Validasi Media Bimbingan dan Konseling Modul Self-control Sebagai Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba Validasi Media Bimbingan dan Konseling Modul Self-Control Sebagai Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba Ananda Mustika Putri1. Dr. Wiyo Nuryono. Pd. Pd. 1, 2 Program Studi Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Surabaya. Jl. Raya Kampus Unesa. Lidah Wetan. Kec. Lakarsantri. Surabaya. Jawa Timur 60213 anandamustika1@gmail. Abstrak Penelitian bertujuan dalam mengembangkan media bimbingan dan konseling berupa modul self-control sebagai pencegahan penyalahgunaan narkoba. Penelitian ini didasarkan pada berbagai kasus penyalahgunaan narkoba, terutama pada peserta didik SMA yang memerlukan penanganan segera. Peserta didik SMA yang cenderung masih labil dan kurang dapat mengontrol emosi dengan baik, serta mudah terbawa arus. Hal tersebut yang menyebabkan rentan terjerumus terhadap berbagai pengaruh negatif salah satunya penyalahgunaan narkoba. Modul berbasis augmented reality ini menekankan pengendalian diri menurut Roy Baumeister daalam menunjang pencegahan narkoba. Hal ini didasarkan pada empat aspek pengendalian diri, yaitu disiplin diri, tidak impulsif, kebiasaan sehat. Modul ini dikembangkan menggunakan model penelitian ADDIE (Analisis. Desain. Pengembangan. Implementasi, and Evaluas. dengan melibatkan validasi media menggunakan expert judgement dan rumus Gregory. Validasi ini melibatkan ahli materi, ahli media, dan pengguna (Guru Bimbingan dan Konselin. sebagai validator. Hasil akhir validasi menunjukkan koefisien validitas bernilai satu. Nilai ini bermakna bahwa media berada pada validitas sangat tinggi atau layak digunakan. Dengan kata lain, media bimbingan dan konseling modul pengendalian diri sebagai pencegahan penyalahgunaan narkoba, relevan dan efektif sesuai kebutuhan permasalahan yang ada. Kata kunci: media, bimbingan dan konseling, modul, pengendalian diri, expert judgment Gregory. Abstract The research aims to develop guidance and counseling media in the form of self-control modules as drug This research is based on various corruption cases, especially among high school students who require immediate treatment. High school students tend to be unstable and unable to control their emotions well, and are easily carried away. This makes them vulnerable to falling into various negative influences, one of which is drug abuse. This augmented reality-based module emphasizes self-control according to Roy Baumeister in supporting drug prevention. This is based on four aspects of self-control, namely selfdiscipline, not being impulsive, healthy habits, and work ethic. This module was developed using the ADDIE (Analysis. Design. Development. Implementation, and Evaluatio. research model involving media validation using expert judgment and the Gregory formula. This validation involves material experts, media experts, and users (Guidance and Counseling Teacher. as validators. The final validation results show a validity coefficient of one. This value means that the media has very high validity or is suitable for use. In other words, the guidance and counseling media for self-control modules as drug prevention, is relevant and effective according to the needs of existing problems. Keywords: media, guidance and counseling, module, self-control, expert judgment Gregory. Sedangkan peraturan mengenai pengguanaan narkotika diatur dalam Undang-undang Pasal 6 ayat 1 yang membedakan narkotika dakam tiga golongan. Golongan pertama adalah jenis narkoba yang dapat mengakibatkan kecanduan, akan tetapi digunakan dalam pengembanagn ilmu pengetahuan dan teknologi. Narkotika golongan pertama seperti ganja, heroin, dan Golongan kedua adalah narkotika yang dapat menyebabkam ketergantungan, akan tetapi dapat PENDAHULUAN Narkoba adalah istilah yang digunakan untuk menyebut narkotika, psikotropika, dan zat-zat berbahaya