METODE DAN CORAK PENAFSIRAN TAFSIR AL-ASAS KARYA DARWIS ABU UBAIDAH Rahma Riandini NIRM : 12/X/38. 3/0062 Sekolah Tinggi Ilmu QurAoan Isy Karima rahma@gmail. ABSTRACT This paper introduces the reader regarding the Indonesia interpretation. The work in question was Tafsir al-Asas by Darwis Abu Ubaidah. In introducing this work the author describes the style of interpretation, interpretation methods and techniques of writing. The author also discusses the figure of Darwis Abu Ubaidah in briefly description. In addition, he also explained about the interpreterAos method in explaining the themes contained in the work of Tafsir alAsas. In reviewing the work of Tafsir al-Asas author tried to express all aspects discussed in the work, so it will be seen what method is used by Darwis Abu Ubaidah in interpreting the verses of the Koran. Keywords: Metodology. Darwis Abu Ubaidah. Tafsir al-Asas ABSTRAK Tulisan ini memperkenalkan kepada pembaca mengenai salah satu khazanah Tafsir Indonesia. Adapun karya yang diteliti adalah Tafsir al-Asas karya Darwis Abu Ubaidah. Dalam memperkenalkan karya ini penulis menjelaskan metode dan corak penafsirannya. Penulis juga membahas sosok Darwis Abu Ubaidah yang dijabarkan secara ringkas saja. Selain itu, penulis juga mengurai metode mufasir dalam menjelaskan tema-tema yang terdapat dalam Tafsir al-Asas serta corak penafsiran yang digunakan oleh Darwis Abu Ubaidah dalam penulisan Tafsir al-Asas Keywords: Metodologi. Darwis Abu Ubaidah. Tafsir al-Asas PENDAHULUAN Di masa silam, perhatian ulama tafsir terhadap kajian metodologis dalam penafsiran alQurAoan boleh disebut sangat kurang. Kemungkinan hal itu disebabkan karena kondisi umat yang lebih membutuhkan pemecahan masalah berbagai masalah secara tepat dan praktis, tanpa membutuhkan teori-teori yang rumit dan Karenanya para ulama tafsir terdahulu kurang termotivasi untuk mengkajinya secara ilmiah, teoritis dan objektif. Berbeda halnya di abad modern ini, permasalahan yang timbul semakin menjamur, se1 Nashruddin Baidan, 2011. Wawasan Baru Ilmu Tafsir (Yogyakarta : Pustaka Pelaja. , hlm. mentara kondisi umat makin memprihatinkan. Ulama yang mumpuni dalam bidang penafsiran al-QurAoan juga semakin sedikit. Padahal kondisi umat saat ini sangat membutuhkan kehadiran Sebab untuk menyelesaikan permasalahan yang timbul, satu-satunya jalan ialah kembali kepada al-QurAoan. Dan yang dapat membuka AujalanAy untuk menuju ke penafsiran al-QurAoan ialah para mufassir tersebut. Banyak cara yang ditempuh para mufasir untuk menyajikan kandungan al-QurAoan. Ada yang menyajikannya sesuai urutan ayat-ayat sebagaimana yang termaktub dalam Mushaf, ada juga yang memilih topik tertentu kemudian menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan topik tersebut. Salah satu contohnya adalah kitab Tafsir al-Asas karya Darwis Abu Ubaidah yang diterbitkan oleh Pustaka Kautsar. Penulis mencoba mengkaji dan melihat aspek metode dan corak penafsiran yang digunakan oleh Darwis Abu Ubaidah dalam Tafsir al-Asas. BIOGRAFI DARWIS ABU UBAIDAH Darwis bin Abdur Razaq atau yang lebih