http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 5 No 1. Juni 2022 pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7537 Artikel Review Heart Failure Clinic: A Practical Guide for Health Practitioners in Hospitals Sidhi Laksono1,2 Abstrak Gagal jantung masih menjadi penyebab mortalitas dan morbiditas tertinggi dalam layanan kesehatan di dunia. Walau pengembangan obat terkini dan terapi alat untuk gagal jantung makin berkembang, namun angka harapan hidup pasien gagal jantung masihlah rendah. Hal ini karena di RS kurang dikembangkannya klinik khusus gagal jantung yang berisikan ahli lintas bagian. Klinik gagal jantung ini akan memberikan terapi sesuai dengan panduan gagal jantung dan akan mendiskusikan dengan pasien mengenai terapi apa yang cocok dengan kondisinya. Klinik ini nantinya diharapkan dapat menjadi penghubung dengan kemajuan teknologi dan terapi medis untuk meningkatkan kualitas hidup pasien gagal jantung. Kata kunci: gagal jantung, klinik gagal jantung, panduan klinis, terapi medis dan alat Abstract Heart failure is still the leading cause of mortality and morbidity in healthcare in the world. Although the development of the latest drugs and therapeutic devices for heart failure is growing, the life expectancy of patients with heart failure is still low. This is because the hospital has not developed a special heart failure clinic consisting of cross-sectional experts. This heart failure clinic will provide therapy according to heart failure guidelines and will discuss with the patient what therapy is suitable for his condition. This clinic is expected to be a link with advances in technology and medical therapy to improve the quality of life of heart failure patients. Keywords: Heart Failure. Cardiac Clinic. Clinical Guidelines. Medical Therapy and Tools Submitted : 22 Maret 2022 Revised : 4 April 2022 Affiliasi penulis : 1 Divisi Kardiologi Intervensi. RS Jantung Diagram Siloam. Cinere. Depok. Indonesia, 2 Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskuler. Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka. Tangerang. Indonesia Korespondensi : AuSidhi LaksonoAy Departemen Kardiologi Intervensi. Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka. Tangerang. Email: sidhilaksono@uhamka. id Telp: 628111585599 PENDAHULUAN Gagal jantung (GJ) merupakan sindrom klinis yang kompleks dan penyebab utama mortalitas dan morbiditas di Amerika Serikat dan secara global. 1 Lebih dari 6 juta orang Amerika saat ini didiagnosis GJ dengan prevalensi diperkirakan akan meningkat 46% pada dekade berikutnya. 2 Pasien dengan gagal jantung sering memiliki komorbiditas non-kardiovaskular tambahan seperti aritmia, apnea saat tidur akibat obstruktif jalan nafas, diabetes, dan depresi yang mempersulit perawatan. Biaya perawatan pasien gagal jantung sangat besar dan diperkirakan lebih dari 30 miliar dolar AS per tahun, dan diproyeksikan mencapai 70 miliar dolar AS per tahun pada 1 GJ saat ini menjadi penyebab terdepan dalam hal readmisi ke Rumah Sakit Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Accepted:19 Mei 2022 (RS) dalam 30 hari di Amerika Serikat, dimana hal ini mengindikasikan transisi kurangnya implementasi terapi berdasarkan panduan klinis yang sesuai. 4 Membangun dan memelihara komprehensif klinik gagal jantung multi-disiplin adalah mekanisme kunci di mana kualitas perawatan, status kesehatan, dan hasil klinis untuk pasien dengan gagal jantung dapat meningkat. Untuk alasan ini, ada minat yang tinggi untuk mengembangkan klinik gagal jantung yang mampu memberikan perawatan komprehensif berkualitas di RS. Namun, hanya ada sedikit panduan yang tersedia untuk umum dalam memandu individu dan institusi dalam mengembangkan Klinik GJ (KGJ). Sehingga artikel ini akan memberikan panduan secara singkat mengenai KGJ di RS. Definisi Klinik Gagal Jantung KGJ merupakan klinik rawat jalan yang didedikasikan untuk pelayanan gagal jantung, dimana terdiri dari kumpulan ahli Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 5 No 1. Juni 2022 pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7537 jantung . onsultan gagal jantung, pencitraan non invasif, diagnostik invasif, aritmia, layanan kardiak akut dan rehabilitasi preventif kardia. , non jantung spesialistik . onsultan onkologi, ginjal hipertensi, paru, saraf, gizi, rehabilitasi medik, bedah jantun. , perawat khusus GJ, ahli gizi dan farmasi. Pertimbangan Perawatan Pasien Evaluasi Pasien Baru Tujuan awal dari KGJ untuk setiap pasien diagnosis GJ, sesuai pedoman panduan 7 Pertimbangan khusus harus diberikan pada beberapa penyakit yang mirip dengan GJ, termasuk penyakit perikardial primer, penyakit paru kronis, penyakit ginjal, dan sirosis, serta masing-masing harus dinilai secara ketat dan sistematis. 