MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 1. Juni 2023 Peranan Muslimat Nahdlatul Ulama dalam Pemberdayaan Perempuan pada Bidang Sosial Keagamaan Eliza Rahma Ulinnuha IAIN Ponorogo elizarahma50@gmail. Zeni Murtafiati Mizani IAIN Ponorogo zeni@iainponorogo. Abstrack: Stereotypes that think women are weak, very dependent on men, and cannot be independent are still widely found today, including in Papungan Village. Pitu District. Ngawi Regency. This study aims to determine the role of Nahdhatul Ulama Muslims in Papungan Village in empowering women in the socio-religious field. This study uses a qualitative approach. Data analysis is based on the concept of Milles and Hubberman, namely data reduction, data presentation, and conclusion. The results of the first study, the role of Muslimat Nahdhatul Ulama in empowerment is by educating, guiding, training, and directing through yasinan, tadarus al-Qur`an, banjari al-Barjan, and recitation activities. Second, the supporting factors that influence empowerment are the support from the village head, the spirit of participation from members, and While the inhibiting factors are the lack of optimal motivation, time discipline, situations and conditions as well as differences in backgrounds. Third, the impact of the Muslimat movement in the spiritual context, the changes experienced by the community, which can increase the faith of piety and make it easier for mothers to read the Koran. Whereas in an intellectual context, adding new knowledge, and optimizing talent in banjari and al-Barjan activities. Whereas in the economic context, activities that can shape changes in mothers are increasing income through bisyaroh when there is an offer of hadroh and leading yasinan. Keywords: Nahdhatul Ulama Muslimat. Women's Empowerment. Social Religion Abstrak: Stereotipe yang menganggap perempuan itu lemah, sangat bergantung pada laki-laki, dan tidak bisa mandiri masih banyak ditemukan hingga saat ini, tidak terkecuali di Desa Papungan. Kecamatan Pitu. Kabupaten Ngawi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan muslimat Nahdhatul Ulama Desa Papungan dalam pemberdayaan perempuan pada bidang sosial keagamaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Analisis data yang dari konsep Milles dan Hubberman yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian pertama, peranan Muslimat Nahdhatul Ulama dalam pemberdayaan adalah dengan cara mendidik, membimbing, melatih, dan mengarahkan melalui kegiatan yasinan, tadarus al-Qur`an, banjari al-Barjanji, dan Pengajian. Kedua, faktor pendukung yang mempengaruhi pemberdayaan adalah dukungan dari kepala desa, semangat partisipasi dari anggota, dan sarana prasarana. Sedangkan faktor penghambatnya adalah kurang optimalnya motivasi, disiplin waktu, siuasi dan kondisi serta perbedaan latar belakang. Ketiga, dampak gerakan Muslimat dalam konteks ruhaniyah, perubahan yang dialami masyarakat yaitu dapat meningkatkan iman takwa dan memperlancar ibu-ibu dalam membaca al-Qur`an. Sedangkan dalam konteks intelektual, penambahan pengetahuan yang baru, dan optimalisasi bakat dalam MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 1. Juni 2023 kegiatan banjari dan al-Barjanji. Sedangkan dalam konteks ekonomi, kegiatan yang dapat membentuk perubahan pada ibu-ibu yaitu menambah pemasukan melalui bisyaroh ketika ada tawaran hadroh dan memimpin yasinan. Kata kunci: Muslimat Nahdhatul Ulama. Pemberdayaan Perempuan. Sosial Keagamaan PENDAHULUAN Manusia ialah makhluk yang paling sempurna di mata Allah dibandingkan makhluk Manusia juga merupakan makhluk yang sangat unik dan menarik untuk di teliti dan dibicarakan. Manusia dalam menjalankan kehidupannya di dunia harus berpegang teguh pada ke-Esaan Allah yang dituntut untuk bertakwa. Sebagian besar manusia menganut paham Ahlusunnah Wal Jamaah dan beraliran Nahdhatul Ulama. Organisasi wanita Islam terbesar di Indoesia salah satunya adalah Muslimat Nahdhatul Ulama. Muslimat Nahdhatul Ulama ialah organisasi yang beranggotakan perempuan yang dewasa menuju lansia. Organisasi ini bertekad dapat meningkatkan kualitas perempuan Indonesia menjadi perempuan yang terampil,cerdas, dan masuk akal dalam mempersatukan gerak kaum perempuan Indonesia. Khususnya perempuan Ahlusunnah Wal Jamaah yang bergerak pada bidang sosial, pendidikan dan dakwah. Muslimat Nahdhatul Ulama merupakan satu Badan Otonom yang ada di wilayah Nahdhatul Ulama yang membidangi