Murai : Jurnal Papua Teologi Kontekstual ISSN : 2746-4814 Vol 6. No 1. Januari 2025 PENCEMARAN LINGKUNGAN TELUK YOUTEFA (Sebuah Uraian Ekoteologi Dalam Sorotan Moto Pembangunan Kota Jayapur. Umbu Nusa Putra Akwan STFT GKI I. S Kijne Jayapura akwanwavaan@gmail. Orisam Sawor STFT GKI I. S Kijne Jayapura sawororizam@gmail. ABSTRAK Pencemaran lingkungan yang terjadi di kawasan teluk Youtefa menjadi salah satu penyebab utama rusaknya ekosistem laut di wilayah tersebut, hal itu juga berdampak pada hasil tangkapan ikan yang dikonsumsi menjadi beracun juga menyulitkan penduduk lokal untuk mencari ikat dan menurunnya kesehatan air laut hingga berdampak pada konsumsi air bagi masyarakat asli. Hal ini terjadi karena masih masyarakat yang mendiami kawasan sekitar teluk Youtefa membuang sampah secara sembarang. Sampah tersebut terdiri dari berbagai bentuk dan bahan yang berbeda-beda. Di samping itu, karena keunikan dan keindahannya, kawasan teluk Youtefa sebagai tempat tujuan wisata banyak menarik wisatawan menikmati pantai dan kesejukan serta Hal ini pun berdampak buruk pada kebersihan lingkungan karena banyak pengunjung yang membuang sampah sembarang. Sering juga rusaknya lingkungan teluk Youtefa karena sampah botol minuman keras yang dibuang sembarang oleh peminum dan pemabuk yang sering menjadikan kesunyian malam kawasan tersebut sebagai lokasi miras yang cocok. Realitas di atas kemudian sangat bertolak belakang dengan arah pembangunan kota Jayapura sesuai moto pembangunan AyHen TAocahi Yo Onomi Tmar Ini HanassedAy, moto ini menyiratkan bahwa seluruh elemen masyarakat dan pemerintah kota Jayapura untuk membangun kota demi kemuliaan Tuhan. Membuang sampah sembarangan merupakan wujud tindakan yang mencoreng moto pembangunan dan tidak sejalan dengan arah pembangunan kota Jayapura. Berkaitan dengan persoalan di atas, tujuan dari tulisan ini adalah untuk menyoroti pencemaran lingkungan teluk Youtefa dari sudut pandang teologi, dan langkah-langkah strategis yang perlu dilihat dan dilakukan bersama. Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data Observasi. Wawancara dan studi pustaka. Seluruh laporan hasil penelitian dilaporkan dalam bentuk deskripsi bagi pembaca. Kata Kunci : Hen TAocahi. Lingkungan. Teluk Youtefa. Kota Jayapura. Sampah ABSTRACT Environmental pollution that occurs in the Youtefa bay area is one of the main causes of damage to the marine ecosystem in the region, it also has an impact on fish caught that is consumed to become toxic as well as making it difficult for local residents to find ties and declining seawater health to have an impact on water consumption for indigenous people. This happens because people who still inhabit the area around Youtefa Bay throw garbage carelessly. The waste consists of various shapes and different materials. In addition, because of its uniqueness and beauty, the Youtefa Bay area as a tourist destination attracts many tourists to enjoy the beach and its coolness and beauty. This also has a bad impact on the cleanliness of the environment because many visitors throw garbage carelessly. Often the environment of Youtefa Bay is also damaged due to liquor bottle waste that is thrown carelessly by drinkers and drunkards who often make the nighttime silence of the area a suitable location for liquor. The above reality is then very contrary to the direction of the development of the city of Jayapura according to the development motto "Hen T'cahi Yo Onomi Tmar Ini Hanassed", this motto implies that all elements of the community and the city government of Jayapura are to build the city for the glory of God. Littering is a form of action that tarnishes the development motto and is not in line with the direction of development of the city of Jayapura. In relation to the above issues, the purpose of this paper is to highlight the pollution of the Youtefa Bay environment from a theological point of view, and the strategic steps that need to be seen and carried out The research method used in this writing is a qualitative descriptive research