https://greenpub.org/JPMPT, Vol. 3, No. 1, Januari - Maret 2025 DOI: https://doi.org/10.38035/jpmpt.v2i4 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0/ Edukasi dan Pendampingan Terpadu Untuk Kesadaran dan Pencegahan Kenakalan Remaja, Anti Perundungan dan Kesehatan Reproduksi di Lingkungan SMA Negeri 9 Jakarta Vera Sylvia Saragi Sitio1, Rita Intan Permatasari2, Saur Costanius Simamora3, Juhaeti4, Bintang B Sibarani5, Dian Wijayanti6, Javier Agiel Aftha Taufik7, Putri Jasmine Rofik8, Hafizha Rasendriya Maheswari9 1 Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma, Jakarta, Indonesia, vera.sssitio@gmail.com Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma, Jakarta, Indonesia, farrelaira@gmail.com 3 Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma, Jakarta, Indonesia, saur@unsurya.ac.id 4 Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma, Jakarta, Indonesia, juhaeti@unsurya.ac.id 5 Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma, Jakarta, Indonesia, Sibaranimm2017@gmail.com 6 Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma, Jakarta, Indonesia, dwlumina@gmail.com 7 Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma, Jakarta, Indonesia, agiel4747@gmail.com 8 Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma, Jakarta, Indonesia, putrijasminerr@gmail.com 9 Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma, Jakarta, Indonesia, hafizhamaheswari@gmail.com 2 Corresponding Author: vera.sssitio@gmail.com1 Abstract: Adolescents are at a critical stage in their development when character, values, and personal identity are rapidly forming. The problems of juvenile delinquency in schools include a wide range of behaviors, such as lack of discipline, violent behavior, promiscuity, and the use of illegal substances. To overcome and anticipate the problems faced by students in schools. The government is implementing the Pancasila Student Profile Strengthening Project (P5) in schools as part of the independent curriculum. The implementation of P5 as part of the independent curriculum has not been maximized in providing creative methods and contextual learning. These limitations have an impact on the lack of students' experience in applying Pancasila values through solving real problems is still limited. Through this community service activity, students gain more experience in conceptual learning. The method used is counselling through workshop activities using case studies, question and answer or discussion, role play, evaluation, and follow-up. This activity was attended by 237 participants and teachers in SMAN 9 Jakarta. As a result of this activity, the students are aware of the forms of juvenile delinquency and are aware of adolescent reproductive health. As many as 98.5% of the students are also willing to report all forms of bullying and help their friends maintain their reproductive health. Keywords: Juvenile Delinquency Prevention, Anti-Bullying, and Reproductive Health Abstrak: Remaja berada dalam fase kritis perkembangan kehidupan mereka, di mana pembentukan karakter, nilai, dan identitas pribadi sedang berlangsung dengan cepat. Masalah- 153 | P a g e https://greenpub.org/JPMPT, Vol. 3, No. 1, Januari - Maret 2025 masalah kenakalan remaja di sekolah mencakup berbagai tindakan seperti pelanggaran tata tertib, perilaku kekerasan, seks bebas hingga konsumsi zat-zat terlarang. Dalam rangka mengatasi dan mengantisipasi permasalahan yang dihadapi oleh peserta didik di sekolah. Pemerintah menerapkan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) di sekolah merupakan bagian dari kurikulum merdeka. Implementasi P5 sebagai bagian dari kurikulum merdeka belum maksimal dalam penyampaian metode kreatif dan pembelajaran kontekstual. Keterbatasan tersebut berdampak kepada kurangnya pengalaman siswa dalam menerapkan nilai-nilai Pancasila melalui pemecahan masalah nyata masih terbatas. Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini para peserta didik semakin bertambah pengalaman terkait pembelajaran konseptual. Metode yang digunakan adalah penyuluhan melalui kegiatan workshop dengan menyampaikan studi kasus, tanya jawab atau diskusi, role play dan memberikan evaluasi serta tindak lanjut. Kegiatan ini dihadiri 237 peserta dan guru-guru di sekolah SMAN 9 Jakarta. Hasil dari kegiatan ini para peserta didik mengetahui bentuk-bentuk tindakan kenakalan remaja serta menjaga kesehatan reproduksi remaja. Sebanyak 98,5% dari para peserta dididik juga bersedia untuk melaporkan segala bentuk tindakan bullying serta membantu teman dalam menjaga kesehatan reproduksi. Kata Kunci: Pencegahan Kenakalan Remaja, Anti Perundungan, dan Kesehatan Reproduksi PENDAHULUAN Remaja berada dalam fase kritis perkembangan kehidupan mereka, di mana pembentukan karakter, nilai, dan identitas pribadi sedang berlangsung dengan cepat. Di Indonesia, tantangan yang dihadapi remaja sekolah kian kompleks seiring dengan perkembangan sosial dan kemajuan teknologi. Fenomena kenakalan remaja, perilaku perundungan, dan rendahnya pemahaman terkait kesehatan reproduksi merupakan masalah signifikan yang kerap kali dihadapi oleh sekolah-sekolah. Masalah-masalah ini tidak hanya berdampak negatif pada individu yang terlibat, tetapi juga mengganggu iklim pembelajaran dan lingkungan sosial di sekolah. Masalah-masalah kenakalan remaja di sekolah mencakup berbagai tindakan seperti pelanggaran tata tertib, perilaku kekerasan, seks bebas hingga konsumsi zat-zat terlarang. Faktor penyebabnya beragam, mulai dari kurangnya perhatian dari lingkungan keluarga, pengaruh teman sebaya, hingga kurangnya edukasi mengenai perilaku positif. Fenomena ini dapat berdampak pada kualitas pendidikan dan masa depan pelajar. Salah satu bentuk kenakalan yang sering terjadi di sekolah adalah perundungan. Perilaku ini dapat berupa fisik, verbal, atau emosional, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Dampak perundungan sangat signifikan, mengakibatkan masalah psikologis seperti rendahnya rasa percaya diri, depresi, bahkan menurunkan motivasi belajar pada korban. Menurut data KPAI tahun 2021 terjadi 5953 jumlah kasus (KPAI, 2022) . Sementara itu, data yang dirilis oleh Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) terjadi kasus bullying di sekolah pada tahun 2023 sebanyak 13,5% di jenjang SMA dan 13,5% di jenjang SMK (Rosa, 2023). Sementar itu, wilayah DKI Jakarta termasuk salah satu 3 provinsi terbanyak terjadi kasus bullying di Indonesia yaitu sebanyak 781 kasus (KPAI, 2022). Permasalahan lain yang dialami remaja adalah mengenai pemahaman tentang kesehatan reproduksi. Kurangnya informasi yang benar sering kali membuat remaja terpapar informasi yang keliru dan dapat menyebabkan masalah seperti penyebaran penyakit menular seksual, kehamilan tidak diinginkan, hingga konflik sosial dan keluarga. Di Indonesia masalah penyakit menular yang paling banyak ditemukan adalah sifilis dan gonore. Prevalensi infeksi gonore 29,8% , sifilis 25,2% dan klamidia 22,7% terjadi di Jakarta (Lestari et al., 2023). 