dan bercampur dengan mitos, sehingga menuntut penguatan penelitian berbasis sumber yang lebih kredibel. Artikel AuMenenun Pesan Boki FatimahAAy (Bahtiar & Mustopa, 2. mengonstruksi orientasi secara simbolik melalui pendekatan naratif emosional yang diperkuat legitimasi genealogis. Dalam artikel ini, rangkaian peristiwa tidak disusun secara kronologis, melainkan tematik-argumentatif dengan menggabungkan narasi sejarah, opini, dan advokasi sosial. Penekanan tidak hanya pada kontribusi historis Fatimah dalam Medan Prijaji, tetapi juga pada kondisi kontemporer seperti keterabaian makam, absennya representasi dalam agenda budaya lokal, serta upaya pengusulan sebagai pahlawan nasional. Penyertaan pandangan tokoh memperkuat dimensi evidensial sekaligus menunjukkan adanya legitimasi sosial terhadap narasi yang dibangun (Bahtiar & Mustopa, 2. Reorientasi berfungsi sebagai artikulasi ideologis yang mendorong aktualisasi nilai perjuangan Fatimah dalam konteks kekinian, sekaligus sebagai bentuk mobilisasi kesadaran kolektif. https://jurnal. id/index. php/kamboti KAMBOTI is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 6. Nomor 2. Hal: 67-77 Sementara itu, artikel AuBoki Fatimah. Maluku Utara dan Hari Perempuan InternasionalAy (Rohman, 2. membangun orientasi dengan menempatkan keterbatasan sumber sejarah sebagai problem utama dalam konstruksi historiografi. Rangkaian peristiwa disusun secara tematik-reflektif dengan menyoroti dominasi narasi Pramoedya sebagai rujukan utama, perbandingan dengan tokoh lain seperti Rohana Kudus, serta inisiatif literasi kontemporer seperti AuBacan MembacaAy dan simposium nasional sebagai upaya rekonstruksi sejarah lokal (Rohman, 2. Struktur ini menunjukkan bahwa produksi sejarah tidak hanya berlangsung di ranah akademik, tetapi juga melalui gerakan literasi masyarakat. Reorientasi mengaitkan figur Fatimah dengan momentum Hari Perempuan Internasional, sehingga memperluas makna tokoh sebagai simbol emansipasi perempuan dan perlawanan intelektual. Artikel AuBoki Fatimah: Pahlawan Pers yang Diabaikan PemerintahAy (Ahmad, 2. menampilkan orientasi yang secara tegas problematis dengan menyoroti marginalisasi struktural dalam historiografi nasional. Rangkaian peristiwa disusun secara kronologis-analitis dengan dukungan arsip kolonial, mencakup klarifikasi silsilah, pernikahan tahun 1906, hingga keterlibatan dalam Medan Prijaji dan Poetri Hindia, termasuk kontribusi finansial dan intelektual Fatimah dalam gerakan pers (Ahmad, 2. Narasi ini menunjukkan tingkat evidensial yang lebih kuat dibandingkan artikel lain. Reorientasi menghadirkan kritik institusional terhadap pemerintah daerah atas pengabaian warisan sejarah, sekaligus menyerukan rekonstruksi ingatan kolektif dan pemanfaatan situs sejarah sebagai media edukasi publik. Secara keseluruhan, keenam artikel menunjukkan pola struktural yang konsisten dalam teks cerita sejarah. Orientasi secara umum mengonstruksi Fatimah sebagai figur penting namun terpinggirkan dalam historiografi nasional. Rangkaian peristiwa menegaskan kontribusinya dalam sejarah pers melalui relasi dengan Tirto Adhi Soerjo serta keterlibatannya dalam Medan Prijaji dan Poetri Hindia. Sementara itu, reorientasi secara dominan mengartikulasikan kritik terhadap bias historiografi, minimnya dokumentasi, serta absennya legitimasi negara terhadap tokoh perempuan, khususnya dari wilayah periferal seperti Bacan. Pola ini menunjukkan bahwa wacana mengenai Fatimah tidak hanya bersifat rekonstruktif, tetapi juga dekonstruktif terhadap historiografi arus utama yang maskulin dan berpusat. Implikasi dari temuan ini mengarah pada pentingnya reorientasi pedagogi sejarah, khususnya melalui pengembangan wahana digital pembelajaran di tingkat SLTP dan SMA. Integrasi sumber sejarah alternatif berbasis multimedia seperti e modul interaktif, arsip digital, peta historis, dan video naratif perlu diarahkan untuk menghadirkan perspektif yang lebih kritis dan kontekstual. Platform digital tersebut tidak hanya berfungsi sebagai media transmisi pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang eksplorasi berbasis inkuiri yang mendorong peserta didik melakukan analisis sumber, komparasi historiografi, serta rekonstruksi narasi sejarah secara mandiri. Dalam konteks ini, pemanfaatan digital storytelling dan proyek berbasis riset lokal menjadi strategi pedagogis yang efektif untuk membangun kesadaran kritis terhadap bias historiografi, sekaligus memperluas representasi sejarah Indonesia yang lebih inklusif, reflektif, dan berbasis literasi digital. Transformasi Wahana Digital Pembelajaran Sejarah di Sekolah Potensi sejarah kepahlawanan lokal di Maluku Utara perlu terlebih dahulu ditransformasikan dalam praktik pendidikan sebelum diarahkan pada upaya memperoleh legitimasi formal negara. Dalam konteks ini, enam artikel daring yang mendiseminasikan jejak sejarah Boki Fatimah Prinses van Kasiruta memiliki signifikansi strategis sebagai sumber pembelajaran sejarah berbasis digital. Meskipun pengusulan tokoh tersebut sebagai pahlawan nasional di bidang pers belum memperoleh pengakuan resmi, artikel-artikel tersebut tetap memiliki nilai informatif yang tinggi sebagai representasi sejarah lokal. Oleh karena itu, konten tersebut relevan dijadikan sebagai wahana digital pembelajaran sejarah di sekolah guna memperluas akses pengetahuan sekaligus membangun kesadaran historis peserta didik. Pemanfaatan wahana digital memungkinkan transformasi informasi sejarah secara cepat, fleksibel, dan Peserta didik dapat mengakses sumber sejarah melalui perangkat digital, sehingga proses penelusuran jejak historis Boki Fatimah menjadi lebih mandiri. Dalam hal ini. Lubis, . menegaskan bahwa pembelajaran berbasis digital menjadi krusial karena mampu meningkatkan efektivitas proses belajar-mengajar serta capaian hasil belajar. Namun demikian, keberhasilan pemanfaatan media digital sangat bergantung pada kapasitas guru dalam mengelola sumber belajar. Guru dituntut tidak hanya memahami sejarah lokal secara memadai, tetapi juga mampu mengintegrasikan hasil riset ke dalam media https://jurnal. id/index. php/kamboti KAMBOTI is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 6. Nomor 2. Hal: 67-77 pembelajaran yang relevan. Sejalan dengan itu. Utomo, . menekankan pentingnya kesesuaian antara media, tujuan pembelajaran, dan substansi materi sebagai prasyarat efektivitas pembelajaran. Lebih lanjut, pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran terbukti mampu meningkatkan partisipasi aktif dan motivasi belajar peserta didik. Yudiana et al. , . menunjukkan bahwa model pembelajaran seperti flipped classroom dan blended learning memberikan fleksibilitas sekaligus meningkatkan efektivitas Dalam konteks ini, kedua model tersebut relevan untuk mengintegrasikan artikel daring tentang Boki Fatimah sebagai sumber pembelajaran sejarah berbasis digital. Model flipped classroom memungkinkan peserta didik mempelajari materi secara mandiri sebelum kegiatan tatap muka. Khumairah et al. , . menjelaskan bahwa pendekatan ini menggeser pembelajaran menjadi berpusat pada peserta didik, di mana materi diakses terlebih dahulu melalui internet, kemudian didiskusikan secara mendalam di kelas. Artikel daring tentang Boki Fatimah dapat dimanfaatkan pada tahap pra kelas . re clas. sebagai sumber awal pemahaman. Selanjutnya, pada tahap di dalam kelas . n clas. , pembelajaran difokuskan pada diskusi analitis, interpretasi sumber, dan pemecahan masalah historis secara kolaboratif. Dengan demikian, kelas bertransformasi menjadi ruang dialektika yang menekankan konstruksi pengetahuan, bukan sekadar transmisi informasi. Strelan et al. menegaskan bahwa flipped classroom memungkinkan optimalisasi waktu tatap muka untuk aktivitas pembelajaran yang lebih aktif dan aplikatif. Selain itu, pendekatan blended learning menawarkan integrasi antara pembelajaran tatap muka dan pembelajaran daring dalam satu kesatuan sistem. Hafiz et al. , . menjelaskan bahwa blended learning bertujuan meningkatkan penguasaan pengetahuan dan kinerja belajar melalui kombinasi interaksi langsung dan akses digital. Dalam pembelajaran sejarah, komponen tatap muka berfungsi sebagai ruang