method with data collection techniques of observation, interviews and literature studies. All reports of research results are reported in the form of descriptions for readers. Keywords : Hen T'cahi. Environment. Youtefa Bay. Jayapura City. Waste PENDAHULUAN Teluk Youtefa adalah salah satu teluk yang terletak di wilayah pemerintahan Kota Jayapura, teluk tersebut adalah salah satu yang indah dan unik karena berbeda dengan berbagai teluk di daerah lain. Perbedaannya terlihat dari teluk tersebut sesungguhnya merupakan teluk di dalam teluk atau teluk yang memiliki teluk. Jika dilihat, ada laut yang menjorok ke daratan dan membentuk cekungan yang kemudian disebut teluk tetapi di depan teluk itu ada daratan juga yang berbentuk setengah melingkar . irip bulan sabi. , sehingga teluk Youtefa itu bisa disebut teluk ganda. Keindahan lain adalah melalui teluk Youtefa pandangan kita bisa terus mengarah ke lautan Pasifik yang teduh hingga melihat perbatasan antar Negara (RI dan PNG) di bagian timur. Dari pesisir Teluk Youtefa di pagi hari dapat kita saksikan cahaya matahari yang mulai menerangi bumi dan pada malam hari dalam cuaca yang cerah serta bulan yang mulai menanjak di langit, masyarakat kota Jayapura juga dapat menyaksikan keindahan cahaya bulan yang sejuk. Jika dilihat dengan lebih teliti, keindahan dan keunikan Teluk Youtefa itu kemudian tercoreng dan tercemar karena banyak sampah berserakan di berbagai lokasi, baik di pinggiran khusus wilayah yang menjadi lokasi wisata pantai . antai Hamadi dan Hollekang. , juga serakkan sampah yang terlihat di sungai-sungai yang bermuara ke teluk Youtefa membawa sampah rumah tangga, sisa-sisa sampah plastik dari berbagai kemasan botol minum, makanan siap saji, dan lain-lain. Di sisi lain kejernihan, kesegaran dan kesehatan air laut teluk Youtefa pun sangat tercemar karena sampah rumah tangga dari penduduk yang berdiam di sekitar pantai teluk Youtefa, terutama dari area pasar Youtefa. Sampah dan aliran air yang kotor juga berasal dari muara kali Acai, kali Anyan, juga kali Thomas di wilayah Entrop2, yang berbentuk sampah cair maupun sampah padat. Sampah cair berasal dari limbah rumah tangga, limbah pabrik seperti pabrik tahu, juga limbah dari bengkel-bengkel motor yang tersebar si sekitar teluk Youtefa, pinggiran Kali Acai dan sekitar Entrop. Sampah benda padat bisa dilihat dalam bentuk sampah plastik berbagai ukuran dan jenis, sisa bungkusan kemasan plastik dan bungkusan makanan siap saji, sampah-sampah botol plastik, kawat, kaleng bekas, dls. Berbagai jenis sampah yang kemudian berserakan dan bermuara di laut teluk Youtefa menjadi masalah yang sangat besar dampaknya untuk masyarakat yang mendiami kawasan teluk Youtefa, seperti masyarakat di kampung Injros. Tbati, pesisir kampung Nafri, sampai pesisir Entrop dan Hamadi, terutama mereka yang menjadikan kawasan teluk Youtefa sebagai tempat hidup dan tempat mencari untuk menjaga kelangsungan hidup sehari-hari. Terhadap pengunjung wisata sekitar Pantai Hamadi. Pantai Ciberry dan Hollekang pun menjadi terganggu karena aroma laut yang berbau tidak sedap, pemandangan yang kotor karena sampah berserakan serta kualitas air laut yang berpengaruh pada kesehatan kulit. Persoalan ini kemudian menjadi alasan untuk tulisan ini diangkat, dan akan menitikberatkan perhatian pada bagaimana masyarakat menyadari tindakan mereka yang telah merusak alam, yang tidak sejalan pula dengan moto pembangunan Kota Jayapura : Hen TAocahi Yo Onomi Tmarni Hanased 3 dan langkah-langkah strategis apa yang perlu dilakukan Gereja sebagai mitra pemerintah untuk mencegah rusaknya lingkungan teluk Nama sesungguhnya dari daerah yang selama ini disebut Holtekam adalah Hollekang atau Holltekang. Kata bahasa belanda yang menunjuk pada area teluk ganda, teluk di dalam teluk. Orisam Sawor : Kajian Eko-Teologi Terhadap Pencemaran Lingkungan Di Jemaat GKI Abara Injros Teluk Youtefa. Jayapura. STFT GKI I. Kijne. (Skrips. 