masalah perempuan. Penelitian ini berusaha memotret peranan Muslimat Nahdhatul Ulama di Desa Papungan Kecamatan Pitu Kabupaten Ngawi. Hal ini dikarenakan berdirinya organisasi muslimat di sinim berawal dari ketidak adilan dan rasa prihatin yang mendalam terhadap kondisi serta lokasi yang secara geografis yang berada di tengah hutan yang masih banyak sekali ditemukan anggapan bahwa perempuan itu lemah, sangat bergantung pada laki-laki dan sangat minimnya gerakan pemberdayaan pada perempuan. Mayoritas perempuan di Desa Papungan tidak mempunyai kegiatan apapun, mereka hanya berdiam diri di rumah sebagai ibu rumah tangga yang baik, sesekali keluar rumah hanya berbincang kepada tetangga yang membahas hal yang tidak perlu di bicarakan. Ibnu Sodiq Dzurotul Qorina dan Suwito Eko Pramono. AuPeranan Muslimat Dalam Pemberdayaan Perempuan Di Bidang Sosial Keagamaan Di Batang Tahun 1998-2010,Ay Journal of Indonesian History 4, no. : 18Ae22. Dewi Sulistyorini. Wawancara, 22 Januari 2023 MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 1. Juni 2023 Perempuan harus dipahami sebagai potensi bangsa yang sudah semestinya diperhatikan demi terwujudnya pembangunan berkeadilan gender, dimana perempuan dan laki-laki memiliki peluang yang sama untuk dikembangkan. Pemberdayaan perempuan merupakan salah satu cara yang strategis untuk mengembangkan potensi Pemberdayaan mengedepankan nilai kemandirian agar tidak bergantung kepada laki-laki. Kemandirian akan memberikan kekuatan untuk melakukan tindakan yang lahir dengan kematangan berpikir, bahwa perilaku kita adalah hasil usaha sadar yang berdasar pada nilai. Adapun hal-hal yang menjadi faktor utama yang menyebabkan ketidakberdayaan atau ketidakmampuan perempuan, diantaranya yaitu kebodohan. Kebodohan akan menimbulkan rasa tidak menguntungkan bagi dirinya sendiri karena tidak bisa memahami bagaimana keterampilan dari suatu perbuatan yang merupakan kontruksi sosial yang menimpa dirinya sendiri, tidak mengetahui apa itu peran gender, sehingga mereka tidak tau apa yan seharusnya mereka lakukan. 3 Ajaran Islam telah memberikan perhatian besar terhadap kedudukan perempuan secara terhormat dalam Surat AlHujurat ayat 13: AOU OCa E Ea AaO o ua acI eEI aE eIA Aac uaacI E eC eI aEI II E s OaI eO O Ee eI aE eI aa A a AeaOOac N EIA a ca AacEEa e CeO aEI o ua acIA ca AIA a UAacEE E UOI aOA Artinya: AuWahai manusia! sungguh. Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berangabangsa dan bersukusuku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh. Allah Maha Mengetahui. Maha TelitiAy. (QS. Al-Hujurat:. 4 Sejalan dengan ayat di atas. Islam mengajarkan dalam Al-Qur'an untuk menolak pandangan masyarakat mengenai perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan. Zanaria. AuPendidikan Dan Pemberdayaan Perempuan Di Majelis Taklim Muslimat NU Cabang KepahiangAy (Tesis. UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, 2. ,1. Departemen Agama Republik Indonesia. Al-Qur`an Dan terjemahannya (Bandung: JABAL, 2. , 517. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 1. Juni 2023 Realitas ini tanpa disadari membentuk norma dan etika dalam masyarakat yang lebih memberikan peluang bagi perempuan untuk dapat meningkatkan kualitas keberdayaan itu sendiri. Dalam melaksanakan kualitas pemberdayaan perlu diperhatikan faktorfaktor baik yang ada dalam organisasi, baik eksternal maupun internal. Keprihatinan ini terkait dengan semakin tergerusnya peran agama yang berwajah dingin, seringkali menghadapi berbagai kendala dan tantangan, terutama dalam membentuk generasi bangsa yang mengedepankan semangat persaudaraan dan solidaritas bersama tanpa memandang latar belakang masing-masing individu atau kelompok. Penelitian ini berfokus pada peran Muslimat Nahdhatul Ulama di Desa Papungan Kecamatan Pitu Kabupaten Ngawi. Latar belakang berdirinya organisasi Nahdhatul Ulama Muslimat di Desa Papungan berawal dari ketidakadilan dan rasa keprihatinan terselenggaranya kegiatan pemberdayaan perempuan. Hal ini dibuktikan dengan letak geografis yang berada di tengah hutan yang menyebabkan perempuan menjadi lemah, bergantung pada laki-laki dan kurangnya pemberdayaan perempuan. Sebagian besar ibu-ibu di Desa Papungan dulunya tidak ada kegiatan, mereka hanya berdiam diri di rumah sebagai ibu rumah tangga yang baik, sesekali keluar rumah hanya mengobrol dengan tetangga membicarakan hal-hal yang tidak perlu dibicarakan. Dengan berdirinya Muslimat Nahdhatul