Dalam Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009, yaitu narkotika sebagai zat atau obat dari tanaman maupun bukan tanaman yang memiliki dampak menurunkan kesadaran, menghilangkan rasa sakit, dan Validasi Media Bimbingan dan Konseling Modul Self-control Sebagai Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba digunakan sebagai pilihan terakhir dalam pengobatan. Narkotika golongan kedua misalnya morfin, petidin, dan Narkotika golongan ketiga adalah narkotika yang menyebabkan ketergantungan dalam tingkatan ringan, akan tetapi juga dimanfaatkan dalam pengobtan. Narkotika golongan ketiga seperti kodein. Meskipun penggunaan narkoba sudah dijelaskan dalam peraturan perundang-undangan, akan tetapi masih banyak sekali terjadi penyalahgunaan narkoba di masyarakat hingga tahap kecanduan, terutama kalangan remaja (Nuryono, 2. Penyalahgunaan narkoba terjadi ketika seseorang tersebut menyalahgunakan narkotika bukan sebagai pengobatan, melainkan untuk merasakan Sedangkan kecanduan termasuk sebagai gangguan atau penyakit medis yang berkaitan antara genetik dan lingkungan, akan tetapi dapat diobati. (Nuryono, 2. Data dari Badan Narkotika Nasional (BNN) dalam Laporan Narkoba Indonesia 2022. Menunjukkan sekitar 4,8 juta orang di Indonesia berusia 15-65 tahun pernah menggunakan narkoba pada tahun 2021. (BNN), 2. Mayoritas pengguna merupakan anak muda, yang berusia 15-35 tahun, berdasarkan data dari kominfo tahun 2021. Sejumlah 82,4 % dari mereka berperan sebagai pengguna 47,1% sebagai pengedar, dan 31,4% sebaga kurir. Jika dilihat dari prevalensi penyalahgunaan narkoba pada remaja, provinsi Jawa Timur menduduki peringkat pertama dengan total 7. 060 kasus, berdasarkan data dari Badan Narkotika Nasional (BNN) terkait pengungkapan kasus tindak pidana narkoba. Prevalensi penyalahgunaan narkoba pada remaja usia 15-19 tahun di Jawa Timur mencapai 2,7% lebih tinggi dari rata-rata nasional sebesar 2,4%. Data ini terus berlanjut hingga pada Kota Surabaya, sebagai salah satu kota di Jawa Timur dengan kasus penyalahgunaan narkoba terbanyak. Berdasarkan penyalahgunaan narkoba pada rentang usia peserta didik SMA menduduki posisi yang cukup tinggi. Rentang usia ini di dapatkan berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. (Permendikbud,2. Permendikbud Nomor 51 Tahun 2018 tentang penerimaan peserta didik baru dari jenjang TK. SD. SMP. SMA, dan SMK. Rentang usia nya ialah 15-18 tahun. Pada usia ini usia remaja yang mengalami masa transisi menuju kedewasaan da. am hal fisik, psikososial, dan Masa ini ialah masa mencari jati diri, cenderung dan rentan terpengaruh pada kasus penyalahgunaan narkoba. (Supraptiyaningrum, 2. Isu tentang narkoba sudah sangat mengkhawatirkan dan membutuhkan penanganan di berbagai kalangan khususnya generasi muda sebagai penerus bangsa. Masa remaja merupakan fase usia yang dapat dikatakan cukup rawan dalam fenomena penyalahgunaan narkoba. Karena mereka belum cukup mampu berfikir positif, labil dan masih mudah terbawa Maka dari itu, narkoba di kalangan milenial bukan suatu yang mudah ditangani, dalam menanganinya perlunya banyak pihak yang terlibat serta perlu menjalin kerja sama dengan pihak pemerintah, aparat kepolisian, badan narkotika . , pihak keluarga serta pihak sekolah. Masa remaja ialah masa perkembangan anakanak menuju dewasa, remaja mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi dan selalu ingin mencoba hal baru, hal ini yang membuat remaja melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang terkait dampak, resiko dan bahaya nya . Maka dari itu pentingnya pemahaman tentang bahaya dari penyalahgunaan narkoba, narkoba dengan berbagi bentuk seperti heroin, ganja, candu, alkohol dan obatobatan. Mayoritas penyalahgunaan narkoba berawal dari kebiasaan merokok dan meminum minuman keras, hal ini potensi penyalahgunaan narkoba juga akan semakin (Novita Eleanora, 2. Sehubungan dengan meningkatnya pengguna narkoba serta korban penyalahgunaan narkoba menunjukkan bahwa hal ini sudah menjadi ranah yang serius, karena fakta nya banyak kalangan pelajar merupakan pengguna narkoba. Faktor penyebab penyalahgunaan narkoba bagi peserta didik tingkat SMA meningkat ialah pengaruh dari teman sebaya, salah satu mudah mendapatkan akses narkoba yakni dari ajakan teman sebaya tersebut. Faktor penyebab penyalahgunaan narkoba dibagi menjadi dua yakni faktor internal dan Faktor internal berawal dari dalam diri individu, seperti kepribadian,kecemasan dan depresi, serta kurangnya pondasi agama. Namun umumnya yakni, . mereka memiliki rasa ingin tahu yang besar,rasa penasaran yang tinggi namun tidak memikirkan dampak atau resikonya, . sering ikut-ikutan trend atau gaya, . rasa ingin diakui oleh beberapa kelompok tertentu. Adanya pengaruh teman sebaya menjadi ikut-ikutan seperti awal mulanya merokok merambat pada miras lalu dapat terjerumus pada narkoba, . tidak dapat menghadapi kesulitan hidup. Umumnya mereka broken Sedangkan faktor eksternalnya datang dari lingkungan keluarga sendiri dan lingkungan sekolah, lingkungan keluarga yang kurang harmonis yang tidak sedikit menyebabkan stress, broken home sehingga mereka tidak menemukan titik temu, control diri yang rendah, gejala psikologi, rentan terjerumus ke zat adiktif negatif,lingkungan memengaruhi apabila tidak kondusif dapat meningkatkan resiko keterlibatan dalam penggunaan narkoba. (Pramesti, 2. Apabila ditelusuri lebih jauh, penyalahgunaan narkoba ini memberi dampak yang berbahaya dna negatif (Pramesti, 2. Dampak yang ditimbulkan tergantung jenis narkoba yang digunakan. Namun umumnya akan menjadikan peserta didik tidak dapat menjadi sehat seperti sebelumnya dikarenakan kecanduan maka tidak dapat sembuh, akan tetapi dapat pulih. Kemudian juga berdampak pada pendidikannya, serta akan mengalami masalah dalam lingkungan sosial yakni interaksi dengan orang menurun. Agar tidak terjadi lagi penyalahgunaan narkoba pada peserta didik tingkat SMA,diperlukan adanya pencegahan sejak dini. Salah satu pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan pemahaman terkait pentingnya self-control atau pengendalian diri. Peserta didik tingkat SMA yang memiliki self-control yang baik, dapat mengendalikan dirinya dari hal-hal negative salah satunya penggunaan narkoba. Self-control yang baik ditandai dengan kemampuan mengendalikan emosinya dengan baik. Menurut Roy Baumeister aspek-aspek selfcontrol meliputi control emosi dan perilaku, mengontrol situasi atau keadaan, serta mengantisipasi peristiwa (BAUMEISTER. SELF REGULATION AND SELF CONTROL, 2. Dalam hal ini, guru bimbingan dan konseling perlu memberikan layanan informasi dengan inovasi baru yakni menggunakan modul dalam pemberian layanan. Modul dirancang untuk membantu guru BK dalam memberikan layanan lebih efektif dan interaktif. Metode konvensional seperti ceramah kurang melibatkan peserta didik secara aktif, serta tidak selalu mampu menciptakan pemahaman mendalam atau perubahan perilaku. Padahal, pencegahan penyalahgunaan narkoba membutuhkan intervensi yang tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga mampu membentuk karakter dan meningkatkan kemampuan regulasi diri. Dengan penggunaan modul, pendekatan menjadi lebih interaktif, terstruktur, dan mudah dipahami oleh peserta didik. Modul sebagai media pembelajaran memiliki beberapa keunggulan, di antaranya dapat digunakan secara mandiri, fleksibel dalam waktu. Dengan mengintegrasikan aspek self-control, mereka tidak hanya menerima informasi tentang bahaya narkoba, tetapi juga dilatih membentuk sikap dan kebiasaan yang sehat melalui penguatan kontrol diri. Self control ialah kemampuan individu dalam mengendalikan dan mengatur dirinya terhadap lingkungan sekitar atau pada dirinya sendiri. Dapat disimpulkan bahwa Kontrol diri atau pengendalian diri, ialah kemampuan individu untuk mengatur dan mengendalikan tingkah lakunya pada arah yang positif, serta menekan impuls-impuls dari perilaku impulsif. Individu yang memiliki kontrol diri rendah akan rentan terjerumus pada hal- hal negatif, seperti terjerumusnya remaja ntuk mencoba-coba zat adiktif dan narkoba. Kontrol diri akan sangat berperan dalam pencegahan bahkan pengobatan bagi individu yang mengalami kecanduan narkoba. Dengan self-control, peserta didik lebih mampu menjauhi lingkungan yang tidak sehat, mampu mengelola emosi negatif dan stress tanpa harus mencari pelampiasan pada narkoba. Selain itu, selfcontrol menetapkan peserta didik menetapkan masa depan yang jelas, fokus pada akademik, serta mengurangi pengaruh negative dari tekanan teman sebaya. Modul self-control dikembangkan dengan metode penelitian pengembangan atau Research and Development. Research and Development (R&D) adalah proses atau langkah dalam pengembangan produk baru atau penyempurnaan produk yang sudah ada. Model R&D yang dipilih ialah ADDIE, yaitu Analysis. Design. Development. Implementation, and Evaluation. ADDIE adalah bentuk pengembangan yang terstruktur dalam pembuatan media. ranch, 2. Akan tetapi untuk memastikan media bimbingan dan konseling yang tercipta mempunyai kualitas yang baik dan sesuai kebutuhan peserta didik, diperlukan proses validasi yang melibatkan para ahli, yaitu expert judgment berdasarkan rumus Gregory. Metode ini menonjolkan penilaian dan masukan dari para ahli di bidangnya dalam menilai kelayakan dan kualitas media. Validasi dengan mtode expert judgment Gregory dapat memastikan bahwa media bimbingan dan konseling yang dirancang tidak hanya relevan dengan konteks pencegahan penyalahgunaan narkoba, tetapi juga dapat diterima dan efektif digunakan dalam proses Melalui proses validasi ini, diharap media bimbingan dan konseling modul self-control ini dapat lebih efektif dalam mencapai tujuan pencegahan penyalahgunaan narkoba pada peserta didik SMA. Dengan demikian, media ini diharapkan dapat berperan signifikan dalam menciptakan lingkungan sekolah yang lebih sehat dan bebas dari penyalahgunaan narkoba, serta mempersiapkan generasi yang sadar akan kewajiban sebagai pelajar, bertanggung jawab menyelesaikan tugastugas sekolah , memiliki pengendalian diri yang baik dalam menghadapi berbagai tantangan hidup, serta mencapai prestasi akademik. METODE Metode penelitian media bimbingan dan konseling menggunakan model ADDIE dalam mengembangkan modul self-control berasis augmented reality sebagai penecegahan penyalahgunaan narkoba. Adapun untuk validasi menggunakan pendekatan expert judgement berdasarkan rumus Gregory. Expert judgment Gregory Validasi Media Bimbingan dan Konseling Modul Self-control Sebagai Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba merupakan metode perhitungan instrument atau validasi yang diperjelas oleh Robert J. Gegory (Gregory. Psychological Testing History. Principles, and Applications sevenTh ediTion, 2. Expert judgment didasarkan pada penilaian yang diberikan oleh ahli-ahli di bidang tertentu dalam menilai sebuah penelitian, seperti bagian validitas isi, pengembangan tes, atau penilaian seputar psikometrik. Pengembangan modul self-control dengan ADDIE meliputi lima tahap. ranch, 2. Pertama, terdapat tahap analysis atau analisis. Pada tahap ini dilaksanakan analisis atau identifikasi kebutuhan peserta didik terhadap self-control . engendalian dir. dan penyalahgunaan narkoba dengan berbagai instrument angket terkait dan pengamatan lapangan. Kedua, terdapat tahap design atau Tahap ini berupa perancangan konsep modul, meliputi tema desain modul yang disesuaikan dengan usia peserta didik, fitur augmented reality, gradasi warna serta animasi dalam modul. Ketiga, terdapat tahap development atau pengembangan. Tahap development berupa pembuatan modul berdasarkan rancangan desain yang ada. Keempat terdapat tahap implementation atau Pada tahap ini dilaksanakan uji coba modul pada kelompok kecil peserta didik mengetahui keberfungsian modul dan mengumpulkan feedback untuk Kelima, terdapat tahap terakhir yakni evaluation atau evaluasi. Tahap ini meliputi evaluasi formatif pada setiap tahap pengembangan dan evaluasi sumatif dalam menilai efektivitas media setelah validasi dan uji coba selesai dilaksanakan. Adapun terkait uji validasi media dilaksanakan melalui expert judgment dengan tiga ahli, yakni ahli materi . elf-control dan pencegahan narkob. , ahli media . eknologi dan desain websit. , dan pengguna atau Guru Bimbingan dan Konseling. Instrumen validasi berupa angket berbasis skala likert . yang mencakup kesesuaian konten, keterpakaian media, dan kualitas Selanjutnya, data validasi dianalisis dengan rumus Gregory. Subjek uji coba dalam penelitian ini merupakan peserta didik SMA Kelas X sejumlah 30 orang yang dipilih dengan pendekatan purposive sampling. Pendekatan purposive sampling merupakan teknik pengambilan sampel data dengan memilih subjek berdasarkan kriteria tertentu yang relevan dengan tujuan Uji coba dilaksanakan untuk mengetahui efektivitas media dalam meningkatkan self-control dan pengetahuan pencegahan penyalahgunaan narkoba. Hasil data dari validasi dan uji coba dianalisis secara kuantitatif demi menentukan tingkat validitas media dengan menggunakan indeks Gregory serta menentukan efektivitas media berdasarkan peningkatan hasil belajar peserta didik. Tabel 1. Tabel Kontingensi untuk Menghitung Indeks Gregory Matriks 2x2 Validator Validator Kurang Relevan (Skor 1-. Sangat relevan (Skor 3-. Kurang relevan . kor 1-. Sangat Relevan . kor 3-. Tabel kontingensi menunjukkan bahwa terdapat empat kategori sebagai berikut: Apabila validator member nilai yang sama, dengan rentang skor 1-2, pada item yang sama, kategori relevansinya ialah lemah yang disimbolkan dengan A. Validator 1 memberikan penilaian skor dengan rentang 3-5, sedangkan validator 2 memberi skor nilai dengan rentang 3-5, sementara validator 2 memberikan penilaian skor dengan rentang 1-2, kategori relevansinya ialah kuat-lemah yang disimbolkan dengan B. Apabila pada item yang sama validator 1 memberikan penilaian skor dengan rentang 1-2, sedangkan validator 2 memberi skor nilai dengan rentang 3-5 , kategori relevansinya ialah lemah-kuat yang dismbolkan dengan C Apabila kedua validator memberikan penilaian skor yang sama pada item yang sama dengan rentang 3-5, kategori relevansinya sama kuiat yang disimbolkan dengan D. Langkah berikutnya ialah penentuan nilai koefisien validitas isi berdasarkan table matriks kontingensi menggunakan rumus Gregory. Tabel 2. Matriks Kontingensi dengan Rumus Gregory Koefisien Validitas Isi Koefisien validitas isi selanjutnya diinterpretsikan menjadi tiga kategori yang dinyatakan dalam bentuk indeks kesepakatan validator sebagai berikut: Tabel 3. Indeks Kesepakatan validator Koefisien 0,8 Ae 1,0 0,6 Ae 0,79 0,4 Ae 0,59 0,2 Ae 0,39 0,00 Ae 0,19 Validitas Validitas sangat tinggi Validitas tinggi Validitas sedang Validitas rendah Validitas sangat rendah Sumber: Robert J. Gregory (Gregory. Psychological Testing History. Principles, and Applications sevenTh ediTion, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Validasi media bimbingan dan konseling modul self-control berbasis augmented reality sebagai pencegahan penyalahgunaan narkoba dilakanakan dengan pendekatan expert judgment rumus Gregory. Berdasarkan hasil validasi, diperoleh data: Data Hasil Validasi Media Penilaian validasi media terdiri atas lima aspek dengan total 15 item, yaitu aspek analisis . mpat ite. , aspek desain . iga ite. , aspek pengembangan . mpat ite. , aspek implementasi . ua ite. , dan aspek evaluasi . ua ite. Validasi berpengalaman dnegan media yang dimaksud. Aspek penilaian Penilaian Kategori Relevansi Validator Validasi Kesenjangan Kinerja Menentukan Tujuan Instruksional Konfirmasikan Audiens Identifikasi Sumber Daya dibutuhkan Melakukan Inventarisasi Tugas Menyusun Tujuan Kinerja Hasilkan Strategi Pengujian Hasilkan Konten Memilih media pendukung Mengembangkan Mengembangkan panduan bagi guru Mempersiapkan Mempersiapkan Tentukan Evaluasi Kriteria Aspek Analisis Aspek Desain Tabel 5. Kontingensi Kategori Ulang dari Dua Ahli Media Matriks 2x2 Aspek Pengembangan Aspek Evaluasi Validator II Kurang Relevan . kor 1-. Sangat Relevan . kor 3-. Aspek Hasil validasi media pada table diatas menunjukkan bahwa validator memberikan skor nilai yang kuat pada semua item di aspek utama. Misalnya pada item validasi kesenjangan kinerja, menentukan tujuan instruksional dan konfirmasikan audiens kedua validator member nilai tiga. Item identifikasi sumber daya yang dibutuhkan mendapat nilai empat oleh validator pertama dan kedua. Rentang nilai tersebut masuk kategori relevansi kuat menurut Gregory (Gregory. Psychological Testing. Aspek kedua, desain media, terdiri atas tiga Item tersebut adalah melakukan inventarisasi tugas, menyusun tujuan kinerja, dan hasilkan strategi pengujian. Pada aspek ini, kedua validator memberikan nilai yang sama yaitu empat. Hal ini menunjukkan tingkat relevensi yang kuat pada semua item. Aspek penilaian ketiga adalah pengembangan yang terdiri atas empat item. Pada aspek ketiga, kedua validator memberikan nilai empat pada dua item dan nilai lima pada dua item Hal ini menunjukkan bahwa aspek ini memiliki tingkat relevansi kuat. Pada aspek keempat, yakni implementasi media, terdiri atas dua item, dimana kedua validator memberi nilai empat pada satu item, dan satunya lima. Hal ini menunjukkan tingkat relevansi yang kuat. Pada aspek kelima atau aspek evaluasi, validator memberikan nilai empat pada dua item yang ada. Skor ini termasuk dalam kategori relevansi kuat. Berdasarkan data analisis relevansi penilaian validator, perhitungan dilanjutkan dengan rumus validitas, sebagai berikut: Tabel 4. Hasil tabulasi dari 2 Validator Ahli Media Pilih Alat Evaluasi Validator 1 Kurang Relevan . kor 1-. Sangat Relevan . kor 3-. Pada table 5 terlihat bahwa indeks kesepakatan ahli untuk validitas isi yakni perbandingan butir dari kedua ahli dengan kategori relevansi kuat dari keseluruhan butir item. Untuk menghitung indeks Gregory, digunakan rumus validitas isi Gregory sebagai berikut: Koefisien Validitas Validasi Media Bimbingan dan Konseling Modul Self-control Sebagai Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba Hasil yang didapatkan dari penilaian validator Merumuskan dari hasil tersebut ialah apabila indeks kesepakatan berada 0,8 Ae 1,0 menunjukkan validitas sangat tinggi. Koefisien validitas media pada penelitian ini sebesar 1 sehingga dapat disimpulkan bahwa validasi desain media bimbingan dan konseling modul self-control sebagai pencegahan penyalahgunaan narkoba yang dikembangkan masuk dalam kategori sangat valid. Hal ini menunjukkan bahwa media modul selfcontrol sudah sesuai dengan tujuan pengembangan, materi relevan, dan layak diterapkan kepada peserta didik SMA dalam pencegahan penyalahgunaan Tabel 6. Hasil Tabel Tabulasi dari Ahli Materi Penilaian Kategori Relevansi Validator Validasi Kesenjangan Kinerja Menentukan Tujuan Instruksional Konfirmasikan Audiens Identifikasi Sumber Daya dibutuhkan Menentukan istem Menyusun rencana manajemen proyek Melakukan Inventarisasi tugas Menyusun Hasilkan Hitung Laba atas Hasilkan konten Aspek Analisis Aspek Desain Aspek Pengembangan Mempersiapkan Mempersiapkan Tentukan Pilih alat evaluasi Melakukan evaluasi Aspek Implementasi Aspek Evaluasi Hasil validasi pada table diatas menunjukkan bahwa kedua validator memberikan skor nilai yang kuat pada semua item di aspek Misalnya pada item validasi kesenjangan kinerja sampai dengan item menentukan sistem, kedua validator memberi nilai empat. Kemudian di item terakhir menyusun rencana manajemen proyek, kedua validator memberikan nilai yang sama yakni Dua item lainnya pada aspek ini mendapat nilai tiga oleh validator pertama dan kedua. Meskipun berbeda, namun rentang nilai tersebut masih berada pada kategori relevansi kuat menurut Gregory (Gregory. Psychological Testing, 2. Pada aspek kedua, validator memberikan