2022, hal 12. Menurut Benhur Tomy Mano (Pencetus mot. : bahasa tersebut adalah gabungan dari bahasa beberapa kampung di Port Numbay. Lih. Yuliana Lantipo : Jubi. id https://arsip. id/hen-tecahi-yo-onomi-tmar-ni-hanased-di-launching/ : Hen Tecahi Yo Onomi Tmarni Hanased di launching . Juli 2. Bnd : Ahmad Havid Jakimudin : Motto Hen Tecahi Yo Onomi TAomar Ni Hanased: Contextualization Religious Moderation in Port Numbay (Jayapura Cit. Poros Onim (Jurnal Sosial Keagamaa. Vol. No. 2023, hal. Youtefa. Pencemaran lingkungan ini dilihat dari sudut pandang moto pembangunan Kota Jayapura adalah sesuatu yang penting karena moto tersebut mengarah pada bagaimana masyarakat kota Jayapura menjadi pelaku dalam membangun kota untuk kemuliaan Tuhan. Menjadi penyebab rusak dan kotornya lingkungan kota Jayapura sesungguhnya merupakan bentuk tindakan yang mencoreng kekudusan nama Tuhan dan itu berarti tidak sejalan dengan sorotan moto pembangunan kota Jayapura. METODE PENELITIAN Dalam mengkaji persoalan ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan tiga teknik pengumpulan data yaitu : pengamatan langsung ke lokasi penelitian untuk melihat realitas yang terjadi sekaligus mengamati kondisi perairan teluk Youtefa, melihat berbagai bentuk dan jenis sampah, melihat tingkat kejernihan air laut serta suhu air laut, juga melihat secara seksama kondisi lingkungan sekitar teluk terutama setiap muara sungai. Ketika berada di lokasi, aroma udara pun menjadi salah satu yang diperhatikan sambil melihat kondisi pantai yang seolah berlumpur hitam karena sampah. Penulis juga akan melakukan wawancara pada masyarakat yang mendiami area pesisir teluk Youtefa untuk mengetahui berbagai keluh kesah mereka terhadap wilayah atau ruang lingkup yang menjadi area pencaharian untuk memenuhi kebutuhan hidup, kondisi air laut dan bagaimana dampak perubahan kondisi teluk Youtefa yang mereka alami. Dalam wawancara ini, penulis memberi penekanan informasi pada keluh kesah warga yang mendiami wilayah teluk Youtefa terkait apa dampak paling besar yang mereka alami terkait rusaknya keindahan dan kesehatan kawasan teluk Youtefa. Dalam wawancara ini juga, penulis menjadikan masyarakat asli di kampung Nafri, kampung Injros, kampung TAobati, serta tokoh masyarakat dan pemangku Adat di wilayah tersebut sebagai sumber informasi. Penulis juga mewawancarai masyarakat pendatang lainnya yang berdomisili di sekitar Pasar Youtefa. Entrop dan sekitar Jembatan Merah serta yang berdomisili di sekitar pantai Hollekang untuk memperoleh informasi pembanding. Dengan ini diharapkan informasi yang diperoleh benar-benar valid. Penulis menggunakan dua model wawancara, yaitu wawancara terstruktur dan tidak terstruktur (Haris Herdiansyah, 2. Wawancara terstruktur dipakai dengan cara memberi pertanyaan yang sama kepada setiap informan terkait apa yang mereka rasakan, alami, hingga dampak yang terjadi terkait rusaknya kawasan teluk Youtefa. Melalui model wawancara ini penulis ingin memperoleh jawaban dari penduduk di sekitar kawasan teluk Youtefa : penduduk kampung Nafri, kampung Injros, kampung Tbati, mereka yang mendiami kawasan sekitar pasar Youtefa. Hamadi. Entrop, juga para wisatawan yang sering berkunjung di kawasan wisata pantai Hamadi. Jembatan Merah. Model wawancara tersebut juga dipakai untuk memperoleh informasi dari para pemangku adat di setiap kampung sekitar teluk Youtefa. Melalui pertanyaan yang sama, diharapkan penulis kemudian akan memperoleh jawaban dari sumber utama kemudian jawaban-jawaban yang sama atau sejajar akan menjadi perhatian penting dari tulisan. Di samping model wawancara terstruktur, penulis juga menggunakan model wawancara tidak terstruktur yaitu pertanyaan yang berbeda untuk beberapa informan. Model wawancara ini diterapkan pada pemangku kepentingan, pemerintah dan pengunjung wisata pantai Hamadi serta teluk Youtefa. Melalui model wawancara ini, penulis hendak mencari pembanding dari jawaban pemerintah terhadap apa yang diharapkan oleh masyarakat asli pemilik kawasan teluk Youtefa. Demikian juga penulis hendak membandingkan jawaban dari pengunjung wisata pantai teluk Youtefa, dengan mereka yang mendiami kawasan sekitar, apa