https://ejournal. id/index. php/jurnalalurwatulwutsqo/ Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan ISSN: 2721-5504 VOLUME 6 NOMOR 2. SEPTEMBER 2025 INTEGRASI PENGEMBANGAN NILAI AGAMA DAN MORAL SERTA SOSIALEMOSIONAL ANAK USIA DINI Santi Kartika Sari Universitas Islam Darussalam Ciamis Email: santiks1982@gmail. Abstract The development of early childhoodsAo religious and moral values, as well as social-emotional values become the fundamental aspects in the form of early childhoodsAo personality and character which is the basis to them for further growth and development. This study aims to identify the concept of early childhood, the concept of developing religious and moral values of early childhood, and the concept of social-emotional development of early childhood. In this study, the researcher used the qualitative method under a literature review approach . ibrary researc. The results of this study show that early childhood is a child with the age range of 0-6 years, which requires optimal stimulation through early childhood education (ECE). ECE focuses on the process of learning while playing to develop early childhoodsAo potentions holistically. Based on Oser and Kohlberg's Theories, the development of early childhoodsAo religious and moral values is greatly influenced by real experiences, parental habits, and cognitive development. The whole of them are required the encouragement and guidance from adults. In line with the early childhood social-emotional development, it is formed through appropriate stimulation and guidance from family, teachers and the environment. Furthermore. Vygotsky and Piaget emphasized that social interaction and internalization of language are very important to be accustomed from an early age since from the family environment which functions to form self-control, empathy, and positive interaction skills. Therefore, this study attempts to fill the literature gap by highlighting a conceptual study that explicitly integrates the concept of early childhood, the concept of developing relevant religious and moral values in early childhood, and the concept of comprehensive social-emotional development in early childhood, as a systematic theoretical foundation for designing holistic ECE programs. Keywords: Early Childhood. Religious And Moral Values. Social-Emotional Abstrak Pengembangan nilai agama dan moral, serta sosial-emosional anak usia dini merupakan aspek fundamental dalam pembentukan kepribadian dan karakter anak yang menjadi dasar bagi tumbuhkembang anak selanjutnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi konsep anak usia dini, konsep pengembangan nilai agama dan moral anak usia dini, dan konsep pengembangan sosial-emosional anak usia dini. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kajian literatur . ibrary researc. Hasil penelitian ini menemukan bahwa anak usia dini merupakan anak dengan rentang usia 0-6 tahun, yang mana memerlukan stimulasi optimal melalui pendidikan anak usia dini (PAUD). PAUD memiliki fokus pada proses belajar sambil bermain untuk mengembangkan potensi anak secara holistik. Berdasarkan Teori Oser dan Kohlberg, perkembangan nilai agama dan moral anak sangat dipengaruhi oleh pengalaman nyata, pembiasaan orang tua, dan perkembangan kognitif, yang semuanya membutuhkan dorongan serta bimbingan orang dewasa. Sejalan dengan itu, perkembangan sosial-emosional anak dibentuk melalui stimulasi dan pendampingan yang tepat dari keluarga, guru dan lingkungan. Selanjutnya. Vygotsky dan Piaget menegaskan bahwa interaksi sosial dan internalisasi bahasa sangat penting dibiasakan sejak dini di lingkungan keluarga untuk membentuk kontrol diri, empati, dan keterampilan berinteraksi positif. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya mengisi kesenjangan literatur dengan menyajikan kajian konseptual yang mengintegrasikan secara eksplisit konsep anak usia dini, konsep pengembangan nilai agama dan moral anak usia dini yang relevan, dan konsep pengembangan sosialemosional anak usia dini yang komprehensif, sebagai fondasi teoretis sistematis untuk merancang program pendidikan anak usia dini yang holistik. Kata kunci: Anak Usia Dini. Nilai Agama dan Moral. Sosial-Emosional PENDAHULUAN Anak merupakan anugerah sekaligus amanah paling berharga dari Tuhan Yang Maha Esa. Setiap orang tua tentu menyimpan harapan besar terhadap masa depan putra-putrinya. Mereka menginginkan agar anak tumbuh dan berkembang secara optimal baik sehat secara fisik, memiliki kecerdasan dan kreativitas, mampu Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. September 2025 bersikap mandiri, serta dapat beradaptasi dan bersosialisasi dalam berbagai lingkungan (Wiresti & NaAoimah. Selain itu, orang tua juga berharap anak memiliki akhlak mulia sebagai cerminan iman dan ketakwaannya kepada Allah SWT. Nilai-nilai ini menjadi bekal penting bagi anak untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan, sekaligus membentuk ketahanan diri yang kuat agar mampu menyaring pengaruh negatif dari lingkungan sekitar (Zurqoni & Musarofah, 2. Memahami dunia anak secara mendalam sangatlah penting, tidak hanya bagi orang tua di rumah, tetapi juga bagi para guru di lingkungan sekolah. Dengan pemahaman tersebut, guru dapat mengenali keunikan karakter dan perkembangan setiap anak