skor nilai yang kuat pada semua item meskipun terdapat perbedaan penilaian antara validator pertama dan Pada aspek ini, diperoleh nilai empat pada dua item dan nilai lima pada satu item. Hal ini menunjukkan tingkat relevensi yang kuat pada semua item. Aspek penilaian ketiga adalah pengembangan yang terdiri atas empat item. Kedua validator memberikan nilai yang sama pada tiga item yaitu empat, dan satu item yaitu nilai lima. Pada aspek keempat, yakni implementasi media, terdiri atas dua item, dimana pada item mempersiapkan guru kedua validator memberi nilai yang sama yaitu empat , sedangkan pada item mempersiapkan siswa validator pertama memberi nilai lima dan validator kedua memberi nilai empat. Hal ini menunjukkan tingkat relevansi yang kuat, begitupun dengan aspek kelima, terdapat perbedaan pada item melakukan evaluasi dimana validator pertama memberi nilai lima dan validator kedua memberi nilai empat. Berdasarkan data analisis relevansi penilaian validator, perhitungan dilanjutkan dengan rumus Penliaian alidasi materi terdiri atas lima aspek dengan total 19 item, yaitu aspek analisis . nam ite. , aspek desain . mpat ite. , aspek pengembangan 9empat ite. , aspek implementasi . ua ite. , dan aspek evaluasi . iga ite. Validasi materi dilaksanakan oleh dosen yang mumpuni pada bidang materi yang dimaksud. Aspek penilaian Data Hasil Validasi Materi Memilih media pendukung Mengembangkan Mengembangkan panduan bagi guru validitas, sebagai berikut: Validator Tabel 7. Kontingensi Kategori Ulang Dua Validator Materi Matriks 2x2 Validator II Kurang Relevan . kor 1-. Sangat Relevan . kor 3-. Validator 1 Kurang Relevan . kor 1-. Sangat Relevan . kor 3-. Pada table diatas menunjukkan bahwa indeks yang ditetapkan ahli yaitu perbandingan banyaknya butir dari kedua ahli dengan kategori relevansi kuat dengan keseluruhan butir item. Untuk menghitung indeks Gregory, digunakan rumus validitas isi Gregory sebagai berikut: Validasi Kesenjangan Kinerja Menentukan Tujuan Instruksional Konfirmasikan Audiens Identifikasi Sumber Daya dibutuhkan Menentukan istem Menyusun rencana manajemen proyek Melakukan Inventarisasi tugas Menyusun Hasilkan Koefisien Validitas Hasil yang didapat dari penilaian validator ahli Interpretasi dari hasil tersebut adalah jika indeks kesepakatan berada pada 0,8 -1,0 menunjukkan validitas sangat tinggi. Koefisien validitas materi pada penelitian ini sebesar 1 sehingga dapat disimpulkan bahwa validasi materi pada media bimbingan dan konseling modul selfcontrol sebagai penecegahan penyalahgunaan narkoba yang dikembangkan masuk dalam kategori sangat valid. Hal ini menunjukkan bahwa materi yang terdapat pada media telah memenuhi standar validitas, relevansi, dan sesuai dengan tujuan Materi ini dapat diterapkan untuk self-control pengendalian diri peserta didik sebagai upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba. Aspek penilaian Penilaian Hasilkan konten Memilih media pendukung Mempersiapkan Mempersiapkan Tentukan Pilih alat evaluasi Melakukan evaluasi Aspek Analisis Aspek Desain Aspek Pengembangan Aspek Implementasi Aspek Evaluasi Hasil validasi materi pada table diatas menunjukkan bahwa kedua validator memberikan skor nilai yang kuat pada semua item di aspek Misalnya pada item validasi kesenjangan kinerja sampai dengan item menentukan sistem, kedua validator memberi nilai empat. Kemudian di item terakhir menyusun rencana manajemen proyek, validator pertama memberi nilai empat, sedangkan validator kedua memeberi nilai tiga. Meskipun terdapat perbedaan, namun rentang nilai tersebut masih berada pada kategori relevansi kuat menurut Gregory (Gregory. Psychological Testing, 2. Pada aspek kedua, validator memberikan penilaian skor yang kuat pada semua item meskipun terdapat perbedaan penilaian pada item menyusun tujuan Validator pertama memberi nilai empat, validator kedua memberi nilai tiga. Hal ini Data Hasil Validasi Pengguna Penilaian validasi materi terdiri dari atas lima aspek dengan total 16 item, yaitu aspek analisis . nam ite. , aspek desain . iga ite. , aspek pengembangan . ua ite. , aspek implementasi . ua ite. , dan aspek evaluasi . iga ite. Validasi pengguna diperuntukkan bagi Guru Bimbingan dan Konseling. Tabel 8. Hasil Tabel Tabulasi dari Validasi Pengguna Relevansi Kategori Validasi Media Bimbingan dan Konseling Modul Self-control Sebagai Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba menunjukkan tingkat relevensi yang kuat pada semua item. Aspek penilaian ketiga adalah pengembangan yang terdiri atas empat item. Pada aspek keempat, yakni implementasi media, terdiri atas dua item, dimana semua item validator pertama dan validator kedua memberi nilai empat. Hal ini menunjukkan tingkat relevansi yang kuat, begitupun dengan aspek kelima. Berdasarkan data analisis relevansi penilaian validator, perhitungan dilanjutkan dengan rumus validitas, sebagai berikut: ADDIE, yaitu melibatkan aspek analisis, desain, pengembangan, implemntasi, dan evaluasi. Media ini dikembangkandalam memenuhi kebutuhan peserta didik SMA agar memiliki pengendalian diri atau self-control yang kuat sebagai pencegahan penyalahgunaan narkoba. Self-control ini mencakup berbagai aspek kehidupan sehari-hari peserta didik, seperti kemampuan dasar mengontrol perilaku yakni menerapkan pola hidup sehat, memilih lingkungan yang sehat, mengelola impuls dan Kemudian pasa aspek akademik yakni membangun rasa tangung jawab menyelesaikan tugas sekolah tepat waktu, individu akan memprioritaskan tugasnya dan mampu mengelola waktu dengan baik, serta melatih konsistensi mencapai prestasi akademik sebagai bentuk pencegahan penyalahgunaan narkoba. Validasi media menggunakan pendekatan expert judgment, yaitu proses pengukuran keabsahan data melalui berbagai ahli di bidangnya. Adapun expert judgment yang digunakan adalah rumus Gregory, yang menggunakan tiga ahli yang terdiri dari ahli media, materi, dan pengguna . alam hal ini guru Bimbingan dan konselin. Berdasarkan hasil validitas, diperoleh nilai koefisien validitas sebesar Nilai ini menunjukkan modul self-control dapat menjadi inovasi dalam memenuhi kebutuhan akan pencegahan narkoba. Peserta didik dengan pengendalian atau self-control yang kuat, dapat menjadikan mereka individu yang memiliki tujuan dan masa depan yang jelas, sehat, serta bebas dari bahaya narkoba. Tabel 9. Kontingensi Kategori Ulang dari Validasi Pengguna Matriks 2x2 Validator II Kurang Relevan . kor 1-. Sangat Relevan . kor 3-. Validator 1 Kurang Relevan . kor 1-. Sangat Relevan . kor 3-. Pada table diatas menunjukkan bahwa indeks yang telah ditetapkan yakni perbandingan dari kedua ahli dengan kategori relevansi kuat seluruh Untuk menghitung indeks Gregory, digunakan rumus berikut: Koefisien Validitas Saran Modul dapat diimplementasikan sebagai bagian dari program bimbingan dan konseling secara lebih luas di berbagai sekolah, khusunya tingkat SMA. Hasil yang didapat dari penilaian validator ahli dengan Interpretasi apabila indeks yang disepakati berada pada 0,8 -1,0 menunjukkan kevalidan tinggi. Koefisien validitas materi pada penelitian ini dengan nilai 1 sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa validasi materi pada media bimbingan dan konseling modul self-control sebagai penecegahan penyalahgunaan narkoba yang dikembangkan masuk dalam kategori sangat valid. Dapat diambil kesimpulan bahwa materi pada media telah memenuhi standar validitas, relevansi, dan sesuai dengan tujuan pengembangan. Materi ini dapat diterapkan untuk membantu meningkatkan selfcontrol atau pengendalian diri peserta didik sebagai upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba. Menggunakan modul secara berkelanjutan dalam layanan bimbingan, agar peserta didik dapat secara konsisten meningkatkan self-control mereka. Pengembangan modul dapat dapat dikembangkan dengan lebih interaktif, perlu pembaharuan, dan lebih ekspor berbagai informasi. DAFTAR PUSTAKA