dikenal dengan panggilan Darwis Abu Ubaidah. Lahir. Rabu, 25 Februari 1966 silam, dari pasangan H. Abdur Razaq dan Hj. Musni, di Sekijang, sebuah desa kecil nan bersahaja yang berpenduduk sekitar 600 jiwa, berjarak lebih kurang 150km dari kota Pekanbaru. Riau. Beliau menempuh pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Negeri dan Pondok Pesantren Darun Nahdhah Thawalib. Bangkinang, 1982-1987. Ibid. Darwis Abu Ubaidah, 2012. Tafsir al-Asas: Tafsir Lengkap Dan Menyentuh Ayat-Ayat Seputar Islam. Iman dan Ihsan, (Jakarta : Pustaka al-Kautsa. , hlm. dengan mengikuti ujian Negara di Madrasah Tsanawiyah Negeri. Kuok, 1986. Setelah itu melanjutkan pendidikan di Lembaga Dakwah Islam (LPDI) Jakarta, 1989-1990. Pada tahun yang sama beliau juga belajar di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta, dengan mengambil program bahasa. Pada tahun 1999 beliau berhasil menyelesaikan S1 di Institut Agama Islam al-Aqidah. Jakarta, pada Fakultas Ushuluddin. Jurusan Dakwah. Pada tahun 2009, beliau juga berhasil menyelesaikan pendidikan S2 di Universitas Islam 45 (UNISMA) Bekasi. Program Magister Manajemen Pendidikan Islam. Beliau juga telah meyelesaikan Program Doktor Pendidikan Islam (S. di Universitas Ibnu Khaldun. Bogor. Beliau sudah aktif dalam kegiatan dakwah semenjak beliau belajar di Pondok Pesantren Darun Nahdhah Thawalib. Bangkinang. Selama di Madrasah Aliyah Negeri, beliau aktif berdakwah di daerah Pekanbaru dan sekitarnya, bergabung dengan dua lembaga dakwah yang sangat dekat dengan masyarakat Pekanbaru, yaitu Ikatan Masjid Indonesia (KMI) dan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII). Saat di Jakarta, di samping sebagai mahasiswa di LPDI yang diasuh langsung oleh IKMI Pusat dan DDII Jakarta, beliau juga aktif berdakwah di bawah naungan DDII Jakarta hingga saat ini. Kegiatan dakwah yang dilakukan, disamping dalam bentuk kajian Islam kepada masyarakat sebagaimana pada umumnya, juga kajian yang bersifat pembinaan di berbagai instansi, baik pemerintah maupun swasta yang berada di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Ibid. Ibid. Ibid. Selain kegiatan tersebut, beliau juga merupakan salah satu staff pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Dr. Muhammah Natsir. Beliau juga menjabat sebagai Kepala Biro Dakwah Khusus Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia. Pada tahun 1999 beliau mendirikan pondok pesantren yang diberi nama ar-Rahmah dan al-JamAoiyatul Husna di Desa Sekijang. Kec. Tapung. Kab. Kampar Riau. Selain kitab Tafsir al-Asas ini. Darwis Abu Ubaidah juga memiliki karya tulis lain, yaitu Perintah Allah Kepada Orang-Orang Beriman yang diterbitkan oleh Visi Insani Publishin pada tahun 2005 dan Panduan Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah terbitan Pustaka al-Kautsar yang diterbitkan pada tahun 2008. KARAKTERISTIK KITAB TAFSIR ALASAS Pada bagian ini penulis mencoba menjabarkan beberapa karakteristik kitab Tafsir alAsas karya Darwis Abu Ubaidah. Penulis akan menjelaskan mengenai latar belakang penulisan, metode dan corak penafsiran yang