secara lebih baik. Hal ini memungkinkan guru untuk membimbing anak menuju arah yang positif dalam setiap tahap pertumbuhannya. Fuadia . menyatakan bahwa dunia anak sendiri dikenal penuh warna, penuh kejutan, dinamis, dipenuhi rasa ingin tahu, serta memiliki semangat eksplorasi yang tinggi terhadap lingkungan di sekitarnya. Dunia anak identik dengan aktivitas bermain yang menyenangkan, tetapi di balik itu terdapat proses pembelajaran yang berharga. Masa kanak-kanak penuh dengan keceriaan dan kebahagiaan, di mana anak bebas mengeksplorasi lingkungan sekitar dengan cara yang khas dan unik. Sangat disayangkan jika tahap tumbuh kembang mereka tidak mendapatkan stimulasi yang Padahal, stimulasi yang tepat dan disesuaikan dengan usia anak sangat penting untuk mengembangkan berbagai potensi dan nilai positif yang akan berguna bagi masa depannya. Keberhasilan pendidikan anak sangat bergantung pada kemampuan orang tua dan guru dalam memahami anak sebagai individu dengan potensi yang unik dan berbeda satu sama lain, meskipun secara sosial mereka saling melengkapi dan memiliki nilai yang penting. Anak perlu diberikan kasih sayang yang tulus, diterima apa adanya, dihargai atas potensi yang dimiliki, serta diberikan stimulasi yang tepat dan menyeluruh untuk mendukung perkembangan mereka, baik dari segi kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Pada masa usia dini dengan rentang usia 0-6 tahun, anak memiliki masa keemasan . olden ag. , yang mana merupakan fondasi penting untuk mempersiapkan anak agar siap menghadapi berbagai tantangan di masa depan (Purnamasari & NaAoimah, 2. Dalam konteks pendidikan anak usia dini (PAUD), tumbuhkembang anak diukur berdasarkan Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak Usia Dini (STPPA), yang mana merupakan kriteria tentang kemampuan yang dicapai anak usia dini pada seluruh aspek perkembangan dan Berdasarkan Permendikbud No. 137 Tahun 2014. STPPA mencakup 6 . kemampuan dasar anak meliputi: . nilai agama dan moral, . fisik-motorik, . kognitif, . bahasa, . sosial-emosional, dan . Sedangkan berdasarkan aturan terbaru dalam Permendikbudristek No. 5 Tahun 2022. STPPA mencakup 6 . kemampuan dasar anak meliputi: . nilai agama dan moral, . nilai Pancasila, . fisikmotorik, . kognitif, . bahasa, dan . sosial-emosional (Hidayat & Nurlatifah, 2. Untuk memperoleh hasil yang optimal, dibutuhkan pendampingan yang tepat dari orang tua dan guru sesuai dengan tahapan perkembangan usia anak. Dari keenam aspek perkembangan anak usia dini di atas, aspek nilai agama dan moral, serta sosialemosional menjadi aspek utama yang harus lebih dahulu ditanamkan kepada anak. Perkembangan nilai agama dan moral merupakan kemampuan anak dalam bersikap dan bertingah laku. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur'an, di antaranya adalah Q. Al-Ahzab ayat 21. Allah berfirman: AEacaC aE aI Ea aE I OaA OA ) : A (EacEEa aEOOA ca AacEEa aOEOa OaI Ee Oa aOa aEaA ca A EO aII aE aI Oa aOacEEO a aOU a aIaA ca AOEA aa AuSesungguhnya telah ada pada . Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu . bagi orang yang mengharap . Allah dan . hari kiamat dan dia banyak menyebut AllahAy (Al-Ahzab: . Ayat ini menjelaskan bahwa Rasulullah adalah teladan yang baik bagi seluruh umat Islam dalam segala aspek kehidupan, termasuk perkataan, perbuatan, dan tindak tanduknya. Dalam ilmu pendidikan istilah akhlak lebih dikenal dengan istilah karakter. Karakter yang dicontohkan oleh Rasulullah diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Kehidupan sehari-hari Rasulullah dalam bergaul bersama para shahabat dan masyarakatnya dikenal dengan istilah sosial. Dalam konteks PAUD, anak usia dini juga harus memiliki kemampuan sosialemosional, yang mana harus diintegrasikan dengan nilai agama dan moral agar interaksi sosial berjalan harmonis dan dibingkai dalam aturan moral yang sesuai dengan nilai-nilai agama Islam sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah. Dengan demikian, pengajaran, pembelajaran, pembiasaan, dan penanaman nilai agama dan moral patut diintegrasikan dengan nilai-nilai yang ada dalam kerangka sosial-emosional anak usia dini yang telah diatur dalam STPPA. Di PAUD, pengembangan sosial-emosional anak usia dini dilakukan dalam kegiatan bermain, bercerita, dan berinteraksi sosial antara sesama, anak dengan guru, dan anak dengan orang tua. Sedangkan nilai agama dan moral anak usia dini diperkenalkan melalui proses pembiasaan, keteladanan guru, serta integrasi nilai-nilai agama ke dalam kegiatan sehari-hari di lingkungan sekolah. Penelitian ini didukung oleh beberapa penelitian terdahulu. Penelitian terdahulu pertama dilakukan oleh Hadi . dengan judul AuPembelajaran Sosial-Emosional Sebagai Dasar Pendidikan Karakter Anak Usia Santi Kartika Sari Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. September 2025 DiniAy. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kajian literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan keterampilan, sikap, dan nilai-nilai kompetensi sosial dan emosional anak perlu diintergrasikan dalam lima kompetensi kunci, yaitu: self-awareness, self-management, social awareness, responsible decision making, dan relationship management. Kelima kompetensi tersebut dilakukan dalam aktivitas bermain, modeling, storytelling, dan drama, guna menghasilkan karakter unggul pada diri anak. Penelitian kedua dilakukan oleh Saputra . dengan judul AuIntegrasi Pembelajaran Sosial Emosial pada Pendidikan Agama Islam dalam Pembentukan Akhlakul KarimahAy. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Hasil penelitian menemukan bahwa pembelajaran sosialemosional anak dapat diintegrasikan dengan Pendidikan Agama Islam. Integrasi ini merupakan pendekatan komprehensif untuk mendidik siswa berperilaku sesuai dengan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Adapun penelitian terakhir dilakukan oleh Dini et al. , . dengan judul AuMenumbuhkan Karakter Dan Keimanan Sejak Dini: Integrasi Pendidikan Agama Dan Penerapan Moral Pada Anak Usia Dini Usia 4-6 TahunAy. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan desktiptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan kepribadian dan keimanan anak dipengaruhi oleh pembiasaan beragama melalui kegiatan rutin seperti shalat berjamaah, berbagi, dan penanaman moral kejujuran, empati, dan disiplin. Hal ini terbukti berhasil memperkuat keimanan anak sejak dini. Berdasarkan ketiga penelitian terdahulu di atas, dapat diidentifikasi gap penelitian yang ada. Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Hadi . dan Dini et al. , . secara empiris mengeksplorasi implementasi dan efektivitas strategi pembelajaran sosial-emosional dan pendidikan agama dalam menumbuhkan karakter dan keimanan anak usia dini. Sementara itu, penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Saputra . secara fenomenologis menggali integrasi pembelajaran sosial-emosional dengan Pendidikan Agama Islam dalam pembentukan akhlakul karimah. Berbeda dengan ketiga penelitian terdahulu yang memiliki fokus pada implementasi dan hasil empiris, penelitian sekarang mengambil pendekatan konseptual melalui kajian literatur untuk mengidentifikasi dan menguraikan konsep-konsep fundamental yang mendasari integrasi pengembangan nilai agama dan moral serta sosial-emosional pada anak usia dini. Dengan demikian, penelitian sekarang menawarkan landasan teoretis yang komprehensif, melengkapi studi-studi sebelumnya yang lebih berorientasi pada praktik dan temuan lapangan. Adapun novelty dari penelitian sekarang terletak pada fokusnya dalam menyajikan kajian konseptual yang secara eksplisit mengartikulasikan tiga konsep esensial yang saling berkaitan dalam konteks integrasi pengembangan nilai agama dan moral serta sosial-emosional pada anak usia dini. Penelitian ini memberikan kejelasan konseptual mengenai konsep anak usia dini, konsep pengembangan nilai agama dan moral yang relevan dengan latar belakang keyakinan siswa, serta konsep pengembangan sosial-emosional yang Dengan demikian, penelitian ini menawarkan kontribusi berupa fondasi teoretis yang terstruktur dan sistematis, yang dapat menjadi acuan bagi orang tua, guru, dan pemangku kebijakan dalam merancang dan mengimplementasikan program pendidikan anak usia dini yang holistik dan terintegrasi. Berdasarkan latar belakang yang telah dibahas di atas, penelitian ini merumuskan 3 rumusan masalah. Ketiga rumusan masalah tersebut, yaitu: . Bagaimana konsep anak usia dini? . Bagaimana konsep pengembangan nilai agama dan moral anak usia dini? . Bagaimana konsep pengembangan sosial-emosional anak usia dini? Dari ketiga rumusan masalah ini, maka tujuan penelitian ini adalah untuk: . mengidentifikasi konsep anak usia dini. mengidentifikasi konsep pengembangan nilai agama dan moral anak usia dini. mengidentifikasi konsep pengembangan sosial-emosional anak usia dini. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Deskriptif kualitatif adalah pendekatan yang menggambarkan pernyataan tentang suatu masalah sehati-hati mungkin (Fraenkel et al. Selain itu, deskriptif kualitatif adalah pendekatan yang digunakan untuk menggambarkan suatu fenomena selengkap dan seakurat mungkin (Hambali et al. , 2. Adapun teknik pengumpulan data dilakukan dengan kajian literatur . ibrary researc. Kajian literatur dilakukan untuk mengumpulkan, mengkaji, dan menganalisis berbagai sumber berupa artikel ilmiah yang diambil dari Google Scholar dan buku-buku yang relevan terkait dengan pengembangan nilai agama dan moral, serta sosial emosional anak usia dini. Fokus utama penelitian ini adalah untuk mengintegrasikan kedua aspek tersebut dalam konteks pendidikan anak usia dini (PAUD). Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah analisis isi . ontent analysi. (Fraenkel et al. , 2012. Hambali et al. , 2. Analisis isi dilakukan oleh peneliti yang mana terdiri dari 4 tahap, yaitu: . pemilihan topik yang relevan yang tersedia dalam artikel ilmiah dan buku yang berkaitan dengan pengembangan nilai agama dan moral, serta sosial emosional anak usia dini, . sumber yang dipilih ditinjau sesuai dengan topik. Santi Kartika Sari Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. September 2025 . menyusun sumber yang dipilih sesuai dengan kronologi yang dipersyaratkan, . menguraikan sumber yang dipilih menjadi sub poin diskusi (Hidayat et al. , 2022. Wahyuningsih et al. , 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Hasil penelitian ini berisi data berupa artikel ilmiah yang diambil dari Google Scholar dan buku-buku yang relevan terkait dengan pengembangan nilai agama dan moral, serta sosial emosional anak usia dini. Adapun