AL-HIKMAH : Jurnal Pendidikan dan Pendidikan Agama Islam Jurnal AL-HIKMAH Vol 3. No 1 . p-ISSN 2685-4139 e-ISSN 2656-4327 MEMBENTUK KARAKTER KEPEMIMPINAN PADA PESERTA DIDIK MELALUI PENDEKATAN PEMBELAJARAN DEEP LEARNING Muhamad Tisna Nugraha1. Aan Hasanah2 1Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak 2Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung tisnanugraha2014@yahoo. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan upaya pembentukan karakter kepemimpinan pada peserta didik melalui pendekatan pembelajaran mendalam . eep Adapun metode yang digunakannya dalam penelitian ini adalah metode studi kepustakaan . ibrary researc. dengan pendekatan kualitatif, sedangkan untuk instrumen penelitiannya dilakukan dengan observasi dan dokumentasi serta proses analisa data yang dilakukan secara kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai kepemimpinan yang terdapat dalam penelitian ini, meliputi sikap dan perilaku inovatif, kreatif, keadilan, kebijaksanaan, kesederhanaan, mengutamakan musyawarah mufakat dan kejujuran. Selain itu, nilai-nilai tersebut dapat merujuk pada nilai-nilai yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berupa sifat dan perilaku siddiq . , amanah . apat dipercay. , tabligh . dan fathonah . Adapun bentuk dari pembelajaran mendalam . eep learnin. dapat dipraktikkan dengan pendekatan substantif dan reflektif. Selain itu, proses tersebut hendaknya disinergikan dengan peran dan fungsi lembaga pendidikan Islam, yaitu keluarga, madrasah dan masyarakat. Kata Kunci: Karakter. Kepemimpinan & Pembelajaran Mendalam. Abstract: The purpose of this study was to describe a leadership character-building effort on students through a deep learning approach. The applied method in this study was library research with a qualitative approach. The research instruments were observation and documentation. Furthermore, the obtained data were analyzed qualitatively. Based on the results of the study, it can be concluded that the leadership values found in this study are innovativeness, creativity, justice, wisdom, modesty, prioritizing deliberation, and honesty. In addition, these values can refer to the values exemplified by Muhammad. Rasl AllAh allaAoAllahu Aoalayhi wa-sallam, namely siddiq . , amanah . , tabligh . onveying righteousnes. , and fatanah . Moreover, deep learning in this study can be put into practice with a substantive and reflective Furthermore, this process should be synergized with the roles and functions of Islamic education institutions, such as the family, madrasah (Islamic school. , and Kata Kunci: Character. Leadership, & Deep Learning. Pendahuluan Kepemimpinan yang efektif menjadi salah satu faktor yang penentu keberhasilan suatu organisasi. Kepemimpinan efektif juga dapat memberikan pengaruh terhadap ritme. Jurnal AL-HIKMAH Vol 3. No 1 . Page 15 Muhamad Tisna Nugraha. Aan Hasanah tujuan dan fungsi suatu organisasi. Oleh karena itu pemimpin yang akan ditunjuk untuk memimpin hendaknya merupakan orang yang benar-benar memiliki kelebihan di dalam memimpin jika dibandingkan dengan orang-orang yang dipimpinnya. Karena, keberhasilan dari kepemimpinan seseorang terletak pada ketepatan seorang pemimpin dalam memberikan keputusan terhadap berbagai dinamika permasalahan yang sedang Persoalan yang kini muncul adalah krisis multidimensional yang berimbas pada semakin berkurangnya ketersediaan pemimpin yang cakap menjalankan tugas dan fungsinya serta benar-benar merupakan pemimpin yang mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan. Bahkan fenomena yang sering kali muncul di pemberitaan adalah sosok pemimpin yang justru jauh dari nilai-nilai kepemimpinan ideal. Kasus prostitusi yang melibatkan pejabat negara, penggunaan obat-obat terlarang, korupsi dan berbagai