Original Research HIJP : HEALTH INFORMATION JURNAL PENELITIAN Hubungan Rasionalitas Penggunaan Antibiotik terhadap Lama Rawat Inap pada Pasien Pneumonia Dewasa di RSUD Kota Kendari Association Between Rational Antibiotic Use and Length of Stay in Adult Patients with Pneumonia at Kendari City Regional Hospital Andi Anugerah Ayu Ramadhani1. Asriati2. La Ode Muhammad Sety3 1Magister Kesehatan Masyarakat. Universitas Halu Oleo. Indonesia 2Jurusan Kedokteran. Fakultas Kedokteran. Universitas Halu Oleo 3Jurusan Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Halu Oleo *Email Korespondensi: ayuseeun301@gmail. Kata Kunci: Pneumonia. Rasionalitas. Antibiotik. ATC/d. Gyssens. Lama Rawat Keywords: Pneumonia. Rational Use. Antibiotic. ATC/d. Gyssens. Length of Stay Poltekkes Kemenkes Kendari. Indonesia ISSN : 2085-0840 ISSN-e : 2622-5905 Periodicity: Bianual vol. 17 no. jurnaldanhakcipta@poltekkes-kdi. Received : 25 July 2025 Accepted : 01 November 2025 Funding source: DOI : 10. 36990/hijp. URL : https://myjurnal. id/index. php/hijp/ Contract number: - Ringkasan: Latar Belakang: Pneumonia merupakan infeksi saluran pernapasan akut yang menyerang jaringan paru-paru dan dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional berisiko memicu resistensi antibiotik dan memperpanjang lama rawat inap. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penggunaan antibiotik secara kuantitatif dan kualitatif serta menilai hubungannya dengan lama rawat inap pasien pneumonia dewasa di RSUD Kota Kendari. Metode: Studi observasional retrospektif ini menggunakan 44 sampel pasien pneumonia yang memenuhi kriteria inklusi tahun 2023. Metode ATC/d digunakan untuk evaluasi kuantitatif dan metode gyssens untuk evaluasi kualitatif, kemudian dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil: penelitian menunjukkan nilai d/100 hari rawat sebesar 100,07 dengan Azithromycin sebagai Evaluasi memperlihatkan 84,09% penggunaan antibiotik rasional . , 4,54% penggunaan terlalu lama . ategori i. , dan 11,36% rekam medis tidak lengkap . ategori VI). Kesimpulan: Terdapat hubungan signifikan antara rasionalitas penggunaan antibiotik dengan lama rawat inap . =0,. Saran: Evaluasi berkala penggunaan antibiotik perlu dilakukan sebagai upaya pengendalian resistensi antimikroba di rumah Abstract: Background: Pneumonia is an acute respiratory infection that attacks the lung tissue and can be caused by various microorganisms. Irrational use of antibiotics risks triggering antibiotic resistance and prolonging the length of Objective: This study aims to evaluate the use of antibiotics quantitatively and qualitatively and assess its relationship with the length of hospitalization of adult pneumonia patients at Kendari City Hospital. Methods: This retrospective observational study used 44 samples of pneumonia patients who met the 2023 inclusion criteria. The ATC/d method was used for quantitative evaluation and Health Information: Jurnal Penelitian, 2025, vol. 17, no. September Ae Desember. ISSN: 2085-0840/2622-5905 Page | 267 the gyssens method for qualitative evaluation, then analyzed using the chi-square test. Results: the study showed a d/100 days of treatment value of 100. 