Vol. 2 No. Desember 2024, pp. https://journal. id/index. p/pelangi | E-ISSN: 3089-6150 Analisis Kemampuan Guru Dalam Menerapkan Model Pembelajara Beyond Center And Circle Time (BCCT) Pada Anak Usia 5-6 Tahun Afifah Ambar Destiorini1*. Sri Wahyuni2. Bety Vitriana3. Norlaila4. Suprijadi5 1,2,3,4,5 PG Paud Universitas Mulia. Indonesia *email: afifah. amb@students. ABSTRAK Pendidikan anak usia dini adalah fondasi penting bagi perkembangan karakter dan keterampilan anak di masa depan, di mana mereka cepat menyerap informasi dan membentuk kebiasaan yang memengaruhi masa depan mereka. Model Beyond Center and Circle Time (BCCT) adalah pendekatan pembelajaran berbasis bermain yang bertujuan mengembangkan aspek kognitif, sosial, emosional, dan motorik anak. Penelitian ini menganalisis penerapan BCCT oleh guru di KB Kelas Mini KIDS 2 Balikpapan, mengidentifikasi kekuatan dan tantangan dalam implementasinya, dengan harapan temuan ini akan berkontribusi pada teori pendidikan anak usia dini, memberikan panduan praktis bagi guru, dan mendukung kebijakan pendidikan yang lebih efektif. Kata Kunci: anak usia dini, model pembelajaran. BCCT Riwayat Artikel Diterima: 05/11/2024 Direvisi: 10/11/2024 Disetujui: 20/11/2024 Dipublikasi: 16/12/2024 PENDAHULUAN Pendidikan pada anak usia dini adalah fondasi penting dalam pembentukan karakter dan perkembangan anak sejak dini, karna pada fase ini anak akan dengan cepat menerima informasi yang diberikan (Windayani. , dkk . Anak terlahir sama seperti kertas putih maka akan mudah menerima informasi yang diberikan serta membentuk kebiasaan dan pola pikir yang akan membawa dampak besar pada masa depan mereka. Melalui pendidikan anak akan mengembangkan keterampilan sosial, kreativitas, dan bagaimana cara memecahan masalah Anakanak belajar berinteraksi dengan teman sebaya, mengatur emosi, dan memahami norma-norma sosial penting melalui proses bermain dan pendidikan. Menurut American Academy of Pediatrics . dalam artikel berjudul "The Power of Play: A Pediatric Role in Enhancing Development in Young Children," bermain merupakan elemen krusial yang membantu mengembangkan kreativitas dan kemampuan pemecahan masalah pada anak-anak, serta memperkuat keterampilan sosial-emosional mereka. Pada fase awal atau masa prasekolah, anak-anak juga mulai membentuk kepribadian dan mengasah keterampilan fisik seperti berjalan dan penggunaan tangan yang lebih terampil (Hawi, 2. Maria Montessori . berpendapat bahwa setiap anak dilahirkan dengan potensi unik yang mencakup kemampuan fisik, kognitif, sosial, dan emosional, yang dapat berkembang melalui pengalaman dan pembelajaran. Strategi pembelajaran, seperti yang dijelaskan oleh (Koerniantono 2. , adalah metode yang digunakan pendidik untuk menyampaikan materi secara efektif dan efisien. Dengan berbagai strategi, guru dapat membantu siswa memahami konsep baru, mengembangkan keterampilan, dan memperoleh pengetahuan. Strategi ini disesuaikan dengan kebutuhan siswa, misalnya, beberapa siswa lebih responsif terhadap ceramah, sementara yang lain lebih efektif dalam pembelajaran interaktif seperti diskusi kelompok. Tujuan utama dari strategi pembelajaran adalah memfasilitasi proses belajar siswa sehingga mereka dapat mencapai pemahaman yang mendalam dan berkelanjutan tentang materi pelajaran. Guru dapat menggunakan berbagai strategi pembelajaran untuk membantu siswa memahami konsep baru, mengembangkan keterampilan, dan memperoleh pengetahuan. Jurnal Pelangi. Vol. 2 No. Des 2024, pp 48-54 disesuaikan dengan kebutuhan siswa seperti ceramah atau diskusi kelompok. Dalam konteks Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), strategi pembelajaran serupa dengan strategi umum namun disesuaikan dengan karakteristik perkembangan anak untuk mengoptimalkan perkembangan mereka secara holistik, seperti yang dijelaskan oleh Suarta dan Rahayu . Model Beyond Center and Circle Time (BCCT), atau kelas Sentra dan Lingkaran, yang dijelaskan oleh Mursid . , menempatkan anak sebagai pusat pembelajaran melalui aktivitas bermain terstruktur yang mengembangkan aspek kognitif, sosial, emosional, dan motorik, menjadikan proses belajar lebih alami, menyenangkan, dan bermakna bagi anak-anak Pendekatan Beyond Centers and Circle Time (BCCT) menekankan pembelajaran yang berpusat pada anak, di mana lingkar sentra menjadi fokus utama aktivitas yang merangsang perkembangan anak. Dalam metode ini, guru berperan sebagai fasilitator, membantu anak-anak mengembangkan keterampilan sosial, emosional, dan praktis melalui aktivitas kreatif dan eksplorasi alam. Kelas Sentra menciptakan lingkungan pembelajaran yang menghargai keunikan setiap anak, sehingga meningkatkan rasa percaya diri dan motivasi mereka. Selain mendidik, guru memiliki tanggung jawab luas sesuai dengan UU No. 20/2003 Pasal 39, mencakup pengajaran, pembimbingan, dan pengembangan potensi siswa, baik akademis maupun non-akademis. Untuk menjalankan peran ini dengan baik, guru perlu terus meningkatkan profesionalisme dan kompetensinya, meskipun banyak yang belum mencapai tingkat profesionalisme yang memadai. Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016 mengharuskan pendidik menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berjalan interaktif, menyenangkan, dan efisien. RPP harus mendorong partisipasi aktif siswa, memberi ruang untuk kreativitas, dan sesuai dengan perkembangan mereka. Guru juga memiliki peran penting dalam mengelola kelas dengan menciptakan kondisi belajar yang kondusif, menggunakan metode yang tepat, dan memberikan bimbingan kepada siswa yang mengalami kesulitan. Dalam pendekatan Beyond Center and Circle Time (BCCT), lingkungan belajar dirancang dengan cermat untuk merangsang perkembangan fisik, kognitif, sosial, dan emosional anak-anak. Namun, penerapan model ini di beberapa sekolah masih kurang maksimal karena keterbatasan waktu dan kurangnya implementasi. Peneliti tertarik mengkaji kemampuan guru dalam mengimplementasikan model BCCT di KB Kelas Mini Kids 2 Balikpapan, dengan harapan dapat menambah informasi dan pemahaman mengenai model pembelajaran ini. 1 Anak Usia Dini Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum sekolah dasar (SD) yang ditujukan untuk anak-anak dari lahir hingga usia enam tahun. Tujuannya adalah memberikan rangsangan pendidikan yang dan perkembangan fisik serta mental anak agar mereka siap melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya. Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003. PAUD merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional yang bertujuan membina anak secara menyeluruh agar memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Dalam Habibi . 8: . , pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk satuan pendidikan pada jenjang pendidikan anak usia dini yang pada hakekatnya diselenggarakan dengan tujuan untuk memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak secara menyeluruh, menekankan pada pengembangan berbagai aspek penting dalam diri anak. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) bertujuan memberikan fondasi yang kuat bagi perkembangan fisik, kognitif, sosial, emosional, dan moral anak, sehingga mereka siap memasuki jenjang pendidikan selanjutnya. Pada fase prasekolah, anak-anak mulai mengeksplorasi dunia, mengembangkan keterampilan fisik, berbicara, berinteraksi, serta mengenal konsep dasar. Lingkungan sosial sangat mempengaruhi perkembangan mereka, sehingga pendidikan dan perhatian yang baik selama masa prasekolah penting untuk pertumbuhan optimal. PAUD mempersiapkan anak sebelum memasuki pendidikan dasar dengan membina perkembangan fisik dan mental sejak lahir hingga usia 6 tahun. 