teknik analisis isi (Content Analysi. yang dilakukan oleh peneliti mencakup 4 tahap, yaitu: . pemilihan topik yang relevan yang tersedia dalam artikel ilmiah dan buku yang berkaitan dengan pengembangan nilai agama dan moral, serta sosial emosional anak usia dini, . sumber yang dipilih ditinjau sesuai dengan topik, . menyusun sumber yang dipilih sesuai dengan kronologi yang dipersyaratkan, . menguraikan sumber yang dipilih menjadi sub poin diskusi. Hasil penelitian disajikan pada tabel berikut. Tabel 1. Sumber terkait Pengembangan Nilai Agama dan Moral, serta Sosial Emosional Anak Usia Dini Tahun Nama Jurnal, vol. , & No. Nama Peneliti Judul Artikel/Buku Terbit No. /Penerbit Buku Kilpatrick Why Johnny canAot tell right New York: Simon and from wrong: And what we Schuster can do about it Bridges & Moore Religion and spirituality in Washington DC: Child childhood and adolescence Syamsul Hadi Pembelajaran Sosial Jurnal Teknodik, 15. Emosional Sebagai Dasar Pendidikan Karakter Anak Usia Dini. Idris Menjadi pendidik yang Jakarta: Lukima Metro dan Media Maryatun Peran pendidik PAUD dalam Jurnal Pendidikan Anak, membangun Karakter Anak 5. Zurqoni & 2018 Penguatan Nilai-Nilai SYAMIL: Journal of Musarofah Agama dan Moral Anak Usia Islamic Education, 6. Dini. Aristya & Rahayu Hubungan Dukungan Sosial Jurnal Humaniora, 2. dan Konsep Diri Dengan Penyesuaian Diri Remaja Kelas X SMA Angkasa I Jakarta Dewi Pengaruh Lingkungan THORIQOTUNA: Jurnal Teman Sebaya terhadap Pendidikan Islam, 2. Motivasi Belajar Santri MDT At-Taqwa KP. Ranca Ayu Desa Maroko Kabupaten Garut Indanah & 2019 Perkembangan sosial Jurnal Ilmu Keperawatan Yulisetyaningrum emosional anak usia pra Dan Kebidanan, 10. Widiastuti Model layanan pendidikan Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial, bagi anak berkebutuhan 5. khusus yang mengalami kecacatan fisik Purnamasari & 2020 Peran Pendidik dalam Jurnal Pelita PAUD, 4. NaAoimah Konsep Psikologi Perkembangan Anak Usia Dini Santi Kartika Sari Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. September 2025 Wiresti & NaAoimah Aspek perkembangan anak: Urgensitas ditinjau dalam perkembangan anak Hubungan Antara Perkembangan Sosial Emosional Dengan Kreativitas Anak Usia Dini Pengaruh Layanan Bimbingan Kelompok terhadap Sosio-Emosional Siswa Sekolah Dasar Perkembangan Sosial Emosi Pada Anak Usia Dini Ulfah & Apriliana Aulad: Journal on Early Childhood, 3. Jurnal Tarbiyah Dan Ilmu Keguruan Borneo, 2. Andriani Hariyani & 2022 Jurnal Bimbingan Dan Konseling Ar-Rahman, 8. Fuadia Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta, 3. Implementasi Bimbingan Abna: Journal of Islamic Konseling Aspek Early Childhood Perkembangan Sosial Education, 3. Emosional Anak Usia Dini di Insan Kamil Karanganyar Tahun Ajaran 2020/2021 Analisis Perkembangan JIIP-Jurnal Ilmiah Ilmu Mental dan Sosial Anak Usia Pendidikan, 5. Dini di Masa Pandemi Covid-19 Kajian Perkembangan Sosial Aulad: Journal on Early Emosional Anak Usia Dini Childhood, 6. (Systematic Literature Revie. Analisis komparasi tingkat Jurnal Intisabi, 1. pencapaian perkembangan anak usia dini (STPPA) berdasarkan permendikbud 137 tahun 2014 dengan permendikbudristek no. Integrasi Pembelajaran DINAMIKA: Jurnal Sosial Emosial Pada Kajian Pendidikan Dan Pendidikan Agama Islam Keislaman, 8. Dalam Pembentukan Akhlakul Karimah Menumbuhkan karakter dan Al-ATHFAL: Jurnal dini: Pendidikan Anak, 5. integrasi pendidikan agama dan penerapan moral pada anak usia dini usia 4-6 tahun Sumber: (Data, 2. Kholifah Alwiyah & 2022 Putri & Eliza Amalia, et al. Hidayat Nurlatifah & 2023 Saputra Dini et al. No. Tabel 2: Penyusunan Topik yang Dipilih Berdasarkan Kronologi yang Diperlukan Topik yang dipilih Sumber yang digunakan Konsep anak usia dini Mariyatun, 2016 Idris, 2015 Dewi, 2019 Putri & Eliza, 2022 Hidayat & Nurlatifah, 2023 Santi Kartika Sari Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. September 2025 Konsep pengembangan nilai agama dan 1. Bridges & Moree, 2002 moral anak usia dini Dini. Qomariah, & Hayati, 2024 Saputra, 2023 Zurqoni & Musarofah, 2018 Syamsul Hadi, 2013 Kilpatrick, 1993 Lawrence, 1979 Lawrence, 1975 Konsep pengembangan sosial-emosional 1. Purnamasari & NaAoimah, 2020 anak usia dini Wiresti & Naimah, 2020 Aristya & Rahayu, 2018 Widiastuti, 2019 Ulfah & Apriliana, 2021 Amalia et al. , 2023 Fuadia, 2022 Indanah & Ningrum, 2019 Andriani & Hariyani, 2022 Kholifah & Alwiyah, 2022 Sumber: (Data, 2. Pembahasan Pada bagian pembahasan ini, peneliti membahas 3 . sub poin pembahasan yang berhubungan dengan 3 . rumusan masalah yang telah diajukan pada bagian sebelumnya, yaitu: . Bagaimana konsep anak usia dini? . Bagaimana konsep pengembangan nilai agama dan moral anak usia dini? . Bagaimana konsep pengembangan sosial-emosional anak usia dini? Untuk menjawab ketiga rumusan masalah tersebut, peneliti menyajikan 3 . sub poin pembahasan yang berkenaan dengan konsep anak usia dini, konsep pengembangan nilai agama dan moral anak usia dini, dan konsep pengembangan sosial-emosional anak usia Ketiga sub poin pembahasan tersebut diuraikankan sebagai berikut. Konsep Anak Usia Dini Konsep anak usia dini merujuk pada usia naka dengan rentang 0-6 tahun, yang dikenal sebagai masa emas . olden ag. Pada fase ini, jaringan otak anak berkembang pesat dan menjadi landasan