Ulama di Desa Papungan ini bertujuan untuk menghilangkan persepsi masyarakat bahwa perempuan juga memiliki peran yang sangat penting dan mampu berusaha untuk memberdayakan perempuan khususnya dalam bidang sosial Serta memberikan kegiatan positif dengan nilai-nilai sosial keagamaan. Kegiatan Muslimat Nahdhatul Ulama di Desa Papungan masih sangat aktif, seperti pada malam Kamis dan Jumat melaksanakan pengajian berjamaah di masjid, mengadakan silaturahmi pada hari Minggu dan bergantian dengan acara sosial keagamaan lainnya. Hal ini dapat meningkatkan aktivitas keagamaan masyarakat khususnya wanita yang tergabung dalam organisasi Muslimat Nahdhatul Ulama itu sendiri, dan hal ini juga dapat memperkuat terjalinnya interaksi yang baik antar sesama. Penelitian ini relevan dengan penelitian terdahulu dari skripsi Shafa Haizatul `Izza. AuUpaya Muslimat Ranting Dalam Meningkatkan Nilai Sosial Religius Anggota Melalui Kegiatan KeagamaanAy. Skripsi Fakultas Tarbiyah Dan Ilmu Keguruan IAIN Ponorogo. Lihat Transkip Wawancara Nomor 01/W/22-01/2023 MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 1. Juni 2023 Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa dalam meningkatkan nilai sosial religius dengan kegiatan keagamaan berupa banjari yang dilantunkan oleh ibu-ibu muslimat, tidakhanya itu ibu-ibu juga menyanyikan sholawat Nabi Muhammad SAW dankepada Allah SWT. Dari segi sosial dapat dilihat dari perkembangan kepedulian sosial ibu-ibu, contohnya membersihkan masjid dan menyiapkan peralatan seperti tikar dan peralatan Sehingga secara tidak langusng nilai sosial ibu-ibu meningkat drastis dengan adanya sistem gotong royong. Peneliti ingin lebih jauh mengetahui secara mendalam bagaimana peranan Muslimat Nahdhatul Ulama dalam pemberdayaan perempuan seperti yang telah di jelaskan di atas bahwa perempua di tuntut untuk memiliki daya kreatif, mandiri dan daya imajinasi serta mampu mengembangkan sumber daya manusia khususnya sumber daya perempuan, sehingga perempuan ikut berpartisipasi dalam meningkatlan nilai-nilai sosial keagamaan dalam masyarakat. METODE Penelitan ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Dalam penelitian ini akan dilakukan penggalian data dengan secara mendalam dan menganalisis peranan muslimat Nahdhatul Ulama dalam pemberdayaan perempuan yang ada di dalamnya. Sehingga dalam penelitian ini penulis mampu melakukan dialog dengan subjek penelitian. 7 Subjek dalam penelitian ini ialah ibu-ibu Pengurus dan anggota Muslimat Nahdhatul Ulama. Lokasi Penelitian terletak di Desa Papungan Kecamatan Pitu Kabupaten Ngawi. Data dalam penelitian ini berupa data primer yang terdiri dari kata-kata dan tindakan yang berkenaan dengan peran muslimat, dan data sekunder yang berupa arsip dan dokumen yang berkenaan dengan peran muslimat. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Adapun tahap analsis data, peneliti menggunakan teori Milles dan Shafa Haizatul `Izza. AuUpaya Muslimat Ranting Dalam Meningkatkan Nilai Sosial Religius Anggota Melalui Kegiatan Keagamaan,Ay (Skripsi. Fakultas Tarbiyah Dan Ilmu Keguruan IAIN Ponorogo, 2. , 111. Laila Fitira Noor dan Kharisul Wathoni Nuzulul. AuPeran Pengawas Pendidikan Agama Islam (Ppa. Dalam Meningkatkan Kompetensi Guru Pai Di Smp Swasta Wilayah Kecamatan Sidoarjo Kabupaten Sidoarjo,Ay Ma`alim 1 . : 1Ae24. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 1. Juni 2023 Hubberman yang dibagi menjadi tiga bagian yakni reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Pemberdayaan ialah upaya yang dilakukan agar objek menjadi berdaya atau memiliki tenaga atau kekuatan. Dalam Bahasa Indonesia, kata pemberdayaan berasal dari Bahasa Inggris, yaitu empowerment. Merrian Webster dalam Oxford English Dictionary mengartikan empowerment menjadi dua arti, yaitu: pertama, to give ability ar enable to, yang diterjemahkan sebagai menjadi kemampuan atau cakap untuk melakukan sesuatu. Kedua, to give power of autority to, yang diterjemahkan sebagai memberi kewenangan atau kekuasaan. 