yang menjadi harapan dan cita-cita serta apa masukan untuk perubahan kawasan wisata teluk Youtefa. Melalui model wawancara ini penulis juga ingin tahu bagaimana langkah-langkah yang dilakukan pemerintah dalam menangani kerusakan kawasan teluk Youtefa beserta bagaimana program kerja yang sejalan dengan moto pembangunan kota Jayapura. Penulis juga akan mewawancarai masyarakat yang sering beraktivitas di sekitar pantai dan pasar Youtefa . ereka yang hanya beraktivitas dan bukan yang berdomisil. , bagaimana tanggapan mereka terhadap kondisi lingkungan Pantai dan Laut di teluk Youtefa serta bagaimana komentar mereka tentang sampah yang Untuk pengumpulan data berikut, penulis juga menggunakan berbagai info dari literatur yang sudah ada dan berkaitan dengan pencemaran lingkungan teluk Youtefa, baik yang diperoleh secara resmi melalui situs pemerintah kota Jayapura tetapi juga beberapa jurnal hasil penelitian para akademisi dan peneliti yang sudah lebih dulu meneliti tentang teluk Youtefa, moto pembangunan kota Jayapura, juga sumber-sumber tulisan lainnya yang sesuai dan mendukung. Seluruh hasil penelitian ini kemudian akan dilaporkan dalam bentuk tertulis bagi pembaca dan diharapkan menjadi sebuah tulisan yang mampu mempengaruhi para pembaca terutama mereka yang berdomisili di kota Jayapura, agar mengetahui apa yang harus dilakukan agar sejalan dengan moto pembangunan kota Jayapura, dan bagaimana menjadi alat untuk perubahan teluk Youtefa dan kota Jayapura yang lebih baik. HASIL DAN PEMBAHASAN Hen TAocahi Yo Onomi Tmar Ni Hanassed dalam Realitas Masyarakat sekitar Teluk Youtefa Dalam latar belakang telah disinggung bahwa rusak dan kotornya kawasan laut teluk Youtefa terjadi karena pembuangan sampah yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat yang berdomisili di sekitar pantai teluk Youtefa, baik di sekitar Pasar Youtefa, sekitar kampung Nafri. Abepantai. Sekitar Entrop, pantai Hamadi. Ringroad. Pantai Hollekang. Keadaan ini secara tidak langsung menggambarkan bahwa masih banyak masyarakat kota Jayapura, teristimewa mereka yang mendiami kawasan teluk Youtefa dan yang berdomisili di pinggiran-pinggiran kali yang bermuara langsung ke laut teluk Youtef, belum memiliki kesadaran akan pentingnya hidup bersih dan bahayanya lingkungan yang kotor terhadap aktivitas hidup dan kualitas hidup manusia 4. Keadaan ini sangat bertolak belakang dengan moto pembangunan kota Jayapura, yaitu AyHen TAocahi Yo Onomi Tmar Ni HanassedAy, yang diartikan dalam bahasa Indonesia : Satu Hati membangun kota demi kemuliaan Tuhan. Dikatakan bertolak belakang karena jelas bahwa sesuai moto tersebut. Kota Jayapura harus dibangun untuk kemuliaan Tuhan dan hal itu harus dilakukan secara bersama seluruh elemen yang ada dalam lingkup kota madya Jayapura, baik Pemerintah, masyarakat, komunitas adat, umat beragama, dan berbagai organisasi yang ada di kota Jayapura ini. Ciri kebersamaan ini tercetus dari bunyi kata Aysatu hati membangun kotaAy. Siapapun anda, apapun latar belakang anda, dari suku manapun anda berada, jikalau Anda berdomisili di wilayah administratif Kota Jayapura maka wajib hukumnya untuk bergandengan tangan bersama demi mewujudkan kota Jayapura yang terus berkembang dan maju sekaligus melaluinya nama Tuhan dimuliakan. Makna lain dari moto tersebut juga adalah kota Jayapura dibangun agar nama Tuhan dimuliakan, bukan nama manusia. Kalau tujuan kota Jayapura dibangun adalah untuk kemuliaan Tuhan, maka salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana sikap seluruh elemen (Pemerintah. Adat. Agama. Masyaraka. dalam lingkup kota Jayapura harus lebih dulu memuliakan Tuhan, dalam arti sikap hidupnya harus mencerminkan ajaran-ajaran Tuhan. Terkait dengan masalah sampah yang dibahas dalam tulisan ini, dapat disimpulkan bahwa masih banyak warga masyarakat yang belum satu hati untuk membangun kota Jayapura demi kemuliaan Tuhan, khusus dalam hal menjaga kebersihan lingkungan. Masih banyak masyarakat belum satu hati bersama pemerintah untuk menjalankan program pemerintah ini, di mana dalam