07 with Azithromycin as the most antibiotic. Qualitative evaluation 09% of rational antibiotic use . , 4. of prolonged use . ategory i. , and 11. 36% of incomplete medical records . ategory VI). Conclusions: There was a significant relationship between the rationality of antibiotic use and length of stay . =0. Suggestion: Periodic evaluation of antibiotic use should be carried out as an effort to control antimicrobial resistance in hospitals. PENDAHULUAN Pneumonia merupakan salah satu penyakit yang di sebabkan oleh berbagai mikroorganisme yang dapat menyerang jaringan paru dimana pada keadaan normal alveoli bekerja dengan cara menyerap oksigen namun pada saat terinfeksi, organ paru terisi cairan dan membuat pernapasan terasa sakit dan sesak karena terjadi pengurangan asupan oksigen (Lestari, 2. Gejala yang dapat ditimbulkan yakni demam tinggi Ou 38,5AC, leukosit >11000 A/AA, dan terdapat infiltrat pada pemeriksaan foto toraks (Putu Mirah Sakaningrum et al. , 2. Pneumonia merupakan penyebab kematian ketiga di dunia pada tahun 2016, dengan jumlah kematian mencapati 3 juta jiwa. Penyakit ini juga menjadi penyebab kematian karena infeksi tertinggi seletah diare ((Ulfa Cut Fatia et al. , 2. Berdasarkan data tahun 2010, menunjukan bahwa pneumonia termasuk dalam 10 besar penyakit pasien rawat inap, dengan mayoritas kasus dialami oleh laki-laki . 95%) dan . 05%) untuk perempuan, crude fatality rate (CFR) sebesar 7. 6%, tertinggi dibandingkan penyakit lainnya di Indonesia. Selain itu, prevalensi pneumonia meningkat dari 1,6% pada tahun 2013 menjadi 2% pada tahun 2018 (Afiani & Desiani, 2. Kemudian berdasarkan data kemenkes bahwa tahun 2024 terdapat 857. 483 kasus pneumonia dimana terjadi peningkatan kasus dibandingkan tahun 2020 yang mencatat 429. 007 kasus untuk semua golongan umur, terkhusus wilayah Sulawesi Tenggara berdasarkan profil kesehatan Sulawesi Tenggara tahun 2018 bahwa kota Kendari merupakan kota urutan pertama kasus pneumonia di Sulawesi Tenggara dengan jumlah 3. pasien dewasa terdiagnosa pneumonia. Terapi utama pada pneumonia adalah pemberian antibiotik. Antibiotik merupakan agen farmakologis bekerja dengan cara membunuh atau mengganggu pertumbuhan bakteri. Akan tetapi, penggunaan antibiotika yang tidak rasional dalam pengobatan infeksi dapat memicu terjadinya resistensi, yaitu kondisi dimana bakteri tidak lagi dapat merespon terhadap antibotikm sehingga pengobatan menjadi lebih sulit dimasa mendatang (Amilah Hani. , 2. Oleh karena itu, penggunaannya harus sesuai dengan diagnosa dan indikasi yang tepat untuk mengobati infeksi bakteri agar tercapai outcome klinik yang di inginkan (Hadiq et al. , 2. Penggunaan terapi antibiotika yang tidak rasional dapat memicu terjadinya kekebalan terhadap antibiotik, menimbulkan efek samping yang tidak dinginkan, toksisitas, pengobatan kurang efektif, beban biaya yang berlebihan, dan peningkatan risiko terhadap keamanan pasien maka diperlukan suatu pengendalian atau evaluasi dalam penggunaan antibiotik (Saputra et al. , 2. Evaluasi penggunaan antibiotik yang telah di setujui oleh Kementrian Kesehatan RI adalah Evaluasi kualitatif menggunakan metode gyssens untuk melihat kualitas penggunaan antibiotik, dan evaluasi kuantitatif menggunakan metode Anatomical Therapeutic Chemical (ATC)/ Defined Daily Dose . untuk melihat kuantitas penggunaan sehingga di dapatkan nilai d/100 hari rawat inap. Lama hari rawat merupakan durasi seorang pasien menjalani perawatan di rumah sakit Indikator ini sering dijadikan tolak ukur oleh rumah sakit dalam menilai kualitas pelayanan yang diberikan. Health Information: Jurnal Penelitian, 2025, vol. 17, no. September Ae Desember. ISSN: 2085-0840/2622-5905 Page | 268 Secara umum, lawa rawat inap dihitung dari tanggal masuk hingga tanggal keluar, baik dalam keadaan hidup maupun meninggal dengan satuan pengukuran dalam bentuk hari (Abqariah et al, 2. METODE Jenis penelitian Penelitian dilakukan secara observasional analitik dengan menggunakan pendekatan retrospektif. Lokasi dan Waktu Penelitian Pengambilan data dilakukan pada ruang rawat inap infeksius dan ruang rekam medis RSUD kota Kendari pada bulan November 2024 dan dilakukan penelitian/pengolahan data Desember 2024Februari 2025. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien rawat inap yang terdiagnosa pneumonia usia 18-65 tahun pada tahun 2023 berjumlah 104 pasien, dan jumlah sampel yang masuk dalam kriteria inklusi 44 pasien. Teknik pengambilan sampel ini menggunakan teknik purposive sampel dengan kriteria inklusi meliputi pasien terdiagnosa pneumonia usia 18-65 tahun, memiliki rekam medis lengkap dan mendapatkan terapi antibiotik. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rekam medis pasien yang terdiagnosa pneumonia pada tahun 2023 yang dapat di akses secara digital melalui SIMRS di ruang rekam medik kemudian alat yang digunakan ialah perangkat komputer dan alat tulis. Pengolahan dan Analisis Data Penggunaan antibiotiknya di analisis secara kuantitas menggunakan metode ATC/d dan kualitas menggunakan metode gyssens lalu di lakukan uji hubungan rasionalitas penggunaanya terhadap LOS (Length of Sta. atau lama rawat inap pasien. Lama hari rawat yang diambil berdasarkan hasil nilai median rawat inap di RSUD kota Kendari adalah 6 maka untuk melihat hubungannya dibagi menjajdi 2 kategori yaitu singkat jika <6hari dan lama jika >6 hari lalu diuji hubungannya dengan hasil evaluasi gyssens menggunakan uji Chi-Square. HASIL Penelitian ini di laksanakan di RSUD Kota Kendari dengan jumlah pasien 44 yang merupakan pasien pada Januari-Desember 2023. Tabel 1. Karakteristik Pasien No. Jenis Karakteristik Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Usia Jumlah Health Information: Jurnal Penelitian, 2025, vol. 17, no. September Ae Desember. ISSN: 2085-0840/2622-5905 Page | 269 b. Tabel 1 menunjukkan distribusi karakteristik demografi pasien pneumonia dewasa di RSUD Kota Kendari tahun 2023. Berdasarkan jenis kelamin, pasien laki-laki mendominasi dengan jumlah 24 pasien . ,6%), sementara pasien perempuan sebanyak 20 pasien . ,4%). Distribusi usia menunjukkan bahwa kelompok usia 56-65 tahun merupakan kategori terbanyak dengan 19 pasien . ,2%), diikuti kelompok usia 46-55 tahun sebanyak 10 pasien . ,8%). Kelompok usia 17-25 tahun dan 36-45 tahun masing-masing berjumlah 6 pasien . ,6%), sedangkan kelompok usia 26-35 tahun merupakan yang paling sedikit dengan 3 pasien . ,8%). Temuan ini mengindikasikan bahwa pneumonia dewasa di RSUD Kota Kendari lebih banyak terjadi pada populasi usia lanjut dan laki-laki. Tabel 2. Karakteristik Terapi Jenis Antibiotik Antibiotik Tunggal Ceftriakson Ceftazidime Cefotaxim Cefoperazone Cefixime Levofloxacin Antibiotik Kombinasi Ceftazidim Azihtromycin Ceftriakson Azithromycin Ceftriakson Levofloxacin Ceftazidim Levofloxacin Ceftriakson Ceftazidim Azithromycin Cefixim Ceftriakson Azihtromycin Levofloxacin Ceftrikason Levofloxacin Cefoperazone Meropenem Movifloxacin Ceftriakson Ampicilin/Sulbactam Azithromycin Lama Pemberian (Har. >10 Subjek (N=. Presentase 25,0 % 18,18 % 2,27 % 2,27 % 2,27 % 2,27 % 9,09 % 16,0 % 4,54% 6,81 % 2,27 % 2,27 % 2,27 % 2,27 % 2,27 % 81,9 % 18,1 % Tabel 2 memperlihatkan pola penggunaan terapi antibiotik pada pasien pneumonia dewasa di RSUD Kota Kendari tahun 2023. Terapi antibiotik tunggal yang paling banyak digunakan adalah Ceftriakson dengan 11 pasien . ,0%), diikuti oleh Ceftazidime sebanyak 8 pasien . ,18%). Antibiotik tunggal lainnya seperti Cefotaxim. Cefoperazone. Cefixime, dan Levofloxacin masing-masing digunakan oleh 1 pasien . ,27%). Pada terapi kombinasi, kombinasi Ceftriakson Azithromycin merupakan yang paling dominan dengan 7 pasien . ,0%), yang merupakan kombinasi dari golongan beta-laktam . efalosporin generasi ketig. dan makrolida. Kombinasi Ceftazidim Azithromycin digunakan pada 4 pasien . ,09%), sementara kombinasi lainnya berkisar antara 1-3 pasien. Terdapat 1 Health Information: Jurnal Penelitian, 2025, vol. 17, no. September Ae Desember. ISSN: 2085-0840/2622-5905 Page | 270 kasus yang menerima kombinasi kompleks hingga 5 jenis antibiotik . ,27%), yang mengindikasikan penanganan kasus pneumonia berat atau tidak responsif terhadap terapi awal. Dari segi durasi pemberian, mayoritas pasien . ,9%) menerima terapi antibiotik selama 1-5 hari, sedangkan 18,1% pasien mendapat terapi selama 6-10 hari. Tidak ada pasien yang menerima terapi lebih dari 10 hari. Tabel 3. Distribusi Length of Stay Pasien Pneumonia di RSUD Kota Kendari Karakteristik Mean Median Min-Max Length of Stay (LOS) 6,13 6,00 Tabel 3 menampilkan distribusi lama rawat inap (Length of Stay/LOS) pasien pneumonia dewasa di RSUD Kota Kendari tahun 2023. Rata-rata . lama rawat inap adalah 6,13 hari dengan nilai tengah . sebesar 6,00 hari. Rentang lama rawat inap bervariasi dari minimal 2 hari hingga maksimal 18 hari. Tabel 4. Length of Stay Pasien Pneumonia di RSUD Kota Kendari Tahun 2023 Length of Stay C 6 Hari Jumlah Presentase 65,9 % > 6 Hari 34,1 % Length of stay atau lama rawat dibagi menjadi C 6 Hari terdapat 29 pasien . ,9%) dan C6 hari 15 pasien . ,1%), lama rawat yang dikategorikan tersebut berdasarkan distribusi frekuensi length of stay pasien dewasa rawat inap yang terdiagnosis pneumonia di RSUD Kota Kendari tahun 2023. Tabel 5. Hasil Penggunaan Antibiotik Secara Kuantitas Kode ATC J01DD04 J01DD02 J01MA12 J01FA10 J01DD62 J01DD01 J01DH02 J01MA14 J01DD08 J01CR01 Nama Antibiotik Rute d (WHO) Ceftriaxone Ceftazidim Levofloxacin Azihtromycin Cefoperazone/Sulbac Cefotaxim Meropenem Moxifloxacin Cefixime Ampicillin/ Sulbactam Jumlah Antibiotik Yang Digunakan . Total Total Length of Stay (Har. d/100 Hari Rawat Inap 28,33 15,07 17,04 33,33 1,11 0,37 0,37 1,11 1,48 1,85 100,07 *Keterangan: P = Parenteral. O = Oral Tabel 5 menyajikan hasil evaluasi kuantitatif penggunaan antibiotik menggunakan metode ATC/d (Anatomical Therapeutic Chemical/Defined Daily Dos. pada pasien pneumonia dewasa di RSUD Kota Kendari tahun 2023. Total nilai d/100 hari rawat adalah 100,07, yang berarti bahwa dalam setiap 100 hari rawat inap terdapat 100,07 dosis harian standar pemberian antibiotik, atau secara Health Information: Jurnal Penelitian, 2025, vol. 17, no. September Ae Desember. ISSN: 2085-0840/2622-5905 Page | 271 rata-rata setiap pasien mendapatkan satu dosis antibiotik per hari selama masa perawatan. Antibiotik dengan nilai d/100 hari rawat tertinggi adalah Azithromycin sebesar 33,33, meskipun Ceftriaxone merupakan antibiotik yang paling sering diresepkan (Tabel . Tingginya nilai d Azithromycin disebabkan oleh besarnya total gram yang digunakan . dibagi dengan nilai d WHO yang rendah . ,3 gra. , serta karakteristik farmakokinetik Azithromycin yang memiliki waktu paruh panjang dan distribusi jaringan luas sehingga efektif meskipun dengan durasi pemberian pendek. Ceftriaxone menempati posisi kedua dengan nilai d/100 hari rawat sebesar 28,33, diikuti Levofloxacin . dan Ceftazidim . Antibiotik lainnya memiliki nilai d/100 hari rawat yang relatif rendah (O. , menunjukkan penggunaan yang lebih terbatas Tabel 6. Hasil Analisis Kualitas Rasionalitas Kategori Antibiotik Tidak Rasional IV a IV b IV c IV d i a i b II a II b II c Rasional Kriteria Gyssens Rekam Tanpa indikasi Jumlah Masuk Kategori Jumlah Subjek (N=. 11,36 % Ada antibiotik lain yang lebih efektif Ada antibiotik lain yang kurang toksik/lebih aman Ada antibiotik lain yang lebih murah Ada antibiotik lain yang spektrum lebih sempit Penggunaan terlalu lama Penggunaan terlalu singkat Tidak Tidak tepat interval Tidak Tidak tepat waktu Penggunaan Presentase 4,55 % 84,09 % Tabel 6 memperlihatkan hasil evaluasi kualitatif penggunaan antibiotik menggunakan metode Gyssens pada 44 pasien pneumonia dewasa di RSUD Kota Kendari tahun 2023. Dari total 44 kasus, sebanyak 37 kasus . ,09%) diklasifikasikan sebagai penggunaan antibiotik rasional (Kategori . , yang berarti antibiotik yang diberikan sudah tepat indikasi, tepat pemilihan obat, tepat dosis, tepat rute pemberian, tepat interval, dan tepat durasi. Terdapat 7 kasus . ,91%) yang masuk kategori tidak rasional, yang terdiri dari 2 kasus . ,55%) dengan penggunaan antibiotik terlalu lama (Kategori i. dan 5 kasus . ,36%) dengan data rekam medis yang tidak lengkap sehingga tidak dapat dievaluasi Health Information: Jurnal Penelitian, 2025, vol. 17, no. September Ae Desember. ISSN: 2085-0840/2622-5905 Page | 272 secara menyeluruh (Kategori VI). Tidak ditemukan kasus ketidakrasionalan pada kategori lainnya seperti tanpa indikasi (Kategori V), pemilihan antibiotik yang tidak tepat (Kategori IV a-. , durasi terlalu singkat (Kategori i. , ketidaktepatan dosis, interval, atau rute pemberian (Kategori II a-. , maupun ketidaktepatan waktu pemberian (Kategori I). Tabel 7. Uji chi-square hubungan rasionalitas penggunaan antibiotik dengan LOS pasien pneumonia di RSUD Kota Kendari tahun 2023 Rasionalitas Rasional Tidak Rasional TOTAL Length Of Stay (LOS) C6 Hari (Singka. (Lam. 61,4% 22,7% Jumlah % Total 84,1 % 4,5% 11,4% 15,9 % P Value 0,023 Tabel 7 menunjukkan hasil uji statistik Chi-Square untuk menganalisis hubungan antara rasionalitas penggunaan antibiotik dengan lama rawat inap (Length of Stay/LOS) pada pasien pneumonia dewasa di RSUD Kota Kendari tahun 2023. Hasil uji menunjukkan nilai p = 0,023 . < 0,. , yang berarti terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara rasionalitas penggunaan antibiotik dengan lama rawat inap pasien. Dari 37 pasien yang menerima terapi antibiotik rasional, sebanyak 27 pasien . ,4%) menjalani rawat inap singkat (O6 har. , sementara 10 pasien . ,7%) menjalani rawat inap lama (>6 har. Sebaliknya, dari 7 pasien yang menerima terapi antibiotik tidak rasional, hanya 2 pasien . ,5%) yang menjalani rawat inap singkat, sedangkan 5 pasien . ,4%) menjalani rawat inap Proporsi pasien dengan rawat inap singkat jauh lebih tinggi pada kelompok yang menerima terapi rasional . dari 29 pasien atau 93,1%) dibandingkan kelompok yang menerima terapi tidak rasional . dari 29 pasien atau 6,9%). PEMBAHASAN Rasionalitas penggunaan antibiotik mencakup dalam aspek tepat diagnosa dan indikasi penyakit, tepat jenis dan dosis obat, tepat rute dan frekuensi, tepat durasi pengobatan, penilaian kondisi pasien, dan kewaspadaan pada efek obat yang tidak diinginkan (Taher, 2. Ketidaktepatan dalam penggunaan antibiotik dapat menyebabkan perbaikan klinis pasien menjadi lebih lambat dan memperpanjang masa rawat inap pasien. Lama rawat inap atau length of stay biasa digunakan sebagai salah satu indikator kualitas pelayanan medis yang berikan oleh rumah sakit kepada pasien. Berdasarkan tabel 1, sebagian besar pasien adalah laki-laki . ,6%) dan kategori usia yang paling banyak adalah rentang 56Ae65 tahun . ,2%). Hal ini menunjukkan bahwa penderita pneumonia pada penelitian ini dengan kelompk usia dewasa lebih banyak terjadi pada populasi usia lanjut 56-65 tahun, yang dapat berkaitan dengan penurunan fungsi imun, penurunan fungsi organ tubuh salah satunya organ paru atau saluran pernapasan dan adanya komorbiditas (Prasetya et al. , 2. Pemberian terapi antibiotik terbanyak dalam penelitian ini adalah monoterapi dengan Ceftriaxone . %), diikuti oleh kombinasi Ceftriaxone Azithromycin . %) yang dapat dilihat pada tabel 2. Kombinasi ini umum digunakan dalam terapi pneumonia komunitas (Kemenkes. Health Information: Jurnal Penelitian, 2025, vol. 17, no. September Ae Desember. ISSN: 2085-0840/2622-5905 Page | 273 2. menunjukkan pola terapi umum yang menggabungkan antibiotik spektrum luas dari golongan sefalosporin generasi ketiga dan makrolida. Ceftriaxone adalah antibiotik yang bekerja dengan cara mengganggu pembentukan mukopeptida pada dinding sel bakteri atau memiliki efek bakteriasidal. Sementara itu, azitromisin merupakan antibiotik yang efektif melawan berbagai jenis bakteri termasuk bakteri cocus gram positif, anaerob, serta pathogen atipikal (Farida et al. , 2. Sebagian pasien juga menerima terapi kombinasi kompleks atau pergantian hingga 5 jenis antibiotik, yang mencerminkan penanganan kasus berat atau gagal respons terapi awal. Lama pemberian antibiotik terbanyak adalah 1Ae5 hari . ,9%), yang secara umum sesuai dengan durasi terapi empiris awal. Hanya 8 pasien . ,1%) yang menerima terapi 6Ae10 hari, dan tidak ditemukan pemberian lebih dari 10 hari, menunjukkan adanya kecenderungan kepatuhan terhadap pedoman klinis. Rata-rata LOS adalah 6,13 hari, dengan median 6 hari. Sebanyak 65,9% pasien dirawat O6 hari, dan 34,1% >6 hari. LOS yang cukup singkat ini dapat mencerminkan efektivitas pengobatan, diagnosis cepat, serta penatalaksanaan yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan antibiotik serta hubungannya dengan LOS (Length of Sta. pada pasien dewasa dengan pneumonia di RSUD Kota Kendari. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan bahwa mayoritas pasien . ,09%) menerima antibiotik secara rasional. Namun, terdapat 15,91% pasien yang menerima pengobatan antibiotik secara tidak rasional, yang disebabkan oleh durasi pemberian yang terlalu panjang . ategori i. atau data pada rekam medis kurang lengap . ategori VI). Secara statistik, didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan rasionalitas penggunaan antibiotik dengan lama rawat inap (Length of Sta. dimana nilai signifikansi p = 0,023. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik yang rasional berkontribusi terhadap perbaikan kondisi klinis yang lebih cepat dan mengurangi durasi rawat inap pasien. Sebanyak 27 dari 29 pasien yang dirawat O6 hari menerima terapi antibiotik rasional, mendukung asumsi bahwa pengobatan yang tepat dapat mempercepat pemulihan penyakit. Hasil penilaian uji kuantitatif dengan metode ATC/d menunjukkan bahwa total nilai d/100 hari rawat adalah 100,07 artinya bahwa secara rata-rata setiap pasien pneumonia mendapatkan 1 dosis antibiotik perhari selama masa rawat inap atau selama 100 hari terdapat 100,07 penggunaan antibotik, dengan Azithromycin sebagai antibiotik paling banyak digunakan d/100 hari rawat 33,33. Meskipun ceftriaxone merupakan antibiotik yang paling sering diresepkan dalam penelitian ini tetapi jumlah total gram azitromisin yang digunakan menghasilkan nilai d lebih tinggi karena perhitungan nilai d/100 hari rawat tidak hanya dipengaruhi oleh frekuensi penggunaan obat, tetapi juga oleh besar kecilnya dosis harian terdefinisi . yang telah ditetapkan WHO untuk masing-masing antibiotik atau karena perhitungan d didasarkan pada pembagian antara jumlah total dosis yang digunakan dengan d yang telah ditetapkan WHO. Selain itu, dari sisi farmakokinetik bahwa azitromisin juga memiliki waktu paruh yang panjang dan distribusi jaringan yang luas sehingga sering digunakan dalam durasi terapi yang pendek namun tetap efektif (Hidayah & Haryavany, 2. hal ini menjadikan azitromisin sebagai pilihan utama dalam tata laksana pneumonia komunitas, oleh karena itu juga antibiotik ini menjadi kontributor utama terhadap total dosis harian terdefinisi dalam penelitian ini Berdasarkan nilai hasil evaluasi kuantitatif atau kuantitas antibiotik mencerminkan tingkat penggunaan antibiotik yang proposional dan sesuai standar terapi, terutama didukung dengan berdasarkan hasil evaluasi kualitas penggunaanya menggunakan metode gyssens telah dinilai rasional . 84,09 %, dengan demikian temuan ini menunjukkan kecenderungan pemilihan antibiotik yang cukup selektif dan sesuai dengan pedoman, terutama untuk kasus pneumonia komunitas. Temuan dalam penelitian ini konsisten atau sejalan dengan penelitian sebelumnya yang telah di teliti oleh Riandika et al. di RS PKU Muhammadiyah Gamping dan (Lintang et al. , 2. di Health Information: Jurnal Penelitian, 2025, vol. 17, no. September Ae Desember. ISSN: 2085-0840/2622-5905 Page | 274 RSUD Haji Makassar, yang sama-sama menunjukkan hubungan signifikan antara penggunaan antibiotik yang rasional dengan perbaikan luaran klinis dan efisiensi lama rawat inap. Penggunaan antibiotik secara rasional mampu membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri secara optimal, sehingga lebih efektif dibandingkan dengan penggunaan yang tidak rasional. Maka dari itu pentingnya evaluasi antibiotik secara rutin baik secara kualitas menggunakan metode Gyssens dan kuantitas menggunakan metode ATC/d sebagai dasar kebijakan pengendalian resistensi antimikroba di rumah sakit. Namun, adanya pasien dengan data tidak lengkap . ategori VI) menunjukkan pentingnya pencatatan rekam medis yang lebih akurat. Data klinis yang tidak terdokumentasi dengan baik dapat menyulitkan penilaian rasionalitas terapi dan berdampak pada pengambilan keputusan klinis. KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini menemukan adanya hubungan yang bermakna antara rasionalitas penggunaan antibiotik dengan lama rawat inap pasien pneumonia, dimana penggunaan antibiotik yang rasional cenderung menghasilkan lama rawat inap yang lebih singkat, penggunaan berada pada kategori rasional berdasarkan evaluasi metode gyssens. Temuan ini menegaskan pentingnya evaluasi berkala terhadap pola penggunaan antibiotik di rumah sakit sebagai bagian dari upaya pengendalian resistensi antimikroba dan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan. Disarankan agar pihak rumah sakit melakukan monitoring rutin penggunaan antibiotik dengan melibatkan tim Program Pengendalian Resistensi Antimikroba untuk memastikan rasionalitas terapi dengan metode ATC/d dan Gyssens sebagai upaya pengendalian penggunaan antibiotik yang lebih efektif. REKOMENDASI Penelitian lebih lanjut disarankan untuk mengembangkan dan memperdalam analisis rasionalitas penggunaan antibiotik dengan memperluas cakupan luaran klinis yang komprehensif. Perlu dilakukan evaluasi terhadap tingkat perbaikan gejala klinis, tingkat kesembuhan pasien, kebutuhan perawatan intensif di ICU, serta angka kekambuhan infeksi dan mortalitas untuk memberikan perspektif yang lebih holistik terhadap efektivitas terapi antibiotik. peningkatan jumlah sampel penelitian dan ekspansi geografis dengan melibatkan beberapa fasilitas kesehatan dari berbagai tingkat rujukan dan wilayah yang berbeda. Hal ini akan meningkatkan validitas eksternal dan memungkinkan identifikasi pola penggunaan antibiotik yang lebih representatif terhadap kondisi epidemiologi nasional PERNYATAAN Ucapan Terimakasih Penulis menyampaikan banyak ucapan terima kepada pihak yang sudah memberikan dukungan atas penelitian ini terkhusus pihak RSUD Kota Kendari yang telah memberikan izin dan membantu dalam terlaksananya penelitian ini. Pendanaan Pendanaan dilakukan secara mandiri oleh penulis. Health Information: Jurnal Penelitian, 2025, vol. 17, no. September Ae Desember. ISSN: 2085-0840/2622-5905 Page | 275 Kontribusi Setiap Penulis Penulis. Para peneliti yang menjadi sumber referensi penelitian. Para pembimbing, serta Para Penguji. Pernyataan Konflik Kepentingan Pada pelaksanaan penelitian, tidak terdapat konflik kepentingan. DAFTAR PUSTAKA