154 | P a g e https://greenpub.org/JPMPT, Vol. 3, No. 1, Januari - Maret 2025 Dalam rangka mengatasi dan mengantisipasi permasalahan yang dihadapi oleh peserta didik di sekolah. Pemerintah menerapkan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) di sekolah merupakan bagian dari kurikulum merdeka yang diinisiasi oleh Kemendikbud ristek untuk mengembangkan karakter dan keterampilan yang mendukung enam profil utama bagi siswa yaitu 1. beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia; 2. berkebinekaan global; 3. bergotong royong; 4. mandiri, bernalar kritis; dan 5. Kreatif. P5 bertujuan untuk membentuk pelajar Indonesia yang tidak hanya cerdas tetapi juga memiliki karakter dan identitas yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Melalui kegiatan dari Projek Penguatan Pelajar Pancasila (P5) ini dapat menumbuhkan karakter pelajar sesuai dengan profil pelajar Pancasila, mengembangkan kompetensi siswa, merangsang kreativitas siswa, membangun kemampuan siswa untuk hidup dan berperilaku sesuai dengan nilai Pancasila. Tema proyek Penguatan Pelajar Pancasila (P5) yang pertama adalah membangun jiwa raga dengan topik anti perundungan (Irsyad & Fitri, 2023) Penanaman nilai-nilai Pancasila dilakukan melalui pengalaman, pembiasaan, keteladanaan, dan pengkondisian lingkungan. Selain itu dapat dilakukan dengan pendekatan metode inculcation (penanaman nilai) , modeling (keteladanan), fasilitation (fasilitasi) dan skill building (pengembangan keterampilan) (Syaumi & Dewi, 2022). Prinsip-prinsip profil pelajar Pancasila dalam prinsip kontekstual, memberikan kesempatan bagi siswa-siswi untuk mengekplorasi berbagai hal diluar lingkup satuan pendidikan (Hamzah, Mujiwati, Khamdi, Usman, & Abidin, 2022). Kegiatan P5 menuntut para siswa dan guru untuk melaksanakan proses pembelajaran partisipatif lintas disiplin ilmu dalam mengamati, mengeksplorasi, dan/atau merumuskan solusi terhadap isu atau permasalahan nyata yang relevan bagi siswa-siswi serta diharapkan sebagai proses penguatan karakter, sekaligus kesempatan untuk belajar dari lingkungan sekitar. Namun, penerapan Projek Penguatan Pelajar Pancasila (P5) masih belum optimal dimana terbatasnya metode pengajaran yang kreatif dan projek-projek konkret yang menguatkan pemahaman siswa-siswa terhadap nilai-nilai Pancasila serta hambatannya (Yusuf, Rahman, Syamsuddin, Irfan, & Sayidiman, 2024). Siswa -siswi masih sangat terbatas belajar dari pengalaman dan pemecahan masalah dunia nyata sebagai bagian dari solusi. Pada praktek dilapangan, implementasi P5 sebagai bagian dari kurikulum merdeka belum maksimal dalam penyampaian metode kreatif dan pembelajaran kontekstual. Pembelajaran konstektual mendorong guru dan siswa untuk mampu menjadikan lingkungan sekitar dan realitas kehidupan sehari-hari sebagai bahan pembelajaran utama (Yuntawati & Suastra, 2023). Keterbatasan tersebut berdampak kepada kurangnya pengalaman siswa dalam menerapkan nilai-nilai Pancasila melalui pemecahan masalah nyata masih terbatas. Oleh karenanya, dibutuhkan pendekatan edukasi yang komprehensif, pendampingan dalam pengembangan karakter, dan penanaman nilai-nilai Pancasila, diharapkan siswa-siswi SMA Negeri 9 Jakarta mampu membentuk sikap yang positif dan proaktif dalam menghadapi tantangan, serta berperan sebagai agen perubahan yang membawa nilai-nilai kebaikan di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Melalui kegiatan pengabdian masyarakat yang bertemakan REMAJA SEHAT, REMAJA HEBAT yang berfokus pada "Edukasi dan Pendampingan Terpadu untuk Kesadaran dan Pencegahan Kenakalan Remaja, Anti Perundungan, dan Kesehatan Reproduksi" sejalan dengan tujuan P5, terutama dalam mengembangkan profil pelajar yang berakhlak mulia, mandiri, dan bernalar kritis. Edukasi/penyuluhan mengenai kenakalan remaja dan anti perundungan mengarahkan pelajar untuk menghindari perilaku