hal menjaga kebersihan, pemerintah kota Jayapura telah memiliki regulasi, beberapa di antaranya adalah Perda nomor 10 tahun 2007 tentang penyelenggaraan Kebersihan Kota Jayapura. Perda nomor 15 tahun 2011 tentang Pengelolaan sampah dan Pemeliharaan kebersihan, ada juga Instruksi Walikota nomor 5 tahun 2023 tentang Kebersihan dan Keindahan Kota Jayapura, serta regulasi lain yang Dilansir dari dprdjayapura. com, peraturan daerah itu sesungguhnya bertujuan untuk mengatur berbagai aspek sosial, ekonomi dan lingkungan. Terkait lingkungan di sini, fungsi dari Peraturan daerah adalah pemerintah daerah mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam program penghijauan dan menjaga kebersihan lingkungan 5. Jika telah ada regulasi dari pemerintah terkait peraturan yang kemudian mewajibkan seluruh elemen masyarakat, pemerintah, adat dan agama untuk menjaga lingkungan agar tetap bersih sementara masyarakat tidak memedulikannya bahkan tidak menjaga kebersihan itu menunjukkan bahwa belum adanya sikap satu hati membangun kota. Tandanya masyarakat tidak menjalankan tanggung jawab untuk kemuliaan Tuhan dalam konteks menjaga kebersihan lingkungan. hal semacam ini perlu kembali direnungkan dan dicari solusi agar dapat dipraktikkan. Dalam kaca mata kekristenan, membangun kota demi kemuliaan Tuhan yang terkait dengan menjaga lingkungan, dapat dilihat dari salah satu pernyataan kitab Suci (Alkita. , yaitu Kej. 1:26 -27 di mana manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Tuhan sendiri. Pernyataan isi kitab suci ini dapat diartikan secara sederhana bahwa manusia adalah wakil Tuhan di dunia, di manapun manusia itu berada, apapun yang diperbuatnya harus sejalan dan menunjukkan wujud kehadiran Tuhan yang nyata 6. Karena manusia adalah gambar Tuhan maka kehadirannya harus berdampak sehingga kehadiran Tuhan pun dapat dialami, yaitu sifat dan kehendak Tuhan dapat dialami di dunia di mana manusia itu berada. Sejalan dengan nats di atas, sifat-sifat Tuhan yang terlihat dari peristiwa penciptaan adalah bagaimana Bnd. Yohanis Rantelangan . Aktualisasi Pandangan Iman Kristen Tentang Pelestarian Alam. Peradaban Journal Of Religion and Society. Vol. 2/2. Hal. , 138. https://dprdjayapura. com/2025/01/peraturan-daerah-jayapura/ diakses pada 15 Februari 2025 . 15 WIT). Darius Ade Putra . Merengkuh Bumi Merawat Semesta (Mengupayakan Hermeneutik Ekologis Dalam Rangka Menanggapi Kerusakan Lingkungan Dewasa In. Jurnal Aradha vol. 1/1. , hal. , 74. Tuhan menghadirkan keteraturan dalam dunia yang tadinya tidak berbentuk, gelap gulita dan kosong (Kej. 1:1-. Melalui seluruh proses penciptaan pun Allah bekerja dengan sangat baik untuk menghadirkan tatanan yang seimbang dan harmonis antar seluruh makhluk, dan menghadirkan keadaan yang sungguh amat baik. Dengan demikian, jika manusia itu diciptakan menurut gambar dan rupa Tuhan maka di mana pun manusia itu berada, harus terlihat adanya keteraturan, keharmonisan antar segala makhluk dan keadaan hidup yang sungguh amat baik harus menjadi nyata dan manusia harus menjadi pihak yang mengusahakan agar hal-hal itu dapat terwujud7. Kembali dalam kaitan dengan moto pembangunan kota Jayapura : Aumembangun kota demi kemuliaan TuhanAy, sesungguhnya moto ini sejalan dengan nats Alkitab di atas yaitu manusia yang berdomisili di wilayah kota Jayapura harus menjadi alat Tuhan untuk mewujudkan ciri hadirat Tuhan dalam seluruh aspek ketika membangun kota Jayapura. Melihat realitas yang terjadi terkait dengan pencemaran lingkungan di sekitar teluk Youtefa, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar penduduk kota Jayapura teristimewa yang mendiami pesisir teluk Youtefa dan pinggiran kali yang bermuara langsung ke teluk Youtefa, belum menunjukkan eksistensi asali mereka yaitu sebagai Imago Dei, gambar Allah. Membuang sampah sembarangan, mencemarkan alam ciptaan Tuhan, merusak keindahan teluk Youtefa adalah wujud manusia yang tidak menjalankan tanggung jawabnya sebagai gambar Allah bahkan dapat dikatakan menjadi perusak citra Allah karena kehendak Allah adalah kehidupan, keindahan, keharmonisan dan keteraturan yang semuanya bermuara pada keadaan Aysungguh amat baikAy. Mengotori keindahan teluk Youtefa dengan membuang sampah sembarang hingga tidak saja merusak keindahan bahkan sampai pada menyebabkan kematian dari makhluk lain adalah bentuk perbuatan yang merusak nilai manusia sebagai citra Allah dan dalam kaitan dengan moto pembangunan kota Jayapura, tindakan tersebut merupakan perbuatan yang tidak memuliakan Tuhan. Tindakan Penanggulangan Untuk persoalan terkait kerusakan lingkungan teluk Youtefa akibat pencemaran yang terjadi karena ulah manusia, memang agak sulit untuk melakukan tindakan-tindakan penanggulangan. Hal ini terjadi karena pencemaraan lingkungan itu dilakukan oleh manusia bahkan manusia yang bertuhan . rang beragam. Hal ini sejalan dengan pernyataan Lynn White (Darius Ade Putra . : 72, . bahwa kerusakan lingkungan itu terjadi akibat umat beragama (Kriste. yang merasa menjadi wakil Tuhan dan penguasa di dunia sehingga semena-mena terhadap makhluk non manusia di bumi. Namun pernyataan ini dibantah oleh Pew Forum. Mangun Wijaya & McKay. Tucker (Yohanis Rantelangan, 2023 : . , bahwa meskipun kebanyakan umat beragama menjadi pemicu terjadinya kerusakan lingkungan namun sesungguhnya langkah pencegahan yang sangat efektif dan cocok adalah menggunakan ajaran Agama sebagai langkah utama dalam pencegahan kerusakan lingkungan. Hal ini tidak lepas dari hampir 80 % penduduk dunia adalah umat beragama yang akan sangat mudah patuh pada ajaran-ajaran agamanya. Dengan demikian, langkah pencegahan yang perlu dilakukan dalam persoalan pencemaran lingkungan laut Teluk Youtefa adalah menggunakan jalur keagamaan. Hal ini pun sejalan dengan moto pembangunan kota Jayapura di atas, bahkan praktis seluruh masyarakat di wilayah kota Jayapura bahwa masyarakat yang berdomisili di sekitar teluk Youtefa adalah umat beragama. Melalui nilai-nilai Agama untuk langkah pencegahan dan penanggulangan pencemaran lingkungan, perlu kerja sama yang erat antar pemerintah, lembaga masyarakat adat juga lembaga keagamaan di kota Jayapura, dan terkait lembaga keagamaan dalam tulisan ini penulis akan memuat langkah-langkah pencegahan dan penanggulangan dari sisi kekristenan, yaitu bagaimana Gereja sebagai salah satu elemen penting dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara turut berperan untuk penanggulangan pencemaran lingkungan di kawasan teluk Youtefa. Langkah-langkah yang perlu diambil adalah : Melaksanakan pendidikan berbasis Kesadaran Lingkungan, gereja dapat mengadakan seminar, khotbah, dan diskusi untuk meningkatkan kesadaran warga gereja tentang pentingnya menjaga lingkungan8, hal ini tentunya tidak lepas dari salah satu tugas utama gereja yaitu menjadi agen pembawa syalom Allah bagi dunia, terutama dalam kaitan dengan Amanat Agung Yesus Kristus dalam Matius 28: 19-20 dan Markus 16:15, di mana dalam kedua nats tersebut tersirat tugas gereja untuk mengajar umatnya bagaimana menjadi manusia yang mau belajar dari Yesus, menerapkan ajaran-Nya Dantje. Sembel & B. Agr. Teksikologi Lingkungan. Yogyakarta: Perpustakaan Nasional. Vinsensius Tasman Jahur dan Rogasianus Bagio . Sumbangan Gereja bagi Upaya Pelestarian Lingkungan Hidup dari Perspektif Kitab Kejadian 2:15. Jurnal Pendidikan Inovatif Vol. 7/1. Hal. , 212. demi dunia yang lebih baik, demikian juga gereja kemudian menjadi agen untuk mewujudkan kabar baik bagi segala makhluk, baik manusia maupun makhluk non manusia. Galakkan seminar-seminar bertema lingkungan dalam sorotan pencegahan kerusakan teluk Youtefa yang sudah mulai membahayakan bagi masyarakat yang mendiami pesisir teluk, dalam peribadahan sisipkan pengajaran tentang kerusakan lingkungan yang berdampak bahaya bagi kehidupan manusia dalam sorotan manusia hidup sesungguhnya dari alam karena alam adalah ciptaan Tuhan yang dihadirkan oleh Tuhan untuk menopang kehidupan manusia sehingga merusak alam berarti merancang kehancuran untuk manusia itu Tindakan lain yang perlu dilakukan adalah Program Penghijauan, yaitu mengorganisir