tindak pidana lainnya menunjukkan bahwa kejahatan yang dilakukan oleh sejumlah orang maupun aparatur negara yang telah ditunjuk sebagai pemimpin di tingkat rendah hingga pucuk pimpinan, tidak dapat lagi dipandang sebelah Selain itu, kejahatan ini tidak lagi hanya dilakukan oleh orang biasa, melainkan banyak juga dilakukan oleh orang terdidik mulai dari tingkat Rukun Tetangga (RT) sampai pada Kementerian Negara. Oleh sebab itu tidak berlebihan jika Indonesia saat ini dapat dikatakan sedang mengalami krisis kepemimpinan. Parwatri Wahjono . menyatakan bahwa krisis kepemimpinan adalah salah satu indikasi dari kemerosotan moral yang berkaitan dengan mulai memudarnya watak, karakter serta jati diri sebagai bangsa yang beradab. 1 Selain itu, menurut Doni Koesoema A . menyatakan bahwa krisis kepemimpinan dalam tatanan masyarakat menjadi indikasi dari kurang mampunya lembaga pendidikan untuk menanggapi berbagai tuntutan masyarakat serta perkembangan zaman. 2 Oleh karena itu maraknya tindakan kriminal dan ketidakadilan yang dirasakan oleh masyarakat tentunya berawal dari rusaknya karakter pemimpin suatu bangsa dan jika ditarik secara terus menerus, maka pangkal dari dari permasalahan ini, salah satunya adalah aktivitas pembelajaran yang belum dapat meluluskan calon peserta didik yang layak untuk menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri, apalagi bagi orang lain. Suderadjat . alam Ida Widaningsih, 2. menyebutkan bahwa pendidikan Islam adalah pendidikan yang dapat mencerdaskan dan membangun karakter peserta didik, serta mampu menciptakan Sumber Daya manusia yang unggul untuk menanggulangi berbagai krisis integritas dan krisis moral yang terjadi. Selain itu pendidikan Islam adalah pendidikan yang mampu menyiapkan calon pemimpin dimasa mendatang dengan mengintegrasikan iman, ilmu dan amal sehingga kehadirannya dapat menjadi solusi dari krisis kepemimpinan yang melanda saat ini. Untuk itu, dari penjelasan tersebut, maka salah satu upaya yang dapat ditempuh dalam rangka membentuk dan melahirkan karakter kepemimpinan yang ideal, salah 1 Parwatri. Krisis Budaya: Krisis Kepemimpinan dan Kearifan Lokal yang diabaikan, (Jakarta: Pustaka Obor, 2. , hlm. 2 Doni Koesoema A. Pendidikan Karakter di Zaman Keblinger, (Jakarta: Grasindo, 2. , hlm 232. 3 Ida Widaningsih. Strategi dan Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia di Era Revolusi Industri 4. (Ponorogo: Uwais Inspirasi Indonesia, 2. , hlm. Jurnal AL-HIKMAH Vol 3. No 1 . Page 16 Muhamad Tisna Nugraha. Aan Hasanah satunya dapat dilakukan melalui pendidikan dan pemberian pengalaman belajar yang Lebih lanjut, revolusi industri 5. 0 yang ditandai dengan pesatnya kemajuan teknologi, derasnya arus globalisasi dan semakin kompetitifnya persaingan global di berbagai bidang kehidupan, menuntut hadirnya figur pemimpin yang mampu berpikir kritis, efektif serta visioner dalam rangka menjawab segala tantangan serta permasalahan yang bersifat kekinian. Hal ini karena, revolusi industri 4. 0 telah bergeser ke revolusi 5. dimana orientasi pembangunan yang awalnya berpusat pada internet dan koneksi jaringan, saat ini mengarah kepada kematangan berpikir manusia . uman-centere. dengan berbasis pada teknologi . echnology-base. Berdasarkan hal tersebut, maka pemimpin masa depan tidak lagi hanya dapat duduk tenang dan sekedar memberikan perintah, melainkan juga harus mau untuk turun langsung dan berpikir cerdas mengatasi berbagai permasalahan serta mampu menguasai teknologi yang mendukung tugas serta fungsinya sebagai pemimpin. Dari latar belakang permasalah sebagaimana telah disebutkan, maka perlu dilakukan proses regenerasi kepemimpinan yang lebih mengedepankan kemampuan berpikir tinggi . igher-order thinking skill. dan bermakna . eaningful learnin. Suatu konsep pembelajaran