negatif dan mengembangkan empati. Ada pun tujuan dari kegiatan program pengabdian kepada masyarakat ini adalah : 1. Untuk mengetahui bentuk-bentuk tindakan kenakalan remaja dan perundungan remaja 2. Untuk mengetahui dampak tindakan kenalakan remaja dan perundungan 155 | P a g e https://greenpub.org/JPMPT, Vol. 3, No. 1, Januari - Maret 2025 3. Untuk memberikan informasi kepada siswa/i untuk mencegah terjadinya Tindakan kenalakan remaja dan perundungan di lingkungan sekolah 4. Untuk memberikan kesadaran kepada siswa-siswi dapat mencegah terjadi tindakan kenakalan remaja, perundungan dan menjaga Kesehatan reproduksi METODE Kegiatan ini akan dilaksanakan secara tatap muka langsung dengan peserta siswa/i SMA Negeri 9 Jakarta. Jumlah peserta didik yang terlebih dalam kegiatan ini berjumlah 250 siswa/i yang berasal dari siswa kelas XI. Peran serta keaktifan guru-guru juga terlibat dalam melakukan pendampingan kepada siswa/i. Selain itu, metode yang digunakan yaitu : 1. Edukasi/Penyuluhan Kegiatan ini dapat dirancang dengan metode partisipatif seperti diskusi, role-playing, atau simulasi untuk membangun kesadaran diri serta penanaman nilai dan keterampilan dalam situasi nyata yang mendukung Profil Pelajar Pancasila. Penyuluhan akan dilakukan dengan memberikan pemahaman bentuk-bentuk tindakan kenakalan remaja, anti perundungan dan kesehatan reproduksi remaja, dampak tindakan yang dialami oleh korban dan pelaku serta alur pelaporan jika menemukan tindakan tersebut di lingkungan sekitar sehingga mendorong siswa-siswi untuk menjadi agen pencegahan tindakan kenakalan remaja, anti perundungan dan membantu dalam menjaga kesehatan reproduksi remaja di tengah masyarakat khususnya di lingkungan sekolah. Selain itu memberikan informasi yang tepat terkait kesehatan reproduksi bagi pelajar. 2. Tanya Jawab Tanya Jawab secara interaktif dari para peserta PKM dan narasumber dengan memberikan beberapa contoh kasus yang terjadi terkait tindakan kenakalan remaja, anti perundungan dan kesehatan reproduksi remaja 3. Studi Kasus Kegiatan ini mencakup analisis studi kasus nyata terkait tindakan kenakalan remaja, anti perundungan dan kesehatan reproduksi remaja melalui memberi tonton video kasus dan kegiatan role play. Pendekatan ini membantu siswa siswi dalam menerapkan teori pada situasi kehidupan nyata dan meningkatkan kesadaran dalam mencegah tindakan tindakan kenakalan remaja, anti perundungan dan menjaga kesehatan reproduksi remaja 4. Evaluasi dan tindak lanjut Diakhir pelatihan akan dilakukan evaluasi untuk menilai efektiviats kegiatan dan pencapaian tujuan. Hasil evaluasi akan tercermin dalam perbaikan berkelanjtan pada program pelatihan di masa depan. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan edukasi mengenai kenakalan remaja dan kesehatan reproduksi ini diselenggarakan di Kampus C Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma, Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang dihadiri 237 peserta dan di dampingin oleh guru-guru serta kepada sekolah SMA Negeri 9 Jakarta. Tujuan dari kegiatan ini untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada siswa-siswa berkaitan tindakan kenakalan remaja serta kesehatan reproduksi dengan menghadirkan narasumber sebagai pemberi wawasan dan materi. 156 | P a g e https://greenpub.org/JPMPT, Vol. 3, No. 1, Januari - Maret 2025 Gambar 1. Foto Bersama Panitia, Narasumber, Kepala Sekolah, Guru serta Peserta Gambar 2 . Foto Kegiatan Edukasi dan Penyuluhan Kegiatan pengabdian masyarakat ini dihadiri peserta didik berjumlah 237 peserta yang terdiri dari 54,9% berjenis kelamin wanita dan sisanya 45,1% berjenis kelamin laki-laki. Peserta didik yang hadir ditujukan pada siswa kelas XI. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini 157 | P a g e https://greenpub.org/JPMPT, Vol. 3, No. 1, Januari - Maret 2025 Gambar 3. Jenis kelasmin perserta PKM Dalam rangka menjawab tujuan dan serta materi yang disampaikan dapat tepat sasaran sesuai dengan kebutuhan peserta maka peserta didik diwajibkan untuk mengisi kuesioner yang telah di bagikan oleh panitia melalui aplikasi Google Form. Berdasarkan hasil jawaban peserta, pengalaman peserta dalam mengikut kegiatan penyuluhan berkaitan dengan bullying dan kesehatan reproduksi berjumlah 79,3% menjawab “Ya” dan 20,7% menjawab “Tidak”. Artinya mayoritas peserta pernah mengikuti kegiatan penyuluhan yang berkaitan dengan bullying. Gambar 4. Pengalaman ikut penyuluhan tentang bullying atau reproduksi Hasil pertanyaan kuesioner berkaitan dengan kesaksian para peserta didik dalam menyaksikan atau menjadi korban bullying di sekolah . Berdasarkan diagram dibawah ini: 40,1% peserta didik menjawab “Jarang”, 30,4% menjawab “kadang-kadang”, 19,8% menjawab tidak pernah dan sisanya 9,7% menjawab “sering”. Tingginya jumlah peserta yang menyaksikan dan mengalami tindakan bullying. Sehingga perlu dibentuk tim satgas untuk khusus bullying dalam mengedukasi siswa terkait tindakan bullying terutama di sekolah (Siswati & Saputra, 2023) Gambar 5. Pernah menyaksikan atau mengalami tindakan bullying Pertanyaan mengenai respon peserta ketika menyaksikan tindakan bullying, mayoritas 50,6% menjawab akan memberi tahu guru atau orang dewasa. Namun, masih ada 12,7% peserta yang tidak tahu harus melakukan apa ketika menyaksikan tindakan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa, pihak sekolah harus terus melakukan edukasi terkait bullying, agar 158 | P a g e https://greenpub.org/JPMPT, Vol. 3, No. 1, Januari - Maret 2025 peserta dapat melakukan tindakan lebih lanjut jika menyaksikan tindakan bullying baik di lingkungan sekolah maupun dilingkungan sekitar . Sebanyak 119 peserta merespon akan memberi tahu guru atau orang dewasa jika terjadi tindakan bullying. Guru memiliki peran utama dalam menghadapi kasus bullying dengan kesabaran dan menggunakan pertanyaan yang bersifat interogatif dan menjaga harga diri siswa. Selain itu guru juga perlu mengindentifikasi situasi dan kebutuhan yang muncul selama proses pembelajaran (Andryawan, Laurencia, & Putri, 2023). Sehingga guru perlu memberikan raya nyaman dan perlindungan bagi siswa siswi. Gambar 6. Respon jika menyaksikan tindakan bullying Berdasarkan hasil jawaban respon, penyebab utama terjadinya tindakan bullying disekolah adalah perbedaan fisik atau penampilan sebesar 38,4% dan penyebab kedua adalah pengaruh dari kelompok teman sebesar 36,3%. Gambar 7. Penyebab Utama Tindakan Bullying Langkah utama yang dapat dilakukan secara efektif oleh responden dalam melakukan pencegahan tindakan bullying disekolah adalah memberikan hukumam tegas bagi pelaku bullying sebesar 54,4 % , dan yang paling kecil menjawab adalah memberikan pelatihan moral dari kecil. Hukuman tegas tersebut dapat dilakukan oleh satuan tim khusus satgas anti bullying sehingga memiliki kekuatan hukum dan tidak main hakim sendiri. Tim satgas dini didampingin oleh guru, kejaksaaan, maupun polisi (Siswati & Saputra, 2023) Gambar 8. Langka efektif dalam mencegah bullying Berkaitan tema tentang kesehatan reproduksi, peserta diberikan pertanyaan kuesioner sebagai berikut. Pertanyaan perubahaan fisik yang dialami pada usia pubertas, mayoritas 159 | P a g e https://greenpub.org/JPMPT, Vol. 3, No. 1, Januari - Maret 2025 menjawab 38,8% adalah pertumbuhan