2 Hakikat Anak Usia Dini Stimulasi Anak usia dini, merupakan anak yang memiliki rentan usia 0-6 tahun, pada kondisi ini anak berada dalam fase perkembangan yang sangat penting dan pesat. Copyright A 2024, author, e-ISSN 3089-6150 Jurnal Pelangi. Vol. 2 No. Des 2024, pp 48-54 Mereka akan mengalami pertumbuhan fisik, kognitif, emosional, dan sosial yang signifikan, anak-anak belajar dengan cara bermain, menjelajah, dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar mereka dan setiap pengalaman baru yang mereka dapatkan itu berkontribusi pada pembentukan keterampilan dan pengetahuan mereka di masa depan. Oleh karena itu, peran orang dewasa, termasuk guru dan orang tua, sangat penting dalam memberikan stimulasi dan dukungan yang tepat untuk perkembangan optimal anak. Pendekatan holistik dalam pendidikan, seperti model pembelajaran BCCT (Beyond Center and Circle Tim. , sangat relevan karena menggabungkan berbagai aspek perkembangan melalui kegiatan yang terstruktur dan berpusat pada anak. 3 Pembelajaran Pembelajaran adalah proses di mana siswa berinteraksi dengan pendidik dan berbagai sumber atau media pembelajaran untuk mencapai kompetensi tertentu. Proses ini melibatkan kegiatan belajar yang dapat dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung. (Wahyuni. S . sedangkan pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan proses di mana anak-anak pada rentang usia tersebut memperoleh pengetahuan, keterampilan, sikap, dan pemahaman baru melalui interaksi dengan lingkungan mereka, baik secara formal maupun Dalam konteks PAUD, pembelajaran berpusat pada rangsangan pendidikan yang sesuai dengan perkembangan anak-anak prasekolah, dengan memperhatikan aspek fisik, kognitif, sosial, emosional, dan moral. Pembelajaran PAUD dilakukan melalui berbagai kegiatan yang dirancang untuk merangsang kemampuan anak secara menyeluruh, memperhatikan kebutuhan dan minat individual mereka, serta mendukung perkembangan optimal pada tahap awal kehidupan. Menurut Jean Piaget, seorang psikolog perkembangan pada abad ke-20, pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan proses konstruktif. Proses konstruktif adalah ketika anak-anak menyusun informasi dan pengalaman mereka ke dalam struktur kognitif yang Dalam konteks PAUD, ini berarti anak-anak belajar melalui interaksi dengan lingkungan dan pengalaman mereka. Melalui interaksi ini, mereka mengembangkan struktur kognitif yang mendukung kemampuan berpikir dan beradaptasi. Piaget menekankan pentingnya pengalaman langsung dalam pembelajaran anak-anak pada usia dini untuk membantu mereka memahami dunia di sekitar mereka. 4 Strategi Pembelajaran Strategi ialah sebuah rencana yang sengaja di rancang untuk pengerjaan sebuah kegiatan, pembelajaran dan lainnya. Strategi merupakan rencana atau pendekatan terstruktur yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu. Ini melibatkan menetapkan tujuan, menganalisis situasi, merumuskan langkah-langkah yang perlu diambil, dan mengalokasikan sumber daya yang Santrock . : berpendapat bahwa strategi pembelajaran pada PAUD adalah pendekatan atau metode yang dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi anakanak usia dini. Strategi ini harus disesuaikan dengan tahap perkembangan anak dan berfokus pada pemberian pengalaman langsung yang relevandengan kehidupan sehari-hari mereka. Strategi pembelajaran yang efektif melibatkan perencanaan yang matang dan pemilihan metode yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik anak. Dalam pembelajaran PAUD, strategi ini seringkali mencakup penggunaan permainan, cerita, musik, seni, dan kegiatan fisik yang dirancang untuk merangsang berbagai aspek perkembangan anak, termasuk kognitif, sosial, emosional, dan motorik. Misalnya, melalui permainan peran, anak-anak dapat belajar tentang dunia sekitar mereka, mengembangkan keterampilan bahasa, serta belajar bekerja sama dan berkomunikasi dengan teman-teman mereka. 