kegiatan penanaman pohon dan penghijauan di sekitar teluk Youtefa untuk mengurangi polusi dan meningkatkan kualitas udara9. Hal ini sudah dilakukan oleh berbagai instansi di kota Jayapura, di mana dilakukan penanaman bibit mangruv untuk mencegah abrasi dan penghijauan untuk mencegah polusi akibat pembabatan hutan dan pembangunan yang mulai marak di pesisir teluk Youtefa. Gereja pun perlu menjadi salah satu agen untuk menanam, menjaga dan merawat tanaman mangruv demi lingkungan yang sehat. Di samping itu perlu juga gereja menggalakkan aksi Pengelolaan Sampah, kegiatan yang mendorong jemaat untuk mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang sampah. Gereja juga bisa menyediakan fasilitas pengelolaan sampah yang baik, dan hal ini dapat dilakukan bekerja sama dengan badan-badan pengelolaan sampah yang ada di kota Jayapura. Aksi ini sangat penting mengingat penyumbang terbesar sampah di teluk Youtefa adalah tindakan masyarakat yang tidak manusiawi dalam membuang sampah sembarangan. Gereja juga perlu bekerja sama dengan Komunitas: Bekerja sama dengan organisasi lingkungan dan komunitas lokal untuk melakukan aksi bersih-bersih teluk dan kampanye anti-pencemaran. Hal ini pernah dilakukan oleh komunitas pemuda gereja di Klasis GKI Portnumbay, di mana komunitas pemuda gereja tersebut melakukan aksi bersih-bersih di pesisir pantai teluk Youtefa. Pantai Hamadi . rea wisata Panta. , hingga wilayah Hollekang10. Selain aksi pencegahan dan penanggulangan di atas, gereja juga dapat melakukan tindakan Advokasi dan Kebijakan11, di mana Gereja dapat menjadi suara yang kuat dalam mendesak pemerintah dan industri untuk menerapkan kebijakan yang lebih ketat dalam pengelolaan limbah dan perlindungan Hal ini dapat dilakukan dalam sorotan moto pembangunan kota Jayapura serta berbagai regulasi yang telah ditetapkan pemerintah untuk kebersihan, penataan dan kesehatan lingkungan kota Jayapura. Dalam koteks ini, gereja harus menjalankan fungsinya sebagai mitra kerja pemerintah untuk mempengaruhi umat beragama (Kriste. yang sekaligus adalah warga kota Jayapura untuk bisa melaksanakan berbagai program pemerintah agar terwujudnya moto kota Jayapura : Hen TAocahi Yo Onomi Tmar Ini Hanassed. KESIMPULAN Teluk Youtefa adalah salah satu teluk yang unik dan indah yang terletak di wilayah administratif kota Jayapura. Teluk yang indah itu merupakan wujud anugerah Tuhan bagi masyarakat pesisir teluk Youtefa dan kota Jayapura secara umum. Karena itu merupakan ciptaan Tuhan maka keindahan teluk Youtefa perlu dijaga dan dilestarikan oleh segenap masyarakat yang mendiami pesisir teluk tersebut, baik mereka yang disebut masyarakat asli . enduduk asli kampung Nafri, kampung TAobati, kampung Injros, penduduk pesisir Hamad. tetapi juga masyarakat pendatang dari luar Jayapura atau dari luar Papua yang datang dan menetap karena bekerja di kota Jayapura . Menjaga dan melestarikan keindahan teluk Youtefa merupakan bentuk tanggung jawab dari masyarakat tetapi juga merupakan wujud ungkapan syukur pada Tuhan Sang pencipta. Seiring berkembangnya kota Jayapura dan pembangunan yang mulai berkembang pesat di wilayah teluk Youtefa, hal itu kemudian berdampak pada meningkatnya jumlah populasi penduduk yang bermukim di pesisir teluk Youtefa. Hal ini akhirnya berdampak pada meningkatnya jumlah sampah dan limbah yang kemudian mengotori dan merusak keindahan teluk Youtefa serta menurunkan kualitas kesehatan air laut dan yang juga mematikan ekosistem laut. Hal ini terjadi bukan saja karena meningkatnya jumlah populasi penduduk tetapi juga Jurnal E-misi . Gereja dan Lingkungan Hidup. Gereja dan Lingkungan Hidup | e-MISI Diakses pada 18 Februari 2025 . WIT). Bnd. Syofiardi . 500 orang berhasil kumpulkan 2. 632 Kg Sampah Plastik di Pantai Holtekam (Jubi. Lih : Papuainside. Jemaat GKI Getsemani Persihkan Sampah di Pantai Holtekam. Robertus Naldy . Ajaran Sosial Gereja di Tengah Krisis Lingkungan. Voxntt. com Ajaran Sosial Gereja di Tengah Krisis Lingkungan - VoxNtt. com diakses pada 18 Februari 2024 . 