rambut pada area tertentu. Pada usia remaja pada umumnya terjadi perubahan fisik yang merupakan ciri-siri seks sekunder. Adapun ciri-ciri tersebut diantaranya untuk remaja perempuan pinggul dan patat membesar, kulit lebih halus dan tinggi serta berat badan bertambah. Sedangkan pada remaja laki-laki memilik ciri-ciri sekunder adanya perubahan suara menjadi berat, tumbuh jakun munculnya rabut pada ketiak, alat kelamin, data dan wajah (Wirenviona, 2020). Gambar 9 Perubahan fisik Pentingnya pendidikan kesehatan menjadi perhatian dalam PKM ini. Berdasarkan pertanyaan seberapa penting pendidikan kesehatan reproduksi diberikan kepada remaja di sekolah. Mayoritas peserta menjawab 83,5% “sangat penting” dan 16,5% menjawab “penting”. Kesehatan reproduksi perlu di edukasikan kepada remaja, agar remaja dapat bertanggung jawab terhadap kesehatan reproduksi secara mandiri seperti berkaitan dengan seks bebas, kehamilan yang tidak diinginkan, aborsi, penyakit menular, HIV/AIDS serta konsumsi obatobat terlarang (Ariyanti, Sariyani, & Utami, 2019) Gambar 10. Pentinganya pendidikan kesehatan reproduksi Terdapat banyak penyakit yang menganggu kesehatan reproduksi remaja, diantaranya Infeksi Menular Seksual (IMS) yaitu 65,8%, selanjutnya gangguan menstruasi (52,7%) dan terakhir yaitu 49,4% yang yaitu penyakit kanker serviks atau prostat. Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah masalah kesehatan serius di kalangan remaja di Indonesia. Terdapat dua jenis IMS yang memiliki tingkat prevalensi tinggi yang terjadi di usia remaja 15-24 tahun yaitu HIV/ AIDS dan Sifilis (Dewi & Kurniasih, 2023). Berdasarkan hasil kuesioner ini para peserta sudah paham bahwa penyakit utama yang mempengaruhi kesehatan reproduksi. 160 | P a g e https://greenpub.org/JPMPT, Vol. 3, No. 1, Januari - Maret 2025 Gambar 11. Jenis penyakit yang mempengaruhi kesehatan reproduksi Kuesioner yang dikembalikan peserta dengan mendapatkan informasi mengenai kesehatan reproduksi. Berbagai cara dilakukan untuk menginformasikan masyarakat terkait kesehatan reproduksi yaitu terbanyak 36,7% dengan komponen internet/ media sosial. Padahal informasi kesehatan reproduksi lebai baik dilakukan diskusi dengan teman, guru dan orang tua (Fitriana & Siswantara, 2019). Sementara itu peserta yang menjawab informasi tersebut jumlahnya sangat sedikit. Gambar 12. Akses informasi kesehatan reproduksi Cara yang paling efektif dalam mencegah gangguan kesehatan reproduksi dengan anak. Sebanyak 84,4% menjawab menjaga kesehatan organ produksi, 69,2% menjawab memberikan edukasi dan penyuluhan. Kemudian di ikuti dengan 54,9% yaitu edukasi dan penyuluhan Gambar 13 Cara efektif mencegah gangguan kesehatan reproduksi Berdasarkan hasil jawaban responden, sebesar 95.8% menjawab “Ya” untuk melaporkan segala tindakan tentang bullying dan yang menjawab “ Tidak”. Bahkan masih terdapat peserta didik yang menjawab tindak. 161 | P a g e https://greenpub.org/JPMPT, Vol. 3, No. 1, Januari - Maret 2025 Gambar 14. Respon responden . KESIMPULAN 1. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini berjalan dengan lancar. Seluruh siswa turut berpartisipasi aktif dalam kegiatan termasuk tanya jawab, melakukan role play dan mengisi kuesioner. 2. Siswa-siswi sadar akan peran mereka sebagai agen perubahan untuk berani dalam melaporkan tindakan kenakalan remaja dan anti perundungan khususnya di lingkungan sekolah. Para peserta didik juga mendapat tambahkan informasi mengenai alur melaporkan tindakan kenakalan remaja dan perundungan jika membutuhkan bantuan pihak eksternal. 