penting bagi pembentukan karakter dan kepribadian anak (Purnamasari & NaAoimah, 2. Anak usia dini memiliki karakteristik unik, seperti: rasa ingin tahu yang tinggi, semangat eksplorasi, imajinasi kuat, tetapi juga rentan frustrasi dan memiliki rentang perhatian pendek. Oleh karena itu, pemahaman dan stimulasi yang tepat dari orang tua dan keluarga sangat diperlukan untuk mendukung tumbuhkembang fisik dan psikis mereka (Wiresti & NaAoimah, 2. Untuk membantu peran orang tua dan keluarga dalam mengoptimalkan tumbuhkembang potensi anak. Pemerintah menyelenggarakan pendidikan khusus bagi anak usia dini yang kemudian dikenal dengan nama Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). PAUD bertujuan mendukung pertumbuhan dan perkembangan fisik serta mental anak, mempersiapkan mereka untuk jenjang pendidikan selanjutnya. PAUD dilaksanakan melalui kegiatan edukatif, seperti: bermain, berinteraksi, dan belajar, yang dirancang untuk mengoptimalkan perkembangan anak secara menyeluruh (Dewi, 2. Berdasarkan regulasi, tumbuhkembang anak diukur berdasarkan Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak Usia Dini (STPPA), yang mana merupakan kriteria tentang kemampuan yang dicapai anak usia dini pada seluruh aspek perkembangan dan Berdasarkan Permendikbud No. 137 Tahun 2014. STPPA mencakup 6 . kemampuan dasar anak meliputi: . nilai agama dan moral, . fisik-motorik, . kognitif, . bahasa, . sosial-emosional, dan . Sedangkan berdasarkan aturan terbaru dalam Permendikbudristek No. 5 Tahun 2022. STPPA mencakup 6 . kemampuan dasar anak meliputi: . nilai agama dan moral, . nilai Pancasila, . fisikmotorik, . kognitif, . bahasa, dan . sosial-emosional (Hidayat & Nurlatifah, 2. Dalam proses pendidikan di PAUD, guru selaku pendidik dan pengajar profesional bertanggung jawab mendidik, mengajar, membimbing, melatih, menilai, dan mengevaluasi anak sebagai peserta didik. Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga teladan dan figur bagi anak dan lingkungannya. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk memiliki kualitas kepribadian yang baik, mencakup tanggung jawab, kewibawaan, kemandirian, dan kedisiplinan (Idris, 2. Peran guru sangat krusial dalam mengoptimalkan perkembangan nilai agama dan moral anak, serta perkembangan sosial-emosional anak, guna membentuk sikap positif dan kemandirian Santi Kartika Sari Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. September 2025 Selain itu, guru berperan dalam mengembangkan 4 . kemampuan anak lainnya, seperti: mengoptimalkan perkembangan nilai Pancasila, aspek kognitif, aspek fisik motorik, dan aspek bahasa (Maryatun, 2. Dengan demikian, guru memiliki peran penting dan mendasar sebagai teladan, membentuk kepribadian anak, dan pendorong bagi optimalisasi 6 . kemampuan dasar anak. Selanjutnya, guru harus berkolaborasi dengan orang tua anak dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pelatih, penilai, dan evaluator. Kolaborasi antara guru, orang tua, dan lingkungan sangat penting dalam mendukung anak menjadi cerdas, percaya diri, dan siap menghadapi tantangan (Purnamasari & NaAoimah, 2020. Putri & Eliza, 2. Dengan demikian, kolaborasi antar Tri Pusat Pendidikan, yaitu pendidikan di rumah, pendidikan di sekolah, dan pendidikan di lingkungan sekitar sebagaimana yang dirumusakan oleh Ki Hajar Dewantara menjadi penentu suksesnya pendidikan anak usia dini dalam dalam membentuk fisik dan psikis yang sehat dan kuat, mental yang andal, dan kepribadian anak yang unggul dan berakhlak mulia (Saputra, 2. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa anak usia dini adalah anak dengan rentang usia 06 tahun, yang mana dikenal dengan istilah masa emas . olden ag. Masa emas menjadi waktu yang sangat krusial untuk perkembangan otak dan pembentukan karakter anak, sehingga memerlukan stimulasi optimal dari berbagai pihak. Salah satu media untuk menstimulasi perkembangan otak dan pembentukan karakter anak adalah dengan diselenggarakannya Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). PAUD memiliki fokus pada belajar melalui bermain, yang mana bertujuan mengembangkan seluruh potensi anak, khususnya dalam mendukung perkembangan nilai agama dan moral, serta sosial-emosional anak. Konsep Pengembangan Nilai Agama Dan Moral Anak Usia Dini Teori Oser dikembangkan pada 1991, yang mana menguraikan perkembangan spiritual atau religius pada anak-anak dan remaja. Teori ini berpusat pada bagaimana individu menilai dan mempertimbangkan aspek-aspek keagamaan. Menurut Oser, penilaian agama adalah proses penalaran yang menghubungkan pengalaman nyata dengan sesuatu yang melampaui kenyataan, dengan tujuan memberikan makna dan arah dalam kehidupan. Teori Oser menyatakan bahwa anak-anak cenderung lebih aktif belajar agama yang diyakini oleh orang tuanya melalui pengalaman nyata sehari-hari, sehingga nilai agama menjadi pembiasaan yang dilakukan dan kelak dapat menyatu dalam keyakinan dan karakter anak (Bridges & Moore, 2. Lebih lanjut. Teori Oser meletakan lima tahap dalam mengimplementasikan nilai agama pada anak dan Tiga tahap awal dititikberatkan pada masa anak-anak, dan dua tahap kemudian pada masa remaja. Teori Oser meyakini bahwa setiap individu tidak akan menetap pada satu fase nilai agama yang sama, karena dipengaruhi oleh berbagai hal terutama orang tua, sekolah, dan lingkungan. Oleh karenanya, tiga tahap mengembangkan nilai agama pada masa anak-anak idealnya dilakukan dengan berbagai metode efektif dengan dunia anak, seperti: metode pembiasaan, metode bercakap-cakap, metode demonstrasi, metode bercerita, metode tanya jawab, dan bermain peran (Bridges & Moore, 2. Selain Teori Oser, terdapat teori lain yang berbicara tentang pengembangan nilai agama dan moral pada Teori tersebut adalah Teori Kohlberg. Teori Kohlberg meyakini bahwa perkembangan nilai agama dan moral anak berubah seiring berkembangnya kognitif anak, yang mana kemampuan kognitif anak menjadi daya nalar anak untuk belajar bagaimana meyakini agama yang dianutnya, dan bagaimana berperilaku yang baik . (Kohlberg, 1. Untuk itu, pengembangan nilai agama dan moral pada anak usia dini menajdi krusial untuk membentuk anak menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan bermoral. Hal ini dapat dicapai dengan membangun dasar moral yang kuat, meningkatkan empati, dan membentuk sikap positif, tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain, sehingga anak dapat menjadi agen perubahan bagi dirinya sendiri dan orang lain (Dini et al. , 2. Pada perkembangannya, perkembangan agama dan moral anak dapat berubah seiring bertambahnya usia anak, dan dari mana anak belajar pandangan keagamaannya. Senada dengan pendapat ini. Kilpatrick . meyakini bahwa pendidikan agama dan moral terus maju dan berubah seiring dengan munculnya pandanganpandangan ahli agama yang ada pada setiap zaman di mana seorang anak berada. Dengan demikian, dapat dipastikan perkembangan agama dan moral anak dapat berubah seiring dengan perubahan zaman. Sejalan dengan pendapat tersebut. Kohlberg . menekankan bahwa pendidikan agama dan moral harus disesuaikan dengan tahapan perkembangan moral anak selaku peserta didik. Kohlberg . juga mengajukan gagasan keadilan sebagai landasan utama pendidikan agama dan moral pada anak yang melekat dalam hubungan sosial. Untuk menguji teori tersebut. Kohlberg . menyajikan dilema terkait agama dan moral kepada anak dan remaja dari berbagai usia dan latar budaya, kemudian meminta mereka menjelaskan solusi dan alasannya. Kemudian. Kohlberg . menegaskan bahwa perkembangan agama dan moral anak usia prasekolah berada pada tahap paling awal, yaitu tahap penalaran moral prakonvensional. Pada tahap ini, anak belum Santi Kartika Sari Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. September 2025 sepenuhnya menginternalisasi nilai-nilai moral. Namun, beberapa anak usia dini menunjukkan kepekaan tinggi terhadap pengaruh lingkungan, baik positif maupun negatif. Selanjutnya, menurut Bridges & Moore . , pada tahap ini anak menilai benar atau salah berdasarkan adanya hukuman atau ketaatan . rientasi hukuman dan kepatuha. , serta kepentingan pribadi . ndividualisme dan orientasi tujuan instrumenta. Misalnya, tindakan yang membuat ibu marah dianggap buruk, dan yang menyenangkan ibu dianggap baik. Terakhir. Kohlberg . menegaskan bahwa tahap dalam perkembangan agama dan moral anak prasekolah bersifat sistematis, di mana setiap tahap mencerminkan cara berpikir anak yang unik dan berbeda dari pemikiran orang dewasa. Anak tidak hanya sekadar menerima pemahaman dari orang dewasa, tetapi tidak pernah diaplikasikan dalam kebiasaannya sehari-hari. Tahapan-tahapan mengalami perkembangan agama dan moral bersifat kronologis, yakni sesuai dengan tahapannya. Anak-anak dapat memahami semua tahap seiring berubahnya setiap tahapan usianya. Namun mereka memerlukan dorongan, pembelajaran, dan latihan dari orang dewasa di sekitranya. Bridges & Moore . selanjutnya menegaskan bahwa tahapan-tahapan yang dipersyaratkan oleh Teori Kohlberg tersebut bersifat universal dan berkembang, sesuai dengan pengalaman dan latar budaya setiap individu. Namun intinya, seiring bertambah usia anak, kemampuan nalar anak akan meningkat dan logis, sehingga keyakinan beragama dan berperilaku anak akan senantiasa didasarkan pada logikanya dan kekuatan keyakinan yang ada pada akan dan jiwanya. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa Teori Oser dan Teori Kohlberg memberikan kerangka komprehensif mengenai perkembangan spiritual, agama, dan moral pada anak-anak dan remaja. Oser menekankan bahwa penilaian agama adalah proses penalaran yang menghubungkan pengalaman nyata anak untuk memberikan makna hidup berdasarkan pendidikan orang tua melalui pembiasaan sehari-hari. Sejalan dengan Teori Oser. Teori Kohlberg meyakini bahwa perkembangan agama dan moral berkaitan erat dengan perkembangan kognitif anak, di mana penalaran menjadi kunci dalam memahami keyakinan dan etika. Kohlberg juga menyoroti pentingnya pendidikan agama dan moral sejak dini untuk membentuk individu yang bertanggung jawab dan bermoral. Meskipun bersifat kronologis dan universal, perkembangan agama dan moral anak memerlukan dorongan, pembelajaran, dan latihan dari orang dewasa yang berada di sekitar anak. Konsep Pengembangan Sosial-Emosional Anak Usia Dini Perkembangan anak, khususnya aspek sosial-emosional, sangat rentan terhadap pengaruh lingkungan, terutama di era modern yang kompleks. Tekanan dari dinamika kehidupan yang meningkat dapat memicu masalah seperti kemarahan atau kekesalan anak (Ulfah & Apriliana, 2. Oleh karena itu, stimulasi dan pendampingan yang tepat sejak usia dini, khususnya pada periode formatif . -6 tahu. sangat ditekankan. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan dan dikembangkan Maria Montessori, seorang seorang pendidik, ilmuwan, dan dokter berkebangsaan Italia. Selanjutnya menurut Amalia et al. , . , periode formatif . -6 tahu. atau yang lebih dikenal dengan istilah AoGolden AgeAy merupakan fondasi pembentukan nilai-nilai dan kemandirian anak, di mana dukungan orang tua berperan vital dalam mengembangkan dan memperkuat kepercayaan diri anak. Oleh karena itu, apabila terjadi kegagalan pada masa ini dapat menghambat inisiatif anak di fase perkembangan selanjutnya. Dalam perspektif Teori Psikososial. Erik Erikson menjelaskan bahwa anak melalui berbagai tahap perkembangannya dipengaruhi oleh rangsangan sosial, yang mana pada usia 3-5 tahun anak berada pada tahap inisiatif versus rasa bersalah (Fuadia, 2. Pada fase usia 3-5 tahun, anak mulai menunjukkan prakarsa dan keinginan untuk mengeksplorasi dunianya, tetapi anak masih memerlukan bimbingan orang tua, guru, dan orang dewasa di sekitarnya (Indanah & Yulisetyaningrum, 2. Selain itu, keluarga dan teman sebaya memiliki peran penting dalam mendukung perkembangan sosial-emosional anak, yang mana melalui interaksi sosial sehari-hari, anak akan bertumbuh rasa percaya dirinya. Seiring dengan waktu, maka kompetensi sosialemosioanl anak akan meningkat (Andriani & Hariyani, 2022. Kholifah & Alwiyah, 2. Secara keseluruhan, pengembangan sosial-emosional anak merupakan investasi jangka panjang untuk membentuk generasi yang bertanggung jawab dan adaptif terhadap perubahan zaman. Melalui stimulasi yang tepat dan dukungan dari lingkungan yang tepat pula, anak akan belajar bagaimana mengembangkan kemampuan kontrol diri, empati, kesadaran sosial, dan keterampilan berinteraksi yang positif, sehingga anak dapat bersosialisasi secara mandiri dan memiliki percaya diri yang ideal di tengah masyarakat yang semakin kompleks (Wiresti & NaAoimah, 2. Merujuk pada stimulasi pengembangan sosial-emosional. Teori Vygotsky dan Piaget menawarkan kerangka kerja penting dalam memahami perkembangan sosial-emosional anak yang terintegrasi dengan kemampuan kognifi anak. Menurut Kholifah & Alwiyah . Vygotsky melalui pendekatan sosiokonstruktivisme menekankan bahwa perkembangan sosial-emosional dan kognitif anak merupakan hasil dari interaksi sosial dan internalisasi bahasa, di mana interaksi dengan beragam individu lain mampu memfasilitasi pembentukan konsep berpikir anak yang lebih sistematis. Dalam konteks interaksi, bahasa Santi Kartika Sari Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. September 2025 memiliki peran mendasar dan berfungsi tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai mekanisme internal untuk merencanakan dan mengendalikan perilaku melalui private speech dan inner speech. Sebaliknya, menurut Purnamasari & NaAoimah . Piaget menitikberatkan pada adaptasi anak melalui asimilasi dan akomodasi untuk mencapai ekuilibrium. Dalam konteks perkembangan sosial-emosional. Piaget berpendapat bahwa anak usia dini berada pada tahap pra-moral, di mana emosi dan kognisi saling terkait. Hal ini memengaruhi respons emosional, dan pra-operasional anak. Oleh karena itu, stimulasi yang tepat pada masa AuGolden AgeAy, anak dengan lebih mudah akan terbentuk kemampuan sosial dan emosionalnya. Kemampuan ini akan menjadi dasar bagi human capital di masa depan (Widiastuti, 2. Selanjutnya, kemampuan anak dalam memahami dan mengelola emosi sangat penting dalam berinteraksi sosial yang sehat. Apabila anak kesulitan memahami emosinya, hal ini akan menghambat kemampuan mereka dalam bersosialisasi. Aristya & Rahayu . meyakini bahwa modal awal anak berlatih bersosialisasi adalah di lingkungan keluarga. Keluarga sebagai lingkungan awal dan utama memiliki peran mendasar dalam memberikan stimulasi sosial-emosional anak. Tanpa stimulasi sosial-emosional yang memadai, anak dapat menunjukkan perilaku adaptif yang buruk, seperti menarik diri atau agresif, yang pada akhirnya memengaruhi kemampuan mereka beradaptasi di lingkungan baru dalam mengikuti aturan sosial yang ada. Selanjutnya, kemampuan beradaptasi ini menjadi kompetensi sosial dan emosional anak. Penelitian Norris et al. , . dalam Aristya & Rahayu . menemukan bahwa pendidikan sosial-emosional bertujuan mengembangkan regulasi diri, pemantauan diri, dan keterampilan sosial yang memungkinkan anak mengintegrasikan pikiran, perasaan, dan tindakan untuk menyelesaikan tugas sosial penting. Perkembangan sosial-emosional anak dipandang sebagai fase kritis dalam tumbuh kembang anak, yang mana sangat dipengaruhi oleh proses belajar dan berdampak besar pada fase selanjutnya. Oleh karena itu. Indanah & Yulisetyaningrum . meyakini bahwa stimulasi yang positif akan mengembangkan empati, kesadaran diri, kesadaran sosial, kemampuan interaksi, dan pengambilan keputusan anak yang bertanggung jawab. Pada akhirnya, anak akan memiliki kompetensi sosial dan emosional yang memadai seiring perkembangan usia Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa perkembangan sosial-emosional anak terutama pada periode formatif . -6 tahu. sangat krusial dan rentan terhadap pengaruh lingkungan modern yang Stimulasi dan pendampingan yang tepat sejak dini menjadi fondasi pembentukan nilai-nilai, kemandirian, dan