klarifikasi dan refleksi, sedangkan komponen daring memberikan fleksibilitas bagi peserta didik untuk mengakses artikel sejarah secara mandiri. Kombinasi ini memperluas akses pengetahuan sekaligus memperkaya pengalaman belajar. Husamah, . menegaskan bahwa blended learning memiliki keunggulan dalam aksesibilitas yang berdampak pada peningkatan hasil belajar, sementara Dziuban et al. menunjukkan efektivitasnya dalam meningkatkan capaian akademik dan mengurangi angka putus Di samping kedua model tersebut, pemanfaatan artikel daring juga dapat dikembangkan melalui pendekatan digital storytelling sebagai strategi pedagogis inovatif. Storytelling, menurut Echols dalam Nilam Utama, . , merupakan aktivitas penyampaian cerita yang dalam konteks digital berkembang menjadi narasi berbasis multimedia. Puspitasari et al. , . menjelaskan bahwa digital storytelling mengintegrasikan teks, audio, video, dan gambar dalam format digital yang mampu meningkatkan keterlibatan emosional dan daya ingat peserta didik. Dalam pembelajaran sejarah, digital storytelling berfungsi sebagai instrumen untuk mentransformasikan narasi tekstual menjadi pengalaman belajar yang lebih visual dan imajinatif. Jejak sejarah Boki Fatimah dapat direkonstruksi dalam bentuk cerita digital yang memadukan narasi historis dengan elemen multimedia, sehingga lebih mudah dipahami. Secara struktural, digital storytelling terdiri atas narasi sebagai inti cerita, elemen audio untuk memperkuat suasana, dan unsur visual yang merepresentasikan peristiwa secara konkret. Integrasi ketiga elemen ini memungkinkan penyajian sejarah yang lebih atraktif dan kontekstual. Penerapan digital storytelling tidak hanya meningkatkan kualitas pembelajaran, tetapi juga mendorong pengembangan kompetensi abad ke-21, seperti literasi digital, kreativitas, dan berpikir kritis. Metode ini membantu mengkonkretkan konsep sejarah yang abstrak serta memperkuat keterlibatan emosional peserta didik. Selain itu, pendekatan ini membuka ruang bagi peserta didik untuk mengonstruksi interpretasi personal terhadap sejarah, sehingga pembelajaran menjadi lebih reflektif dan bermakna. Dengan demikian, integrasi artikel daring sebagai wahana digital pembelajaran sejarah tidak hanya berfungsi sebagai alternatif sumber belajar, tetapi juga sebagai strategi transformasi pedagogis. Pendekatan ini mampu menjembatani kesenjangan antara sejarah lokal dan pembelajaran formal, sekaligus mendorong terbentuknya kesadaran historis yang lebih kritis, inklusif, dan kontekstual di kalangan peserta didik. https://jurnal. id/index. php/kamboti KAMBOTI is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 6. Nomor 2. Hal: 67-77 Topik AuBoki Fatimah Prinses van Kasiruta dalam Sejarah Pers NasionalAy sebagai Wahana Digital Pembelajaran Sejarah di Sekolah Menjadikan topik AuBoki Fatimah Prinses van Kasiruta dalam Sejarah Pers NasionalAy sebagai wahana digital pembelajaran sejarah mencerminkan integrasi strategis antara historiografi lokal dan transformasi media digital dalam pendidikan abad ke-21. Analisis terhadap artikel-artikel daring menunjukkan bahwa Boki Fatimah memiliki kontribusi penting dalam perkembangan jurnalisme awal di Hindia Belanda, khususnya melalui keterlibatannya dalam Medan Prijaji dan Poetri Hindia. Namun demikian, kontribusi tersebut belum memperoleh legitimasi yang proporsional dalam historiografi formal, sehingga pemanfaatan media digital menjadi sarana strategis untuk merekonstruksi dan mendiseminasikan kembali narasi sejarah yang lebih inklusif. Pemanfaatan artikel digital sebagai sumber pembelajaran mendorong pergeseran paradigma dari pembelajaran berbasis buku teks menuju eksplorasi sumber sejarah yang lebih variatif, fleksibel, dan Peserta didik tidak hanya mengakses informasi, tetapi juga dilatih untuk melakukan analisis kritis melalui komparasi antar sumber, identifikasi bias historiografis, serta rekonstruksi narasi berbasis Dengan demikian, pembelajaran sejarah berkembang dari sekadar reproduksi pengetahuan menjadi proses analitis dan reflektif. Selain itu, penggunaan media digital turut