8 Pemberdayaan yang diterjemahkan dari empowerment menurut para ahli lain bahwa intinya berarti Aumembantu masyarakat dalam untuk memperoleh sumber daya guna mengambil keputusan dan tindakan yang berkaitan dengan diri mereka termasuk mengurangi dampak hambatan pribadi maupun sosial dalam bentuk tindakan. Masyarakat dalam hal pembangunan sangat berperan penting dalam pelaksaan proses pembangunan, berhasil atau tidaknya sebuah pembangunan tergantung pada partisipasti masyarakat itu sendiri. Perempuan merupakan separuh dari masyarakat yang memiliki hak namun terkadang sering disepelekan, ditelantarkan maupun dirampas haknya. Perkataan di atas memang benar, bahkan saat ini jumlah kadar perempuan lebih besar daripada laki-laki10 Saat Islam datang, perempuan diberikan hak yang sepenuhnya dengan memberikan warisan, memberikan kepemilikan peuh terhadap hartanya. Dalam Islam, perempuan mukallaf dapat melakukan sebuah perjanjian, sumpah, dan nazar baik kepada sesama makhluk maupun kepada Tuhan. tidak ada suatu kekuatan yang dapat menggugurkan janji, sumpah dan nazar tersebut sesuai dengan ketentuan dalam Q,S al-Maidah ayat 89. 11 Pemberdayaan perempuan dalam perspektif agama Islam mengajak semua orang untuk berbuat kebaikan. Wilar. NU Perempuan. Kehidupan Dan Pemikiran Kaum Perempuan NU. Dedeh maryani dan Ruth Roselin E. Nainggolan. Pemberdayaan Masyarakat (Yogyakarta: Deepublish, 2. , 1. Yusuf Al-Qardhawi. Perempuan Dalam Pandangan Islam (Mengungkap Persoalan Kaum Perempuan di Zaman Modern dari sudut Pandag Syaria. , (Bandung: Pustaka Setia, 2. , 7. Agustin Hanafi. AuPeran Perempuan Dalam Islam,Ay Gender Equality: Internasional Journal of Child and Gender Studies 1. No. : 15Ae26. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 1. Juni 2023 mencegah orang akan berbuat kemungkaran, menghalalkan segala kebaikan, mengharamkan perbuatan yang buruk-buruk, mengatasi himpitan hidup akan belenggubelenggu yang bisa menjadikan orang melakukan keburukan. Peranan Muslimat Nahdhatul Ulama dalam Pemberdayaan Perempuan pada Bidang Sosial Keagamaan Peranan perempuan Nahdhatul Ulama dalam organisasi mulai diakui saat Muktamar Nahdhatul Ulama ke-15 di Surabaya tahun 1940, yaitu dengan diterimanya pentingnya peranan perempuan Nahdhatul Ulama dalam organisasi masyarakat dengan adanya pendidikan dakwah dengan Anggaran Dasar dan pengurus besarnya. Paham Ahlussunah Wal Jamaah menjadi motivasi bagi lahirnya Muslimat Nahdhatul Ulama sebagai sebuah organisasi yang digawangi dan diisi oleh perempuan. Ahlussunah Wal Jamaah yang menjadi paham Muslimat Nahdhatul Ulama ialah paham yang menjadikan nilai yang bersifat mendunia yang mencakup segala aspek kehidupan dan patokan perjuangan Muslimat Nahdhatul Ulama. Ruh perjuangan dalam segala aspek kehidupan khususnta dakwah Islamiyah juga yang menjadi latar belakang munculnya Muslimat Nahdhatul Ulama yang didirikan oleh Ibu Dewi Sulistyorini Desa Papungan Kecamatan Pitu Kabupaten Ngawi berdiri pada Organisasi ini merupakan organisasi yang bergerak di bidang sosialkeagamaan dengan latar belakang pertimbangan dakwah Islamiyah yang kental. Hal ini dikarenakan di Desa Papungan tidak terdapat pesantren, organisasi keagamaan, maupun lembaga pendidikan formal maupun informal yang mengajarkan pendidikan Islam secara menyeluruh dan komprehensif. Peranan Muslimat Nahdhatul Ulama dalam konteks Ruhaniyah Muslimat Nahdhatul Ulama berupaya mendidik pemberdayaan perempuan untuk menggali seluruh potensi aktif yang ada dalam dirinya, bahkan diarahkan untuk berusaha menciptakan potensi-potensi baru, yang pada akhirnya dapat bermanfaat bagi warga Desa Papungan. Kecamatan Pitu. Kabupaten Ngawi, dalam hal ini masyarakat. Komunitas perempuan mampu memenuhi lingkungan hidupnya saat ini dan diharapkan Lailatus Syukriyah. AuMuslimat Nahdhatul Ulama Di Indonesia . ,Ay AVATARA , eJournal Pendidikan Sejarah 4, no. : 609Ae20. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 1. Juni 2023 mampu memenuhi kebutuhan lingkungan untuk masa depan. Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam pemeberdayaan perempuan kepada para anggota Muslimat Nahdhatul Ulama di Desa Papungan diantaranya yaitu dengan melatih, memimbing, dan mengarahkan anggota Muslimat Nahdhatul Ulama dalam melaksaakan kegiatan sosial keagamaan, menjalankan sunnah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, mengajarkan untuk melaksankaan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya. Pengajian yang diadakan oleh Muslimat Nahdhatul Ulama dan diikuti oleh Pengajian bertujuan untuk mengarahkan ibu-ibu guna dapat menjadi masyarakat yang lebih baik lagi, menambah kesadaran masyarakat akan hidup bermasyarakat yang baik, seperti halnya bertutur kata yang sesuai dengan aspek ilmu Pengurus muslimat banyak mengharapkan bahwa materi pengajian tidak hanya dirasa ketika berada di dalam masjid saja, tetapi di luar masjid bisa mempraktekkan langsung kepada orang lain, terutama bagi masyarakat setempat. 