Journal of QurAoan and Hadis Studies Vol. 4 No. Reinterpretation of the Meaning of Angels in Tafsir Al-Manar (Critical Analysis Studie. Penafsiran Ulang makna Malaikat dalam Tafsir Al-Manar (Studi Analisis Kriti. Article History Submitted: 02/04/2023 Reviewed: 01/05/2023 Revised: 03/06/2023 Aproved: 22/06/2023 Available: 09/07/2023 Susilo silonthus@gmail. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Abstrac Among all the six pillars of faith, faith in angels has its own uniqueness, because it is able to invite debate among Muslim scholars, both in terms of substance and existence. AbduhAos interpretation has its own uniqueness because he attempts to carry out a reconstruction related to the concept of This research will further explore the concept of angels in AbduhAos interpretation as well as look at its consequences for aspects of faith. This research is a library research using descriptive-analytical method. The approach used is hermeneutical. In this study, the primary source used was Muhammad AbduhAos interpretation of QS. al-Baqarah: 30-34 written in Tafsir al-Manar. The results of the study show that according to Abduh, the significance of discussing the nature of angels is the wisdom behind the dialogue between God and the angels in the creation of Adam. He interprets angels more as a natural potential . l-quwa al-tabiAoiyya. rather than a person or creature made of light. If angels are interpreted as natural potentials and laws, then this means that humans are given the ability to empower these potentials, as symbolized by the angelsAo prostration to Adam. The consequence of this interpretation of the aspect of faith in angels is maximizing the synergy between humans and their natural Keywords: Angels. Muhammad Abduh. QS. al-Baqarah: 30-34. Tafsir alManar. URL : https://ejournal. id/index. php/AQWAL/article/view/7037 DOI : https://doi. org/10. 28918/aqwal. Abstrak Di antara seluruh rukun iman yang enam, iman kepada malaikat memiliki keunikan tersendiri, sebab mampu mengundang perdebatan di kalangan Reinterpretation of Meaning. (Susil. | 67 AQWAL: Journal of QurAoan and Hadis Studies Vol. 4 No. sarjana muslim, baik dari segi substansi maupun eksistensinya. Penafsiran Muhammad Abduh memiliki keunikan tersendiri sebab ia berupaya melakukan rekonstruksi terkait konsep malaikat. Penelitian ini akan mengeksplorasi lebih jauh konsep malaikat dalam penafsiran Muhammad Abduh sekaligus melihat konsekuensinya terhadap aspek keimanan. Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan . ibraray reaserc. dengan menggunakan metode deskriptif-analitis. Pendekatan yang digunakan adalah Dalam penelitian ini sumber primer yang digunakan adalah penafsiran Muhammad Abduh terhadap QS. al-Baqarah: 30-34 yang tertulis dalam Tafsir al-Manar. Hasil penelitian menunjukan bahwa menurut Abduh, arti penting pembahasan tentang hakikat malaikat adalah hikmah yang ada di balik dialog antara Tuhan dan malaikat dalam penciptaan Adam. Abduh memaknai malaikat sebagai sebuah potensi alamiah . l-quwa al-tabiAoiyya. , alih-alih sebagai makhluk yang tercipta dari cahaya. Jika malaikat diartikan sebagai potensi dan hukum alamiah, maka hal ini berarti bahwa manusia diberikan kemampuan untuk memberdayakan potensi-potensi tersebut, sebagaimana disimbolkan dengan sujudnya malaikat kepada Adam. Konsekuensi penafsiran tersebut terhadap aspek keimanan kepada malaikat ialah pemaksimalan sinergitas antara manusia dan potensi alamiahnya. Kata kunci: Malaikat. Muhammad Abduh. QS. al-Baqarah: 30-34. Tafsir alManar. PENDAHULUAN Dalam literatur-literatur Islam, gambaran mengenai malaikat memiliki Salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah menyebutkan bahwa malaikat merupakan makhluk Tuhan yang tercipta dari cahaya (Muslim, no. Di sisi lain, malaikat juga diyakini memiliki bentuk yang bermacam-macam dan mampu merubah bentuknya (Fauzan, 2002, p. Konsep populer lainnya menyebutkan bahwa malaikat merupakan makhluk yang memiliki dua, tiga atau empat sayap, sebagaimana disebutkan dalam QS. Fatir: 1. Selain itu, malaikat juga dianggap sebagai penjaga segala sesuatu yang ada di alam semesta. Di antara mereka bertempat di langit serta berbaris rapi dengan segala tugasnya. Mereka menunggu tugas yang akan Allah berikan kepadanya sampai hari kiamat. Di dalam QS. Al-Tahrim: 6, malaikat dijelaskan sebagai makhluk yang selalu menaati perintah Allah serta tidak pernah membangkang. Jika dikaji secara tekstual, gambarangambaran umum di atas akan memberikan pandangan terkait konsep malaikat sebagai makhluk yang memiliki jism. Reinterpretation of Meaning. (Susil. Vol. 4 No. AQWAL: Journal of QurAoan and Hadis Studies Pandangan tersebut berbanding terbalik dengan penafsiran Muhammad Abduh. Berbeda dengan konsep mayoritas. Abduh beranggapan bahwa malaikat adalah sebuah makhluk yang immaterial berupa potensi alamiah . atural power/al-quwa al-tabiAoiyya. (Rida, 1990a, p. Menurutnya, malaikat bukanlah makhluk-makhluk berjism yang bercahaya, melainkan dorongan-dorongan diri untuk melakukan kebaikan. Dorongan-dorongan atau naluri ini hadir dan ada dalam diri setiap manusia. Naluri inilah yang disebut dengan al-quwa al-tabiAoiyyah. Penafsiran Abduh yang memiliki pemahaman yang berbeda dengan pandangan umum terkait malaikat, dengan demikian, memiliki konsekuensi yang berbeda pula dalam hal keimanan terhadap malaikat. Keimanan kepada malaikat masih berkutat pada sesuatu yang abstrak, seperti mencakup kewajiban untuk membenarkan keberaadaan atau Malaikat merupakan makhluk yang tidak pernah membangkang atas perintah Allah dalam sesuatu apapun. Bahkan sebagian ulama juga mewajibkan untuk mengetahui nama-nama 10 malaikat