yang dianggap tidak lagi menggunakan sistem pembelajaran klasik, dimana guru menjadi sentralnya . eacher centere. Tetapi selangka lebih maju, pembelajaran yang ada mesti bergeser pada pembelajaran yang berpusat pada peserta didik . tudent centere. Oleh karena itu, dari semua pendekatan pembelajaran yang ada, maka pembelajaran mendalam . eep learnin. adalah pembelajaran yang peneliti anggap tepat dalam membentuk nilainilai kepemimpinan yang ada pada peserta didik. Metodologi Penelitian Penelitian ini merupakan jenis penelitian kepustakaan yang dilakukan dengan metode kualitatif. Mestika Zed . 8: . menyebutkan penelitian kepustakaan atau studi pustaka ialah serangkaian kegiatan penelitian yang berkenaan dengan metode pengumpulan data yang bersumber dari bahan-bahan pustaka atau dengan cara membaca dan mencatat bahan penelitiannya. 4 Selain itu. Eko Sugiarto . menyebutkan bahwa library research adalah jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh dengan prosedur statistik atau melalui teknik hitungan angka lainnya. Hal ini karena, penelitian pustaka merupakan penelitian yang hendak mengungkapkan gejala secara holistikkontekstual melalui pengumpulan data dari latar alami dengan memanfaatkan peneliti sebagai instrumen kunci dalam penelitiannya. Selanjutnya, untuk mempertajam hasil penelitian, maka pengumpulan data dilakukan oleh peneliti dengan teknik observasi serta dokumentasi yang kemudian diolah menggunakan analisa kualitatif. Adapun data yang diolah peneliti terdiri dari data primer yang berasal dari sejumah referensi sebagaimana yang terdapat dalam daftar pustaka. Sedangkan, data sekundernya berasal dari kajian kepustakaan berupa tulisan, berita-berita yang terdapat di media cetak, elektronik maupun sosial media. 4 Mestika Zed. Metode Penelitian Kepustakaan, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2. , hlm. Eko Sugiarto. Menyusun Proposal Penelitian Kualitatif: Skripsi dan Tesis, (Yogyakarta: Suaka Media, 2. , hlm. Jurnal AL-HIKMAH Vol 3. No 1 . Page 17 Muhamad Tisna Nugraha. Aan Hasanah Pembahasan Kepemimpinan dan Pembelajaran Mendalam (Deep Learnin. Kepemimpinan menurut Ednawan Prihana . merupakan entitas yang mengarahkan kinerja para anggota organisasi dalam usaha mencapai tujuan. 6 Sedangkan menurut Mukhtar, dkk . kepemimpinan diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk menggerakan, mengarahkan, sekaligus mempengaruhi pola pikir, cara kerja setiap anggota organisasi atau kelompok agar dapat bersikap mandiri baik ketika bekerja maupun saat pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan pencapaian tujuan yang telah Definisi kepemimpinan juga dapat diartikan sebagai kemampuan melakukan interaksi antara pemimpin . dengan yang dipimpin . dalam suatu hubungan yang tersusun pada kerangka organisasi atau kelompok. Oleh sebab itu, sebagai proses untuk mempengaruhi orang lain, maka upaya yang dapat dilakukan untuk melancarkan tujuan tersebut seorang pemimpin sudah semestinya memiliki wibawa dan karisma di hadapan orang-orang yang dipimpinnya. Wibawa dan karisma ini dapat terwujud bila mana seorang pemimpin telah memiliki nilai-nilai kepemimpinan pada dirinya dan diakui oleh kelompoknya. Nilai-nilai kepemimpinan sebagaimana dimaksud menurut Muh. Hambali & Muslimin . 0:) antara lain sikap dan perilaku inovatif, kreatif, keadilan, kebijaksanaan, kesederhanaan, mengutamakan musyawarah mufakat dan kejujuran. 