digunakan Darwis Abu Ubaidah dalam penyusunan kitab Tafsir al-Asas. Latar Belakang Penulisan Bila mendengar judul kitab Tafsir al-Asas, yang terbersit dipikiran banyak orang adalah kitab tafsir karangan Said Hawwa dengan judul Tafsir al-Asas. Namun Tafsir al-Asas yang penulis maksud dalam penulisan ini adalah kitab tafsir karangan Darwis Abu Ubaidah. Kitab Tafsir al-Asas yang ditulis oleh Darwis Abu Ubaidah menggunakan bahasa Indonesia. Ibid. Selanjutnya penulis mencoba mengenal kitab Tafsir al-Asas lebih jauh. Menurut keterangan Darwis Abu Ubaidah, penulisan Tafsir alAsas ini dilatarbelakangi oleh keinginan Darwis untuk menyusun sebuah kitab tafsir dengan uraian yang sangat sederhana dalam menjelaskan berbagai hal yang berkaitan dengan persoalan-persoalan pokok dalam wilayah Islam. Iman dan Ihsan. Darwis mencoba mengemas kitab Tafsir al-Asas dengan pembahasan yang sederhana, dengan harapan tafsir ini mudah dipahami oleh para pembaca. Mengingat perkara Islam. Iman dan Ihsan merupakan hal penting bagi seorang muslim. Kitab Tafsir al-Asas ditulis oleh Darwis Abu Ubaidah dengan bahasa Indonesia. Tafsir ini diterbitkan oleh Pustaka al-Kautsar pada Pada awalnya tersirat keinginan Darwis Abu Ubaidah untuk menulis Tafsir alAsas ini sekurang-kurangnya dalam tiga buku. Namun akhirnya diringkas menjadi satu buku supaya lebih mudah dipahami dan dinikmati oleh para pembaca. Tafsir ini diberi nama Tafsir al-Asas, didasari dari kata al-Asas yang berarti dasar atau sendi, juga berarti pondasi yang dengannya sebuah bangunan akan berdiri dan tegak. dalam Tafsir al-Asas ini akan dijelaskan ayatayat yang berkaitan dengan sendi-sendi keislaman dan sendi-sendi keimanan. Dalam Tafsir al-Asas. Darwis Abu Ubaidah mengupas beberapa ayat al-QurAoan yang berkaitan dengan Islam. Iman dan Ihsan yang kemudian dibagi menjadi 13 bab/bagian. Tiaptiap pembahasan dalam buku ini terdiri atas be8 Ibid. Ibid, 8. Ibid. berapa poin, dan pada setiap poin mengandung sub-sub bahasan yang memberikan penjabaran atau penjelasan terhadap penyampaian materi yang dimaksud. Dalam mengambil ayat-ayat tertentu yang kemudian dimasukkan ke dalam topik bahasan Tafsir al-Asas ini, sesungguhnya Darwis sangat penuh pertimbangan dan kehati-hatian. Hal tersebut dilakukan penulis untuk menghindari sifat subjektif dari penulis, walaupun kesan tersebut tidak dapat dihindari, mengingat ayat-ayat yang menyangkut masalah-masalah keislaman dan keimanan ini sangatlah banyak. Karenanya pula, tersirat keinginan Darwis untuk menulis Tafsir al-Asas ini sekurangkurangnya dalam tiga buku. Namun untuk lebih memudahkan pembaca. Darwis membuatnya menjadi satu buku yang dibagi ke dalam dua belas bagian tafsir. Darwis Abu Ubaidah mencoba menyajikan kitab Tafsir al-Asas ini secara singkat dan sesederhana mungkin, agar dapat dipahami oleh para pembaca dengan mudah. Kitab tafsir ini disusun dalam sebuah susunan sebagai berikut 13: Pembahasan buku ini terdiri dari tiga belas bagian, lalu diakhiri dengan penutup. Tiap-tiap bagian terdiri dari beberapa poin, dan pada tiap poin mengandung sub-sub bahasan yang memberikan penjabaran atau penjelasan terhadap penyampaian materi yang dimaksud. Bagian 1 sebagai bagian permulaan akan membawa pembaca untuk memahami surat al-Fatihah secara utuh dan lengkap. Ibid. Ibid. Darwis Abu Ubaidah, 2012. Tafsir al-Asas: Tafsir Lengkap Dan Menyentuh Ayat-Ayat Seputar Islam. Iman dan Ihsan. Ahlm. Dalam Tafsir al-Asas penulis hanya membahas beberapa ayat al-QurAoan yang berkaitan dengan Islam. Iman dan Ihsan, yang dikelompokkan ke dalam 13 bab/bagian. Adapun ketiga belas bab/bagian yang penulis bahas adalah sebagai berikut14 : Bagian 1, surat al-Fatihah ayat 1-7, yang membahas tentang keagungan surat alFatihah. Bagian ini terdiri dari sepuluh sub bab yaitu. Pengantar. Turunnya surat al-Fatihah. QiraAoat surat al-Fatihah. Nama-nama surat al-Fatihah. Fadhilah surat al-Fatihah. Tafsir surat al-Fatihah. Kandungan surat al-Fatihah. Kewajiban atas makmum membaca surat al-Fatihah, dan I. Membaca Amin. Bagian 2, surat al-Baqarah ayat 62, yang membahas tentang kewajiban untuk mengikuti syariat Muhammad. Bagian ini terdiri dari lima sub bab, yaitu A. Pengantar. Sababun Nuzul Ayat. Penjelasan Ayat. Permasalahan, dan E. Kesimpulan. Bagian 3, surat al-Baqarah ayat 177 yang membahas tentang sendi-sendi keimanan dan keislaman. Bagian ini terdiri dari empat sub bab, yaitu A. Pengantar. Sababun Nuzul Ayat. Penjelasan ayat yang meliputi: 1. Beriman kepada Allah. Beriman kepada hari akhir, 3. Beriman kepada para malaikat, 4. Beriman kepada kitab-kitab, 5. Beriman kepada para nabi. Memberikan harta yang masih dicintai. Mendirikan sholat, 8. Membayar zakat. Menepati janji manakala berjanji, 10. Bersabar dalam berbagai keadaan, dan D. Kesimpulan. Bagian 4, surat al-Baqarah ayat 183187 yang membahas tentang kewajiban berpuasa dan keutamaan beriAotikaf. Ibid. Bagian ini terdiri dari empat sub bab, yaitu A. Pengantar. Sababun Nuzul Ayat. Penjelasan ayat yang meliputi : Kewajiban puasa bagi kaum muslimin. Keutamaan puasa, 3. Hitungan bulan Ramadhan dan penetapan satu Ramadhan. Kemudahan bagi orang sakit, musafir dan orang yang lemah, 5. Keagungan bulan Ramadhan, 6. Kedudukan hadits yang membagi bulan Ramadhan menjadi tiga bagian, 7. Keagungan al-QurAoan, 8. Allah Maha dekat kepada para hamba-Nya yang beriman, 9. Adab berpuasa di bulan Ramadhan, 10. Upaya menuju taqwa, dan Kesimpulan Bagian 5, surat al-Baqarah ayat 196 yang membahas tentang kerjakanlah haji dan umrah karena Allah, yang terdiri dari tiga sub bab, yaitu A. Pengantar. Sababun Nuzul Ayat. Kandungan ayat yang meliputi: 1. Haji dan 2. Umroh. Bagian 6, surat al-Baqarah ayat 224 yang membahas tentang kedudukan sumpah di dalam Islam, yang terdiri dari tiga sub bab, yaitu A. Pengantar. Sababun Nuzul Ayat. Kandungan ayat yang meliputi: 1. Islam sangat menghargai sumpah, 2. Haram bersumpah kepada selain Allah, 3. Jangan jadikan sumpah sebagai penghalang untuk berbuat kebaikan, 4. Sumpah dianggap sah jika dilakukan dengan sengaja, 5. Kaffarat melanggar sumpah, 6. Berolok-olok dengan sumpah dapat menyeret kepada Bagian 7, surat al-Baqarah ayat 278-281 yang membahas tentang bahaya riba dan etika dalam berpiutang, yang terdiri dari sembilan sub bab, yaitu A. Pengantar. Sababun Nuzul Ayat. Kandungan ayat yang meliputi: 1. Pengertian riba, 2. Tahapan pengharaman riba, 3. Macammacam riba. Ancaman Allah bagi pelaku riba yang meliputi : 1. Di Dunia, 2. Di Akhirat. Dosa Riba. Ketika situasi sudah kacau. Tobat dari riba. Bahaya riba, dan I. Allah dalam berpiutang. Bagian 8, surat al-Maidah ayat 6 yang membahas tentang bersuci dan berbagai persoalannya, yang terdiri dari tiga sub bab, yaitu A. Pengantar. Sababun Nuzul Ayat. Kandungan ayat yang meliputi : Wudhu, 2. Junub dan mandi janabah, 3. Wudhu dan mandi janabah bagi orang yang sakit dan musafir yang tidak memperoleh air, 4. Tayamum, 5. Bersentuhan laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Bagian 9, surat al-Maidah ayat 35 yang membahas tentang taqwa, wasilah dan jihad, yang terdiri dari dua sub bab, yaitu Pengantar. Kandungan ayat yang meliputi : 1. Taqwa, 2. Wasilah dan 3. Berjihad di jalan Allah. Bagian 10, surat al-Taubah ayat 75-76 yang membahas tentang membela TsaAolabah bin Hathib al-Anshari, yang terdiri dari tiga sub bab, yaitu A. Pengantar. Sumber riwayat. Kedudukan hadits yang meliputi : 1. Periwayatan hadits, 2. Matan hadits yang batil, 3. Sikap para sahabat secara umum. Khusus dengan kepribadian TsaAolabah bin Hathib al-Anshari, 5. Kedudukan ayat yang sesungguhnya. Bagian 11, surat al-Furqon ayat 2 yang membahas tentang Qadha dan Qadr, yang terdiri dari empat sub bab, yaitu Pengantar. Pengertian Qadha dan Qadryang meliputi: 1. Pengertian Qadha Pengertian Qadr. Pandangan para ahlussunnah wal jamaah tentang qadha dan qadr, dan D. Kedudukan qadha dan qadr dalam keyakinan ahulussunnah wal Bagian 12, surat Fathir ayat 32 yang membahas tentang tiga golongan umat Muhammad shalallahu Aoalaihi wa sallam, yang terdiri dari dua sub bab, yaitu A. Pengantar dan B. Kandungan ayat. Bagian 13, surat al-MaAoun ayat 4, 5, dan 6 yang membahas tentang ancaman bagi orang yang melalaikan sholat, yang terdiri dari tiga sub bab, yaitu A. Pengantar. Sababun Nuzul Ayat. Kandungan ayat yang meliputi: 1. Orang-orang yang mendustakan agama, 2. Yang dimaksud dengan wailun, dan 3. Kriteria orang-orang yang lalai terhadap sholatnya. Metode Penafsiran Tafsir al-Asas Dalam penulisan kitab Tafsir al-Asas. Darwis Abu Ubaidah hanya memilih beberapa ayat atau surat yang berkaitan dengan tema Islam. Iman dan Ihsan saja. Sehingga dari pemaparan berbagai jenis metode penafsiran di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa metode yang digunakan dalam kitab Tafsir al-Asas merupakan tafsir maudhuAoi . Adapun yang dimaksud dengan metode maudhuAoi . yaitu suatu cara menafsirkan al-QurAoan dengan mengambil tema tertentu, lalu mengumpulkan ayat-ayat yang terkait dengan tema tersebut, kemudian dijelaskan satu per satu dari sisi semantisnya dan penafsirannya dihubungkan satu dengan yang lain, sehingga membentuk suatu gagasan yang utuh dan komprehensif mengenai pandangan al-QurAoan terhadap tema yang dikaji. Metode tematik ini menjadi trend baru dalam