yang dijelaskan dalam teks-teks Konsep penafsiran Muhammad Abduh tersebut yang akan penulis kaji di dalam artikel ini. Penafsiran Muhammad Abduh telah banyak menarik perhatian para Beberapa di antaranya ialah sebuah buku yang ditulis oleh M. Quraish Shihab yang AuStudi Kritis Tafsir Al-Manar Muhammad Abduh dan Rasyid RidhaAy. Di dalam buku tersebut. Quraish Shihab melakukan komparasi pemikiran Rasyid Ridha dan Muhammad Abduh (Shihab, 1. Selain itu, terdapat pula artikel berjudul AuModel Penafsiran Kisah oleh Muhammad Abduh dalam Al-Manar: Studi Kisah Adam pada Surah Al-BaqarahAy. Artikel tersebut menyimpulkan bahwa dalam menafsirkan kisah Adam pada QS. al-Baqarah: 30-38. Abduh di dalam Tafsir al-Manar terbukti konsisten dengan bingkai mazhab Salaf, yakni dengan prinsip tanziih, tasliim, dan tafwiidh. Namun, selayaknya Abduh diposisikan sebagai pionir belaka dalam pengungkapan dan perumusan Aoibrah dan hikmah kisah Al-Quran, dan model yang ia gunakan belum bisa dijadikan sebagai model penafsiran (Bustamam & Aisyah, 2. Terdapat pula artikel Reinterpretation of Meaning. (Susil. | 69 AQWAL: Journal of QurAoan and Hadis Studies Vol. 4 No. yang mengkaji konsep komunikasi menurut Abduh dengan berfokus pada term qaulan dalam QS. al-Baqarah dan al-Nisa (Zakki, 2. Selain itu, kajian mengenai malaikat juga telah banyak didiskusikan oleh beberapa peneliti dengan menggunakan berbagai sudut pandang. Beberapa di antaranya ialah buku M. Quraish Shihab yang berjudul AuYang Tersembunyi. Jin. Iblis. Setan dan Malaikat dalam Al-Quran-Al-Sunnah, serta Wacana Pemikiran Ulama Masa Lalu dan Masa KiniAy. Di dalam buku tersebut. Quraish Shihab menjelalskan beberapa aspek yang berkaitan dengan malaikat, seperti iman kepada malaikat, jumlah, kemampuan, macam-macam, fungsi, dan hubungannya dengan manusia (Shihab, 2. Pembahasan serupa juga terdapat dalam buku HM Ali Usman yang berjudul AuMakhluk-Makhluk Halus Menurut Al-QuranAy (Usman, 1. Sementara di dalam buku berjudul AuRahasia Al-QurAoan. Menguak Alam Semesta Manusia. Malaikat dan Keruntuhan AlamAy. Hakim Muda Harahap menguraikan beberapa perspektif Al-QurAoan tentang malaikat, di antaranya malaikat tidak kreatif, tugas-tugas malaikat, doAoa malaikat, tujuan penciptaan malaikat, hingga sayap-sayap malaikat (Harahap, 2. Sementara itu, penelitian ini bertujuan untuk menampilkan keunikan konsep malaikat dalam penafsiran Muhammad Abduh serta menemukan arti pentingnya terhadap keimanan kepada malaikat. Pembahasan pada artikel ini akan dibatasi pada QS. al-Baqarah: 30-34. Pembatasan ini bertujuan untuk menyesuaikan data dengan kajian-kajian lain yang menggunakan ayat tersebut sebagai landasan dalam mengkonsepsikan malaikat. Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan . ibrary reaserc. dengan menggunakan metode deskriptif-analitis. Untuk menjawab permasalahan tersebut, artikel ini akan menggunakan pendekatan hermeneutis. PEMBAHASAN Sketsa Biografi Muhammad Abduh dan Tafsir Al-Manar Muhammad Abduh Muhammad Abduh bernama lengkap Muhammad Abduh bin Hasan Khair Allah, lahir pada tahun 1849 M/1265 M di sebuah dusun di dekat sungai Nil, tepatnya di desa Mahallat Nasr. Provinsi Gharbiyah. Mesir (Nurdin, 2002, p. Keluarganya terkenal berpegang teguh kepada ilmu dan agama. Ketika berusia 12 tahun, beliau mempelajari al-QurAoan dan telah Reinterpretation of Meaning. (Susil. Vol. 4 No. AQWAL: Journal of QurAoan and Hadis Studies mampu menghafalkannya (Natsir, 1993, p. Ketika usia 13 tahun. Abduh dibawa ke Thanta untuk mempelajari al-QurAoan dan hukum di masjid Ahmadi. Selama menempuh pendidikan di masjid tersebut, beliau mulai menghafalkan nash-nash serta hukum. Meski demikian, beliau tidak menyukai model pembelajaran seperti itu, sehingga ia meninggalkan Thanta dan bertekad tidak akan kembali ke dunia akademik lagi (Liputo, 1996, p. Muhammad Abduh sempat berselancar dengan dunia Tasawuf melalui Syaikh Darwisy Khadr antusiasmenya terhadap ilmu dan agama. Perjalanan tidak lama dikarenakan Abduh menjadi kritis terhadap banyak bentuk lahiriah dan ajaran tasawuf yang pada akhirnya menyebabkan beliau memasuki kehidupan Jamaluddin Al-Afghani yang kritis dan rasionalis (Nasution, 1987, pp. 11Ae. Pada tahun 1866. Abduh meninggalkan keluarga dan istrinya untuk belajar di al-Azhar. Namun. Abduh merasa tidak cocok dengan model pembelajaran al-Azhar yang mengandalkan sistem hafalan di luar kepala sebagaimana di Thanta. Ketidakpuasan pada sistem pembelajaran inilah yang mendorong Abduh melakukan pembaharuan tehadap sistem pembelajaran di al-Azhar. (Abduh, 1998, p. Muhammad Abduh meninggal pada tanggal 11 Juli 1905. Kepergiannya dirasakan oleh berbagai kalangan, baik umat Islam sendiri maupun Kristen serta Yahudi. Mereka sangat merasa kehilangan sosok pemimpin yang lemah-lembut dan mendalam spiritualnya. Di akhir kehidupan. Abduh sangat jarang menyebut al-Afgani sedangkan Al-Afgani sebelumnya memiliki hubungan erat dan sangat berpengaruh terhadap berbagai pemikiran dan tindakan beliau. Muhammad Rasyid Rida Muhammad Rasyid Rida merupakan salah satu murid Muhammad Abduh pemikiran-pemikiran gurunya. Sebagai murid terdekat. Rasyid Rida tentu gurunya itu kepada umat Islam. Menurut Abdullah Makmud Syahatah, seandainya Rida tidak mempublikasikan gagasan pembaharuan Abduh, kita tidak akan dalam mengenal gagasan yang brilian, khususnya di bidang tafsir (Athaillah, 2006, pp. 26Ae. Abduh sendiri juga mengakui konstribusi Rasyid Reinterpretation of Meaning. (Susil. | 71 AQWAL: Journal of QurAoan and Hadis Studies Vol. 4 No. Rida dalam mempublikasikan pemikiran pembaharuannya kepada umat Islam di seluruh dunia. Sayyid Muhammad Rasyid Rida lahir pada hari Rabu, tanggal 27 Jumadi al-Ula 