kepercayaan diri anak. Vygotsky dan Piaget menegaskan bahwa interaksi sosial, internalisasi bahasa, dan proses belajar yang terintegrasi dengan kemampuan kognitif sangat memengaruhi perkembangan Selain itu, keluarga juga memiliki peran fundamental sebagai lingkungan awal untuk memberikan stimulasi sosial-emosional yang akan membentuk kontrol diri, empati, kesadaran sosial, dan keterampilan berinteraksi positif pada anak. Dengan demikian, anak akan memiliki kompetensi sosial dan emosional yang memadai untuk beradaptasi di masa depan. Integrasi Pengembangan Nilai Agama dan Moral serta Sosial-Emosional Anak Usia Dini Integrasi pengembangan nilai agama dan moral serta sosial-emosional pada anak usia dini merupakan pendekatan holistik yang krusial dalam membentuk pribadi yang utuh. Nilai agama dan moral membekali anak dengan pemahaman tentang kebaikan, kebenaran, dan etika berdasarkan ajaran agama, membentuk dasar spiritual dan karakter. Sementara itu, sosial-emosional membantu anak mengenali dan mengelola emosi, membangun hubungan positif, serta mengembangkan empati dan keterampilan sosial. Ketika keduanya terintegrasi, anak tidak hanya memahami nilai-nilai luhur, tetapi juga mampu mengaplikasikannya dalam interaksi sehari-hari, menumbuhkan pribadi yang berakhlak mulia dan mampu beradaptasi dengan lingkungan Penerapan integrasi ini dapat dilakukan melalui berbagai aktivitas yang menyenangkan dan bermakna. Misalnya, kegiatan bercerita tentang kisah-kisah teladan dari berbagai agama dapat menjadi jembatan untuk menanamkan nilai kejujuran, kasih sayang, dan tolong-menolong. Kemudian, bermain peran atau simulasi situasi sosial membantu anak mempraktikkan cara mengungkapkan perasaan, bernegosiasi, dan menyelesaikan konflik secara positif. Penting bagi pendidik dan orang tua untuk menciptakan lingkungan yang mendukung eksplorasi nilai-nilai ini, memberikan teladan, dan memberikan kesempatan bagi anak untuk berlatih keterampilan sosial-emosional dalam konteks nilai-nilai agama dan moral yang diajarkan. Dengan mengintegrasikan pengembangan nilai agama dan moral dan sosial-emosional, kita tidak hanya melahirkan anak-anak yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kecerdasan spiritual dan emosional yang matang. Anak-anak yang tumbuh dengan fondasi kuat dalam nilai agama dan moral dan sosial-emosional akan lebih siap menghadapi tantangan hidup, mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab, serta menjadi individu yang berkontribusi positif bagi masyarakat. Integrasi ini adalah investasi jangka panjang Santi Kartika Sari Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. September 2025 untuk membangun generasi penerus yang berkarakter kuat, berempati, dan menjunjung tinggi nilai-nilai Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan . dalam literatur dengan mengkaji secara konseptual integrasi pengembangan nilai agama dan moral serta sosial-emosional pada anak usia dini, berbeda dengan studi sebelumnya Hadi . Dini et al. , . Saputra . yang berfokus pada implementasi empiris dan fenomenologis. Adapun penelitian ini bertujuan untuk: . mengidentifikasi konsep anak usia dini. mengidentifikasi konsep pengembangan nilai agama dan moral anak usia dini. mengidentifikasi konsep pengembangan sosial-emosional anak usia dini. Selanjutnya, keterbaruan . penelitian ini terletak pada penyajian kajian konseptual yang secara eksplisit mengintegrasikan tiga konsep penting terkait: konsep anak usia dini, konsep pengembangan nilai agama dan moral yang relevan dengan latar belakang keyakinan anak, dan konsep pengembangan sosial-emosional yang komprehensif. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi berupa fondasi teoretis yang sistematis sebagai acuan bagi praktisi dan pemangku kebijakan dalam merancang program pendidikan anak usia dini yang holistik. PENUTUP Masa AuGolden AgeAy . -6 tahu. merupakan periode krusial dalam tumbuhkembang fisik dan psikis anak, sehingga anak memerlukan stimulasi optimal. Salah satu stimulasi tersebut melalui pendidikan anak usia dini (PAUD). PAUD memiliki fokus pada proses belajar sambil bermain untuk mengembangkan potensi anak secara holistik. Berdasarkan Teori Oser dan Kohlberg, perkembangan nilai agama dan moral anak sangat dipengaruhi oleh pengalaman nyata, pembiasaan orang tua, dan perkembangan kognitif, yang semuanya membutuhkan dorongan serta bimbingan orang dewasa. Sejalan dengan itu, perkembangan sosial-emosional anak sangat mendasar selama masa AuGolden AgeAy. Pada periode masa ini, perkembangan sosial-emosional anak dibentuk melalui stimulasi dan pendampingan yang tepat dari keluarga, guru dan lingkungannya. Selanjutnya. Vygotsky dan Piaget menyarankan bahwa interaksi sosial dan internalisasi bahasa sangat penting dibiasakan sejak dini di lingkungan keluarga untuk membentuk kontrol diri, empati, dan keterampilan berinteraksi positif. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya mengisi kesenjangan literatur dengan menyajikan kajian konseptual yang mengintegrasikan secara eksplisit konsep anak usia dini, konsep pengembangan nilai agama dan moral anak usia dini yang relevan, dan konsep pengembangan sosial-emosional anak usia dini yang komprehensif, sebagai fondasi teoretis sistematis untuk merancang program pendidikan anak usia dini yang DAFTAR PUSTAKA