05 WIT). merupakan wujud dari masyarakat yang tidak bertanggung jawab terhadap lingkungan dan tidak mencerminkan sikap hidup sesuai ajaran agama. Kerusakan lingkungan teluk Youtefa kemudian menjadi perhatian berbagai pihak dan pemerintah melalui berbagai regulasi telah berusaha untuk menanggulangi kerusakan lingkungan di teluk Youtefa hingga melakukan berbagai kegiatan dalam rangka pencegahan makin meluaskan kerusakan lingkungan teluk Youtefa akibat sampah dan berbagai limbah dari masyarakat. Hal ini kemudian dilaksanakan sejalan dengan moto pembangunan kota Jayapura. Hen TAocahi Yo Onomi Tmar Ini Hanassed. Melalui moto pembangunan ini, seluruh elemen di kota Jayapura beranggung jawab untuk melakukan apa saja demi kemuliaan Tuhan terutama dalam tindakan membangun kota Jayapura. Mencemarkan lingkungan teluk Youtefa merupakan tindakan masyarakat yang tidak memuliakan nama Tuhan dan itu tidak sejalan dengan moto pembangunan. Karena kenyataan di atas mencerminkan masih banyak pihak di kota Jayapura yang berperilaku tidak sejalan dengan moto pembangunan maka sangat penting untuk setiap elemen, baik itu pemerintah, adat, agama, serta komunitas sosial kemasyarakatan yang berdomisili di wilayah pemerintah kota Jayapura, wajib terus mensosialisasikan, menggaungkan dan beraksi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya berperilaku hidup bersih, menjaga agar pencemaran lingkungan teluk Youtefa bisa diperbaiki dan sampah yang berserakan bisa dikurangi jumlahnya, hingga kesadaran membuang sampah dalam bentuk apapun itu bisa dilakukan sesuai aturan. Pemerintah yang sudah memfasilitasi tempat-tempat pembuangan sampah, hendaknya dimanfaatkan oleh masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan. Sistem pengelolaan sampah perlu ditingkatkan, dan sistem pengendalian dampak kerusakan lingkungan di wilayah teluk Youtefa perlu benar-benar diseriusi baik oleh pemerintah, masyarakat adat dengan berbagai tatanan mereka, juga komunitas keagamaan. Melalui moto pembangunan kota Jayapura, pemerintah telah menetapkan pedoman bagi seluruh elemen masyarakat dan melalui hal tersebut. Gereja sebagai salah satu mitra pemerintah bertanggung jawab untuk membina warganya supaya tidak menjadi pelaku yang merusak keindahan telut Youtefa. Gereja bertanggung jawab untuk mewujudkan amanat Tuhan dalam Injil-injil agar terwujud tujuan dari pembangunan kota Jayapura yaitu demi kemuliaan Tuhan. Umat kristen di kota Jayapura, yang juga adalah warga masyarakat serta penduduk yang mendiami kota Jayapura harus kemudian menjadi alat untuk mewujudkan semangat moto pembangunan yaitu membangun kota demi kemuliaan Tuhan. Umat kristen harus harus mewujudkan kota Jayapura yang memuliakan Tuhan melalui tindakan dan salah satu tindakan itu adalah tidak membuang sampah dengan sembarangan, menjaga keindahan alam sesuai dengan kodrat manusia yang sejalan dengan perintah Tuhan padanya sejak penciptaan . egambar dengan Alla. Umat kristen di kota Jayapura harus mewujudkan kodratnya sebagai gambar Allah yaitu apapun yang dilakukan umat kristen di kota Jayapura, di mana pun dia berada, harus terlihat dan menjadi nyata bagi lingkungan bahwa melalui kehadiran umat kristen di kota Jayapura, kehadiran Tuhan menjadi nyata. Tanda kehadiran Tuhan itu selalu berkaitan dengan Kehidupan, keteraturan, keindahan, dan damai. Hal ini sejalan dengan kisah Penciptaan (Kej. 1:1-3. dalam nats ini, kondisi kacau dan tidak berbentuk adalah salah satu ciri sifat Tuhan tidak ada dan sebaliknya, kehidupan, keteraturan, keindahan dan damai selalu menjadi ciri kehadiran Tuhan. Dengan demikian, jika kawasan teluk Youtefa itu terus rusak dan kotor maka apakah itu salah satu wujud dari tidak adanya sifat-sifat Tuhan di dalam diri umat Kristen di kota Jayapura ? ini hanya sebuah perenungan mendalam bagi kita. Untuk langkah pencegahan yang lebih ampuh. Kerja sama yang kokoh dan harmonis antar berbagai elemen di kota Jayapura perlu diwujudkan. Bergerak bersama demi Teluk Youtefa yang indah akan kembali terwujud, dan kemuliaan Tuhan kemudian menjadi nyata. DAFTAR PUSTAKA