8 Selain itu di dalam ajaran Islam nilai-nilai kepemimpinan terdapat pada keteladanan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam meliputi sifat dan perilaku siddiq . , amanah . apat dipercaya. , tabligh . dan fathonah . Lebih lanjut, adapun istilah pembelajaran mendalam . eep learnin. merupakan antonim dari pembelajaran permukaan . urface learnin. Menurut Fullan & Langworthy . alam, 2. adalah pembelajaran yang memanfaatkan kekuatan kemitraan pada peserta didik di dalam proses pembelajaran melalui upaya penemuan dan penguasaan suatu materi tertentu untuk kemudian menciptakan pengetahuan yang baru. Pembelajaran mendalam lahir setelah adanya keinginan untuk menyusun kemampuan berpikir tingkat tinggi . igher-order thinking skill. sebagai konsepsi untuk meningkatkan kemampuan individu secara lebih komprehensif. Hal ini sebagaimana pendapat yang dikemukakan Akmal . bahwa ketika terjadi perubahan besar dalam waktu yang cepat, dapat dipastikan akan muncul tuntutan baru dari subjek yang sedang Ednawan Prihana. Kepemimpinan Pemerintah Kota Tangerang Selatan, (Banyuna: CV. Pena Persada, 2. , hlm. 7 Mukhtar. Risnita & Muhammad Anggug M. Pesantren Efektif Model Teori Integratif Kepemimpinan Ae Komunikasi Ae Konflik Organisasi, (Yogyakarta: Deepublish, 2. , hlm. 8 Muh. Hambali & Muslimin. Manajemen Pendidikan Islam Kontemporer, (Yogyakarta: IRCiSoD, 2. Muh Khaerul Anwar. Pembelajaran Mendalam untuk Membentuk Karakter Siswa sebagai Pembelajar,http://ejournal. id/index. php/tadris/article/view/1559/pdf, (Tadris: Jurnal Keguruan dan Ilmu Tarbiyah. Tadris: Jurnal Keguruan dan Ilmu Tarbiyah. Vol 2. No. , hlm. Jurnal AL-HIKMAH Vol 3. No 1 . Page 18 Muhamad Tisna Nugraha. Aan Hasanah mengalami revolusi tersebut. Tuntutan ini dapat diatasi dengan melakukan kegiatan pembelajaran secara mendalam . eep learning skill. Muhammad Fajri . deep learning dianalogikan sebagai proses berpikir secara Kata mendalam pada konteks deep learning merujuk kepada cara berpikir kritis. Berpikir dan belajar secara mendalam berarti sebuah pendekatan pembelajaran yang berusaha memahami sesuatu dengan lebih terpusat dan komprehensif, sehingga apa yang dipelajari menjadi lebih terstruktur dan terarah . upervised learnin. Dikatakan sebagai pembelajaran terstruktur, karena dalam pendekatan deep learning aktivitas pembelajaran disusun secara terstruktur . Sehingga proses komputasi pada pemikiran peserta didik untuk lebih mandiri dalam berpikir dan mengambil keputusan, yang diibaratkan dengan mobil atau kendaraan tanpa sopir . elf-driving ca. Bloom membedakan adanya 4 dimensi kognitif berkaitan dengan konteks berpikir tingkat tinggi atau mendalam, yaitu: . Bloom juga membagi level kemampuan kognitif ini dalam 6 tingkatan, antara lain: . Dari keenam level tersebut, setidaknya terdapat 2 jenis level berpikir, yaitu berpikir tingkat rendah . ow order thinking skil. dan berpikir tingkat tinggi . igh order thinking skil. Inilah level berpikir yang kemudian disebut dengan konsep keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS) dan berpikir tingkat rendah (LOTS). Hierarkis level berpikir sebagaimana dimaksud dapat dilihat pada gambar berikut: Gambar 1: Level Kognitif berdasarkan Taksonomi Bloom Sumber: Anderson . alam Muhammad Fajri, 2. Dari gambar 1 di atas, maka dapat diketahui bahwa level atau tingkat 1 sampai dengan 3 merupakan golongan berpikir tingkat rendah, sedangkan level 4 sampai dengan level 6 merupakan aspek berpikir tingkat tinggi. Dengan demikian maka kelompok berpikir tingkat rendah dikategorikan sebagai lower-order thinking skills, sedang berpikir tingkat tinggi disebut dengan istilah higher-order thinking skills. Berpikir tingkat tinggi inilah yang merupakan konsep dari pembelajaran mendalam . eep learnin. 10 Akmal. Lebih Dekat dengan Industri 4. 0, (Yogyakarta: Deepublish, 2. , hlm. 11 Muhammad Fajri. Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi dalam Konteks Pembelajaran Abad 21 di Sekolah Dasar. Prosiding Seminar Nasional: Membangun Generasi Emas 2045 yang Berkarakter dan Melek IT, . (Sumedang: UPI Kampus Sumedang, 20-21 desember 2. , hlm. 12 Ibid, hlm. Jurnal AL-HIKMAH Vol 3. No 1 . Page 19 Muhamad Tisna Nugraha. Aan Hasanah Selanjutnya Salamah . alam Diah Anggreani, dkk. , 2. menyebutkan bahwa kelebihan dari pembelajaran deep dialogue/critical thinking, diantaranya: . Deep dialogue. Critical thinking dapat digunakan untuk melatih kemampuan berpikir kritis, imajinatif dan logika peserta didik dalam menganalisis fakta-fakta maupun ide-ide tradisional. deep dialogue/critical thinking merupakan pendekatan yang dapat dikolaborasikan dengan metode pembelajaran aktif, . deep dialogue/critical thinking dalam pembelajaran yang dapat menghubungkan antara pembelajaran yang ada di kelas dengan kehidupan nyata, . deep dialogue/critical thinking menekankan pada nilai sikap, kepribadian, sosio-emosional dan spiritual, . deep dialogue/critical thinking mampu meningkatkan pengalaman peserta didik secara lebih kritis dan mendalam pada ranah intelektual, fisik, sosial maupun mental, dan . melalui deep dialogue/critical thinking akan terbina hubungan dialogis antara pendidik dan peserta didik dalam pembelajaran. Sebagai konsekuensi pengembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi, pada proses pembelajaran . maka aktivitas pembelajaran harus dilakukan dengan cara menumbuh kembangkan kemampuan mandiri peserta didik. Pada tataran ini dimensi kognitif yang berkaitan dengan konsep materi terlebih dahulu distimulusi secara teoritis kemudian dilanjutkan ke tataran praksis pada pembelajaran di kelas berdasarkan hirarkis dan kronologisnya. Dengan demikian, kompetensi peserta didik yang didapatkan tidak hanya sebatas pengetahuan dan penguasaan konsep teoritis, melainkan juga kompetensi dalam memperaktikan konsep teoritis tersebut di kehidupan nyata. Pembelajaran deep learning, merupakan rangkaian kegiatan pembelajaran yang dilakukan secara secara efektif dan efisien. Hal ini karena, deep learning bermuara pada terciptanya pembelajaran yang berkualitas dan bermakna. Selain itu, penilaian pendidik terhadap peserta didiknya dalam deep learning dilakukan sejak tahapan perencanaan, pelaksanaan, hingga akhir kegiatan. Kegiatan ini dimaksudkan untuk melihat perkembangan peserta didik dari sejak pra kegiatan, hingga pasca kegiatan. Pendekatan pembelajaran deep learning sejalan dengan pengembangan keterampilan Abad ke-21 yang mendukung pada terciptanya iklim belajar yang mampu mengoptimalkan kompetensi peserta didik dalam menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta berbagai fakta, konsep, prosedur, serta metakognisi pengetahuan yang Di samping itu, peserta didik juga dapat meningkatkan kapabilitasnya dalam berkomunikasi, berkolaborasi, untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapinya. Upaya Membentuk Nilai-Nilai Kepahlawanan Pada Peserta Didik Melalui Pendekatan Deep Learning Upaya membentuk sikap dan perilaku kepemimpinan pada peserta didik dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya adalah melalui proses internalisasi nilai. Internalisasi nilai adalah proses mentransformasikan nilai-nilai tertentu dalam suatu pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik terhadap peserta didik dalam rangka 13 Diah Anggreani. Wiyasa dan Samara Putra. Model Pembelajaran Deep Dealogue/Critical Thinking Berpengaruh Terhadap Hasil Belajara Basahasa Indeonesa Siswa Kelas V SD No I Tuban Kecamatan Kuta, https://ejournal. id/index. php/JJPGSD/article/view/1552, (Universitas Ganesa: Mimbar PGSD. Jurnal AL-HIKMAH Vol 3. No 1 . Page 20 Muhamad Tisna Nugraha. Aan Hasanah memberikan pemahaman dan paradigma baru tentang sesuatu yang pada awalnya merupakan sesuatu yang asing kemudian dapat dianggap sebagai suatu kebenaran. Proses internalisasi ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti memberikan keteladanan, sosialisasi yang dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya melalui pendekatan substantif terhadap materi pembelajaran peserta didik di kelas dan pendekatan reflektif sebagai pembiasaan dalam aktivitas keseharian. Pendekatan substantif adalah pendekatan untuk memuat atau mengemas materi pembelajaran dengan cara menarik dari nilai-nilai yang kepemimpinan, seperti sifat siddiq . , amanah . apat dipercay. , tabligh . dan fathonah . di dalam materi pembelajaran maupun bahan bacaan bagi peserta didik di sekolah/madrasah. 