memperkuat literasi digital dan historis secara simultan. Peserta didik mengembangkan kemampuan untuk menyeleksi, mengevaluasi, dan menginterpretasikan informasi di tengah arus data yang masif. Hal ini menjadi penting dalam membangun kesadaran kritis terhadap validitas dan kredibilitas sumber sejarah. Di sisi lain, pengangkatan tokoh lokal seperti Boki Fatimah berfungsi sebagai upaya revitalisasi identitas kultural, yang memperkuat keterhubungan peserta didik dengan sejarah daerahnya serta mendorong apresiasi terhadap kontribusi lokal dalam sejarah nasional. Dengan demikian, integrasi topik ini tidak hanya memperkaya materi pembelajaran, tetapi juga mendorong terbentuknya kesadaran historis yang kritis, inklusif, dan kontekstual, sekaligus menjadi langkah konkret dalam mengatasi marginalisasi historiografis terhadap tokoh perempuan. Tantangan Implementasi Topik AuBoki Fatimah Prinses van Kasiruta dalam Sejarah Pers NasionalAy sebagai Wahana Digital Pembelajaran Sejarah di Sekolah Implementasi topik AuBoki Fatimah Prinses van Kasiruta dalam Sejarah Pers NasionalAy sebagai wahana digital pembelajaran sejarah menghadapi sejumlah tantangan epistemologis dan struktural yang saling Pertama, keterbatasan legitimasi historiografis menjadi persoalan mendasar, karena representasi tokoh masih tersebar dalam artikel daring yang bersifat parsial dan populer serta belum terintegrasi dalam historiografi nasional yang mapan, sehingga menyulitkan transformasi menjadi materi ajar formal yang menuntut validitas dan konsistensi akademik. Kedua, tantangan kurasi dan verifikasi sumber digital juga signifikan, mengingat tidak semua informasi memiliki kredibilitas ilmiah yang percampuran fakta dan mitos serta bias interpretatif menuntut seleksi metodologis yang ketat agar pembelajaran tidak mereproduksi distorsi pengetahuan. Ketiga, pada aspek pedagogis, keterbatasan kompetensi guru dalam literasi digital, desain pembelajaran inovatif, dan analisis historiografis menyebabkan pemanfaatan media digital sering kali bersifat pasif, belum menjadi ruang eksplorasi kritis. Keempat, keterbatasan infrastruktur teknologi dan kesenjangan akses digital turut memperumit implementasi, karena tidak semua satuan pendidikan memiliki fasilitas yang memadai untuk mendukung pembelajaran berbasis media virtual secara optimal. Kelima, resistensi kurikulum yang masih berorientasi pada narasi sejarah nasional yang dominan menyebabkan sejarah lokal, termasuk figur Boki Fatimah, belum memperoleh ruang proporsional dalam struktur pembelajaran formal. Keenam, secara kultural, rendahnya kesadaran kolektif terhadap tokoh lokal membatasi resonansi pembelajaran, padahal kedekatan emosional dan relevansi kultural merupakan prasyarat penting bagi pembelajaran sejarah yang Dengan demikian, implementasi topik ini tidak dapat dipahami semata sebagai persoalan teknis integrasi media digital, melainkan sebagai bagian dari upaya rekonstruksi keadilan historiografis. Diperlukan intervensi metodologis, pedagogis, dan struktural secara simultan agar digitalisasi sejarah lokal mampu menghasilkan pembelajaran yang kritis, inklusif, dan reflektif. https://jurnal. id/index. php/kamboti KAMBOTI is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 6. Nomor 2. Hal: 67-77 Pembahasan Pembelajaran sejarah berbasis digital merupakan keniscayaan dalam lanskap pendidikan kontemporer yang ditandai oleh akselerasi teknologi informasi. Kustandi & Sutjipto, . mengemukakan bahwa pembelajaran digital merupakan penerapan teknologi informasi dalam ranah pendidikan melalui lingkungan virtual . -learnin. , yang mentransformasikan proses pembelajaran ke dalam format berbasis Transformasi ini tidak sekadar mengubah medium penyampaian materi, tetapi juga merekonstruksi paradigma pembelajaran dari yang bersifat transmisif menjadi konstruktif dan Dalam konteks ini, media virtual berfungsi sebagai ruang produksi dan reproduksi pengetahuan sejarah yang memungkinkan integrasi berbagai sumber tekstual, visual, maupun audiovisual secara simultan dan dinamis. Pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran sejarah telah menunjukkan dampak positif yang Firmansyah, . menyimpulkan bahwa inovasi pembelajaran sejarah semakin mengarah pada penggunaan media berbasis teknologi, yang berimplikasi pada penguatan literasi digital serta kemampuan berpikir historis peserta didik. Hal ini menegaskan bahwa pembelajaran sejarah tidak lagi berfokus pada hafalan fakta, tetapi pada kemampuan analitis dan interpretatif. Sejalan dengan itu. Wulandari, . menunjukkan bahwa penggunaan media digital seperti video dan film dari YouTube dalam pembelajaran sejarah mampu meningkatkan daya tarik, interaktivitas, dan kualitas pemahaman peserta didik. Meskipun demikian, efektivitas implementasinya tetap dipengaruhi oleh ketersediaan infrastruktur dan dukungan institusi, serta menghadapi kendala seperti ketidakstabilan jaringan internet. Dalam konteks yang lebih luas, pembelajaran sejarah berbasis digital membuka akses terhadap sumbersumber sejarah yang sebelumnya terbatas. Internet sebagai basis media virtual menghadirkan ruang diskursif yang memungkinkan sejarah tidak hanya dipelajari, tetapi juga diperdebatkan dan Kondisi ini memperkuat posisi peserta didik sebagai subjek aktif dalam membangun pemahaman historis yang kritis dan reflektif. Selain itu, media digital memungkinkan integrasi antara sejarah nasional dan sejarah lokal, sehingga kontribusi tokoh daerah seperti Boki Fatimah Prinses van Kasiruta dapat diangkat sebagai bagian integral dari historiografi nasional yang lebih inklusif. Jejak digital Boki Fatimah dalam berbagai artikel daring memiliki signifikansi strategis sebagai arsip naratif sekaligus instrumen revitalisasi memori kolektif. Pengangkatannya dalam pembelajaran sejarah tidak hanya menghadirkan konteks lokal yang relevan bagi peserta didik, tetapi juga berfungsi sebagai upaya korektif terhadap bias gender dalam historiografi Indonesia. Keterlibatan Boki Fatimah dalam Medan Prijaji dan Poetri Hindia menunjukkan kontribusi nyata perempuan dalam dinamika pers nasional, sehingga narasi sejarah menjadi lebih representatif dan tidak lagi didominasi oleh perspektif maskulin. Pemanfaatan artikel daring sebagai sumber belajar juga mendorong pembelajaran berbasis Peserta didik dapat melakukan analisis komparatif terhadap berbagai narasi yang tersedia, mengidentifikasi bias historiografis, serta merekonstruksi sejarah berdasarkan evidensi. Pendekatan ini sejalan dengan paradigma historiografi kritis yang menekankan pentingnya interpretasi berbasis sumber. Selain itu, integrasi model pembelajaran seperti flipped classroom dan blended learning memungkinkan peserta didik mengakses materi secara mandiri melalui media digital, kemudian mendiskusikannya secara kritis di kelas. Transformasi ini juga dapat diperkuat melalui digital storytelling yang menggabungkan narasi sejarah dengan elemen multimedia, sehingga meningkatkan keterlibatan emosional dan pemahaman kontekstual peserta didik (Nilam Utama, 2022. Puspitasari et al. , 2. Urgensi pemanfaatan jejak digital Boki Fatimah juga berkaitan dengan fenomena marginalisasi Minimnya representasi tokoh ini dalam buku teks formal menunjukkan adanya kesenjangan antara kontribusi historis dan pengakuan akademik. Oleh karena itu, media digital menjadi sarana strategis untuk menjembatani kesenjangan tersebut sekaligus mendukung proses dekolonisasi pengetahuan Pengangkatan tokoh lokal melalui media digital memungkinkan rekonstruksi narasi sejarah yang lebih adil dan representatif terhadap keragaman pengalaman sosial-budaya di Indonesia. Namun demikian, implementasi topik ini tidak terlepas dari berbagai tantangan yang kompleks. Keterbatasan legitimasi historiografis, lemahnya kurasi dan verifikasi sumber digital, serta rendahnya kompetensi literasi digital dan historiografis guru menunjukkan bahwa transformasi pembelajaran masih https://jurnal. id/index. php/kamboti KAMBOTI is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 6. Nomor 2. Hal: 67-77 berada pada tahap transisional. Kondisi ini diperparah oleh ketimpangan infrastruktur teknologi, resistensi kurikulum yang masih berorientasi pada