8 Jika GF dicurigai atau dikonfirmasi, klinik harus mengkonfirmasi lebih lanjut bahwa pasien tersebut telah menerima pengujian yang direkomendasikan panduan GJ, termasuk pencitraan non-invasif, angiografi koroner invasif, dan pengujian laboratorium yang Selanjutnya, jika memungkinkan, penyebab reversibel GJ harus diidentifikasi melalui riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik spesifik GJ. Pasien dengan penyebab GJ yang reversibel . isalnya kardiomiopati yang diinduksi takikardia atau stre. harus diikuti oleh KGJ di awal perjalanan mereka tetapi mungkin dapat dipulangkan dari klinik jika etiologi yang mendasarinya teratasi dan fungsi jantung Pertimbangan tambahan juga harus diberikan untuk penyebab kardiomiopati yang umum namun sering diabaikan . isalnya, terkait obat atau kemoterapi, penyakit infiltratif dan kardiomiopati familia. 9,10 Setelah diagnosis GJ ditegakkan. KGJ harus fokus untuk memastikan semua pasien tanpa kontraindikasi untuk pemberian terapi medis yang sesuai panduan klinis GJ. Dalam diberikan pada kemampuan keuangan pasien, status asuransi, dan biaya. Harus dipertimbangkan untuk evaluasi dan titrasi terapi medis. Terapi medis untuk GJ dengan penurunan fraksi ejeksi telah berkembang pada beberapa tahun terakhir, dan harus dipastikan bahwa pasien memenuhi syarat menerima terapi baru yang efektif ini jika Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman receptor-neprilysin (ARNI), penghambat natrium glukosa kotransporter 2 (SGLT2. 11, dan terapi ivabradin bila diindikasikan. Kunjungan Tindak Lanjut Setelah penilaian awal, fokus harus ditempatkan pada inisiasi terapi baru dan peningkatan ke target atau dosis yang dapat pedoman nasional. Pasien yang memenuhi syarat harus dioptimalkan pada semua terapi target atau dosis yang ditoleransi secara maksimal dalam 3-6 bulan setelah konfirmasi diagnosis GJ. Dosis obat harus dicapai sesuai panduan GJ, dinaikan secara bertahap dengan pemantauan pada klinis dan laboratorium. 9,12 Inisiasi dan up-titrasi dapat dilakukan oleh dokter yang bertugas, perawat GJ atau apoteker yang bekerja di KGJ dengan persetujuan dokter. Demikian juga, klinik menggunakan rencana titrasi obat terstruktur virtual/telepon membantu mencapai tujuan dosis obat. Pasien GJ fraksi ejeksi yang menurun dimana tidak memiliki fraksi ejeksi di atas 35% dengan pemberian terapi obat maksimal sesuai panduan seharusnya merupakan kandidat untuk pemasangan pacu jantung kardioverter-defibrilator dan atau terapi resinkronisasi kardiak. 12,13 Sejalan dengan manajemen terapi yang sesuai panduan GJ, seharusnya status gizi juga harus diperhatikan untuk mengurangi kakeksia kardiak. 14 Panduan diet untuk pasien dengan HF memiliki fokus pada pembatasan asupan natrium dan cairan, 14,15 Meskipun demikian, kualitas makanan untuk pasien gagal jantung seringkali buruk dan baik obesitas maupun kakeksia atau sarcopenia sering terjadi. Nutrisi spesifik seperti intravena besi, asam lemak tak jenuh ganda Omega-3, dan koenzim Q10 memiliki data klinis paling banyak untuk suplementasi nutrisi. Evaluasi Terapi Medikamentosa Terapi medikamentosa yang sesuai panduan GJ merupakan dasar pengobatan dari GJ KGJ. Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 5 No 1. Juni 2022 pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7537 Penggunaan terapi medis yang tepat di antara pasien yang memenuhi syarat harus menjadi prioritas utama dan mengedepankan resep dokter yang optimal dan kepatuhan Berikut adalah pemilihan terapi pada kasus GJ. Gagal Jantung dengan Fraksi Ejeksi yang Menurun (GJFEM) Untuk pasien dengan GJFEM, bukti dari uji klinis besar dan pedoman klinis sangat mendukung penggunaan beberapa obat yang terbukti meningkatkan kelangsungan hidup, mengurangi rawat inap, dan meningkatkan kualitas hidup. Panduan klinis saat ini sangat merekomendasikan bahwa pasien yang memenuhi syarat diperlakukan dengan "terapi empat pilar" pada dosis target yang dapat ditoleransi. Terapi empat pilar termasuk . penghambat enzim pengubah angiotensin (ACEI), penghambat reseptor angiotensin II (ARB), atau ARNI. penghambat beta yang berbasis bukti . aitu, bisoprolo. , dan . antagonis reseptor mineralokortikoid (MRA) dan . penghambat kotransporter 2 natrium/glukosa (SGLT2. , yaitu dapagliflozin atau empagliflozin. Gagal Jantung dengan Fraksi Ejeksi yang Normal (GJFEN) Meskipun serangkaian uji klinis acak, terapi medis berbasis bukti untuk GJFEN adalah Panduan pertimbangan ARB dan/atau MRA untuk mengurangi rawat inap. Jika tidak, rekomendasi panduan untuk terapi medis untuk GJFEN pada kontrol tekanan darah, kontrol komorbiditas . isalnya, obesitas, diabetes, atrial fibrilasi, penyakit paru obstruktif kronik, apnea tidur obstrukti. dan penggunaan diuretik untuk meredakan gejala Satu-satunya yang menjadi SGLT2i empagliflozin 10mg. Evaluasi Komprehensif Peresepan Evaluasi Terapi Alat Peran alat implan jantung untuk GJ berkembang pesat. Implan alat defibrillator kardioverter dan terapi resinkronisasi jantung tetap menjadi rekomendasi panduan yang 17,18 Beberapa pertimbangan berlaku untuk pemilihan pasien yang tepat untuk terapi alat. Pertama, untuk semua alat, dan seperti yang ditekankan dalam panduan klinis, penyebab reversibel dari disfungsi ventrikel kiri harus ditangani secara menyeluruh dan dalam 3-6 bulan seharusnya dievaluasi untuk menilai pemulihan ventrikel dengan obat yang sesuai panduan klinis. Poin ini perlu ditekankan, sebagai inisiasi agresif dan titrasi obat-obatan yang komprehensif pada pasien GJFEM. Penilaian Status Fungsional Evaluasi status fungsional merupakan komponen penting dari semua kunjungan awal pasien dan follow-up. Tiga metode ysng digunakan untuk menilai status fungsional dalam penggunaan klinis, yaitu kelas fungsional dari New York Heart Association (NYHA), tes jalan 6 menit (TJ6M), dan tes latihan kardiopulmoner . ardiopulmonary exercise test. CPET). Obat Pada setiap kunjungan pasien ke KGJ, kesesuaian rejimen medis harus ditinjau dengan cermat yang sesuai dengan panduan Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman praktek klinis, potensi interaksi obat-obat, efek samping, dan alergi. Demikian juga, obat-obatan yang dapat menyebabkan atau diresepkan . isalnya, obat antiinflamasi nonsteroid, thiazolidinediones, saxaglipti. Pasien GJ harus memahami dan tahu setiap obat yang diberikan, dosis optimal yang direncanakan dan jadwal administrasi atau kontrol balik. Kepatuhan juga harus dinilai dan ditekankan. Untuk pasien dengan GJFEM, setiap kunjungan klinik harus dilakukan untuk memulai dan menaikkan titrasi dosis yang sesuai panduan GJ. Pengambilan keputusan bersama sangat penting dilakukan, untuk meningkatkan angka harapan hidup pasien GJ. Kelas Fungsional NYHA Sistem klasifikasi NYHA adalah nomenklatur yang dinilai oleh dokter yang telah digunakan dalam perawatan GJ selama beberapa Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 5 No 1. Juni 2022 pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7537 20 Selain itu. Skala Aktivitas Spesifik dapat digunakan oleh pasien untuk memantau sendiri status fungsional NYHA. Memburuknya kelas fungsional berkorelasi dengan peningkatan risiko kematian dan rawat inap, dan penilaian serial dapat mencerminkan dinamika perubahan risiko saat pasien membaik atau memburuk. Tes Jalan Enam Menit (TJ6M) TJ6M adalah ukuran kapasitas fungsional yang sederhana dan objektif yang berkorelasi sedang dengan pengambilan oksigen puncak serta risiko kematian. 22 Ambang batas TJ6M dengan nilai 300 m telah menjadi tolok ukur kematian, tetapi risiko semakin tinggi dengan semakin pendeknya jarak berjalan. TJ6M berperan sebagai penanda mortalitas independent pada pasien GJFEM. Tes Latihan Kardiopulmoner (CPET) Pengambilan oksigen puncak . eak oxygen uptake. VO. pada pasien gagal jantung yang diukur dengan CPET adalah cara yang paling objektif untuk mengevaluasi kapasitas CPET menyediakan data pertukaran gas napas demi napas yang digunakan untuk menurunkan pola respons maladaptif spesifik . isalnya, menentukan batasan latihan pasien terutama karena penyakit jantung, paru, atau otot rangka/kondisi perife. Rasio pertukaran pernapasan dihitung dengan masing-masing tes untuk memberikan penilaian objektif upaya pasien selama latihan. Tesnya bisa diberikan melalui protokol treadmill atau SIMPULAN Gagal jantung tetap dihubungkan dengan tingginya tingkat mortalitas dan perawatan serta menggambarkan beban kesehatan dan sistem kesehatan. Klinik gagal jantung secara efisien menyediakan komprehensif dan fundamental memperbaiki kualitas hidup pasien gagal jantung. Diharapkan KGJ penghubung layanan dengan teknologi tinggi dan terapi medis. DAFTAR PUSTAKA