3. Para peserta didik sangat antusias dalam memahami dan mengerti terkait cara menjaga kesehatan reproduksi serta bentuk-bentuk penyakit yang akan dialami jika tidak dilakukan pencegahan sejak dini 4. Pihak sekolah dan universitas akan terus bekerja sama dengan terciptanya MOU untuk terus dapat melakukan pendampingan dan edukasi lebih lanjut baik kepada siswa siswi maupun kepada guru serta pegawai di lingkungan SMA Negeri 9 Jakarta. REFERENSI Andryawan, A., Laurencia, C., & Putri, M. P. T. (2023). Peran Guru dalam Mencegah dan Mengatasi Terjadinya Perundungan (Bullying) di Lingkungan Sekolah. INNOVATIVE: Journal Of Social Science Research, 3(6), 2837–2850. Ariyanti, K. S., Sariyani, M. D., & Utami, L. N. (2019). Penyuluhan Kesehatan Reproduksi Remaja Untuk Meningkatkan Pengetahuan Siswa di SMP Negeri 3 Selemadeg Timur. Indonesian Journal of Community Empowerment (IJCE), 1161, 7–11. Dewi, F. E. S., & Kurniasih, F. R. (2023). Infeksi Menular Seksual Pada Perempuan di Indonesia. Jurnal Kesehatan Jompa, 2(2), 1–8. Fitriana, H., & Siswantara, P. (2019). Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja Di SMPN 52 Surabaya. The Indonesian Journal of Public Health, 13(1), 110. https://doi.org/10.20473/ijph.v13i1.2018.110-121 Hamzah, M. R., Mujiwati, Y., Khamdi, I. M., Usman, M. I., & Abidin, M. Z. (2022). Proyek Profil Pelajar Pancasila sebagai Penguatan Pendidikan Karakter pada Peserta Didik. Jurnal Jendela Pendidikan, 2(04), 553–559. https://doi.org/10.57008/jjp.v2i04.309 Irsyad, & Fitri, Y. (2023). Implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) Dalam Kurikulum Merdeka di SMKN 1 Batusangkar. Journal Of Social Science Research, 3 Nomor 4(2), 5149–5157. Retrieved from https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/jpk/article/view/42318 KPAI. (2022). Data Kasus Perlindungan Anak 2021. Retrieved from https://www.kpai.go.id/kanal/informasi-publik/laporan-tahunan Lestari, F., Ariandini, S., Sari, A., Nadia, M., Yustria, R., Angela, S., & Ulandari, W. (2023). Edukasi Mengenai Infeksi Menular Seksual. KREASI : Jurnal Inovasi Dan Pengabdian Kepada Masyarakat, 3(1), 54–65. https://doi.org/10.58218/kreasi.v3i1.509 162 | P a g e https://greenpub.org/JPMPT, Vol. 3, No. 1, Januari - Maret 2025 Rosa, N. (2023). Data Kasus Bullying di Sekolah, FSGI: 50% di Jenjang SMP. Retrieved from https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-6962155/data-kasus-bullying-di-sekolahfsgi-50-di-jenjang-smp Siswati, Y., & Saputra, M. (2023). Peran Satuan Tugas Anti Bullying Sekolah Dalam Mengatasi Fenomena Perundungan di Sekolah Menengah Atas. De Cive : Jurnal Penelitian Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan, 3(7), 216–225. https://doi.org/10.56393/decive.v3i7.1656 Syaumi, I. K., & Dewi, D. A. (2022). Implementasi Nilai-Nilai Pancasila Pada Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Kewarganegaraan, 6(1), 1957–1963. Retrieved from http://journal.upy.ac.id/index.php/pkn/article/view/2887 Wirenviona, R. dan A. A. I. D. C. R. (2020). Edukasi Kesehatan Reproduksi Remaja (Airlangga University Press, ed.). Surbaya. Yuntawati, Y., & Suastra, I. W. (2023). Projek P5 sebagai Penerapan Diferensiasi Pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka: Literature Review Studi Kasus Implementasi P5 di Sekolah. Empiricism Journal, 4(2), 515–525. https://doi.org/10.36312/ej.v4i2.1651 Yusuf, F., Rahman, H., Syamsuddin, A. F., Irfan, M., & Sayidiman, S. (2024). PKM Pelatihan Penyusunan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) Bagi Guru Sekolah Dasar Di SDN 3 Mimika. Jurnal Panrita: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 2(02), 47– 54. https://doi.org/10.47435/jcs.v2i02.2803 163 | P a g e