14 Selain itu, pendekatan substantif juga dapat dilakukan dengan menyampaikan kisah-kisah kepemimpinan mulai dari biografi singkat dari seorang pemimpin yang sukses hingga pencapaian yang telah Proses penyampain kisah-kisah teladan ini tentunya harus disesuaikan dengan usia dan tugas perkembangan peserta didik. Karena usia peserta didik turut mempengaruhi pola pikir dan gaya belajar mereka dalam menangkap stimulus atau informasi yang diberikan kepadanya. Adapun pendekatan reflektif adalah suatu pendekatan yang lebih lebih menekankan pada praktik atau aplikasi nilai-nilai kepemimpinan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini, nilai-nilai kepemimpinan yang terdapat sifat siddiq . , amanah . apat dipercay. , tabligh . dan fathonah . tidaklah hanya diajarkan di dalam kelas, melainkan ditangkap melalui pembathinan dan diimplementasikan dalam kegiatan sehari-hari. Praktik pendekatan ini tidak hanya sebatas transfer pengetahuan . ransfer knowledg. , serta pengamatan dan pengawasan. Tetapi juga harus dipraktikan oleh pendidik melalui keteladanan sikap dan perilaku. Penggunaan metode keteladanan tidak hanya bersifat formalitas dan inkonsisten, melainkan juga dilakukan dalam bentuk pembiasaan dan penegakan aturan melalui konsep penghargaan dan hukuman . eward and punishmen. Melalui kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan rasa takut dan kehati-hatian yang kemudian menjadi pembiasaan dalam diri peserta didik, sehingga kelak jika ia dihadapkan pada persoalan, maka ia akan berupaya semaksimal mungkin menahan dirinya untuk tidak melakukan pelanggaran dalam hal tersebut. Penghargaan dapat saja diberikan kepada peserta didik yang telah memperoleh prestasi dalam kegiatan pembelajaran atau mempraktikkan sikap dan perilaku kepemimpinan dengan luar biasa. Selain itu, penghargaan dapat menjadi motivasi untuk peserta didik lainnya agar dapat melakukan hal yang lebih baik. Meskipun demikian penghargaan tidak selalu identik dengan pemberian barang, melainkan juga dapat berupa pujian yang bersifat mendidik, sehingga peserta didik terstimulasi untuk melakukan halhal positif. Adapun berkaitan dengan hukuman . , maka hendaknya hukuman tersebut tidak dilakukan dengan maksud melukai. Karena, kesuksesan dari sebuah hukuman adalah membuat jera pelakunya dan menjadi contoh atau pelajaran bagi yang Pemberian hukuman ini juga harus dilakukan secara bertahap dan disesuaikan RobiAoah Kulsum. Andian Husaini, & Didin Saefuddin. Internalisasi Nilai-Nilai Akhlak Melalui Pembelajaran Tematik Pada Sekolah Dasar Sekolah Alam Bogor. http://ejournal. id/index. php/TADIBUNA/article/view/590/467 (TaAodibuna: Jurnal Pendidikan Islam,Vol. No. , hlm. Jurnal AL-HIKMAH Vol 3. No 1 . Page 21 Muhamad Tisna Nugraha. Aan Hasanah dengan besar kecilnya suatu kesalahan. Selain itu, hukuman juga tidak dapat dilakukan tanpa adanya proses sosialisasi, peringatan maupun tanpa adanya kesepakatan . yang telah dibuat. Selanjutnya internalisasi nilai-nilai kepemimpinan tidak hanya formalitas yang dilakukan dalam kegiatan pembelajaran di sekolah atau madrasah, melainkan juga seharusnya diterapkan di lembaga keluarga dan masyarakat. Oleh karena itu, kerjasama antara lembaga pendidikan, keluarga dan masyarakat penting dilakukan dalam rangka mensinergikan kegiatan pembelajaran yang ada di kelas dengan