narasi nasional yang dominan, serta rendahnya kesadaran kultural terhadap tokoh lokal. Akibatnya, potensi pembelajaran sejarah digital belum sepenuhnya berfungsi sebagai ruang eksplorasi kritis yang transformatif. Oleh karena itu, diperlukan strategi implementasi yang komprehensif dan berkelanjutan. Penguatan legitimasi historiografis perlu dilakukan melalui riset berbasis sumber primer dan sekunder yang tervalidasi, serta kodifikasi dalam bentuk karya ilmiah dan repositori digital. Selain itu, pengembangan sistem kurasi dan verifikasi sumber digital berbasis standar akademik menjadi keharusan melalui kolaborasi dengan sejarawan dan institusi pendidikan. Peningkatan kapasitas pedagogis guru juga perlu diarahkan pada penguasaan literasi digital kritis dan desain pembelajaran berbasis inkuiri, sehingga media digital tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu, tetapi sebagai ruang produksi pengetahuan. Di sisi lain, penguatan infrastruktur teknologi dan dukungan kebijakan pendidikan menjadi prasyarat penting untuk mengurangi kesenjangan akses digital. Integrasi dalam kurikulum dapat dilakukan melalui pendekatan fleksibel seperti muatan lokal dan pembelajaran kontekstual, sementara penguatan dimensi kultural dapat diwujudkan melalui strategi digital storytelling dan pelibatan komunitas lokal. Dengan demikian, pembelajaran sejarah berbasis digital dengan memanfaatkan jejak Boki Fatimah Prinses van Kasiruta tidak hanya memperkaya metode pembelajaran, tetapi juga menjadi langkah strategis dalam merekonstruksi historiografi yang lebih inklusif, kritis, dan kontekstual bagi generasi masa kini. IV. KESIMPULAN Berdasarkan keseluruhan pembahasan, kajian mengenai jejak sejarah Boki Fatimah Prinses van Kasiruta dalam media virtual menegaskan bahwa digitalisasi sejarah lokal membuka ruang epistemik baru bagi rekonstruksi historiografi yang lebih inklusif, khususnya terhadap tokoh perempuan dari wilayah periferal. Representasi dalam artikel daring tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi alternatif, tetapi juga sebagai medium produksi wacana yang mampu mengoreksi bias gender dan sentralisme dalam sejarah nasional. Namun demikian, transformasi ini masih menghadapi kendala mendasar berupa keterbatasan legitimasi historiografis, fragmentasi sumber, serta lemahnya integrasi dalam sistem pendidikan formal. Dalam konteks pendidikan, pemanfaatan media virtual sebagai wahana digital pembelajaran sejarah menunjukkan potensi signifikan dalam meningkatkan literasi historis, literasi digital, serta kemampuan berpikir kritis peserta didik. Integrasi model pembelajaran seperti flipped classroom, blended learning, dan digital storytelling menegaskan bahwa sejarah tidak lagi diposisikan sebagai hafalan faktual, melainkan sebagai proses konstruksi makna yang kontekstual dan reflektif. Meskipun demikian, efektivitas implementasi tetap dipengaruhi oleh kesiapan pedagogis, ketersediaan infrastruktur, serta resistensi kurikulum yang belum sepenuhnya adaptif terhadap sejarah lokal. Dengan demikian, topik Boki Fatimah Prinses van Kasiruta dalam Sejarah Pers Nasional memiliki urgensi akademik dan pedagogis, sekaligus menjadi bagian dari proyek dekolonisasi pengetahuan dan keadilan Transformasi ini menuntut pendekatan sistemik yang mengintegrasikan riset, pedagogi, teknologi, dan kebijakan pendidikan secara simultan. Penelitian ini memiliki keterbatasan pada penggunaan sumber yang didominasi oleh artikel daring yang bersifat populer dan belum sepenuhnya tervalidasi melalui sumber primer, sehingga berpotensi menimbulkan bias interpretatif. Selain itu, kajian ini belum menguji secara empiris implementasi pembelajaran digital di kelas. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan mengembangkan kajian berbasis sumber primer dan pendekatan interdisipliner, serta melakukan studi empiris di lingkungan pendidikan guna menguji efektivitas model pembelajaran digital dalam praktik nyata. https://jurnal. id/index. php/kamboti KAMBOTI is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 6. Nomor 2. Hal: 67-77 DAFTAR PUSTAKA