penafsiran al-QurAoan era modern kontemporer. Al-Farmawi menjelaskan, yang dimaksud dengan metode maudhuAoi adalah menghimpun Abdul Mustaqim, 2011. Metode Penelitian al-QurAoan dan Tafsir,Ahlm. seluruh ayat al-QurAoan yang memiliki tujuan dan tema yang sama, setelah itu -kalau mungkin- disusun berdasarkan kronologis turunnya dengan memperhatikan sebab-sebab turunnya. Langkah selanjutnya adalah menguraikannya dengan menjelajah seluruh aspek yang dapat Hasilnya diukur dengan timbangan teori-teori akurat, sehingga si mufassir dapat menyajikan tema secara utuh dan sempurna. Bersamaan dengan itu, dikemukakan pula tujuannya yang menyeluruh dengan ungkapan yang mudah dipahami, sehingga bagian-bagian yang terdalam sekali pun dapat diselami. Bukti bahwa kitab Tafsir al-Asas menggunakan metode maudhuAoi salah satunya terdapat pada bagian/bab pertama. Darwis mengupas tentang surat al-Fatihah, fytihat al-kityb. Darwis memilih surat al-Fatihah dalam pembahasan kitab tafsirnya, karena surat ini berisi pokok-pokok ajaran dan kandungan al-QurAoan yang berkaitan dengan aqidah, ibadah dan shyroh . Dalam surat al-Fatihah juga terdapat nama dan sifat Allah, tentang Hari Kiamat, tentang hakikat ibadah dan doAoa. dalamnya juga disebutkan tuntunan bagaimana cara untuk memperoleh hidayah, yang membimbing para hamba menuju jalan yang lurus, jalan yang mengantarkan para hamba kepada Rabb-nya, seperti jalan yang telah dilalui para nabi, siddyqyn, syuhady dan shylihyn. Corak Penafsiran Tafsir al-Asas Dalam penyusunan Tafsir al-Asas. Darwis Abu Ubaidah menafsirkan ayat-ayat al16 Abdul Hayy al-Farmawi,2002. Metode Tafsir MaudhuAoidan Cara Penerapannya. Terj. Rosihan Anwar, ( Bandung : Pustaka Seti. Darwis Abu Ubaidah, 2012. Tafsir al-Asas: Tafsir Lengkap Dan Menyentuh Ayat-Ayat Seputar Islam. Iman dan Ihsan. A hlm. QurAoan sesuai kandungan maknanya. Seperti pada ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum fiqih, maka tafsirannya berisi tentang konsepkonsep fiqih dan berbagai riwayat dari ulama fiqih, misalnya pada tafsiran surat al-Baqarah ayat 183-187, yang membahas tentang kewajiban berpuasa dan tata caranya. Darwis membahas ayat ini dalam pembahasan bagian keempat kitab Tafsir al-Asas. Darwis Abu Ubaidah mengupas tuntas tentang hukum-hukum yang berkaitan dengan puasa Ramadhan dan berbagai persoalan yang terkait dengannya. Misalnya saja dalam masalah penentuan penetapan 1 Ramadhan. Darwis menjabarkan pendapatpendapat para ahli fiqih dalam penetapan 1 Ramadhan, kemudian mengambil kesimpulan pendapat berdasarkan beberapa hadits shohih yang berkaitan dengan penetapan 1 Ramadhan, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa penetapan 1 Ramadhan sesuai dengan sunnah Rasulullah shalallahu Aoalaihi wa sallam ada dua macam, yaitu pertama berpuasa dengan berpedoman kepada rukyat hilal . elihat bulan sabi. apabila dalam kondisi normal dan tidak terhalang awal, dan kedua menyempurnakan hitungan bulan SyaAoban menjadi tiga puluh hari . apabila cuaca mendung dan bulan tidak terlihat. Demikian pula bila sampai pada pembahasan tentang