5 Beyond Center and Circle Tim (BCCT) Beyond Center and Circle Time (BCCT), atau kelas sentra, adalah model pembelajaran inovatif dalam pendidikan anak usia dini yang mengorganisir ruang kelas menjadi berbagai area atau pusat kegiatan. Konsep ini dikembangkan oleh Dr. Pamela Phelps berdasarkan penelitiannya selama 40 tahun di Creative Center for Childhood Research and Training . RT) di Florida. Amerika Serikat. Metode ini diadopsi secara resmi oleh Departemen Pendidikan Nasional Copyright A 2024, author, e-ISSN 3089-6150 Jurnal Pelangi. Vol. 2 No. Des 2024, pp 48-54 Republik Indonesia pada tahun 2004 (Fitriah, 2. BCCT dirancang untuk mengutamakan kreativitas, eksplorasi, dan pengalaman belajar menyenangkan. Setiap sentra fokus pada aspek perkembangan tertentu, seperti seni, bahasa, sains, atau motorik, mendorong anak-anak untuk bereksperimen dan menciptakan ide-ide baru (Saputri, 2. Penerapan metode Beyond Center and Circle Time (BCCT) di Indonesia dimulai pada tahun 1996 ketika drg. Wismiarti Tamin memperkenalkan model ini melalui pendirian Sekolah Al-Falah di Ciracas. Jakarta Timur. Setelah mempelajari berbagai model pendidikan internasional. Wismiarti memilih BCCT, yang dikembangkan oleh Pamela Phelps di Florida, karena kesesuaiannya dengan visi pendidikan anak usia dini di Indonesia. BCCT, yang menekankan pendekatan holistik dengan sentra-sentra bermain yang fokus pada minat anak, memungkinkan pembelajaran melalui pengalaman langsung yang mencakup aspek kognitif, motorik, sosial, dan emosional. Sekolah Al-Falah menjadi pelopor penerapan BCCT di Indonesia, dengan penyesuaian untuk memenuhi kebutuhan lokal, termasuk penambahan Sentra Iman dan Taqwa (Imta. untuk integrasi pendidikan moral dan spiritual. Pada tahun 2002. Dr. Fasli Jalal. Staf Ahli Menteri Pendidikan Nasional, mengunjungi Sekolah Al-Falah, terkesan dengan BCCT, dan mempromosikannya secara nasional. Pada tahun 2006. Departemen Pendidikan Nasional menerbitkan buku modul pelatihan BCCT untuk melatih pendidik di seluruh Indonesia. Bukubuku ini, yang mencakup prinsip-prinsip dasar dan panduan praktis BCCT, mendukung penerapan model ini di berbagai PAUD, termasuk lembaga berbasis Islam seperti TK Istiqlal, yang menyesuaikan Model Beyond Center and Circle Time (BCCT) tidak hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga pembentukan karakter sesuai ajaran agama, menjadikannya populer di PAUD berbasis Islam dan lembaga lain yang mengutamakan pembelajaran holistik. BCCT dianggap efektif karena sederhana dalam alat dan mampu merangsang berbagai aspek kecerdasan anak, termasuk linguistik, logika-matematika, musikal, kinestetik, dan interpersonal. Metode ini menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan berpusat pada anak, meningkatkan antusiasme dan keterlibatan anak. Penerapan BCCT di Indonesia telah berkontribusi besar terhadap pendidikan anak usia dini dengan mengembangkan kemampuan kognitif dan mempersiapkan anak menjadi individu mandiri, kreatif, dan berkarakter. Model ini terus berkembang dan diadaptasi oleh banyak lembaga PAUD di seluruh Indonesia, menunjukkan keberlanjutannya dalam pendidikan anak usia dinikurikulum sesuai nilai-nilai Islam. 6 Guru (Pendidika. PAUD Guru memiliki peran krusial dalam proses belajar mengajar karena mereka tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga membimbing, mendukung, dan menginspirasi siswa. Sebagai "Pahlawan Tanpa Tanda Jasa," guru mengajarkan materi dengan sabar dan telaten serta membantu pengembangan karakter dan keterampilan sosial siswa. Prof. Dr. Imam Suyitno . menyatakan bahwa guru adalah agen pembelajaran yang bertanggung jawab untuk menyampaikan materi, mengembangkan potensi siswa, dan membantu mereka mengatasi tantangan belajar. Ini dapat memberikan dorongan, bimbingan, dan dukungan untuk membantu siswa menemukan dan mengoptimalkan bakat serta kemampuan mereka. Dengan demikian, guru tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga menjadi mentor, fasilitator, dan motivator teman bagi siswa METODE Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian kualitatif berfokus pada penyelidikan fenomena sosial dan masalah manusia, menggali makna, konsep, dan karakteristik suatu fenomena secara alami dan holistik. Penelitian deskriptif berusaha menggambarkan fenomena secara realistik dan faktual, memungkinkan peneliti memahami situasi dan masalah yang diteliti untuk merumuskan solusi yang tepat. (Murdiyanto, 2. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan mengajar guru dalam mengimplementasikan model Beyond Centers and Circle Time (BCCT). Copyright A 2024, author, e-ISSN 3089-6150 Jurnal Pelangi. Vol. 2 No. Des 2024, pp 48-54 1 Teknik Pengumpulan Data Yaitu dengan mengumpulakan data melalui, observasi, wawancara, dan dokumentasi sebagai berikut: Observasi Teknik observasi yang dilakukan oleh peneliti ialah dengan cara melakukan observasi secara langsung kepada sumberdata bahwa peneliti sedang melakukan observasi. Observasi dilakukan peneliti dengan cara mengikuti proses kegiatan pembelajaran secara langsung selama periode waktu yang ditentukan yakni dari tanggal 29 April 2024 sampai dengan 17 Mei 2024, adapun indikator yang telah dipegang guna sebagai acuan dalam menilai kemampuan guru dalam mengelola kelas. Wawancara Wawancara dalam sebuah penelitian merupakan sebuah proses yang bisa bersifat informal maupun formal. Wawancara ini bertujuan untuk mengumpulkan informasi secara sistematis, sehingga penting untuk menjaga hubungan baik dengan responden. Proses ini melibatkan komunikasi langsung, di mana pewawancara mengajukan pertanyaan kepada responden secara tatap muka. Tujuan utama wawancara adalah untuk mendapatkan wawasan, pandangan, dan pola pikir yang relevan dengan permasalahan penelitian. Dalam penelitian ini peneliti akan mengumpulkan data tentang peran lembaga pendidikanWawancara ini bertujuan untuk mengungkap berbagai informasi seperti data pribadi, pengalaman, kegiatan, dan keterlibatan para informan, yaitu kepala sekolah, dan guru sentra. Dokumentasi Dokumentasi berakar dari istilah "dokumen," yang merujuk pada berbagai bentuk informasi Metode dokumentasi dalam penelitian digunakan sebagai teknik untuk mengumpulkan data dengan cara mencatat atau merekam informasi yang sudah tersedia sebelumnya. Dokumen ini bisa beragam bentuknya, mulai dari sumber tertulis seperti buku, artikel, dan laporan, yang relevan dengan penelitian. Fungsi utama dokumentasi adalah sebagai sumber data tambahan yang mendukung penelitian, memberikan konteks, bukti, serta informasi penting yang tidak dapat diperoleh langsung melalui metode lain seperti wawancara atau observasi. Dokumentasi juga berperan dalam memperkaya dan memperdalam analisis, sehingga hasil penelitian menjadi lebih komprehensif dan terverifikasi. 2 Jenis Data dan Sumber Data Jenis data kualitatif yang akan diambil dalam penelitian ini berasal dari data yang dilakukan dengan cara mengumpulkan informasi baik bersifat lisan maupun secara tertulis. Data lisan yang akan diperoleh dengan cara, melakukan wawancara dengan beberapa narasumber, observasi, wawancara, dokumentasi, jurnal dan juga buku. Sumber Data Primer/Data Utama Data primer adalah data yang dikumpulkan secara langsung oleh peneliti dari sumber aslinya selama penelitian berlangsung. Dalam konteks ini, data primer mencakup hasil wawancara yang dilakukan dengan kepala sekolah, dan guru sentra yang dilakukan di KB Kelas Mini Kids 2 Ballikpapan. Sumber Data Sekunder Data sekunder adalah data yang diperoleh dari pihak lain, bukan di dapatkan secara langsung, dari peneliti lain. Biasanya, data ini berupa buku, dokumentasi atau laporan yang sudah ada sebelumnya. Untuk penelitian ini, data sekunder diperoleh dari jurnal, buku, atau dokumentasi lain yang terkait dengan topik penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Guru-guru di KB Kelas Mini KIDS 2 Balikpapan telah menunjukkan kemampuan yang cukup baik dalam menerapkan model pembelajaran Beyond Center and Circle Time (BCCT). Penataan ruang kelas sudah dilakukan dengan baik, dengan desain yang menarik dan sesuai dengan tema pembelajaran yang direncanakan. Namun, masih terdapat beberapa aspek yang memerlukan perbaikan. Misalnya, papan display yang digunakan