1282 H atau 18 Oktober 1865 M di Qalamun, sebuah desa yang terletak di pantai Laut Tengah, sekitar tiga mil jauhnya di sebelah selatan kota Tripoli. Libanon (Departemen Agama RI, 1993, p. Ayah dan ibu Rida berasal dari keturunan Husein putra Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah, putri Rasulullah. Setelah mendapatkan asuhan yag religius dari keluarganya dan mencapai usia tujuh tahun. Rida kemudian sekolah di sebuah lembaga pendidikan dasar tradisional yang disebut kuttab yang ada di desanya. sanalah Rida belajar membaca, menghafalkan al-QurAoan, menulis dan Setelah menamatkan sekolah tersebut. Rasyid Rida tidak langsung melanjutkan ke lembaga selanjutnya, akan tetapi terlebih dahulu dididik oleh orang tua dan ulama setempat. Setelah itu. Rida melanjutkan pendidikannya di Madrasah Ibtidaiyyah Al-Rusydiyyah di Tripoli. Di madarasah ini, beliau diajarkan ilmu nahwu, ilmu saraf, ilmu tauhid, ilmu fiqh, ilmu bumi dan matematika, dengan menggunakan bahasa Turki sebagai pengantarnya. Penggunaan bahasa Turki di sekolah tersebut disebabkan oleh tujuan dari pendirian madrasah (Nasution, 1992, p. Rida tidak senang dengan misi sekolah ini sehingga dia keluar. Pada tahun 1299 atau 1300 H. Rida memasuki Madrasah Wataniyyah Islamiyah yang didirikan oleh Syeikh Husein al-Jisr . 1327 H/1909 M), seorang ulama Libanon yang telah dipengaruhi oleh ide-ide pembaharuan yang telah digulirkan oleh Sayyid Jamaluddin al-Afganiy dan Syekh Muhammad Abduh. Di sekolah ini. Rida tidak hanya diajarkan ilmu-ilmu agama saja seperti Bahasa Arab, akan tetapi juga diajarkan ilmu pengetahuan umum seperti matematika, filsafat, logika, bahasa Turki, dan bahasa Perancis dan bahasa Arab sebagai bahasa pengantarnya (Shihab, 1994, p. Selain belajar pada Syekh al-Jisr. Rida juga belajar pada ulama besar lainnya, seperti syekh Abdul Ghani Ar-RafiAoi dan Syekh Muhammad AlQawaqijy. Pada dua ulama ini. Rida belajar ilmu bahasa Arab beserta sastra dan tasawuf. Rida juga belajar Fiqh SyafiAoi dan hadis kepada Syekh Mahmud Nasyabah. Selama di Tripoli. Rida tidak hanya berhasil menimba ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum, tetapi juga mendapat kesempatan menulis di Reinterpretation of Meaning. (Susil. Vol. 4 No. AQWAL: Journal of QurAoan and Hadis Studies beberapa harian dan majalah yang terbit di Tripoli dengan bimbingan dari gurunya. Syekh al-Jisr. Kemampuannya dalam menulis mengantarkan Rida menjadi pemimpin redaksi majalah al-Manar hingga akhir hayatnya (Athaillah, 2006, p. Tafsir al-Manar Tafsir al-Manar yang bernama Tafsir al-QurAoan al-Hakim memperkenalkan dirinya sebagai. AuKitab tafsir satu-satunya yang menghimpun riwayat-riwayat yang sahih dan pandangan akal yang tegas, yang menjelaskan hikmahhikmah syariah, serta sunnatullah . ukum Allah yang berlak. terhadap manusia, dan menjelaskan fungsi al-QurAoan sebagai petunjuk untuk seluruh manusia, di setiap waktu dan tempat, serta membandingkan antara petunjuknya dengan keadaan kaum muslimin dewasa ini . ada masa diterbitkanny. yang telah berpaling dari petunjuk itu, serta . embandingkan pul. dengan keadaan para salaf . yang berpegang teguh dengan tali hidayah itu. Ay (Shihab, 1994, p. Al-Manar adalah salah satu kitab tafsir berorientasi pada sastra-budaya Suatu al-QurAoan segi-segi menyusun kandungan ayat-ayatnya dalam suatu redaksi yang indah dengan penonjolan tujuan utama turunnya al-QurAoan. Selanjutnya, merangkaikan pengertian ayat dengan hukum-hukum alam yang berlaku dalam masyarakat dan pembangunan dunia (Shihab, 1994, p. Tafsir al-Manar pada mulanya merupakan ceramah dan gagasan Muhammad Abduh yang disampaikan melalui penafsiran ayat-ayat al-QurAoan dan diterima oleh murid-muridnya, antara lain Muhammad Rasyid Rida yang kemudian menulis semua yang disampaikan oleh sahabat dan gurunya itu dalam bentuk ringkasan dan penjelasan. Ringkasan dan penjelasan itu kemudian dimuat secara berturut-turut dalam majalah al-Manar, yang dipimpin dan dimilikinya, dengan judul AuTafsir al-QurAoan al-HakimAy. Namun. Tafsir al-QurAoan al-Hakim belum berhasil menafsirkan seluruh ayat alQurAoan, al-Fatihah sampai dengan ayat 126 surah al-NisaAo yang disampaikan Muhammad Abduh di masjid al-Azhar. Kairo, sejak awal Muharram 1317 H, sampai dengan pertengahan Muharram 1323 H. Tafsir al-QurAoan al-Hakim yang selesai ditulis sampai ayat ke 126 dari QS. al-NisaAo kemudian dilanjutkan oleh Muhammad Rasyid Rida sampai dengan Reinterpretation of Meaning. (Susil. | 73 AQWAL: Journal of QurAoan and Hadis Studies Vol. 4 No. ayat 52 surah Yusuf. Oleh karena itu. Tafsir al-Manar yang terdiri dari 12 jilid tersebut lebih wajar untuk dinisbahkan kepada Sayyid Muhammad Rasyid Rida. Pertama, karena apa yang telah ditafsiri oleh Muhammad Rasyid Rida, baik dari segi jumlah ayat maupun dari segi halamannya, lebih banyak daripada Abduh. Syeikh Muhammad Abduh menafsirkan 413 ayat yang ditulis dalam kurang dari lima jilid, sedang Rasyid Rida menulis sebanyak 930 ayat, sebanyak tujuh jilid lebih. Kedua, karena dalam penafsiran ayatayat surat al-Fatihah dan surat al-Baqarah serta surat an-NisaAo ditemui pula pendapat-pendapat Rasyid Rida yang ditandai olehnya dengan menulis kata (A )COEAdan ketika mengutip dari Muhammad Abduh, maka tertulis qAla al-ustA al-imAm atau qAla al-ustA al-syaikh . l-Farmawi, 1996, pp. 27Ae. Diskursus Malaikat dalam Keilmuan Islam Secara leksikal, kata malaikat merupakan bentuk jamak malak yang berarti menguasai. Sehingga dapat diartikan malaikat adalah makhluk yang mempunyai tugas untuk menguasai alam dalam arti fisik. Sebagian ulama berpendapat bahwa malak adalah derivasi dari kata alaka atau maAolakah yang mempunyai arti AumengutusAy atau Auperutusan atau risalahAy (Manzur, -a, p. Sebagian ulama lain mengatakan kata malak adalah kata yang terbentuk dari akar kata laAoaka yang berarti menyempaikan sesuatu. Malak atau malaikat adalah makhluk yang bertugas menyampaikan sesuatu dari Allah swt kepada makhluk. Malaikat dalam al-QurAoan disebutkan dengan bermacam-maacam istilah. malak, malakan, malaikat dan malakain. Kata malaikat juga berarti suatu sifat yang melekat pada pribadi atau potensi rasional . stidlAl al-aq. yang berfungsi mengaktualisasikan kerja atau perilaku tertentu melalui kecerdasan dan kemahiran (Al-Qoshiri, 1995, p. Penjelasan di atas menunjukkan bahwa malaikat di dalam al-QurAoan digambarkan memiliki dua kategori fungsional, yakni: pertama, malaikat merupakan utusan Allah yang bertugas untuk mengatur tatanan hukum alam yang meliputi susunan alam raya baik makro kosmos maupun mikro Fungsi tersebut dapat dilihat dalam QS. al-IsraAo: 95. QS. al-Fatir: 1. QS. al-Mursalat: 1. QS. al-AnAoam: 61. QS. al-Zuhruf: 80. kedua, malaikat sebagai utusan Allah yang bertugas sebagai penyampai hal-hal yang Reinterpretation of Meaning. (Susil. Vol. 4 No. AQWAL: Journal of QurAoan and Hadis Studies berkaitan dengan masalah keagamaan, sebagaimana dijelaskan dalam QS. al-Nahl: 2. QS. al-SyuAoara: 51 dan QS. al-Hajj: 75 (Barizi, 2004, p. Penafsiran Mufassir terhadap Kata Malaikat Dalam perspektif konvensional, malaikat dianggap sebagai person atau makhluk yang memiliki jism dan terbuat dari cahaya. Pandangan tersebut disandarkan salah satunya pada hadis yang diriwayatkan oleh Siti Aisyah (Sahih Muslim, no. Pandangan tersebut merupakan persepsi mainstream yang dianut oleh mayoritas, termasuk oleh para mufassir. Mayoritas tafsir al-QurAoan menafsirkan malaikat sebagai makhluk yang terbuat dari cahaya. Beberapa mufassir klasik seperti Ibnu Katsir (Ibn Kasir, 1999, pp. 217Ae. al-Tabari, . l-Tabari, 2000, pp. 439Ae. al-Razi . l-Razi, 2000, pp. 150Ae. dan al-Alusi di dalam Ruh al-MaAoani memaparkan . lAlusi, 2. Tidak hanya di kalangan mufassir klasik, paradigma tersebut juga masih dianut oleh kebanyakan penafsir modern. Ibnu Asyur mengatakan bahwa malaikat merupakan golongan makhluk langit yang terbuat dari cahaya yang diperuntukan untuk beramal kebajikan dan diberikan kemampuan untuk berubah dalam beberapa bentuk yang berbeda (Ibn Asyur, 2000, p. Selain beberapa penafsiran tersebut, terdapat pemahaman lain yang ditawarkan oleh Mulla Shadra. Ketika membahas istilah al-quwa. Mulla Shadra mengaitkannya dengan konsep malaikat. Macam-macam potensi . yang ada pada manusia. Di antaranya ialah potensi nabati . l-quwa alnabatiyya. yang terdiri dari tiga elemen utama, yaitu potensi konsumtif . uwwah al-tagdia. , potensi tumbuh kembang . uwwah al-tanmiyya. dan potensi regeneratif . uwwah al-tauli. (Shadra, 1981, p. Selain itu, dia juga sempat menyinggung al-quwa al-tabiiyah yang ia maknai sebagai potensi jasmaniah (Rida, 1990b, p. , yang berarti segala potensi yang terdapat di Dalam Mulla Shadra mengindentikkan al-quwa atau potensi dengan malaikat. Ia menyebut malaikat langit dengan al-quwa al-nafsaniyah . otensi spiritua. dan mengidentikkan malaikat bumi sebagai al-quwa al-tabiAoiyah . otensi alam. (Rida, 1990c, p. Dengan demikian. Mulla Sadra berpendapat bahwa malaikat merupakan suatu potensi alamiah, bukan sebagai sosok atau Reinterpretation of Meaning. (Susil. | 75 AQWAL: Journal of QurAoan and Hadis Studies Vol. 4 No. Malaikat dalam Penafsiran Muhammad Abduh Substansi Malaikat (Jauhar al-Malaika. Muhammad Abduh malaikat ketika menafsirkan QS. al-Baqarah: 30. Muhammad Abduh menganggap ayat tersebut sebagai ayat mutasyabihat, sebab makna literal dalam ayat tersebut mengandung suatu penafian atau negasi terhadap tanzih . embersihkan Allah dari keserupaan makhlu. (Rida, 1990a, p. Ayat di atas menceritakan suatu segmentasi tentang sebuah dialog yang terjadi antara malaikat dan Allah tentang penciptaan khalifah di bumi. Hal ini tentu saja memuat suatu keserupaan antara Allah dan makhluk-Nya jika hanya ditinjau dari makna literal. Menurut Muhammad Abduh, dalam menghadapi ayat seperti ini, umat muslim terbagi dalam dua kelompok, yakni salaf dan Pertama, metodologi salaf yakni al-tanzih . embersihkan Allah dari keserupaan dengan makhluk-Ny. di mana akal memperkuat apa yang ditetapkan dalam teks keagamaan. Hal tersebut berdasarkan beberapa ayat al-QurAoan seperti Q. al-SyuraAo: 11 dan al-Saffat: 180. Dalam hal ini mereka memasrahkan pengetahuan hakiki terkait makna tersebut kepada Allah dengan tetap berkeyakinan bahwa Allah, dengan seluruh kandungan kalamNya telah memberikan pengajaran tentang sesuatu yang mengandung hikmah baik dalam perilaku, amal dan seluruh keadaan manusia. Kedua, metodologi khalaf yakni taAowil . emalingkan makna aya. Menurut perspektif ini, seluruh kaidah-kaidah agama Islam dibangun atas basis rasional. Dengan demikian, tidak ada satupun di dalamnya yang keluar dari koridor rasional. Ketika akal atau rasio telah memutuskan sesuatu, dan pada saat yang sama terdapat suatu teks keagamaan yang bertentangan menunujukkan bahwa teks keagamaan tersebut tidak bisa ditinjau dari makna literalnya. Dengan demikian, ia harus memiliki alternatif makna lain yang sesuai yang didapatkan melalui konsep taAowil (Rida, 1990a, p. Metodologi tersebut juga diterapkan dalam menafsirkan ayat terkait malaikat. Menurut ulama salaf, malaikat adalah makhluk Allah yang keberadaan dan sebagian tugas-tugasnya telah diinformasikan oleh-Nya. Orang yang beriman wajib mengimaninya dan tidak perlu mengetahui hakikatnya atau Pengetahuan Reinterpretation of Meaning. (Susil. Vol. 4 No. AQWAL: Journal of QurAoan and Hadis Studies diserahkan kepada Allah. Kalaupun diinformasikan bahwa malaikat itu bersayap, kita harus mempercayai hal itu. Akan tetapi perlulah dipahami bahwa sayap malaikat tentu bukan seperti sayap burung yang berbulu, sebab jika sayap malaikat seperti sayap burung niscaya ia bisa terlihat (Rida, 1990a. Pendapat kedua, ulama khalaf yang melihat ayat di atas dalam konteks Mereka meyakini bahwa malaikat dapat dipersepsi dan diketahui. Hal ini sebagaimana dikatakan Muhammad Abduh, ulama khalaf telah berbicara tentang hakikat malaikat dan meberikan suatu definisi, namun sebagian lagi menghindari untuk mendefinisikan malaikat. Meski demikian, mereka sepakat bahwa malaikat dapat dipersepsi dan diketahui. Kisah malaikat sebagaimana tersebut dalam ayat harus dilihat dalam konteks analogi yang berfungsi untuk mendekatkan pemahaman kepada makhluk dalam bingkai cerita tentang penciptaan manusiaAy (Rida, 1990a, p. Berdasarkan penjelasan di atas, menurut Muhammad Abduh, malaikat adalah makhluk Allah yang keberadaan dan sebagian tugas-tugasnya telah diinformasikan oleh-Nya serta wajib diimani oleh umat Islam tanpa perlu mengetahui hakikatnya. Arti penting pembahasan tentang hakikat malaikat adalah hikmah yang ada di balik dialog antara Tuhan dan malaikat dalam penciptaan Adam. Dalam hal ini. Muhammad Rasyid Ridha mengatakan bahwa kaum salaf maupun khalaf keduanya memiliki kesimpulan yang sama terkait al-tanzih . embersihkan Tuhan dari keserupaan dengan makhlu. dan dalam hal kemaksuman malaikat dari segala hal yang tidak layak bagi mereka (Rida, 1990a, p. Menurutnya, bagi mereka yang sudah bisa menerima tafsiran kaum salaf, maka hendaklah ia menerimanya. Namun bagi mereka yang belum puas, maka hendaklah ia membaca konsep lain terkait taAowil malaikat, di antaranya adalah penafsiran Muhammad Abduh. Relasi Fungsional Malaikat Muhammad Abduh menggunakan dua pendekatan dalam memaknai malaikat, yaitu penggunaan makna dasar dan makna relasional. Makna dasar malaikat telah dibahas dalam uraian sebelumnya. Selanjutnya akan dijelaskan terkait makna relasional malaikat yang pada gilirannya akan bersinggungan dengan pembahasan tentang relasi fungsional malaikat. Selanjutnya Abduh mengutip pendapat yang juga telah di kemukakan oleh sebagian mufassir, yang pada kesimpulannya adalah bahwa malaikat adalah Reinterpretation of Meaning. (Susil. | 77 AQWAL: Journal of QurAoan and Hadis Studies makhluk-makhluk Tuhan Vol. 4 No. pekerjaan-pekerjaan tertentu, seperti menumbuhkan tumbuhan, memelihara manusia, dan Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Muhammad Abduh: AOA s AO O O OA s A O O eE aC O O O sI O O eA O uOIeA AO aI Oa OaA EeIaEO aE O OI eI aE eOaIOOI aIOacEEO a OA ca AA AA O Oaa aN aOA e AE AO OON uOIOaU uOaEA ca aAeEA a AI aO aeO aEA a a a aAIO aeE ea aIE I eI ueIa IaA a a a AaI aeaI aIA a e Aa acC OII a OA AN O EeOa aOA e a AuBahwa seluruh konsep global tentang malaikat yang mencakup posisinya sebagai wakil Allah dalam melakukan pekerjaannya, menumbuhkan flora dan fauna serta memelihara manusia, memuat suatu isyarat khusus yang menunjukkan suatu makna yang lebih luas dari redaksi literalAy (Rida, 1990a. Dengan demikian menurut Abduh malaikat dengan sendirinya memiliki relasi fungsional dalam tiga hal: Relasi malaikat dengan Allah sebagai wakil Tuhan dalam menjalankan sebagian pekerjaan-Nya . uwakkilin bi al-aAoma. Relasi malaikat dengan manusia sebagai pemelihara . ifzi insa. Relasi malaikat dengan alam sebagai yang menumbuhkan flora . nmaAoi Ketiga relasi ini menunjukkan adanya suatu makna yang lebih dari sekedar makna literal dasar malaikat. Dalam hal ini malaikat dimaknai dalam bingkai relasional baik secara vertikal dengan Tuhan dan secara horizontal dengan manusia dan alam. Malaikat sebagai Jism (Perso. Pada prinsipnya. Abduh tidak dikemukakan oleh ulama-ulama lain yang menyatakan bahwa adalah malaikat mahkluk-makhluk . bercahaya yang dapat berbentuk dengan rupa . yang berbeda-beda. Ia menyatakan: s AOI aI O C OOA AOA AOA AOA ac aEac a eCEaNa uOaE a eI O eANI I eaI IaOIOOac O eE e OA A aaE Oa aC a OaU a a AOI aeIA a a a e AA aIaea U O aA U AacO aO e aNa EaNa C aO UI Oa aEO aI ON a eA a aa a a A aOaN OE EIAU Aa aIA AOA AOA AOA AOA AOA AOA AOA AOA AOA AOA AOA AOA AOA AOA AOA ca a A OaA EIN I aI Eea aC aI aE Oa eaA A Ie aE aNN ea aeO Oa a ac a UcEA a AE aaE eaOA a Aa aeOs aOEaeO a aE a acI Oa eaC aNa I eI aEA a AO aENa aEaeOA AuBahwa malaikat adalah makhluk . yang terbuat dari cahaya dan bisa berubah bentuk dalam rupa yang berbeda-beda. Kemudian akal seseorang akan memahami makhluk cahaya tersebut. Apakah suatu cahaya saja cukup untuk menjadi sebuah personifikasi yang mandiri tanpa memerlukan entitas lain yang berbentuk fisik? bukan kah ia berada dalam sebuah kebingungan? Dan jika ia ditanya tentang sesuatu yang di yakininya, maka ia akan merangkai suatu uraian yang tidak dapat dipecahkan oleh lisannya sendiri? Bukankah kebingungan seperti ini merupakan sebuah keraguan?Ay (Rida, 1990a, p. Reinterpretation of Meaning. (Susil. Vol. 4 No. AQWAL: Journal of QurAoan and Hadis Studies Dengan demikian, konsep malaikat sebagai makhluk cahaya masih Rida al-hairah . yang pada dasarnya merupakan simbol dari keraguan. Hal tersebut jelas bertentangan dengan konsep iman yang benar . manan sahiha. yang mencakup tiga elemen utama: ketenangan jiwa, pengakuan hati dan harmonisasi rasio. Orang yang memiliki ketiga elemen tersebut merupakan orang yang memiliki keimanan yang benar . ahibu al-iman alsahi. (Rida, 1990a, pp. 225Ae. Dengan demikian, konsep malaikat dalam penafsiran Abduh bersifat nonkonvensional. malaikat tidak dibahas sebagai makhluk bercahaya . ism nuraniyyatu. , sebab makna tersebut masih memiliki suatu persolan, terutama ketika ditinjau dari relasi fungsionalnya sehingga menyebabkan sesuatu yang menghambat atau menghalangi hakikat iman yang sebenarnya. Meski demikian, pada dasarnya Abduh masih membahas malaikat sebagai sebuah person. Hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwa personifikasi malaikat dalam penafsiran Abduh bukan dalam posisi sebagai makhluk yang terbuat dari cahaya. Personifikasi tersebut lebih bersifat simbolik, dalam rangka menjelaskan suatu pemahaman kepada manusia sebagaimana terlihat dalam contoh berikut: AO O OA AOA AOA AOA A aOIea aNOA a Aa a aE aI E aeI eOA a AaOE aeI eaI IacNa a aaE Oae aE aEaeO aE eI a aU I aI E aeIaE aE OaaCaOIa aE eI aO eaOA a A aac uOa aa AU AAO aI aEaeO aE eI ea aIEa aE eI aI aca aOa aE eIA AOA AE EeIO OA AOA A (Ca eE Oaa aOAac aE eIA: AE NEEa AO OONA a aA Eac OO CA ca A aOaN aaE OAU AE OI aI E aeIaEO aE OA a AONa a aEaIa E aeI aOacEEaO aI O aEA a aO a eAA a A aA e Aa aIEaNa a aOAaceNa A e a aAE a aE aN eI ea aO aI aIEA AE EeIO OA A Eac OO aOEO aE O aE eI aac uOaE aO aE eI a e aaOIA e a a aIEA AuMakna ayat ini adalah bahwa Allah akan mengutus malaikat penjaga kepada kalian yang akan mengawasi dan memelihara selama kalian hidup. Sehingga ketika telah datang maut kepada salah satu diantara kalian dan terputuslah semua amal-amalan nya, maka utusan-utusan kami akan mencabut ruh nya yakni malaikat yang diwakilkan untuk hal tersebut. Utusan-utusan tersebut merupakan jenis malaikat maut sebagaimana dijelaskan dalam Q. alSajdah: 11Ay (Rida, 1990c, p. Pernyataan di atas senada dengan penafsiran Abduh terhadap QS. AlNabaAo: 38. Abduh menafsirkan kata malaikat dalam ayat tersebut sebagai makhluk personal yang gaib yang tak tampak. Namun beliau menambahkan bahwa tidak ada kewajiban untuk menyelidiki tentang hakikatnya. Mengenai ayat tersebut, tentang bagaimana cara mereka berdiri dan berbaris, tentunya sesuai dengan yang selayaknya bagi mereka (Abduh, 1998, p. Dalam menafsirkan ayat pertama dari surat al-AoAlaq. Abduh menggambarkan Reinterpretation of Meaning. (Susil. | 79 AQWAL: Journal of QurAoan and Hadis Studies Vol. 4 No. bagaimana sosok malaikat berinteraksi dengan Nabi guna menyampaikan wahyu dari Allah. Ketika malaikat menyuruh untuk menirukan apa yang ia katakan. Nabi pun menolak, kemudian malaikat tersebut memeluknya eraterat, seperti itu berulang hingga tiga kali (Abduh, 1998, pp. 247Ae. Adanya interaksi oral dan verbal antara Nabi dan malaikat penyampai wahyu tentu menuntut akal untuk berpikir bahwa malaikat merupakan makhluk yang memiliki sosok. Hal ini menjadi berbeda ketika Muhammad Abduh menafsirkan QS. al-Baqarah: 30-34. Ia memunculkan sebuah perspektif lain ketika membahas malaikat yang erat kaitannya dengan relasi fungsional. Dalam ayat ini, baik Abduh maupun Ridha menjelaskan malaikat dengan kecendrungan materialis-positivistik. Malaikat sebagai Al-Quwa Al-TabiAoiyyah (Potensi Alam. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, dalam ketiga relasi di atas malaikat dipadankan dengan ruh. Hal ini sebagaimana dicontohkan oleh Abduh, bahwa proses tumbuhnya flora hanya dapat terjadi dengan adanya suatu ruh tertentu yang di hembuskan Allah dalam benih-benih tanaman yang merupakan awal dari kehidupan flora. Hal tersebut juga berlaku bagi flora dan manusia. Dengan demikian segala hal universal yang bergerak atas dasar suatu sistem tertentu yang dalam kreasinya terdapat hikmah ilahiyyah, maka ia digerakkan atas dasar sebuah ruh ilahiy yang dikenal dalam bahasa syariat sebagai AumalaikatAy. Selanjutnya Abduh mengemukakan suatu pemaknaan yang benar-benar berbeda tentang malaikat yang ditujukan bagi kaum materialis yang mengingkari keberadaan mereka. Dalam hal ini Abduh menyebut malaikat sebagai Aupotensi alamiAy . l-quwa al-tabiAoiyya. atau Auhukum alamAy . awamis al-tabiAoa. Hal ini sebagaimana dinyatakan Abduh: A uOa aE aI aE O O a OAU aAOA O OIO N ONO EeI OaI Ee aCOO EacoacA AeEI aE OA AOII aaEe O OE OaA E O O O O OA AI uOacaE aI aN aO aO aOU eaO Ca acOU Oae aNaA ea e AA I eI a OaaE OA aa e a a a a a a a a a AacIOa aE eacOCA aN OaA EacO aO OA AuBagi mereka yang tidak mengindahkan penamaan yang ditetapkan oleh agama, hal-hal tersebut mereka namakan natural power . ukum ala. karena mereka tidak mengenal dalam kehidupan ini kecuali Aoalam nyataAo atau kekuatan yang tampak bekasnya dalam alam nyataAy (Rida, 1990a, p. Sampai dengan titik pemahaman bahwa malaikat sebagai al-quwa altabiAoiyyah . atural Muhammad Abduh sesungguhnya telah mendudukkan dirinya sebagai kaum khalaf yang mana Reinterpretation of Meaning. (Susil. Vol. 4 No. AQWAL: Journal of QurAoan and Hadis Studies ia telah mentaAowilkan pengertian malaikat sedemikian rupa, sehingga sangat mungkin orang-orang yang mengingkari adanya malaikat dapat memahami dan menerima keberadaan malaikat itu setelah mambaca penjelasan Muhammad Abduh tersebut. Menurut pendapat al-Najjar mengenai hal ini, meyakini adanya malaikat sebagai makhluk yang kasat mata, itulah yang harus dilakukan oleh setiap mukmin, akan tetapi, bila yang dihadapi adalah orang-orang yang mengingkari adanya malaikat, maka yang harus dilakukan ialah apa yang telah ditempuh oleh Muhammad Abduh, yaitu melakukan pentaAowilan . l-Najjar, n. , p. Terhadap model penaAowilan yang telah dilakukan Muhammad Abduh, bahwa ia menegaskan. Ausekiranya ada orang yang cenderung menerima penakwilan serupa itu, memang tidak ada larangan dalam agama untuk melakukan hal seperti ituAy (Rida, 1990a, p. Artinya, melakukan penaAowilan malaikat sebagai potensi alami dan kemudian menerima dan mengikuti penaAowilan seperti itu, sesungguhnya sah dan boleh saja, karena agama tidak melarang penakwilan semacam itu. Terlepas dari benar tidaknya hasil penaAowilan Muhammad Abduh tersebut. Muhammad Abduh telah berusaha dengan penuh kesungguhan merasionalisasikan term malaikat, seperti disinggung dalam surat al-Baqarah ayat 30-34. Berdasarkan penjelasan di atas. Muhammad Abduh mengembangkan dua macam pendekatan dalam menyampaikan informasi tentang malaikat. Untuk orang-orang yang beriman disampaikannya uraian bahwa malaikat sebagai obyek keimanan tidak perlu dikaji hakikatnya. Tentang hakikat malaikat, hanya Tuhan yang mengetahuinya. Sedangkan bagi mereka yang dikatakannya bahwa malaikat adalah semacam potensi alami. Sekiranya disamping itu. Muhammad Abduh tidak menghendaki pengertian malaikat secara taAowil itu mencakup semua ayat yang membicarakan malaikat, tetapi hanya terbatas pada ayat 30 dari surat al-Baqarah (Nawawi, 2002, p. Prinsip mendasar lainnya ketika membahas malaikat adalah adanya keyakinan yang merupakan syarat iman yang benar. Dengan demikian konsep malaiakat harus sesuai dengan tiga prinsip iman yang benar sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Dalam hal ini, erat kaitannya dengan aktualitas keimanan sebagaimana akan dijelaskan selanjunya. Tafsir Reinterpretation of Meaning. (Susil. | 81 AQWAL: Journal of QurAoan and Hadis Studies Vol. 4 No. al-Manar lebih memprioritaskan pembahasan malaikat dalam perspektif materialistik sebagai potensi dan hukum alamiah. Aktualitas Iman Kepada Malaikat Secara leksikal, iman (A )EOIIAberasal dari kata al-amnu (A )EIIAatau al-aman (A )EIIAyang berarti keamanan atau kedamaian yang merupakan antonim dari al-khauf (AEOAA ca cacacaA )Ayang artinya ketakutan atau kekhawatiran. Sedangkan kata iman sendiri berarti al-tasdiq (ACA ca AEAOA ca ) AopembenaranAo yang merupakan antonim dari kata al-takdzib (AAo )EEOApendustaanAo (Manzur, n. -b, p. Pengertian kata iman dalam Tafsir al-Manar di jelaskan pada permulaan surat al-Baqarah: AI EIac eA O OA AOA AeEIOa aI OeI a aOI ac O OA A OO aN EeIE Oaa O eCa OAU AOaE OOaE OINA A NO EacA OOC e OI EeI eC Oa aI aOO e a OA: AeEIOa aIA A OON OA AOA a a AEA OA EacO aOaeaEA a a a a a a a a e e a a aA aOCaA a a a a e aa AO OA AO OOA AIO OaA EeOa OCIOA a AOa eaEA a a a E aeI eIIA AuIman yaitu kepercayaan yang berhubungan/berimplikasi kepatuhan, penerimaan dan ketaatan diri, yang mana ditunjukkan dengan melakukan apa-apa yang di kehendaki oleh Iman tersebutAy (Rida, 1990a, p. Sehingga, iman memiliki implikasi-implikasi tuntunan dalam pekerjaan maupun perkataan yang sesuai dengan apa yang di kehendaki oleh iman Ia tidak hanya sekedar kepercayaan belaka yang tidak disusul dengan manifetasinya. Dalam setiap rukun, keimanan memiliki aplikasi masing-masing. Pertama. Allah mengesakan-Nya dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi laranganNya. Kedua, iman kepada kitab-kitab Allah berarti dengan membaca dan mengamalkan kandungan kita-kitab-Nya. Ketiga, iman kepada Rasulullah berarti dengan meneladani seluruh ajaran Tuhan yang disampaikan Keempat, iman kepada hari kiamat berarti dengan membekali diri dengan amal shalih sebagai persiapan untuk bertemu hari kiamat. Kelima, iman kepada qadla dan qadhar berarti untuk senantiasa berpasrah diri dan betawakal dalam setiap usaha dan gerak dalam menjalani kehidupan. Keenam, iman kepada malaikat yang menjadi fokus kajian penulis. Penjelasan selanjutnya akan menguraikan bagaimana sisi aktualitas dari keimanan terhadap malaikat. Dengan demikian yang dimaksud dengan aktualitas keimanan adalah manifestasi keimanan dalam dimensi aktual. Dengan kata lain aktualitas keimanan adalah manifestasi konkrit dari doktrin keimanan yang diyakini dalam hati dan diucapkan dalam lisan. Diantara ketiga aspek keimanan yang Reinterpretation of Meaning. (Susil. Vol. 4 No. AQWAL: Journal of QurAoan and Hadis Studies tiga, keyakinan dalam hati . asdiq bi al-qulu. , pengakuan di lisan . qrar bi al-lisa. , perbuatan anggota badan . fAoal al-Jawari. , aspek terakhir inilah yang dimaksud atau ditujukan sebagai aktualitas iman. Menurut Rasyid Ridha, arti penting dari QS. al-Baqarah: 30 tidak bisa dilepaskan dengan ayat sebelumnya yang menyatakan bahwa bumi ini diciptakan oleh Tuhan untuk dimanfaatkan oleh manusia. Hal tersebut kemudian akan meniscayakan pembahasan selanjutnya bahwa semua potensi dan hukum alami yang terdapat di bumi sepenuhnya tunduk kepada manusia dan manusia itu sendiri diciptakan sebagai makhluk yang dipersiapkan untuk mengelola dan memanfaatkan potensi-potensi tersebut. Hal inilah yang kemudian memiliki kaitan erat dengan aktualitas keimanan dalam konteks iman kepada malaikat. Kisah sujudnya malaikat kepada Adam memiliki makna bahwa jika malaikat diartikan sebagai potensi dan hukum alam . l-quwa al-tabiAoiya. l-nawamis al-tabiAoiya. , maka hal ini berarti bahwa manusia diberikan kemampuan untuk memanfaatkan dan memberdayakan potensi-potensi tersebut. Dengan demikian prinsip dasar dalam aktualitas iman kepada malaikat yaitu memanfaatkan dan memberdayakan secara optimal potensi alami yang ada pada manusia dan Berdasarkan beberapa penjelasan di atas dapat di ambil kesimpulan bahwa arti penting dalam aktualitas iman kepada malaikat adalah mensinergikan antara manusia dengan potensi dan hukum alami. Hal tersebut bisa diwujudkan dengan memaksimalkan seluruh potensi alamiah yang ada di sekitar manusia. Selain itu sinergitas tersebut juga harus ditunjang dengan daya kreatif dan inovatif dari manusia itu sendiri. Hal Rasyid Ridha mengatakan bahwa arti penting dari Q. al-Baqarah: 30 sebenarnya terdapat pada ayat sebelumnya tentang alam semesta beserta seisinya yang diperuntukkan Tuhan bagi manusia. Dalam Tafsir al-Manar terdapat sebuah ilustrasi terkait penjelasan di atas yaitu tentang progresivitas yang ada pada mayoritas masyarakat industri pada masa itu. Hal tersebut berkaitan dengan terwujudnya beberapa hal atau pekerjaan yang tidak dapat dibayangkan sebelumnya. Para saintis yang telah membuat suatu instrumen untuk mentransfer kabar berita dengan menggunakan listrik ketempat-tempat yang sangat jauh dalam hanya Reinterpretation of Meaning. (Susil. | 83 AQWAL: Journal of QurAoan and Hadis Studies Vol. 4 No. beberapa menit beranggapan bahwa mereka akan bisa mentransfer kabar berita tersebut tanpa menggunakan suatu instrumen dan hal tersebut telah Selain itu mereka juga meyakini kemungkinan untuk menitahkan suatu instrumen yang memiliki fitur ganda yaitu mentransfer audio dan Hal inilah yang sedang mereka usahakan saat ini. Jika masyarakat industri ini berkata kepada kita bahwa hal tersbut mungkin terjadi maka kita akan membenarkan perkataan mereka. Pembenaran ini tidak hanya sekedar suatu klaim kosong, melainkan suatu pembenaran berdasarkan bukti. Dengan demikian malaikat lebih tahu daripada kita tentang keadaan Allah dalam perbuatan-perbuatnnya bahwasanya ia adalah yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Meskipun para malaikat merasa AukagetAy dan terkesima tetang penciptaan khalifah namun mereka tetap meyakini hal tersebut. Dalam hal ini penggalan ayat yang berbunyi Ausesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahuiAy merupakan suatu jawaban yang mencukupi (Rida, 1990a, p. Dengan pemaksimalan sinergitas antara pribadi seorang manusia dengan potensi diri dan hukum alami yang mengitarinya ini maka manusia akan menjadi agen khalifah yang progresif dan membangun. SIMPULAN Pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa Muhammad Abduh menempatkan pembahasan substansi dan relasi fungsional malaikat pada permasalahan yang berhubungan dengan penciptaan manusia. Menurut Abduh, personifikasi malaikat dalam QS. al-Baqarah: 30-34 bukan dalam posisi sebagai makhluk yang terbuat dari cahaya. Personifikasi tersebut lebih bersifat simbolik dalam rangka untuk menjelaskan suatu kepahaman kepada Menurut Abduh dalam Tafsir al-Manar, arti penting pembahasan tentang hakikat malaikat adalah hikmah yang ada di balik dialog antara Tuhan dan malaikat dalam penciptaan Adam. Konsekuensi penafsirannya terhadap keimanan kepada malaikat terletak pada aktualitas keimanan kepada malaikat itu sendiri. Jika malaikat diartikan sebagai potensi dan hukum alam . l-quwa al-tabiAoiya. l-nawamis al-tabiAoiya. , maka hal ini berarti bahwa manusia diberikan kemampuan untuk memanfaatkan dan memberdayakan potensi-potensi tersebut, sebagaimana disimbolkan dengan sujudnya malaikat kepada Adam. Penelitian ini masih mengandung banyak kekurangan, sebab ia hanya membahas satu poin keimanan dari sekian Reinterpretation of Meaning. (Susil. Vol. 4 No. AQWAL: Journal of QurAoan and Hadis Studies aspek keimanan yang ada. Selain keimanan kepada malaikat, penafsiran Abduh yang memiliki konsekuensi terhadap aspek keimanan yang lain masih terbuka untuk dikaji lebih jauh. DAFTAR BACAAN Abduh. Tafsir Juz AoAmma (M. Bagir. Trans. Mizan. al-Alusi. Ruh al-MaAoani fi Tafsir al-QurAoan al-AoAzim wa SabAoi alMasany. Maktabah AoIlmiyyah. al-Farmawi. Metode Tafsir MauduAoi Suatu Pengantar (S. Jamrah. Trans. Raja Grafindo Persada. al-Najjar. al-Wahhab. Qasas al-AnbiyaAo. Dar al-Nahdah. al-Razi. Mafatih al-Gayb (Vol. Dar al-Kutub al-AoIlmiyyah. al-Tabari. bin J. bin Y. JamiAo al-Bayan fi TaAowil al-QurAoan (Vol. MuAoassasah al-Risalah. Al-Qoshiri. Sibh al-Iman. Dar al-Kitab al-AoAlamiyah. Athaillah. Rasyid Rida. Konsep Teologi Rasional dalam Tafsir alManar. Erlangga. Barizi. Malaikat di Antara Kita. PT. Mizan Publik. Bustamam. , & Aisyah. Model Penafsiran Kisah oleh Muhammad Abduh dalam Al-Manar: Studi Kisah Adam pada Surah Al-Baqarah. Mashdar: Jurnal Studi Al-QurAoan dan Hadis, 2. , 199Ae218. https://doi. org/10. 15548/mashdar. Departemen Agama RI. In Ensiklopedi Islam Indonesia. Anda Utama. Fauzan. IAoanah al-Mustafid bi Syarhi Kitab al-Tauhid (Vol. MuAoassasah al-Risalah. Harahap. Rahasia Al-QurAoan. Menguak Alam Semesta Manusia. Malaikat dan Keruntuhan Alam. Ar-Ruzz Media. Ibn Asyur. al-Tahir. Al-Tahrir wa al-Tanwir (Vol. Muassasah alTarikh al-AoAraby. Ibn Kasir. al-Fida. Tafsir al-Quran al-AoAzim (Vol. Dar Tayyibah. Liputo. Para Perintis Zaman Baru Islam. Mizan. Manzur. Lisan al-AoArab (Vol. Dar al-Sadir. _______. Lisan al-AoArab (Vol. Dar al-Sadir. Nasution. Muhammad Abduh dan Teologi Rasional MuAotazilah. Press. Nasution. Pembaharuan dalam Islam. Sejarah Pemikiran dan Gerakan. Bulan Bintang. Natsir. Karakteristik Tafsir Syaikh Muhammad Abduh. al-Hikmah. Nawawi. Rasionalitas Tafsir Muhammad Abduh. Paramadina. Reinterpretation of Meaning. (Susil. | 85 AQWAL: Journal of QurAoan and Hadis Studies Vol. 4 No. Nurdin. Dari Penakluk Jerussalem hingga Angka Nol. Republika. Rida. Tafsir al-Manar (Vol. al-HaiAoah al-Misriyyah al-AoAmmah lil Kitab. _______. Tafsir al-Manar (Vol. al-HaiAoah al-Misriyyah al-AoAmmah lil Kitab. _______. Tafsir al-Manar (Vol. al-HaiAoah al-Misriyyah al-AoAmmah lil Kitab. Shadra. Al-Hikmah Al-MutaAoaliyah fi Al-Asfar Al-AoAqliyyah AlArbaAoah: Vol. VII. Dar Ihya Ao Al-Turas Al-AoAraby. Shihab. Studi Kritis Tafsir Al-Manar karya Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Pustaka Hidayah. _______. Yang Tersembunyi. Jin. Iblis. Setan dan Malaikat dalam AlQuranAiAl-Sunnah. Serta Wacana Pemikiran Ulama Masa Lalu dan Masa Kini. Lentera Hati. Usman. Makhluk-Makhluk Halus Menurut Al-Quran. Bulan Bintang. Zakki. KONSEP KOMUNIKASI MENURUT MUHAMMAD ABDUH (Studi Term Qoulan Dalam Surat al-Baqarah Dan Surat al-Nisa Pada Tafsir alMana. UIN Sunan Gunung Djati. Reinterpretation of Meaning. (Susil.