aqidah, maka Darwis Abu Ubaidah menafsirkan dari sudut konsep-konsep teologis serta berbagai riwayat dari kaum teolog. Misalnya pada penafsiran surat al-Baqarah ayat 62 . ilahkan lihat lampira. yang menjelaskan tentang kewajiban mengikuti syariat Nabi Muhammad shalallahu Aoalaihi wa sallam, yang Darwis Abu Ubaidah, 2012. Tafsir al-Asas: Tafsir Lengkap Dan Menyentuh Ayat-Ayat Seputar Islam. Iman dan Ihsan. Ahlm. sesungguhnya sudah sangat jelas tanpa perlu penafsiran lebih detail. Tetapi, dalam kenyataannya di masyarakat Islam kita hari ini, ayat yang mulia ini justru dijadikan sebagai dalil atau alasan untuk mengakui bahwa semua agama itu baik, sama-sama mengajarkan kebaikan. Sehingga pemeluk agama-agama, baik itu Islam. Yahudi. Nasrani maupun ShabiAoin, sama-sama memiliki hak untuk masuk surga, selama mereka beriman kepada hari akhir serta mengerjakan amal sholeh, sekalipun mereka mengingkari dan menentang syariat Islam yang dibawa Nabi Muhammad shalallahu Aoalaihi wa Tafsir al-Asas sendiri tidak didominasi oleh satu pemikiran tertentu, tapi memuat banyak konsepsi sesuai kandungan ayat. Sehingga dari pemaparan berbagai macam corak penafsiran di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa corak penafsiran pada Tafsir al-Asas adalah corak umum, karena memiliki lebih dari tiga PENUTUP Dari uraian dan pembahasan di atas terdapat beberapa kesimpulan yang bisa diambil penulis dalam mengkaji kitab Tafsir al-Asas karya Darwis Abu Ubaidah bahwa metode yang digunakan dalam kitab Tafsir al-Asas merupakan tafsir maudhuAoi . , karena penulis kitab ini. Darwis Abu Ubaidah, hanya memilih beberapa ayat dari beberapa surat tertentu saja yang berkaitan dengan tema Islam. Iman dan Ihsan. Tafsir al-Asas sendiri tidak didominasi oleh satu pemikiran tertentu, tapi memuat ban19 Darwis Abu Ubaidah, 2012. Tafsir al-Asas: Tafsir Lengkap Dan Menyentuh Ayat-Ayat Seputar Islam. Iman dan Ihsan, (Jakarta : Pustaka al-Kautsa. , hlm. yak konsepsi sesuai kandungan ayat. Sehingga dari pemaparan berbagai macam corak penafsiran di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa corak penafsiran pada Tafsir al-Asas adalah corak umum, karena memiliki lebih dari tiga Kelebihan dari kitab Tafsir al-Asas adalah langkah-langkah metode penafsiran maudhuAoi . yang digunakan Darwis Abu Ubaidah sudah sesuai dengan teori langkah-langkah metode penafsiran maudhuAoi milik al-Farmawi. Selain itu pemaparan atau penjelasan ayat disampaikan dalam gaya bahasa yang mudah dicerna, tidak bertele-tele, ilmiah, referensi yang memadai, tidak membosankan, dan tetap kontekstual bagi manusia masa kini. Dan yang juga menjadi nilai lebih bagi pembaca Indonesia, kitab ini juga menyinggung fenomenafenomena keindonesiaan. Adapun kekurangan dari tafsir ini adalah, tidak semua pembahasan ayat dilengkapi dengan sabab an-nuzyl ayat. Awalnya penulis hendak menuliskan kitab Tafsir al-Asas ke dalam tiga jilid, namun kemudian diringkas menjadi satu jilid. Hal ini membuat pembahasan setiap ayat yang dikemas menjadi tiga belas bagian menjadi ringkas dan kurang mendetail. DAFTAR PUSTAKA