untuk menampilkan materi Copyright A 2024, author, e-ISSN 3089-6150 Jurnal Pelangi. Vol. 2 No. Des 2024, pp 48-54 pembelajaran tidak selalu tersedia dan dekorasi bertema yang ada belum sepenuhnya optimal dalam menciptakan suasana belajar yang mendukung. Peralatan belajar yang digunakan di kelas sudah cukup beragam dan sesuai dengan tema pembelajaran, tetapi ada potensi untuk meningkatkan keragaman dan kualitas alat peraga tersebut agar lebih menarik minat dan perhatian anak-anak. Guru-guru di KB Kelas Mini KIDS 2 juga telah menunjukkan keterampilan yang baik dalam berinteraksi dengan anak-anak, tetapi konsistensi dalam memberikan pujian dan masukan yang membangun masih perlu ditingkatkan. Hal ini penting untuk meningkatkan motivasi dan keterlibatan anak-anak dalam proses belajar. Kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan sesuai dengan jadwal berjalan lancar, dan anakanak menunjukkan antusiasme yang tinggi selama proses belajar. Namun, beberapa bagian dalam penerapan model BCCT masih memerlukan perbaikan untuk mengoptimalkan efektivitas dan keberhasilan pembelajaran. Meskipun demikian, secara umum, penerapan model BCCT di KB Kelas Mini KIDS 2 Balikpapan sudah menunjukkan hasil yang positif. Dengan melakukan perbaikan pada area yang masih kurang optimal, seperti meningkatkan ketersediaan papan display, memperbaiki dekorasi, dan meningkatkan konsistensi dalam memberikan umpan balik kepada anak-anak, diharapkan pembelajaran anak-anak akan menjadi lebih efektif dan menarik. Langkah-langkah perbaikan ini akan membantu menciptakan pengalaman belajar yang lebih baik dan mendukung perkembangan anak-anak dengan lebih baik. KESIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Beyond Center and Circle Time (BCCT) di KB Kelas Mini KIDS 2 Balikpapan telah dilakukan dengan cukup baik oleh para guru. Penataan ruang kelas dan penggunaan alat peraga sudah sesuai dengan tema pembelajaran, dan interaksi antara guru dan anak-anak menunjukkan hasil positif. Namun, ada beberapa area yang perlu diperbaiki, seperti ketersediaan papan display dan optimalisasi dekorasi, serta peningkatan konsistensi dalam memberikan pujian dan masukan kepada anakanak. Dengan melakukan perbaikan pada aspek-aspek ini, efektivitas dan daya tarik pembelajaran dapat meningkat, yang pada akhirnya akan mendukung perkembangan anak-anak secara lebih optimal. SARAN Berdasarkan hasil penelitian, beberapa saran dapat diberikan untuk lebih mengoptimalkan hasil penelitian. Saran Bagi Sekolah Pelatihan Berkala. Mengadakan pelatihan rutin bagi para guru untuk memperdalam pemahaman tentang metode BCCT dan penerapannya. Fokus pelatihan bisa mencakup strategi pembelajaran kreatif dan pengembangan media pembelajaran. Menyediakan workshop yang fokus pada inovasi dalam media dan metode pembelajaran yang dapat diterapkan dalam kurikulum. Perlengkapan Media Pembelajaran. Menyediakan perlengkapan yang lebih lengkap dan bervariasi untuk mendukung penerapan BCCT, termasuk bahan-bahan alam dan teknologi pembelajaran seperti tablet atau proyektor. Saran Bagi Guru Menggunakan berbagai media yang lebih kreatif dan interaktif, seperti permainan digital edukatif, video pembelajaran, dan aktivitas seni yang lebih variatif. Terus memperbarui keterampilan mengajar melalui pendidikan berkelanjutan, membaca literatur terbaru, dan mengikuti seminar atau konferensi pendidikan. Memanfaatkan teknologi untuk mendukung pembelajaran, seperti aplikasi edukasi atau sumber daya digital yang sesuai dengan usia anak-anak. Copyright A 2024, author, e-ISSN 3089-6150 Jurnal Pelangi. Vol. 2 No. Des 2024, pp 48-54 UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih kepada seluruh stakeholder yang mendukung terselesaikannya penelitian Rektor universitas mulia, dekan fakultas humaniora dan kesehatan, ketua program studi PG Paud, dosen pembimbing, guru, wali murid serta seluruh murid yang telah mendukung penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA