Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (JPPI) p-ISSN: 2797-2879, e-ISSN: 2797-2860 Volume 5, nomor 3, 2025, hal. Doi: https://doi. org/10. 53299/jppi. Pengembangan Sumber Belajar Berbasis Budaya Lokal: Membangun Identitas dan Kearifan Lokal Nggahi Rawi Pahu JamaAoah*. I Nengah Suastika. Dewa Bagus Sanjaya Universitas Pendidikan Ganesha. Denpasar. Indonesia *Coresponding Author: jama@student. Dikirim: 31-05-2025. Direvisi: 24-06-2025. Diterima: 25-06-2025 Abstrak: Artikel ini bertujuan membahas secara teoritis tentang pengembangan sumber belajar berbasis budaya lokal dalam rangka membangun identitas dan kearifan lokal Nggahi rawi Pahu. Kajian ini bersifat akademik dalam konteks sumber belajar sebagai dasar pengetahuan dan informasi bagi pembelajar. Penulisan ini menggunakan metode deskriptif Hasil kajian ini menunjukkan bahwa sumber belajar sangat berperan dalam menyediakan berbagai informasi dan pengetahuan yang diperlukan dalam mengembangkan berbagai kompetensi yang diinginkan. Ada beberapa metode untuk mengembangkan sumber belajar berbasis budaya lokal dalam rangka membangun identitas dan kearifan lokal Nggahi rawi Pahu yaitu dilakukan metode. menganalisis kebutuhan dan karakteristik belajar siswa, . merumuskan tujuan pembelajaran, . pengembangan materi pembelajaran, . mengembangkan alat ukur keberhasilan, . pemilihan jenis sumber belajar dan . menanamkan nilai nilai kearifan lokal Nggahi rawi Pahu . melakukan evaluasi pada sumber belajar sebagai sarana pembelajaran. Kata Kunci: Sumber Belajar. Budaya Lokal. Nggahi rawi Pahu Abstract: This article aims to theoretically discuss the development of local culture-based learning resources in order to build the identity and local wisdom of Nggahi rawi Pahu. This study is academic in nature in the context of learning resources as a basis of knowledge and information for learners. This writing uses an analytical descriptive method. The results of this study show that learning resources are instrumental in providing the information and knowledge needed to develop the desired competencies. As for how to develop local culturebased learning resources in order to build the identity and local wisdom of Nggahi rawi Pahu, the method is carried out. analysing student learning needs and characteristics, . formulating learning objectives, . developing learning materials, . developing success measurement tools, . selecting types of learning resources and . instilling the value of local wisdom values of Nggahi rawi Pahu . conducting an evaluation of learning resources as a learning tool. Keywords: learning resources. local wisdom. Nggahi rawi Pahu PENDAHULUAN Sumber belajar membantu meningkatkan kualitas pembelajaran, memudahkan akses ke pengetahuan, dan mendorong siswa untuk berpartisipasi dalam pembelajaran. Dengan memiliki sumber belajar, siswa dapat belajar dengan lebih kreatif dan mandiri, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih inkuiri. Peran guru telah berubah dari menyampaikan informasi menjadi mendorong siswa untuk menanamkan semangat belajar sepanjang hayat. Implementasi sumber belajar tidak hanya sekedar wacana, tetapi membutuhkan wadah yang terorganisir, seperti pusat sumber belajar yang menyediakan data, orang, dan benda sebagai fasilitas belajar bagi siswa (Degeng & Sudana, 1990. Rodin, 2. @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional JamaAoah dkk. Pengembangan Sumber Belajar Berbasis Budaya Lokal: MembangunA Sumber belajar ini mempunyai fasilitas khusus untuk perencanaan, pembuatan, penyajian, pengembangan, dan pelayanan sumber belajar. Dalam teori pengajaran bahwa dalam pengembangan suatu sumber belajar adalah suatu keharusan. Hal ini disebabkan oleh adanya dua realitas yang saling bertentangan (Warsita, 2008. Prastowo, 2. Di satu sisi, sumber belajar bersifat statis, yaitu diharapkan memiliki peran yang dinamis. Sifat statis ini bersumber dari komponen belajar yang terdiri dari benda, seperti manusia, buku, perpustakaan, media massa, lingkungan alam, dan media dan fasilitas pendidikan. Sementara itu, dari segi peran, sumber belajar diharapkan dapat memberikan berbagai informasi dan pengetahuan yang diperlukan untuk mengembangkan kompetensi yang diinginkan dalam bidang studi atau mata pelajaran yang dipelajari (Degeng, 1990. Haryati, 2. Sumber belajar menjadi sangat penting untuk dikembangkan dan diperbarui. Salah satu metode pengembangan sumber belajar yang cukup prospektif adalah dengan berorientasi pada peserta didik. Hal ini disebabkan karena keberadaan sumber belajar selalu berkaitan, bahkan tidak dapat dipisahkan, dengan kondisi peserta didik (Prastowo, 2015. Raharjo, 2. Oleh karena itu, pengembangan terhadap sumber belajar yang efektif yang harus terhubung dengan kenyataan peserta didik. Dengan demikian, pengembangan berbasis siswa menjadi salah satu metedo pengembangan yang terhubung. Pengembangan sumber belajar berbasis peserta didik memungkinkan tercapainya proses pembelajaran yang optimal. Kualitas dan kuantitas belajar dan mengajar relevan dengan kualitas sumber Proses pembelajaran yang baik memerlukan pengembangan sumber belajar yang memadai. Dengan kata lain, tanpa pengembangan sumber belajar yang tepat, proses pembelajaran tidak dapat berjalan optimal (Soeharto, 2003. Yustikia. Oleh karena itu, pengembangan sumber belajar yang berorientasi pada peserta didik diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Prinsip umum dalam pengembangan sumber belajar yang berorientasi pada peserta didik adalah efektivitas dan efisiensi. Prinsip efektivitas berkaitan dengan upaya pengembangan yang menghemat waktu, sedangkan efisiensi berkaitan dengan kemudahan teknis (Chrismonita et al. , 2020. Zulfa et al. , 2025. Dengan demikian, maka prinsip pengembangan pembelajaran dan kurikulum bertujuan menciptakan sumber belajar yang mempermudah dan mempercepat proses kegiatan pembelajaran siswa sekolah Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk membahas tema ini dengan sub bab sebagai berikut: Sumber Belajar dan Seluk Beluknya, dan Pengembangan Sumber Belajar Berbasis Karakteristik Peserta Didik (Rohani & Ahmadi, 1. Tujuan dan sasaran pendidikan dan pembelajaran juga akan terpenuhi. Guru memegang tanggung jawab untuk membantu peserta didik agar belajar menjadi lebih mudah, lancar, dan terarah dengan memanfaatkan sumber belajar. Oleh karena itu, guru dituntut memiliki kompetensi khusus terkait pemanfaatan sumber belajar. Guru sekolah dasar harus mampu: . menggunakan sumber belajar dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari, . mengenalkan dan menyajikan sumber belajar, . menjelaskan peran berbagai sumber belajar dalam proses pembelajaran, . menyusun tugas-tugas (Soeharto, 2. Penggunaan sumber belajar yang melibatkan perilaku, seperti . mencari sendiri materi dari beragam sumber, . memilih materi sesuai dengan prinsip dan teori belajar, . menilai efektivitas penggunaan sumber belajar sebagai bagian dari bahan pembelajaran, . merencanakan kegiatan penggunaan sumber belajar dengan efektif. Penggunaan sumber belajar tidak hanya dianggap sebagai upaya membantu guru secara pasif, di mana penggunaannya semata-mata @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional JamaAoah dkk. Pengembangan Sumber Belajar Berbasis Budaya Lokal: MembangunA ditentukan oleh guru. Sumber belajar untuk mendukung peserta didik dalam belajar, bahkan jika perlu dilakukan secara individual, sehingga mereka dapat berinteraksi secara mandiri dengan media dan berkolaborasi dalam kelompok dengan teman sekelas (Uno, 2008. Mashudi, 2021. Mantau & Talango, 2. Beberapa faktor yang dipertimbangkan dalam memilih media pembelajaran adalah sebagai berikut: Pertama, tersedianya sumber daya