14 Tidak hanya pengajian saja melainkan kegiatan tadarus al-Qur`an dapat membantu kita dalam membaca al-Qur`an. Adanya kegiatan tadarus al-Qur`an bertujuan untuk menajamkan penguasaan dalam membaca dan menghafal al-Qur`an, selain itu di dalam kegiatan ibuibu dididik dan dibimbing dalam pengajaran ilmu tajwid, sehingga panjang dan pendek bacaan dapat dilafalkan secara fasih, demi terciptanya masyarakat yang tidak buta akan al-Quran. Kegiatan ini dimulai dengan salah satu anggota membaca al-Qur`an kemudian ibu-ibu yang lain menyimaknya secara bergantian. Peranan Muslimat dalam Konteks Intelektual Latihan banjari ini dibimbing dan dilatih oleh ibu Dewi Sulistyorini, selaku bendahara Muslimat Nahdhatul Ulama Desa Papungan yang kebetulan bisa memainkan alat musik rebana. Beliau menggunakan strategi langsung dan dipraktekkan didepan ibuibu muslimat saat rutinan. Dimana ibu dewi memberikan contoh satu persatu mulai dari cara memegang, memukul dan memainkannya dengan rumus dasar sampai dengan rumus yang agak sulit. Selain itu, ibu-ibu diminta untuk segera mengikuti pelatihan dan mempraktikkannya secara bergantian. Hanafi. Elva Oktavia. AuManfaat Mengikuti Pengajian Rutin Dalam Meningkatkan Kesadaran Beragama Masyarakat. Ay Jurnal Istinarah 1, no. : 67. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 1. Juni 2023 Kegiatan ini dimaksudkan untuk mempererat tali silaturahim atau Ukhuwah Islamiyah, sehingga kegiatan sosial dan keagamaan umat Islam semakin kuat di Desa Papungan Kecamatan Pitu Kabupaten Ngawi. Dalam hal ini. Muslimat Nahdhatul Ulama merasa bangga menjadi wadah pembentukan kader-kader penerus budaya Islam yang menambah nilai-nilai mayoritas umat Islam. Peranan Muslimat dalam Konteks Ekonomi Kegiatan yasinan merupakan kegiatan yang dilaksanakan pada malam jumat. Kegiatan tersebut dilakukan secara bergantian, dan cara memulai membaca biasanya dipimpin oleh ibu-ibu ini yang dianggap mampu dan fasih dalam memimpin kegiatan. yasinan pada pertemuan berikutnya. Cara penggantian imam yasinan ini dimaksudkan sebagai bentuk kemandirian bagi setiap anggota yang dianggap mampu dalam hal ini, karena kemandirian seorang muslim menurut Muslimat Nahdhatul Ulama harus berpedoman pada praktik langsung di masyarakat. Sehingga sedikit memberikan dampak berupa bisharoh yang diterima. Faktor Pendukung Perempuan Penghambat yang Mempengaruhi Pemberdayaan Pertama, potret faktor pendukung dan penghambat yang dapat mempengaruhi pemberdayaan perempuan pada bidang sosial keagamaan dalam konteks ruhaniyah. Faktor pendukung dari Muslimat Nahdhatul Ulama dalam konteks ruhaniyah adalah adanya dorongan dari kepala desa dengan adanya kegiatan sosial keagamaan, adanya semangat ingin belajar oleh ibu-ibu. Adanya dukungan dari Kepala Desa Papungan sangat mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan kegiatan sosial keagamaan. Karena setiap kegiatan yang berlangusng di Desa Papungan harus meminta izin dan persetujuan dari kepala desa. Adapun faktor penghambatnya yaitu rendahnya disiplin waktu dikarenakan banyak sekali masyarakat yang bermata pencaharian sebagai petani dan hanya waktu malam ia gunakan untuk istirahat. Tidak hanya itu, ternyata alokasi dana juga menjadi hambatan kegiatan ini karena tidak cukup jika pelaksanaan kegiatan yang agak lebih meriah lagi seperti halnya pengajian. Lihat Transkip Observasi Nomor 08/O/26-02/2023 MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 1. Juni 2023 Motivasi dianggap sebagai konstruk hipotesis yang digunakan untuk menjelaskan keinginan, arah, intensitas, dan keajegan perilaku yang diarahkan oleh tujuan. Dalam motivasi tercakup konsep-konsep, seperti kebutuhan untuk berprestasi, kebutuhan berafiliasi, kebian, dan keingintahuan seseorang terhadap sesuatu. 16 Adanya motivasi berasal dari ketekunan ibu-ibu yang mana berapa lama mereka mampu mempertahankan segala usahanya. Ibu-ibu yang termotivasi dipastikan tetap bertahan pada kegiatan yang dapat menjadikannya berkembang. 17 Faktor penghambat yang dapat mempengaruhi pemberdayaan perempuan ialah kurangnya atau tidak cukupnya dana yang dibutuhkan. Kurangnya pemahaman warga akan alokasi dana yang dibutuhkan maka masyarakat juga akan sulit memahami dalam memahami tugasnya dalam ikut berperan serta dalam alokasi dana disetiap kegiatan. Hal ini dapat menghambat pemberdayaan yang melibatkan ibu-ibu Muslimat Nahdhatul Ulama Desa papungan. Kedua, faktor pendukung dan penghambat yang dapat mempengaruhi pemerdayaan perempuan pada bidang sosial keagamaan dalam konteks intelektual ialah adanya sarana dan prasarana seperti tempat, peralatan yang sudah memadai, sudah disediakan oleh pengurus sesuai dengan pembayaran uang kas serta semangat dari anggota untuk tetap melaksanakan kegiatan untuk memenuhi bakatnya. Kemudian faktor penghambatnya adalah dana. Dana sering kali tidak cukup untuk pemerataan dengan kegiatannya yang mengakibatkan banyaknya kegiatan yang dilaksanakan secara Dalam pelaksanaan kegiatan Muslimat Nahdhatul Ulama Desa Papungan banyak sekali sarana dan prasarana yang diperlukan, diantaranya tempat lokasi pelaksanaan, tikar, mikrofon dan sound system, dan peralatan hadroh al-Banjari. Karena jika tidak ada sarana prasarana maka kegiatan tidak dapat berjalan secara semestinya. Adanya sarana prasarana dapat mendorong keinginan ibu-ibu untuk belajar lebih baik dan lebih 19 alokasi dana juga menjadi penghambat karena usaha-usaha untuk Hamzah Bi Uno. Teori Motivasi Dan Pengukurannya Analisis Di Bidang Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2. , 1. Yulianto Kadji. AuTentang Teori Motivasi,Ay Jurnal Inovasi 9, no. : 2. Risya Novita Sari et al. AuPengelolaan Alokasi Dana Desa Dalam Perspektif Pemberdayaan Masyarakat,Ay Jurnal Admisnistrasi Publik 3, no. : 1880Ae85. Saniatu Nisail dan Uep Tatang Sontani Jannah. AuSarana Dan Prasarana Pembelajaran Sebagai Faktor Determinan Terhadap Motivasi Belajar Siswa ( Learning Facilities and Infrastructure as a Factor MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 1. Juni 2023 melaksanakan semua rencana telah direncanakan dan ditetapkan dengan dilengkapi segala kebutuhan, alat-alat yang diperlukan. Serta seluruh transaksi juga dicatat, namun dana dapat menjadi penghambat karena tidak kesampaiannya dana tersebut untuk mengadakan kegiatan yang sangat besar. Ketiga, faktor pendukung dan penghambat yang dapat mempengaruhi pemerdayaan perempuan pada bidang sosial keagamaan ekonomi ialah adanya semangat dan partisipasi masyarakat yang sangat mempengaruhi hasil dari pembentukan pemberdayaan perempuan. Sedangkan faktor penghambatnya ialah adanya ketidak hadiran anggota dikarenaka situasi dan kodisi yang buruk serta perbedaan latar belakang yang dapat meghambat terlaksananya kegiatan oleh Muslimat Nahdhatul Ulama Desa Papungan. Kesadaran diri merupakan pondasi semua unsur kecerdasan yang bersifat emosional, langkah awal yang penting untuk memahami diri sendiri dan untuk berubah. Kesadaran diri adalah salah satu ciri khas yang unik dan mendasar pada manusia, yaitu dapat membedakan manusia dari makhluk lainnya. Abraham Maslow dalam teorinya humanistik mengemukakan tentang kesadaran diri adalah mengerti dan memahami siapa diri kita, bagaimana menjadi diri sendiri, apa potensi yang kita miliki, gaya apa yang kita miliki, langkah apa yang akan diambul, apa yang dirasakan, nilai-nilai apa yang kita miliki dan yakini dan kemana arah perkembangan kita yag akan dituju. 21 Para perempuan yang mengikuti organisasi Muslimat NU jika sudah memiliki kesadaran diri yang kuat, mereka akan berjuang dan berusaha mengikuti kegiatan sosial keagamaan yang berlangsung. Dampak Pemberdayaan Perempuan pada Bidang Sosial Keagamaan Pengertian pemberdayaan sudah banyak di jelaskan oleh beberapa pakar. Bila dilihat dari akar katanya AudayaAy yang artinya kekuatan. Kata daya merupakan kata dasar Determinant to Student Learning Motivation ),Ay Jurnal Pendidikan Manajemen Perkantoran 3, no. : 66. Siti Rahayu. AuPengelolaan Dana Desa Dalam Pemberdayaan Masyarakat Desa Di Desa Damit Kecamatan Pasir Belengkong Kabupaten Paser,Ay Journal Ilmu Pemerintahan 7, no. : 1688. Hapzi Ali Nur Firas Sabila Salam. Abdul Manap Rifai. AuFaktor Penerapan Disiplin Kerja: Kesadaran Diri. Motivasi. Lingkungan (Suatu Kajian Studi Literatur Manajemen Pendidikan Dan Ilmu Sosia. ,Ay Jurnal Manajemen Pendidikan Dan Ilmu Sosial 2, no. : 493. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 1. Juni 2023 dan ditambah awalan AuberAy yang kemudian pemberdayaan memiliki arti mempuyai tenaga atau kekuatan. 