kehidupan nyata. Upaya mensinergikan peran dan fungsi lembaga pendidikan keluarga, madrasah dan masyarakat dapat dilakukan melalui pertemuan dan rapat sekolah atau madrasah yang diikuti komite atau wali murid. Sehingga, keluarga dan masyarakat tidak hanya menjadi pengguna lulusan melainkan juga dapat berperan aktif dalam menyukseskan kegiatan pembelajaran sesuai dengan apa yang terdapat dalam al-Qur'an, al-Hadits serta sumber hukum Islam lainnya. Upaya untuk mensinergikan aktivitas pembelajaran dengan kehidupan nyata, salah satunya dapat dilakukan dengan melakukan pengawasan secara berkelanjutan terhadap sikap dan perilaku peserta didik di luar sekolah atau madrasah oleh orang tua maupun Selain itu kegiatan ini dapat berupa pemberian masukan berupa kritik dan saran yang bersifat membangung dalam proses pembelajaran. Berbagai bentuk internalisasi nilai sebagaimana telah dipaparkan tentunya juga harus dievaluasi secara rutin dan berjenjang. Sehingga, hal yang kurang bermakna dapat diperbaiki, sedangkan yang baik dapat dilanjutkan dan yang gagal untuk segera ditinggalkan atau digantikan. Evaluasi ini juga tidak hanya dalam bentuk pelaporan dalam proses pembelajaran melainkan juga dalam bentuk deskripsi diri, yaitu melakukan penilaian terhadap pencapaian yang telah dilakukan oleh diri sendiri sebagai bahan Kesimpulan Berdasarkan paparan penjelasan sebagaimana telah disampaikan pada bagian pembahasan, maka nilai-nilai kepemimpinan yang dapat ditanamkan pada peserta didik antara lain adalah inovatif, kreatif, keadilan, kebijaksanaan, kesederhanaan, mengutamakan musyawarah mufakat dan kejujuran. Selain itu nilai-nilai tersebut dapat merujuk pada nilai-nilai yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berupa sifat dan perilaku siddiq . , amanah . apat dipercay. , tabligh . dan fatanah . Adapun implementasi dari pembelajaran mendalam . eep learnin. dalam rangka menanamkan nilai-nilai kepemimpinan dapat dipraktikkan dalam proses pembelajaran serta kehidupan sehari-hari dengan pendekatan substantif dan reflektif. Proses internalisasi ini hendaknya juga dilakukan secara bersama-bersama, sistematis dan Baik oleh lembaga pendidikan, keluarga dan masyarakat. Daftar Pustaka A. Doni Koesoema. Pendidikan Karakter di Zaman Keblinger. Jakarta: Grasindo, 2016. Jurnal AL-HIKMAH Vol 3. No 1 . Page 22 Muhamad Tisna Nugraha. Aan Hasanah Anwar. Muh Khaerul Pembelajaran Mendalam untuk Membentuk Karakter Siswa sebagai Pembelajar, http://ejournal. id/index. php/tadris/article/view/1559/pdf, (Tadris: Jurnal Keguruan dan Ilmu Tarbiyah. Vol 2. No. Akmal. Lebih Dekat dengan Industri 4. Yogyakarta: Deepublish. Anggreani. Diah. Wiyasa dan Samara Putra. Model Pembelajaran Deep Dealogue/Critical Thinking Berpengaruh Terhadap Hasil Belajara Basahasa Indeonesa Siswa Kelas V SD No I Tuban Kecamatan Kuta, https://ejournal. id/index. php/JJPGSD/article/view/1552, (Universitas Ganesa: Mimbar PGSD. Fajri. Muhammad. Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi dalam Konteks Pembelajaran Abad 21 di Sekolah Dasar. Prosiding Seminar Nasional: Membangun Generasi Emas 2045 yang Berkarakter dan Melek. Sumedang: UPI Kampus Sumedang. Hambali. Muh. & Muslimin. Manajemen Pendidikan Islam Kontemporer. Yogyakarta: IRCiSoD. Kulsum. RobiAoah Andian. Husaini, & Didin Saefuddin. Internalisasi Nilai-Nilai Akhlak Melalui Pembelajaran Tematik Pada Sekolah Dasar Sekolah Alam Bogor. http://ejournal. uika-bogor. id/index. php/TADIBUNA/article/view/590/467 (TaAodibuna: Jurnal Pendidikan Islam. Vol. No. Mukhtar. Risnita & Muhammad Anggug M. P . Pesantren Efektif Model Teori Integratif Kepemimpinan Ae Komunikasi Ae Konflik Organisasi. Yogyakarta: Deepublish. Parwatri. Krisis Budaya: Krisis Kepemimpinan dan Kearifan Lokal yang diabaikan. Jakarta: Pustaka Obor.