lokal, yang berarti jika media yang dibutuhkan tidak tersedia pada sumber yang ada, maka perlu dibeli atau dibuat secara mandiri. Kedua, dana dan sumber daya manusia sudah tersedia untuk pembelian atau pembuatan media tersebut. Ketiga, faktor fleksibilitas, kepraktisan, dan daya tahan media untuk digunakan dalam jangka panjang, yang berarti dapat digunakan di berbagai lokasi dengan perlengkapan yang ada dan kapan saja serta mudah dibawa. Empat, efektivitas dan efisiensi biaya dalam jangka panjang, meskipun tampak mahal di awal, namun mungkin lebih ekonomis dibandingkan dengan media lain yang hanya bisa digunakan sekali pakai (Uno, 2. Kegiatan guru dalam memanfaatkan sumber belajar, guru harus memperhatikan beberapa prinsip tertentu agar penggunaan sumber belajar tersebut dapat mencapai hasil yang optimal. Menurut Sudjana, yang dikutip oleh Djamarah, prinsip-prinsip tersebut antara lain: . Menentukan sumber belajar dengan tepat, yaitu guru sebaiknya memilih sumber belajar yang sesuai dengan tujuan dan materi pelajaran yang akan disampaikan, . Menetapkan atau mempertimbangkan subjek dengan tepat, yakni mempertimbangkan apakah sumber belajar yang digunakan sesuai dengan tingkat kematangan atau kemampuan peserta didik, . Menyajikan sumber belajar dengan tepat, maksudnya teknik dan metode penggunaan sumber belajar dalam pengajaran harus disesuaikan dengan tujuan, materi, metode, waktu, dan fasilitas yang tersedia, . Menempatkan sumber belajar pada waktu, tempat, dan situasi yang tepat, yaitu mempertimbangkan kapan dan dalam situasi apa sumber belajar digunakan saat Kearifan lokal . ocal wisdo. dalam pnelitian ini setidaknya mencakup beberapa konsep, yaitu: . kearifan lokal adalah hasil dari pengalaman panjang yang berfungsi sebagai panduan perilaku individu dalam kebudayaan Bima Dompu. kearifan lokal berhubungan erat dengan lingkungan masyarakat pemiliknya. kearifan lokal bersifat dinamis, fleksibel, terbuka, dan selalu beradaptasi dengan Dalam perkembangannya, kearifan lokal . ocal wisdo. tidak selalu bersifat Sebagai alat dan konsep, kearifan lokal melekat sejalan dengan proses perkembangan sosial manusia sesuai dengan konteks sosio-kultural yang melatarbelakanginya, terutama faktor historis. ( Hidayatullah, 2. Oleh karena itu, kearifan lokal sebenarnya selalu hadir dalam setiap realitas masyarakat dan melekat dalam sistem nilai norma tradisi lokal yang berlaku dalam kebudayaan Bima Dompu. METODE PENELITIAN Studi ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian pustaka . ibrary researc. (Moleong, 2. Jenis penelitian ini merupakan pengumpulan dan analisis karya ilmiah yang berhubungan dengan tinjauan pustaka yang berkaitan dengan kearifan lokal . ocal wisdo. dan budaya Nggahi rawi pahu. Pendekatan ini menggabungkan penelitian deskriptif dan kualitatif, di mana data-data penelitian disajikan secara obyektif tanpa manipulasi atau perlakuan tambahan. Sumber utama dalam penelitian ini mencakup berbagai karya ilmiah yang relevan, @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional JamaAoah dkk. Pengembangan Sumber Belajar Berbasis Budaya Lokal: MembangunA seperti buku tentang metodologi penelitian, artikel jurnal, artikel online, dan tulisan lain yang mendukung tinjauan literatur. Metode analisis deskriptif kualitatif adalah suatu proses yang mencakup analisis, pemaparan, dan penyimpulan dari berbagai kondisi berdasarkan informasi yang didapatkan melalui wawancara atau observasi lapangan terkait permasalahan yang diteliti. Penelitian deskriptif kualitatif sebagai metode penelitian yang didasarkan pada filsafat postpositivisme, sering digunakan untuk mempelajari kondisi objektif, di mana peneliti berperan sebagai instrumen Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang mendalam mengenai penerapan tinjauan pustaka secara menyeluruh. HASIL DAN PEMBAHASAN Nilai dari budaya masa lampau bersumebr dari kekayaan budaya-budaya lokal . ocal wisdo. yang ada di Nusantara, meliputi: tradisi, cerita rakyat dan legenda, bahasa ibu, sejarah lisan, kreativitas . ari, lagu, drama pertunjuka. , kemampuan beradaptasi, dan keunikan masyarakat setempat (Galla, 2001: . Kata lokal di sini tidak merujuk pada wilayah geografis, seperti kabupaten atau kota, dengan batas administratif yang jelas, tetapi lebih merujuk pada wilayah budaya yang sering kali melampaui batas administratif dan tidak memiliki garis pembatas yang tegas dengan wilayah budaya lainnya. Istilah budaya lokal juga dapat merujuk pada budaya milik penduduk asli yang telah dianggap sebagai warisan budaya. Karena pelaku pemerintahan Republik Indonesia adalah warga negara sendiri, maka warisan budaya yang ada menjadi milik bersama. Situasi ini berbeda dengan negara Australia dan Amerika, di mana warisan budaya menjadi milik eksklusif penduduk asli sehingga mereka memiliki hak untuk melarang setiap kegiatan pemanfaatan yang dapat berdampak buruk pada warisan budaya mereka (Maharromiyati & Suyahmo, 2016. Onibala, 2017. Suharyono et al. , 2. Nilai dari budaya masa lampau . arisan tak bend. ini berasal dari budayabudaya lokal yang ada di Nusantara, meliputi: tradisi, cerita rakyat dan legenda, bahasa ibu, sejarah lisan, kreativitas . ari, lagu, drama pertunjuka. , kemampuan beradaptasi, dan keunikan masyarakat setempat (Suparlan, 1. Terminologi lokal tidak merujuk pada wilayah geografis, seperti kabupaten atau kota, dengan batas administratif yang jelas, tetapi lebih merujuk pada wilayah budaya yang sering kali melampaui batas administratif dan tidak memiliki garis pembatas yang tegas dengan wilayah budaya Istilah budaya lokal juga dapat merujuk pada budaya milik penduduk asli yang telah dianggap sebagai warisan budaya. Karena pelaku pemerintahan Republik Indonesia adalah warga negara sendiri, maka warisan budaya yang ada menjadi milik Situasi ini berbeda dengan negara Australia dan Amerika, di mana warisan budaya menjadi milik eksklusif penduduk asli sehingga mereka memiliki hak untuk melarang setiap kegiatan pemanfaatan yang dapat berdampak buruk pada warisan budaya mereka (Suharyono et al. , 2. Nilai kesadaran kolektif telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Dompu sejak tahun 1947, yang tercermin dalam motto daerah Dompu, "nggahi rawi pahu" . capan sesuai perbuata. sebagai wujud konsistensi dalam kehidupan. Selaras dengan pesan "nggahi rawi pahu" . capan sesuai perilak. , para sesepuh di Dompu menyampaikan ungkapan "renta ba rera, kapoda ba ade, karawi ba weki" . iucapkan oleh lidah, dikuatkan oleh hati, dikerjakan oleh rag. Ini berarti setiap yang diucapkan @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional JamaAoah dkk. Pengembangan Sumber Belajar Berbasis Budaya Lokal: MembangunA atau diikrarkan oleh lidah harus dikuatkan oleh hati dan diwujudkan dalam tindakan. Hal ini menggambarkan keselarasan antara ucapan dan perbuatan (Alan, 2. Merancang sumber belajar pendidikan menuntut pemenuhan kebutuhan zaman. Era teknologi saat ini mengharuskan dunia pendidikan untuk menyesuaikan diri, termasuk dalam penggunaan sarana dan prasarana pendidikan berbasis teknologi. Teknologi telah menjadi fasilitator utama bagi kegiatan bisnis, memberikan kontribusi besar terhadap perubahan mendasar dalam struktur operasi dan manajemen organisasi Suryadi, 2015. Elisabeth, 2. Secara umum, dapat dikatakan bahwa: . Teknologi menggantikan peran manusia dengan melakukan otomatisasi terhadap suatu tugas atau proses, . Teknologi memperkuat peran manusia dengan menyediakan informasi yang relevan untuk suatu tugas, dan . Teknologi informasi berperan dalam restrukturisasi peran manusia. Dalam hal ini, teknologi berkontribusi dalam mengubah sekumpulan tugas atau proses. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin mendorong upaya pembaruan dalam pemanfaatan hasil yang dihasilkan oleh teknologi dalam proses pembelajaran, termasuk dalam pemilihan dan penggunaan sumber belajar. Para pendidik dituntut untuk mampu menggunakan sumber belajar yang disediakan sekolah sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan zaman, sedangkan kepala sekolah harus bijaksana dalam menyediakan sumber belajar yang dibutuhkan oleh guru dalam Berbagai bentuk warisan budaya lokal memberi kita peluang untuk mempelajari kebijaksanaan lokal dalam mengatasi berbagai permasalahan di masa lalu. Sayangnya, kebijaksanaan lokal ini sering diabaikan, dianggap tidak relevan dengan masa kini, apalagi masa depan. Akibatnya, banyak warisan budaya yang rusak termakan usia, terlantar, terabaikan, bahkan dilecehkan keberadaannya. Padahal, banyak bangsa dengan sejarah yang kurang kuat justru mencari identitas diri dari sedikit peninggalan sejarah dan warisan budayanya (Wagiran, 2. Kita sendiri, sebagai bangsa Indonesia yang kaya akan warisan budaya, justru mengabaikan aset yang tak ternilai ini. Sungguh situasi yang kontradiktif. Sebagai bangsa dengan perjalanan sejarah yang panjang dan kaya akan keanekaragaman budaya lokal . ocal wisdo. , kita seharusnya berupaya keras melestarikan warisan budaya yang kita miliki. Melestarikan tidak berarti membuat sesuatu menjadi tahan lama dan tidak bisa punah. Melestarikan berarti memelihara untuk jangka waktu yang sangat panjang. Dengan demikian, pelestarian warisan budaya lokal berarti usaha menjaga warisan budaya lokal untuk waktu yang sangat lama. Karena pelestarian adalah usaha pemeliharaan jangka panjang, maka perlu dikembangkan sebagai upaya yang berkelanjutan. Identitas bangsa saat ini mulai memudar dan tergerus oleh kemajuan zaman (Koentjaraningrat, 1. Semakin maju zaman, semakin banyak perubahan yang terjadi, baik disebabkan oleh perubahan pemaknaan, masuknya budaya-budaya baru, maupun perubahan pandangan masyarakat terhadap suatu budaya. Terlebih jika hal ini terjadi pada generasi muda, kelestarian suatu budaya akan terancam karena kurangnya rasa cinta terhadap budaya yang dimiliki. Budaya lokal . ocal wisdo. merupakan budaya yang ada di sebuah desa atau di tengah masyarakat yang keberadaannya diakui dan dimiliki oleh komunitas sekitar, sebagai pembeda dengan daerah lain. Kebudayaan suatu daerah senantiasa diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan salah satu cara yang biasa dilakukan agar generasi mendatang dapat mengenali kebudayaan yang dimiliki adalah dengan bercerita (Dahliani & Setijanti, 2. @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional JamaAoah dkk. Pengembangan Sumber Belajar Berbasis Budaya Lokal: MembangunA Namun, ketika diperhatikan pada masa kini, kebudayaan lokal yang ada di suatu wilayah sudah mulai memudar. Penyebab memudarnya kebudayaan ini berasal dari berbagai faktor, salah satunya adalah perkembangan zaman di era globalisasi, di mana masuknya budaya asing atau budaya Barat menyebabkan berkurangnya budaya yang dimiliki oleh suatu daerah (Suneki, 2. Perubahan budaya yang terjadi di dalam masyarakat tradisional termasuk pergeseran dari masyarakat tertutup menjadi masyarakat terbuka. Berbagai upaya dapat dilakukan untuk melestarikan budaya, tetapi yang paling penting adalah menumbuhkan kesadaran dan rasa kepemilikan terhadap budaya Dengan adanya rasa memiliki dan mencintai budaya sendiri, orang akan termotivasi untuk mempelajarinya, sehingga budaya akan tetap hidup karena ada generasi penerusnya. Hal ini mendorong masyarakat untuk memaksimalkan potensi budaya lokal serta upayanya dalam pemberdayaan dan pelestarian. Mencoba menghidupkan kembali semangat toleransi, kekeluargaan, keramahan, dan solidaritas yang tinggi, serta selalu mempertahankan kebudayaan Indonesia agar tidak punah. Selain itu, juga mengusahakan agar masyarakat mampu mengelola keragaman budaya Cara yang dapat dilakukan oleh para generasi muda untuk mendukung pelestarian budaya dalam kehidupan bermasyarakat antara lain: . Memahami dan mempelajari budaya yang ada di daerah tersebut, bisa dilakukan dengan mengenal budayanya atau mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Membiasakan diri untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan pelestarian budaya, misalnya menampilkan tarian tradisional dalam kompetisi budaya, atau menyanyikan lagu . Menghilangkan perasaan gengsi atau malu terhadap budaya yang kita miliki. Mencintai budaya kita sendiri tanpa harus merendahkan budaya lain. Guru juga dapat membantu peserta didik untuk melestarikan kebudayaan lokal yang mereka miliki dengan mengikutsertakan mereka dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolah yang terkait dengan kebudayaan, seperti seni tari, teater atau drama, seni musik, serta pramuka. Dengan adanya ekstrakurikuler tersebut, diharapkan siswa dapat mengenal ragam budaya lokal yang ada dan diharapkan peserta didik dapat melestarikan kebudayaan lokal tersebut. Pendidikan tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan karena proses pendidikan berlangsung dalam lingkungan manusia yang Tanpa pendidikan, budaya akan kehilangan arah. Studi tersebut menunjukkan bahwa berbagai jenis nilai sosial yang terkandung dalam kearifan lokal nggahi rawi pahu di Kabupaten Dompu, berdasarkan ciri-cirinya yaitu nilai yang terinternalisasi mencakup: . gotong royong, . aksi kolektif, . kerjasama, . saling membantu. Sedangkan nilai dominan yang tinggi dalam upaya mempertahankan nilai-nilai tersebut antara lain: . rasa persatuan dan kesatuan, . solidaritas, . saling menghargai, . kebersamaan, . kekeluargaan, . saling Berdasarkan tingkat keberadaannya, terdapat nilai-nilai yang berdiri sendiri yaitu: . kejujuran, . kepercayaan, . menepati janji, . tanggung jawab, . rela berkorban, . toleransi, . komitmen, . Sedangkan nilai-nilai yang tidak berdiri sendiri termasuk: . musyawarah, . mufakat, . sosialisasi, . pelestarian budaya lokal, . konsistensi, . kepedulian lingkungan, . keadilan, . Hasil penelitian ini sejalan dengan teori fungsionalisme yang dikemukakan oleh Emile Durkheim, yang menyatakan bahwa nilai sosial berfungsi sebagai alat untuk menjaga keseimbangan dan stabilitas dalam masyarakat. Nilai sosial membantu masyarakat @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional JamaAoah dkk. Pengembangan Sumber Belajar Berbasis Budaya Lokal: MembangunA mencapai tujuan bersama dan mempertahankan keberlanjutan hidup bermasyarakat, (Hilmi, 2. KESIMPULAN Nilai budaya . ocal wisdo. "nggahi rawi pahu" memiliki peran penting dalam Nilai tersebut dapat menjadi sumber belajar sebagai wujud dari nilai-nilai kehidupan sosial masyarakat. Selaras dengan pesan "nggahi rawi pahu" . capan sesuai perilak. , para sesepuh di Dompu menyampaikan ungkapan "renta ba rera, kapoda ba ade, karawi ba weki" . iucapkan oleh lidah, dikuatkan oleh hati, dikerjakan oleh Ini berarti setiap yang diucapkan atau diikrarkan oleh lidah harus dikuatkan oleh hati dan diwujudkan dalam tindakan. Nilai Nggahi rawi pahu sebagai local wisdom merupakan sumber belajar dan kearifan lokal Dompu. Sumber belajar memiliki peran penting dalam menyediakan informasi dan pengetahuan yang diperlukan untuk mengembangkan berbagai kompetensi yang diinginkan dalam pelajaran yang Untuk mengembangkan sumber belajar Pendidikan Agama Islam, langkahlangkah yang dilakukan adalah . menganalisis kebutuhan dan karakteristik belajar siswa, . merumuskan tujuan pembelajaran, . mengembangkan materi pembelajaran, . menyusun alat ukur pencapaian, . memilih jenis sumber belajar, dan . melakukan UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih kepada Universitas Pendidikan Ganesha yang telah mendukung proses terselesaikan kajian ini. DAFTAR PUSTAKA