22 Pemberdayaan yang diterjemahkan dari empowerment menurut para ahli lain bahwa intinya berarti Aumembantu masyarakat dalam untuk memperoleh sumber daya guna mengambil keputusan dan tindakan yang berkaitan dengan diri mereka termasuk mengurangi dampak hambatan pribadi maupun sosial dalam bentuk Masyarakat dalam hal pembangunan sangat berperan penting dalam pelaksaan proses pembangunan, berhasil atau tidaknya sebuah pembangunan tergantung pada partisipasti masyarakat itu sendiri. Perlu diakui bahwa peran wanita belum Para wanita memiliki kemampuan dan potensi yang belum Sumber daya kaum wanita yang masih relatif masih kurang. wanita saat ini dikarenakanm belum menjelma menjadi sumber daya yang terampil dan belum teruji kualitasnya. 24 Dampak dari pemberdayaan muslimat Nahdhatul Ulama dibai menjadi tiga konteks, yakni ruhaniyah, intelektual dan ekonomi. Pertama, pemberdayaan dalam Konteks Ruhaniyah. Dalam pandangan Agus Efendi, pergeseran nilai masyarakat Islam saat ini mampu merubah kesadaran umat Islam. Kepribadian Islam yang berawal dari mengedepankan nilainilai tradisional sekarang dengan mudahnya terkooptasi dengan mengikuti trend bangsa barat yang merupakan hal-hal yang harus dijauhi oleh umat Islam. Untuk keluar dari persoalan ini, masyarakat harus berjuang keras untuk melahirkan hal-hal baru seperti melahirkan desain besar kurikulum pendidikan untuk setiap wilayah pendidikan. Hal ini harus diperjuangkan yang benar-benar berorientasi pada pemberdayaan ruhaniyah Islamiyah, yang tidak bertentangan dengan perjuangan kebenaran ilmiyah dan kemodernan. Kegiatan yang termasuk dapat meningkatkan perubahan pada konteks ini yaitu pengajian dan tadarus al-Qur`an. Ibu-ibu dapat meningkatkan iman dan takwanya. Dimana kegiatan ini memberi penguatan dengan memberikan motivasi dan pengarahan akan pentingnya hidup sehingga mereka mengeluarkan segala potensinya. Apabila Abraham Silo Wilar. NU Perempuan. Kehidupan Dan Pemikiran Kaum Perempuan NU. Dedeh maryani dan Ruth Roselin E. Nainggolan. Pemberdayaan Masyarakat (Yogyakarta: Deepublish, 2. , 1. Muslimah. AuPendidikan Perempuan Dalam Perspektif Islam,Ay Jurnal Aktualita 9 . : 48Ae MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 1. Juni 2023 potensi dimaksimalkan, maka masyarakat yang tidak memiliki kekuatan akan merubah diri untuk menjadi masyarakat yang bertenaga. 25 Pada konteks ruhaniyah, pengajian memberikan kedamaian dan ketenangan bagi masyarakat, pengajia dapat mengubah rasa sedih menjadi senang, pengajian dapat membuat hidup menjadi bermanfaat bagi dirinya dan lingkungan sekitar, serta pengajian dapat membimbing masyarakat ke jalan yang Dengan memberi pengarahan saat pengajian dapat memberdayakan ibu-ibu agar dapat memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. 26 Kegiatan Muslimat Nahdhatul Ulama Desa Papungan membuat masyarakat perempuan dapat meningkatkan rasa iman dan taKwa, dapat membaca al-Qur`an dengan baik dan benar, serta dapat mempererat tali silaturahmi. Kedua, pemberdayaan dalam Konteks Intelektual. Intelektual berasal dari Bahasa Inggris intellectual yang diartikan sebagai cendekiawan. Intelektual dapat diartikan sebagai kecakapan yang tinggi dalam berpikir kritis. Seorang intelektual adalah seorang yang kreatif dan inovatif. 27 Dengan demikian, pengertian intelektual merupakan sikap hidup bukan hanya sekedar dalam dunia pendidikan saja, meski sebenarnya antara dunia yang tinggi dengan sikap hidup seorang intelektual terdapat hubungan yang tinggi, dapat diungkapkan seperti semakin banyak pengetahuan sesorang, semakin dia merasa bahwa masih banyak hal-hal yang mereka belum ketahui. Kegiatan yang termasuk dapat meningkatkan perubahan pada konteks ini yaitu Pada kegiatan ini ibu-ibu selalu berusaha mencari kemungkinan hal baru yang mungkin lebih baik dari hasil yang sudah ada kemarin, maka ibu-ibu akan menambah pengetahuan akan hal-hal yang mereka belum ketahui sebelumnya. 29 Dimana kegiatan ini dapat mengembangkan bagi ibu-ibu yang memiliki bakat yang selaras dengan kultur yang ada pada masyarakat tersebut. Dengan adanya kegiatan Muslimat Nahdhatul Ulama Desa Papungan ini membuat masyarakat sekreatif dan seinovatif mungkin, karena dengan mengikuti kegiatan ini, ibu-ibu dapat mengeluarkann bakatnya dan Rudi Haryanto. AuPemberdayaan Santri Pondok Pesantren Musthafawiyah Di Era Globalisasi,Ay Jurnal Pendidikan 9, no. : 16Ae32. Ahmad Zaini. AuDakwah Da Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan,Ay Jurnal Ilmu Dakwah 37, 2 . : 290. Ibid. Rudi Haryanto. AuPemberdayaan Santri Pondok Pesantren Musthafawiyah Di Era Globalisasi,Ay Jurnal Pendidikan 9. No. : 16Ae32. Haryanto. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 1. Juni 2023 kemudian diajarkan kepada ibu-ibu yang sekiranya membutuhkan. Ibu-ibu yang bisa menyanyi diajak gabung dalam grup Muslimat dengan jumlah yang banyak. Pemain rebana terdapat 5-7 orang, vokalnya 3 dan ibu-ibu lainnya ikut menyanyi sambil menggelengkan kepalanya karena merasa senang. Hal ini sesuai dengan teori yaitu seseorang dapat dikatakan intelektual ialah bagi mereka yamg mempunyai kreatifitas dan inovatif yang tinggi yang meningkatkan dalam pemberdayaan masyarakat. Ketiga. Pemberdayaan dalam Konteks Ekonomi. Masalah kemiskinan sudah menjadi hal yang identik di Indonesia. Pemecahannya adalah tanggung jawab masyarakat itu sendiri yang selama ini selalu terpinggirkan. Dalam konteks ekonomi. Sayyidina Ali mengatakan: AuSekiranya kefakiran itu berwujud seorang manusia, sungguh aku akan membunuhyaAy. Situasi umat Islam Indonesia bukanlah masalah yang harus disesali, melainkan cara untuk mencari solusi. Untuk keluar dari himpitan ekonomi ini, setiap masyarakat membutuhkan perjuangan yang besar. Setiap anggota masyarakat ditantang untuk bekerja lebih giat, kreatif dan berwirausaha. lebih suka bekerja sama, komunikatif dalam berinteraksi. lebih terampil dalam memfasilitasi jaringan kerja, dan lebih profesional dalam mengelola kemampuan dan kekuatan ekonomi kerakyatan yang sesungguhnya. Untuk keluar dari situasi ekonomi saat ini, selain menguasai kecakapan hidup dan kecakapan berwirausaha, juga diperlukan pengembangan dan pemberdayaan ekonomi kerakyatan yang selama ini kurang mendapat perhatian. Kegiatan yang termasuk dapat meningkatkan perubahan pada konteks ini yaitu yasinan dan banjari al-Barjanji. Pada muslimat, ibu-ibu memang dibekali dengan keterampilan dan keahlian saat mealaksanakan kegiatan tersebut, ternyata kegiatan tersebut dapat meningkatkan pemberdayaan ekonomi. Ibu-ibu dan anak-anaknya yang memiliki bakat banjari kemudian mendapat tawaran untuk menampilkan hadroh maka mereka akan mendapatkan bisyaroh. Tidak hanya banjari saja, kegiatan yasinan pun juga sama, bagi siapa yang memimpin yasinan keliling atau dalam acara undangan di rumah ibu-ibu pasti mereka akan mendapatkan bisyaroh juga. Pada kegiatan ini dapat meningkatkan kemandirian pada diri ibu-ibu. Hal ini sesuai teori karena kemandirian Agus Agmad Safei Nanih Machendrawaty. Pengembangan Masyarakat Islam, 2001. Ibid, 49. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 1. Juni 2023 sangatlah penting dimiliki masyarakat dalam mewujudkan kemandirian. Masyarakat yang telah berdaya tidak hanya sekedar berdaya saja, namun mesti mampu mandiri dengan mempertahankan daya yang telah dimilikinya. KESIMPULAN Peranan Muslimat Nahdhatul Ulama Desa Papungan dalam pemberdayaan perempuan pada bidang sosial keagamaan pada konteks ruhaniyah yaitu ibu-ibu muslimat membimbing, mendidik dan mengarahkan nasihat yang telah disampaikan oleh mubaligh melalui kegiatan tadarus al-Qur`an dan pengajian. Pada konteks intelektual peran ibu-ibu muslimat membimbing dan melatih melalui kegiatan banjari al-Barjanji. Sedangkan dalam konteks ekonomi peran ibu-ibu membimbing melalui kegiatan yasinan. Faktor pendukung dan penghambat yang mempengaruhi pemberdayaan perempuan pada bidang sosial keagamaan. Faktor pendukung dan penghambat dalam konteks ruhaniyah yakni adanya dukungan dari kepala desa, adanya semangat pada diri anggota, sedangkan faktor penghambatnya adalah kurangnya dana pada setiap kegiatan yang lebih meriah lagi. Faktor pendukung dan penghambat dalam konteks intelektual adalah sarana prasarna yang telah memadai dan penghambatnya adalah dana. Faktor pendukung dan penghambat dalam konteks ekonomi adanya semangat dan partisipasi masyarakat dan penghambatnya ialah situasi dan kodisi serta perbedaan latar belakang. Dampak gerakan Muslimat Desa Papungan terhadap pemberdayaan perempuan dalam konteks ruhaniyah, pemberdayaan intelektual dan pemberdayaan ekonomi. Dalam konteks ruhaniyah melalui kegiatan pengajian dan tadarus al-Qur`an, muslimat dapat meningkatkan iman dan takwa, dapat memperlancar membaca al-Qur`an. Dalam konteks intelektual adalah ibu-ibu mengembangkan bakatnya dengan gabung dalam hadroh banjari al-Banjari. Dalam konteks ekonomi dapat dilihat dari kegiatan yasinan dan banjari. Ibu-ibu terus melatih kemandirian dan mendapat bisyaroh setelah melaksanakan undangan. Zanaria. AuPendidikan Dan Pemberdayaan Perempuan Di Majelis Taklim Muslimat NU Cabang Kepahiang. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 1. Juni 2023 DAFTAR PUSTAKA